← Berkembang Sangat Baik

Chapter Twelve

Kencan Dibuntuti

POV: Sheila


Aku menghabiskan tiga jam untuk memilih baju kencan pertamaku. Di jam ketiga, Ibu masuk ke kamar dan duduk di kasur seperti juri fashion show.

“Yang kuning.”

“Kuning terlalu cerah, Bu. Kayak mau lomba kerupuk.”

“Yang biru.”

“Biru kayak seragam guru.”

“Yang merah.”

“Merah kayak… kayak mau ngajak berantem.”

Ibu menghela napas panjang, berdiri, membuka lemariku, dan mengeluarkan dress yang bahkan aku lupa kupunya. Dress hijau muda, selutut, dengan motif bunga-bunga kecil putih. Aku membelinya dua tahun lalu untuk kondangan sepupu, dan tidak jadi kupakai karena sepupuku batal nikah.

“Hijau,” kata Ibu. “Kayak balon.”

Aku menatap Ibu. “Ibu tahu soal balon?”

“Kinan, nama kontak dia di HP-mu Balon Hijau. Kamu naruh HP di meja makan tiap malam, layarnya menghadap ke atas.” Ibu menyodorkan dress itu. “Ibu tahu semuanya.”


Rencananya sederhana: nonton film jam empat sore, makan, lalu jalan-jalan ke pasar malam di lapangan kecamatan. Hanya berdua, sebagai kencan normal dua orang dewasa.

Wulan akan dijaga Dinda, adik Danny. Menurut Danny, Dinda sudah berjanji dengan sumpah atas nama ring light-nya bahwa dia tidak akan melakukan hal aneh.

Aku datang ke bioskop di mal pukul empat kurang sepuluh, naik ojol karena Si Pinky tidak cocok dengan dress hijau. Danny sudah berdiri di depan loket.

Dia memakai kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku dan celana chino krem. Rambutnya rapi. Kali ini benar-benar rapi, bukan sisa bantal. Dia menoleh waktu aku mendekat, dan dia berhenti.

Dia hanya berdiri di situ, dengan dua tiket di tangan, menatapku dari atas sampai bawah lalu ke atas lagi, seperti orang yang lupa cara berkedip.

“…Hai,” kataku.

“Hai.” Suaranya serak. Dia berdeham. “Kamu…”

“Aku?”

“Kamu cantik banget hari ini.” Dia berhenti, lalu matanya melebar sedikit, seolah baru sadar apa yang dia katakan. “Eh. Tiap hari sih. Tapi hari ini… lebih.”

Telinganya memerah. Aku tidak bisa berkata apa-apa, dan kami berdiri di depan loket bioskop seperti dua anak SMP di acara perpisahan sekolah.

Petugas loket berdeham. “Mas, Mbak, studionya udah dibuka.”


Filmnya drama romantis Korea yang kupilih sendiri. Aku menangis di tiga adegan. Danny tidak menangis, tapi di adegan keempat, waktu tokoh utama laki-laki berlari ke bandara, aku mendengar dia menarik napas panjang dan menahannya.

Di tengah film, tangannya mencari tanganku di sandaran kursi. Pelan, ragu-ragu, jari-jarinya menyentuh punggung tanganku lalu mundur, lalu menyentuh lagi.

Aku membalik tanganku, dan dia menggenggamnya.

Kami menonton sisa film seperti itu, dengan tangan bertautan di sandaran kursi. Aku tidak ingat apa pun dari tiga puluh menit terakhir film itu. Aku hanya ingat ibu jarinya yang bergerak pelan di punggung tanganku, bolak-balik, seperti menghitung ketukan lagu yang hanya dia yang dengar.

Film selesai dan lampu menyala. Kami berdiri, dan saat itulah aku melihatnya.

Di barisan paling belakang studio, tiga kursi di pojok, ada seorang laki-laki muda bermasker hitam, bertopi, dan berkacamata hitam. Di dalam bioskop yang gelap.

Masker, topi, dan kacamata hitam itu tidak bisa menyembunyikan satu hal: kaus yang dia pakai. Kaus merah, dengan sablon di dada: KINAN — JUARA BERTAHAN 3X.

Itu kausku, yang dibuat Bagas di tukang sablon kilat, dan sekarang dipakai sendiri oleh Bagas untuk memata-mataiku.

“Danny,” bisikku.

“Hm?”

“Jangan noleh. Di belakang, pojok kiri, ada adikku.”

Danny, tentu saja, langsung menoleh.

Bagas, di barisan belakang, langsung menunduk ke bawah kursi dengan kecepatan yang mengagumkan. Tapi terlambat. Topinya jatuh, dan dia harus merangkak untuk mengambilnya.

“Itu Bagas?” tanya Danny.

“Itu Bagas.”

“Dia pakai kausmu.”

“Iya.”

“Yang tulisannya juara bertahan.”

“Dia intel yang sangat buruk.”

Danny menatap Bagas yang sedang merangkak di lantai studio mencari topinya. Lalu dia menoleh padaku, dan bahunya mulai berguncang.


Kami keluar dari mal pukul enam sore. Aku menyeret Danny ke arah parkiran dengan langkah cepat, berusaha kabur dari Bagas.

“Kita ke pasar malam langsung aja,” bisikku. “Dia nggak tahu rencana kita.”

“Kamu yakin?”

“Aku nggak cerita soal pasar malam ke siapa pun.”

“Ke ibumu?”

“…Ibuku tahu semuanya. Tapi Ibu nggak mungkin cerita ke Bagas.”

Danny menatapku dengan wajah yang sangat skeptis.

Pasar malam di lapangan kecamatan sudah ramai waktu kami sampai. Ada bianglala besar dengan lampu warna-warni, komidi putar dengan kuda-kudaan yang catnya mengelupas, tong setan yang berdengung, dan deretan tenda jajanan: arum manis, telur gulung, sosis bakar, dan martabak mini. Udaranya bau gula yang terbakar dan asap sate.

Aku memeluk lengan Danny tanpa berpikir, lalu menariknya ke tenda arum manis.

“Aku mau yang pink!”

“Kamu udah dua puluh delapan tahun, Kinan.”

“Arum manis nggak kenal umur, Danny.”

Dia tertawa dan membelikanku arum manis pink sebesar kepala. Aku memakannya dengan cara yang sama sekali tidak anggun, dan dia menatapku seperti menatap sesuatu yang menurutnya lucu sekali.

“Apa?”

“Nggak.”

“Ada arum manis di mukaku?”

“Di hidung.”

Aku mengusap hidungku. “Udah?”

Dia menggeleng, tersenyum sabar, lalu mengulurkan tangan dan mengusap ujung hidungku pelan dengan ibu jarinya. Sama seperti di lapangan RT, waktu ada remah kerupuk di pipiku.

“Kamu tuh,” katanya pelan, “selalu ada yang nempel di muka.”

“Mungkin biar kamu punya alasan buat megang.”

Tangannya berhenti di udara. Dia menatapku dengan mata sedikit melebar, dan aku menatapnya dengan senyum lebar. Aku tahu aku tidak punya rem, dan aku sangat menikmatinya.

Dia menurunkan tangannya dan mengusap tengkuk. “Kinan, kamu nggak boleh ngomong gitu di tempat umum.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak bisa ngapa-ngapain di tempat umum.”

Sekarang giliranku yang berhenti bernapas.


Lalu aku melihat mereka.

Di antara tenda telur gulung dan tenda sosis bakar, di balik tiang listrik yang terlalu kurus untuk menyembunyikan siapa pun, ada tiga sosok.

Sosok pertama adalah Bagas, dengan kaus JUARA BERTAHAN, masker, dan topi yang sudah ditemukan lagi.

Sosok kedua adalah seorang perempuan muda berkerudung hitam dan berkacamata hitam besar, yang memegang HP dengan ring light kecil yang menyala di jepitannya. Di pasar malam, ring light-nya menyala.

Dan sosok ketiga, di gendongan perempuan berkerudung hitam itu, adalah seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan kepang dua dan kacamata hitam mainan berbentuk hati yang kebesaran sampai menutupi setengah wajahnya.

Anak itu melihatku. Dia melambai dengan dua tangan, penuh semangat.

“BU NANAN! PAPA! AKU AGEN LAHASIA!”

Danny menutup muka dengan satu tangan. “Dinda.”

“Kamu bilang Dinda sumpah atas nama ring light-nya.”

“Ternyata ring light-nya dibawa.”

Di balik tiang listrik, Dinda menurunkan kacamata hitamnya dengan wajah panik, lalu menyadari ada orang lain di sebelahnya, di balik tiang yang sama, sama-sama bersembunyi.

Dinda menoleh ke Bagas, dan Bagas menoleh ke Dinda.

“Kamu siapa?” desis Dinda.

“Kamu yang siapa?” desis Bagas balik.

“Aku adiknya Kak Danny!”

“Aku adiknya Kak Kinan!”

Mereka saling tatap dengan kacamata hitam masing-masing. Lalu mata Dinda turun ke kaus merah Bagas. KINAN — JUARA BERTAHAN 3X.

“Kamu pakai kaus nama kakakmu buat nyamar?”

“Kamu bawa ring light ke pasar malam?”

“Ini buat konten!”

“Ini buat dedikasi!”

Wulan, di gendongan Dinda, menatap mereka berdua bergantian dengan kacamata hati yang melorot sampai ke hidung, lalu berteriak lagi dengan riang:

“OM BAGAS! AKU KENAL OM BAGAS! OM BAGAS YANG LEKAM VIDEO KELUPUK!”


Danny mengambil tanganku.

Bukan menggenggam pelan seperti di bioskop. Dia menggenggam dengan mantap, lalu menarik.

“Lari,” katanya.

“Hah?”

“Lari, Kinan.”

Kami berlari.

Aku berlari dengan dress hijau selutut dan sandal bertali, dengan arum manis pink yang masih setengah di tangan kiri dan tangan kanan dalam genggaman Danny. Kami menembus kerumunan pasar malam, melewati tenda martabak, melewati komidi putar dengan kuda-kudaan mengelupas, dan menghindari seorang bapak yang membawa tiga anak dan lima balon.

Di belakang kami, suara-suara bersahutan:

“KAK DANNY! JANGAN KABUR! INI BUAT DOKUMENTASI KELUARGA!”

“KAK KINAN! IBU MINTA FOTO BERDUA! BUAT UNDANGAN!”

“PAPA! BU NANAN! AGEN LAHASIA DATAAANG!”

Aku tertawa sambil berlari, dan Danny juga. Kami tertawa sampai napas kami habis, sampai perutku sakit, dan sampai arum manis di tanganku jatuh ke tanah dan aku tidak peduli sama sekali.

“Ke mana?” tanyaku sambil terengah-engah.

Danny menunjuk ke depan, ke bianglala besar dengan lampu warna-warni yang berputar pelan di langit malam. Antreannya kebetulan hanya dua orang.

“Mereka nggak bisa ngikutin ke atas,” katanya.

Kami naik ke kabin bianglala nomor tujuh. Petugasnya menutup pintu besi kecil, dan kabin mulai naik pelan-pelan, berderit, meninggalkan tanah. Di bawah, Dinda, Bagas, dan Wulan baru sampai di depan antrean dengan napas terengah. Mereka bertiga mendongak dengan wajah kecewa, ring light menyala, dan kacamata hati melorot.

Dan dari atas, sebelum kabin kami naik terlalu tinggi, aku melihat sesuatu yang aneh: Dinda dan Bagas saling pandang, lalu tertawa bersamaan. Lalu Bagas menunjuk tenda sosis bakar, Dinda mengangguk, dan mereka berjalan ke sana bersama, dengan Wulan di gendongan Dinda menunjuk-nunjuk telur gulung.

“Danny.”

“Hm?”

“Adikmu sama adikku… baru jadian?”

Danny melongok ke bawah jendela kabin. “Mereka beli sosis berdua.”

“Itu tahap pertama.”

“Tahap pertama apa?”

“Tahap pertama semuanya. Kita juga dulu mulainya dari kopi.”


Kabin bianglala berhenti di puncak.

Dari atas, pasar malam kelihatan seperti kotak mainan penuh cahaya: lampu tenda warna-warni, komidi putar yang berputar, dan kerumunan kecil yang bergerak ke sana kemari. Di luar pasar malam, kota kecil kami terbentang dengan lampu-lampu rumah seperti taburan gula. Di atas semuanya, bulan hampir penuh.

Kami duduk bersebelahan di bangku kabin yang sempit. Bahu kami bersentuhan, dan tangan kami masih bertautan sejak berlari tadi. Aku tidak tahu kapan kami akan melepaskannya. Mungkin tidak.

“Kinan.”

“Hm?”

“Kamu tahu nggak, kapan aku mulai suka sama kamu?”

Aku menoleh. Wajahnya diterangi lampu bianglala yang berganti warna pelan, dari merah ke kuning, lalu hijau.

“Hari Orang Tua?” tebakku. “Waktu aku kasih kode di samping panggung?”

Dia menggeleng.

“Lomba kerupuk? Waktu aku menang dua puluh sembilan detik?”

Dia menggeleng lagi, tersenyum kecil.

“Waktu aku pura-pura motorku mogok?”

“Sebelum itu.”

Aku mengerutkan kening. “Sebelum itu? Nggak mungkin. Waktu itu kamu masih… kamu masih nol persen. Kamu masih sopan banget, masih Bu Kinan, masih hati-hati kayak orang pegang kaca.”

“Hari kedua,” katanya pelan.

Aku berhenti.

“Hari kedua sekolah. Jam empat pagi. Aku baru selesai kerja, terus aku buka buku penghubung Wulan di meja makan. Kamu nulis, sepertinya bijaknya menurun dari Papa.” Dia tersenyum, menatap bulan di luar jendela kabin. “Terus ada stiker bintang. Tiga puluh persen serius. Aku ketawa sendirian di dapur jam empat pagi, sampai harus nutup mulut biar Wulan nggak bangun. Terus aku baca lagi. Tiga kali.”

Aku tidak bisa bicara.

“Terus aku tidur jam lima dengan senyum yang nggak mau pergi,” lanjutnya. “Dan aku sama sekali nggak tahu harus ngapain sama senyum itu.”

“Hari kedua?” bisikku. “Danny. Hari kedua?”

“Hm.”

“Selama ini… selama aku bawa kopi, nyanyi lagu anak TK, pura-pura motor mogok, bikin daftar empat puluh tujuh lagu… kamu udah…”

“Dari hari kedua.” Dia menoleh padaku. Matanya menyipit usil dan hangat sekaligus. “Kamu kira kamu ngejar aku dari nol. Padahal kamu ngejar orang yang udah berdiri di garis finish, nungguin kamu sampai.”

Aku menatapnya lama.

Lalu aku memukul lengannya. Keras.

“Aduh! Kinan…”

“Kamu biarin aku nyanyi lagu cicak di depan satpam!”

“Aku suka lagu cicaknya.”

“Kamu biarin aku minta evaluasi tertulis!”

“Evaluasinya jujur, kok.”

“Kamu biarin aku nangis di motor sambil nyanyi!”

Dia berhenti tertawa. Wajahnya berubah, dan matanya turun ke tangan kami yang bertautan.

“Aku lihat itu,” katanya pelan. “Dari mobil. Kamu meluk helm, terus nyanyi.”

Aku terdiam.

“Itu hal paling bodoh yang pernah aku lakukan,” katanya. “Bikin kamu nangis di motor.”

“…Danny.”

“Maaf, ya.”

Dia mengangkat tangan kami yang bertautan dan menempelkan punggung tanganku ke bibirnya. Hanya sebentar, dan sangat pelan. Bukan ciuman, lebih seperti permintaan maaf yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.

Kabin bianglala mulai bergerak lagi, turun pelan-pelan, berderit.

Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Dia tidak bergerak. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit sampai pipinya menyentuh puncak kepalaku, di dekat jepit panda yang kupakai lagi malam ini.

“Nggak apa-apa,” bisikku. “Aku maafin.”

“Semudah itu?”

“Nggak. Kamu masih harus bayar.”

“Bayar apa?”

“Dua ratus gelas kopi. Kan aku udah hitung.”

Dia tertawa pelan, dan tawanya bergetar di pipiku.

“Kinan,” katanya. “Kalau dua ratus gelas kopi udah habis?”

“Terus?”

“Boleh aku lanjut ke gelas ke dua ratus satu?”

Aku memejamkan mata dan tersenyum, dengan pipi di bahunya, di kabin bianglala nomor tujuh, di atas pasar malam yang penuh cahaya.

“Boleh,” bisikku. “Sampai gelas ke berapa pun.”


Waktu kabin kami sampai di bawah, Wulan sudah menunggu di depan pintu besi dengan kacamata hati di kepala dan telur gulung di dua tangan.

“Papa! Bu Nanan! Kenapa kabul dali agen lahasia?”

“Karena agen rahasianya teriak-teriak, Lan,” kata Danny, mengangkat anaknya ke gendongan.

“Kan agen lahasianya bangga!”

Di belakang Wulan, Dinda dan Bagas berdiri berdampingan, masing-masing memegang sosis bakar, dengan wajah paling polos yang pernah dibuat dua orang dewasa.

“Kami nggak ngapa-ngapain,” kata Dinda.

“Kebetulan lewat,” kata Bagas.

“Pakai ring light?” tanyaku.

“Pakai kaus namamu?” tanya Danny.

Dinda dan Bagas saling pandang. Lalu Dinda menyodorkan HP-nya pada kami dengan senyum bersalah yang sama sekali tidak bersalah.

Di layar ada foto yang diambil dari bawah bianglala, dengan zoom maksimal. Fotonya buram dan berbintik, tapi cukup jelas: kabin nomor tujuh di puncak bianglala, dua siluet di dalamnya, satu kepala bersandar di bahu yang lain, dan bulan hampir penuh di belakang mereka.

“Udah dikirim ke grup,” kata Bagas.

“Grup apa?” tanya Danny dengan nada mengancam.

Dinda dan Bagas saling pandang lagi.

“Grup pengajian,” jawab mereka bersamaan.

HP-ku bergetar di tas. Aku mengeluarkannya. Ada satu pesan dari Ibu, dikirim satu menit lalu:

Ibu: Nduk. Fotonya bagus. Ibu udah DP katering Bu Haji Sumi.

Aku menunjukkan layar itu ke Danny.

Danny membaca pesan itu. Lalu dia menatapku. Lalu dia menatap Wulan di gendongannya, yang sedang mengunyah telur gulung dengan pipi menggembung, lalu Dinda dan Bagas yang pura-pura sibuk dengan sosis mereka, lalu bianglala yang terus berputar pelan di bawah bulan.

“Kinan,” katanya pelan.

“Hm?”

“Ini kencan pertama, kan?”

“Iya.”

“Dan ibumu udah DP katering.”

“Iya.”

Dia diam sebentar. Lalu dia tertawa. Kali ini keras, lepas, dengan seluruh badan, dengan Wulan di gendongannya yang ikut tertawa tanpa tahu kenapa, di tengah pasar malam yang penuh lampu.

Aku mencatat tawa itu di kepalaku. Aku mencatat setiap tawanya, seperti biasa, karena tawa Danny yang lepas itu selalu terasa seperti hadiah.

Dan malam itu, di bawah bianglala, aku mendapat hadiah yang paling besar.