← Berkembang Sangat Baik

Chapter Eighteen

Duel Gombal

POV: Sheila


Semuanya berawal dari satu kalimat yang diucapkan Dinda di grup keluarga gabungan, Selasa malam.

Grup itu sekarang sudah resmi, bukan grup rahasia. Setelah insiden salah pencet, Oma Ratmi memutuskan bahwa “tidak ada gunanya sembunyi-sembunyi lagi”, lalu mengganti nama grup menjadi KELUARGA BESAR (CALON) 💚🐼. Tanda kurung di kata calon itu, menurut Mama Rini, “cuma formalitas”.

Aku dan Danny dimasukkan ke grup itu, dan dalam dua hari kami berdua sudah menyesal.

Selasa malam, Dinda mengirim video lamaku, video menyanyi di kondangan. Di bawahnya dia menulis:

Dinda: Kak Kinan gombalnya level dewa. Kak Danny level… wifi putus.

Bagas: 😂😂😂

Mama Rini: DANNY ITU DARI KECIL NGGAK BISA GOMBAL. WAKTU SMA DIA NEMBAK CEWEK PAKAI RUMUS FISIKA.

Ibu Yati: Rumus apa Bu Rini?

Mama Rini: Hukum Newton. Katanya “kamu gaya gravitasiku”. Ceweknya bingung.

Ibu Yati: 😂😂😂

Oma Ratmi: Anin juga dulu bilang, Danny itu romantis tapi nggak bisa ngomong. Romantisnya pakai tindakan.

Danny: Aku masih di grup ini, lho.

Dinda: Kami tahu, Kak. Makanya kami ngomongin.

Lalu, pukul sebelas malam, dari nomor Danny, masuk satu pesan pribadi yang membuatku langsung duduk tegak di kasur.

Danny: Kinan. Hari Minggu. Taman kota. Duel gombal.

Danny: Aku mau buktiin aku bukan wifi putus.

Aku menatap pesan itu. Lalu aku tertawa, keras, sampai Ibu mengetuk dinding.

Aku: Kamu yakin? Aku mantan vokalis. Aku punya 47 lagu.

Danny: Aku punya tiga hari buat persiapan.

Aku: Siapa jurinya?

Danny: Juri yang paling jujur di dunia.

Aku langsung tahu siapa.


Minggu pagi pukul delapan, taman kota masih sepi. Hanya ada beberapa orang jogging, bapak-bapak senam tai chi di dekat air mancur, dan tukang bubur ayam dengan gerobak biru di gerbang depan.

Kami menggelar tikar piknik di bawah pohon beringin besar, dengan termos teh manis, bubur ayam tiga porsi, dan kue lapis dari Oma Ratmi.

Juri duduk di tengah tikar dengan wajah paling serius yang pernah dia buat. Wulan memakai kacamata hitam berbentuk hati dari pasar malam, dan di pangkuannya ada satu lembar penuh stiker bintang emas, lima puluh bintang. Di sebelahnya ada papan skor dari kardus dengan dua kolom bertuliskan krayon: BU NANAN dan PAPA.

“Peratulannya,” kata Wulan, membetulkan kacamata hatinya yang melorot, “gombalnya halus bikin aku senyum. Kalau aku senyum dikit, satu bintang. Kalau senyum banyak, tiga bintang. Kalau aku ketawa, lima bintang.”

“Kalau nggak senyum?” tanya Danny.

Wulan menatap papanya dengan kasihan. “Nol bintang, Papa. Kayak kemalin di glup.”

Danny menutup muka dengan satu tangan. Aku tertawa, dan duel dimulai.


Ronde satu. Bu Nanan.

Aku berdiri di atas tikar, membetulkan jepit panda di rambut, menarik napas, lalu menatap Danny dengan mata paling berbinar yang bisa kubuat.

“Pak Danny,” kataku. “Kamu tahu nggak bedanya kamu sama lem kertas?”

Danny menatapku waspada. “…Apa?”

“Lem kertas cuma bisa nempelin kertas. Kamu bisa nempelin hati aku.” Aku menunjuk dadaku dengan dua tangan. “Dan nggak bisa dilepas. Soalnya lemnya lem tembak.”

Wulan tertawa terbahak-bahak sampai kacamata hatinya jatuh ke bubur.

“LIMA BINTANG!” teriaknya sambil menempelkan lima stiker di kolom BU NANAN.

Danny menatapku dengan wajah orang yang baru sadar lawannya jauh lebih kuat dari perkiraan.

“Lem tembak,” ulangnya pelan.

“Guru TK, Pak. Referensi saya terbatas.”


Ronde satu. Papa.

Danny berdiri. Dia membetulkan kerah kemejanya, yang kancingnya benar dan tidak terbalik karena aku sudah memeriksanya waktu dia datang. Dia berdeham, lalu menatapku.

“Kinan,” katanya. “Kamu tahu nggak, kamu itu kayak wifi.”

Aku menunggu. Wulan juga menunggu. Tukang bubur ayam di gerbang, yang ternyata ikut menonton, juga menunggu.

“Kenapa?” tanyaku.

Danny membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia berpikir, dan aku bisa melihatnya berpikir keras seperti waktu dia di depan kode yang error.

“Karena…” katanya pelan. “Karena… kalau kamu nggak ada, aku nggak bisa… nyambung.”

Hening.

Wulan menatap papanya lama, lalu mengangkat satu stiker bintang, menatapnya, dan mengembalikannya ke lembaran.

“Nol,” katanya.

“Nol?”

“Papa, itu jelek.”

“Itu nggak jelek, Lan. Itu… itu metafora teknis.”

“Jelek, Papa.”

Danny menatapku dengan wajah memohon bantuan. Aku menutup mulut dengan kedua tangan dan tertawa sampai terjatuh ke samping di atas tikar.

“Maaf,” kataku di sela tawa. “Maaf, Danny, tapi Wulan benar. Itu wifi putus.”


Ronde dua. Bu Nanan.

“Pak Danny, kamu tahu nggak kenapa aku suka warna hijau?”

“Karena balon hijau?”

“Salah. Karena hijau itu warna lampu lalu lintas yang artinya jalan terus.” Aku mengedip. “Dan buat kamu, aku selalu jalan terus. Soalnya aku nggak punya rem.”

Wulan tertawa lagi, tapi tidak sampai kacamatanya jatuh. “Tiga bintang!”


Ronde dua. Papa.

Kali ini Danny tidak langsung berdiri. Dia duduk di tikar, menatapku lama, dan aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Wajah bingung wifi putus hilang, dan senyum kecil muncul. Senyum yang usil dan hangat, yang sama seperti waktu dia bilang balon hijau meletus, Bu, hatinya aman?

“Kinan,” katanya pelan. “Tadi kamu bilang aku lem tembak.”

“Iya.”

“Jadi aku yang bikin hatimu nempel, ya?”

“Iya.”

“Berarti…” Dia memiringkan kepala. “Hatimu itu prakarya?”

Aku berhenti.

“Prakarya yang aku kerjain,” lanjutnya dengan wajah pura-pura polos. “Tapi kata surat edaran, prakarya harus dikerjain bareng. Jadi hatimu itu tugas kelompok. Kamu yang milih warna, aku yang urus kabelnya.”

Wulan tertawa. Tawanya kecil, lalu makin besar, sampai dia harus memeluk lembaran stikernya.

“TIGA BINTANG!”

Aku menatap Danny. Dia menatapku balik dengan senyum yang makin lebar.

“Kamu,” kataku pelan, “baru aja ngegombal pakai surat edaran prakarya?”

“Referensiku juga terbatas,” katanya. “Aku cuma papa murid TK.”


Ronde tiga, empat, dan lima berlangsung dengan ketat.

Aku menggombal pakai kopi, dan Danny membalas pakai buku penghubung. Aku menggombal pakai kerupuk (“Aku butuh dua puluh sembilan detik buat habisin kerupuk, tapi aku butuh seumur hidup buat berhenti mikirin kamu”), dan Danny membalas pakai helm (“Aku beliin kamu helm biar kepalamu aman. Tapi hatimu, aku nggak tahu helmnya di mana, jadi aku jagain sendiri”).

Skor bergerak naik turun. Tukang bubur ayam sekarang duduk di pinggir tikar dengan mangkuk sendiri. Dua bapak-bapak tai chi berhenti senam dan menonton sambil mengelus dagu. Seorang ibu yang sedang jogging berhenti, menarik earphone, dan berdiri dengan tangan di pinggang.

Setelah ronde lima, skornya: BU NANAN — 18 bintang. PAPA — 15 bintang.

“Satu ronde lagi,” kata Wulan, menatap papan skornya dengan kening berkerut. “Ronde telakhil. Ronde penentuan.”


Ronde enam. Bu Nanan.

Aku berdiri dan menarik napas panjang. Aku sudah menyimpan gombalan ini sejak awal. Ini andalanku, senjata pamungkas yang pernah membuat seorang pemain kendang band kampus jatuh cinta dalam tiga detik.

“Pak Danny,” kataku, menatapnya dalam-dalam. “Kalau kamu jadi bulan, aku rela jadi malam. Biar kamu bisa bersinar di hidupku, tiap hari, tanpa pernah terbenam.”

Hening sebentar. Lalu tepuk tangan dari tukang bubur ayam, dua bapak tai chi, dan ibu yang sedang jogging.

Wulan tertawa sampai berguling di tikar. “LIMA BINTANG! LIMA BINTANG! BU NANAN MENANG!”

Skor: BU NANAN — 23. PAPA — 15.

Aku duduk dengan senyum kemenangan, lalu melipat tangan di dada. “Menyerah, Pak?”


Ronde enam. Papa.

Danny tidak langsung menjawab. Dia menatap papan skor dengan kolom PAPA yang tertinggal delapan bintang. Lalu dia menatap Wulan yang masih tertawa di tikar, dan akhirnya menatapku.

Dia tidak berdiri. Dia tetap duduk di tikar, bersila, dengan tangan di lutut. Wajahnya tidak lagi usil. Senyumnya masih ada, tapi sekarang lebih pelan, lebih dalam, dan aku tidak bisa membaca apa artinya.

“Kinan,” katanya pelan.

“Hm?”

“Aku nggak jago gombal. Semua orang di grup udah bilang. Mama bilang aku nembak cewek pakai hukum Newton. Dinda bilang aku wifi putus.” Dia tersenyum kecil. “Mereka benar.”

Aku menunggu.

“Jadi aku nggak mau gombal buat ronde terakhir,” katanya. “Aku cuma mau bilang yang benar.”

Tukang bubur ayam berhenti mengunyah. Wulan berhenti berguling dan duduk tegak.

“Kamu tadi bilang kamu mau jadi malam biar aku jadi bulan,” kata Danny. “Tapi Kinan, kamu nggak perlu jadi malam. Kamu nggak perlu jadi apa-apa buat aku.”

Dia menatapku lurus-lurus.

“Kamu nggak kayak wifi. Nggak kayak lem, nggak kayak bulan, nggak kayak balon atau bintang atau apa pun yang ada di lagu anak TK.” Dia berhenti, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. “Kamu itu kamu. Kamu yang nanya aku sudah beristri di hari pertama, yang nangis di motor sambil nyanyi, yang takut cicak sampai berdiri di atas meja, yang ngomong sama motornya, yang makan arum manis sampai belepotan, yang ngepang rambut anakku kayak di foto mamanya tanpa tahu apa-apa.”

Suaranya bergetar sedikit, dan dia membiarkannya.

“Tiga tahun aku bangun tiap pagi, dan hari-hariku kayak… sama semua. Bukan jelek, cuma sama. Abu-abu, kayak selimut yang aku pakai.” Dia tersenyum. “Terus ada kamu, dan sekarang tiap pagi aku nggak sabar nunggu jam sebelas. Aku nggak sabar dengar lagu apa yang mau kamu gombalin, lihat jepit apa yang kamu pakai, dan dengar kamu ketawa di gerbang sampai kedengeran ke parkiran.”

Dia menarik napas.

“Aku nggak butuh kamu jadi bulan, Kinan. Aku cuma butuh kamu tetap jadi kamu. Dan aku suka kamu. Aku suka kamu, yang kayak kamu.”


Taman kota hening. Air mancur berbunyi pelan, dan burung berkicau di pohon beringin.

Aku tidak bisa bicara. Aku tidak bisa bergerak. Aku duduk di tikar piknik dengan tangan masih terlipat di dada, dengan senyum kemenangan yang sudah mati tapi belum tahu dirinya mati. Wajahku terasa panas, sangat panas, dari pipi sampai ubun-ubun.

Lalu, pelan-pelan, aku jongkok.

Aku tidak tahu kenapa. Kakiku yang memutuskan. Aku jongkok di atas tikar dengan kedua lutut di dada, lalu menutup muka dengan kedua tangan.

“Ya Allah,” gumamku dari balik tangan. “Ya Allah, ya Allah, ya Allah…”

“Kinan?”

“Jangan ngomong dulu.”

“Kamu nggak apa-apa?”

“Aku kalah, Danny. Aku kalah telak. Aku nggak bisa napas.”

Aku mendengar dia tertawa pelan, dan tawanya terdengar lega.

Lalu terdengar suara kertas stiker dikelupas. Banyak sekali, satu demi satu, cepat.

Aku mengintip dari celah jari. Wulan sedang mengelupas semua stiker bintang yang tersisa di lembarannya, dua puluh tujuh bintang, dan menempelkannya satu per satu di kolom PAPA di papan skor kardus, dengan wajah serius dan tangan yang cepat.

“Wulan,” kata Danny. “Itu kebanyakan.”

“Nggak kebanyakan,” jawab Wulan tanpa berhenti. “Soalnya Bu Nanan nggak senyum. Bu Nanan nggak ketawa. Bu Nanan jongkok tutup muka.” Dia menempelkan bintang terakhir, lalu menatap papan skornya dengan puas. “Itu lebih dali lima bintang. Itu bintang semua.”

Skor akhir: BU NANAN — 23. PAPA — 42.

Tukang bubur ayam bertepuk tangan. Dua bapak tai chi mengacungkan jempol. Ibu yang sedang jogging mengusap matanya dengan ujung handuk kecil dan berkata pada dirinya sendiri, “Suamiku nggak pernah ngomong gitu.”


Aku masih jongkok dengan tangan menutupi wajah, sampai Danny beringsut di atas tikar dan duduk di sebelahku.

“Kinan.”

“Hmm.”

“Buka tanganmu.”

“Nggak mau. Mukaku merah.”

“Aku mau lihat.”

“Justru itu.”

Dia tertawa pelan. Lalu tangannya menyentuh tanganku yang menutupi wajahku, pelan, dan dia menurunkannya satu per satu dengan hati-hati, seperti menurunkan tirai.

Aku menatapnya dengan wajah yang pasti semerah tomat. Dia menatapku balik dengan senyum paling lembut yang pernah kulihat di wajahnya.

“Telingamu merah,” katanya pelan.

“Gara-gara kamu.”

“Aku tahu.” Dia tersenyum lebih lebar. “Aku udah lama pengen lihat lagi. Sejak rumah kardus.”

Aku ingat baris di notes-nya: Telinganya merah kalau dipuji tiba-tiba. Pengen lihat lagi.

“Kamu,” bisikku, “sengaja.”

“Hm.”

“Kamu sengaja kalah lima ronde, biar ronde terakhir…”

“Aku nggak sengaja kalah,” katanya. “Aku beneran wifi putus. Tapi yang terakhir itu…” Dia berhenti, dan telinganya sendiri mulai memerah. “Yang terakhir itu aku latihan tiga hari.”

“Tiga hari?”

“Tiap malam, di depan foto Anin. Dia yang dengerin.”

Aku menatapnya. Lalu aku tidak bisa menahan diri lagi. Aku memeluknya dengan erat dari samping, di atas tikar piknik, di bawah pohon beringin, di depan tukang bubur ayam, dua bapak tai chi, dan seorang ibu yang sedang menangis dengan handuk kecil.

“Kamu bukan wifi putus,” bisikku di bahunya.

“Terus apa?”

“Kamu…” Aku mencari kata yang tepat, dan tidak menemukannya. Semua kata yang terlintas di kepalaku adalah lirik lagu anak TK dan gombalan pakai lem tembak.

“Kamu Danny,” kataku akhirnya. “Dan aku suka kamu yang kayak kamu.”

Dia diam. Lalu tangannya melingkar di punggungku dan memelukku balik.

Dari tengah tikar, Wulan membetulkan kacamata hatinya dan mengumumkan dengan suara juri yang sangat resmi:

“Pemenangnya Papa. Tapi Bu Nanan juga menang. Soalnya Bu Nanan dapat Papa.”

Dia berhenti sebentar, berpikir, lalu menambahkan dengan wajah puas:

“Aku juga menang. Soalnya aku dapat dua-duanya.”


Malam itu, di grup KELUARGA BESAR (CALON) 💚🐼, Dinda mengirim video yang direkam diam-diam oleh tukang bubur ayam. Ternyata tukang bubur ayam itu kenalan Bagas, dan Bagas sudah membayarnya dengan dua porsi bubur tambahan.

Video itu berdurasi dua menit tiga puluh detik: ronde terakhir, dari awal sampai Wulan menempelkan dua puluh tujuh stiker.

Di bawahnya, satu per satu, pesan masuk:

Mama Rini: 😭😭😭😭😭 ANAK MAMA BISA NGOMONG

Oma Ratmi: Anin pasti bangga. 🤍

Ibu Yati: Bu Rini, ini fix. Katering tambah 200 porsi.

Pak Harun: Hm.

Pak Darto: Hm.

Dinda: Kak Danny, aku tarik kata-kataku. Kakak bukan wifi putus. Kakak fiber optik.

Bagas: Kak Kinan jongkok tutup muka 😂 pertama kali seumur hidup aku lihat Kak Kinan kalah.

Bu Tari: Saya nggak tahu kenapa saya dimasukin ke grup ini, tapi saya nangis.

Bang Jali: Kopi besok gratis untuk berdua. 🙏

Aku membaca semua pesan itu di kasur dengan HP di dada, dengan senyum yang tidak mau hilang dan telinga yang, aku bisa merasakannya, masih merah.

Lalu satu pesan pribadi masuk.

Danny: Tadi aku lupa bilang satu hal.

Aku: Apa?

Danny: Wulan ulang tahun tanggal dua puluh. Dua minggu lagi. Dia minta satu hadiah.

Aku: Apa?

Tanda sedang mengetik… muncul, hilang, muncul lagi.

Danny: Dia minta kamu datang. Dan dia minta… kamu yang nyanyiin lagu ulang tahunnya.

Danny: Pakai cengkok.

Aku menatap pesan itu lama sekali. Lalu aku membalas dengan satu kata dan satu emoji.

Aku: Pasti. 🎈

Di luar jendela kamarku, bulan hampir penuh. Aku menatapnya lama dan tersenyum, karena aku ingat kalimatnya.

Aku nggak butuh kamu jadi bulan, Kinan. Aku cuma butuh kamu tetap jadi kamu.

Aku tidak perlu jadi bulan. Bulannya sudah ada, namanya Wulan, dan dua minggu lagi dia berulang tahun keenam.