Chapter Two
Buku Penghubung
POV: Danny
Pukul empat pagi, klien di San Francisco akhirnya bilang, “Looks good, ship it.”
Aku menutup laptop, meregangkan punggung sampai terdengar bunyi krek yang mengkhawatirkan, lalu berjalan ke kamar Wulan untuk melakukan ritual yang sudah kujalani tiga tahun: mengecek apakah anakku masih bernapas.
Aku tahu itu berlebihan. Wulan sudah lima tahun, sehat, dan tidur dengan gaya bintang laut yang menguasai tiga perempat kasur. Tapi ada kebiasaan yang tidak bisa hilang begitu saja. Setiap pagi sebelum tidur, aku berdiri di ambang pintu, mendengarkan napasnya yang kecil dan teratur, dan baru setelah itu aku bisa memejamkan mata.
Malam ini dia tidur miring, memeluk boneka kelinci yang telinganya sudah tinggal satu. Dan kepangnya masih utuh.
Dia menolak kepangnya dibuka waktu mandi sore tadi. “Nanti ilang,” katanya, memegangi kepala seperti orang yang dirampok. Jadi aku memandikannya dengan hati-hati, menyiram hanya dari leher ke bawah, dan dia tidur dengan dua kepang kecil yang sekarang sedikit kusut, tapi masih bertahan.
Jepit bintang di ujung kepang kanannya berkilau kena lampu tidur.
Aku berdiri di situ lebih lama dari biasanya.
Buku penghubung itu ada di meja makan, di samping bekas piring nasi goreng yang belum kucuci.
Sore tadi aku tidak sempat membukanya karena Wulan langsung menyeretku ke halaman untuk menunjukkan bahwa dia sudah bisa melompat dengan satu kaki “sepelti Bu Nanan”. Lalu makan malam, mandi, cerita sebelum tidur, lalu klien, lalu klien lagi.
Sekarang, jam empat lewat sepuluh pagi, dengan segelas teh yang sudah dingin, aku membukanya.
Aku membaca catatan itu sekali, lalu membacanya lagi.
Sepertinya bijaknya menurun dari Papa.
Kecuali mau. Kalau mau, Ibu bisa ajari. Gratis.
Dan di pojok halaman, ada stiker bintang emas dengan tulisan kecil di bawahnya.
Bintang ini untuk Papa, karena sudah berusaha datang walaupun alarmnya salah. Tiga puluh persen serius.
Aku tertawa sendirian di dapur jam empat pagi. Pelan, supaya Wulan tidak bangun, tapi tetap tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan.
Lalu aku berhenti, karena menyadari sesuatu yang agak memalukan.
Aku sedang tersenyum ke buku penghubung TK.
Aku menutup buku itu dan menatap langit-langit. Kulkas berdengung. Di luar, ayam tetangga mulai berkokok dengan jadwal yang tidak pernah tepat.
“Oke,” kataku pada dapur yang kosong. “Nggak apa-apa. Dia cuma guru yang ramah.”
Guru yang ramah, yang di hari pertama bertanya aku sudah beristri atau belum. Yang bilang tiga puluh persen serius. Yang mengepang rambut anakku sampai anakku menatap cermin seolah melihat keajaiban.
Aku membuka buku itu lagi dan membaca catatannya untuk ketiga kalinya.
Lalu aku tidur jam lima pagi dengan senyum yang tidak mau pergi, dan aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa dengan senyum itu.
“Papa. Papa. Papa.”
Sesuatu yang kecil dan berat mendarat di dadaku. Aku membuka mata dan mendapati wajah Wulan tepat di atas wajahku, sangat dekat, dengan napas bau pasta gigi stroberi.
“Jam belapa?”
“Jam… sebentar.” Aku meraba HP. 06.15. “Masih pagi, Lan.”
“Hali ini aku bawa bekal apa?”
Pertanyaan ini adalah awal dari perang kecil yang terjadi setiap pagi di rumah kami. Aku sudah mencoba berbagai strategi. Aku pernah mencoba bangun jam lima untuk memasak, dan tertidur di meja makan dengan spatula di tangan. Aku pernah mencoba memasak malam sebelumnya, dan Wulan menolak karena “nasinya dingin, kayak hati olang jahat”. Katanya dia belajar kalimat itu dari sinetron yang ditonton Oma.
Pagi ini aku mencoba sesuatu yang baru. Aku menonton tutorial bekal lucu jam tiga pagi di sela-sela menunggu build selesai, dan aku yakin kali ini aku bisa.
Tiga puluh menit kemudian, aku menyerahkan kotak bekal kepada Wulan dengan bangga.
Dia menatapnya lama. “Ini apa, Pa?”
“Panda.”
“Pandanya kenapa?”
Aku melihat karyaku sendiri. Nasi putih dibentuk bulat dengan rumput laut sebagai telinga dan mata. Masalahnya, rumput lautnya kupotong terlalu besar, dan waktu kutempel, bagian mata melorot ke bawah. Hasilnya adalah panda dengan lingkaran hitam raksasa di bawah mata dan ekspresi seperti habis melihat tagihan listrik.
“Pandanya… begadang,” kataku.
Wulan menatapku. Aku menatap Wulan.
“Kayak Papa,” simpulnya.
“Iya. Pandanya kerja malam juga, kliennya di Amerika.”
Wulan tertawa terbahak-bahak sampai jatuh dari kursi. Aku ikut tertawa. Pagi itu kami berangkat terlambat sepuluh menit karena Wulan harus menunjukkan panda begadang itu dulu ke Oma Ratmi lewat video call. Mertuaku, ibu Anin, tertawa sampai kacamatanya melorot.
“Kamu tuh, Dan,” kata Mama Ratmi di layar, masih tersengal. “Masih mending daripada yang minggu lalu. Yang kamu bilang kucing tapi mirip ubi.”
“Itu kucing, Ma.”
“Ubi.”
“Kucing yang lagi sedih.”
“Ubi yang lagi sedih.”
Wulan, di pangkuanku, berbisik dengan nada rahasia yang terlalu keras, “Oma, Oma. Kemalin ada Bu Nanan ngepang aku. Telus Bu Nanan nanya Papa udah punya istli.”
Hening di layar.
Lalu mata mertuaku, yang tadinya menyipit karena tertawa, membulat penuh di balik kacamata.
“Oh ya?”
“Wulan,” kataku, “berangkat, yuk. Telat.”
“Dan. Nanti telepon Mama. Mama mau dengar cerita lengkapnya.”
“Nggak ada cerita, Ma.”
“Kalau nggak ada cerita, kenapa telinga kamu merah?”
Aku mematikan video call.
Sistem jemputan kami minggu itu berjalan begini: aku mengantar pukul tujuh lewat seperempat, pulang, tidur dua jam, lalu memasang alarm jam sepuluh pagi. Aku sudah memeriksa AM/PM-nya tiga kali. Lalu aku menjemput pukul sebelas.
Dan setiap hari, buku penghubung Wulan pulang dengan catatan yang makin panjang.
Hari Selasa:
Wulan hari ini menghabiskan bekal pandanya. Ibu penasaran, kenapa pandanya kelihatan capek? Apakah pandanya juga kerja malam?
P.S. Papa sudah makan pagi belum? Jangan-jangan Papa cuma minum kopi. Papa-papa yang kerja malam biasanya lupa makan. Ibu tahu karena Ibu banyak menonton drama tentang papa-papa yang kerja malam.
Ada stiker bintang di pojok. Tulisannya: Untuk pandanya.
Hari Rabu:
Wulan hari ini bercerita bahwa Papa bisa membuat suara kuda yang mirip sekali, dan juga suara ayam, kambing, dan printer rusak. Ibu tertarik dengan suara printer rusak. Mohon didemonstrasikan saat penjemputan.
Stiker bintang. Untuk bakat terpendam Papa.
Hari Rabu itu, saat menjemput, aku mencoba pura-pura lupa. Tapi Bu Kinan berdiri di gerbang dengan tangan terlipat dan wajah menunggu, dan sembilan anak TK B di belakangnya ikut berdiri dengan tangan terlipat dan wajah menunggu. Jadi aku melakukannya, suara printer rusak, di depan gerbang TK, di depan para orang tua dan satpam.
Anak-anak bertepuk tangan histeris. Bu Kinan tertawa sampai membungkuk, memegang lututnya, dan pensil di cepolannya jatuh ke tanah.
Aku memungut pensil itu dan menyerahkannya. Jari kami bersentuhan sebentar. Tangannya hangat dan ada bekas tinta spidol di ujung jarinya.
“Makasih, Pak,” katanya, masih tersengal, lesung pipinya dalam sekali.
Aku harus mengakui sesuatu, walaupun hanya pada diriku sendiri: Bu Kinan itu cantik. Cantiknya tipe yang membuat orang menoleh dua kali, seperti ibu-ibu wali murid yang diam-diam berbisik, “Itu guru TK apa model iklan susu?” Tapi yang membuat aku lupa cara bernapas bukan cantiknya.
Yang membuat aku lupa cara bernapas adalah caranya tertawa, dengan seluruh badan, tanpa sedikit pun berusaha kelihatan anggun.
Hari Kamis:
Wulan hari ini bertanya kenapa bulan tidak jatuh. Ibu tidak bisa menjawab, jadi Ibu menyuruh Wulan bertanya ke Papa, karena Papa kerja dengan komputer dan sepertinya tahu segalanya.
P.S. Kalau Papa juga tidak tahu, Papa boleh jawab di buku ini. Ibu juga penasaran.
Malam itu aku menulis jawabannya. Satu paragraf penuh tentang gravitasi dan orbit, dengan bahasa yang bisa dimengerti anak TK. Aku menulisnya tiga kali karena tulisan pertama terlalu teknis, dan tulisan kedua terdengar seperti aku sedang berusaha pamer.
Hari Jumat buku itu pulang dengan satu kalimat di bawah jawabanku, dalam tulisan tangan Bu Kinan yang besar dan bulat:
Ibu baca tiga kali. Papa pintar menjelaskan. Ibu sekarang mengerti kenapa bulan tidak jatuh, tapi masih belum mengerti kenapa Ibu jatuh.
Di bawahnya, stiker bintang, dan satu baris lagi:
Catatan Ibu minggu ini nilainya berapa, Pak? Dari satu sampai sepuluh. Jujur, ya.
Aku membaca kalimat itu di mobil, di parkiran TK, sementara Wulan di kursi belakang sibuk bernyanyi Balonku dengan gerakan tangan.
Aku membacanya dan tidak bisa berhenti tersenyum, dan aku tidak tahu harus bagaimana.
Karena sebagian dari diriku, bagian yang tiga tahun terakhir hanya fokus pada dua hal, Wulan dan pekerjaan, sedang membunyikan alarm kecil. Dia guru anakmu. Ini TK. Ada orang tua lain. Ada Wulan. Kamu duda. Kamu bahkan tidak bisa bikin panda yang tidak depresi.
Tapi bagian lain dari diriku, yang sudah lama sekali tidak bersuara, cuma diam dan tersenyum seperti orang bodoh.
“Papa.”
“Hm?”
“Papa baca buku penghubung lagi?”
“Iya.”
“Papa senyum-senyum.”
Aku melirik kaca spion. Wulan sedang menatapku dengan wajah paling curiga yang pernah dibuat anak lima tahun, lengkap dengan mata disipitkan.
“Papa nggak senyum.”
“Papa senyum. Kayak Oma kalau nonton sinetlon.”
“…Papa cuma lagi baca soal bulan.”
“Bu Nanan bilang Papa ganteng.”
Aku tersedak ludah sendiri. “Kapan?”
“Tadi. Waktu Papa bikin suala plintel. Bu Nanan bilang sama Bu Tali, ‘Ya Allah, gantengnya, suala plintelnya aja ganteng.’” Wulan menirukan dengan sangat akurat, termasuk tangan di dada. “Telus Bu Tali bilang, ‘Istighfar, Kinan.’”
Aku meletakkan dahi di setir mobil.
Klakson berbunyi. Wulan tertawa. Seorang satpam menoleh ke arah kami.
“Papa, Papa kenapa?”
“Papa nggak apa-apa,” kataku ke setir. “Papa cuma… butuh waktu sebentar.”
Malam itu, setelah Wulan tidur, aku duduk di meja makan dengan buku penghubung terbuka dan pulpen di tangan.
Catatan Ibu minggu ini nilainya berapa, Pak?
Aku menulis 10, lalu mencoretnya. Terlalu jelas.
Aku menulis Catatan Ibu sangat informatif, lalu mencoretnya. Aku terdengar seperti reviewer jurnal.
Aku menulis Bu, saya duda dengan satu anak dan saya bahkan tidak bisa mengepang, lalu merobek halamannya, karena itu buku penghubung Wulan dan aku tidak boleh merobek-robek buku orang. Setelah itu aku harus menempel lagi halaman yang sobek pakai selotip, pelan-pelan, jam satu pagi, sambil memaki diriku sendiri dengan suara berbisik.
Di dinding ruang tengah, di atas rak buku, ada foto Anin. Dia sedang tertawa di pantai, dengan rambut diterbangkan angin dan rambutnya dikepang dua.
Aku menatap foto itu lama.
“Kamu pasti ketawa lihat aku begini,” kataku pelan.
Tentu saja foto itu tidak menjawab. Tapi aku tahu jawabannya, karena aku mengenalnya tujuh tahun. Anin pasti akan tertawa, lalu menepuk kepalaku, dan bilang, “Ya ampun, Danny. Kamu tuh kalau suka sama orang, kelihatan dari Mars.”
Aku memang kelihatan dari Mars, dan itu masalahnya.
Aku mengambil buku penghubung, membuka laci meja, dan mengambil lembar stiker yang kubeli untuk ulang tahun Wulan tahun lalu. Isinya stiker bintang emas, persis seperti milik Bu Kinan, karena Wulan dulu memilihnya sendiri di toko buku.
Aku mengelupas satu stiker, lalu menempelkannya di bawah pertanyaan itu.
Satu bintang, tanpa tulisan apa pun.
Aku menatapnya lama, menimbang untuk mencabutnya lagi. Tapi stikernya sudah menempel terlalu kuat, dan aku juga, diam-diam, tidak mau mencabutnya.
Hari Senin, aku mengantar Wulan. Di gerbang, Bu Kinan sedang menyambut anak-anak satu per satu dengan tos. Rambutnya dicepol lagi dengan pensil, kali ini warna ungu.
Wulan berlari ke arahnya dan menyerahkan buku penghubung dengan dua tangan, seperti menyerahkan piala. “Bu Nanan! Papa isi bukunya kemalin malam! Papa lama banget! Papa sampe lobek-lobek!”
“Wulan.”
Bu Kinan menatapku, alisnya naik. Aku menatap langit, karena langit tidak menghakimi.
“Papa robek-robek?” ulangnya, senyumnya mulai melebar.
“Itu… ada kesalahan teknis.”
“Kesalahan teknis,” ulangnya pelan, seolah mencatat.
Aku pamit, masuk mobil, dan menyalakan mesin. Tapi sebelum pergi, aku melihat dari kaca spion Bu Kinan membuka buku penghubung itu, di situ juga, di gerbang, di antara anak-anak yang berlarian.
Aku melihat dia berhenti bergerak. Aku melihat dia menutup mulut dengan satu tangan, lalu dia berbalik membelakangi gerbang, menempelkan buku itu ke dadanya, dan melompat kecil di tempat. Dua kali, seperti anak TK yang baru dapat hadiah.
Bu Tari, di sebelahnya, menatap langit dan menggeleng-geleng.
Aku menjalankan mobil sebelum dia menoleh. Tapi sepanjang jalan pulang aku tertawa sendiri, dan waktu berhenti di lampu merah, aku sadar sesuatu.
Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku menantikan hari Senin.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung reading
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian