Chapter Twenty Six
Jeda
POV: Danny
Taman kota di hari Minggu sore berbeda dengan Minggu pagi.
Tidak ada bapak-bapak tai chi atau ibu-ibu jogging dengan handuk kecil. Yang ada anak-anak kecil bermain sepeda roda tiga di jalan setapak, pasangan remaja duduk di bangku dengan satu es krim untuk berdua, dan penjual balon yang membawa dua puluh balon warna-warni diikat di tongkat bambu.
Pohon beringin besar masih di tempatnya. Di bawahnya, tukang bubur ayam yang dulu merekam duel gombal kami sekarang berjualan cilok, karena bubur hanya laku pagi.
Dia melihatku datang dan melambai dengan sendok cilok.
“Mas! Duel lagi hari ini?”
Aku tersenyum dan menggeleng. Senyum itu terasa seperti pakaian yang salah ukuran.
Kinan sudah duduk di bangku beton di bawah pohon beringin. Dia memakai kaus kuning dan celana jins, dengan rambut dicepol pakai jepit panda. Di tangannya ada dua gelas kopi dari warung Bang Jali.
Dia melihatku dan tersenyum lebar. Lesung pipinya muncul, dan senyum itu terlalu cerah untuk sore yang mendung.
“Hai! Di sini nggak ada poin tiga,” katanya, menyodorkan satu gelas kopi. “Bukan lingkungan sekolah. Jadi aku boleh kasih kopi.”
Aku menerima gelas itu. Jari kami bersentuhan, dan jarinya dingin, sama seperti di bangku ketapang waktu itu.
“Aku bawa lagu nomor dua belas juga,” lanjutnya, masih tersenyum. “Soalnya udah seminggu nggak nyanyi di gerbang. Tabungan laguku numpuk.”
Dia berdeham, meletakkan kopinya di bangku, dan mengangkat tangan dengan gaya instruktur senam.
“Pak Danny, di lagu anak-anak ada kereta api yang jalan terus, naik-turun gunung, lewat terowongan…” Dia mengedip. “Tapi kereta hatiku cuma punya satu stasiun tujuan. Namanya…”
Dia berhenti. Aku tidak tertawa. Aku tidak bisa.
Tangannya pelan-pelan turun dari udara, dan senyumnya tetap di wajahnya. Tapi aku melihat matanya berubah, lebih cepat dari senyumnya.
“…Kamu nggak ketawa,” katanya pelan.
“Kinan.”
“Kamu selalu ketawa. Dari hari pertama, walaupun gombalanku jelek. Lagu cicak aja kamu ketawa.”
“Kinan, aku mau ngomong sesuatu.”
Dia duduk kembali di bangku beton, pelan-pelan, dan mengambil gelas kopinya lagi. Dia memegangnya dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang hangat di hari yang dingin.
“Oke,” katanya. “Ngomong.”
Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Aku sudah menulisnya di notes dan mengulanginya di depan cermin kamar mandi, seperti waktu aku menyiapkan kalimat terakhir duel gombal. Bedanya, waktu itu aku latihan di depan foto Anin. Kali ini aku tidak berani.
“Aku udah mikir,” kataku. “Soal rapat komite, soal empat poin, soal keputusan yayasan hari Kamis.”
Dia mengangguk pelan, tanpa menatapku. Dia menatap gelas kopinya.
“Orang tua murid khawatir soal hubungan kita. Yayasan juga. Dan kalau kita…” Aku menarik napas. “Kalau kita kelihatan masih bareng sampai hari Kamis, mereka punya alasan buat mindahin kamu.”
“Danny…”
“Tapi kalau kita jeda dulu…”
Dia berhenti bergerak.
“…kalau kita jeda dulu, sementara, sampai semuanya tenang, yayasan bisa lihat nggak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Kamu tetap di TK B dengan kelasmu. Nggak ada surat keberatan lagi, nggak ada yang ngomongin kamu di bawah pohon ketapang.”
Kinan tidak bergerak. Kopinya masih di dua tangannya, dan matanya masih menatap kopi itu.
“Jeda,” ulangnya pelan, seperti mencicipi kata yang tidak dia kenal.
“Sementara.”
“Sampai kapan?”
Aku sudah menyiapkan jawabannya. Di rencanaku, di notes, jawabannya sampai Wulan settle di TK Tunas Harapan. Dua minggu, mungkin tiga. Setelah itu aku akan menjelaskan semuanya.
Tapi aku tidak bisa mengatakan TK Tunas Harapan. Kalau aku mengatakannya, dia akan tahu, dan dia akan bilang jangan.
Jadi yang keluar dari mulutku adalah jawaban yang lebih panjang, lebih aman, dan lebih salah.
“Sampai akhir tahun ajaran,” kataku. “Sampai Wulan lulus TK.”
Hening.
Di kejauhan, penjual balon lewat dengan dua puluh balon di tongkat bambunya. Seorang anak kecil menangis karena balon hijaunya lepas dan terbang ke langit mendung.
Kinan akhirnya menoleh padaku.
“Juni,” katanya.
“…Iya.”
“Delapan bulan.”
“Kinan…”
“Kamu mau kita jeda delapan bulan?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab, karena aku tahu delapan bulan bukan rencanaku. Rencanaku dua minggu. Tapi aku tidak bisa bilang dua minggu tanpa bilang kenapa.
Kinan menatapku lama. Matanya bergerak di wajahku, mencari sesuatu, seperti di mobil waktu itu.
“Danny,” katanya pelan. “Kamu yakin?”
Itu pertanyaan yang sama dengan di dapur waktu ulang tahun Wulan, di teras malam itu, dan di stiker bintang di telapak tanganku yang masih belum kulepas.
“Aku yakin,” kataku. “Ini yang terbaik buat kamu.”
Kinan tertawa.
Tawanya pendek, pelan, dan pahit. Aku belum pernah mendengar tawa seperti itu darinya. Bukan tawa yang keluar dari perut atau tawa sampai menutup muka dengan kedua tangan. Tawa itu tertahan di tenggorokan, seperti sesuatu yang tersangkut.
“Yang terbaik buat aku,” ulangnya. “Kamu yang mutusin?”
“Kinan, aku cuma…”
“Kamu tahu nggak,” katanya, masih dengan tawa pahit itu, “aku juga lagi mikir yang terbaik buat kamu. Semalaman. Dari jam empat pagi.” Dia menatap gelas kopinya. “Ternyata kita dua orang bodoh yang sama-sama mikirin yang terbaik buat orang lain, terus lupa nanya orang lainnya mau apa.”
Aku tidak mengerti kalimat itu waktu itu. Aku mengira itu metafora, atau sindiran. Aku tidak tahu ada amplop cokelat berisi selembar kertas yang akan dia bawa ke lantai dua ruko dekat pasar besok pagi.
“Kinan…”
“Oke,” katanya.
Aku berhenti.
“Oke, Danny.” Dia menaruh gelas kopinya di bangku beton dan menatapku lurus. Wajahnya tenang, terlalu tenang, seperti waktu di bangku ketapang ketika aku menolaknya. “Aku dengar. Aku nggak akan maksa. Aku udah janji itu di surat evaluasi dulu, ingat? Saya nggak akan maksa.”
“Aku ingat.”
“Tapi aku juga janji satu hal lagi di surat itu.” Suaranya bergetar sedikit, lalu stabil lagi. “Saya juga nggak akan pura-pura berhenti suka sama Bapak.”
Aku menunduk.
Dia berdiri dan merapikan kaus kuningnya. Dia mengambil gelas kopinya, lalu berhenti dan menatap gelas kopiku yang masih penuh, belum kuminum sama sekali.
Lalu dia menatapku, dan mengatakannya.
“Jeda ini,” katanya pelan. “Nilainya berapa, Danny?”
Kalimat itu miliknya. Dia menulisnya di buku penghubung di minggu pertama dengan tulisan besar dan bulat, dan stiker bintang di bawahnya, iseng dan penuh harapan. Dia mengucapkannya di bawah pohon ketapang waktu aku menolaknya, dengan mata berkaca-kaca dan permintaan evaluasi tertulis. Aku mencurinya di teras malam itu, dua detik setelah ciuman pertama kami, dan dia menjawab remedial, harus diulang sambil tertawa di dahiku.
Sekarang dia mengambilnya kembali, dan kalimat itu tidak lagi iseng, tidak penuh harapan, dan tidak tertawa.
Kalimat itu terdengar seperti pintu yang ditutup pelan-pelan.
Aku membuka mulut. Aku tidak punya jawaban. Tidak ada nilai untuk ini, tidak ada remedial dan tidak ada stiker bintang.
“Nggak usah dijawab,” kata Kinan. Dia tersenyum. Senyumnya bergetar, tapi dia tetap tersenyum, seperti guru TK yang harus tersenyum dalam situasi apa pun. “Aku tahu jawabannya. Nggak ada nilainya. Soalnya ini bukan ujian yang aku ikut. Kamu yang ngerjain sendiri. Kamu yang meriksa sendiri. Kamu yang ngasih nilai sendiri.”
Dia berbalik dan berjalan pergi. Tiga langkah, empat. Lalu dia berhenti di dekat gerobak cilok, tidak menoleh.
“Danny.”
“…Iya?”
“Kopi di Bang Jali masih dibayar sampai akhir bulan. Kamu yang bayar.” Suaranya serak. “Aku tetap minum. Tiap hari. Sampai habis. Soalnya aku nggak punya rem, dan aku nggak mau buang-buang kopi.”
Dia berjalan pergi, melewati tukang cilok yang menatapnya dengan sendok cilok berhenti di udara. Dia melewati anak kecil yang masih menangis karena balon hijaunya terbang, lalu berhenti sebentar, jongkok, dan berbicara dengan anak itu. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan. Tapi anak itu berhenti menangis, dan menunjuk ke langit, ke balon hijau yang tinggal titik kecil di antara awan mendung. Kinan tersenyum dan mengelus rambutnya.
Lalu dia berjalan ke gerbang taman, ke Si Pinky yang terparkir sangat miring.
Dia memakai helm pink dengan stiker bintang di belakangnya. Dia menyalakan motor. Si Pinky batuk tiga kali sebelum menyala.
Dia melaju tanpa menoleh.
Aku duduk di bangku beton di bawah pohon beringin dengan gelas kopi yang sudah dingin di tangan, dan menatap gerbang taman lama sekali.
Tukang cilok mendekat pelan-pelan dan menaruh satu mangkuk cilok di bangku di sebelahku.
“Mas,” katanya pelan. “Gratis.”
“…Makasih, Pak.”
“Mas.” Dia menatap gerbang taman juga. “Waktu duel dulu, Mas menang karena ngomong jujur. Hari ini Mas kalah karena apa?”
Aku tidak menjawab.
Tukang cilok itu menepuk bahuku sekali dan kembali ke gerobaknya.
Di langit, balon hijau yang terbang itu sudah tidak kelihatan.
Wulan sedang mewarnai di lantai ruang tengah waktu aku pulang pukul enam sore. Dia mewarnai gambar yang sama seperti kemarin: rumah dengan tiga orang dan bulan sabit besar di langit.
Aku duduk di sofa dan menatapnya. Aku sudah memutuskan untuk memberitahunya malam ini, karena Senin depan dia harus pindah, dan dia harus tahu dari sekarang. Tidak ada setengah kebenaran.
Aku mengambil seragam dari bagasi mobil, seragam oranye dan hijau ukuran enam tahun yang masih terbungkus plastik, lalu meletakkannya di sofa di sebelahku.
“Lan.”
“Hm?” Dia tidak mengangkat kepala.
“Papa mau ngomong sesuatu.”
Dia mengangkat kepala, lalu melihat seragam di sofa. Oranye dan hijau, bukan biru muda seperti seragam TK Pelangi Ceria.
“Itu baju apa?”
Aku menarik napas. “Wulan, Senin depan kamu pindah sekolah. Ke TK Tunas Harapan, dekat minimarket. Ada perosotan jerapahnya. Gurunya namanya Bu Sri, orangnya baik, pakai bros bunga matahari besar.”
Wulan menatapku. Krayon kuning di tangannya berhenti di tengah bulan sabit.
“Pindah?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku sudah menyiapkan jawabannya, jawaban yang jujur tapi sederhana, yang bisa dimengerti anak enam tahun.
“Soalnya orang-orang dewasa di sekolahmu lagi ribut. Soal Papa dan Bu Nanan. Kalau Wulan pindah, orang-orang itu berhenti ribut, dan Bu Nanan bisa tetap ngajar di kelasnya. Nggak ada yang ngomongin Bu Nanan lagi.”
Wulan diam lama.
“Bu Nanan ikut?”
“…Nggak, Lan. Bu Nanan tetap di TK Pelangi Ceria.”
“Telus aku sendilian?”
“Nanti kamu dapat teman baru. Banyak.”
Wulan menatap seragam oranye dan hijau itu. Lalu dia menatap gambar di pangkuannya, rumah dengan tiga orang. Lalu dia menatapku.
Mata cokelat besarnya, mata Anin, mulai basah.
“Papa bilang,” katanya pelan, dan suaranya bergetar, “kalau Bu Nanan pindah, aku ikut pindah. Bial Bu Nanan nggak sendilian. Kita bilang jangan ada yang ditinggal.”
“Lan, ini beda…”
“Tapi sekalang Bu Nanan yang ditinggal!”
Suaranya pecah dan meninggi. Krayon kuning jatuh dari tangannya.
“Papa bilang kita nggak boleh setengah kebenalan! Papa sama Bu Nanan janji! Aku dengal! Di sofa, waktu aku demam, waktu Papa kila aku tidul!” Air matanya jatuh. “Papa bilang ke Bu Nanan, jangan bohong sama Wulan! Tapi Papa bohong! Papa bilang tadi pagi pelgi kelja! Papa pelgi daftalin aku sekolah baru!”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku nggak mau pindah!” Wulan berdiri, dan gambar di pangkuannya jatuh ke karpet. “Aku mau sama Bu Nanan! Aku mau sama Lafi, sama Keysha, sama Bima! Aku mau dikepangin Bu Nanan! Aku udah minta ke Mama! Mama bilang boleh!”
“Wulan…”
“Papa jahat!”
Dia berlari ke atas, ke kamarnya, dan membanting pintu. Suara bantingannya membuat rumah kardus merah muda di rak buku bergetar. Stiker bintang di atap kamar Papa, di atas dua bantal kapas, jatuh ke rak.
Aku duduk di sofa dengan seragam oranye dan hijau di sebelahku.
Dari atas, dari balik pintu kamar yang terkunci, terdengar tangisan. Bukan tangisan keras seperti waktu demam, tapi tangisan kecil yang tertahan, seperti anak yang berusaha tidak ketahuan menangis.
Aku mengenal tangisan itu. Tiga tahun lalu, setiap malam selama berbulan-bulan, anak dua tahun di kamar yang sama menangis dengan cara yang persis sama, memanggil nama yang tidak lagi menjawab.
Aku berjalan ke atas dan mengetuk pintu kamarnya.
“Lan. Buka pintunya.”
“Nggak mau!”
“Lan, kita makan malam dulu. Papa bikin nasi goreng.”
“Aku nggak mau makan! Aku mogok!”
“Mogok?”
“Kata Bu Nanan, kalau olang dewasa nggak dengelin, anak-anak boleh mogok! Bu Nanan celita, dulu Bu Nanan mogok makan tiga hali waktu Nenek Yati nggak bolehin Bu Nanan pindah jurusan!”
Aku bersandar di pintu kamar anakku dan meluncur pelan ke lantai, lalu duduk di sana, di koridor yang gelap, dengan punggung di pintu.
Di balik pintu, Wulan menangis. Di depan pintu, aku diam.
Di bawah, di ruang tengah, gambar krayon rumah dengan tiga orang dan bulan sabit tergeletak di karpet. Bulan sabitnya setengah berwarna kuning, setengah masih putih.
Aku mengeluarkan HP dari saku dan membuka notes. Rencana. 1. Wulan pindah. 2. Jeda dengan Kinan. 3. Tunggu keputusan yayasan. 4. Jelaskan semuanya setelah aman. 5. Kembali.
Nomor satu dan dua sudah selesai. Rencana itu berjalan persis seperti yang kutulis.
Tapi di rencana itu tidak ada baris tentang anak yang mengunci diri di kamar dan menolak makan. Tidak ada baris tentang perempuan yang tersenyum sambil bertanya nilainya berapa dengan suara seperti pintu yang ditutup, atau tentang balon hijau yang terbang ke langit mendung dan tidak kelihatan lagi.
Rencana itu logis dan rapi, tanpa celah.
Dan di koridor gelap itu, dengan punggung di pintu kamar anakku, untuk pertama kalinya aku sadar: rencana yang tanpa celah itu tidak punya ruang untuk siapa pun kecuali aku.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda reading
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian