Chapter Twenty Three
Rapat Komite
POV: Danny
Rapat komite diadakan di kelas TK B, Kamis pukul tujuh malam.
Aku belum pernah melihat kelas itu di malam hari. Lampu neonnya terlalu terang, dan kursi-kursi kecil sudah ditumpuk di pojok. Sebagai gantinya ada kursi plastik ukuran dewasa yang dipinjam dari masjid kompleks, berjajar dalam tiga baris menghadap meja panjang di depan. Gambar-gambar anak-anak masih menempel di dinding: rumah, keluarga, matahari yang tersenyum. Bintang-bintang kertas masih menempel di langit-langit.
Di meja panjang di depan duduk tiga orang: Bu Hartini, seorang bapak berkemeja batik dari yayasan bernama Pak Wiryo, dan ketua komite sekolah, seorang ibu gemuk berkerudung hijau yang terus-menerus mengipasi dirinya dengan map plastik.
Kinan duduk di kursi paling ujung meja panjang, di samping Bu Tari. Dia memakai seragam batik guru dan rambut dicepol rapi tanpa jepit. Dia tidak memakai jepit panda, atau jepit apa pun.
Aku duduk di barisan kedua dari belakang. Bu Hartini yang menyarankan, katanya supaya tidak terlihat seperti “pihak yang bersekutu”. Di sebelahku duduk Oma Ratmi, yang datang dengan alasan resmi wali Wulan, dengan gamis krem, kacamata bulat, dan tas tangan berisi kue lapis yang dibagikan diam-diam ke orang-orang di barisan kami.
Di luar kelas, di teras, di bangku panjang dekat pintu, duduk Pak Darto dengan papan catur magnetik. Dia tidak masuk. Dia bilang dia “cuma nunggu”. Di layar HP yang disandarkan di kotak bidak catur, Papa menemaninya dari Surabaya. Mereka main catur tanpa bicara, hanya hm sesekali, seperti dua penjaga pintu.
Bang Jali datang membawa termos kopi besar dan berdiri di pojok belakang. Dia tidak diundang, dan tidak ada yang bertanya kenapa dia di sana.
Dua puluh satu orang tua datang, dan satu kursi kosong.
Kursi Mama Keysha.
“Assalamualaikum, Bapak Ibu,” kata Bu Hartini. Suaranya tidak keras, tapi seluruh kelas langsung diam. “Terima kasih sudah hadir. Rapat ini diadakan atas permintaan yayasan, menanggapi surat keberatan dari beberapa orang tua murid. Saya harap kita bisa membahas ini dengan kepala dingin, demi anak-anak.”
Pak Wiryo dari yayasan membacakan tiga surat keberatan itu dengan suara datar seperti membaca notulen. Dia menyebut nama pengirimnya satu per satu. Waktu nama Mama Aurel disebut, Mama Aurel duduk lebih tegak di barisan depan dengan dagu terangkat.
Lalu Bu Hartini membacakan empat poin usulannya: penilaian Wulan dipegang Bu Tari, serah terima di gerbang dipegang Bu Tari, tidak ada kontak pribadi di lingkungan sekolah, dan permohonan maaf terbuka dari Bu Kinan.
“Sebelum kita diskusi,” kata Bu Hartini, “Bu Kinan ingin menyampaikan sesuatu.”
Kinan berdiri.
Aku melihat tangannya. Tangan itu memegang secarik kertas yang dilipat kecil dan gemetar sedikit. Dia menatap kertas itu, lalu melipatnya lagi dan memasukkannya ke saku seragam tanpa membacanya.
Dia menatap dua puluh satu orang tua di depannya, dan kursi kosong di barisan tengah.
“Bapak, Ibu,” katanya. Suaranya pelan tapi jelas, jauh dari suara vokalis Kendang Distorsi atau instruktur senam Jumat Sehat. “Saya minta maaf.”
Kelas hening.
“Saya minta maaf karena tidak jujur ke sekolah sejak awal. Saya seharusnya cerita ke Bu Hartini dari hari pertama saya sadar saya jatuh cinta sama Papa Wulan. Yaitu hari pertama.” Dia berhenti sebentar. Di barisan tengah, seorang ayah tertawa kecil tanpa sengaja, lalu cepat-cepat berdeham. “Saya nggak melakukannya. Saya takut, dan saya pikir saya masih punya waktu. Itu salah saya, bukan salah Papa Wulan, bukan salah Wulan, bukan salah siapa pun. Salah saya.”
Dia menarik napas.
“Tapi saya juga mau bilang satu hal.” Tangannya di sisi badan mengepal pelan. “Saya sudah enam tahun mengajar di sini. Saya sayang sama semua anak di kelas ini, sama rata. Rafi yang suka makan krayon. Nadia yang takut kupu-kupu. Dafa yang selalu minta dipeluk kalau jatuh. Bima yang ceritanya selalu tentang ayahnya kentut di masjid.”
Beberapa orang tua tertawa. Di barisan depan, seorang bapak, yang pasti ayah Bima, menutup muka dengan tangan.
“Aurel yang gambarnya selalu paling rapi,” lanjut Kinan, menatap langsung ke Mama Aurel di barisan depan. “Aurel yang tiap pagi bawa bekal nasi goreng buatan Mamanya, dan selalu bilang ke teman-temannya, Mamaku masaknya paling enak sedunia.”
Mama Aurel berkedip, dan dagunya turun sedikit.
“Dan Keysha,” kata Kinan, menatap kursi kosong di barisan tengah. “Keysha yang selalu dengerin cerita teman-temannya dengan mata bulat. Keysha yang nggak pernah dirayain ulang tahunnya sama papanya. Keysha yang Sabtu kemarin ketawa paling keras waktu lomba joget balon di ulang tahun Wulan.”
Dia menatap semua orang lagi.
“Saya nggak pernah, dan nggak akan pernah, sayang sama satu anak lebih dari yang lain. Saya tahu Bapak Ibu nggak harus percaya omongan saya. Tapi Bapak Ibu bisa tanya ke anak-anak.” Dia tersenyum kecil. “Anak TK itu nggak bisa bohong. Kalau saya pilih kasih, mereka yang pertama tahu, dan mereka yang pertama lapor.”
Dia duduk kembali.
Kelas diam lama. Bang Jali, di pojok belakang, menuang kopi ke gelas plastik tanpa suara.
Lalu diskusi dimulai, dan diskusi itu tidak kepala dingin.
Mama Aurel mengangkat tangan pertama. “Bu Kinan, saya menghargai permintaan maaf Ibu. Tapi sayang sama rata itu kan kata Ibu. Buktinya? Di Hari Orang Tua, Wulan yang ditarik ke panggung. Wulan yang peluk-pelukan sama Ibu di depan semua orang. Anak saya lihat itu, dan anak saya tanya ke saya, kenapa Bu Kinan nggak peluk aku kayak peluk Wulan?”
Kinan menunduk. Dia tidak membantah.
Mama Dafa mengangkat tangan. “Saya setuju sama Mama Aurel. Dan saya khawatir soal penilaian. Rapor akhir semester nanti, siapa yang jamin nilai Wulan objektif?”
“Itu sudah diatur di poin satu, Bu,” jawab Bu Hartini dengan tenang. “Penilaian Wulan dipegang Bu Tari.”
“Tapi Bu Tari kan sahabatnya Bu Kinan.”
Bu Tari, di sebelah Kinan, membuka mulut, lalu menutupnya lagi, dan mengipasi dirinya dengan map plastik milik ketua komite.
Lalu, dari barisan tengah, sebuah tangan terangkat. Aku tidak menyangka tangan itu. Itu Mama Rafi.
“Saya mau ngomong,” katanya. Suaranya keras, dengan logat yang kental. “Anak saya ini makan krayon. Makan tanah. Makan pasir di pantai. Makan pensil di ulang tahun Wulan kemarin. Setengah.”
Beberapa orang tertawa.
“Tahun lalu, di TK lain, gurunya marahin anak saya tiap hari. Anak saya nangis tiap pagi, nggak mau sekolah.” Mama Rafi menunjuk Kinan dengan dagunya. “Bu Kinan satu-satunya guru yang nggak pernah marahin Rafi. Bu Kinan bilang ke Rafi, Tanah itu bukan cokelat, Sayang. Nanti kita makan cokelat beneran pas istirahat. Terus Bu Kinan beneran bawain cokelat. Dari uangnya sendiri.”
Dia melipat tangan di dada.
“Saya nggak peduli Bu Kinan pacaran sama siapa. Anak saya sekarang mau sekolah. Itu yang saya peduli.”
Kelas hening. Di sebelahku, Oma Ratmi mengusap matanya dengan ujung kerudung.
Lalu Papa Nadia mengangkat tangan dan berkata dengan tenang bahwa foto itu diambil diam-diam di halaman rumah pribadi, disebar tanpa izin, dan menurutnya itu jauh lebih tidak etis dari apa pun yang dilakukan Bu Kinan. Beberapa orang tua mengangguk, dan beberapa lainnya menunduk.
Mama Aurel memerah. “Saya nggak motret, Pak! Saya dapat dari teman!”
“Teman siapa, Bu?”
Mama Aurel membuka mulut. Lalu matanya bergerak, cepat, tanpa sadar, ke kursi kosong di barisan tengah.
Kursi Mama Keysha.
Lalu dia menutup mulutnya, dan tidak menjawab.
Aku melihat Kinan di meja depan juga menatap kursi kosong itu. Wajahnya berubah perlahan dari bingung menjadi mengerti, dan setelah itu, anehnya, bukan marah. Wajahnya jadi sedih.
Mobil putih di ujung jalan dekat pos ronda. Aku ingat Kinan menceritakannya padaku kemarin, sambil tertawa pahit, dengan kata kunang-kunang.
Lalu Mama Dafa mengangkat tangan lagi, dan kali ini dia tidak menatap Kinan. Dia menatapku.
“Saya mau tanya ke Papa Wulan,” katanya.
Seluruh kelas menoleh ke barisan kedua dari belakang. Dua puluh satu pasang mata menatapku, termasuk Kinan dari meja depan.
“Pak Danny,” kata Mama Dafa. “Saya nggak bermaksud jahat. Saya juga ibu. Saya cuma mau tanya sebagai sesama orang tua.” Dia berhenti sebentar. “Kalau nanti Bapak sama Bu Kinan putus, Wulan gimana? Dia masih harus sekolah di sini, diajar Bu Kinan tiap hari. Dan Bu Kinan juga gimana? Dia masih harus ketemu Bapak tiap jam sebelas. Bapak udah pikirin itu?”
Kelas hening.
Aku membuka mulut untuk menjawab. Aku tahu jawabannya. Kinan sudah memberiku jawabannya, jam tiga pagi di sofa rumahku, dengan Wulan tidur di pangkuannya. Janji guru. Apa pun yang terjadi sama kita, saya tetap Bu Nanan buat dia.
Aku tahu jawabannya. Aku sudah menjawab pertanyaan yang persis sama di kepalaku sendiri, puluhan kali, setiap malam sejak Hari Orang Tua.
Tapi yang keluar dari mulutku hanya diam.
Karena begitu Mama Dafa menyelesaikan pertanyaannya, sesuatu di kepalaku menyala. Sesuatu yang dingin, cepat, dan sangat familier, yang sudah bekerja diam-diam sejak Senin pagi pukul 04.45.
Kemungkinan terburuk.
Kalau kami putus, Wulan kehilangan dua kali. Kinan harus melihatku tiap jam sebelas.
Tapi kalau kami tidak putus, Kinan harus hidup dengan empat poin. Tanpa kopi di gerbang, tanpa lagu, tanpa memeluk Wulan di pagi hari. Dengan tiga surat keberatan di laci yayasan, dan dengan orang tua yang berbisik di bawah pohon ketapang setiap hari sampai akhir tahun ajaran.
Dan kalau surat keberatan keempat datang, atau kelima, Bu Hartini tidak bisa melindunginya selamanya. Yayasan akan memindahkannya ke TK A, atau ke cabang lain, atau ke Kalimantan, seperti adik Bu Hartini.
Karena aku.
Detik demi detik berlalu. Diamku terlalu panjang, dan aku tahu itu. Aku melihat Mama Dafa menaikkan alisnya. Aku melihat Mama Aurel menoleh ke Mama Dafa dengan tatapan yang berkata lihat, kan?
Lalu aku melihat Kinan.
Kinan berdiri dari kursinya di meja depan. Dia tidak menunggu dipersilakan.
“Saya yang jawab, Bu,” katanya. Suaranya tenang, tapi aku mendengar getaran di ujungnya. “Kalau kami putus, saya tetap Bu Nanan buat Wulan. Saya tetap ngepang rambutnya, saya tetap ngajarin dia nyanyi. Saya sudah janji itu ke Wulan, ke Papanya, dan ke Mamanya Wulan. Janji guru. Guru TK nggak boleh ingkar janji.”
Mama Dafa menatapnya. “Itu kata Ibu, Bu Kinan.” Lalu dia menoleh lagi padaku, dengan tatapan yang tidak jahat, hanya jujur. “Tapi Papanya dari tadi diam.”
Kelas hening lagi.
Aku menatap Kinan di meja depan. Kinan menatapku.
Di matanya ada sesuatu yang belum pernah kulihat. Bukan marah atau kecewa, tapi takut. Takut yang sama dengan waktu dia duduk di sebelahku di mobil dan bilang jangan mulai.
Aku ingin bicara. Aku ingin berdiri dan bilang aku yakin, seperti yang kubilang di teras malam itu. Aku ingin bilang lampunya nyala.
Tapi yang kulakukan hanya menunduk.
Rapat berakhir pukul sembilan lewat seperempat.
Pak Wiryo dari yayasan menyimpulkan dengan suara datar yang sama seperti waktu membacakan surat keberatan: yayasan akan mempertimbangkan usulan empat poin dari kepala sekolah, akan mempertimbangkan masukan semua orang tua, dan akan memutuskan dalam satu minggu. Pilihannya ada tiga: Bu Kinan tetap di TK B dengan empat poin, Bu Kinan dipindahkan ke TK A, atau Bu Kinan dimutasi ke cabang yayasan yang lain.
Orang tua mulai berdiri dan membereskan tas.
Kinan berjalan dari meja depan ke arah pintu. Dia harus lewat di barisan kedua dari belakang, lewat kursiku.
Dia tidak berhenti dan tidak menatapku, karena poin tiga: tidak ada kontak pribadi di lingkungan sekolah. Dua puluh satu orang tua masih ada di ruangan.
Tapi waktu dia lewat, tangannya bergerak cepat ke bawah, ke tanganku yang tergeletak di pangkuanku, di bawah sandaran kursi depan, tempat tidak ada yang bisa melihat.
Jarinya menekan sesuatu ke telapak tanganku, sebentar sekali, lalu dia pergi.
Aku membuka tanganku.
Di telapak tanganku menempel stiker bintang emas. Stiker yang dia simpan di saku seragamnya, yang dia pakai untuk anak yang berhasil menghabiskan bekal.
Di belakang stiker itu, di kertas pelapisnya yang setengah terkelupas, ada tulisan kecil dengan pulpen merah, huruf besar dan bulat yang sangat kukenal:
Aku yakin. Kamu juga, kan?
Di teras, Pak Darto sudah membereskan papan caturnya. Layar HP-nya masih menyala dengan wajah Papa di Surabaya.
Pak Darto menatapku waktu aku keluar dari kelas, lama, dari balik kacamata tebalnya. Dia tidak bilang hm. Dia tidak bilang apa-apa.
Di layar HP, Papa juga menatapku. Lalu Papa mengucapkan satu kalimat, dengan suara datar yang tidak pernah berubah sejak aku SD:
“Dan. Tadi di langkah tiga puluh dua, kamu nggak makan gajah. Kamu nahan.”
Aku berhenti.
“Tapi malam ini,” kata Papa pelan, “kamu nahan di langkah yang salah.”
Papa memutus panggilan tanpa pamit.
Pak Darto memasukkan papan catur ke saku jaketnya, berdiri, dan berjalan melewatiku ke gerbang. Di tengah jalan dia berhenti tanpa menoleh.
“Jalannya,” katanya pelan, “lampunya harus nyala. Jangan dimatiin sendiri.”
Lalu dia pergi.
Aku duduk di mobil di parkiran seberang TK sampai semua orang pulang. Aku duduk sampai lampu kelas TK B dimatikan dan satpam mengunci gerbang.
Kinan pulang dengan Si Pinky pukul sembilan lewat empat puluh. Dia melewati mobilku tanpa berhenti. Itu juga poin tiga. Tapi di bawah lampu jalan, dia menoleh sekali, dengan helm pink dan stiker bintang di belakangnya. Dia menatap mobilku yang gelap.
Aku menyalakan lampu kabin supaya dia tahu aku masih di sana.
Dia mengangkat tangan sedikit, lalu pergi.
Aku mematikan lampu kabin, lalu menatap stiker bintang di telapak tanganku dalam gelap. Aku yakin. Kamu juga, kan?
Aku yakin. Aku sangat yakin, sampai dadaku sakit.
Tapi yakin tidak sama dengan tahu cara melindungi.
Aku mengeluarkan HP dari saku dan membuka aplikasi notes. Di bagian paling atas daftar, di atas Hal-hal tentang Kinan, ada catatan baru yang kubuat Senin pagi pukul enam, satu jam setelah foto itu muncul.
Judulnya pendek: Dampak ke Kinan.
Isinya baru tiga baris waktu Senin pagi. Sekarang aku mulai mengetik lagi.
Aku mengetik di mobil yang gelap, di seberang gerbang TK yang sudah dikunci, sampai lewat tengah malam.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite reading
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian