Chapter Twenty
Nilainya Berapa
POV: Sheila
Rumah itu sunyi pukul delapan malam, sunyi yang terasa aneh setelah seharian penuh suara.
Semua orang sudah pulang. Mama Rini dan Pak Harun pulang ke hotel, karena besok pagi mereka terbang kembali ke Surabaya. Ibu, Bapak, dan Bagas pulang naik mobil tetangga yang dipinjam. Oma Ratmi dijemput Dinda. Bu Tari pulang paling awal dengan mata sembab. Bang Jali membawa pulang termos kopi yang sudah kosong dan berkata, “Neng, besok kopinya dobel. Buat berdua.”
Wulan tidur di kamarnya dengan gaun ulang tahun yang belum diganti, mahkota kertas yang miring di bantal, dan liontin bulan sabit yang dia genggam erat dengan kedua tangan. Waktu aku menyelimutinya, dia menggumam setengah tidur, “Bu Nanan jangan pulang.”
“Bu Nanan bantu Papa beres-beres dulu, Sayang.”
“Janji jangan pulang.”
“Nanti Bu Nanan pulang, tapi besok datang lagi. Janji guru.”
Dia tersenyum dalam tidur dan menggenggam liontinnya lebih erat.
Ruang tengah masih penuh sisa pesta. Ada seratus dua puluh tujuh balon, sebagian besar masih menempel di langit-langit dan sebagian kempis di lantai. Ada remah kue di karpet, mahkota kertas yang tertinggal, dan satu pensil yang digigit Rafi sampai setengah.
Danny dan aku membereskannya dalam diam yang nyaman. Dia memunguti balon kempis, dan aku menyapu remah kue. Sesekali tangan kami bersentuhan waktu mengambil benda yang sama, dan sesekali dia menatapku dari seberang ruangan lalu cepat-cepat berpaling ketika aku balik menatap.
Di rak buku, rumah kardus merah muda masih berdiri di tempatnya. Seseorang, mungkin Wulan, sudah menaruh stiker bintang di atap kamar Papa, tepat di atas dua bantal kapas.
Aku mengambil satu balon hijau yang masih utuh dari lantai, lalu memeluknya tanpa berpikir.
DOR.
Balon itu meletus di pelukanku.
Aku menjerit kecil. Danny, di seberang ruangan, menoleh dengan kaget. Kami saling tatap selama dua detik, lalu kami berdua tertawa, pelan dan tertahan supaya Wulan tidak bangun, sampai aku terduduk di karpet dengan sisa balon hijau di pangkuan.
“Balon yang hijau,” bisik Danny di sela tawa.
“Meletus,” bisikku balik. “Hatiku meletus beneran.”
“Hatimu aman?”
Aku menatapnya dari lantai. Dia berdiri di tengah ruang tengah dengan kantong plastik berisi balon kempis, kemeja yang lengannya digulung, dan rambut sedikit berantakan karena seharian diserbu dua puluh anak TK. Senyumnya pelan dan hangat.
“Nggak,” jawabku jujur. “Dari hari pertama, nggak pernah aman.”
Kami duduk di teras depan setelah semuanya selesai, di anak tangga yang sama tempat kami duduk waktu mati lampu malam itu.
Lampu teras menyala. Dia sudah mengganti bohlamnya minggu lalu, katanya supaya tidak berkedip lagi. Lampunya kuning hangat, dan di bawahnya ada dua gelas teh yang dia buat. Kali ini tehnya tidak tumpah.
Malam itu cerah. Bulan tinggal sehari lagi menuju purnama dan menggantung besar di atas atap-atap rumah kompleks. Jangkrik berbunyi, dan jauh di ujung jalan sebuah mobil lewat pelan.
Kami duduk bersebelahan. Bahuku menempel di bahunya, dan tangan kami bertautan di atas lututnya.
“Kinan.”
“Hm?”
“Di kondangan, aku minta satu lagu. Buat papanya sendiri.”
Aku ingat. Teras belakang gedung serbaguna yang bau sop kambing. Kalau gitu, papanya minta satu lagu. Buat dia sendiri. Nanti. Kalau kamu udah siap.
“Kamu masih inget?”
“Aku tulis di notes.”
Aku tertawa pelan. Tentu saja dia menulisnya di notes.
Aku menatap bulan yang hampir purnama. Lalu aku melepaskan tanganku dari tangannya, menarik napas, dan menoleh padanya.
“Aku udah siap,” kataku. “Aku udah siapin dari minggu lalu. Tapi ini bukan lagu orang lain, Danny. Ini lagu aku sendiri. Liriknya jelek. Nadanya aku bikin sendiri di kamar mandi.”
“Nggak apa-apa.”
“Nggak ada cengkoknya.”
Dia mengangkat alis. “Kinan nyanyi tanpa cengkok?”
“Khusus buat kamu.”
Dia diam. Lalu dia memutar badannya sedikit supaya bisa menatapku sepenuhnya, dengan lutut hampir menyentuh lututku, di bawah lampu teras yang kuning dan tidak lagi berkedip.
Aku menyanyi, pelan, hampir berbisik, dengan suara yang tidak pernah kupakai di panggung mana pun. Nadanya sederhana, seperti lagu pengantar tidur.
Jam sebelas siang, kamu datang terlambat,
kancingmu salah, alarmmu nyasar ke malam.
Aku tanya hal bodoh di bawah ketapang,
kamu ketawa, dan aku lupa jalan pulang.
Nggak usah jadi bulan, nggak usah jadi bintang,
cukup jadi kamu yang telat satu ketukan.
Kalau kamu lupa, biar aku yang hitung,
satu, dua, tiga… sampai kamu nggak takut.
Suaraku pecah di baris terakhir. Aku berhenti, menelan ludah, dan melanjutkan bait penutup yang kutulis jam dua pagi di kamar mandi dengan air keran menyala supaya Ibu tidak dengar:
Lampumu nyala, jalanmu lurus,
aku ngebut, tapi aku tahu harus pulang ke mana.
Ke rumah kardus, dua bantal kapas,
ke kamu, ke Wulan… ke kita.
Lagu itu selesai. Jangkrik masih berbunyi, dan bulan masih menggantung.
Aku tidak berani menatapnya. Aku menatap gelas teh di anak tangga, dengan wajah yang terasa panas sampai ke ubun-ubun.
“Jelek, kan,” bisikku. “Aku udah bilang liriknya jelek. Kapas sama lurus nggak rima. Aku maksa.”
Dia tidak menjawab.
Aku akhirnya menoleh, dan dia sedang menatapku.
Matanya basah. Bukan menangis, hanya basah, memantulkan lampu teras yang kuning. Wajahnya diam, dan bibirnya sedikit terbuka, seperti orang yang baru mendengar sesuatu yang tidak dia tahu sangat dia butuhkan.
“Danny?”
“Kamu tanya tadi,” katanya pelan. Suaranya serak. “Di dapur. Kamu yakin?”
Aku menahan napas.
“Aku yakin, Kinan.” Dia mengangkat tangannya dan menyentuh pipiku, bukan untuk mengusap remah kerupuk atau krim kue, hanya menyentuh. “Aku yakin dari hari kedua, jam empat pagi. Aku yakin waktu kamu datang pakai masker mentimun. Aku yakin waktu kamu nyapa Anin di depan rak buku. Dan aku yakin sekarang, waktu kamu nyanyi lagu yang rimanya dipaksa.”
Aku tertawa kecil. Tertawa sambil menangis, seperti biasa.
“Rimanya jelek,” bisikku.
“Rimanya sempurna.”
Ibu jarinya bergerak pelan di pipiku, lalu dia mencondongkan badan.
Aku sudah dua puluh delapan tahun hidup di dunia. Aku sudah menonton ratusan adegan ciuman di drama Korea sampai jam dua pagi. Aku sudah membayangkan bagaimana rasanya, ciuman pertama dengan laki-laki yang benar-benar kucintai, ribuan kali, dengan berbagai latar: di bawah hujan, di bandara, di atas bianglala, di pantai saat matahari terbenam.
Aku tidak pernah membayangkan teras rumah di kompleks perumahan, dengan jangkrik, sisa balon kempis di kantong plastik di sebelah kami, dan dua gelas teh yang mulai dingin.
Ternyata itu tidak penting sama sekali.
Dia menciumku pelan, sangat pelan, seperti waktu dia menyentuh kepangan Wulan di hari pertama. Seperti orang yang takut sesuatu akan pecah, dan juga takut sesuatu akan hilang kalau dia terlalu lama menunggu.
Bibirnya hangat, dan sedikit gemetar.
Aku memejamkan mata. Tanganku, tanpa kusuruh, meraih kemejanya di dada dan menggenggamnya, tepat di atas kancing ketiga. Kancingnya, aku sempat memeriksanya pagi tadi, terpasang dengan benar.
Dunia berhenti. Jangkrik, bulan, lampu teras, semuanya lenyap. Yang ada hanya napasnya dan napasku, dan jantungku yang berdetak seperti kendang di acara sunatan, di acara nikahan, di acara apa pun di mana ada kendang.
Waktu dia menarik diri, pelan, dahinya masih menempel di dahiku. Napas kami masih bercampur, dan mata kami sama-sama masih setengah terpejam.
Lalu dia berbisik, dengan suara serak dan sudut bibir yang pelan-pelan naik, usil dan hangat sekaligus:
“Nilainya berapa?”
Aku membuka mata.
Dia menatapku dari jarak dua senti, dengan senyum paling usil yang pernah kulihat di wajahnya. Itu kalimatku. Kalimat yang kuucapkan di buku penghubung di minggu pertama, dan di bawah pohon ketapang waktu dia menolakku. Sekarang dia mengembalikannya padaku, di teras rumahnya, dua detik setelah ciuman pertama kami.
Laki-laki yang dulu kalah lima ronde duel gombal, yang dijuluki wifi putus oleh adiknya sendiri, akhirnya berhasil membalas.
Aku tertawa. Tawa itu pecah begitu saja, dengan dahiku masih menempel di dahinya dan mata basah, sampai bahuku berguncang.
“Kamu,” bisikku di sela tawa, “nyuri kalimatku.”
“Pinjam.”
“Itu punyaku.”
“Nanti aku kembaliin.” Senyumnya makin lebar. “Tapi jawab dulu. Nilainya berapa?”
Aku menatapnya. Lampu teras memantul di matanya. Telinganya merah, tentu saja, dan pipinya juga. Jelas dia sama gugupnya denganku, walaupun pura-pura tenang.
Aku menarik napas, lalu memasang wajah guru TK paling serius yang bisa kubuat.
“Remedial,” kataku.
Senyumnya membeku. “…Remedial?”
“Remedial,” ulangku, dengan nada guru yang sedang menilai ulangan. “Harus diulang.”
Dia menatapku lama. Lalu dia mengerti, dan matanya menyipit jadi dua garis melengkung seperti waktu hari pertama dia minta maaf karena terlambat.
“Harus diulang,” ulangnya pelan.
“Sampai bisa.”
“Berapa kali?”
“Sampai nilainya bagus.”
Dia tertawa pelan, tawa yang bergetar di wajahku. Lalu dia mengulang.
Kali ini tidak terlalu pelan, dan tidak ragu. Tangannya naik ke tengkukku, di bawah cepolan yang sudah setengah lepas, dan menarikku lebih dekat. Aku melingkarkan tanganku di lehernya, dan kami berciuman lagi di anak tangga teras, di bawah lampu yang menyala dan tidak lagi berkedip. Kali ini lebih dalam, lebih lama, dan lebih yakin, seperti dua orang yang sudah cukup lama menunggu dan akhirnya berhenti menghitung.
Waktu kami akhirnya berhenti, napasku habis. Rambutku sudah lepas sepenuhnya dari cepolan, dan jepit panda jatuh entah di mana di anak tangga.
“Nilainya?” bisiknya, dengan suara yang lebih serak dari sebelumnya.
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menyandarkan dahiku di bahunya dan tertawa tanpa suara, dengan napas terengah dan jantung yang, aku yakin, bisa didengar sampai ujung jalan.
“Kinan?”
“Masih remedial,” gumamku di bahunya.
“Serius?”
“Serius. Kamu harus sering-sering latihan.”
Dia tertawa. Kali ini keras, lepas, di teras rumahnya, sampai dia harus menutup mulut dengan tangan supaya Wulan tidak bangun. Aku mencatat tawa itu di kepalaku seperti biasa, sebagai tawa Danny yang lepas, yang selalu terasa seperti hadiah.
Malam ini, aku dapat dua hadiah sekaligus.
Kami duduk di teras lama sekali setelah itu. Dia memelukku dari samping, dan aku bersandar di dadanya. Teh kami sudah benar-benar dingin, dan bulan sudah pindah sedikit ke barat.
“Danny.”
“Hm?”
“Waktu kamu bilang nilainya berapa, itu kamu latihan juga?”
Hening sebentar.
“…Dua hari,” akunya.
“Di depan foto Anin?”
“Di depan cermin kamar mandi.” Dia menunduk dan mencium puncak kepalaku. “Di depan foto Anin rasanya nggak sopan.”
Aku tertawa sampai perutku sakit.
Pukul sembilan lewat, aku harus pulang. Ibu sudah mengirim tiga pesan, dan pesan ketiganya berbunyi: Kinan. Ibu nggak marah. Ibu cuma mau tahu kamu masih hidup.
Danny mengantarku sampai ke pagar, tempat Si Pinky diparkir. Dia memakaikan helm pink dengan stiker bintang di kepalaku, mengencangkan talinya yang putih dan kokoh, dan memeriksanya dua kali, seperti waktu dia memeriksa kancing kemejanya sendiri.
“Hati-hati,” katanya.
“Iya.”
“Jangan nyanyi di jalan.”
“Nggak janji.”
Dia tersenyum. Lalu dia membungkuk sedikit dan mencium keningku sekali lagi, di balik kaca helm yang terbuka.
“Selamat malam, Kinan.”
“Selamat malam, Danny.”
Aku menyalakan Si Pinky. Motor itu menyala di percobaan pertama, tanpa batuk, seperti ikut merestui.
Waktu aku memutar motor, lampu depan Si Pinky menyapu jalan kompleks yang gelap. Sekilas, di ujung jalan dekat pos ronda, aku melihat sebuah mobil kecil berwarna putih terparkir dengan mesin menyala dan lampu mati.
Aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku hanya melihat, dalam sepersekian detik, sesuatu berkedip di balik kaca depan mobil itu. Kilatan kecil berwarna putih, seperti lampu kilat kamera HP, atau mungkin hanya pantulan lampu Si Pinky di kaca.
Kunang-kunang, pikirku tanpa berpikir, lalu tertawa pada diriku sendiri, karena mana ada kunang-kunang di kompleks perumahan.
Mobil putih itu menyalakan lampunya, berbelok pelan, dan menghilang di tikungan.
Aku melaju pulang dengan helm pink dan bibir yang masih terasa hangat, menyanyikan lagu yang kutulis sendiri di kamar mandi, keras-keras, dengan rima yang dipaksa, di sepanjang jalan yang lampunya menyala.
Aku tidak menoleh ke belakang. Aku tidak berpikir tentang mobil putih itu lagi malam itu.
Aku baru mengingatnya dua hari kemudian, pukul empat lewat empat puluh lima pagi, waktu HP-ku bergetar di bawah bantal dengan satu notifikasi dari grup WALI MURID TK B PELANGI CERIA 🌈.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa reading
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian