Chapter Thirty Eight
Malam Sebelumnya
POV: Sheila
Jumat pagi, hari sekolah terakhir sebelum wisuda, pukul sebelas tepat, aku berdiri di gerbang TK Pelangi Ceria dengan jepit panda dan jepit bintang emas penyok di rambut. Di depanku ada dua puluh orang tua yang memegang gelas kopi gratis dari gerobak Bang Jali.
“Bapak Ibu,” kataku. “Lagu nomor empat puluh tujuh.”
Dua puluh orang tua bersorak. Mama Rafi bersiul. Ayah Bima mengangkat gelas kopinya seperti bersulang. Papa Nadia menyalakan kamera HP untuk merekam, seperti biasa. Mama Keysha berdiri di barisan depan dengan kerudung pink, tanpa bulu mata palsu, dengan senyum kecil yang sudah jadi senyum biasanya sejak rapat komite.
Lagu nomor empat puluh tujuh adalah lagu terakhir di daftar yang kutulis di buku tulis bersampul batik bulan Juli lalu. Waktu itu aku bilang ke Pak Danny, masih ada empat puluh tujuh, Pak. Saya sudah bikin daftar.
Aku menyanyikannya dengan cengkok penuh. Itu lagu tentang pamitan, tentang anak-anak yang pulang sekolah, melambaikan tangan, dan berjanji bertemu lagi besok.
Di tengah lagu, suaraku pecah sekali di nada tinggi. Danny pernah mencatatnya di notes: Kalau nyanyi lagu sedih, suaranya pecah di nada tinggi. Aku tidak tahu kenapa suaraku pecah. Itu bukan lagu sedih. Tapi mungkin karena itu lagu terakhir di daftar, dan karena daftar itu dimulai dengan satu kopi dan satu gombalan tentang lima balon, di hari yang rasanya sudah sangat lama.
Di akhir lagu, dua puluh orang tua bertepuk tangan. Mama Rafi mengusap matanya dengan ujung kerudung.
Lalu mataku mencari satu wajah di belakang, di dekat gerobak Bang Jali.
Dia ada di sana, dengan kemeja biru muda, gelas kopi di tangan, dan wajah yang tenang. Terlalu tenang, seperti orang yang berusaha keras untuk tidak terlihat gugup soal besok.
Aku mengirim gombalan terakhir dari daftar empat puluh tujuh itu, tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir, dari gerbang ke gerobak kopi:
Besok, jangan telat.
Danny tersedak kopinya. Lagi. Bang Jali menepuk-nepuk punggungnya, lalu menambahkan satu garis kapur di papan tulis warungnya, di kolom yang sudah berjudul TERSEDAK. Total dua puluh tiga.
Pukul tiga sore, rumahku berubah jadi markas besar.
Ibu memutuskan, tanpa bertanya pada siapa pun, bahwa Mama Rini dan Pak Harun tidak boleh menginap di hotel malam ini. “Masa calon besan tidur di hotel, Bu Rini? Nanti tetangga ngomongin!” Jadi Mama Rini dan Pak Harun datang pukul tiga dengan koper ungu, tas jinjing, dan tiga kantong oleh-oleh dari Surabaya. Mereka ditempatkan di kamar Bagas, dan Bagas diusir ke sofa ruang tamu.
“Bu,” protes Bagas. “Aku tidur di mana?”
“Di sofa.”
“Sofanya pendek, Bu.”
“Kaki kamu ditekuk.”
“Bu, aku seratus tujuh puluh lima senti.”
“Dinda aja tidur di sofa rumah Danny sebulan penuh, nggak protes.”
Bagas membuka mulut, menutupnya lagi, lalu melirik Dinda. Dinda datang bersama Mama Rini dan sekarang duduk di sebelah Bagas di sofa pendek itu dengan ring light di pangkuan.
Dinda menepuk pundak Bagas. “Aku temenin, Gas. Kita tidur berdua di sofa.”
“Dinda,” kata Mama Rini dan Ibu bersamaan, dengan nada yang sama persis.
“Bercanda, Ma. Bu.”
Di ruang tengah, Pak Darto dan Pak Harun sudah duduk berhadapan di depan papan catur magnetik. Kali ini mereka tidak bermain lewat layar HP. Mereka bermain di papan asli, dengan dua cangkir kopi di samping dan sepiring kue lapis dari Oma Ratmi di antara mereka.
Mereka sudah main sejak pukul tiga lewat sepuluh. Sampai pukul lima, mereka baru selesai satu babak. Remis, lagi.
“Hm,” kata Pak Darto.
“Hm,” kata Pak Harun.
“Rematch?”
“Rematch.”
Di dapur, Ibu dan Mama Rini menyetrika dua kebaya bersebelahan, di dua meja setrika yang dipasang berdampingan. Kebaya Ibu warna hijau muda, dan kebaya Mama Rini warna ungu. Mereka menyetrika sambil bertengkar soal siapa yang lebih pantas memakai sanggul besar besok.
“Bu Rini, sanggul besar itu buat ibu pengantin perempuan.”
“Bu Yati, ini wisuda TK, bukan pernikahan.”
“Belum.”
“Belum,” Mama Rini setuju. Lalu mereka berdua tertawa, dan hampir membakar kebaya masing-masing.
Aku duduk di tangga, menyaksikan semua itu. Rumahku yang kecil sekarang penuh dua keluarga, dua papan catur, dua meja setrika, satu sofa terlalu pendek, dan satu ring light. Aku tertawa sendirian di anak tangga paling bawah.
Setahun lalu, aku perempuan dua puluh delapan tahun yang jomblo lima tahun, dan Ibu menyebut namaku sambil mengelus dada.
Sekarang, lihat rumah ini.
Pukul tujuh malam, bel pintu berbunyi.
Aku membukanya. Bu Hartini berdiri di teras dengan gamis abu-abu, kacamata tipis, dan novel bersampul biru muda di tangan.
Di sebelahnya berdiri seorang perempuan yang belum pernah kulihat.
Perempuan itu berusia empat puluhan, dengan wajah yang mirip Bu Hartini tapi lebih lembut dan lebih lelah. Dia memakai kerudung putih sederhana, dan kulitnya sedikit gelap, seperti orang yang lama tinggal di tempat yang panas dan terik. Matanya sama dengan mata guru muda berkerudung putih di foto wisuda paling tua di dinding ruang kepala sekolah, yang berdiri dengan tangan di bahu seorang anak laki-laki berambut acak-acakan.
“Bu Kinan,” kata Bu Hartini. “Ini adik saya. Hesti.”
Perempuan itu tersenyum padaku. Senyumnya kecil dan ragu-ragu, seperti orang yang sudah lama tidak pulang dan tidak yakin masih boleh tersenyum di tempat ini.
“Assalamualaikum,” katanya pelan. “Maaf mengganggu malam-malam. Kakak saya bilang saya harus ketemu Bu Kinan dulu sebelum besok. Katanya… guru TK yang nggak kabur.”
Aku menatapnya. Aku ingat semua yang Bu Hartini ceritakan di ruangannya: surat pemindahan yang dia tanda tangani dua puluh tahun lalu, anak laki-laki yang tidak mau sekolah dua bulan, bapak tukang las yang mundur, dan guru muda yang pergi ke Kalimantan lalu tidak pernah menikah.
“Masuk, Bu,” kataku. “Silakan. Maaf rumahnya ramai. Ada dua keluarga, dua papan catur, dan satu ring light.”
Bu Hesti tertawa kecil. Tawanya sama persis dengan tawa Bu Hartini waktu dia menutup novel pink dan berkata bahagia, setelah rapat komite yang sangat panjang.
Kami duduk di teras belakang, jauh dari keramaian. Hanya aku dan Bu Hesti, dengan dua gelas teh dan sepiring kue lapis. Bu Hartini sudah ditarik Ibu dan Mama Rini ke dapur untuk memutuskan siapa yang lebih pantas memakai sanggul besar.
Bu Hesti diam lama. Dia menatap halaman belakang rumahku yang kecil, dengan pohon jambu air tetangga dan jemuran Ibu.
“Kakak saya cerita semuanya,” katanya akhirnya. “Di surat. Soal Bu Kinan. Soal foto di grup. Soal dua surat yang dirobek di rapat komite.”
“Iya, Bu.”
“Dua puluh tahun saya nggak nulis surat ke dia. Dia juga nggak nulis ke saya.” Bu Hesti memegang gelas tehnya dengan dua tangan, seperti memegang sesuatu yang hangat di malam yang dingin. “Terus bulan lalu dia kirim surat. Enam halaman. Tulisan tangan. Dia minta maaf. Dua puluh tahun, dan dia minta maaf lewat enam halaman.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Di halaman kelima,” lanjut Bu Hesti, “dia cerita soal Bu Kinan. Soal buku penghubung. Soal empat puluh tiga bintang buat semua anak, dan sembilan belas bintang tambahan buat papanya.” Dia tersenyum kecil. “Saya ketawa di halaman itu. Pertama kali ketawa waktu baca surat dari kakak saya.”
“Bu,” kataku pelan. “Boleh saya tanya sesuatu?”
“Silakan.”
“Bapak tukang las itu. Sama anaknya.” Aku menelan ludah. “Mereka…”
Bu Hesti tidak langsung menjawab. Dia menatap jemuran Ibu yang bergoyang pelan kena angin malam.
“Anaknya namanya Yusuf,” katanya. “Sekarang dua puluh empat tahun. Dia jadi guru. Guru SD, di kampung sebelah.” Dia tersenyum. “Dia kirim surat ke saya waktu lulus kuliah. Dia bilang dia jadi guru karena dulu ada guru TK yang bawain dia sarapan dan nyisirin rambutnya.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Bapaknya meninggal tiga tahun lalu. Nggak pernah nikah lagi.” Bu Hesti diam sebentar. “Yusuf bilang, bapaknya sering nyebut nama saya sebelum tidur. Sampai akhir.”
Air mataku jatuh.
Bu Hesti menoleh padaku, dan matanya basah juga.
“Bu Kinan,” katanya. “Saya datang ke sini bukan buat bikin Ibu sedih. Saya datang buat bilang satu hal.”
“…Iya, Bu.”
“Saya dulu kabur. Saya pikir itu melindungi dia. Melindungi Yusuf, melindungi kakak saya, melindungi sekolah.” Dia menggeleng pelan. “Tapi yang saya lindungi cuma rasa takut saya sendiri. Dan dua puluh tahun, rasa takut itu yang tinggal sama saya. Bukan dia.”
Dia meletakkan gelas tehnya dan memegang tanganku.
“Besok,” katanya. “Apa pun yang terjadi di panggung. Siapa pun yang duluan, siapa pun yang telat. Jangan kabur.”
“Saya nggak akan kabur, Bu.”
“Saya tahu.” Bu Hesti tersenyum. “Makanya saya datang. Saya mau lihat guru TK yang nggak kabur. Dua puluh tahun saya nunggu lihat itu.”
Pukul sembilan malam, rumahku akhirnya sedikit tenang.
Bu Hartini dan Bu Hesti pulang. Sebelum pergi, di ambang pintu, Bu Hartini memelukku. Itu pertama kalinya dia memelukku, dengan pelukan yang kaku, pendek, dan sangat hangat.
“Besok,” katanya di telingaku, “saya yang tentukan giliran. Ibu jangan protes.”
“Saya nggak akan protes, Bu.”
“Ibu pasti protes. Tapi dalam hati aja.”
Mama Rini dan Ibu akhirnya sepakat soal sanggul. Keduanya pakai sanggul besar, dan yang satu sedikit lebih besar. Mereka tidak bilang yang mana.
Pak Darto dan Pak Harun masih di depan papan catur, di babak ketiga. Remis dua kali.
Bagas dan Dinda tertidur di sofa pendek, duduk tegak dengan kepala Dinda di bahu Bagas dan ring light yang masih menyala di pangkuan Dinda.
Aku naik ke kamar, menutup pintu, lalu duduk di kasur di bawah bintang-bintang glow-in-the-dark. Aku membuka buku tulis bersampul batik di halaman RENCANA TANDINGAN, di nomor lima.
5. Lagu: lagu nomor 48. (Belum ditulis.)
Masih belum ditulis. Satu malam lagi.
Aku menatap halaman kosong itu. Lalu HP-ku berdering. Itu panggilan video.
Di layar bukan Danny, tapi wajah kecil berkepang dua, dengan piyama kelinci dan liontin bulan sabit, berbaring di bantal. Kamera HP-nya dipegang dengan tangan kecil yang tidak stabil, sehingga setengah layar hanya menunjukkan langit-langit kamar.
“Bu Nanan!”
“Wulan? Sayang, kok belum tidur? Besok wisuda.”
“Nggak bisa tidul.” Wulan menguap lebar. “Aku deg-degan. Kayak Papa.”
“Papa deg-degan?”
“Papa di dapul. Papa bikin teh tiga kali. Tehnya tumpah dua kali. Papa ngomong sendili di depan kaca kamal mandi. Papa cek kancing kemeja buat besok. Satu, dua, tiga. Telus Papa cek lagi.”
Aku tertawa pelan.
“Bu Nanan,” kata Wulan. Suaranya tiba-tiba berubah jadi lebih pelan dan lebih mengantuk. “Aku mau minta sesuatu.”
“Apa, Sayang?”
“Kata Papa, Mama dulu minta di sulat. Minta Bu Nanan nyanyiin aku lagu sebelum tidul. Soalnya Mama nggak sempat.”
Aku berhenti bernapas.
“Aku dengal Papa sama Bu Nanan ngomongin itu,” lanjut Wulan. “Di panggung. Waktu glahdi. Aku kan agen. Aku di balik tilai.”
Aku menutup mulut dengan tangan. Air mataku jatuh ke layar HP.
“Bu Nanan,” kata Wulan pelan, dengan mata yang mulai berat. “Nyanyiin aku lagu sebelum tidul. Yang pelan. Tanpa cengkok.”
Aku menatap wajah kecil di layar, dengan kepang dua, liontin bulan sabit, dan mata cokelat besar yang berat karena kantuk. Anak yang ibunya tidak sempat menyanyikan lagu sebelum tidur.
“Oke, Sayang,” bisikku. “Tanpa cengkok.”
Aku tidak menyanyikan lagu anak TK dari daftar empat puluh tujuh. Aku tidak menyanyikan lagu yang rimanya dipaksa di teras, atau lagu empat baris untuk rapat komite.
Aku menyanyikan lagu yang belum pernah kunyanyikan, dan yang belum pernah kutulis. Lagu itu keluar begitu saja dari suatu tempat di dadaku, pelan dan sederhana, seperti lagu pengantar tidur.
Bulan kecil, bulan kecil, tidur ya, jangan takut gelap,
Mama jaga dari jauh, Papa jaga dari dekat.
Bu Nanan di sini juga, nyanyi pelan, nggak berisik,
besok pagi kita kepang rambutmu, dua, yang cantik.
Bulan kecil, bulan kecil, pejamkan mata, pelan-pelan,
kamu tahu jalan pulang, kamu nggak pernah sendirian.
Di layar, mata Wulan tertutup. Napasnya pelan dan teratur. HP-nya jatuh ke bantal, dan layar sekarang hanya menunjukkan bantal bergambar kelinci dan ujung kepang yang miring sedikit ke kanan.
Aku tidak memutus panggilan. Aku hanya menatap layar itu dan mendengarkan napas kecil yang tenang.
Lalu layar bergerak. Seseorang mengangkat HP itu dari bantal pelan-pelan.
Wajah Danny muncul di layar. Dia berdiri di ambang kamar Wulan dengan kaus abu-abu dan mata merah. Dia jelas sudah berdiri di sana dari tadi. Dia mendengar semuanya.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya menatapku lewat layar, dengan mata basah dan bibir yang bergetar.
Lalu dia berbisik, sangat pelan, supaya Wulan tidak bangun:
“Itu lagu nomor empat puluh delapan?”
Aku menggeleng, masih dengan air mata di pipi.
“Bukan,” bisikku balik. “Itu bukan lagu nomor empat puluh delapan. Itu lagu Wulan.”
“Terus lagu nomor empat puluh delapan?”
“Rahasia negara.” Aku tersenyum. “Besok.”
Dia membawa HP itu keluar dari kamar Wulan, turun ke teras, dan duduk di anak tangga di bawah lampu yang menyala. Aku menyandarkan HP-ku di bantal dan berbaring menghadap layar.
Kami tidak banyak bicara. Kami hanya saling tatap lewat layar, seperti malam-malam dulu, waktu dia bekerja sampai jam empat pagi dan aku tertidur di tengah panggilan.
“Kamu nggak bisa tidur?” tanyaku.
“Nggak.”
“Aku juga.”
“Kamu besok jam berapa bangun?”
“Jam empat. Ngepang dua puluh anak.”
“Kamu ngepang dua puluh anak?”
“Yang perempuan aja. Dua belas. Yang laki-laki disisir. Rafi nggak mau disisir.”
Dia tertawa pelan. Lalu dia diam lama.
“Kinan.”
“Hm?”
“Aku udah pasang alarm.”
“Berapa?”
“Tiga.”
“Tiga?”
“Jam lima, jam lima lewat lima belas, dan jam lima lewat tiga puluh. Aku udah cek AM dan PM di ketiganya. Masing-masing tiga kali.” Dia berhenti. “Dan aku minta Oma Ratmi telepon jam enam. Buat jaga-jaga.”
Aku tertawa sampai harus menutup mulut dengan bantal.
“Kamu?” tanyanya. “Kamu pasang alarm?”
“Aku nggak butuh alarm.”
“Kenapa?”
“Soalnya radar Ibu lebih kenceng dari alarm mana pun.” Aku tersenyum. “Dan soalnya aku nggak bakal bisa tidur.”
Dia tersenyum di layar. Senyum yang lelah, gugup, dan sangat hangat.
“Kinan,” katanya pelan.
“Hm?”
“Aku tahu kamu punya cincin. Kamu tahu aku punya cincin. Semua orang tahu. Bu Hartini kunci rundownnya. Dan kita nggak tahu siapa yang duluan.”
“Iya.”
“Aku cuma mau bilang satu hal. Malam ini. Sebelum besok.”
Aku menahan napas.
“Siapa pun yang duluan,” katanya, “jawabanku iya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kalau kamu yang duluan, jawabanku iya. Kalau aku yang duluan, aku harap jawabanmu juga iya. Kalau kita duluan bareng, aku nggak tahu gimana caranya, tapi jawabanku tetap iya.” Dia menarik napas. “Aku cuma mau kamu tahu itu sebelum besok. Supaya kamu nggak deg-degan soal jawabannya. Kamu cukup deg-degan soal lagunya aja.”
Air mataku jatuh ke bantal.
“Danny,” bisikku. “Kamu barusan ngasih bocoran jawaban lamaran. Sebelum lamarannya.”
“Hm.”
“Itu nggak boleh.”
“Kenapa?”
“Soalnya sekarang aku nggak deg-degan soal jawabannya.” Aku tertawa sambil menangis. “Sekarang aku cuma deg-degan soal kamu.”
Dia tidak menjawab. Dia hanya tersenyum di layar, dengan mata basah, di bawah lampu teras yang menyala.
“Selamat tidur, Kinan,” katanya akhirnya.
“Aku nggak bakal tidur.”
“Aku tahu. Aku juga.” Dia tersenyum. “Tapi coba.”
Dia mengakhiri panggilan.
Aku tidak tidur.
Aku duduk di meja belajar di bawah bintang-bintang glow-in-the-dark, dengan buku tulis bersampul batik dan pulpen merah. Di halaman RENCANA TANDINGAN, di nomor lima, aku akhirnya mulai menulis.
Aku menulis sampai jam dua pagi, mencoret, lalu menulis lagi.
Pukul dua lewat lima belas, aku berhenti.
Lagu nomor empat puluh delapan sudah selesai. Tidak panjang, hanya dua bait. Rimanya tidak dipaksa. Aku sudah memeriksanya tiga kali, seperti Danny memeriksa kancingnya.
Di atas meja belajar, di sebelah buku tulis itu, ada kotak kecil beludru merah. Di dalamnya ada cincin emas putih tipis, ukuran sembilan belas, atau mungkin delapan belas, atau dua puluh. Rahasia negara. Di bagian dalam lingkarannya ada ukiran halus dengan huruf kecil yang hanya bisa dilihat kalau cincinnya dilepas.
lulus
Aku menatap cincin itu lama sekali, lalu menutup kotaknya.
Di bawah, di ruang tengah, aku mendengar suara bidak catur magnetik ditempelkan ke papan. Tak. Pak Darto dan Pak Harun masih bermain, di babak keempat, pukul dua pagi.
“Hm,” kata Pak Darto.
“Hm,” kata Pak Harun.
Lalu, sangat pelan, suara Pak Harun, dengan kalimat lebih dari satu kata:
“Besok kita jadi besan.”
Hening lama.
“Hm,” kata Pak Darto. Lalu, dengan suara yang bergetar sedikit, yang tidak pernah kudengar dari Bapak seumur hidupku: “Anakku dapat jalan yang bagus.”
“Anakku dapat lampu yang nyala,” kata Pak Harun.
Tak. Bidak catur ditempelkan lagi.
Aku berbaring di kasur, menatap bintang-bintang glow-in-the-dark di langit-langit, dan menangis sampai tertawa. Lalu tertawa sampai tertidur, pukul dua lewat tiga puluh pagi, dengan kotak beludru merah di bawah bantal.
Aku tidak butuh alarm. Radar Ibu membangunkanku pukul empat tepat, dengan suara yang bisa membangunkan seluruh RT 04:
“KINAN! BANGUN! HARI INI WISUDA! DAN KAMU MAU…”
Ibu berhenti, dan hening sebentar.
“…DAN KAMU MAU NGEPANG DUA BELAS ANAK! AYO!”
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya reading
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian