← Berkembang Sangat Baik

Chapter Thirteen

Kondangan

POV: Sheila


Undangan itu datang lewat WhatsApp, dalam bentuk video animasi dengan lagu instrumental dan bunga-bunga yang berjatuhan.

Danny: Kinan. Sabtu depan sepupuku nikah. Dimas, anak adiknya Mama. Resepsinya di gedung serbaguna kecamatan. Mama sama Papa datang dari Surabaya. Oma Ratmi juga, baru pulang umrah.

Danny: Kamu mau ikut?

Aku menatap pesan itu lama, lalu mengetik dengan hati-hati.

Aku: Sebagai apa?

Tanda sedang mengetik… muncul, hilang, muncul lagi. Aku sudah hafal pola ini. Itu pola Danny yang sedang menulis, menghapus, dan menulis lagi.

Danny: Sebagai yang nemenin aku.

Danny: Pasal tiga udah hangus, Kinan. Semua orang udah tahu. Mamaku udah nangis tiga kali di telepon. Sekalian aja kenalan langsung.

Aku berguling di kasur, memeluk guling, lalu berteriak ke bantal.

Dari kamar sebelah, radar Ibu berbunyi dengan presisi militer: “Kinan! Siapa yang ngajak kamu ke mana?”


Masalahnya, dunia ini sempit, dan kecamatan kami lebih sempit lagi.

Hari Kamis, dua hari sebelum kondangan, Ibu pulang dari pasar dengan wajah bersinar seperti baru menang arisan.

“Kinan! Bu Haji Sumi minta tolong!”

“Minta tolong apa, Bu?”

“Sabtu ini Bu Haji Sumi pegang katering nikahan besar di gedung serbaguna kecamatan. Lima ratus porsi. Karyawannya dua orang sakit tipes. Jadi Ibu diminta bantu jaga prasmanan.” Ibu mengibaskan kipas bambunya dengan bangga. “Sekalian Ibu survei rasa. Buat referensi. Katering yang udah Ibu DP, kan harus dicoba dulu.”

Aku berhenti mengunyah pisang goreng.

“Bu. Nikahan siapa?”

“Nggak tahu. Pengantinnya namanya Dimas sama siapa gitu.”

Pisang goreng itu jatuh dari tanganku ke piring.

“Bu,” kataku pelan. “Itu sepupunya Danny.”

Ibu berhenti mengipas. Matanya melebar sampai kacamatanya hampir jatuh.

“Keluarganya dia datang?”

“Mamanya, papanya, sama Oma Ratmi.”

Ibu diam, lalu berdiri tegak seperti prajurit yang baru dipanggil bertugas.

“BAPAK! BAGAS! SABTU KITA SEMUA KE KONDANGAN!”

“Bu, kita nggak diundang!”

“Ibu kerja di sana. Bapak jemput Ibu. Bagas bantu angkat-angkat. Itu pekerjaan, bukan kondangan.”


Sabtu malam, gedung serbaguna kecamatan dihias dengan kain putih dan emas, bunga mawar plastik, dan lampu gantung kristal yang pasti pinjaman dari hotel. Di panggung ada organ tunggal lengkap dengan penyanyi dangdut bergaun payet. Tamu-tamu berbaris panjang mengantre salaman, dan aroma rendang serta sop kambing memenuhi udara.

Aku datang dengan kebaya brokat hijau muda, warna yang sekarang, entah kenapa, jadi warna favoritku, dengan rambut disanggul rapi dan jepit panda tersembunyi di balik sanggul. Aku memakai jepit itu untuk keberuntungan.

Danny menjemputku di parkiran. Dia memakai batik cokelat lengan panjang, dan untuk pertama kalinya aku melihat dia memakai peci. Dia menatapku waktu aku turun dari ojol, dan melakukan hal yang sama seperti di bioskop: diam, lupa berkedip, lalu berdeham.

“Kamu…”

“Cantik banget hari ini. Eh, tiap hari sih,” aku menirukan kalimatnya.

Telinganya merah. “Aku nggak seklise itu.”

“Kamu persis seklise itu. Aku suka.”

Dia tertawa, lalu mengulurkan lengannya. Aku menggandengnya. Kami berjalan masuk gedung seperti pasangan sungguhan, dan jantungku berdetak seperti kendang di acara sunatan.

Tepat di pintu masuk, kami berpapasan dengan Bagas. Dia memakai kemeja hitam dan celemek bertuliskan Katering Bu Haji Sumi, sambil membawa dua baki besar berisi puding. Wajahnya berubah dari lelah menjadi sangat bahagia dalam sedetik.

“Kak Kinan. Kak Danny. Selamat datang di kondangan yang bukan kondangan.”

“Bagas, kamu ngapain di…”

“Kerja, Kak.” Bagas mengangkat baki puding dengan bangga. “Dinda juga di sini. Dia disuruh Tante Rini bikin konten nikahan.”

Dia mengedip dan menghilang ke arah dapur. Aku menoleh ke Danny, dan Danny sudah menutup muka dengan satu tangan.


Mama Danny adalah perempuan paling berisik yang pernah kutemui. Aku mengatakannya dengan rasa hormat tertinggi, karena aku sendiri anak Ibu Yati.

Dia melihatku dari seberang ruangan, dari meja keluarga di dekat panggung, lalu berdiri. Aku melihatnya berdiri, dan aku melihat Papa Danny yang duduk di sebelahnya mencoba menarik lengan bajunya, dan gagal.

Mama Rini berjalan cepat menembus kerumunan tamu dengan kebaya ungu berpayet, sanggul besar, dan tas tangan emas. Dia berhenti di depanku, menatapku dari atas sampai bawah, lalu, tanpa peringatan, dia memelukku.

Erat, terlalu erat, dan dengan suara isakan.

“Ya Allah,” isaknya di bahuku. “Ya Allah, ini dia. Ini yang bikin Danny nggak mundur. Ini yang kasih Danny kopi. Ini yang kerupuknya dua puluh sembilan detik.”

“H-halo, Tante…”

“Panggil Mama!”

“Ma, dia baru kenalan…” kata Danny di belakangku, dengan suara orang yang sudah menyerah.

“Diam, Danny. Mama lagi terharu.” Mama Rini melepaskan pelukannya, memegang kedua pipiku dengan tangan penuh cincin, dan menatapku dengan mata basah. “Cantik banget. Danny bilang cantik, tapi Mama kira Danny lebay. Ternyata aslinya lebih cantik.”

“Makasih, Tan… Ma…”

“Mama.”

“…Mama.”

Mama Rini memekik bahagia dan memelukku lagi. Dari balik bahunya, aku melihat Papa Danny, Pak Harun Hermansyah, bapak-bapak kurus berkacamata dengan wajah datar seperti papan tulis. Dia berjalan pelan menyusul istrinya, lalu mengangguk padaku dengan sangat sopan.

“Selamat malam,” katanya.

“Selamat malam, Om.”

Dia menatapku sebentar, lalu menatap Danny, lalu kembali menatapku.

“Hm,” katanya.

Aku membeku, karena aku kenal hm itu. Itu hm yang sama persis dengan hm Bapak waktu melihat foto profil Danny di Instagram. Artinya: lumayan.


Bencana dimulai di meja prasmanan, tentu saja.

Mama Rini menggandengku ke meja prasmanan untuk “ambil makan bareng biar akrab”. Danny mengikuti di belakang dengan wajah orang yang sedang berjalan ke tiang gantungan. Kami sampai di depan baki rendang, dan di balik baki itu, dengan celemek Katering Bu Haji Sumi, sarung tangan plastik, dan sendok sayur di tangan, berdiri Ibu.

Ibu menatapku, lalu Danny, lalu Mama Rini yang masih menggandeng lenganku dengan erat.

Mama Rini menatap Ibu. Dia melihat celemek, sendok sayur, lalu wajah Ibu yang tiba-tiba sangat, sangat mirip dengan wajahku.

Hening. Penyanyi dangdut di panggung sedang menyanyikan lagu tentang cinta yang ditolak.

“Ibu,” bisikku. “Ini Mama Rini. Mamanya Danny.”

“Ma,” bisik Danny. “Ini Bu Yati. Ibunya Kinan.”

Ibu dan Mama Rini saling tatap di atas baki rendang. Rasanya seperti menonton dua jenderal bertemu di medan perang.

Lalu Mama Rini menjerit. Ibu juga menjerit. Keduanya menjerit bersamaan, dengan nada yang identik, lalu mereka berpelukan di atas baki rendang. Sendok sayur Ibu hampir jatuh ke dalam kuah.

“Bu Yati! Ya Allah, Bu Yati!”

“Bu Rini! Ya Allah, Bu Rini!”

“Anak Ibu cantik banget!”

“Anak Ibu sabar banget!”

Beberapa tamu menoleh. Seorang bapak yang sedang mengantre sop kambing mundur dua langkah dengan wajah khawatir.

Danny dan aku berdiri di belakang mereka, saling pandang dengan wajah yang sama: campuran antara malu, ngeri, dan terharu yang tidak mau kami akui.


Pelukan itu berlangsung kira-kira tiga puluh detik. Detik ketiga puluh satu, perang dimulai.

“Bu Rini,” kata Ibu, melepaskan pelukan dan membetulkan celemeknya. “Saya mau bilang terima kasih. Anak Ibu beliin Kinan helm. Helm SNI. Selama ini Kinan pakai helm talinya karet gelang, Ibu udah bilang ribuan kali, nggak didengar.”

“Oh, itu Danny sendiri yang milih, Bu Yati. Baca ulasan sampai malam.” Mama Rini tersenyum lebar. “Tapi yang ngajarin Danny perhatian gitu, ya… saya.”

Ibu tersenyum balik. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Oh, gitu. Tapi yang bikin anak Ibu nggak mundur lagi kan Kinan, Bu. Kinan yang bawa kopi tiap hari. Dua ratus gelas rencananya. Dan yang ngajarin Kinan pantang menyerah, ya… saya.”

“Tapi Danny yang bayarin kopinya seminggu, Bu Yati.”

“Tapi Kinan yang nyanyiin lagunya empat puluh tujuh.”

“Tapi Danny yang dengerin.”

“Tapi Kinan yang datang jam sebelas malam pas Wulan demam!”

“Tapi Danny yang telepon!”

“Ibu-ibu,” kata Danny pelan. “Antreannya panjang.”

Kedua ibu itu mengabaikannya sepenuhnya.

“Bu Yati,” kata Mama Rini, mengeluarkan HP dari tas emasnya. “Saya punya bukti. Ini video lomba kerupuk. Lihat, Danny pegang spanduk. Siapa yang ngajarin Danny bikin spanduk? Saya. Waktu SD, Danny bikin spanduk buat lomba tujuh belasan…”

“Bu Rini,” Ibu juga mengeluarkan HP dari saku celemeknya, dengan sarung tangan plastik yang masih terpasang. “Saya juga punya bukti. Ini foto Kinan umur lima tahun, nyanyi di acara sunatan tetangga. Siapa yang ngajarin Kinan nyanyi? Saya. Siapa yang bikin Kinan jadi guru TK yang bisa bikin Wulan sayang? Saya.”

Dua HP diangkat tinggi-tinggi di atas baki rendang, seperti dua pedang.

Lalu suara ketiga masuk dari samping, lembut tapi tegas, seperti guru SD yang menghentikan perkelahian di jam istirahat.

“Rini. Yati.”

Oma Ratmi berdiri di sana dengan gamis krem, kerudung putih, dan kacamata bulat. Wajahnya segar dan bercahaya seperti orang yang baru pulang umrah. Di gendongannya ada Wulan, yang memakai gaun pink dan kepang dua dengan jepit bintang.

“Kalian berdua ribut di depan rendang orang,” kata Oma Ratmi tenang. “Malu sama pengantin.”

Ibu dan Mama Rini menurunkan HP mereka pelan-pelan, seperti anak SD yang ketahuan guru.

“Lagian,” lanjut Oma Ratmi, menurunkan Wulan ke lantai, “yang paling berjasa itu jelas bukan kalian berdua.”

“Terus siapa, Bu Ratmi?” tanya Mama Rini.

Oma Ratmi tersenyum dan menunjuk ke bawah, ke Wulan, yang sedang mengambil kerupuk udang dari baki dengan dua tangan.

“Yang paling berjasa,” kata Oma Ratmi, “itu yang manggil-manggil Bu Nanan waktu demam.”

Ibu dan Mama Rini menunduk menatap Wulan. Wulan mendongak menatap mereka dengan mulut penuh kerupuk.

“Aku agen lahasia,” katanya bangga, dengan remah kerupuk berterbangan.

Kedua ibu itu saling pandang. Lalu mereka tertawa bersamaan, dan perang berakhir sama cepatnya dengan dimulainya. Dalam tiga menit, Ibu dan Mama Rini sudah duduk berdua di pojok ruangan, berbagi sepiring puding dan saling menunjukkan foto-foto di HP dengan kecepatan tinggi.

Di sisi lain ruangan, Bapak dan Pak Harun duduk bersebelahan di dua kursi plastik. Mereka tidak bicara sama sekali. Mereka hanya duduk dengan tangan terlipat, sama-sama menatap panggung dengan wajah datar, seperti dua patung yang kebetulan diletakkan bersebelahan.

Lalu Bapak mengeluarkan papan catur magnetik dari saku batiknya. Dia tidak pernah pergi ke mana pun tanpa benda itu.

Pak Harun melirik papan catur itu. Lalu, pelan, dia mengeluarkan papan catur magnetik dari saku batiknya sendiri.

Kedua bapak itu saling tatap. Lalu mereka berdua bergumam bersamaan:

“Hm.”

Danny menutup muka dengan kedua tangan. Aku tertawa sampai harus berpegangan di lengannya.


Pukul sembilan malam, penyanyi dangdut organ tunggal turun panggung karena suaranya habis. Pemain organ mengumumkan lewat mikrofon: “Ada yang mau nyumbang lagu? Silakan! Keluarga, tamu, siapa saja!”

Aku tidak mengangkat tangan. Aku bersumpah aku tidak mengangkat tangan.

Tapi tiga orang mengangkat tangan untukku. Ibu, dari pojok ruangan. Mama Rini, di sebelah Ibu. Dan Oma Ratmi, dengan senyum tenang, mengangkat tangan Wulan tinggi-tinggi.

“KINAN!” teriak Ibu. “ANAK SAYA MANTAN VOKALIS BAND!”

“CALON MENANTU SAYA!” teriak Mama Rini, lebih keras.

Seluruh gedung menoleh padaku. Aku menatap Danny dengan wajah panik.

Danny menatapku balik, lalu tersenyum pelan. Senyumnya usil, hangat, dan menantang.

“Kamu kan nggak punya rem,” katanya.

Aku menatapnya, lalu aku menatap panggung.

Dia benar. Aku memang tidak punya rem.

Aku naik ke panggung dengan kebaya brokat hijau muda dan sanggul rapi, lalu mengambil mikrofon dari pemain organ. Aku membisikkan judul lagu dangdut klasik tentang jatuh cinta, lagu yang dulu jadi andalan Kendang Distorsi di acara nikahan. Pemain organ mengangguk dan tersenyum lebar, dan intro kendang mulai berbunyi.

Aku menyanyi.

Aku menyanyi dengan seluruh jiwa Kendang Distorsi yang tidak pernah pensiun, lengkap dengan cengkok, goyang, dan semuanya. Suaraku memenuhi gedung serbaguna kecamatan, memantul di lampu kristal pinjaman hotel.

Tamu-tamu mulai bertepuk tangan mengikuti irama, lalu ibu-ibu mulai berjoget dari kursi mereka. Pengantin di pelaminan tertawa dan ikut bergoyang. Bagas dan Dinda muncul dari dapur dengan celemek dan ring light, merekam dari dua sudut berbeda. Ibu dan Mama Rini berdiri dan berjoget berdua di pojok ruangan, bergandengan tangan. Oma Ratmi mengayun-ayun Wulan di pangkuannya, dan Wulan menjerit, “BU NANAN! BU NANAN!”

Di kursi plastik, Bapak dan Pak Harun, dengan wajah tetap datar, sama-sama mengetuk-ngetukkan kaki mengikuti kendang.

Dan Danny berdiri di tengah ruangan, di antara tamu-tamu yang berjoget, tidak bergerak sama sekali.

Dia hanya menatapku.

Dia tidak tertawa, tidak bertepuk tangan, dan tidak merekam. Dia hanya berdiri dengan batik cokelat dan peci yang sedikit miring, menatapku seolah seluruh gedung, lampu kristal, dan lima ratus tamu itu tidak ada. Seolah yang ada hanya aku, di panggung organ tunggal, menyanyikan lagu dangdut tentang jatuh cinta.

Aku menyanyikan bait terakhir sambil menatapnya balik.

Lagu selesai. Gedung meledak dengan tepuk tangan. Pemain organ berteriak, “LUAR BIASA! SIAPA NAMANYA, MBAK?”

Aku menjawab ke mikrofon dengan napas terengah, “Kinan, Pak. Guru TK.”

“Guru TK? Wah, beruntung sekali murid-muridnya!”

“Papa muridnya juga!” teriak Mama Rini dari pojok ruangan.

Seisi gedung tertawa. Aku menutup muka dengan tangan yang tidak memegang mikrofon.


Aku menemukannya di teras belakang gedung setengah jam kemudian, jauh dari keramaian, di dekat pintu dapur katering yang bau sop kambing. Dia duduk di anak tangga dengan peci di tangan.

Aku duduk di sebelahnya.

“Kamu nggak joget,” kataku.

“Aku nggak bisa joget.”

“Kamu cuma berdiri.”

“Hm.”

“Semua orang joget, Danny. Bapakmu sama bapakku aja ketuk-ketuk kaki.”

“Aku lihat.”

“Terus kenapa kamu cuma berdiri?”

Dia memutar-mutar peci di tangannya. Lalu dia menoleh padaku.

“Karena kalau aku gerak, aku takut ketinggalan,” katanya pelan. “Aku nggak mau ketinggalan satu detik pun.”

Aku tidak bisa menjawab.

Dari dalam gedung, organ tunggal mulai memainkan lagu pelan. Bukan dangdut, tapi sebuah lagu instrumental romantis yang lembut, seperti musik di akhir film.

Danny berdiri, meletakkan peci di anak tangga, dan mengulurkan tangannya padaku.

“Aku nggak bisa joget,” katanya. “Tapi yang pelan-pelan… mungkin bisa.”

Aku menatap tangannya, lalu wajahnya. Telinganya merah sampai ke leher.

Aku menerima tangannya dan berdiri. Dia menaruh satu tangannya di pinggangku, pelan dan ragu-ragu, seperti takut aku akan pecah. Aku menaruh tanganku di bahunya. Kami bergerak pelan, di teras belakang gedung serbaguna kecamatan yang bau sop kambing, dengan lampu neon yang berkedip-kedip dan suara piring dicuci dari dapur katering.

Dia menginjak kakiku dua kali.

“Maaf.”

“Nggak apa-apa.”

Dia menginjak kakiku lagi.

“Maaf. Telat satu ketukan.”

“Kamu kan selalu telat,” bisikku. “Aku udah biasa.”

Dia tertawa pelan, dan tawanya bergetar di dekat telingaku. Lalu, pelan-pelan, kami berhenti bergerak sama sekali. Kami hanya berdiri di situ, berayun sedikit, dengan dahiku bersandar di dadanya dan dagunya di puncak kepalaku, tepat di atas sanggul, di dekat jepit panda yang tersembunyi.

“Kinan.”

“Hm?”

“Suaramu tadi…”

“Kenapa?”

Dia diam sebentar.

“Kenapa kamu berhenti nyanyi? Maksudku, bandnya. Kamu bisa jadi penyanyi beneran.”

Aku tidak langsung menjawab. Tidak banyak orang yang menanyakan itu. Kebanyakan orang hanya bilang sayang banget, lalu pindah topik.

“Waktu kuliah,” kataku pelan, “band kami diundang nyanyi di acara ulang tahun panti asuhan. Anak-anaknya masih kecil-kecil, TK sama SD. Waktu kami main, mereka joget, ketawa, teriak-teriak. Terus setelah selesai, ada satu anak perempuan, umurnya kayak Wulan, narik rokku dan bilang, ‘Kakak, besok datang lagi, ya?’”

Aku merasakan tangannya di pinggangku sedikit mengerat.

“Besoknya aku datang lagi, dan lusanya juga. Akhirnya tiap minggu aku datang ke panti itu buat nyanyi sama mereka. Terus aku sadar, yang aku suka bukan panggungnya. Yang aku suka itu wajah anak-anak waktu mereka nyanyi bareng aku.” Aku tersenyum ke kemeja batiknya. “Jadi aku pindah jurusan ke PGTK. Ibu marah tiga bulan. Katanya, ‘Masa vokalis jadi guru TK?’”

“Kamu nggak nyesel?”

“Nggak pernah.” Aku mendongak dan menatapnya. “Aku masih nyanyi tiap hari, kok. Buat dua puluh anak.”

Dia menatapku lama. Lampu neon di atas kami berkedip, dan dari dalam gedung organ tunggal memainkan nada terakhir.

“Dua puluh anak,” ulangnya pelan, “dan satu papa.”

Aku tertawa pelan. “Dan satu papa.”

Dia tersenyum, lalu mengangkat tangannya dari pinggangku dan menyelipkan anak rambut yang lepas dari sanggulku ke belakang telinga. Pelan, hati-hati, seperti waktu dia menyentuh kepangan Wulan di hari pertama.

“Kalau gitu,” bisiknya, “papanya minta satu lagu. Buat dia sendiri. Nanti.”

“Kapan?”

“Kapan-kapan. Kalau kamu udah siap.”

Aku menempelkan dahiku kembali ke dadanya dan memejamkan mata. Aku bisa mendengar jantungnya berdetak cepat, sama cepat dengan jantungku.

“Aku selalu siap,” bisikku. “Aku kan nggak punya rem.”

Dari balik pintu dapur katering yang setengah terbuka, terdengar suara yang sangat pelan dan sangat familier:

“Bagas, zoom lagi. Zoom!”

“Aku udah zoom maksimal, Din!”

“Ring light-nya kurang!”

Danny menghela napas panjang di atas kepalaku, tapi dia tidak melepaskan pelukannya.

“Biarin,” bisiknya.

“Biarin?”

“Biarin mereka rekam.” Dagunya bergerak pelan di atas sanggulku, dan aku bisa merasakan dia tersenyum. “Aku mau nonton ulang nanti.”