Chapter Twenty Nine
Mode Maksimal
POV: Sheila
Kamis pukul tujuh malam, kelas TK B kembali menjadi ruang sidang.
Kursi plastik dari masjid kompleks berjajar dalam tiga baris. Lampu neon terlalu terang. Gambar-gambar anak-anak masih menempel di dinding, dan bintang-bintang kertas masih menempel di langit-langit. Di meja panjang di depan duduk Bu Hartini, Pak Wiryo dari yayasan, dan ketua komite berkerudung hijau yang masih mengipasi dirinya dengan map plastik.
Aku duduk di kursi paling ujung meja panjang, di sebelah Bu Tari, seperti minggu lalu.
Bedanya, malam itu di pangkuanku ada satu tas kain besar yang berat, penuh sesuatu yang kuambil dari rak kelas sore tadi, dan di rambutku ada jepit panda.
Bu Tari melirik jepit itu. Lalu dia melirik tas kain di pangkuanku.
“Kinan,” bisiknya. “Apa isi tas itu?”
“Barang bukti.”
“Barang bukti?”
“Tari, percaya sama aku.”
“Kinan, terakhir kali kamu bilang percaya sama aku, kamu pasang remix Balonku dangdut koplo di Jumat Sehat.”
“Dan semua orang joget.”
Bu Tari menutup mata dan menghela napas panjang. “Ya Allah, lindungilah kami semua.”
Orang tua murid datang satu per satu. Jumlahnya dua puluh, satu kurang dari minggu lalu.
Kursi Mama Keysha kosong lagi. Keysha sudah masuk sekolah sejak Senin dengan mata sembab, tapi mamanya tidak pernah datang menjemput. Neneknya yang menjemput.
Dan satu kursi lagi di barisan kedua dari belakang, tempat Danny duduk minggu lalu di sebelah Oma Ratmi, juga kosong.
Oma Ratmi datang sendirian. Dia duduk di barisan itu dengan gamis krem, kacamata bulat, dan tas tangan berisi kue lapis. Kursi di sebelahnya kosong, dan dia meletakkan tasnya di sana. Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya dia sedang menjaga kursi itu untuk seseorang.
Aku tidak berharap. Aku tidak mau berharap.
Kami jeda, delapan bulan. Dia yang bilang di bawah pohon beringin.
Tapi mataku tetap melirik kursi kosong itu setiap tiga detik.
“Assalamualaikum, Bapak Ibu,” kata Bu Hartini. “Terima kasih sudah hadir lagi. Malam ini yayasan akan menyampaikan keputusan terkait masalah yang kita bahas minggu lalu.”
Pak Wiryo membuka map di depannya. Dia membaca dengan suara datar yang sama seperti notulen.
“Bapak Ibu sekalian. Dalam satu minggu terakhir, yayasan menerima dua surat yang relevan dengan masalah ini.”
Aku berhenti bernapas.
“Surat pertama, dari Ibu Sheila Kinanti, guru TK B, berisi permohonan mutasi ke cabang yayasan yang lain, terhitung mulai semester depan.”
Kelas bergumam. Di barisan depan, Mama Aurel menoleh ke Mama Dafa dengan mata lebar. Di barisan tengah, Mama Rafi berdiri setengah dari kursinya.
“Surat kedua, dari TK Tunas Harapan, berisi permohonan berkas perpindahan siswa atas nama Ananda Wulan Anindya Hermansyah.”
Gumaman berubah jadi suara yang lebih keras. Beberapa orang tua saling pandang, dan beberapa lainnya menatapku. Oma Ratmi di barisan kedua dari belakang menunduk, dengan tangan tetap di atas tas di kursi kosong di sebelahnya.
“Dengan dua surat ini,” lanjut Pak Wiryo, “yayasan menilai bahwa permasalahan hubungan pribadi antara guru dan wali murid di kelas TK B telah terselesaikan dengan sendirinya. Jika kedua pihak sudah mengambil keputusan masing-masing, maka yayasan…”
“Pak.”
Aku sudah berdiri. Aku tidak ingat memutuskan untuk berdiri. Kakiku yang memutuskan sendiri, seperti waktu aku duduk di lantai kelas dengan kardus helm di pangkuan, dan seperti waktu mulutku bertanya pada duda di hari pertama apakah dia sudah beristri.
Pak Wiryo berhenti membaca. Bu Hartini menatapku dari balik kacamatanya. Aku tidak bisa membaca ekspresinya, tapi dia tidak menyuruhku duduk.
“Maaf, Pak,” kataku. “Sebelum Bapak baca keputusannya, boleh saya ngomong sebentar?”
Pak Wiryo menatap Bu Hartini. Bu Hartini mengangguk pelan, satu kali.
“Silakan, Bu Kinan,” kata Pak Wiryo. “Lima menit.”
Aku mengangkat tas kain besar dari pangkuanku dan meletakkannya di atas meja panjang, dengan bunyi buk yang keras.
Bu Tari menutup muka dengan kedua tangan.
“Bapak Ibu,” kataku. “Minggu lalu, Mama Aurel minta bukti. Katanya, sayang sama rata itu kan kata Ibu. Buktinya?”
Mama Aurel duduk tegak di barisan depan. Dagunya terangkat sedikit, tapi matanya waspada.
“Ini buktinya.”
Aku membuka tas kain itu, lalu mengeluarkan isinya satu per satu dan menjajarkannya di atas meja panjang. Dua puluh buku kecil bersampul plastik, dengan warna-warni berbeda dan nama anak di sampul depan dengan tulisan tanganku yang besar dan bulat.
Dua puluh buku penghubung.
“Ini buku penghubung semua anak TK B,” kataku. “Dari hari pertama tahun ajaran sampai hari ini. Tiga bulan lebih. Tiap hari saya nulis di sini. Buat dua puluh anak.”
Aku mengambil satu buku dengan sampul plastik biru dan nama RAFI di depannya, lalu membukanya secara acak.
“Rafi hari ini makan krayon warna hijau. Ibu sudah bilang krayon bukan makanan. Rafi bilang, ‘Tapi Bu, warnanya kayak sayur.’ Ibu nggak bisa membantah logika itu.”
Beberapa orang tua tertawa. Di barisan tengah, Mama Rafi menutup mulut, dan matanya mulai berkaca-kaca.
Aku mengambil buku lain, sampul kuning, BIMA.
“Bima hari ini bercerita di Cerita Akhir Pekan bahwa Ayah Bima kentut di masjid. Lagi. Ini ketiga kalinya bulan ini. Ibu mohon Ayah Bima diperiksakan ke dokter, karena Ibu mulai khawatir.”
Kelas meledak dengan tawa. Seorang bapak di barisan belakang, ayah Bima, menutup muka dengan kedua tangan sambil tertawa dan menggeleng-geleng.
Aku mengambil buku berikutnya, sampul ungu, NADIA.
“Nadia hari ini melihat kupu-kupu di halaman dan lari ke dalam kelas sambil menangis. Ibu peluk Nadia dan cerita bahwa kupu-kupu itu dulunya ulat yang takut juga, tapi akhirnya berani terbang. Nadia berhenti menangis dan bilang, ‘Aku mau jadi kupu-kupu.’ Ibu bilang, ‘Nadia sudah jadi kupu-kupu.’”
Papa Nadia di barisan kedua menunduk dan mengusap matanya.
Aku mengambil buku-buku lain dengan cepat, satu per satu, dan membaca satu kalimat dari setiap buku. Dafa yang minta dipeluk kalau jatuh. Keysha yang mendengarkan dengan mata bulat. Dua puluh anak dan dua puluh cerita, dua puluh hari biasa yang kutulis tangan setiap sore setelah anak-anak pulang.
Lalu aku mengambil satu buku bersampul plastik pink dengan nama AUREL.
Mama Aurel di barisan depan menahan napas.
Aku membukanya di halaman bulan lalu dan membaca pelan.
“Aurel hari ini membawa bekal nasi goreng lagi, dan bilang ke semua teman, ‘Mamaku masaknya paling enak sedunia.’ Ibu tanya kenapa. Aurel bilang, ‘Soalnya Mama masaknya jam lima pagi sebelum kerja, terus Mama capek, tapi Mama tetap masak.’ Ibu mau bilang ke Mama Aurel: Aurel tahu Mama capek. Aurel tahu Mama tetap masak. Dan Aurel bangga.”
Kelas hening.
Mama Aurel menatapku. Dagunya yang tadi terangkat pelan-pelan turun. Tangannya naik ke mulut, dan matanya, di balik kacamata yang kali ini bukan kacamata hitam, basah.
“Satu lagi, Bapak Ibu,” kataku. “Soal stiker.”
Aku mengangkat buku penghubung Rafi, lalu membuka halaman demi halaman dengan cepat, menunjukkan ke seluruh kelas. Di setiap halaman ada stiker bintang emas.
“Saya kasih stiker bintang buat anak yang habisin bekal, yang berani cerita, yang nolong teman. Saya hitung tadi sore, dari hari pertama sampai sekarang.” Aku menunjuk satu per satu. “Rafi, empat puluh tiga bintang. Aurel, empat puluh tiga. Bima, empat puluh tiga. Nadia, empat puluh tiga. Semua anak, empat puluh tiga, sama rata.”
Aku berhenti. Lalu aku mengambil buku terakhir di meja, sampul plastik merah muda dengan gambar kelinci dan nama WULAN.
Aku membukanya. Di setiap halaman ada stiker bintang. Di beberapa halaman ada lebih dari satu: satu di pojok kiri untuk Wulan, dan satu lagi di pojok kanan, dengan tulisan kecil di bawahnya.
Untuk Papa. Untuk pandanya. Untuk bakat terpendam Papa. Tiga puluh persen serius.
“Wulan,” kataku, “juga empat puluh tiga bintang.”
Aku membalik halaman dengan tanganku yang tiba-tiba gemetar.
“Tapi di buku Wulan ada tambahan sembilan belas bintang. Buat papanya.” Aku menarik napas. “Saya akui. Itu pilih kasih. Tapi bukan pilih kasih ke Wulan. Itu pilih kasih ke papanya.”
Hening sebentar. Lalu dari barisan tengah, Mama Rafi tertawa. Tawanya keras, lepas, dengan logat kental. Lalu ayah Bima ikut tertawa, dan Papa Nadia. Lalu setengah kelas tertawa, termasuk Mama Dafa, yang menutup mulut dan menggeleng-geleng.
Mama Aurel tidak tertawa, tapi dia tersenyum. Senyum kecil, basah, dan malu.
Bu Tari, di sebelahku, menurunkan tangan dari wajahnya dan menatapku dengan mata lebar penuh kagum.
“Satu hal terakhir,” kataku, setelah tawa reda. “Soal surat mutasi saya.”
Kelas hening lagi.
“Saya nulis surat itu hari Sabtu, jam tujuh pagi. Saya serahin ke yayasan hari Senin, jam enam lewat empat puluh. Tanpa bilang ke siapa pun. Nggak ke Bu Hartini, nggak ke keluarga saya, nggak ke Papa Wulan.” Aku menatap Pak Wiryo. “Itu keputusan paling pengecut yang pernah saya buat seumur hidup.”
Pak Wiryo mengangkat alis.
“Saya pikir kalau saya pergi diam-diam, semua masalah selesai. Wulan bisa tetap di sini, Papa Wulan nggak perlu nunduk lagi di depan Bapak Ibu, dan nggak ada lagi surat keberatan.” Suaraku mulai bergetar, dan aku membiarkannya. “Tapi ternyata, di hari yang sama, Papa Wulan juga pergi diam-diam. Dia daftarin Wulan ke TK lain, supaya saya nggak kehilangan kelas saya. Kami berdua pergi diam-diam dari satu sama lain di hari yang sama, tanpa ngomong, tanpa nanya.”
Aku menatap buku penghubung Wulan di tanganku, dengan sembilan belas bintang untuk papanya.
“Kata kepala sekolah saya,” aku melirik Bu Hartini, yang menatapku dengan wajah tenang tapi mata basah, “itu dua kali lipat bodohnya. Beliau benar.”
Beberapa orang tua tertawa kecil lagi. Kali ini tawanya pelan, bukan mengejek.
“Jadi saya mau bilang ke yayasan dan ke Bapak Ibu semua.” Aku meletakkan buku penghubung Wulan di meja, di tengah sembilan belas buku lainnya. “Saya tarik surat mutasi saya. Saya nggak mau pergi diam-diam. Kalau yayasan dan Bapak Ibu mau saya pergi, saya pergi. Saya terima, dan saya akan tetap sayang sama dua puluh anak ini dari mana pun saya ngajar. Tapi saya nggak akan kabur. Saya mau berdiri di sini, di depan Bapak Ibu, dan jujur.”
Aku menarik napas panjang. Lalu mulutku, yang tidak punya rem, mengatakan sesuatu yang tidak ada di rencana.
“Dan kalau boleh, saya mau nyanyi satu lagu.”
“Kinan!” desis Bu Tari.
Pak Wiryo berkedip. “…Lagu?”
“Pendek, Pak. Empat baris. Saya bikin sendiri tadi sore, di kamar mandi.”
Pak Wiryo menatap Bu Hartini. Bu Hartini menatapku dari balik kacamatanya lama sekali.
Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit, satu milimeter. “Silakan, Bu Kinan.”
Aku menyanyi tanpa cengkok dan tanpa goyang, dengan suara pelan yang biasa kupakai untuk menidurkan anak-anak di jam istirahat. Nadanya sederhana, seperti lagu anak TK.
Dua puluh bintang di langit kelas,
ada yang makan krayon, ada yang takut kupu-kupu.
Aku nggak minta jadi yang paling benar,
aku cuma minta tetap di sini… nyanyi buat kamu.
Lagu itu selesai. Tidak ada yang bertepuk tangan, tidak dalam lima detik pertama.
Dalam lima detik itu, aku melihat semuanya. Mama Rafi mengusap mata dengan ujung kerudung. Ayah Bima menunduk. Papa Nadia menatap lurus ke depan dengan rahang tegang. Mama Dafa menggigit bibir. Mama Aurel menutup muka dengan kedua tangan.
Oma Ratmi di barisan kedua dari belakang tersenyum dengan mata basah, tangannya masih di atas tas di kursi kosong di sebelahnya.
Bu Tari menangis tanpa suara di sebelahku.
Bu Hartini melepas kacamatanya.
Lalu pintu kelas terbuka dengan keras. Dan dengan keras maksudku sangat keras, sampai pintunya membentur dinding dan sebuah gambar rumah dengan matahari tersenyum jatuh dari selotipnya.
Semua orang menoleh.
Di ambang pintu, dengan napas terengah-engah seperti baru berlari dari parkiran seberang, berdiri Danny.
Kemejanya biru muda, dan kancing ketiga masuk ke lubang keempat. Rambutnya berantakan dan basah keringat. Di satu tangannya ada map plastik bening berisi selembar kertas. Di tangan yang lain ada sesuatu yang kecil dan kuning, yang butuh dua detik untuk kukenali: toples kecil berisi kue kering nastar.
Dia melihat semua orang. Dua puluh orang tua, meja panjang, Pak Wiryo, Bu Hartini, dan dua puluh buku penghubung yang berjajar di meja.
Lalu dia melihatku.
“Maaf,” katanya, terengah-engah. “Maaf, saya telat.”
Hening.
Aku menatapnya dari meja panjang, dengan jepit panda di rambut, buku penghubung Wulan di depanku, dan lagu yang baru saja selesai kunyanyikan.
“Dua puluh menit,” kataku. Suaraku keluar pelan dan pecah.
Dia menatapku balik dari ambang pintu. Dadanya naik turun, dan matanya merah. Tapi ada sesuatu di sana yang sudah seminggu tidak kulihat. Sesuatu yang tidak dingin dan tidak menghitung.
“Satu ketukan,” katanya.
Di barisan kedua dari belakang, Oma Ratmi mengangkat tas tangannya dari kursi kosong di sebelahnya, pelan, dan meletakkannya di pangkuan.
Tapi Danny tidak berjalan ke kursi itu. Dia berjalan lurus ke depan kelas, ke meja panjang, dengan map plastik bening di satu tangan dan toples nastar di tangan yang lain.
Dan aku, perempuan tanpa rem, untuk pertama kalinya dalam seminggu tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi aku tidak takut lagi.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal reading
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian