← Berkembang Sangat Baik

Chapter Sixteen

Foto di Ruang Tengah

POV: Sheila


Surel dari Bu Hartini masuk Senin pagi, dikirim ke semua guru TK Pelangi Ceria pukul 06.02:

Bapak/Ibu Guru, mulai hari ini sampai dua minggu ke depan saya mengikuti Diklat Kepala Sekolah di Provinsi. Untuk urusan harian, silakan koordinasi dengan Bu Tari sebagai koordinator guru. Untuk urusan penting, tunggu saya kembali. Terima kasih.

Di bawahnya, ada satu baris tambahan yang dikirim khusus ke alamat surelku, terpisah dari yang lain:

Bu Kinan, obrolan kita ditunda sampai saya kembali. Jaga diri. — H.

Aku membaca surel itu di parkiran motor dengan helm masih di kepala, lalu menghela napas panjang. Separuh lega, separuh cemas. Dua minggu lagi. Dua minggu untuk menyiapkan kata-kata yang benar, supaya semuanya bisa kuceritakan dengan rapi dan jujur.

“Dua minggu itu lama, kok,” kata Bu Tari waktu aku menunjukkan surel itu. “Nggak bakal ada apa-apa dalam dua minggu.”

Kami berdua saling pandang, lalu mengetuk meja kayu tiga kali bersamaan.


Minggu siangnya, aku mendapat misi resmi pertama dari seorang anak berusia lima tahun.

Wulan menyampaikannya lewat buku penghubung. Tulisannya dieja oleh Wulan dan ditulis tangan oleh papanya, dengan huruf rapi dan sedikit miring ke kanan:

Bu Nanan, aku mau minta tolong. Tolong ajalin Papa ngepang. Soalnya kalau Bu Nanan libul, lambut aku jadi mi lagi. Kata Papa, Papa udah nonton YouTube jam tiga pagi dua puluh kali, tapi tangan Papa nggak mau nulut. Hali Minggu, jam sepuluh, di lumah aku. Nanti ada kue. — Wulan.

P.S. dari Papa: saya cuma nulis. Semua kalimat di atas dari Wulan. Termasuk “tangan Papa nggak mau nurut”.


Pukul sepuluh tepat, aku berdiri di depan pagar rumah yang sekarang sudah sangat kukenal. Aku membawa kotak jepit rambut, sisir, karet kecil warna-warni, dan satu kepala manekin bekas praktik salon punya sepupuku.

Danny membuka pintu, lalu menatap kepala manekin di tanganku.

“Itu apa?”

“Alat peraga.”

“Kinan, itu kepala orang.”

“Kepala manekin, Danny. Namanya Susi. Dia udah bantu aku latihan kepang dari zaman kuliah.”

Danny menatap Susi, dan Susi menatap Danny balik dengan mata plastik yang kosong dan rambut sintetis cokelat yang sudah agak kusut.

“Selamat datang, Susi,” katanya akhirnya dengan sangat sopan, lalu mempersilakan kami masuk.


Kelas mengepang diadakan di karpet ruang tengah. Wulan duduk di sofa sebagai “juri” dengan papan skor dari kardus bekas dan krayon merah. Susi diletakkan di atas bangku kecil, menghadap Danny yang duduk bersila dengan wajah serius seperti mau ujian skripsi.

“Oke,” kataku, berlutut di sebelahnya. “Langkah pertama: bagi rambutnya jadi tiga bagian sama besar.”

Danny membagi rambut Susi menjadi tiga bagian yang sama sekali tidak sama besar. Satu tebal sekali, satu sedang, dan satu tipis seperti benang.

“Itu tiga,” katanya.

“Itu tiga, tapi bukan sama besar.”

“Kamu nggak bilang harus presisi.”

“Aku bilang sama besar, Danny.”

Dia membagi ulang, dan kali ini lebih baik. Aku mengajarinya langkah kedua: bagian kanan menyilang ke tengah, lalu bagian kiri menyilang ke tengah, dan seterusnya.

Dia menyilangkan bagian kanan ke tengah. Lalu, entah bagaimana, bagian tengah berpindah ke kiri, bagian kiri ikut ke tengah, dan dalam lima detik rambut Susi sudah jadi simpul yang tidak jelas bentuknya.

Wulan, di sofa, mengangkat papan skor kardusnya. Di sana tertulis angka 2, dengan wajah sedih digambar di sebelahnya.

“Dua?” protes Danny. “Kok dua?”

“Soalnya kayak mi,” jawab Wulan dengan wajah serius juri pencarian bakat.

“Mi yang bagus, kan?”

“Mi yang kusut.”

Aku menutup mulut dengan tangan dan tertawa.

Danny mencoba lagi, dan lagi. Pada percobaan kelima, kepangan Susi mulai terlihat seperti kepangan, walaupun miring ke kanan dan longgar di tengah. Wulan memberi nilai 5, dengan wajah biasa.

“Masih miling,” kata Wulan.

“Miringnya ke mana?”

“Ke kanan. Kayak tulisan Papa.”

Danny berhenti dan menatap anaknya. Lalu dia menatapku, dan aku sudah tertawa sampai terjatuh ke karpet.

“Masalahnya,” kataku setelah bisa bicara, “tanganmu terlalu kaku. Kamu ngepang kayak lagi ngetik kode. Tiap gerakan dipikirin. Ngepang itu nggak dipikirin, Danny. Ngepang itu dirasain.”

“Dirasain gimana?”

Aku duduk tegak, lalu memutar badan dan membelakanginya. Aku melepas jepit panda dari rambutku, dan rambut panjangku jatuh tergerai sampai ke punggung.

“Coba di aku,” kataku.

Di belakangku, hening.

“…Di kamu?”

“Susi itu manekin, rambutnya sintetis, licin. Rambut asli beda. Kalau mau ngepang Wulan, latihannya harus di rambut asli.”

Hening lagi, cukup lama, sampai aku hampir menoleh. Lalu aku merasakan tangannya.

Pelan, ragu-ragu, jari-jarinya menyentuh rambutku di dekat tengkuk dan mengumpulkannya dengan hati-hati. Seperti waktu dia menyentuh kepangan Wulan di hari pertama, dan seperti orang yang takut sesuatu akan pecah.

“Bagi tiga,” bisikku, dengan suara yang tiba-tiba tidak bisa keras.

Dia membagi rambutku jadi tiga. Aku bisa merasakan jari-jarinya bergerak pelan di rambutku, memisahkan helai demi helai, kadang menyentuh tengkukku tanpa sengaja. Setiap kali itu terjadi, sesuatu di punggungku bergetar seperti senar gitar.

“Kanan ke tengah,” bisikku.

Kanan ke tengah.

“Kiri ke tengah.”

Kiri ke tengah.

“Kanan lagi. Pelan-pelan. Jangan dipikirin.”

Dia mengepang. Pelan, sangat pelan. Aku duduk diam di karpet ruang tengahnya dan memejamkan mata. Aku bisa mendengar napasnya di belakangku, pelan dan teratur, dan jam dinding yang berdetak. Aku juga bisa mendengar Wulan di sofa yang, untuk pertama kalinya hari itu, diam sama sekali.

“Kinan,” bisik Danny di belakangku.

“Hm?”

“Rambutmu wangi.”

“…Sampo stroberi.”

“Bukan sampo.” Jarinya berhenti sebentar di tengah kepangan. “Wangi kamu.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya duduk di situ dengan mata terpejam, jantung yang berdetak seperti kendang, dan kepangan setengah jadi di tangan laki-laki yang dulu bilang tangannya tidak mau menurut.

Ternyata tangannya sangat menurut.

“Selesai,” katanya akhirnya, pelan.

Aku membuka mata dan meraba kepangan di belakang kepalaku. Kepangan itu miring sedikit ke kanan, longgar di bagian bawah, dan ada satu helai yang lepas di dekat telinga.

Tapi itu kepangan. Kepangan yang sungguhan.

Wulan, di sofa, mengangkat papan skor kardusnya pelan-pelan. Kali ini ada tiga angka, dicoret dan diganti berkali-kali: 7, lalu dicoret jadi 8, lalu dicoret lagi dan diganti dengan krayon merah besar, 10, dengan gambar hati di sebelahnya.

“Kok sepuluh?” tanya Danny. “Tadi masih miring.”

Wulan menatap papanya dengan wajah juri paling bijak sedunia.

“Soalnya Papa senyum waktu ngepang,” katanya. “Kalau ngepang aku, Papa nggak senyum. Papa kelutin dahi.”

Danny terdiam, dan aku juga.

Wulan turun dari sofa, berjalan ke arah kami, lalu duduk di pangkuan papanya dan menyerahkan ikat rambutnya sendiri.

“Sekalang aku,” katanya. “Tapi Papa halus senyum kayak tadi.”


Pukul dua siang Wulan tertidur di sofa setelah makan kue lapis dari Oma Ratmi, dengan dua kepangan buatan papanya. Kepangan itu miring sedikit ke kanan, tapi rapi, dan jauh dari mi.

Danny pergi ke dapur untuk membuat teh.

Aku duduk sendirian di ruang tengah dan melihat sekeliling. Ini rumah yang sudah kukunjungi beberapa kali: waktu pura-pura motorku mogok, waktu Wulan demam tengah malam, dan waktu makan malam dengan dua belas lilin dan satu cicak. Tapi setiap kali aku ke sini, selalu ada kekacauan: panik, lilin, keluarga yang bersembunyi di balik pohon mangga.

Hari ini tidak ada kekacauan. Yang ada hanya rumah yang tenang di hari Minggu siang, dengan cahaya matahari yang masuk dari jendela samping.

Aku berdiri dan berjalan pelan ke rak buku.

Di rak itu, di tengah deretan buku-buku pemrograman tebal, buku cerita anak bergambar, dan satu rumah kardus merah muda yang sekarang dipajang di rak paling atas, ada foto itu.

Aku sudah melihatnya sebelumnya: malam Wulan demam, dari sofa, dalam cahaya lampu kuning yang redup. Waktu itu hanya sekilas.

Sekarang aku melihatnya dengan jelas.

Seorang perempuan muda berdiri di pantai dengan latar laut biru dan langit cerah. Dia sedang tertawa, dengan kepala sedikit menengadah dan mata menyipit karena matahari atau karena tawanya terlalu lebar. Rambutnya panjang dan hitam, dikepang dua, dan angin menerbangkan ujung-ujung kepangannya ke samping. Dia memakai kaus putih sederhana dan kalung tipis dengan liontin kecil berbentuk bulan sabit.

Matanya cokelat besar. Sama persis dengan mata Wulan.

Aku berdiri di depan foto itu lama sekali. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa perlu mengatakan sesuatu. Rasanya seperti datang ke rumah seseorang dan belum menyapa tuan rumahnya.

“Assalamualaikum, Mbak,” bisikku.

Tentu saja foto itu tidak menjawab. Tapi dia tetap tertawa di pantai.

“Maaf saya baru nyapa. Saya… Kinan. Gurunya Wulan.” Aku berhenti, lalu tersenyum kecil. “Mbak mungkin udah tahu. Mbak kan pasti lihat dari atas. Lihat saya tanya ke suami Mbak, sudah beristri atau belum, di hari pertama. Maaf ya, Mbak. Itu mulut saya jalan sendiri.”

Aku menarik napas.

“Anak Mbak luar biasa. Wulan itu pintar, bijak, lucu, dan cadelnya bikin saya pengen meluk dia tiap lima menit. Dia ngomongin Mbak kayak Mbak cuma lagi liburan ke tempat yang enak. Tempat yang nggak ada PR, nggak ada macet, dan bisa makan es krim tiap hari.” Aku tersenyum. “Itu Mbak yang ajarin, ya? Atau Mas Danny? Kayaknya Mbak berdua.”

Cahaya matahari dari jendela jatuh tepat di kaca bingkai foto itu, dan untuk sesaat kepangan di foto itu terlihat berkilau.

“Mbak,” bisikku, dan suaraku mulai bergetar. “Saya nggak mau gantiin Mbak. Saya nggak bisa gantiin Mbak. Nggak ada yang bisa. Wulan cuma punya satu Mama, dan itu Mbak. Selamanya itu Mbak.”

Aku mengusap mataku dengan punggung tangan.

“Tapi saya sayang mereka, Mbak. Saya sayang banget. Sama Wulan, sama Papanya yang nggak bisa ngepang, yang selalu salah kancing, yang telat satu ketukan, yang nulis hal-hal kecil tentang saya di HP-nya karena takut lupa.” Aku tertawa kecil di tengah air mata. “Mbak pasti tahu dia kayak gitu, ya? Mbak pasti udah tahu dari dulu.”

Aku menatap mata cokelat besar di foto itu.

“Jadi saya mau minta izin, Mbak. Bukan buat gantiin Mbak, tapi buat ikut jagain. Boleh, ya? Saya janji saya jagain mereka berdua. Papa dan putri kecilnya. Saya janji mereka nggak akan kesepian lagi. Saya janji Wulan akan selalu tahu Mamanya siapa. Dan saya janji…”

Suaraku pecah. Aku harus berhenti dan menarik napas.

“Saya janji Mas Danny nggak akan mundur lagi. Saya yang dorong dia. Saya kan nggak punya rem.”

Hening. Jam dinding berdetak. Dari sofa, Wulan menggumam dalam tidurnya dan membalikkan badan.

Lalu aku mendengar sesuatu dari arah dapur: suara cangkir diletakkan di meja, sangat pelan, seperti diletakkan oleh tangan yang gemetar.

Aku membeku.

Aku tidak berani menoleh.

Langkah kaki mendekat dari dapur, pelan, lalu berhenti tepat di belakangku.

Lalu sepasang lengan melingkar di pinggangku dari belakang. Pelan, hati-hati, seperti dia takut aku akan pergi kalau dia terlalu keras. Dadanya menempel di punggungku, di kepangan miring yang dia buat tadi, dan dagunya bersandar di puncak kepalaku.

Dia tidak berkata apa-apa, sama sekali.

Aku merasakan napasnya bergetar di rambutku, dan dadanya naik-turun tidak teratur di punggungku. Setelah beberapa lama, aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah jatuh di puncak kepalaku, satu tetes, lalu satu lagi.

Aku meletakkan tanganku di atas lengannya yang melingkar di pinggangku, dan menggenggamnya.

Kami berdiri seperti itu di depan rak buku, di depan foto perempuan berkepang dua yang tertawa di pantai, di bawah cahaya matahari Minggu siang. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang perlu bicara.

Di foto itu, Anin masih tertawa. Entah kenapa, aku yakin, benar-benar yakin, seperti orang yakin matahari akan terbit besok, bahwa di suatu tempat yang tidak ada PR dan tidak ada macet dan bisa makan es krim tiap hari, dia sedang tertawa juga.


Lama kemudian, Danny akhirnya bicara. Suaranya serak dan pelan sekali, bibirnya di rambutku.

“Kamu dengar teh jatuh?”

“…Aku dengar cangkir diletakkan.”

“Tehnya tumpah setengah.”

Aku tertawa pelan, dengan mata masih basah. “Kenapa tumpah?”

“Tanganku gemetar.” Dia mengeratkan pelukannya sedikit. “Aku berdiri di pintu dapur dari waktu kamu bilang Assalamualaikum, Mbak.”

Aku menutup mata. “Dari awal?”

“Dari awal.”

“Semua?”

“Semua.” Dia diam sebentar. “Termasuk yang bagian selalu salah kancing.”

Aku tertawa lagi, sambil menangis, lalu memukul lengannya pelan. Dia tidak melepaskan pelukannya.

“Kinan.”

“Hm?”

“Anin itu…” Suaranya bergetar. “Dia pernah bilang ke aku, waktu di rumah sakit, di hari-hari terakhir. Dia bilang, Dan, nanti kalau ada orang yang bisa bikin kamu ketawa lagi, jangan mundur, ya. Jangan pakai aku sebagai alasan buat mundur.”

Aku berhenti bernapas.

“Aku nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa,” lanjutnya pelan. “Nggak ke Mama, nggak ke Oma Ratmi. Soalnya aku nggak pernah kepikiran bakal ada orang kayak gitu. Tiga tahun, aku kira nggak akan ada.”

Dia menurunkan kepalanya sedikit, dan pipinya menempel di pipiku dari samping. Pipinya basah.

“Terus ada perempuan yang nanya aku sudah beristri atau belum di hari pertama.”

Aku tertawa. Tertawa sambil menangis, dengan napas yang tersendat, dan dia tertawa juga di pipiku.

“Anin pasti suka sama kamu,” bisiknya. “Dia pasti suka banget. Kalian berdua sama-sama nggak punya rem.”


Wulan bangun pukul tiga dan mendapati papanya dan Bu Nanan duduk di karpet ruang tengah, bersandar di sofa, dengan mata sama-sama merah dan sama-sama tersenyum. Di tangan mereka ada secangkir teh yang tinggal setengah, dan mereka meminumnya berdua bergantian.

Wulan menggosok matanya, lalu menatap kami dengan curiga.

“Papa sama Bu Nanan nangis?”

“Nggak,” jawab kami bersamaan.

“Matanya melah.”

“Kelilipan,” kata Danny.

“Kelilipan,” kataku.

Wulan menyipitkan mata seperti detektif, persis seperti yang dia pelajari dari aku, lalu turun dari sofa dan menyelip di antara kami berdua. Dia duduk di tengah, dengan kepala bersandar di lenganku dan kaki di pangkuan papanya.

“Kayak Opa Halun,” katanya, menguap. “Opa Halun juga kalau nangis bilang kelilipan.”

Danny tertawa. Aku tertawa. Wulan tidak tahu kenapa kami tertawa, tapi dia ikut tertawa juga.

Di rak buku, di belakang kami, Anin masih tertawa di pantai dengan rambut dikepang dua.

Hari itu, di ruang tengah itu, kami tertawa berempat.