Chapter Twenty Five
Dua Surat Rahasia
POV: Sheila → Danny
Aku membaca novel pink Bu Hartini sampai habis dalam satu malam, Jumat malam, setelah telepon dengan Danny.
Aku terbangun pukul tiga pagi dengan HP di dada dan panggilan yang masih tersambung. Panggilan itu sudah berjalan dua jam empat belas menit. Di seberang tidak ada suara apa pun, hanya ketikan pelan yang terdengar samar dan berirama. Aku mendengarkan ketikan itu sebentar, lalu memutus panggilan pelan-pelan supaya tidak mengganggunya, dan menyalakan lampu meja.
Novel itu tentang seorang perawat yang jatuh cinta pada dokter duda. Tentu saja rumah sakit mereka punya komite etik. Tentu saja ada rapat panjang, dan tentu saja ada tokoh perawat senior yang jahat tapi ternyata cuma kesepian.
Di bab dua puluh tujuh, sang perawat mengajukan pindah ke rumah sakit lain. Diam-diam, tanpa bilang ke sang dokter, supaya sang dokter tidak kehilangan jabatannya sebagai kepala bangsal.
Aku berhenti di halaman itu lama sekali.
Lalu aku membaca bab dua puluh delapan, dan menangis. Bab dua puluh sembilan, menangis lebih keras. Di bab tiga puluh, sang dokter menemukan surat itu dan berlari ke stasiun kereta dengan jas dokter masih terpasang. Aku menangis sampai Ibu mengetuk dinding pukul setengah empat pagi.
“Kinan! Lagu religi!”
Aku menutup novel itu dan menatap langit-langit kamar yang ditempeli bintang-bintang glow-in-the-dark.
Diam-diam. Supaya dia tidak kehilangan.
Sabtu pagi, aku duduk di meja belajar dengan laptop dan kopi yang kubuat sendiri. Rasanya tidak seenak kopi Bang Jali, karena gulanya kebanyakan.
Aku membuka dokumen baru.
Draf pertama:
Kepada Yth. Pengurus Yayasan Pelangi Ceria,
Dengan hormat, saya yang bertanda tangan di bawah ini, Sheila Kinanti, guru TK B, dengan ini mengajukan permohonan mutasi ke cabang yayasan yang lain, karena saya jatuh cinta sama papa murid saya dan papa murid saya diam di rapat dan saya nggak tahu dia diam karena apa tapi saya yakin dia diam karena dia lagi menderita gara-gara saya dan…
Aku menghapusnya.
Draf kedua:
…dengan ini mengajukan permohonan mutasi karena alasan pribadi. Alasannya: saya nggak mau jadi alasan Wulan dibilang “kasihan” di grup WA. Saya nggak mau jadi alasan Papa Wulan menunduk di depan dua puluh satu orang tua. Saya nggak mau jadi alasan tiga surat keberatan, atau empat, atau lima. Saya nggak mau jadi…
Aku menghapusnya juga, karena air mataku menetes di keyboard dan tombol spasi jadi licin.
Draf ketiga:
Kepada Yth. Pengurus Yayasan Pelangi Ceria,
Dengan hormat,
Saya yang bertanda tangan di bawah ini, Sheila Kinanti, guru TK B TK Pelangi Ceria, dengan ini mengajukan permohonan mutasi ke cabang yayasan yang lain, terhitung mulai semester depan, dengan alasan pribadi.
Saya berharap dengan mutasi ini, suasana di TK B dapat kembali kondusif, dan seluruh anak didik, termasuk ananda Wulan, dapat melanjutkan pembelajaran dengan tenang.
Atas perhatian Bapak/Ibu, saya ucapkan terima kasih.
Hormat saya,
Sheila Kinanti
Aku membaca draf ketiga itu. Isinya rapi, profesional, dan tidak ada satu kata pun yang berteriak. Seperti surat yang ditulis orang lain, bukan aku.
Mungkin memang begitu. Mungkin untuk menulis surat seperti ini, aku harus jadi orang lain sebentar. Orang yang punya rem.
Logikanya sederhana. Aku sudah memikirkannya berulang kali dari jam empat pagi, dan setiap kali hasilnya sama.
Kalau aku pindah, masalahnya hilang. Tidak ada lagi guru yang punya hubungan pribadi dengan wali murid, tidak ada empat poin. Wulan bisa tetap di TK B bersama Rafi, Bima, Keysha, dan semua temannya. Dia tidak perlu mendengar nggak boleh setiap hari di ayunan. Mungkin dia juga tidak perlu melihat gurunya membuka tangan lalu menutupnya lagi di udara.
Danny tidak perlu berdiri di seberang jalan setiap pagi tanpa boleh menyeberang. Dia tidak perlu menunduk di depan dua puluh satu orang tua.
Dan kami, kami, bisa bersama di luar sekolah, tanpa pasal, tanpa poin, dan tanpa grup WA pukul empat lewat empat puluh lima pagi.
Aku akan kehilangan kelasku: dua puluh anak, gerbang, pohon ketapang, bangku kayu di bawahnya, Bu Tari, dan Bang Jali.
Tapi aku tidak akan kehilangan Wulan, karena aku sudah janji. Aku tetap Bu Nanan, di sekolah mana pun.
Dan aku tidak akan kehilangan Danny.
Kan?
Aku menatap draf ketiga. Jariku melayang di atas tombol cetak.
Aku ingat Danny di mobil, dengan kancing ketiga di lubang keempat, bertanya, Kalau kamu harus milih…
Aku bilang jangan, dan aku bilang nggak ada yang harus milih.
Aku menekan tombol cetak.
Printer di kamar Bagas berbunyi krek-krek-krek dengan keras, seperti printer rusak yang pernah ditirukan Danny di gerbang sekolah. Suara itu membuatku tertawa dan menangis sekaligus, sendirian di koridor rumah, dengan selembar kertas hangat di tangan.
“Kak?” Bagas muncul dari kamarnya dengan rambut acak-acakan dan headset di leher. “Ngeprint apa jam tujuh pagi?”
“Nggak.”
“Kak.”
“Nggak ada apa-apa, Gas.”
Bagas menatap kertas di tanganku. Aku cepat-cepat melipatnya jadi empat, tapi terlambat. Mata intelnya, yang bisa melacak alamat rumah orang dari data pengiriman paket, sempat membaca satu kata di bagian atas: mutasi.
Wajahnya berubah. “…Kak Kinan.”
“Gas, jangan bilang siapa-siapa.”
“Kak…”
“Gas.” Aku memegang bahunya. “Janji. Jangan bilang Ibu, Bapak, Dinda, atau grup. Dan jangan bilang Danny. Aku yang bakal bilang sendiri. Nanti. Setelah semuanya beres.”
Bagas menatapku lama. Adik laki-lakiku yang dua puluh empat tahun, pengangguran terselubung yang dibayar seblak.
“Kak,” katanya pelan. “Ini kayak di novel, ya? Yang ceweknya pergi diam-diam biar cowoknya nggak susah?”
Aku tidak menjawab.
“Kak, di novel, itu selalu jadi masalah paling besar.”
“Ini bukan novel, Gas.”
“Iya.” Bagas menunduk. “Makanya aku takut.”
Senin pagi, sebelum ke sekolah, aku mampir ke kantor yayasan di lantai dua ruko dekat pasar kecamatan dan menyerahkan amplop cokelat berisi selembar kertas ke meja resepsionis.
“Untuk Pak Wiryo,” kataku. “Rahasia, ya, Mbak.”
Resepsionis itu mengangguk dan menaruhnya di tumpukan surat masuk.
Aku turun tangga ruko, naik Si Pinky, dan memakai helm pink dengan stiker bintang. Motor itu batuk dua kali sebelum menyala, pertama kalinya dalam dua bulan.
“Pinky,” bisikku. “Kamu juga nggak setuju, ya?”
Si Pinky tidak menjawab. Tapi dia menyala, dan aku melaju ke sekolah tanpa menyanyi, pertama kalinya dalam enam tahun.
POV: Danny
TK Tunas Harapan berada di gang kecil di belakang minimarket, dua kilometer dari rumah. Gedungnya kecil, bercat oranye dan hijau, dengan halaman berpasir, dua ayunan, dan satu perosotan berbentuk jerapah. Tidak ada pohon ketapang.
Kepala sekolahnya bernama Bu Sri, enam puluhan tahun, gemuk, berkacamata tebal, dan memakai bros bunga matahari yang sangat besar di kerudungnya. Dia menyambutku Sabtu pagi di ruangannya dengan teh manis dan kue kering nastar.
“Jadi, Pak Danny,” katanya sambil membaca formulir pendaftaran online yang kukirim Jumat malam. Aku mengirimnya pukul tiga lewat sepuluh pagi, setelah Kinan tertidur di telepon dan aku duduk di meja makan menatap tombol biru itu selama satu jam penuh. “Ananda Wulan mau pindah dari TK Pelangi Ceria. Di tengah semester. Alasannya alasan keluarga.”
“Iya, Bu.”
Bu Sri melepas kacamata tebalnya dan menatapku.
“Pak. Saya sudah tiga puluh lima tahun jadi guru TK. Saya tahu alasan keluarga itu biasanya artinya apa.” Dia menaruh kacamatanya di meja. “Pindah rumah, atau orang tua cerai, atau anaknya dibully. Yang mana, Pak?”
Aku terdiam. “…Bukan yang mana-mana, Bu.”
“Terus?”
Aku menatap cangkir teh manis di depanku. Aku tidak tahu harus bilang apa. Saya jatuh cinta sama gurunya, dan gurunya bisa kehilangan kelasnya gara-gara saya, jadi saya pindahkan anak saya supaya gurunya aman.
Kalimat itu terdengar sangat masuk akal di kepalaku pukul tiga pagi. Di ruangan Bu Sri yang penuh gambar bunga matahari buatan anak-anak, di bawah tatapan mata tuanya yang tenang, kalimat itu tiba-tiba terdengar aneh.
“Saya cuma mau yang terbaik buat semuanya, Bu,” kataku akhirnya.
Bu Sri menatapku lama. Lalu dia memakai kacamatanya lagi, dan membuka laci untuk mengeluarkan map pendaftaran.
“Semuanya,” ulangnya pelan. “Hm. Oke. Bapak isi ini. Kami butuh surat keterangan pindah dari sekolah lama, rapor perkembangan, dan akta kelahiran. Kami bisa terima Ananda mulai Senin depan.”
“Senin depan?”
“Atau Pak mau lebih cepat?”
“…Senin depan, Bu. Nggak apa-apa.”
Aku mengisi formulir itu dengan pulpen yang Bu Sri pinjamkan. Aku menulis nama Wulan, nama Anin di kolom nama ibu, dan menulis almarhumah di sebelahnya dengan tangan yang tidak gemetar, karena aku sudah menulisnya berkali-kali selama tiga tahun.
Lalu aku berhenti di satu kolom kecil di bagian bawah.
Nama guru kelas sebelumnya:
Aku menatap kolom itu lama sekali.
Lalu aku menulis Bu Kinan. Setelah itu, entah kenapa, aku menambahkan dalam kurung kecil: (Wulan memanggilnya Bu Nanan).
Bu Sri membaca formulir itu setelah selesai. Dia berhenti di kolom itu dan membaca catatan dalam kurung. Lalu dia menatapku dari balik kacamata tebalnya dan tidak berkata apa-apa.
Hanya satu kata.
“Hm.”
Itu hm yang tidak bisa kubaca.
Aku menyerahkan berkas kepada bagian administrasi, membayar uang pangkal dan seragam, dan mengambil seragam TK Tunas Harapan berwarna oranye dan hijau, ukuran enam tahun, yang dibungkus plastik.
Aku menyembunyikan seragam itu di bagasi mobil, di bawah tikar piknik yang dulu dipakai untuk duel gombal di taman kota.
Sabtu sore, Wulan bertanya kenapa Papa pergi pagi-pagi.
“Urusan kerja, Lan.”
Itu bukan bohong, tapi juga bukan kebenaran. Itu setengah kebenaran, persis jenis kebenaran yang aku dan Kinan sepakati jam tiga pagi di sofa bahwa kami tidak akan pernah berikan ke Wulan.
Wulan mengangguk, lalu kembali mewarnai gambar di lantai ruang tengah. Gambar itu rumah dengan tiga orang di depannya: satu tinggi, satu sedang, satu kecil. Yang sedang punya rambut panjang dan jepit panda. Di langit di atas rumah, dia menggambar bulan sabit besar dengan krayon kuning.
Aku menatap gambar itu, lalu berjalan ke dapur supaya Wulan tidak melihat wajahku.
Aku merencanakan semuanya dengan rapi, seperti menulis kode.
Minggu sore, aku akan bicara dengan Kinan. Aku tidak akan bilang soal TK Tunas Harapan dulu, karena kalau aku bilang, dia akan menolak. Aku kenal dia. Dia akan bilang jangan, dan nggak ada yang harus milih. Dia akan bilang Wulan sayang kelasnya, dan dia akan menawarkan dirinya sendiri sebagai gantinya.
Jadi aku akan bilang sesuatu yang lain dulu. Sesuatu yang membuat semua orang tenang, yang membuat yayasan melihat bahwa hubungan pribadi itu tidak lagi jadi masalah, dan yang melindungi Kinan sampai keputusan yayasan keluar hari Kamis.
Aku akan bilang, kita jeda dulu.
Hanya sementara, sampai semuanya tenang. Setelah Wulan pindah dan settle di TK Tunas Harapan, setelah yayasan memutuskan Kinan tetap di TK B, setelah tidak ada lagi yang bisa menulis surat keberatan, baru aku akan menjelaskan semuanya. Dia akan marah, lalu mengerti, lalu kami akan kembali, tanpa pasal dan tanpa poin.
Rencana itu logis dan rapi, tanpa celah. Seperti kode yang sudah diuji tiga kali.
Aku menuliskannya di notes, di bawah daftar Dampak ke Kinan, di bawah satu baris terpisah tentang Wulan yang bukan murid Kinan lagi.
Rencana:
1. Wulan pindah. Senin depan. (Sudah daftar.)
2. Jeda dengan Kinan. Minggu sore.
3. Tunggu keputusan yayasan. Kamis.
4. Jelaskan semuanya setelah aman.
5. Kembali.
Aku menatap nomor lima lama sekali. Kembali. Rasanya seperti kata yang terlalu kecil untuk memikul semua yang ada di atasnya.
Minggu pagi, HP-ku berbunyi.
Pesannya dari Bagas. Bukan di grup keluarga gabungan, tapi pesan pribadi, dan belum pernah sebelumnya Bagas mengirimiku pesan pribadi.
Bagas: Kak Danny. Aku mau nanya sesuatu. Tapi aku udah janji sama Kak Kinan jangan bilang apa-apa.
Aku: Nanya apa, Gas?
Tanda sedang mengetik… muncul, hilang, muncul lagi, dan hilang lagi. Lama sekali, seperti pola ketikku sendiri kalau sedang ragu.
Bagas: Kak Danny nggak lagi rencana ngapa-ngapain kan? Yang kayak di novel? Yang diem-diem?
Aku menatap pesan itu. Di bagasi mobil, di bawah tikar piknik, seragam oranye dan hijau ukuran enam tahun masih terbungkus plastik.
Aku: Nggak, Gas.
Pesan itu terkirim dengan dua centang biru.
Bagas: Oke Kak. Syukurlah. Soalnya kalau dua-duanya diem-diem, nanti kayak novel beneran. Yang bab dua puluh tujuh sampai tiga puluh nangis semua.
Aku tidak mengerti maksud pesan terakhir itu. Kalau dua-duanya. Tapi aku tidak bertanya.
Aku menaruh HP di meja dan menatap foto di rak buku. Anin tertawa di pantai dengan rambut dikepang dua dan kalung bulan sabit yang sekarang dipakai Wulan setiap hari.
“Aku tahu apa yang aku lakuin, Nin,” kataku pelan.
Foto itu tidak menjawab.
“Ini beda. Ini bukan mundur. Ini… ngelindungin.”
Foto itu tetap tidak menjawab. Tapi aku bisa mendengar Anin menghela napas panjang dari tempat yang tidak ada PR dan tidak ada macet. Helaan napas yang sama dengan waktu aku menolak tawaran kerja di Singapura, dua belas tahun lalu.
Kamu pikir mundur itu melindungi, Dan. Padahal kadang orangnya cuma butuh kamu tetap di situ.
Aku berbalik dari foto itu. Aku menelepon Kinan dan mengajaknya bertemu Minggu sore, di taman kota, di bawah pohon beringin tempat duel gombal dulu.
Dia bilang iya dengan suara yang cerah, terlalu cerah, seperti suara orang yang juga sedang menyembunyikan sesuatu.
Aku tidak menangkapnya. Aku sedang sibuk menyembunyikan milikku sendiri.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia reading
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian