← Berkembang Sangat Baik

Chapter Four

Kopi Jam Sebelas

POV: Sheila


Buku penghubung Wulan pulang ke tanganku hari Rabu pagi, dan aku membukanya di parkiran motor sebelum sempat melepas helm.

Di bawah pertanyaanku, satu dari sepuluh, atau satu-satunya?, ada tulisan tangan Pak Danny. Hurufnya kecil, rapi, dan sedikit miring ke kanan, seperti orang yang terbiasa mengetik dan jarang menulis tangan.

Bu, jujur, stiker bintang saya tinggal satu yang bentuknya bagus. Sisanya sudah ditempel Wulan di kulkas, di pintu kamar mandi, dan di jidat saya waktu saya tidur.

Aku tertawa sendirian di parkiran, sampai tukang kebun sekolah menoleh.

Di bawahnya ada satu baris lagi:

Soal “sangat cocok” kemarin, stiker saya habis. Jadi anggap saja nilainya: stiker saya habis.

Aku membaca kalimat itu tiga kali, lalu menunduk ke setang Si Pinky dan menempelkan dahiku di sana.

“Pinky,” bisikku, “dia bilang stikernya habis.”

Si Pinky tidak menjawab karena mesinnya sudah mati. Tapi aku yakin dia ikut senang.


“Jadi dia sebenarnya jawab atau nggak jawab?” tanya Bu Tari waktu istirahat, sambil mengupas jeruk untuk anak-anak.

“Dia jawab dengan cara nggak jawab.”

“Itu namanya nggak jawab, Kinan.”

“Bukan, Tari. Itu namanya jawab dengan sopan supaya aku yang nyimpulin sendiri. Beda.”

Bu Tari menyuapkan satu siung jeruk ke mulut Rafi, yang sedang berusaha menggigit tutup botol. “Terus kamu nyimpulinnya apa?”

“Kesimpulanku,” kataku, berdiri dan berkacak pinggang di tengah kelas, “orang yang kerja sampai subuh dan jemput anak jam sebelas pasti belum sarapan. Dan orang yang belum sarapan butuh kopi.”

“Kinan, jangan.”

“Aku cuma bawa kopi.”

“Itu bukan ‘cuma’. Kamu guru anaknya.”

“Guru yang peduli. Tari, kemarin dia hampir ketiduran di bangku ketapang waktu nunggu Wulan pakai sepatu. Kepalanya udah jatuh gitu, terus bangun lagi, terus jatuh lagi. Kayak burung pelatuk.”

Bu Tari berhenti mengupas. Dia tidak bisa membantah itu, karena dia juga melihatnya.

“Satu gelas,” katanya akhirnya. “Satu kali.”

“Satu gelas sehari.”

“Kinan.”


Warung kopi Bang Jali ada di seberang sekolah, dan Bang Jali sudah mengenalku sejak aku pertama kali mengajar di sini. Dia tahu kopiku: hitam, gula setengah sendok, dan kalau aku sedang patah hati, ditambah satu pisang goreng.

“Tumben pesen dua, Neng.”

“Satunya buat orang, Bang.”

“Orang siapa?”

“Orang yang kerja malam.”

Bang Jali menatapku dengan wajah orang yang sudah dua puluh tahun jualan kopi di depan TK dan tahu semua gosip. “Papanya Wulan?”

Aku tersedak ludah sendiri. “Kok Abang tahu?”

“Neng, kemarin Neng sama Bu Tari ngomongin dia di warung saya tiga puluh menit. Suaranya kenceng. Satu RT juga tahu.”

Aku membayar dua kopi dan satu pisang goreng tanpa berkata apa-apa lagi, karena martabatku sudah tertinggal di warung itu kemarin.


Pukul sebelas kurang lima, Pak Danny datang. Kemejanya hijau tua, kancingnya benar, dan matanya sayu seperti panda yang dia buat kemarin.

Aku menghampirinya di gerbang dengan kopi di tangan, sebelum keberanianku sempat berubah pikiran.

“Pak.”

Dia menoleh, lalu melihat gelas kopi plastik di tanganku. Alisnya naik sedikit.

“Buat Bapak,” kataku. “Hitam, gula setengah sendok. Saya nggak tahu Bapak sukanya gimana, jadi saya kasih versi saya. Kalau nggak suka, boleh dibuang. Tapi jangan di depan saya, nanti saya sedih.”

Pak Danny menatap kopi itu, lalu menatapku.

“Bu Kinan beliin saya kopi?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku bisa saja menjawab karena Bapak kelihatan capek. Itu jawaban yang sopan dan dewasa, jawaban guru yang peduli.

Tapi seperti yang sudah kubilang, aku tidak punya rem.

“Pak,” kataku, menarik napas, “di lagu anak TK itu, balonnya ada lima. Tapi hati saya cuma satu, Pak. Mau?”

Aku menyodorkan kopi itu dengan dua tangan seperti menyodorkan mahar.

Di belakangku, ada suara sesuatu jatuh. Mungkin Bu Tari menjatuhkan sapu, atau mungkin itu jiwanya yang jatuh.

Pak Danny terdiam. Lama. Aku bisa melihat prosesnya di wajahnya: kaget, bingung, lalu sesuatu yang bergetar di sudut bibirnya. Dia menunduk, menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan bahunya mulai berguncang.

Dia tertawa. Bukan tawa sopan, tapi tawa yang keluar dari perut, yang membuatnya harus berpegangan pada tiang gerbang.

“Bu,” katanya di sela tawa, “itu… gombalan dari lagu anak TK?”

“Saya guru TK, Pak. Referensi saya terbatas.”

Dia tertawa lagi. Beberapa orang tua yang sedang menunggu mulai menoleh. Seorang ibu berkerudung pink menatap kami dengan mata menyipit tajam, seperti satpam mal yang melihat pencuri.

Akhirnya Pak Danny menegakkan badan dan menghapus sudut matanya. Dia mengambil kopi dari tanganku. Jari-jarinya menyentuh jariku sebentar, hangat.

“Terima kasih kopinya, Bu.”

“Hatinya?”

Dia menatapku. Matanya menyipit usil.

“Balon yang hijau meletus, Bu,” katanya pelan. “Hatinya aman?”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Hatiku? Hatiku jelas tidak aman. Hatiku sekarang sudah ikut meletus dan sisa-sisanya berterbangan di halaman TK.

“…Belum tahu, Pak,” jawabku akhirnya. “Tergantung Bapak jagain nggak.”

Kali ini gilirannya yang terdiam. Telinganya memerah. Dia menyesap kopinya, kepanasan, berusaha menyembunyikannya, dan gagal.

“Panas,” katanya.

“Kopinya atau…?”

“Kopinya, Bu.”

Wulan berlari ke arah kami dengan kepang yang pagi tadi kubuat, tasnya berguncang-guncang. Dia berhenti, menatap papanya yang telinganya merah dan gurunya yang cengar-cengir, lalu bertanya dengan kecurigaan seorang detektif:

“Papa kenapa melah?”

“Kopinya panas.”

“Kopinya kan di mulut. Kok telinganya yang melah?”

Aku harus berbalik dan pura-pura mengikat tali sepatu, supaya tidak tertawa di depan wali murid.


Kamis, aku membawa kopi lagi dengan gombalan baru.

“Pak, di lagu anak-anak, pelangi itu yang paling indah. Tapi buat saya, lebih indah lagi kalau Bapak ada di samping saya.”

Pak Danny mengambil kopinya. “Di lagunya kan pelanginya dipuji karena yang bikin Tuhan, Bu.”

“Bapak juga yang bikin Tuhan.”

Dia menatap langit dan menarik napas panjang, tapi senyumnya tidak hilang.

Jumat, gombalan ketiga.

“Pak, gunung di lagu anak-anak itu tinggi sekali, kan? Tapi cinta saya ke Bapak lebih tinggi lagi.”

“Bu, saya takut ketinggian.”

“Nggak apa-apa, Pak. Saya pegangin.”

Dia menunduk, menggeleng, dan tertawa pelan. Waktu mengambil kopi dia bergumam, “Lagu anak TK Indonesia sudah habis berapa, Bu?”

“Masih ada empat puluh tujuh, Pak. Saya sudah bikin daftar.”

“Ibu bikin daftar?”

“Lengkap sama jadwal.”

Pak Danny menatapku seperti menatap bencana alam yang indah. Tapi di hari Jumat itu, sebelum pergi, dia berhenti di samping mobil dan berkata tanpa menoleh:

“Kopi Bang Jali, ya?”

“Iya, Pak.”

“Kurang manis.”

Aku mengerutkan kening. “Kurang manis? Bapak mau tambah gula?”

“Bukan.” Dia membuka pintu mobil, lalu akhirnya menoleh. “Maksud saya, Ibu sukanya kurang manis. Saya perhatiin, Ibu selalu pesan setengah sendok.”

Lalu dia masuk mobil dan pergi, meninggalkan aku berdiri di gerbang dengan gelas kopiku sendiri di tangan, dan jantung yang, lagi-lagi, lupa caranya berdetak normal.

Dia memperhatikan gula di kopiku.

Laki-laki itu memperhatikan setengah sendok gula di kopiku.


Sabtu malam, Bagas menyerahkan laporan intel pertamanya di ruang tengah, dengan seblak level lima di tangan kiri dan HP di tangan kanan.

“Laporan nomor satu,” katanya sambil menyeruput kuah pedas. “Target kerja remote untuk perusahaan software di Amerika sama satu klien di Belanda. Target lulusan Teknik Informatika, cum laude. Target nggak pernah upload foto wajah sendiri di medsos, adanya foto anaknya doang. Target…” Bagas berhenti, mengunyah ceker dengan dramatis.

“Target apa?”

“Target pernah dua kali komentar di akun Instagram TK Pelangi Ceria. Dua-duanya di foto kelas TK B.”

Aku merebut HP-nya. Benar. Di foto kegiatan menanam kacang hijau minggu lalu, di mana aku kelihatan sedang tertawa dengan tanah di pipi, ada komentar dari akun yang foto profilnya pantai dan anak kecil di punggung:

Terima kasih Bu Guru. 🙏

“Itu komentar biasa, Gas.”

“Kak. Di foto itu, anaknya bahkan nggak kelihatan. Yang kelihatan cuma Kakak.”

Ibu, yang sedang menyetrika di pojok, berhenti menyetrika. Bapak, yang sedang main catur melawan dirinya sendiri, berhenti menggeser bidak.

“Hm,” kata Bapak.

“Katering Bu Haji Sumi,” bisik Ibu pada dirinya sendiri, lalu kembali menyetrika dengan semangat baru.

Aku berbaring di karpet dan menutup muka dengan bantal sofa. Malam itu aku menulis ulang daftar empat puluh tujuh lagu anak TK di buku tulis, lengkap dengan jadwal harian dan catatan kecil di pinggir halaman: Senin — Bintang Kecil. Kalau dia ketawa, lanjut. Kalau dia kabur, tetap lanjut.


Senin berikutnya, aku datang ke warung Bang Jali seperti biasa. Aku sudah menyiapkan gombalan dari lagu Bintang Kecil, lengkap dengan gerakan tangan.

Tapi Bang Jali menggeleng waktu aku memesan dua kopi.

“Udah dibayar, Neng.”

“Apa?”

“Kopi Neng. Udah dibayar. Satu minggu.”

Aku menatapnya bingung. Bang Jali menunjuk papan tulis kecil di belakang etalase, tempat dia biasanya mencatat utang. Di sana, dalam tulisan kapur yang rapi dan sedikit miring ke kanan, tertulis:

BU KINAN — kopi hitam, gula ½ sendok — LUNAS s/d Jumat. — D.

“Tadi pagi jam tujuh,” kata Bang Jali, “pas nganter Wulan, Bapak itu mampir. Katanya, ‘Bang, yang tiap hari beliin saya kopi, jangan sampai dia yang bayar terus.’”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Terus,” lanjut Bang Jali sambil mengaduk kopi dengan santai, “dia nanya, Neng suka pisang goreng nggak. Saya bilang kalau Neng lagi patah hati, suka. Terus dia bilang…” Bang Jali berhenti dan menyeringai. “Dia bilang, ‘Oh. Semoga nggak butuh pisang goreng, ya, Bang.’”


Pukul sebelas, aku menunggu di gerbang dengan dua kopi di tangan. Dua kopi yang sudah dibayar orang yang akan menerimanya.

Tapi Pak Danny tidak datang pukul sebelas. Pukul sebelas lewat lima, dia belum datang juga. Pukul sebelas lewat sepuluh, Wulan menarik-narik rokku.

“Bu Nanan, Papa ada di mobil.”

“Di mobil?”

Wulan menunjuk ke parkiran seberang. Mobil abu-abu Pak Danny ada di sana, mesinnya mati.

Aku menitipkan Wulan ke Bu Tari dan menyeberang jalan dengan dua gelas kopi. Waktu aku mengintip dari jendela mobil, aku berhenti.

Dia tidur.

Kepalanya bersandar di sandaran kursi, sedikit miring ke arah jendela. Kemejanya biru muda, dan salah satu kancingnya lagi-lagi salah pasang. Tangannya masih memegang HP yang layarnya sudah gelap. Wajahnya kalau sedang tidur terlihat lebih muda, tanpa kerutan lelah di dahi. Bulu matanya panjang untuk ukuran laki-laki, dan napasnya pelan dan teratur.

Aku berdiri di situ terlalu lama, mungkin semenit, mungkin lebih. Dan satu pikiran berbahaya masuk ke kepalaku: aku mau lihat dia tidur setiap hari.

Lalu, seolah merasakan sesuatu, matanya terbuka. Kami bertatapan lewat kaca jendela, dan dia berkedip dua kali. Lalu dia menurunkan kaca jendela pelan-pelan.

“…Bu Kinan.”

“Selamat pagi, Pak. Eh, siang. Eh, subuh Bapak.”

Dia mengusap wajahnya dan melihat jam di dasbor. “Ya ampun. Saya datang jam sepuluh setengah. Rencananya mau nunggu sebentar.”

“Terus?”

“Terus…” Dia tersenyum kecil, masih setengah mengantuk, suaranya serak dan lebih rendah dari biasanya. “Ternyata nunggu jam sebelas di sini itu lebih enak daripada tidur di rumah.”

Aku diam. Dia diam. Di sela kami ada kaca jendela yang terbuka setengah dan dua gelas kopi yang sudah dibayar.

“Kenapa lebih enak, Pak?” tanyaku, dengan suara yang tidak kukenali. Suaraku jadi pelan, tidak seperti biasanya.

Pak Danny menatapku. Lalu dia sepertinya sadar apa yang baru dia katakan, karena matanya melebar sedikit. Telinganya mulai memerah, dan dia berdeham, lalu menunjuk gelas di tanganku.

“Karena kopinya diantar sampai jendela.”

Aku menyerahkan kopinya. Dia menerimanya dan menyesap, lalu memejamkan mata sebentar, seperti orang yang baru pulang ke rumah.

“Pak,” kataku. “Kopinya dibayarin, ya?”

“Hm.”

“Satu minggu.”

“Hm.”

“Kenapa?”

Dia membuka mata. “Soalnya Ibu masih punya empat puluh tujuh lagu, kan? Saya butuh energi buat dengerin semuanya.”

Aku tertawa. Keras, seperti biasanya, tanpa berusaha anggun. Dan waktu aku tertawa, aku melihat dia menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya: lembut, sedikit kaget, seperti orang yang menemukan lagu favoritnya diputar di tempat yang tidak dia duga.

“Pak.”

“Hm?”

Aku mulai menyanyikan lagu tentang bintang kecil di langit, pelan-pelan, persis seperti waktu menidurkan anak-anak di jam istirahat.

“Bu…”

Aku terus menyanyi. Dia sudah menutup muka dengan satu tangan dan tertawa.

Di baris terakhir, yang seharusnya tentang ingin terbang tinggi ke langit, aku mencondongkan badan sedikit ke jendela dan mengganti ujungnya dengan kata-kataku sendiri: “…ke tempat Bapak berada.”

Dari balik tangannya, dengan suara tertahan tawa, dia berkata, “Liriknya bukan gitu, Bu.”

“Versi saya.”

Dia menurunkan tangannya. Wajahnya merah sampai ke leher, tapi dia tersenyum, dan senyum itu membuat halaman parkir, warung Bang Jali, tukang parkir, dan dunia seisinya menghilang sebentar.

“Versi Ibu,” katanya pelan, “lebih bagus.”