Chapter Three
Rapat Keluarga Darurat
POV: Sheila
Satu bintang.
Tidak ada tulisan, tidak ada angka, tidak ada penjelasan. Hanya satu stiker bintang emas yang ditempel sedikit miring di bawah pertanyaanku, dan di halaman sebelumnya ada bekas selotip yang menambal sobekan.
Aku sudah menatapnya kurang lebih empat puluh tujuh kali sejak pagi.
“Kinan, kamu sudah menatap buku itu kurang lebih empat puluh tujuh kali sejak pagi,” kata Bu Tari sambil membagikan krayon.
“Empat puluh delapan.”
“Kamu hitung?”
“Kamu juga hitung!”
Bu Tari menghela napas. “Aku hitung karena khawatir. Kamu hitung karena gila.”
Aku mengangkat buku penghubung itu tinggi-tinggi, seperti pengacara di sinetron yang mengangkat barang bukti. “Tari. Analisis. Satu bintang itu artinya apa?”
“Artinya satu dari sepuluh.”
“Tari!”
“Atau artinya dia nggak tahu mau nulis apa, jadi dia tempel stiker biar sopan.”
“Dia robek halaman, Tari. Dia robek halaman. Orang nggak robek halaman kalau cuma mau sopan. Orang robek halaman kalau dia nulis sesuatu, terus panik, terus menyesal.”
Bu Tari berhenti membagikan krayon. Dia memandang halaman yang ditambal selotip itu, lalu memandangku, dan untuk pertama kalinya hari itu ekspresinya berubah dari pasrah menjadi… penasaran.
“Hm,” katanya.
“Hm, kan? Hm!”
“Tapi bisa juga dia robek karena salah tulis PR.”
“Buku penghubung nggak ada PR-nya!”
Di pojok kelas, Rafi mengangkat tangan. “Bu Kinan, Bu Kinan. Aku boleh makan klayon?”
“Nggak boleh, Rafi!” jawab kami berdua serentak.
Aku bisa saja menyimpan rahasia ini. Aku perempuan dewasa dua puluh delapan tahun dengan pekerjaan tetap dan SIM C yang masih berlaku. Aku bisa jatuh cinta secara diam-diam, anggun, dan bermartabat, seperti tokoh-tokoh di novel sastra yang menatap hujan di jendela.
Masalahnya, aku tinggal serumah dengan Ibu Yati.
Ibu Yati adalah ibuku, dan dia punya radar. Radar ini sudah terbukti bisa mendeteksi aku makan mi instan jam dua pagi dari lantai atas, aku pura-pura sakit untuk bolos arisan RT, dan aku pernah naksir pemain kendang di band kampus hanya karena aku memakai lipstik ke latihan.
Jadi waktu aku pulang sore itu sambil bersenandung dan memarkir Si Pinky dengan terlalu rapi, radar itu langsung berbunyi.
“Kamu kenapa?”
“Nggak kenapa-kenapa, Bu.”
“Kamu parkir motor lurus.”
“Memangnya kenapa kalau lurus?”
“Kamu nggak pernah parkir lurus. Motor kamu selalu miring kayak orang mabuk. Kalau kamu parkir lurus, berarti hati kamu lagi seneng.”
Aku membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi, karena itu memang benar.
Ibu memicingkan mata, meletakkan sapu lidi di dinding, dan berteriak ke dalam rumah dengan suara yang bisa membangunkan orang koma.
“BAPAK! BAGAS! RAPAT KELUARGA! DARURAT!”
Rapat keluarga di rumah kami selalu diadakan di ruang tengah, dengan formasi tetap.
Bapak, Pak Darto, pensiunan PNS Dinas Perhubungan, duduk di kursi rotan kesayangannya. Di depannya ada papan catur yang tidak pernah dirapikan, karena Bapak selalu sedang main catur melawan dirinya sendiri dan tidak pernah selesai.
Bagas, adikku, dua puluh empat tahun, pengangguran terselubung yang mengaku “freelance desain”, berbaring di karpet sambil main HP. Dia hanya mau bangun kalau ada makanan atau gosip.
Ibu berdiri di tengah, dengan tangan di pinggang, seperti jenderal.
Dan aku duduk di sofa, di kursi terdakwa.
“Jadi,” kata Ibu. “Siapa laki-lakinya?”
“Nggak ada laki-laki, Bu.”
“Kinan.”
“Beneran!”
“Kamu parkir motor lurus, kamu senyum-senyum sendiri, dan kamu dari tadi pegang buku itu kayak pegang surat tanah.”
Aku melirik tanganku. Buku penghubung Wulan. Aku lupa mengembalikannya ke tas Wulan tadi siang, atau lebih tepatnya aku sengaja lupa, karena aku ingin menatap bintang itu empat puluh sembilan kali lagi. Besok pagi aku akan mengembalikannya diam-diam sebelum Wulan datang.
Bagas bangun dari karpet. Gosip terdeteksi.
“Wih. Buku apa tuh, Kak?”
“Buku penghubung.”
“Buku penghubung punya murid?”
“Iya.”
“Terus kenapa dibawa pulang?”
Hening. Bapak, yang dari tadi seolah fokus ke catur, menggeser kuda putih tanpa menoleh.
“Skak,” katanya pada dirinya sendiri, lalu dengan nada yang sama, “Anak murid kamu punya kakak?”
“Nggak, Pak.”
“Punya om?”
“Nggak, Pak.”
Bapak mengangkat kepala, menatapku dari balik kacamata tebalnya, dan berkata dengan ketenangan seorang pensiunan yang sudah melihat semuanya:
“Punya bapak?”
Aku tidak menjawab. Tapi mukaku menjawab duluan. Mukaku terasa panas sampai ke ubun-ubun.
Ibu menjerit, Bagas bersiul panjang, dan Bapak kembali ke papan caturnya sambil bergumam, “Skakmat.”
Aku menyerah, lalu menceritakan semuanya.
Papa yang datang terlambat dengan kemeja salah kancing. Kepangan yang dipegang dengan hati-hati seolah bisa pecah. Pertanyaan bodohku. Wulan dan surga yang tidak ada PR-nya. Suara printer rusak. Jari yang bersentuhan waktu mengambil pensil. Jawaban soal bulan yang ditulis rapi satu paragraf penuh. Dan satu bintang.
Waktu aku selesai bercerita, ruang tengah hening.
Ibu duduk di lantai. Pelan-pelan, seperti orang yang lututnya lemas.
“Duda,” bisiknya.
“Iya, Bu.”
“Istrinya meninggal.”
“Iya, Bu. Tiga tahun lalu.”
“Anaknya perempuan, lima tahun, cadel, dan kamu kepangin rambutnya.”
“…Iya.”
Ibu menutup mulut dengan dua tangan. Matanya berkaca-kaca. Aku mulai khawatir.
“Bu? Ibu nggak apa-apa?”
“Ibu…” suaranya bergetar, “Ibu nggak nyangka kamu bisa sedewasa ini!”
“…Hah?”
Ibu merangkak ke arahku dan memeluk lututku. “Selama ini Ibu kira kamu bakal nikah sama anak band. Atau sama tukang kendang. Atau nggak nikah sama sekali, terus kamu tua sendirian sama motor pink itu, ngobrol sama motor, terus tetangga bilang, ‘Itu Kinan, yang dulu cantik, sekarang tinggal sama motor.’”
“Bu!”
“Ternyata anak Ibu jatuh cinta sama bapak-bapak yang bertanggung jawab.” Ibu mengusap air mata dengan ujung daster. “Ya Allah. Doa Ibu dikabulkan.”
“Bu, dia bahkan belum tentu suka sama aku.”
“Dia robek halaman,” kata Bagas. “Kakak sendiri yang bilang.”
“Itu belum tentu—”
“Laki-laki nggak robek halaman kalau cuma mau sopan, Kak,” potong Bagas, dengan nada ahli yang sama sekali tidak pantas untuk orang yang terakhir punya pacar waktu SMA. “Laki-laki robek halaman kalau dia nulis sesuatu, terus panik, terus nyesel.”
Aku menatapnya. “Itu kalimatku tadi siang.”
“Oh, ya? Berarti Kakak pintar.”
Ibu sudah berdiri. Dia mengambil buku tulis dari laci lemari, buku tulis bersampul batik yang biasanya dipakai untuk mencatat utang tetangga, lalu membalik ke halaman kosong.
“Oke. Kita mulai dari katering.”
“Bu!”
“Kenapa? Ibu cuma nulis. Nulis nggak dosa.” Ibu mulai mencoret-coret. “Catering Bu Haji Sumi enak, tapi mahal. Catering Pak Oding murah, tapi rendangnya keras kayak sandal. Nanti Ibu survei.”
“Bu, kami baru ketemu empat hari.”
“Justru itu. Kalau nunggu kalian pacaran dulu, katering yang bagus keburu dibooking orang.” Ibu menoleh ke Bapak. “Pak, kira-kira tamu dari pihak kita berapa?”
Bapak menggeser benteng hitam. “Dia bisa main catur?”
“Pak, dia belum tentu…”
“Laki-laki yang bisa main catur itu sabar,” kata Bapak. “Laki-laki yang sabar itu cocok buat anak yang nggak punya rem.”
Aku terdiam. Kalimat itu setengah hinaan, setengah restu, dan sepenuhnya benar.
Rapat berlanjut sampai azan magrib. Hasilnya adalah tiga keputusan.
Pertama, Ibu akan memulai “survei katering awal”, yang katanya tidak ada hubungannya dengan apa pun dan hanya untuk referensi masa depan.
Kedua, Bapak meminta diberi tahu segera kalau Pak Danny bisa main catur. Kalau tidak bisa, Bapak bersedia mengajari. Aku tidak tahu apakah itu tawaran atau ancaman.
Ketiga, dan ini yang paling berbahaya, Bagas resmi diangkat menjadi intel keluarga.
“Tugas kamu,” kata Ibu, menunjuk Bagas dengan pulpen, “cari tahu soal laki-laki ini. Kerjanya apa, sukanya apa, Instagram-nya apa.”
“Bayarannya?”
“Kamu tinggal di rumah ini gratis.”
“Itu bukan bayaran, Bu, itu hak asasi.”
“Seblak,” kataku cepat. “Seblak level lima, pakai ceker, tiap laporan.”
Bagas berpikir sebentar. “Level lima, ceker, plus kerupuk.”
“Deal.”
Kami berjabat tangan di atas karpet, disaksikan Ibu yang mengangguk puas dan Bapak yang tidak peduli.
Lima belas menit kemudian, Bagas mengangkat HP-nya dengan wajah pemenang.
“Ketemu. Danny Hermansyah, kan? Instagram-nya private, tapi fotonya kelihatan. Foto profilnya…” Bagas memperbesar layar dan menunjukkannya pada kami.
Foto itu diambil dari belakang. Seorang laki-laki berjongkok di pantai, dan seorang anak perempuan kecil memanjat punggungnya seperti monyet. Anak itu tertawa sampai matanya hilang. Laki-laki itu tidak kelihatan wajahnya, tapi dari cara bahunya bergetar, kami semua tahu dia juga sedang tertawa.
Ibu diam, dan Bagas juga diam. Bahkan Bapak mengangkat kepala dari papan caturnya dan melihat foto itu cukup lama.
“Hm,” kata Bapak akhirnya.
Hanya itu. Tapi aku sudah dua puluh delapan tahun jadi anak Bapak, dan aku tahu hm yang itu. Itu hm yang sama yang dia ucapkan waktu aku pertama kali pulang membawa rapor juara kelas. Artinya: lumayan.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Aku berbaring di kasur, menatap langit-langit, lalu memeluk guling, lalu menendang guling, lalu memeluk guling lagi. Di meja belajar, buku penghubung Wulan terbuka di halaman bintang.
Jam sebelas malam aku bangun, mengambil pulpen, dan menulis di bawah bintang itu, pelan-pelan, dengan huruf paling rapi yang bisa kubuat:
Terima kasih bintangnya, Pak. Ibu jadi penasaran. Satu bintang itu maksudnya satu dari sepuluh, atau satu-satunya?
Aku menatap tulisanku sendiri, lalu menutup muka dengan bantal dan menjerit. Kali ini benar-benar menjerit, bukan tanpa suara, sampai Ibu mengetuk dinding dari kamar sebelah.
“Kinan! Kalau kamu mau nyanyi, nyanyi lagu religi aja!”
Besok siangnya, pukul sebelas tepat, Pak Danny datang tepat waktu. Rambutnya rapi, kemejanya abu-abu dengan kancing yang terpasang dengan benar. Aku memeriksanya diam-diam, karena ternyata aku orang yang seperti itu sekarang: orang yang memeriksa kancing kemeja duda.
Wulan menyerahkan buku penghubung kepadanya seperti biasa, lalu berlari ke perosotan untuk “satu kali telakhil”, yang dalam bahasa anak TK artinya tujuh kali lagi.
Pak Danny tidak membuka buku itu. Dia memasukkannya ke tas Wulan, lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kusangka.
Dia mengeluarkan kantong plastik kecil dari saku celananya dan menyodorkannya padaku.
“Ini… dari Wulan.”
Aku membuka kantong itu. Isinya satu set jepit rambut, dua belas buah, warna-warni. Ada bentuk bintang, bunga, stroberi, kupu-kupu, dan satu berbentuk panda yang sedikit penyok.
“Wulan bilang,” lanjut Pak Danny, suaranya pelan dan ada sesuatu yang canggung di sana, “Bu Nanan kasihan, rambutnya ditusuk pensil terus. Nanti pensilnya sakit.”
Aku mendongak. “Pensilnya sakit?”
“Menurut Wulan, pensil juga punya perasaan.” Dia berhenti, lalu tersenyum kecil. “Dia milih sendiri tadi malam di toko. Lama banget, dua puluh menit. Semua jepit dia pegang satu-satu sambil bilang, ‘Ini cocok buat Bu Nanan, ini nggak.’”
Aku memandang jepit-jepit itu. Tenggorokanku tiba-tiba terasa aneh.
“Terus,” tanyaku, “yang bayar?”
Pak Danny terdiam sebentar, lalu mengusap tengkuknya. Dan aku melihatnya lagi: telinganya memerah pelan-pelan dari ujung atas, seperti termometer.
“…Saya,” katanya. “Yang milih Wulan. Yang bayar saya. Yang… yang nambahin satu yang panda itu juga saya. Soalnya kemarin Ibu nanya soal panda begadang.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku, mantan vokalis Kendang Distorsi, perempuan yang kemarin bertanya pada wali murid apakah dia sudah beristri, perempuan yang tidak punya rem, tidak bisa bicara.
Aku hanya mengambil jepit panda yang penyok itu, mencabut pensil ungu dari cepolanku, lalu memasang jepit itu di rambutku dengan jari yang sedikit gemetar.
“Gimana?” tanyaku. “Cocok?”
Pak Danny menatapku, dan untuk sesaat dia tidak tersenyum. Dia hanya menatap, lama, seperti orang yang lupa sedang ada di mana.
Lalu dia berdeham, memalingkan wajah ke arah perosotan, dan berkata, “Cocok. Sangat… cocok.”
“Sangat cocok itu berapa bintang, Pak?”
Dia menoleh kembali padaku. Sudut bibirnya naik pelan, usil dan hangat sekaligus.
“Lihat buku penghubung besok, Bu.”
Dia memanggil Wulan, menggendongnya, dan berjalan ke mobil. Aku berdiri di bawah pohon ketapang dengan jepit panda di rambut, sebelas jepit lain di tangan, dan jantung yang berdetak seperti kendang di acara sunatan.
Bu Tari muncul di sebelahku, entah dari mana. Guru TK memang punya kemampuan muncul entah dari mana.
“Kinan.”
“Hm.”
“Kamu sadar kan, sekarang kamu pakai jepit panda penyok di kepala, dan kamu kelihatan kayak orang yang baru dilamar?”
Aku menyentuh jepit itu. “Tari.”
“Apa?”
“Dia nambahin yang panda. Sendiri. Soalnya aku nanya soal panda begadang.”
Bu Tari terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya sejak tahun ajaran dimulai, sahabatku yang paling sabar itu menepuk bahuku dan berkata dengan suara penuh simpati:
“Ya udah. Kita semua dalam bahaya.”
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat reading
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian