Chapter Fourteen
Tim Sukses
POV: Danny
Pukul dua siang hari Rabu, HP-ku bergetar dengan notifikasi yang belum pernah kulihat sebelumnya:
Oma Ratmi menambahkan Anda ke grup “TIM SUKSES DANNY–KINAN 💚🐼”.
Aku menatap layar itu dengan kode setengah jadi di laptop dan kopi dingin di sebelahnya.
Grup itu punya dua belas anggota: Oma Ratmi (admin), Mama, Papa, Dinda, Ibu Yati, Pak Darto, Bagas, Bu Tari, Bang Jali (Bang Jali?), dan dua nomor yang tidak kukenal. Belakangan aku tahu itu Pak RT 04 dan Bu Haji Sumi.
Lalu aku.
Grup itu dibuat tiga minggu lalu, sehari setelah lomba kerupuk, dan riwayat obrolannya bisa kubaca semua.
Aku menggulir ke atas. Sebagai orang yang menghabiskan hidup membaca log error, aku tahu cara membaca riwayat panjang dengan cepat. Tapi log ini membuatku berhenti setiap tiga detik.
Oma Ratmi: Assalamualaikum. Grup ini dibuat untuk membantu Danny supaya tidak mundur. Mohon kerja samanya. 🙏
Ibu Yati: Waalaikumsalam Bu Ratmi! Siap! Kinan juga jangan sampai kabur!
Mama: DANNY ITU KALAU DIBIARIN SUKA MIKIR KELAMAAN. HARUS DIDORONG.
Dinda: Setuju Ma. Kak Danny itu slow loading.
Bagas: Kak Kinan kebalikannya. Kecepatan penuh tanpa rem.
Dinda: Wkwkwk pas.
Bagas: Iya kan.
Dinda: 😂
Bagas: 😂
Lalu aku menemukan sesuatu yang membuat perutku melilit: foto spanduk lomba kerupuk yang diperbesar, fokus ke wajahku, dengan keterangan dari Mama: LIHAT SENYUMNYA DANNY. MAMA NGGAK PERNAH LIHAT SENYUM KAYAK GITU SEJAK 3 TAHUN. Diikuti tujuh emoji menangis dari tujuh orang berbeda.
Lalu video Hari Orang Tua. Lalu foto kabin bianglala nomor tujuh, lalu video Kinan menyanyi dangdut di kondangan, dan video kami berdansa di teras belakang yang bau sop kambing. Video itu diambil dari celah pintu dapur, dengan zoom maksimal dan ring light yang terlalu terang, jadi separuh layar putih menyilaukan.
Keterangannya dari Pak Darto, ayah Kinan, yang kukira tidak pernah bicara:
Pak Darto: Dia injak kaki Kinan tiga kali.
Pak Harun: Danny memang begitu.
Pak Darto: Hm.
Pak Harun: Hm.
Lalu aku menggulir ke pesan-pesan terbaru, dari tadi pagi, dan menemukan satu judul yang ditulis dengan huruf besar oleh Oma Ratmi:
Oma Ratmi: 📋 AGENDA SABTU INI: OPERASI MAKAN MALAM 🕯️
1. Wulan menginap di rumah Oma (Oma yang jemput).
2. Rini masak di rumah Danny (Rini masih di sini sampai Minggu).
3. Dinda pasang lilin & dekorasi.
4. Bagas & Dinda bawa Kinan dengan alasan “ambil titipan kue dari Oma”.
5. Semua orang PERGI setelah Kinan datang. JANGAN NGINTIP.
6. Pak Darto & Pak Harun: tolong jangan main catur di teras Danny.
Pak Darto: Kenapa tidak boleh.
Oma Ratmi: Karena kalian berdua kalau main catur tidak pulang-pulang.
Pak Harun: Hm.
Aku masih menggulir, dengan mulut setengah terbuka, ketika pesan baru muncul di bagian bawah.
Oma Ratmi: Astaghfirullah.
Oma Ratmi: Maaf. Salah pencet. Oma mau masukin nomor tukang kue, malah masukin Danny.
Oma Ratmi: Danny, kamu nggak baca apa-apa, kan?
Aku menatap layar. Tiga titik muncul di bawah nama Mama, Ibu Yati, Dinda, dan Bagas, semuanya mengetik bersamaan.
Aku mengetik satu kata.
Aku: Operasi?
Oma Ratmi mengeluarkan Anda dari grup.
Aku menelepon Kinan pukul dua lewat lima.
“Kamu udah tahu soal grup?”
Hening di seberang. Lalu, dengan suara yang sangat pelan dan sangat bersalah:
“…Grup apa?”
“Kinan.”
“Aku nggak tahu apa-apa soal grup Tim Sukses Danny-Kinan pakai emoji balon hijau sama panda.”
“Aku nggak nyebut nama grupnya.”
Hening lagi. Lalu terdengar suara benda empuk dipukul-pukul, mungkin bantal atau kepalanya sendiri ke bantal.
“Aku nggak di grup itu, Danny! Aku nggak dimasukin! Aku cuma dikasih tahu Oma Ratmi waktu lomba kerupuk, terus Bagas kadang-kadang nggak sengaja nunjukin HP-nya…”
“Mereka rencana operasi makan malam, Sabtu.”
“Apa?”
“Pakai lilin. Mama masak. Kamu dibawa Bagas sama Dinda dengan alasan ambil kue.”
Hening sebentar, lalu Kinan tertawa. Tawanya panjang dan terengah, dan aku bisa membayangkannya berguling di kasur dengan kaus bergambar kucing.
“Terus?” tanyanya setelah tawanya reda. “Kita gimana?”
“Kita bisa bilang ke mereka kalau kita udah tahu.”
“Atau…”
Aku mengenal nada itu, nada Mama Keysha kurang tinggi.
“Atau,” lanjut Kinan dengan suara sangat ceria, “kita pura-pura nggak tahu. Biarin mereka kerja keras. Terus kita nikmatin.”
“Kinan.”
“Mereka udah rencana tiga minggu, Danny. Kasihan kalau dibatalin. Mamamu udah belanja, kan?”
Aku ingat daftar belanjaan yang dikirim Mama ke grup kemarin: daging sapi 2 kg, udang, cumi, lilin aroma terapi 12 buah, kelopak mawar 3 bungkus.
“…Mamaku beli kelopak mawar tiga bungkus.”
“Tiga bungkus?”
“Tiga.”
Kinan tertawa lagi, lebih keras. “Oke. Kita harus pura-pura nggak tahu. Demi kelopak mawar.”
Rencana Oma Ratmi berjalan sempurna, kecuali satu hal: Wulan.
Wulan menolak menginap di rumah Oma.
“Aku mau lihat opelasi,” katanya Sabtu sore, berdiri di tengah ruang tengah dengan tangan di pinggang dan kaki terbuka lebar, pose yang jelas dia tiru dari Kinan. “Aku agen lahasia. Agen lahasia halus di tempat kejadian.”
“Lan, operasinya buat Papa sama Bu Nanan. Kamu nanti bosan.”
“Aku nggak bosan. Aku tidul di atas. Aku janji.”
Oma Ratmi, Mama, dan Dinda saling pandang dengan wajah panik. Semua rencana tiga minggu mereka sedang dihancurkan oleh anak lima tahun berkepang dua.
Akhirnya Oma Ratmi menghela napas. “Oke. Tapi jam delapan tidur. Janji?”
“Janji agen lahasia.”
Pukul tujuh malam, rumahku tidak lagi terlihat seperti rumahku.
Dinda menyulapnya jadi, dalam kata-katanya sendiri, “restoran bintang lima tapi versi kompleks perumahan.” Meja makan ditutup taplak putih yang dipinjam entah dari mana. Dua belas lilin aroma terapi menyala di setiap permukaan datar: meja, rak buku, jendela, bahkan di atas kulkas. Kelopak mawar tiga bungkus ditaburkan di lantai dari pintu depan sampai meja makan, membentuk jalur merah muda yang terlihat seperti TKP kriminal dengan tema romantis.
Mama memasak semua yang dia bisa: rendang, udang balado, cumi goreng tepung, sayur lodeh, perkedel, sambal tiga macam, dan puding cokelat, cukup untuk dua puluh orang.
“Ma, ini buat dua orang.”
“Nanti sisanya buat sarapan.”
“Buat sarapan satu bulan, Ma.”
Pukul tujuh lima belas, semua orang keluar dari rumah dengan kecepatan tinggi, seperti perampok setelah membobol bank. Mama menciumku di pipi dan berbisik, “Jangan mundur.” Dinda mengedip dan mengacungkan dua jempol. Oma Ratmi menepuk bahuku tanpa bicara.
Wulan mencium pipiku, lalu berlari ke atas dengan piyama kelinci, berteriak, “Agen lahasia tidul! Semangat, Papa!”
Pintu depan tertutup, dan rumahku sunyi, hanya ada dua belas lilin, jalur kelopak mawar, dan makanan untuk dua puluh orang.
Pukul tujuh dua puluh, bel berbunyi.
Aku membuka pintu, dan Kinan berdiri di sana.
Dia memakai dress hijau muda yang sama dengan kencan pertama kami. Rambutnya tergerai dengan jepit panda di satu sisi. Di tangannya ada kotak kue dari Oma Ratmi, alasan palsu yang dibawa Bagas dan Dinda, yang sekarang sudah tidak kelihatan di mana pun. Tapi aku melihat bayangan dua orang bersembunyi di balik pohon mangga tetangga.
Kinan menatap jalur kelopak mawar di lantai, lalu dua belas lilin, lalu meja makan dengan taplak putih dan makanan untuk dua puluh orang.
Dia memasang wajah paling kaget yang pernah dibuat manusia. Mulutnya terbuka, kedua tangannya menutup pipi, dan matanya melebar.
“Ya Allah, Danny,” katanya dengan suara yang terlalu keras, supaya terdengar sampai ke balik pohon mangga. “Aku nggak nyangka sama sekali! Ini semua buat aku? Aku kira aku cuma ambil kue!”
Dari balik pohon mangga terdengar dua suara berbisik bersamaan: “Yes!”
Aku menutup mulut dengan tangan dan menarik Kinan masuk sebelum dia melihat wajahku yang sedang tertawa.
Pintu tertutup, dan kami berdiri di tengah jalur kelopak mawar, saling pandang.
Lalu kami tertawa, dengan tangan menutup mulut masing-masing, tanpa suara, bahu berguncang, sampai Kinan harus bersandar di dinding.
“Kelopak mawar,” bisiknya di antara tawa. “Ini kayak TKP.”
“Dua belas lilin,” bisikku balik. “Kita bisa kebakaran.”
“Makanannya buat berapa orang?”
“Dua puluh.”
Kami tertawa lagi. Lalu, pelan-pelan, tawa itu reda, dan kami masih berdiri di situ, di bawah cahaya lilin yang bergoyang-goyang. Aroma lavender, vanila, dan sesuatu yang disebut ocean breeze di label bercampur jadi satu.
Kinan menatapku dalam cahaya lilin. Dan untuk pertama kalinya malam itu, dia tidak tertawa.
“Tapi,” katanya pelan, “sebenarnya ini… lumayan romantis, ya.”
Aku menatapnya. Rambutnya tergerai, dress hijaunya, dan cahaya lilin yang memantul di matanya.
“Lumayan,” kataku.
“Cuma lumayan?”
“Sampai kamu datang, cuma lumayan.”
Dia menunduk dan tersenyum. Telinganya memerah, dan aku masih belum terbiasa melihat telinga Kinan memerah. Sepertinya aku tidak akan pernah terbiasa.
Kami makan. Tentu saja kami hanya bisa menghabiskan sepersepuluh dari makanan itu, tapi rendang Mama memang yang terbaik di dunia, dan Kinan makan dua piring sambil mendesah bahagia setiap suapan.
Lalu, di tengah makan puding, sesuatu jatuh dari langit-langit.
Sesuatu yang kecil, kecokelatan, dan bergerak. Benda itu mendarat tepat di meja, di sebelah piring Kinan, lima senti dari tangannya.
Seekor cicak.
Kinan tidak berteriak. Dia membeku. Seluruh badannya kaku seperti patung, matanya melotot ke cicak itu, sendok puding masih di udara. Wajahnya berubah dari merah muda jadi pucat pasi dalam dua detik.
Aku tahu. Aku sudah tahu sejak dua minggu lalu, sejak dia berteriak di grup wali murid karena ada cicak di kelas TK B dan Bu Tari harus mengusirnya dengan sapu sementara Kinan berdiri di atas meja guru.
Aku mengambil tisu dari meja. Pelan, tanpa gerakan tiba-tiba, aku menutup cicak itu dengan tisu dan mengangkatnya dengan hati-hati. Aku berjalan ke jendela, membuka jendela, dan melepaskannya ke luar, ke halaman gelap.
“Pergi, Cak,” kataku pada cicak itu. “Kamu salah waktu.”
Aku menutup jendela dan kembali ke meja.
Kinan masih membeku. Sendok puding masih di udara, dan matanya masih melotot ke tempat cicak itu tadi mendarat.
“Udah,” kataku pelan. “Udah pergi.”
Dia berkedip. Lalu dia menurunkan sendoknya pelan-pelan dan menatapku.
“Kamu… tahu aku takut cicak?”
“Hm.”
“Dari mana?”
“Dari grup wali murid. Dua minggu lalu. Kamu ngirim pesan suara jam sepuluh pagi, isinya teriakan tiga puluh detik, terus Bu Tari minta maaf ke semua orang tua.”
Kinan menutup muka dengan kedua tangan. “Ya Allah. Pesan suara itu.”
“Aku dengar lima kali.”
“Kenapa lima kali?”
“Soalnya lucu.”
Dia menurunkan tangannya dan menatapku dengan mata menyipit. Lalu matanya menangkap sesuatu, yaitu HP-ku yang tergeletak di meja dengan layar menyala. Tadi aku membuka notes untuk mengecek daftar belanjaan Mama.
Tapi yang terbuka di layar bukan daftar belanjaan. Itu notes yang lain, yang kutulis diam-diam selama dua bulan terakhir, sedikit demi sedikit, setiap kali aku menemukan sesuatu yang baru.
Kinan mengambil HP itu sebelum aku sempat mencegahnya.
“Kinan…”
“Diam,” katanya, dan dia membaca.
Hal-hal tentang Kinan
— Kopi hitam, gula setengah sendok. Kalau lagi sedih, tambah pisang goreng (kata Bang Jali).
— Takut cicak. Sangat. Berdiri di atas meja.
— Kalau ketawa keras, nutup muka pakai dua tangan. Kalau ketawa pelan, nutup mulut pakai satu tangan.
— Suka arum manis pink. Makannya belepotan. Selalu ada yang nempel di hidung.
— Nggak suka tomat mentah. Tapi suka saus tomat. (Nggak masuk akal. Tapi oke.)
— Ngobrol sama motornya. Motornya jawab (katanya).
— Kalau nyanyi lagu sedih, suaranya pecah di nada tinggi. Kalau nyanyi lagu senang, dia goyang kepala ke kiri dulu, baru ke kanan.
— Pensil di rambut: hijau (hari Senin), ungu (hari Rabu), kuning (kalau lagi senang). Sekarang pakai jepit. Jepit panda paling sering.
— Kalau gugup, dia makin berisik. Kalau benar-benar gugup, dia diam. (Jarang. Pernah di mobil, waktu aku bilang “lebih enak nunggu di sini”.)
— Telinganya merah kalau dipuji tiba-tiba. (Baru ketahuan di rumah kardus. Pengen lihat lagi.)
— Waktu tidur, tangannya ngeraih sesuatu. (Video call, jam 2 pagi.)
Kinan berhenti membaca.
Dia menatap layar HP itu lama sekali. Cahaya lilin bergoyang di wajahnya, dan aku tidak bisa membaca ekspresinya.
“Kinan…”
“Kamu tulis ini,” katanya pelan, tanpa mengangkat kepala, “dari kapan?”
“…Dari minggu kedua.”
“Dari minggu kedua?”
“Aku kira aku bakal lupa. Aku gampang lupa hal-hal kecil. Alarmku salah jam, kancingku salah lubang. Aku takut lupa hal-hal kecil tentang kamu, jadi aku tulis.”
Dia menurunkan HP itu pelan-pelan ke meja. Lalu dia mengangkat kepala dan menatapku, dan matanya basah di bawah cahaya dua belas lilin.
“Danny,” katanya dengan suara serak. “Kamu tahu nggak, ini hal paling romantis yang pernah dilakukan orang buat aku?”
“Lebih romantis dari kelopak mawar tiga bungkus?”
“Kelopak mawar itu Mamamu.”
“Iya.”
“Ini kamu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya menatapnya, dan dia menatapku balik. Di antara kami ada meja dengan taplak putih pinjaman, puding cokelat setengah dimakan, dan dua belas lilin aroma terapi.
Lalu lampu mati.
Semua lampu mati bersamaan: lampu ruang tengah, lampu dapur, lampu teras. Kulkas berhenti berdengung, dan AC berhenti berdesis. Rice cooker, oven, dan dispenser Mama yang ditinggal menyala bersamaan akhirnya mengalahkan meteran listrik rumahku yang sudah tua.
Hanya dua belas lilin yang masih menyala.
Lalu, karena jendela yang tadi kubuka untuk cicak belum tertutup rapat, angin malam masuk dan meniup. Satu lilin mati, lalu dua, lalu lima, lalu semua. Dalam tiga detik, rumahku gelap total.
Hening. Lalu suara Kinan, dari kegelapan, pelan dan bergetar:
“…Danny.”
“Hm?”
“Kalau ada cicak lagi, aku nggak bisa lihat.”
Aku tertawa, keras, di tengah kegelapan. Dan dia ikut tertawa, dan tawa kami memenuhi rumah yang gelap gulita dan bau lilin yang baru padam.
Kami akhirnya duduk di teras depan, di anak tangga, karena di luar ada cahaya bulan. Bulannya hampir penuh, sama seperti malam di bianglala.
Seluruh kompleks ternyata juga mati lampu. Bukan hanya rumahku, satu gardu listrik di ujung jalan meledak kecil karena cuaca. Rumah-rumah di sepanjang jalan gelap, dan langit di atas kami, tanpa cahaya lampu rumah, penuh bintang. Lebih banyak bintang dari yang pernah kulihat di kota ini.
Kinan duduk di sebelahku dengan kepala di bahuku. Aku menyelimuti bahunya dengan jaketku, karena angin malam mulai dingin.
“Operasinya gagal total,” bisiknya.
“Hm. Lampu mati, lilin mati, ada cicak.”
“Tapi aku dapat notes-mu.”
“Itu bukan bagian operasi.”
“Justru itu.” Dia menggeser kepalanya sedikit, lebih nyaman di bahuku. “Yang bukan bagian operasi selalu yang paling bagus.”
Kami duduk seperti itu lama sekali. Dari balik pohon mangga tetangga, aku mendengar bisik-bisik samar Bagas dan Dinda, lalu suara HP yang bergetar, lalu Dinda berbisik, “Kak Danny nyelimutin pakai jaket! Rekam! Rekam!”
“Mereka masih di situ,” bisik Kinan.
“Dari tadi.”
“Kamu tahu?”
“Ring light-nya kelihatan. Di tengah mati lampu.”
Kinan tertawa pelan di bahuku.
Pukul sembilan, lampu menyala kembali.
Kinan berdiri, merapikan dress hijaunya, dan mengembalikan jaketku. Bagas sudah menunggu di ujung jalan dengan motor, dan dia berpura-pura baru datang, padahal helm-nya masih ada daun mangga.
Aku mengantarnya sampai pintu pagar. Di bawah lampu teras yang baru menyala dan berkedip-kedip, dia berbalik menghadapku.
“Makasih makan malamnya,” katanya. “Bilang makasih ke Mamamu. Rendangnya terbaik di dunia.”
“Nanti aku bilang.”
“Dan…” Dia menatapku, dan senyumnya berubah jadi senyum yang lebih pelan, lebih pribadi. “Makasih notes-nya.”
Aku tidak menjawab. Aku mengangkat tangan, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, lalu membungkuk sedikit dan mencium keningnya.
Hanya sebentar, satu detik, mungkin dua. Bibirku di keningnya, di bawah lampu teras yang berkedip, di depan pagar rumahku.
Waktu aku menegakkan badan, dia menatapku dengan mata lebar dan mulut sedikit terbuka. Telinganya merah, dan pipinya juga, sampai ke leher.
“…Danny.”
“Hm?”
“Kamu nyium keningku.”
“Hm.”
“Di depan pagar.”
“Hm.”
“Kamu nggak punya rem juga ternyata.”
Aku tersenyum. “Aku belajar dari yang terbaik.”
Dia menatapku lima detik penuh, lalu menutup muka dengan kedua tangan, berbalik, dan berjalan cepat ke motor Bagas tanpa berkata apa-apa lagi. Dari balik tangannya aku mendengar dia menggumam, “Ya Allah, ya Allah, ya Allah…”
Bagas menyalakan motor sambil menyeringai padaku dari balik helm. Mereka pergi, dan aku berdiri di depan pagar dengan senyum yang tidak mau hilang.
Malam itu aku sama sekali tidak memperhatikan jendela kamar di lantai atas. Aku baru tahu keesokan harinya, dengan cara yang paling memalukan, bahwa gorden bergambar kelinci di sana sempat tersibak sedikit, dan bahwa sepasang mata cokelat besar yang seharusnya sudah tidur sejak jam delapan menyaksikan semuanya dengan mulut terbuka lebar.
Agen rahasia menjalankan tugasnya dengan sempurna, dan besok paginya, agen rahasia melapor.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses reading
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian