← Berkembang Sangat Baik

Chapter Thirty Two

Giliran Papa

POV: Danny


Kinan pernah bilang, di teras, di bawah gerimis, sambil memeluk jaket abu-abuku yang tidak pernah dia kembalikan:

“Kamu tahu nggak, Danny, dari hari pertama sampai sekarang, yang ngejar selalu aku.”

“Aku bayarin kopi seminggu.”

“Itu bukan ngejar. Itu bayar utang kopi.”

“Aku beliin helm.”

“Itu bukan ngejar. Itu keselamatan lalu lintas.”

“Aku bikin spanduk…”

“Itu Wulan yang bikin. Kamu cuma gambar panda yang kayak kentang.” Dia tersenyum di bahuku. “Aku nggak protes, lho. Aku suka ngejar. Aku nggak punya rem. Tapi kadang-kadang…”

“Kadang-kadang?”

Dia diam sebentar.

“Kadang-kadang aku pengen tahu rasanya dikejar.”

Aku tidak menjawab malam itu. Tapi aku mencatatnya di notes, di bawah Hal-hal tentang Kinan, baris ke-empat puluh tiga.

— Pengen tahu rasanya dikejar.


Hari Senin berikutnya, pukul enam lewat empat puluh lima pagi, aku berdiri di depan pagar rumah bercat hijau muda di ujung gang RT 04, dengan dua gelas kopi dari warung Bang Jali di tangan.

Kopi itu hitam, gula setengah sendok, dan satu pisang goreng di kantong kertas yang kusangkutkan di jari kelingking, walaupun dia tidak sedang patah hati.

Aku mengetuk pagar. Yang membuka pintu adalah Ibu Yati, dengan daster batik, rol rambut, dan sapu lidi di tangan.

Dia menatapku, dua gelas kopi, dan pisang goreng di jari kelingkingku.

“Nak Danny?”

“Pagi, Bu. Kinan udah bangun?”

Ibu Yati tidak menjawab. Dia berbalik dan berteriak ke dalam rumah dengan suara yang bisa membangunkan seluruh RT 04.

“KINAN! BANGUN! ADA YANG BAWAIN KOPI!”

Dari lantai atas terdengar suara benda jatuh. Mungkin guling, mungkin Kinan sendiri. Lalu suara langkah kaki cepat di tangga, dan Kinan muncul di ambang pintu dengan kaus tidur bergambar kucing, celana piyama kotak-kotak, dan rambut tergerai berantakan. Ada bekas bantal di pipinya, dan satu sandal hanya terpasang setengah.

Dia melihatku di depan pagar dengan dua gelas kopi. Mulutnya terbuka, dan wajahnya berubah dari kantuk ke kaget ke sesuatu yang membuat pipinya merah dalam dua detik.

“Danny?”

“Pagi.” Aku menyodorkan satu gelas kopi lewat celah pagar. “Hitam, gula setengah sendok. Pisang gorengnya bonus.”

“Kamu… jam enam empat puluh lima… di depan rumahku… bawa kopi?”

“Hm.”

“Kenapa?”

Aku menarik napas. Aku sudah menyiapkan ini di mobil. Aku latihan tiga kali di depan kaca spion, yang akhirnya kuputar ke arah wajahku sendiri. Aku sudah memikirkannya semalaman.

“Bu Kinan,” kataku. “Di lagu anak TK itu, balonnya ada lima.”

Kinan membeku.

“Tapi…” Aku berhenti, dan otakku tiba-tiba kosong. Semua yang sudah kulatih tiga kali di depan kaca spion menguap seperti asap kopi di udara pagi yang dingin. “Tapi… hatiku… hatiku kayak server…”

Kinan menatapku. Ibu Yati, di belakangnya, menatapku. Seekor ayam tetangga, di atas pagar sebelah, juga menatapku.

“…Kayak server?” ulang Kinan pelan.

“Yang… yang down kalau kamu nggak ada.”

Hening.

Lalu Ibu Yati tertawa. Keras, dari perut, sampai rol rambutnya bergoyang dan sapu lidinya jatuh ke lantai teras.

Kinan menutup mulut dengan satu tangan. Bahunya mulai berguncang.

“Nggak,” kataku cepat. “Nggak, tunggu. Itu salah. Ulang. Aku ulang.”

“Danny…”

“Hatiku kayak… kayak backup…”

“Danny.” Kinan sudah tertawa sampai membungkuk dengan kopi di tangan, sampai kopinya hampir tumpah. “Danny, stop. Stop. Kamu wifi putus lagi.”

Aku menatapnya dengan dua gelas kopi. Satu sudah di tangannya, satu masih di tanganku. Pisang goreng masih bergantung di jari kelingkingku.

Lalu aku menyerah dan tertawa juga, di depan pagar, pukul enam lewat empat puluh lima pagi, dengan ayam tetangga yang menatapku dengan kecewa.

“Oke,” kataku setelah bisa bicara lagi. “Oke. Aku nggak bisa gombal. Kamu udah tahu. Semua orang udah tahu.”

“Semua orang udah tahu,” Kinan setuju, sambil mengusap air mata di sudut matanya.

“Jadi aku bilang yang benar aja.”

Dia berhenti tertawa dan menatapku.

“Selama tiga bulan kamu yang datang ke aku jam sebelas, bawa kopi, sambil nyanyi.” Aku menyodorkan pisang goreng itu lewat celah pagar. “Sekarang giliran aku datang ke kamu. Jam enam empat puluh lima. Tanpa nyanyi, soalnya suaraku jelek. Tapi kopinya sama.”

Kinan menerima pisang goreng itu. Lalu dia menatapku lama, di balik pagar besi rendah, dengan kaus tidur bergambar kucing, bekas bantal di pipi, dan sandal yang terpasang setengah.

“Tiap hari?” tanyanya pelan.

“Tiap hari sekolah.”

“Sampai kapan?”

Aku tersenyum. “Kamu dulu hitung dua ratus gelas. Sekarang giliran aku yang hitung.”


— Pengen tahu rasanya dikejar.

Hari 1: Kopi jam 06.45. Gombal gagal (server). Ibu Yati ketawa. Ayam tetangga kecewa.

Hari 2: Kopi jam 06.45. Gombal gagal (backup). Kinan ketawa sampai kopinya tumpah.

Hari 3: Kopi jam 06.45. Nggak gombal. Cuma bilang “pagi, cantik.” Kinan diem lima detik, terus tutup pintu. Kata Ibu Yati, dia lari ke kamar mandi dan nyalain keran.

Hari 4: Kopi jam 06.45. Pak Darto yang buka pintu. Dia ambil kopinya. Bilang “hm”. Masuk lagi. Kinan nggak keluar. Kata Ibu Yati, kopinya diminum Pak Darto.

Hari 5: Kopi jam 06.45. Beli tiga gelas. Satu buat Kinan, satu buat Pak Darto.


Minggu ketiga, aku sadar ada satu hal lagi yang harus kupelajari. Hal yang, kalau kupikir, seharusnya sudah kupelajari dua puluh tahun lalu.

Aku tidak bisa naik motor.

Aku bisa menyetir mobil, dan aku bisa menulis kode untuk sistem pembayaran yang dipakai jutaan orang di tiga benua. Tapi waktu SMA, Papa tidak mengizinkanku naik motor karena “berbahaya”. Waktu kuliah, aku sibuk dengan komputer. Setelah menikah, Anin yang naik motor, dan aku yang menyetir mobil.

Aku tidak pernah butuh bisa naik motor. Tidak sampai sekarang.

Karena ulang tahun Kinan jatuh tiga minggu lagi, tanggal lima belas Januari, dan aku punya rencana. Rencana itu melibatkan Si Pinky, aku di depan, dan Kinan di boncengan.

“Kak,” kata Bagas, berdiri di tengah lapangan RT 04 hari Sabtu pukul enam pagi, dengan peluit di leher dan wajah pelatih sepak bola. “Kakak serius?”

“Serius.”

“Kakak nggak pernah naik motor?”

“Nggak pernah.”

“Sama sekali?”

“Sepeda pernah. Waktu SD.”

Bagas menatap Si Pinky, yang dia pinjam diam-diam dari garasi rumah pukul lima pagi sementara Kinan masih tidur. Lalu dia menatapku, lalu Si Pinky lagi.

“Kak. Ini motor matic. Paling gampang sedunia. Anak SMP aja bisa.”

“Aku bukan anak SMP.”

“Justru itu yang aku khawatirin.”

Di pinggir lapangan, di bangku kayu di bawah pohon mangga, Pak Darto duduk dengan papan catur magnetik. Dia tidak diundang, tapi dia datang. Dia bilang dia “kebetulan lewat”. Dia datang pukul lima lewat lima puluh, sepuluh menit sebelum kami.

Di sebelahnya, di layar HP yang disandarkan di kotak bidak catur, Papa menonton dari Surabaya.

“Hm,” kata Papa.

“Hm,” kata Pak Darto.


Percobaan pertama: aku duduk di atas Si Pinky, menyalakan mesin, lalu memutar gas terlalu keras. Si Pinky melompat ke depan seperti kuda yang disengat lebah, dan aku jatuh ke samping di rumput lapangan dengan motor menimpa kakiku.

“KAK!” Bagas berlari. “Kak! Pelan-pelan! Gasnya pelan-pelan!”

Percobaan kedua: aku memutar gas pelan-pelan, terlalu pelan. Si Pinky bergerak sepuluh sentimeter, lalu mati. Aku lupa menekan rem waktu menyalakan mesin lagi, dan Si Pinky melompat lagi. Aku jatuh lagi.

Percobaan ketiga: aku berhasil jalan lima meter. Lalu ada ayam, ayam tetangga, kemungkinan besar ayam yang sama dengan yang kecewa di hari pertama, menyeberang tepat di depanku. Aku membanting setang ke kiri dan jatuh ke semak-semak.

Dari bangku di bawah pohon mangga, Pak Darto menggeser kuda putih di papan caturnya tanpa mengangkat kepala.

“Hm,” katanya.

“Hm,” kata Papa dari layar HP.

Percobaan keempat, kelima, dan keenam kurang lebih sama.

Percobaan ketujuh, aku berhasil keliling setengah lapangan. Lalu aku sadar aku tidak tahu cara belok di tikungan, dan aku jatuh lagi, kali ini di dekat tiang bendera. Aku tergeletak di rumput dengan Si Pinky di sebelahku, menatap langit pagi yang biru, dengan lutut berdarah dan siku lecet dan daun mangga di rambut.

“Kak,” kata Bagas, berdiri di atasku dengan wajah prihatin. “Kita istirahat dulu, ya.”

“Nggak. Satu lagi.”

“Kak, lutut Kakak berdarah.”

“Satu lagi, Gas.”

Bagas menghela napas dan membantuku berdiri.

Aku mendorong Si Pinky kembali ke titik awal. Ternyata motor itu berat, lebih berat dari yang kukira untuk ukuran motor berwarna pink. Aku menyalakannya lagi dan memutar gas pelan-pelan.

Si Pinky mulai bergerak. Satu meter, lima, sepuluh.

Aku melewati tiang bendera, melewati pohon mangga dan Pak Darto yang, akhirnya, mengangkat kepala dari papan catur. Aku melewati ayam tetangga, yang kali ini tetap di pinggir.

Lima belas meter, dua puluh. Aku belok di tikungan, pelan dan hati-hati, dan tidak jatuh.

Tiga puluh meter.

“KAK! BISA! KAKAK BISA!” Bagas berteriak dari tengah lapangan sambil meniup peluitnya.

Aku tertawa. Aku tertawa di atas motor pink di lapangan RT pukul enam lewat empat puluh pagi, dengan lutut berdarah, siku lecet, dan daun mangga di rambut. Aku keliling lapangan satu kali penuh, lalu dua kali.

Di putaran ketiga, aku melihat seseorang berdiri di gerbang lapangan.

Rambutnya tergerai berantakan. Dia memakai kaus tidur bergambar kucing, celana piyama kotak-kotak, dan sandal yang terpasang setengah. Di tangannya ada HP dengan layar yang masih menyala, dan aku yakin di layar itu ada pesan dari seseorang di grup keluarga. Mungkin Dinda, mungkin Bagas yang sempat mengetik sambil meniup peluit.

Kinan.

Aku menatapnya dari atas Si Pinky.

Dan karena aku menatapnya, bukan jalan di depanku, aku tidak melihat lubang kecil di rumput lapangan.

Roda depan Si Pinky masuk ke lubang itu. Motor oleng, lalu miring, lalu jatuh pelan-pelan ke samping, dan aku ikut jatuh bersamanya. Sekali lagi, untuk kedelapan kalinya pagi itu, aku tergeletak di rumput dengan motor pink di sebelahku.


Aku mendengar langkah kaki berlari di rumput, cepat dan tidak teratur, karena satu sandalnya hanya terpasang setengah.

Lalu wajah Kinan muncul di atasku, menghalangi langit biru. Rambutnya jatuh ke wajahku, dan matanya lebar dan panik.

“Danny! Danny, kamu nggak apa-apa? Lututmu berdarah! Sikumu! Ya Allah, rambutmu ada daunnya!”

“Nggak apa-apa.”

“Nggak apa-apa gimana? Kamu jatuh dari Pinky! Pinky juga jatuh!” Dia menoleh ke Si Pinky, lalu kembali padaku. “Kamu ngapain naik Pinky jam enam pagi di lapangan RT?”

Aku menatapnya dari rumput. Wajahnya panik dan marah, dengan bekas bantal di pipi, dan rambutnya berantakan menjuntai sampai ke hidungku. Kaus tidur bergambar kucing itu sama dengan yang dia pakai di video call jam dua pagi dulu, waktu dia mengigau soal kancingku.

Aku tersenyum.

“Aku lagi belajar ngejar kamu,” kataku.

Kinan berhenti.

“Kamu bilang di teras,” lanjutku, masih tergeletak di rumput, “kamu pengen tahu rasanya dikejar. Aku nggak bisa gombal, nggak bisa nyanyi, nggak bisa joget. Tapi aku bisa belajar. Jadi aku belajar bawa kopi jam enam empat puluh lima. Aku belajar bikin panda yang nggak capek. Dan aku belajar naik Pinky.” Aku mengangkat tangan yang lecet dan menunjuk motor pink yang tergeletak di sebelahku. “Masih suka jatuh.”

Kinan menatapku tanpa bergerak.

“Tapi kan,” kataku pelan, “aku emang udah jatuh dari dulu.”

Hening.

Di bangku di bawah pohon mangga, Pak Darto berhenti menggeser bidak catur.

Kinan menatapku lama sekali. Matanya berkaca-kaca, dan pipinya merah, bukan karena marah lagi. Lalu dia menunduk, pelan, dan menempelkan dahinya di dahiku di atas rumput lapangan RT.

“Kamu,” bisiknya dengan suara bergetar, “nggak bisa gombal.”

“Aku tahu.”

“Tapi yang barusan itu…”

“Wifi putus?”

“Bukan.” Dia tertawa pelan, basah, di dahiku. “Yang barusan itu fiber optik.”


Bagas mengambil Si Pinky dan memeriksanya. Motor itu baik-baik saja, hanya lecet sedikit di spion kiri. Lalu dia mengumumkan dengan suara pelatih sepak bola bahwa “latihan hari ini selesai, peserta cedera”.

Kinan membantuku berdiri. Dia memapahku ke bangku di bawah pohon mangga, lalu mendudukkanku di sebelah Pak Darto dan papan caturnya. Dia jongkok di depanku, mengeluarkan tisu basah dari saku celana piyamanya, dan mulai membersihkan luka di lututku dengan sangat hati-hati.

“Kenapa kamu bawa tisu basah di celana piyama?” tanyaku.

“Guru TK,” jawabnya tanpa mengangkat kepala. “Selalu bawa tisu basah, permen, dan jepit. Bahkan waktu tidur.”

“Kamu tidur bawa permen?”

“Rahasia negara.”

Aku tertawa. Dia menekan tisu basah di lututku sedikit lebih keras, dan aku berhenti tertawa.

“Aduh.”

“Itu hukuman,” katanya. “Karena belajar naik Pinky tanpa izin Pinky.”

“Pinky punya izin?”

“Pinky punya perasaan.”

Di sebelahku, Pak Darto menggeser bidak catur, lalu berbicara tanpa mengangkat kepala:

“Tadi putaran ketiga, dia nggak jatuh.”

Kinan mengangkat kepala. “…Bapak?”

“Putaran ketiga, keliling penuh. Belok di tikungan, nggak jatuh.” Pak Darto menggeser gajah putih. “Jatuhnya waktu lihat kamu.”

Kinan menatap bapaknya, lalu menatapku. Dia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Pak Darto tidak menatap kami. Dia menatap papan caturnya.

“Hm,” katanya.

Di layar HP yang bersandar di kotak bidak catur, Papa mengangguk dari Surabaya.

“Hm,” kata Papa.


Malam itu, di notes, di bawah Hal-hal tentang Kinan, aku menambahkan satu baris.

— Bawa tisu basah di celana piyama. Katanya juga bawa permen waktu tidur (belum terverifikasi).

Lalu aku membuka catatan lain, catatan baru yang kubuat seminggu lalu dengan judul yang sengaja kubuat membosankan, supaya tidak ada yang curiga kalau tidak sengaja melihat layar HP-ku.

Laporan Kerja Q1

Isinya bukan laporan kerja.

Nomor 5 — persiapan

1. Belajar naik motor. (Progres: 3 putaran tanpa jatuh. Jatuh kalau lihat Kinan.)
2. Minta restu Oma Ratmi. (Belum.)
3. Minta restu Pak Darto. (Belum. Kayaknya harus lewat catur.)
4. Cincin. (Belum. Wulan yang milih.)
5. Waktu dan tempat: wisuda TK Wulan. Jam 11.00. (Jangan telat.)
6. JANGAN SAMPAI BOCOR.

Aku menatap nomor enam lama sekali.

Lalu aku membuka grup KELUARGA BESAR (CALON) 💚🐼, dan melihat pesan yang dikirim lima menit sebelumnya oleh Dinda, dengan video pendek yang direkam dari balik pohon mangga pagi tadi.

Dinda: KAK DANNY JATUH DARI MOTOR TERUS BILANG “AKU LAGI BELAJAR NGEJAR KAMU” 😭😭😭

Mama Rini: 😭😭😭😭😭

Ibu Yati: 😭😭😭😭😭

Oma Ratmi: Anin pasti ketawa lihat Danny jatuh dari motor pink. 🤍

Bagas: Aku yang ngajarin btw.

Dinda: Kamu yang bikin dia jatuh delapan kali btw.

Bagas: Tujuh. Yang kedelapan karena Kak Kinan.

Kinan: Aku di grup ini, lho.

Dinda: Kami tahu Kak. Makanya kami ngomongin.

Aku menatap layar itu dan tertawa sendirian di meja makan pukul sebelas malam, dengan lutut yang diperban dan siku yang dibalut plester bergambar kelinci milik Wulan.

Lalu aku kembali ke Laporan Kerja Q1, ke nomor enam, JANGAN SAMPAI BOCOR.

Aku menatap grup keluarga itu sekali lagi. Dua belas anggota. Dinda, yang sudah dua kali salah kirim pesan dalam satu bulan. Bagas, yang tidak bisa menyimpan rahasia lebih dari dua puluh empat jam. Mama, yang menangis setiap kali ada yang menyebut nama Kinan. Ibu Yati, yang sudah DP katering sejak kencan pertama.

Aku menambahkan satu baris di bawah nomor enam:

6a. Kemungkinan bocor: 97%.

Aku menatap angka itu. Lalu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak membuat daftar kemungkinan terburuknya.

Aku hanya tersenyum, lalu menutup HP.

Biar saja bocor. Toh yang bocor itu kabar baik.