Chapter Thirty Three
Rencana Bocor
POV: Danny
Laporan Kerja Q1
Nomor 5 — persiapan
2. Minta restu Oma Ratmi.
Rumah Oma Ratmi di kompleks sebelah kecil, bercat krem, dengan pohon kemuning di halaman depan dan kursi rotan di teras. Anin tumbuh besar di rumah itu. Di dinding ruang tamunya masih ada foto Anin kecil dengan seragam SD, rambut dikepang dua, dan gigi depan yang ompong.
Aku duduk di kursi rotan di teras hari Minggu pagi dengan teh manis dan kue lapis. Tanganku di pangkuan, seperti murid kelas satu yang dipanggil ke meja guru.
Oma Ratmi duduk di seberangku dan menatapku dari balik kacamata bulatnya.
“Kamu mau ngomong apa, Danny?”
Aku sudah menyiapkan kalimatnya. Aku latihan di depan cermin kamar mandi selama tiga malam, dan di depan foto Anin satu malam, karena kali ini aku merasa harus minta izin dulu sebelum latihan.
Tapi waktu aku membuka mulut, yang keluar bukan kalimat yang sudah kulatih.
“Ma,” kataku. “Aku mau nikahin Kinan.”
Oma Ratmi tidak bergerak.
“Aku tahu aku nggak perlu izin Mama,” lanjutku cepat. “Mama bukan… Mama ibunya Anin, bukan ibuku. Secara hukum nggak ada hubungannya. Tapi aku…” Suaraku mulai bergetar. “Aku nggak bisa ngelakuin ini tanpa Mama tahu. Tanpa Mama bilang boleh. Soalnya Mama yang dorong aku. Mama yang rebut HP-ku. Mama yang bikin daftar Kemungkinan Terbaik. Dan Mama yang… yang dulu jagain Anin sampai hari terakhir.”
Oma Ratmi masih tidak bergerak. Kacamatanya berkilau kena sinar matahari pagi, dan aku tidak bisa melihat matanya.
“Jadi aku mau minta restu, Ma,” kataku pelan. “Boleh?”
Hening lama. Dari pohon kemuning, burung pipit berkicau.
Lalu Oma Ratmi berdiri. Dia masuk ke dalam rumah tanpa berkata apa-apa.
Aku duduk sendirian di teras dengan teh manis yang mulai dingin, dan jantung yang berdetak terlalu keras.
Lima menit kemudian dia keluar lagi. Di tangannya ada amplop putih kecil yang sudah menguning di ujung-ujungnya, dengan tulisan tangan di depannya. Aku mengenal tulisan tangan itu. Bentuknya bulat dan miring ke kiri, kebalikan dari tulisanku.
Tulisan Anin.
Untuk Danny. Kalau Ibu sudah bilang boleh.
Aku menatap amplop itu tanpa bisa bernapas.
“Anin titip ini ke Oma,” kata Oma Ratmi pelan, dan duduk kembali di kursi rotannya. “Bareng kalung bulan sabit, di hari yang sama. Dia bilang, Bu, kalung buat Wulan waktu enam tahun. Amplop ini buat Danny. Tapi jangan kasih kalau Ibu belum yakin sama orangnya. Kalau Ibu yakin, bilang boleh dulu. Baru kasih.”
Oma Ratmi menyodorkan amplop itu padaku.
“Oma bilang boleh, Danny,” katanya. Suaranya bergetar di ujung kalimat. “Oma udah yakin dari lapangan RT. Dari waktu Neng Kinan cerita ke Oma tanpa tahu Oma siapa.”
Aku menerima amplop itu dengan tangan yang gemetar. Kertasnya tipis dan ringan, tapi rasanya seperti memegang sesuatu yang sangat berat.
“Bacanya jangan di sini,” kata Oma Ratmi, mengusap matanya dengan ujung kerudung. “Oma nggak kuat lihat kamu nangis dua kali dalam sebulan.”
Aku membacanya di mobil, di depan rumah Oma Ratmi, dengan mesin mati.
Isinya hanya satu halaman, ditulis dengan pulpen biru. Tulisannya sedikit goyah di beberapa bagian, seperti ditulis oleh tangan yang sudah lemah.
Dan,
Kalau kamu baca ini, berarti Ibu sudah bilang boleh. Berarti ada orang yang bikin kamu ketawa lagi. Berarti kamu nggak mundur.
Aku mau bilang tiga hal. Yang pertama: aku bangga sama kamu. Yang kedua: tolong jangan ceritain orang itu soal aku terus-terusan. Dia bukan aku. Jangan bandingin. Biarin dia jadi dia.
Yang ketiga: kalau dia bisa ngepang rambut Wulan, dia pasti orang yang sabar. Kalau dia tahan sama kamu yang telat terus dan salah kancing terus, dia pasti orang yang sangat sabar. Jaga dia, Dan. Dan biarin dia jaga kamu juga. Jangan cuma kamu yang jaga semua orang.
Oh ya, satu lagi. Waktu melamar, cek kancingmu dulu. Tiga kali.
Aku sayang kamu. Selamanya. Tapi selamanya-ku sudah selesai. Selamanya-mu belum.
— Anin
P.S. Kalau dia suka nyanyi, minta dia nyanyiin lagu buat Wulan sebelum tidur. Aku dulu nggak sempat.
Aku menangis di mobil lama sekali.
Lalu aku melipat surat itu dengan hati-hati, memasukkannya kembali ke amplop, dan menyimpannya di saku kemeja, di dekat jantung. Di tempat Kinan dulu menyimpan kertas bertuliskan Lampunya nyala.
Aku memeriksa kancing kemejaku di kaca spion. Kancingnya benar semua.
Aku memeriksa sekali lagi, lalu sekali lagi.
3. Minta restu Pak Darto. (Kayaknya harus lewat catur.)
Ternyata memang harus lewat catur.
“Duduk,” kata Pak Darto hari Sabtu berikutnya, pukul empat sore, di kursi rotan di pojok ruang tamu rumah bercat hijau muda. Papan catur sudah tersusun di depannya.
Kinan tidak ada di rumah. Ibu Yati mengirimnya ke pasar “beli cabai”, dengan daftar belanja tiga halaman, supaya dia pergi paling tidak dua jam. Bagas ikut sebagai “pengawal”, dengan instruksi tambahan untuk memperlambat.
Ibu Yati berdiri di ambang dapur dengan lap piring di dada. Dia sudah menangis sejak aku datang, walaupun aku belum mengatakan apa-apa.
Di meja kecil di sebelah papan catur, HP-ku bersandar di kotak bidak dengan layar menyala. Papa menonton dari Surabaya.
Aku duduk di seberang Pak Darto.
“Pak,” kataku. “Saya mau…”
“Main dulu,” potong Pak Darto.
“…Iya, Pak.”
Pak Darto memegang bidak putih dan membuka dengan pion raja, pembukaan Italia, seperti biasa. Aku merespons dengan pion raja juga.
Kami bermain tanpa bicara. Papa di layar HP tidak memberi instruksi apa pun kali ini. Dia hanya menonton dengan wajah datar, sesekali menyesap kopi dari cangkir di luar layar.
Langkah kedua puluh, dua puluh lima, tiga puluh.
Langkah tiga puluh dua, aku menatap papan catur dan berhenti.
Gajah Pak Darto terbuka, di posisi yang sama persis dengan dua bulan lalu. Aku bisa mengambilnya, dan kalau aku mengambilnya, dua langkah kemudian raja Pak Darto akan terkepung.
Aku mengangkat kepala. Pak Darto sedang menatapku dari balik kacamata tebalnya.
“Terakhir kali,” katanya pelan, “kamu nggak makan.”
“Iya, Pak.”
“Kamu nahan.”
“Iya, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena…” Aku menelan ludah. “Karena waktu itu saya pikir, Bapak nggak cari menantu yang menang. Bapak cari menantu yang tahu kapan harus nahan.”
Pak Darto diam lama. Di ambang dapur, Ibu Yati mengusap air mata dengan lap piring.
“Sekarang,” kata Pak Darto, “kamu mau apa dari Bapak?”
Aku menarik napas. “Saya mau minta restu, Pak. Buat nikahin Kinan.”
Pak Darto tidak menjawab. Dia menatap papan catur, lalu gajahnya yang terbuka.
“Kalau mau restu,” katanya akhirnya, “kali ini makan gajahnya.”
Aku menatapnya.
“Laki-laki yang cuma tahu nahan, nggak akan pernah maju.” Pak Darto mengetuk papan catur pelan dengan satu jari, tepat di samping gajahnya yang terbuka. “Dua bulan lalu kamu nahan di langkah yang benar. Tapi minggu lalu, di rapat komite, kamu nahan di langkah yang salah. Terus kamu mundur.” Dia mengangkat kepala. “Kinan nggak butuh laki-laki yang cuma tahu nahan. Kinan butuh laki-laki yang tahu kapan harus maju.”
Aku menatap gajah putih itu. Lalu aku mengangkat kudaku dan memakannya.
Di layar HP, Papa meletakkan cangkir kopinya.
Dua langkah kemudian, raja Pak Darto terkepung.
“Skakmat,” kataku pelan.
Hening. Ibu Yati menahan napas di ambang dapur.
Pak Darto menatap rajanya yang terkepung lama sekali. Lalu, pelan, dia menjatuhkan raja putih itu ke papan dengan satu jari. Tak. Tanda menyerah.
Dia melepas kacamatanya dan menggosok matanya dengan punggung tangan.
“Kelilipan,” gumamnya.
“Bapak!” Ibu Yati berlari dari dapur dan memeluk suaminya dari belakang, menangis keras di bahunya. “Bapak kalah! Bapak kalah! Tiga puluh dua tahun Bapak nggak pernah kalah catur!”
“Bapak nggak kalah,” gumam Pak Darto dengan suara serak, masih menggosok mata. “Bapak ngasih.”
Dia memakai kacamatanya lagi dan menatapku.
“Jalannya udah lurus,” katanya. “Lampunya udah nyala. Sekarang, jangan kebanyakan mikir. Maju.”
Dia mengulurkan tangannya di atas papan catur. Aku menjabatnya, dan jabatannya kuat dan hangat seperti dua bulan lalu. Kali ini dia tidak melepaskannya dengan cepat.
Di layar HP, Papa mengangguk sekali.
“Hm,” kata Papa.
Pak Darto menoleh ke layar HP. “Anakmu makan gajahku.”
“Anak saya belajar,” kata Papa.
“Dari siapa?”
Papa diam sebentar. Lalu sudut bibirnya naik, satu milimeter, dua milimeter. Itu senyum terlebar yang pernah kulihat di wajah Papa seumur hidupku.
“Dari Bapak,” kata Papa.
4. Cincin. (Wulan yang milih.)
Toko perhiasan emas di pasar kecamatan kecil dan terang, penuh etalase kaca dan pegawai yang memakai sarung tangan putih. Kami datang hari Minggu pagi, dan Wulan berdiri di depan etalase dengan wajah serius seorang kurator museum.
“Lan,” kataku, jongkok di sebelahnya. “Ingat. Ini rahasia. Bu Nanan nggak boleh tahu.”
“Aku tahu, Papa.”
“Nggak boleh cerita ke siapa-siapa.”
“Aku agen lahasia, Papa.”
“Agen rahasia yang dulu cerita soal cium kening di Cerita Akhir Pekan.”
Wulan menatapku dengan wajah tersinggung. “Itu dulu. Aku udah enam tahun.”
Dia kembali menatap etalase. Pegawai toko, seorang ibu muda berkerudung ungu, menunjukkan beberapa cincin: emas putih, emas kuning, dengan batu, tanpa batu, dan yang berukir.
Wulan menggeleng pada semuanya.
“Bukan ini,” katanya, menunjuk cincin dengan batu besar. “Ini kegedean. Nanti Bu Nanan susah ngepang.”
Dia menggeleng pada cincin berukir. “Bukan ini. Ini kayak punya Oma Lini. Bu Nanan belum Oma.”
Dia menggeleng pada cincin emas polos. “Bukan ini. Ini sepi.”
Pegawai toko menatapku dengan senyum geli. Aku mengangkat bahu. Dia jurinya.
Lalu Wulan berhenti di depan etalase paling ujung. Dia menempelkan dahinya di kaca, menatap sesuatu di baris paling bawah lama sekali, lalu menunjuk.
“Itu.”
Cincin itu emas putih tipis, sederhana. Di bagian atasnya ada dua bentuk kecil yang bersebelahan: bulan sabit mungil, dan bintang lebih kecil lagi di sebelahnya.
Aku menatap cincin itu, lalu anakku.
“Kenapa yang itu, Lan?”
Wulan menyentuh liontin bulan sabit di lehernya, kalung Mama.
“Soalnya bulannya aku,” katanya pelan. “Bintangnya Bu Nanan. Bu Nanan kan suka kasih bintang.”
Dia menatapku dengan mata cokelat besar yang serius.
“Jadi kalau Bu Nanan pakai cincin ini, aku sama Bu Nanan sebelahan. Selamanya.”
Pegawai toko berkerudung ungu itu mengusap matanya dengan sarung tangan putih.
Aku membeli cincin itu.
Waktu pegawai toko membungkusnya dalam kotak kecil beludru biru tua, sama dengan kotak kalung Anin, Wulan mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya: satu stiker bintang emas dari lembaran yang dia pakai untuk juri duel gombal.
“Tempel ini,” katanya pada pegawai toko. “Di dalam kotaknya. Di atas.”
“Kenapa, Lan?” tanyaku.
“Soalnya Bu Nanan dulu tempel bintang buat Papa di buku penghubung. Sekalang gantian.”
6. JANGAN SAMPAI BOCOR.
6a. Kemungkinan bocor: 97%.
Ternyata perkiraanku terlalu rendah.
Dinda membuat grup baru tanpa Kinan: OPERASI NOMOR 5 🐼💍. Grup itu punya lima belas anggota: semua anggota grup keluarga kecuali Kinan, ditambah Bu Tari, Bang Jali, dan Bu Hartini.
Aku perlu Bu Hartini karena rencanaku membutuhkan panggung wisuda TK. Waktu aku datang ke ruangannya untuk meminta izin, dia mendengarkan tanpa memotong. Lalu dia mengeluarkan novel pink dari laci, menatap sampulnya, dan berkata, “Di novel ini, lamarannya di stasiun kereta. Di sekolah saya, lamarannya di panggung wisuda. Hm.” Dia menutup laci. “Saya izinkan. Tapi jam sebelas tepat. Jangan telat.”
Dalam satu minggu, grup OPERASI NOMOR 5 mengalami empat kebocoran.
Kebocoran pertama: Mama mengirim pesan CINCINNYA UDAH DIBELI BELUM DANNY??? di grup keluarga yang ada Kinan-nya, bukan di grup Operasi. Pesan itu dihapus dalam delapan detik. Kinan membalas satu emoji: 👀.
Kebocoran kedua: Bang Jali menulis SEMANGAT MAS DANNY 💍 dengan kapur di papan tulis warungnya, di sebelah daftar utang. Dia menghapusnya pukul sepuluh lewat lima puluh sembilan, satu menit sebelum Kinan datang membeli kopi. Kinan melihat bekas kapurnya yang belum hilang sempurna.
Kebocoran ketiga: Wulan.
Agen rahasia berusia enam tahun yang sudah bersumpah atas nama liontin bulan sabitnya bertahan empat hari. Di hari kelima, waktu Kinan mengepang rambutnya di gerbang TK, Wulan tiba-tiba menatap tangan Kinan dan bertanya:
“Bu Nanan, jali manis Bu Nanan ukulannya belapa?”
Kinan berhenti mengepang. “…Kenapa, Sayang?”
Wulan membeku. Matanya melebar, lalu dia menutup mulut dengan kedua tangan dan berlari masuk kelas tanpa berkata apa-apa lagi, dengan kepangan setengah jadi.
Kebocoran keempat: Bu Sri.
Bu Sri dari TK Tunas Harapan, yang tidak ada di grup mana pun dan hanya pernah bertemu Kinan sekali dalam hidupnya lewat toples nastar, mengirim karangan bunga ke TK Pelangi Ceria. Karangan bunga matahari besar, dengan kartu ucapan untuk Bu Kinan. Isinya: Selamat menempuh… eh, belum ya? Maaf, Bu, saya kecepetan. Salam dari sesama guru TK. — Bu Sri.
Waktu Kinan menerima karangan bunga itu di gerbang, di depan dua puluh orang tua dan Bang Jali, dia membaca kartunya. Lalu dia menoleh ke seberang jalan, ke parkiran, ke mobil abu-abuku.
Dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangkat kartu itu tinggi-tinggi supaya aku bisa melihatnya dari seberang jalan, dan mengangkat alis.
Aku menutup muka dengan kedua tangan di balik kemudi.
6a. Kemungkinan bocor: 97%. (Revisi: 100%. Bocor dari empat arah. Termasuk dari orang yang nggak kenal Kinan.)
Ulang tahun Kinan jatuh hari Senin, lima belas Januari.
Pukul enam lewat empat puluh lima pagi, aku berdiri di depan pagar rumah bercat hijau muda. Kali ini aku tidak membawa dua gelas kopi.
Aku duduk di atas Si Pinky. Bagas sudah mengeluarkannya diam-diam dari garasi pukul enam pagi. Aku memakai helm hitam pinjaman Bagas, dan helm pink dengan stiker bintang tergantung di setang.
Kinan membuka pintu dengan kaus tidur bergambar kucing, rambut berantakan, dan satu sandal terpasang setengah. Persis seperti hari pertama aku datang dengan kopi.
Dia melihatku di atas Si Pinky dan berhenti di ambang pintu.
“…Danny?”
“Selamat ulang tahun.”
“Kamu di atas Pinky.”
“Hm.”
“Kamu nyetir Pinky? Dari garasiku ke depan pagar?”
“Sepuluh meter. Nggak jatuh.” Aku mengangkat helm pink dari setang. “Aku mau bonceng kamu.”
Kinan menatapku. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Ke mana?”
“Keliling kompleks. Pelan-pelan. Terus ke warung Bang Jali. Kopinya aku yang bayar.” Aku tersenyum. “Ulang tahunmu yang kedua puluh sembilan. Kamu udah dua puluh delapan tahun ngejar. Sekarang giliran kamu dibonceng.”
Kinan tidak berkata apa-apa. Dia masuk ke dalam rumah. Dua menit kemudian dia keluar lagi, masih dengan kaus tidur bergambar kucing, tapi sudah memakai celana jins dan jaket abu-abu milikku. Jaket yang tidak pernah dia kembalikan sejak malam mati lampu.
Dia berjalan ke Si Pinky, mengambil helm pink dari tanganku, dan memakainya. Dia mengencangkan talinya yang putih dan kokoh, lalu naik ke boncengan.
Tangannya melingkar di pinggangku, pelan, lalu erat.
“Danny.”
“Hm?”
“Kalau kita jatuh…”
“Aku nggak bakal jatuh.”
“Kamu jatuh delapan kali di lapangan.”
“Soalnya waktu itu aku lihat kamu.” Aku memutar gas pelan-pelan. “Sekarang kamu di belakang. Aku nggak bisa lihat kamu.”
Dia tertawa di punggungku, dan tawanya bergetar sampai ke jantung.
Kami berkeliling kompleks dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam. Kami melewati pos ronda, pohon jambu air tetangga, dan lapangan RT tempat aku jatuh delapan kali. Kinan menyanyi di belakangku, keras, dengan cengkok penuh, lagu nomor lima belas atau enam belas, aku sudah lupa urutannya. Tetangga-tetangga yang sedang menyapu halaman menoleh, dan beberapa bertepuk tangan.
Di lampu merah pertigaan, bapak ojol yang sama, di tempat yang sama, menoleh pada kami.
“Neng! Sekarang dibonceng!”
“IYA, PAK!” teriak Kinan dari balik helm. “GANTIAN!”
Di warung Bang Jali, di bangku kayu di bawah payung bergaris, aku memberinya hadiah.
Bukan cincin. Cincin itu masih di kotak beludru biru tua dengan stiker bintang di dalamnya, tersimpan di laci meja kerjaku di bawah tumpukan kabel, menunggu bulan Juni.
Hadiahnya adalah sebuah buku kecil bersampul plastik bening, persis seperti buku penghubung TK. Di sampul depannya, dengan tulisan tanganku yang kecil, rapi, dan sedikit miring ke kanan:
Buku Penghubung
Danny ↔ Kinan
Kinan membukanya. Halaman pertama sudah terisi.
Bu Kinan,
Hari ini ulang tahun Ibu yang kedua puluh sembilan. Saya bonceng Ibu keliling kompleks dengan Pinky, dan nggak jatuh. Mohon dicatat.
Buku ini untuk kita berdua. Setiap hari saya tulis satu hal, dan Ibu balas satu hal. Seperti dulu, waktu buku penghubung Wulan adalah satu-satunya jembatan kita.
Bedanya, sekarang kita nggak butuh jembatan lagi. Saya cuma suka baca tulisan tangan Ibu yang besar dan bulat.
P.S. Ibu nggak usah curiga soal apa pun. Semua yang Ibu lihat bulan ini (bekas kapur di warung Bang Jali, karangan bunga Bu Sri, pertanyaan Wulan soal ukuran jari manis) cuma kebetulan.
P.P.S. Itu bohong. Tapi tolong pura-pura percaya sampai Juni.
Di pojok halaman, satu stiker bintang emas.
Kinan membaca halaman itu lama sekali, dengan kopi Bang Jali di satu tangan dan buku kecil di tangan yang lain. Pipinya merah, matanya basah, dan telinganya, aku bisa melihatnya di bawah payung bergaris, merah sampai ke ujung.
Lalu dia mengambil pulpen merah dari saku jaket abu-abuku dan menulis balasan di bawahnya. Tulisannya besar dan bulat.
Dia menutup buku itu dan menyerahkannya padaku.
“Jangan dibaca sekarang,” katanya. “Nanti malam.”
Aku membacanya pukul sebelas malam, di meja makan, di bawah lampu kuning, setelah Wulan tidur.
Pak Danny,
Oke. Saya pura-pura percaya sampai Juni.
Tapi Bapak juga harus tahu satu hal: saya juga punya rahasia. Dan rahasia saya lebih besar dari permen yang Bapak sembunyiin di belakang punggung.
Bapak juga nggak usah curiga soal apa pun.
P.S. Itu juga bohong.
Di pojok halaman, satu stiker bintang emas. Di sebelahnya ada gambar kecil dengan pulpen merah: sebuah bulan sabit, dan sebuah bintang.
Aku menatap gambar itu. Bulan sabit dan bintang, bersebelahan, persis seperti cincin di kotak beludru biru tua di laci meja kerjaku.
Aku meletakkan buku itu di meja dan menatap langit-langit ruang makan lama sekali.
Lalu aku membuka Laporan Kerja Q1 dan menambahkan satu baris baru di bagian paling bawah:
7. KEMUNGKINAN: DIA JUGA PUNYA RENCANA.
7a. Kemungkinan dia tahu bentuk cincinnya: ???
7b. Kemungkinan Wulan agen ganda: sangat tinggi.
- 1 Hari Pertama
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor reading
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian