← Berkembang Sangat Baik

Chapter Thirty Seven

Ziarah

POV: Danny


Anin dimakamkan di pemakaman umum di pinggir kota, di bukit kecil yang menghadap sawah. Dari atas bukit itu, kalau cuaca cerah, kita bisa melihat gunung di kejauhan, biru dan samar seperti lukisan cat air.

Anin yang memilih tempat itu sendiri. Dia memilihnya di hari-hari terakhir di rumah sakit, dengan suara yang tinggal bisikan. Dia bilang, Dan, aku nggak mau di tempat yang sempit. Aku mau lihat gunung. Biar kalau kamu datang, kamu lihat gunung juga, bukan cuma lihat aku.

Aku datang ke sana setiap bulan selama tiga tahun. Kadang dengan Wulan, lebih sering sendirian. Aku membersihkan rumput liar, menaruh bunga, duduk sebentar, lalu pulang. Aku tidak pernah bicara banyak di sana. Aku tidak tahu harus bilang apa ke batu nisan.

Kamis sore, dua hari sebelum wisuda, aku datang bertiga.


Wulan duduk di kursi belakang mobil dengan gaun kuning dan kepang dua. Rambutnya dikepang Kinan pagi tadi di gerbang TK, dengan jepit bintang di ujung kepang kanan. Di pangkuannya ada buket kecil bunga kenanga yang dia pilih sendiri di pasar kembang. Dia memilih kenanga karena “Mama suka wangi yang kayak Oma”.

Kinan duduk di kursi penumpang di sebelahku dengan gamis hijau muda, kerudung putih, dan tangan yang tidak berhenti meremas ujung kerudungnya.

“Kinan.”

“Hm?”

“Kamu gugup.”

“Nggak.”

“Kamu udah remas ujung kerudungmu dari tadi. Sekarang udah kusut.”

Dia menunduk dan menatap ujung kerudungnya yang memang sudah kusut seperti kertas yang diremas-remas. Dia melepaskannya pelan-pelan.

“…Iya, aku gugup,” akunya. “Aku belum pernah ketemu dia. Maksudku, ketemu beneran, bukan lewat foto di rak buku.”

“Kamu udah nyapa dia di rak buku.”

“Itu beda. Itu di rumah kamu. Ini…” Dia menatap ke luar jendela, ke sawah yang mulai menguning. “Ini rumah dia.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya mengulurkan tangan kiriku dari setir dan menggenggam tangannya yang tadi meremas kerudung.

“Dia bakal suka sama kamu,” kataku.

“Kamu yakin?”

“Dia udah bilang di surat.” Aku tersenyum. “Dia bilang, kalau dia tahan sama kamu yang telat terus dan salah kancing terus, dia pasti orang yang sangat sabar.”

Kinan menatapku lama. Lalu dia tertawa pelan dan basah.

“Kamu belum bacain aku bagian itu.”

“Sekarang udah.”

“Ada bagian lain yang belum kamu bacain?”

“Ada.”

“Apa?”

“Rahasia negara.”

Dia memukul lenganku pelan, dan aku tertawa. Di kursi belakang, Wulan berteriak, “Papa! Bu Nanan! Jangan beltengkal di jalan! Nanti nablak!”


Kami berjalan menyusuri jalan setapak di antara makam-makam, menaiki bukit kecil, dengan Wulan berlari di depan membawa buket kenanga yang dia angkat tinggi-tinggi seperti obor.

Makam Anin ada di dekat puncak bukit, di bawah pohon kamboja tua yang bunganya putih dan kuning. Batu nisannya sederhana, dari marmer abu-abu, dengan tulisan yang sudah sedikit pudar kena hujan tiga tahun:

Anindya Rahmawati
Binti Suparman

Di bawahnya, tanggal lahir dan tanggal wafat. Di bawah tanggal itu, kalimat yang Anin minta sendiri, yang dia tulis di kertas dan dia serahkan ke Oma Ratmi:

Tahu jalan pulang, walaupun gelap.

Wulan sampai duluan. Dia berhenti di depan nisan, menaruh buket kenanga di atas gundukan tanah, lalu duduk bersila di rumput, tepat di depan batu nisan, seperti murid yang duduk di depan guru.

“Assalamualaikum, Mama,” katanya dengan suara jelas dan lantang.

Aku berhenti di belakangnya. Kinan berhenti di sebelahku, lalu menggenggam lenganku.

“Mama, aku mau lapolan,” lanjut Wulan dengan serius. Dia membuka buku catatan kelinci yang ternyata dia bawa di saku gaun kuningnya. “Laporan pertama. Lusa aku wisuda. Aku pakai toga biru muda. Togaku kebesalan, tapi udah dipotong dua puluh senti sama Mama Aurel.”

Kinan menutup mulut dengan tangan.

“Laporan kedua. Lafi makan lumbai toga. Wainanya kuning, kayak mi. Bu Tali marah, tapi nggak beneran marah. Bu Tali cuma pula-pula.”

“Laporan ketiga. Papa Bima kentut lagi di masjid. Ini keempat kali. Bu Nanan udah bilang di buku penghubung supaya Papa Bima dipelikkan ke doktel.”

Aku menunduk dan menahan tawa. Di sebelahku, bahu Kinan bergetar.

“Laporan keempat,” kata Wulan, membalik halaman buku catatannya. “Papa bisa naik Pinky. Papa jatuh delapan kali. Tapi sekalang Papa bisa bonceng Bu Nanan keliling kompleks. Kecepatannya dua puluh.”

“Laporan kelima. Papa bisa bikin panda yang nggak capek. Aku kasih nilai sembilan.”

Dia berhenti sebentar dan menatap batu nisan dengan wajah serius.

“Laporan keenam,” katanya, lebih pelan. “Kalung Mama. Aku pakai tiap hali. Ke sekolah, ke lumah Oma, ke pasal. Waktu tidul juga. Kata Oma, Mama kasih bial aku tahu jalan pulang.” Dia menyentuh liontin bulan sabit di dadanya. “Aku tahu jalan pulang, Mama. Jalan pulangnya ke lumah. Ada Papa, ada Bu Nanan, ada lumah kaldus. Dua bantal.”

Kinan berhenti bernapas di sebelahku. Tangannya mencengkeram lenganku lebih erat.

Wulan membalik halaman terakhir buku catatannya.

“Laporan ketujuh,” katanya, lalu tiba-tiba berhenti.

Dia menatap buku catatannya lama. Lalu dia menoleh ke belakang, menatapku, menatap Kinan, lalu kembali ke batu nisan. Dia mencondongkan badannya ke depan, dekat sekali dengan batu nisan, dan menutup mulut dengan satu tangan.

Dia berbisik. Kali ini benar-benar berbisik, sangat pelan, sampai aku dan Kinan yang berdiri dua langkah di belakangnya tidak bisa mendengar apa pun.

Bisikannya lama, mungkin satu menit, mungkin lebih. Sesekali dia mengangguk, seperti sedang mendengarkan jawaban.

Waktu dia selesai, dia menegakkan badan, menutup buku catatannya, dan menepuknya dua kali.

“Itu lahasia tim aku sendili,” katanya ke batu nisan dengan suara normal. “Mama jangan bilang Papa. Jangan bilang Bu Nanan juga, ya.”

Dia berdiri, membersihkan rumput dari gaun kuningnya, lalu berbalik menatap kami berdua.

“Udah,” katanya. “Giliran Papa.”


Aku jongkok di depan nisan. Wulan pindah ke sebelah Kinan, menggenggam tangannya, dan berdiri di belakangku.

Aku mulai membersihkan rumput liar di sekitar gundukan tanah, seperti biasa. Aku mencabutnya satu per satu, dengan pelan, dan membuangnya ke samping. Tanganku bergerak otomatis, seperti tiga tahun terakhir. Aku tidak bicara.

Lalu aku berhenti.

Tiga tahun aku datang ke sini dan tidak pernah bicara banyak. Aku tidak tahu harus bilang apa ke batu nisan. Aku pikir itu karena aku bukan orang yang pandai bicara. Aku orang yang menulis daftar dan kode, bukan orang yang bicara.

Tapi hari ini aku sadar bukan itu alasannya. Aku tidak bicara karena aku tidak punya apa-apa untuk dilaporkan. Tiga tahun, setiap bulan, laporanku selalu sama. Wulan sehat. Aku kerja. Semua baik-baik aja. Itu setengah kebenaran. Hidup yang berhenti, dan aku sebut setia.

Hari ini aku punya laporan.

“Nin,” kataku pelan.

Angin bertiup dari arah sawah, dan bunga kamboja jatuh satu dari pohon di atas kami ke atas batu nisan.

“Aku udah baca suratmu. Oma kasih, setelah dia bilang boleh.”

Aku menarik napas.

“Kamu bilang jangan ceritain dia soal kamu terus-terusan. Jangan bandingin.” Aku tersenyum kecil. “Aku nggak pernah bandingin, Nin. Dia beda banget sama kamu. Kamu tenang, dia berisik. Kamu pikir dulu baru ngomong, dia ngomong dulu baru pikir. Kamu suka lihat gunung, dia suka nyanyi dangdut di lampu merah.”

Di belakangku, Kinan tertawa pelan dan basah.

“Tapi kalian sama dalam satu hal,” lanjutku. “Kalian berdua nggak bisa lihat aku mundur.”

Aku merapikan buket kenanga yang tadi ditaruh Wulan, dan meletakkannya lebih dekat ke batu nisan.

“Kamu bilang kalau aku mulai mundur, Oma yang dorong. Oma dorong, Nin. Dia rebut HP-ku, bacain daftar Dampak ke Kinan keras-keras di meja makan, di depan Mama sama Papa.” Aku tertawa pelan. “Terus dia suruh aku bikin daftar Kemungkinan Terbaik. Terus Wulan ngetik nomor lima.”

Aku berhenti sebentar dan menatap tulisan di batu nisan. Tahu jalan pulang, walaupun gelap.

“Nin, lusa aku mau nikahin dia.” Suaraku mulai bergetar, dan aku membiarkannya. “Di panggung wisuda Wulan, jam sebelas. Aku udah cek kancingku tiga kali, sesuai perintahmu. Dan lampunya udah aku pasang. Bentuknya bulan sabit sama bintang, buat Wulan sama dia.”

Angin bertiup lagi. Bunga kamboja kedua jatuh di atas batu nisan, di sebelah yang pertama.

“Aku mau bilang terima kasih,” kataku pelan. “Buat tujuh tahun. Buat Wulan. Buat nama Wulan. Buat kalung. Buat surat. Buat nyuruh Oma dorong aku.” Aku menelan ludah. “Buat bilang selamanya-ku sudah selesai, selamanya-mu belum.”

Aku menyentuh batu nisan itu dengan telapak tanganku. Marmernya dingin, tapi di bawah sinar matahari sore, sedikit hangat.

“Aku nggak mundur, Nin,” bisikku. “Akhirnya.”


Aku berdiri dan mundur satu langkah. Aku menatap Kinan.

Kinan melepaskan tangan Wulan dan berjalan ke depan, pelan, seperti orang yang masuk ke rumah orang lain untuk pertama kalinya. Dia jongkok di depan batu nisan, di tempat aku tadi jongkok.

Dia tidak langsung bicara. Dia mencabut beberapa rumput liar yang tertinggal di sudut, rumput-rumput kecil yang tadi kulewatkan. Dia mengambil dua bunga kamboja yang jatuh di atas batu nisan dan meletakkannya di sebelah buket kenanga. Dia mengeluarkan tisu basah dari saku gamisnya, karena guru TK selalu membawa tisu basah, bahkan ke makam, lalu mengelap debu dan bekas air hujan di permukaan batu nisan, pelan dan hati-hati, sampai tulisan di atasnya terlihat lebih jelas.

Tahu jalan pulang, walaupun gelap.

Lalu dia duduk bersila di rumput, di tempat Wulan tadi duduk.

“Assalamualaikum, Mbak,” katanya pelan.

Hening. Angin bertiup dari sawah.

“Ini Kinan. Yang di rak buku. Yang nyapa Mbak waktu Mas Danny lagi bikin teh di dapur, terus tehnya tumpah setengah.”

Aku tertawa pelan di belakangnya.

“Maaf saya baru datang sekarang, Mbak. Seharusnya dari dulu. Tapi saya takut.” Dia berhenti sebentar. “Saya nggak tahu harus bilang apa ke orang yang udah kasih saya semua yang saya sayang. Anak Mbak, suami Mbak, bahkan kalung Mbak, yang sekarang dipakai Wulan tiap hari.”

Wulan, di sebelahku, menyentuh liontinnya.

“Mas Danny tadi bilang saya beda banget sama Mbak,” lanjut Kinan. “Itu bener. Saya berisik, saya nggak punya rem, dan saya nanya dia udah beristri atau belum di hari pertama sekolah.” Dia tertawa kecil. “Mbak pasti udah lihat dari atas. Maaf, ya, Mbak. Itu mulut saya jalan sendiri.”

Dia menatap batu nisan lama.

“Tapi saya mau janji satu hal ke Mbak. Bukan janji guru, soalnya itu udah saya kasih ke Wulan. Ini janji yang lain.”

Dia mencondongkan badan ke depan, dekat sekali dengan batu nisan, seperti Wulan tadi.

Lalu dia berbisik, dan aku tidak bisa mendengarnya.

Aku berdiri dua langkah di belakang, dan aku tidak bisa mendengar apa pun selain angin dan gemerisik daun kamboja. Bisikannya tidak lama, mungkin setengah menit. Tapi di tengah bisikan itu, bahunya bergetar sekali, dan tangannya naik mengusap matanya.

Waktu dia selesai, dia meletakkan telapak tangannya di atas batu nisan, di tempat yang sama dengan telapak tanganku tadi.

“Makasih, Mbak,” katanya dengan suara normal. “Buat semuanya.”

Dia berdiri dan membersihkan rumput dari gamis hijaunya. Dia berbalik, dan matanya merah, tapi dia tersenyum.


“Bu Nanan tadi bisik apa ke Mama?” tanya Wulan waktu kami berjalan turun bukit, dengan tangan kiri di tanganku dan tangan kanan di tangan Kinan, berayun-ayun di antara kami.

“Rahasia,” kata Kinan.

“Tim siapa?”

“Tim Bu Nanan sendiri.”

Wulan mengangguk puas, seolah itu jawaban yang sangat masuk akal. Lalu dia menoleh padaku. “Papa tadi dengal?”

“Nggak.”

“Bagus.” Wulan tersenyum. “Soalnya aku dengal.”

Aku berhenti di tengah jalan setapak. Kinan juga berhenti.

“Kamu dengar?” tanya Kinan dengan mata lebar.

“Aku kan di sebelah Papa, Bu Nanan. Papa telinganya nggak bagus. Aku telinganya bagus.” Wulan mengangkat bahu. “Aku agen.”

“Wulan,” kata Kinan pelan. “Itu rahasia Bu Nanan sama Mama kamu.”

“Iya. Aku nggak bilang Papa.” Wulan menatapku dengan wajah polos. “Tapi Papa, Bu Nanan tadi bilang ke Mama…”

“Wulan!” Kinan menutup mulut Wulan dengan satu tangan, panik, tertawa, dan menangis sekaligus.

Wulan tertawa di balik tangan Kinan. Dia menggeliat, dan Kinan menggelitiki pinggangnya. Wulan menjerit tertawa dan lari ke depan, menuruni bukit, dengan gaun kuning dan kepang dua yang berayun-ayun, lalu menoleh ke belakang sambil berteriak:

“Bu Nanan bilang ke Mama, dia bakal sayang Papa sampai Papa nggak telat lagi!”

Hening.

Aku menatap Kinan. Kinan membeku di jalan setapak, dengan tangan masih terangkat di udara, bekas menutup mulut Wulan. Wajahnya merah dari pipi sampai telinga, lalu sampai leher.

“Itu…” katanya. “Itu parafrase. Wulan parafrase. Aslinya lebih panjang. Dan lebih… lebih bermartabat.”

“Sampai aku nggak telat lagi,” ulangku pelan.

“Danny…”

“Kinan.” Aku mendekat satu langkah. “Aku telat terus. Seumur hidup. Hari pertama, rapat komite, sampai kemarin aku telat nyambung kabel dua jam.”

“…Aku tahu.”

“Jadi sampai aku nggak telat lagi itu artinya…”

Dia menatapku dengan wajah merah dan mata basah, di jalan setapak di antara makam-makam, dengan gunung biru samar di kejauhan dan bunga kamboja yang berguguran.

“Artinya selamanya,” katanya pelan. “Iya. Aku tahu. Itu maksudku.”

Aku tidak bisa bicara.

Di ujung jalan setapak, di dekat gerbang pemakaman, Wulan berhenti berlari dan berbalik menatap kami dari bawah bukit.

“PAPA! BU NANAN! AYO PULANG! NANTI GELAP!”

Kinan tertawa. Tertawa sambil menangis, di jalan setapak, dengan tangan menutup muka.

Aku mengambil tangannya dari wajahnya dan menggenggamnya.

“Nggak apa-apa kalau gelap,” kataku.

Dia menatapku.

Aku menoleh sekali ke belakang, ke puncak bukit, ke pohon kamboja dan batu nisan marmer abu-abu yang sekarang bersih, dengan buket kenanga, dua bunga kamboja, dan tulisan yang lebih jelas.

“Kita tahu jalan pulang,” kataku.

Kami turun bukit bergandengan tangan, menuju anak perempuan bergaun kuning yang menunggu di gerbang, dengan liontin bulan sabit yang berkilau kena sinar matahari terakhir sore itu.

Di belakang kami, angin bertiup dari sawah, dan bunga kamboja ketiga jatuh pelan ke atas batu nisan.