← Berkembang Sangat Baik

Chapter Forty

Jam Sebelas

POV: Danny


Aku sudah memasang tiga alarm, meminta Oma Ratmi menelepon pukul enam, dan memeriksa kancingku tiga kali, sesuai perintah Anin di surat.

Aku datang lima belas menit lebih awal, pertama kali seumur hidupku. Aku duduk di kursi paling ujung barisan keluarga sejak pukul tujuh kurang lima belas. Aku menatap panggung kayu, lampu-lampu kecil yang kupasang di tepi atap, dan HP di tanganku dengan aplikasi yang sudah kuatur supaya lampunya menyala tepat pukul 11.00.

Aku memikirkan semua kemungkinan terburuk: lampu tidak menyala karena ada bug, aku tersandung di tangga panggung, cincinnya jatuh ke celah papan kayu, Rafi memakan cincinnya. Aku menulis semua itu di Laporan Kerja Q2, lalu mencoretnya satu per satu, karena Oma Ratmi bilang aku harus berhenti bikin daftar seperti itu.

Tapi aku tidak pernah menulis satu kemungkinan: bahwa pukul 11.00 tepat, waktu lampu menyala, aku akan berdiri di tangga panggung dan melihat perempuan yang kucintai sudah berlutut di tengah panggung, dengan kotak beludru merah di tangan, di bawah bulan sabit dan bintang yang kubuat untuknya.

Dia berlutut untukku, satu menit sebelum aku.


Seluruh halaman TK Pelangi Ceria hening.

Kinan mendongak dari tengah panggung. Dia menatap lampu-lampu di atap, lalu menatapku di tangga, lalu kotak beludru biru tua di tanganku. Mulutnya terbuka, dan wajahnya berubah dari kaget, ke mengerti, ke sesuatu yang tidak bisa diputuskan antara tertawa atau menangis.

Aku menatapnya dari tangga panggung. Dia masih berlutut dengan satu kaki, dengan kebaya brokat hijau muda, jepit panda dan jepit bintang emas penyok di sanggulnya, dan kotak merah di tangannya yang gemetar.

Di barisan orang tua murid, Mama Keysha menurunkan kameranya pelan-pelan. Dia jelas tidak tahu harus memotret siapa.

Di barisan kursi keluarga, Mama Rini berbisik keras ke Ibu Yati, dan seluruh halaman bisa mendengarnya:

“Bu Yati. Dua-duanya.”

“Dua-duanya, Bu Rini.”

“Terus siapa yang duluan?”

Pak Darto, di sebelah mereka, memungut papan catur magnetiknya dari rumput dan meletakkannya di pangkuan.

“Remis,” katanya.

Pak Harun, di sebelahnya, mengangguk. “Remis.”


Aku menaiki tangga panggung, tiga anak tangga kayu.

Aku tidak tersandung. Aku sudah memeriksa anak tangganya kemarin, di gladi resik, tiga kali.

Aku berjalan ke tengah panggung, ke bawah bulan sabit dan bintang, ke tempat Kinan berlutut. Dia menatapku naik dengan mata lebar yang sudah basah sejak Wulan membacakan rapor.

Aku berhenti di depannya.

Lalu aku berlutut juga, dengan satu kaki, di depannya, di tengah panggung wisuda TK. Sekarang kami berdua berlutut berhadapan dan sejajar, dengan dua kotak beludru di antara kami, satu merah dan satu biru tua.

Seluruh halaman meledak.

Aku tidak tahu siapa yang tertawa duluan. Mungkin Bang Jali di dekat gerbang, mungkin Bu Sri di barisan paling belakang, mungkin Rafi di kursi kecil di belakang panggung. Tapi dalam dua detik seluruh halaman tertawa, lalu bertepuk tangan, dan ada yang menangis, bersiul, dan berteriak.

“DUA-DUANYA BERLUTUT!” teriak Bagas.

“REKAM! REKAM!” teriak Dinda, dengan ring light menyala di tengah siang bolong.

Kinan menatapku dari jarak setengah meter. Kami sama-sama berlutut.

“Danny,” bisiknya. Suaranya pecah di antara tawa dan tangis. “Aku duluan.”

“Aku jam sebelas.”

“Aku jam sepuluh lima puluh sembilan.”

“Kamu belum ngomong apa-apa.”

“Aku udah berlutut!”

“Aku juga udah berlutut.”

“Aku duluan berlututnya!”

“Kinan.” Aku tertawa, dan mataku basah. “Kamu mau debat soal siapa yang duluan berlutut? Sekarang? Di depan dua ratus orang?”

Dia menatapku, lalu seluruh halaman yang sedang tertawa, menangis, dan merekam. Lalu dia kembali menatapku.

“Iya,” katanya. “Soalnya aku nggak punya rem.”


Lalu dari meja panitia di pinggir panggung, suara yang tenang dan tegas memotong semuanya.

“Bapak Ibu.”

Bu Hartini sudah berdiri. Dia memegang mikrofon cadangan, dengan kacamata tipis dan wajah yang membuat orang tua murid paling cerewet pun langsung duduk tegak. Seluruh halaman diam dalam dua detik.

“Saya sudah bilang ke Pak Danny dan Bu Kinan dua minggu lalu,” kata Bu Hartini, “bahwa yang menentukan giliran adalah saya.”

Kinan menoleh ke Bu Hartini. Aku juga menoleh.

“Tapi saya harus jujur,” lanjut Bu Hartini, dengan sudut bibir yang bergerak satu milimeter. “Yang menentukan giliran sebenarnya bukan saya.”

Dia menoleh ke barisan kursi keluarga, ke Oma Ratmi, ke anak kecil bertoga biru muda yang duduk di pangkuannya dengan kepang dua dan liontin bulan sabit.

“Dua minggu lalu, setelah saya kunci rundown,” kata Bu Hartini, “Ananda Wulan datang ke ruangan saya. Sendirian. Pakai kacamata hati dan buku catatan kelinci.”

Aku berhenti bernapas.

“Ananda Wulan bilang ke saya: Bu Haltini, aku mau minta tolong. Papa sama Bu Nanan mau lamalan. Dua-duanya mau duluan. Tapi aku nggak mau ada yang kalah.” Bu Hartini berhenti, dan matanya basah di balik kacamata. “Soalnya kalau ada yang kalah, nanti ada yang sedih. Aku nggak mau Papa sedih. Aku nggak mau Bu Nanan sedih.”

Halaman sunyi.

“Jadi Ananda Wulan minta saya taruh jam Bu Kinan jam 10.55,” lanjut Bu Hartini, “dan jam Papa jam 11.00. Pas lagunya Bu Kinan selesai, lampunya Papa nyala. Biar dua-duanya ada di panggung bareng. Biar…” Dia menunduk ke kertas di tangannya, kertas kecil yang ditulis dengan krayon ungu, lalu membacanya pelan. “Biar tabrakan. Kata Oma, Mama bilang biarin tabrakan.”

Aku menoleh ke barisan kursi keluarga.

Wulan duduk di pangkuan Oma Ratmi dengan toga biru muda dan kepang dua. Dia menatap kami berdua di atas panggung dengan wajah sangat puas, seperti agen yang baru saja menyelesaikan misi paling penting dalam kariernya.

Dia melambai, dan di tangannya ada buku catatan kelinci.

“Laporan ketujuh,” gumam Kinan di depanku, dengan air mata jatuh ke kebaya brokatnya. “Yang dia bisikin ke Anin di makam.”

Aku menatap anakku, lalu Kinan, dan terakhir bulan sabit dan bintang di atap panggung, yang sekarang menyala tepat di atas kepala kami berdua. Bukan cuma di atas kepalaku, dan bukan cuma di atas kepala Kinan, tapi di atas kami berdua.

Anakku yang merencanakannya, anak berusia enam tahun, agen rahasia dari tim yang anggotanya cuma dia sendiri.


“Wulan,” kata Bu Hartini ke mikrofon. “Ada instruksi terakhir?”

Wulan melompat dari pangkuan Oma Ratmi. Dia berlari ke depan panggung dan naik tiga anak tangga kayu dengan toga yang terseret. Dia berdiri di antara kami berdua yang masih berlutut, lalu mengambil mikrofon dari tangan Bu Tari, yang ternyata sudah berdiri di pinggir panggung sambil menangis dengan tisu di tangan.

Wulan menatap kami berdua bergantian. Lalu dia bicara ke mikrofon dengan suara kecil, cadel, dan sangat tegas.

“Papa. Bu Nanan. Baleng.”

“…Bareng?” tanyaku.

“Baleng. Aku hitung.” Dia mengangkat tangan kecilnya dengan tiga jari. “Kata Bu Nanan di lagu, kalau kamu lupa, biar aku yang hitung. Hali ini aku yang hitung.”

Kinan menutup mulut dengan tangan, dan air matanya jatuh lagi.

Aku menatap Kinan, dan Kinan menatapku. Kami berdua membuka kotak beludru kami, pelan-pelan, bersamaan.

Di dalam kotak biru tuaku ada cincin emas putih tipis dengan bulan sabit mungil dan bintang lebih kecil lagi di sebelahnya. Di tutup kotaknya, di bagian dalam, ada satu stiker bintang emas yang ditempel sedikit miring. Wulan yang menempelnya, di toko perhiasan pasar kecamatan.

Di dalam kotak merah Kinan ada cincin emas putih tipis yang polos, tanpa batu.

Wulan menarik napas panjang ke mikrofon.

“Satu.”

Seluruh halaman menahan napas.

“Dua.”

Di barisan kursi keluarga, Mama Rini dan Ibu Yati berpegangan tangan.

“Tiga!”

“Kinan, mau nikah sama aku?”

“Danny, mau nikah sama aku?”

Kami berdua mengatakannya pada detik yang sama, dengan kalimat yang sama. Suara kami bertabrakan di tengah panggung, di bawah bulan sabit dan bintang.

Hening sebentar. Lalu kami berdua menjawab, lagi-lagi bersamaan:

“Iya.”


Aku tidak tahu siapa yang bersorak pertama. Aku tidak peduli.

Seluruh halaman TK Pelangi Ceria meledak. Dua ratus orang berdiri, bertepuk tangan, menangis, dan berteriak. Bang Jali memukul-mukul termos kopinya. Dua puluh anak TK B melompat-lompat di kursi kecil mereka dengan toga biru muda. Rafi melempar rumbai kuningnya ke udara. Mama Keysha memotret dengan tangan gemetar dan wajah basah. Bagas memeluk Dinda, dan Dinda berteriak ke ring light-nya. Bu Tari akhirnya menangis keras, dengan suara, di pinggir panggung, dan Bu Hesti memeluknya dari samping. Bu Sri di barisan paling belakang berdiri dan mengacungkan toples nastar tinggi-tinggi seperti piala.

Di barisan kursi keluarga, Mama Rini dan Ibu Yati berpelukan sampai sanggul besar mereka copot bersamaan dan jatuh ke rumput. Pak Darto dan Pak Harun berdiri, lalu menatap satu sama lain, lalu berjabat tangan. Setelah itu, pertama kalinya dalam sejarah, mereka berpelukan dengan canggung, singkat, sambil menepuk-nepuk punggung.

“Hm,” kata Pak Darto di bahu Pak Harun.

“Hm,” kata Pak Harun di bahu Pak Darto.

Oma Ratmi tidak berdiri. Dia tetap duduk di kursinya dengan tangan di dada, menatap ke atas, ke langit biru di atas halaman TK, dan tersenyum. Aku yakin dia sedang bicara pada seseorang.


Di tengah panggung, Kinan masih berlutut di depanku, dan tangannya gemetar.

“Danny,” bisiknya. “Kita barusan ngelamar satu sama lain.”

“Hm.”

“Bersamaan.”

“Hm.”

“Terus kita jawab iya bersamaan.”

“Hm.”

“Itu nggak masuk akal.”

“Nggak ada yang masuk akal dari hari pertama,” kataku.

Dia tertawa. Tertawa sambil menangis, di tengah panggung, dengan tangan menutup muka.

Aku mengambil tangan kirinya dari wajahnya dan memasangkan cincin bulan sabit dan bintang di jari manisnya. Cincin itu pas. Ukurannya kutebak dari ukuran jepit rambut yang biasa dia pakai, dari kepangan Wulan, dan dari puluhan kali aku menggenggam tangannya. Belakangan aku tahu Wulan juga mengukurnya diam-diam pakai karet rambut, waktu Kinan tidur siang di sofa rumah Oma Ratmi.

Kinan menatap cincin di jarinya. Bulan sabit dan bintang yang bersebelahan.

“Bulannya Wulan,” bisikku. “Bintangnya kamu. Wulan yang milih. Katanya biar kalian sebelahan, selamanya.”

Kinan tidak bisa bicara. Dia hanya menatap cincin itu dengan air mata yang jatuh ke punggung tangannya.

Lalu dia mengambil tangan kiriku dan memasangkan cincinnya di jari manisku.

Cincin itu pas. Ukuran sembilan belas, bukan delapan belas atau dua puluh. Pasti.

“Pas,” kata Kinan dengan suara bergetar. “Bagas ngukurnya bener.”

“Aku bilang salah satu nomor.”

“Kamu bohong.”

“Aku mau kamu deg-degan.”

Dia memukul lenganku pelan. Aku tertawa dan menatap cincin di jariku, emas putih tipis dan polos, tanpa batu. Cincinnya sederhana, seperti aku.

“Lepas sebentar,” kata Kinan.

“Kenapa?”

“Lepas, Danny. Lihat bagian dalamnya.”

Aku melepas cincin itu dan memiringkannya ke arah cahaya lampu-lampu kecil di atap panggung. Di bagian dalam lingkarannya, di permukaan yang menempel di kulit, ada ukiran halus dengan huruf kecil yang hanya bisa dilihat kalau cincinnya dilepas.

lulus

Aku menatap kata itu lama sekali.

“Remedial-nya udah selesai,” bisik Kinan. “Kamu udah ngulang. Kamu udah ngulang sampai nilainya bagus.” Dia tersenyum dengan mata basah. “Kamu lulus, Danny.”

Aku memasang cincin itu kembali ke jariku. Tanganku gemetar. Aku tidak bisa bicara, jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.

Aku menarik Kinan ke pelukanku, di tengah panggung wisuda TK, di bawah bulan sabit dan bintang, di depan dua ratus orang. Aku memeluknya erat sekali, dengan dua cincin di dua tangan, dua lutut di lantai kayu, dan satu anak berusia enam tahun berdiri di antara kami dengan mikrofon di tangan.

Wulan menurunkan mikrofonnya, lalu memeluk kami berdua dari samping dengan kedua tangan kecilnya. Toga biru mudanya terseret di lantai, dan liontin bulan sabitnya menekan lenganku.

“Belkembang Sangat Baik,” bisik Wulan di antara kami.


Kinan menarik diri sedikit dari pelukan dan menatapku dari jarak dekat. Wajahnya basah, dan sanggulnya sudah setengah lepas. Jepit panda miring, dan jepit bintang emas penyok hampir jatuh.

Lalu dia melakukan hal yang sangat Kinan.

Dia menatap kemejaku, kemeja biru muda, kancing ketiga.

Matanya menyipit. Dia mengulurkan tangan, lalu dengan jari yang sekarang memakai cincin bulan sabit dan bintang, dia menyentuh kancing ketiga.

Kancingnya benar. Kancing ketiga ada di lubang ketiga. Aku sudah memeriksanya tiga kali di cermin, sesuai perintah Anin.

Kinan menatap kancing yang benar itu lama sekali. Lalu dia mendongak dan menatapku dengan wajah pura-pura kecewa.

“Kancingmu bener,” katanya.

“…Iya?”

“Aku udah siap benerin. Aku udah latihan benerin kancing di depan dua ratus orang.” Dia cemberut. “Terus kamu malah bener.”

Aku tertawa, keras, lepas, sampai mataku hilang. Seluruh halaman yang tadinya sedang menangis ikut tertawa, walaupun sebagian besar tidak mendengar apa yang dia katakan.

“Kinan,” kataku setelah bisa bicara lagi.

“Hm?”

“Jawabanmu tadi. Iya.”

“Iya?”

“Itu berapa persen serius?”

Dia berhenti. Aku tahu dia ingat. Aku melihatnya di matanya: hari pertama, di bawah pohon ketapang, waktu dia bertanya posisinya kosong, ya, Pak? dan aku tersedak udara, lalu dia bilang tujuh puluh persen bercanda, tiga puluh persen serius.

Kinan tersenyum dengan lesung pipi, mata basah, dan telinga merah sampai ke ujung.

“Tiga ratus persen,” katanya. “Tiga ratus persen serius, nol persen bercanda.”

Lalu dia mencium pipiku, cepat, di depan dua ratus orang dan dua puluh anak TK. Pipi, karena ini panggung TK, dan karena ada dua puluh anak TK yang sedang menonton dengan mata lebar, termasuk Rafi, yang sudah mengambil kembali rumbai kuningnya dari udara dan sekarang berteriak:

“BU KINAN CIUM PAPA WULAN! KAYAK DI FILM PUTLI!”

Seluruh halaman meledak lagi.


Setengah jam kemudian, setelah foto bersama dua ratus orang dan setelah Mama Keysha memotret kami dengan izin tertulis sebanyak tiga ratus kali, aku berdiri sendirian di bawah pohon ketapang di sudut halaman TK Pelangi Ceria, di depan bangku kayu tempat semuanya dimulai.

Kinan sedang dipeluk bergantian oleh ibu-ibu wali murid di dekat gerbang. Mama Rafi menangis paling keras. Mama Aurel membawa nasi goreng. Mama Keysha memeluknya paling lama.

Wulan sedang ditanya-tanyai teman-temannya soal bagaimana cara menjadi agen rahasia yang bisa merencanakan lamaran. Dia menjelaskan dengan buku catatan kelinci di tangan dan wajah sangat serius, seperti dosen.

Dua keluarga berkumpul di sekitar gerobak Bang Jali, berdebat soal tanggal pernikahan dan katering. Pak Darto dan Pak Harun sudah duduk di bangku halte dengan papan catur magnetik.

Aku berdiri di bawah pohon ketapang, menatap bangku kayu itu.

Hari pertama, jam sebelas lewat tiga puluh, aku berlari masuk gerbang dengan kemeja salah kancing dan alarm yang terpasang jam sepuluh malam. Aku berhenti di depan bangku ini dan melihat seorang perempuan dengan cepolan yang ditusuk pensil hijau, yang baru saja mengepang rambut anakku sampai anakku menatap cermin HP seperti melihat keajaiban.

Dia bertanya, Pak, sudah beristri?

Aku melihat jam tanganku. Pukul sebelas lewat tiga puluh lima.

Sebelas bulan lalu, pada menit yang hampir sama, aku terlambat tiga puluh menit.

Hari ini aku tepat waktu.

Aku mengeluarkan HP, membuka notes, lalu Kemungkinan Terbaik, dan menatap lima baris itu.

1. Wulan tetap di TK B. Sama Rafi, Bima, Keysha. Dikepang Bu Nanan tiap pagi. Selesai. Hari ini dia lulus.

2. Kinan tetap di TK B. Sama dua puluh anaknya. Nyanyi tiap hari. Selesai. Tahun depan dua puluh anak baru.

3. Kopi jam sebelas. Lagu nomor dua belas sampai empat puluh tujuh. Selesai. Dua puluh tiga kali tersedak, menurut papan Bang Jali.

4. Aku nggak jeda. Selesai.

5. BU NANAN TINGAL DI LUMAH

Aku menatap nomor lima itu lama sekali, dengan ejaan cadel yang diketik anakku sendiri dengan satu jari di meja makan, di malam aku akhirnya berhenti mundur.

Belum selesai. Tapi sudah dimulai. Dan itu cukup, untuk hari ini.

Aku merasakan seseorang berdiri di sebelahku. Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa, karena aku bisa mencium wangi sampo stroberi dan mendengar suara jepit rambut yang berdenting pelan.

Kinan bersandar di bahuku dan menatap layar HP-ku.

“Nomor lima,” bisiknya.

“Belum.”

“Kapan?”

Aku menatapnya. Dia menatapku balik, dengan cincin bulan sabit dan bintang di jari manisnya dan sanggul yang sudah lepas sepenuhnya. Rambut panjangnya tergerai berantakan di bahu, dan dua jepit rambut sekarang terselip di saku kebayanya.

“Kamu yang nentuin,” kataku.

Dia tersenyum lebar, seperti orang yang sudah menunggu sangat lama untuk mendengar kalimat itu. “Serius?”

“Serius. Kamu kan nggak punya rem.”

“Kalau aku bilang besok?”

“Ibumu pasti udah siap. Katering Bu Haji Sumi udah DP dari bulan September.”

Dia tertawa. Keras, lepas, di bawah pohon ketapang, dengan kedua tangan menutup muka dan cincin yang berkilau di sela jari-jarinya.

Aku mencatat tawa itu di kepalaku, seperti biasa. Lalu, untuk pertama kalinya, aku juga mencatatnya di notes, di bawah Hal-hal tentang Kinan, baris ke-seratus dua puluh tujuh.

— Tertawa di bawah pohon ketapang, jam 11.35, dengan cincin di jari. Tawa paling bagus yang pernah aku dengar.

Dari arah gerbang, suara kecil yang sangat familier berteriak dengan volume yang jelas dipelajari dari Oma Rini dan Nenek Yati:

“PAPA! BU NANAN! AYO PULANG! NENEK YATI SAMA OMA LINI LAGI BELANTEM SOAL KATELING!”

Kinan menurunkan tangannya dari wajah dan menatapku.

Aku mengulurkan tangan, dan dia menggenggamnya. Dua cincin bersentuhan dengan bunyi kecil, ting, seperti bel rumah kardus merah muda di rak buku.

“Pulang?” tanyaku.

“Pulang,” katanya.

Kami berjalan keluar dari bawah pohon ketapang, melewati bangku kayu, menuju gerbang, anak perempuan bertoga biru muda yang menunggu, dan dua keluarga berisik yang bertengkar soal katering.

Di atas kami, di atap panggung wisuda yang sekarang kosong, lampu-lampu kecil masih menyala. Aku lupa mematikannya.

Bulan sabit dan bintang tetap menyala di siang bolong, di atas panggung TK, bersebelahan.

Aku tidak mematikannya. Biar saja menyala.