Chapter Thirty Four
Rencana Tandingan
POV: Sheila
Aku tahu soal cincin itu sejak hari Wulan menanyakan ukuran jari manisku di gerbang dan berlari masuk kelas dengan kepangan setengah jadi.
Aku tahu bekas kapur di papan tulis warung Bang Jali itu dulunya berbunyi SEMANGAT MAS DANNY 💍, karena hurufnya belum terhapus sempurna dan emoji cincinnya masih samar-samar kelihatan.
Aku tahu karangan bunga matahari dari Bu Sri itu bukan kecepetan. Bu Sri tiga puluh lima tahun jadi guru TK. Guru TK dengan pengalaman selama itu tidak pernah kecepetan. Bu Sri sengaja.
Dan aku tahu satu hal lagi yang mungkin tidak Danny sadari aku tahu: kapan.
Tiga minggu setelah ulang tahunku, waktu aku sedang mengepang rambut Wulan di gerbang, dia bergumam sendiri sambil menghitung dengan jari.
“Satu, dua, tiga… masih empat bulan lagi.”
“Empat bulan lagi apa, Sayang?”
“Wisuda.” Dia mengangguk serius. “Aku wisuda, telus Papa…”
Dia berhenti. Matanya melebar. Dia menutup mulut dengan kedua tangan, dan kali ini dia tidak berlari, karena aku masih memegang kepangannya. Dia hanya menatapku dari balik tangannya dengan wajah panik agen rahasia yang baru saja membocorkan rahasia negara.
“Telus Papa apa, Wulan?”
“…Telus Papa nonton.”
“Oh. Papa nonton.”
“Iya. Nonton.” Dia mengangguk terlalu cepat. “Cuma nonton. Nggak ngapa-ngapain.”
Aku menyelesaikan kepangannya tanpa bertanya lagi. Tapi malam itu, di kamar, di bawah bintang-bintang glow-in-the-dark di langit-langit, aku membuka buku penghubung Danny ↔ Kinan dan membaca ulang halaman pertama.
Tolong pura-pura percaya sampai Juni.
Wisuda TK Pelangi Ceria selalu jatuh di minggu kedua bulan Juni, dan acaranya selalu dimulai pukul sembilan pagi. Aku sudah enam tahun jadi panitianya.
Aku menutup buku itu, menatap langit-langit, lalu tersenyum.
Oke, Danny. Kamu punya rencana.
Aku juga.
“Kamu mau apa?”
Bu Tari menjatuhkan gunting kertas ke lantai ruang guru. Guntingnya jatuh tepat di sebelah kakinya.
“Aku mau melamar dia duluan,” ulangku dengan tenang, sambil memungut gunting itu dan meletakkannya kembali di mejanya.
“Kinan.”
“Tari, dengerin dulu.”
“Kinan, perempuan jarang yang melamar laki-laki.”
“Jarang bukan berarti nggak boleh.” Aku menarik kursi dan duduk di depan mejanya. “Tari, dari hari pertama yang ngejar itu aku. Aku nanya dia sudah beristri atau belum. Aku ngitung dua ratus gelas kopi. Aku bikin daftar empat puluh tujuh lagu. Aku pura-pura motorku mogok.”
“Aku tahu. Aku saksi semuanya. Aku trauma.”
“Terus dia ambil alih. Dia bawa kopi jam enam empat puluh lima. Dia belajar naik Pinky. Dia jatuh delapan kali.” Aku tersenyum. “Dan sekarang dia mau ambil alih bagian paling penting. Bagian terakhir, bagian yang paling ujung.”
Bu Tari menatapku lama. “Terus?”
“Terus aku nggak mau kalah.” Aku mencondongkan badan ke depan. “Tari, aku nggak punya rem. Kamu tahu itu. Kalau aku bisa lihat garis finish dari jauh, aku nggak bisa diam aja nunggu dia sampai duluan. Aku harus lari.”
“Kinan, ini bukan lomba.”
“Semuanya lomba kalau kamu juara bertahan makan kerupuk tingkat RT empat tahun berturut-turut.”
Bu Tari menutup mata dan menghela napas panjang. Napas yang sama sejak hari pertama tahun ajaran.
“Oke,” katanya akhirnya. “Kamu butuh apa?”
Aku tersenyum lebar. “Tim.”
Timku terbentuk dalam dua minggu, dan komposisinya tidak masuk akal.
Anggota pertama adalah Bu Tari, sebagai koordinator dan penasihat hukum, karena dia satu-satunya orang waras di tim.
Anggota kedua adalah Mama Keysha. Aku tidak merekrutnya. Dia yang mengajukan diri, lewat pesan pribadi pukul 04.45 pagi, di bawah gambar mawar.
Mama Keysha: Bu Kinan. Saya dengar dari Mama Aurel, katanya Ibu mau melamar Papa Wulan duluan. Saya mau bantu. Apa pun. Saya punya mobil putih. Saya bisa jadi sopir, atau fotografer.
Mama Keysha: Fotografer yang IZIN dulu kali ini 🙏😅
Aku tertawa sampai terjatuh dari kasur.
Anggota ketiga adalah Mama Aurel, yang ternyata pintar menjahit dan menawarkan diri membuat kostum. Aku tidak tahu kostum untuk apa, tapi aku bilang iya.
Anggota keempat adalah Mama Rafi. Dia tidak menawarkan apa-apa secara spesifik, dia hanya bilang, “Saya ikut, Bu. Pokoknya saya ikut. Saya mau lihat.”
Anggota kelima, dan ini yang paling berbahaya, adalah Bagas.
“Kak,” kata Bagas, duduk di kasurku dengan kaus JUARA BERTAHAN 3X yang sudah pudar karena terlalu sering dicuci. “Aku udah di tim Kak Danny.”
“Aku tahu.”
“Aku udah janji di grup Operasi Nomor 5.”
“Aku tahu.”
“Kalau aku ikut tim Kakak juga, aku jadi agen ganda.”
“Iya.”
Bagas menatapku. “Bayarannya?”
“Seblak level lima, pakai ceker, plus kerupuk, tiap laporan. Plus…” Aku berhenti sejenak untuk efek dramatis. “Plus aku nggak bilang ke Ibu soal kamu sama Dinda yang ketahuan ciuman di belakang pos ronda minggu lalu.”
Wajah Bagas berubah dari santai ke pucat dalam satu detik. “Kak tahu dari mana?”
“Pak RT. Dia patroli ronda.”
Bagas menutup muka dengan kedua tangan. “Oke. Oke, aku agen ganda.”
Tugas pertama agen ganda Bagas: cari tahu ukuran jari manis Danny.
Hasilnya dia kirim tiga hari kemudian, lewat pesan, dengan foto buram dari balik rak buku ruang tengah rumah Danny.
Bagas: Kak. Aku pura-pura main catur sama Kak Danny. Aku bilang cincin di jari Kakak bagus. Kak Danny bilang dia nggak pakai cincin. Aku bilang oh, terus aku pinjem tangannya buat “ngukur” pakai benang jahit Mama Aurel yang aku bawa diam-diam. Kak Danny bingung tapi nurut.
Bagas: Hasilnya: 19. Kayaknya.
Aku: Kayaknya?
Bagas: Kak Danny gerakin jarinya waktu aku ukur. Soalnya dia sambil main catur. Dia makan menteri aku.
Aku menutup muka dengan bantal dan menjerit tanpa suara.
Cincin untuk Danny tidak bisa kubeli di toko perhiasan di pasar kecamatan. Terlalu berisiko, karena pegawai toko berkerudung ungu itu sudah tahu segalanya dari Wulan.
Jadi Mama Keysha mengantarku dengan mobil putihnya, mobil yang sama dengan yang di ujung jalan dekat pos ronda, ke toko perhiasan di kota sebelah, satu jam perjalanan.
“Maaf ya, Bu,” kata Mama Keysha di tengah jalan, dengan tangan di setir dan mata menatap lurus ke depan. “Soal mobil ini. Setiap kali Ibu naik, pasti Ibu ingat malam itu.”
Aku menatapnya dari kursi penumpang. Dia sudah berhenti memakai bulu mata palsu sejak rapat komite, dan wajahnya terlihat lebih muda tanpa itu. Lebih lelah juga, tapi lebih jujur.
“Mama Keysha,” kataku. “Mobil ini sekarang mobil operasi. Bukan mobil malam itu lagi.”
Dia melirikku, lalu tersenyum kecil.
“Operasi lamaran pertama di dunia pakai mobil bekas paparazi,” katanya.
Aku tertawa sampai kaca jendela berembun.
Di toko perhiasan kota sebelah, aku berdiri di depan etalase kaca lama sekali. Semua cincin laki-laki di sana terlihat sama: tebal, polos, dan membosankan. Tidak ada yang seperti Danny.
Lalu mataku menangkap sesuatu di pojok etalase: cincin emas putih tipis, polos, tanpa batu. Di bagian dalamnya, di lingkaran yang menempel di kulit, ada ukiran halus yang hanya bisa dilihat kalau cincinnya dilepas.
“Bisa diukir custom, Mbak?” tanyaku pada pegawai toko.
“Bisa, Kak. Mau diukir apa?”
Aku berpikir lama. Aku memikirkan buku penghubung Wulan, dan kalimat yang dulu kuucapkan dengan iseng lalu dicuri Danny di teras, lalu kuambil kembali dengan pahit di bawah pohon beringin. Aku memikirkan dua ratus gelas kopi, daftar empat puluh tujuh lagu, dan remedial, harus diulang.
Lalu aku tahu.
“Diukir di bagian dalam,” kataku. “Satu kata. Pakai huruf kecil.”
“Kata apa, Kak?”
Aku tersenyum. “Lulus.”
Tugas terakhir, yang paling sulit, adalah waktu dan tempat.
Aku tahu Danny merencanakan wisuda. Aku tahu dari Wulan, walaupun dia sudah berusaha menutup mulut. Tapi aku tidak tahu jam berapa, di bagian acara yang mana, atau dengan cara apa.
Jadi aku butuh satu agen lagi, agen yang punya akses ke semua informasi wisuda: rundown, susunan acara, dan jadwal panggung.
Aku mengetuk pintu ruang kepala sekolah pada hari Kamis sore.
Bu Hartini sedang membaca, dan kali ini bukan novel pink. Novel yang dia baca bersampul biru muda, dengan gambar dua siluet di bawah hujan. Dia tidak menyembunyikannya di bawah map laporan keuangan waktu aku masuk. Dia hanya menutupnya pelan-pelan dan menaruhnya di meja dengan sampul menghadap ke atas.
“Bu Kinan,” katanya. “Duduk.”
Aku duduk.
“Saya tahu kenapa Ibu ke sini,” katanya sebelum aku sempat bicara.
“…Ibu tahu?”
“Ibu mau tahu rundown wisuda. Khususnya bagian yang Papa Wulan minta ke saya dua bulan lalu.” Bu Hartini melepas kacamatanya. “Iya, dia sudah minta izin. Iya, saya sudah kasih. Dan tidak, saya tidak akan kasih tahu Ibu jam berapa.”
Aku membuka mulut untuk protes.
“Tapi,” lanjut Bu Hartini, memakai kacamatanya lagi, “saya panitia wisuda, dan Ibu juga panitia wisuda. Kalau Ibu mengusulkan satu mata acara tambahan, misalnya persembahan lagu dari wali kelas TK B, saya sebagai ketua panitia tentu harus mempertimbangkannya secara profesional.”
Aku menatapnya dengan mulut setengah terbuka.
“Mata acara itu,” lanjut Bu Hartini dengan wajah sangat datar, “tentu harus diletakkan di rundown. Dan kebetulan, di rundown ini, ada satu slot kosong yang bisa diisi.” Dia mengeluarkan selembar kertas dari laci dan menyodorkannya padaku.
Itu rundown wisuda TK Pelangi Ceria. Di bagian bawah, di antara Penyerahan Ijazah dan Doa Penutup, ada satu baris kosong yang ditandai dengan pulpen merah.
10.55 — ………………
Di bawahnya, dengan tulisan tangan kecil dan rapi Bu Hartini, ada baris berikutnya yang sudah terisi:
11.00 — (Acara khusus. Rahasia. Jangan tanya.)
Aku menatap dua baris itu lama sekali. Pukul 10.55, kosong. Pukul 11.00, rahasia.
Lima menit sebelum Danny.
“Bu,” bisikku. “Ibu agen ganda.”
Bu Hartini mengambil novel biru mudanya dari meja dan membukanya lagi di halaman yang ditandai pita merah.
“Saya kepala sekolah,” katanya tanpa mengangkat kepala. “Saya harus adil ke semua pihak. Itu yang Ibu ajarkan ke saya lewat dua puluh buku penghubung.”
Dia membalik satu halaman.
“Oh, satu lagi, Bu Kinan.”
“Iya, Bu?”
“Adik saya.” Suaranya tiba-tiba lebih pelan. “Yang di Kalimantan. Saya kirim surat ke dia bulan lalu, pertama kali dalam dua puluh tahun. Saya ceritain soal Ibu, soal Papa Wulan, soal rapat komite. Soal dua surat yang dirobek.” Dia berhenti. “Dia balas minggu lalu.”
Aku menahan napas. “Terus, Bu?”
Bu Hartini mengangkat kepala dari novelnya. Matanya basah di balik kacamata tipis.
“Dia bilang dia mau datang. Ke wisuda. Mau lihat guru TK yang nggak kabur.”
Malam itu, di kamar, di bawah bintang-bintang glow-in-the-dark, aku membuka buku tulis bersampul batik yang dulu dipakai Ibu untuk mencatat utang tetangga. Buku itu sekarang milikku, karena Ibu bilang dia sudah tidak butuh, utang tetangga udah lunas semua, sekarang tinggal utang kamu nikah.
Di halaman pertama, aku menulis dengan huruf besar dan bulat:
RENCANA TANDINGAN
1. Tim: Tari, Mama Keysha, Mama Aurel, Mama Rafi, Bagas (agen ganda), Bu Hartini (agen ganda).
2. Cincin: emas putih, ukuran 19 (kayaknya), ukiran “lulus”. (Sudah dipesan. Jadi bulan Mei.)
3. Waktu: 10.55. Lima menit sebelum dia.
4. Tempat: panggung wisuda.
5. Lagu: lagu nomor 48. (Belum ditulis.)
Aku berhenti di nomor lima.
Lagu nomor empat puluh delapan. Daftarku berisi empat puluh tujuh lagu anak TK, dan sampai Juni nanti semuanya akan habis kunyanyikan di gerbang, satu per satu, dengan gombalan dan cengkok. Tapi lagu nomor empat puluh delapan harus berbeda. Lagu itu harus lagu terakhir. Bukan lagu anak TK dan bukan gombalan, tapi lagu yang kutulis sendiri, seperti lagu dengan rima yang dipaksa di teras dulu, hanya saja lebih bagus.
Aku menatap halaman kosong di bawah nomor lima lama sekali.
Lalu pintu kamarku diketuk pelan. Ketukannya bukan ketukan Ibu yang keras dan bukan ketukan Bapak yang tidak pernah terjadi. Ketukannya pelan dan kecil, di bagian bawah pintu, dekat lantai.
Aku membuka pintu.
Wulan berdiri di sana dengan piyama kelinci dan liontin bulan sabit, memeluk boneka kelinci bertelinga satu. Di belakangnya, di ujung koridor, Danny berdiri dengan wajah sangat minta maaf.
“Maaf,” bisik Danny. “Dia nggak mau tidur. Dia minta ke sini. Katanya ada urusan penting sama Bu Nanan. Aku udah bilang besok aja, tapi…”
“Aku agen,” kata Wulan dengan serius, menatapku dari bawah.
“Agen rahasia?”
“Agen ganda.” Dia melirik ke belakang, ke papanya, lalu kembali menatapku dan berbisik dengan suara yang sama sekali tidak berbisik. “Aku di tim Papa. Tapi aku juga di tim Bu Nanan.”
Aku berjongkok di depannya. “Siapa yang bilang Bu Nanan punya tim?”
“Om Bagas.” Wulan mengangguk. “Om Bagas bilang, Bu Nanan mau kasih Papa cincin. Om Bagas bilang, aku agen ganda juga, kayak Om Bagas.”
Di ujung koridor, Danny berhenti bergerak.
Aku menatap Wulan. Wulan menatapku balik dengan wajah polos, sama sekali tidak sadar bahwa dia baru saja membocorkan rahasia negara kedua di depan target utama.
Aku menoleh ke ujung koridor, pelan-pelan.
Danny berdiri di sana, di bawah lampu koridor rumahku, dengan kemeja yang kancingnya benar semua, mata yang melebar, dan mulut yang setengah terbuka.
“…Kamu mau kasih aku cincin?” tanyanya pelan.
Hening. Dari kamar sebelah, radar Ibu berbunyi dengan presisi militer:
“Kinan! Siapa yang di koridor? Danny? Jam sepuluh malam? Bawa Wulan? Ibu bikinin teh!”
Aku menatap Danny, dan Danny menatapku. Wulan menatap kami berdua bergantian dengan kepala miring, bingung kenapa orang dewasa tiba-tiba diam.
Lalu aku berdiri dan melipat tangan di dada. Aku memasang wajah paling polos yang bisa kubuat, wajah Mama Keysha kurang tinggi.
“Cincin apa?” kataku. “Nggak ada cincin.”
Danny menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya naik, usil dan hangat sekaligus.
“Oke,” katanya. “Nggak ada cincin.”
“Nggak ada permen juga?”
“Nggak ada permen juga.”
“Bagus.”
“Bagus.”
Kami saling tatap di koridor rumahku yang sempit, dengan Wulan di antara kami. Dua orang dewasa yang sama-sama menyembunyikan cincin di belakang punggung, dan sama-sama pura-pura tidak tahu cincin yang lain ada.
Dan untuk pertama kalinya, aku sadar: ini sudah bukan soal siapa yang melamar duluan. Ini lomba siapa yang bisa pura-pura paling lama.
Aku tidak punya rem, tapi aku juara bertahan tingkat RT empat tahun berturut-turut.
Aku tidak akan kalah.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan reading
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian