← Berkembang Sangat Baik

Chapter Seven

Sekutu di Lapangan RT

POV: Sheila


Lomba makan kerupuk tingkat RT 04 bukan sekadar lomba. Bagiku, itu gelar kehormatan.

Tiga tahun berturut-turut aku menjuarainya. Tahun pertama, aku menghabiskan kerupuk dalam empat puluh dua detik. Tahun kedua, tiga puluh delapan detik. Tahun ketiga, tiga puluh satu detik, rekor RT yang sampai sekarang belum terpecahkan. Waktu itu Pak RT sampai mengumumkan lewat pengeras suara masjid bahwa “Neng Kinan adalah aset kebanggaan RT 04”.

Ibu menyimpan tiga piala kecil berbentuk kerupuk emas itu di lemari kaca ruang tamu, di sebelah foto pernikahan Ibu dan Bapak. Menurut Ibu, itu satu-satunya prestasiku yang bisa dibanggakan di depan tetangga, karena prestasi lainnya adalah “masih jomblo di umur dua puluh delapan”.

Tapi tahun ini berbeda.

Tahun ini ada suporter.


“Kamu dandan,” kata Ibu Sabtu pagi, pukul tujuh, berdiri di ambang pintu kamarku dengan tangan di pinggang.

“Nggak, Bu.”

“Kamu pakai lipstik.”

“Ini lip balm.”

“Warna merah?”

“Lip balm yang… bersemangat.”

Ibu memicingkan mata. Radarnya berputar dengan kecepatan penuh. “Kamu mau lomba makan kerupuk, Kinan. Kerupuknya nggak peduli kamu pakai lipstik atau nggak.”

“Kerupuknya nggak peduli, Bu. Tapi…”

Aku berhenti. Terlambat, karena Ibu sudah melihatnya di wajahku.

“Dia datang?” bisik Ibu. Matanya melebar. “Papanya Wulan? Ke lomba RT? Ke lapangan kita?”

“Katanya mau jadi suporter.”

Ibu memutar badan dan berteriak ke seluruh rumah dengan suara yang lebih keras dari pengumuman masjid.

“BAPAK! GANTI BAJU! JANGAN PAKAI KAUS KUTANG! BAGAS, BANGUN! ADA TAMU PENTING!”


Lapangan RT 04 pukul delapan pagi sudah seperti festival. Ada bendera merah putih di setiap tiang, umbul-umbul warna-warni, tali rafia yang membentang untuk lomba makan kerupuk, balap karung di pojok, dan panggung kecil untuk lomba joget. Anak-anak berlarian dengan ikat kepala merah putih, dan bapak-bapak sibuk memasang karung.

Aku berdiri di area peserta dengan kaus merah bertuliskan KINAN — JUARA BERTAHAN 3X yang dibuat Bagas semalam di tukang sablon kilat. Rambutku dicepol tinggi dan dijepit jepit panda. Helm pink kutinggal di motor, tapi stiker bintangnya sempat kuelus dulu sebelum turun, untuk keberuntungan.

Aku melirik jam tangan. Delapan lewat lima, dan dia belum datang.

“Dia pasti datang,” kata Bu Tari, yang kubawa sebagai “manajer”. Lebih tepatnya, aku menyeretnya dari rumah dengan janji traktir bakso. “Dia bilang mau bawa spanduk.”

“Dia bilang tiga puluh persen serius soal spanduk.”

“Kinan, laki-laki itu beliin kamu helm SNI. Kalau dia bilang tiga puluh persen, artinya sembilan puluh.”

Aku belum sempat membalas, karena seseorang menepuk bahuku dari belakang.

Bukan dia. Yang berdiri di belakangku adalah seorang ibu berusia enam puluhan, berkerudung krem sederhana dan berkacamata bulat, memegang kipas bambu. Wajahnya ramah, dengan kerutan tawa yang dalam di sudut matanya.

“Maaf, Neng. Yang lomba kerupuk daftarnya di sini, ya?”

“Oh, iya, Bu. Tapi pendaftarannya udah tutup kemarin. Ibu mau ikut?”

“Bukan, bukan,” dia tertawa dan mengibaskan kipasnya. “Saya nonton. Nunggu anak saya, lagi parkir. Katanya mau nonton temannya lomba.”

“Oh! Sama, Bu. Saya juga lagi nunggu… teman.”

Ibu itu menatap kausku. “Juara bertahan tiga kali. Wah. Hebat, Neng.”

“Hehe. Ini satu-satunya prestasi saya, Bu. Kata ibu saya.”

Dia tertawa lagi, dan tawanya renyah dan hangat, seperti nenek-nenek di iklan kecap. Lalu dia menepuk bangku plastik di sebelahnya. “Duduk sini dulu, Neng. Lombanya masih lama, kan? Masih balap karung anak-anak.”

Aku duduk. Bu Tari pamit sebentar untuk membeli es teh.

Kami mengobrol. Ibu itu ternyata tinggal di kompleks sebelah, pensiunan guru SD, dan senang sekali mendengar aku guru TK. Dia bertanya soal murid-muridku. Aku bercerita soal Rafi yang makan tanah, soal dua puluh anak yang menyanyikan Balonku dengan nada lagu kebangsaan, dan soal senam Jumat kemarin.

Lalu, karena aku tidak punya rem, dan karena ibu itu menatapku dengan mata ramah yang membuat semua rahasia ingin keluar, aku bercerita lebih banyak.

“Bu, boleh saya curhat sedikit?”

“Boleh, Neng. Saya pensiunan guru. Kerjaan saya dulu dengerin curhat.”

“Saya lagi suka sama papanya murid saya.”

Ibu itu berhenti mengipas.

“Oh?”

“Iya. Saya tahu ini nggak profesional, Bu. Saya tahu. Tapi dia itu…” Aku menarik napas, menatap langit biru dan umbul-umbul merah putih. “Istrinya meninggal tiga tahun lalu. Dia sendirian ngurus anaknya, kerja malam, jemput jam sebelas, nggak bisa ngepang, bikin bekal panda yang kayak habis begadang. Dia pernah telat jemput karena alarmnya kepasang jam sepuluh malam. Tapi, Bu…”

“Tapi?”

“Tapi anaknya bahagia banget. Anaknya ceria, pintar, sopan. Anaknya ngomongin mamanya dengan santai, kayak mamanya cuma lagi liburan ke tempat yang enak. Itu artinya papanya ngajarin dia dengan baik. Ngajarin buat sedih tanpa takut.” Aku berhenti sebentar. “Saya nggak kenal istrinya, Bu. Tapi saya yakin istrinya orang baik banget. Soalnya cuma orang baik yang bisa ninggalin dua orang yang saling sayang sampai kayak gitu.”

Ibu itu tidak berkata apa-apa.

Aku menoleh. Dia sedang menatapku, dan matanya di balik kacamata bulat itu berkaca-kaca.

“Bu? Ibu nggak apa-apa? Aduh, maaf, Bu, saya kebanyakan ngomong.”

“Nggak,” katanya pelan. Dia melepas kacamatanya dan mengusap mata dengan ujung kerudung. “Nggak apa-apa, Neng. Terus, papanya itu gimana? Suka balik sama Neng?”

“Saya nggak tahu, Bu. Kadang saya pikir iya. Dia beliin saya helm. Dia bayarin kopi saya seminggu. Dia bilang pengen lihat saya lomba. Tapi dia juga… hati-hati banget. Kayak orang yang takut pegang sesuatu, takut pecah.” Aku tersenyum kecil. “Tapi nggak apa-apa. Saya sabar. Eh, nggak juga, sih. Saya nggak sabar. Saya nggak punya rem. Tapi saya nggak akan maksa dia.”

“Neng,” kata ibu itu, memakai kacamatanya lagi. Suaranya masih sedikit bergetar. “Siapa nama papanya?”

“Danny, Bu. Pak Danny. Anaknya namanya Wulan. Lucu banget, cadel, manggil saya Bu Nanan…”

Aku berhenti bicara, karena ibu itu tiba-tiba tersenyum. Senyumnya lebar, basah, dan penuh sesuatu yang tidak bisa kubaca.

Lalu dari belakangku terdengar suara anak kecil yang sangat kukenal:

“OMA! OMA RATMI! ITU BU NANAN! OMA UDAH KETEMU BU NANAN?”


Aku menoleh pelan-pelan, seperti di film horor.

Di belakangku berdiri Wulan dengan ikat kepala merah putih dan dua kepang yang dikepang sendiri oleh papanya. Miring sebelah, tapi jauh lebih rapi dari minggu lalu. Di sebelahnya ada Pak Danny, memakai kaus putih dan topi, memegang gulungan kain besar.

Dan wajah Pak Danny… pucat. Pucat seperti orang yang baru sadar sesuatu yang sangat, sangat berbahaya sedang terjadi.

“Ma,” katanya pelan, “Mama… udah kenalan sama Bu Kinan?”

Aku menatap ibu berkacamata bulat di sebelahku.

Ma.

Oma Ratmi.

Otakku bekerja sangat lambat. Seperti Si Pinky di pagi hari, yang harus dirayu dulu.

Lalu aku ingat. Wulan pernah menyebut nama itu di kelas. Oma Ratmi, mamanya Mama.

Ibu dari almarhumah istrinya.

Dan aku baru saja duduk di sebelahnya, lalu bercerita panjang lebar bahwa aku jatuh cinta pada menantunya.

“Ya Allah,” bisikku.

“Neng,” kata Bu Ratmi dengan lembut, lalu meletakkan tangannya di atas tanganku. Tangannya hangat dan agak keriput. “Tenang. Tarik napas.”

“Bu, saya… maaf, Bu. Saya nggak tahu. Saya nggak bermaksud… Ya Allah, saya ngomongin anak Ibu…”

“Neng ngomongin anak saya dengan baik,” potong Bu Ratmi. Matanya masih berkaca-kaca, tapi senyumnya tidak hilang. “Tiga tahun ini, banyak orang ngomongin Anin. Kasihan, sayang, masih muda. Tapi belum pernah ada yang ngomong kayak Neng tadi.”

Dia meremas tanganku.

“Cuma orang baik yang bisa ninggalin dua orang yang saling sayang sampai kayak gitu.” Dia mengulang kalimatku pelan. “Anin pasti senang dengar itu.”

Aku tidak bisa bicara. Tenggorokanku tersumbat sesuatu.

Pak Danny masih berdiri di belakang dengan gulungan kain di tangan, menatap kami berdua. Wajahnya tidak lagi pucat. Wajahnya sekarang menunjukkan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat dadaku sakit. Seperti orang yang baru mendengar kalimat yang sudah lama ingin dia dengar dari seseorang.

“Danny,” kata Bu Ratmi tanpa menoleh.

“Ya, Ma.”

“Mama mau duduk di sini aja. Sama Neng Kinan.”

“Ma, lombanya di sana…”

“Mama bilang di sini.”

Pak Danny menghela napas, tapi aku melihat sudut bibirnya naik sedikit. Dia menyerah dan duduk di bangku sebelah Bu Ratmi, dengan Wulan di pangkuannya.

Bu Ratmi mendekatkan kepalanya ke telingaku dan berbisik dengan nada konspirasi:

“Neng, nomor WA Neng berapa? Mama mau masukin ke grup.”

“Grup apa, Bu?”

“Grup yang Danny nggak boleh tahu.”


Lomba makan kerupuk dimulai pukul sembilan.

Delapan peserta berdiri di bawah tali rafia yang membentang. Kerupuk-kerupuk putih besar tergantung di depan wajah kami, bergoyang ditiup angin. Tangan harus di belakang punggung, tanpa bantuan.

Di pinggir lapangan, suporterku berkumpul.

Ibu berdiri paling depan dengan kipas dan suara yang sudah dipanaskan. Bapak duduk di kursi plastik sambil membawa papan catur magnetik, karena Bapak tidak pernah pergi ke mana pun tanpa papan catur. Bagas memegang HP untuk merekam. Bu Tari memegang es teh. Bu Ratmi duduk di sebelah Ibu, dan dalam lima belas menit kedua ibu itu sudah akrab seperti teman sekelas yang lama tidak bertemu. Mereka saling bisik dan saling tunjuk ke arahku, lalu tertawa bersama dengan cara yang sangat mencurigakan.

Dan di tengah mereka, Pak Danny dan Wulan membentangkan spanduk.

Spanduk itu dari kain putih, dengan tulisan tangan cat poster warna-warni:

BU NANAN JUARA!!! 🎈⭐🐼

Huruf-hurufnya miring ke segala arah. Huruf N-nya terbalik dua kali. Ada gambar balon, bintang, dan sesuatu yang mungkin panda atau mungkin kentang dengan kacamata hitam.

“Wulan yang tulis,” teriak Pak Danny dari pinggir lapangan, begitu melihat wajahku. “Saya cuma pegang!”

“Papa yang gambal pandanya!” teriak Wulan.

“Itu rahasia, Lan!”

Seluruh lapangan tertawa. Pak RT, yang memegang mikrofon, berkata, “Wah, Neng Kinan sekarang punya fans klub!”

Aku menatap spanduk itu. N terbalik, panda kentang, dan laki-laki bertopi yang memegang ujung spanduk dengan telinga merah.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang aneh, bahwa aku akan menang hari ini. Bukan karena rekor, tapi karena ada seseorang yang datang untuk melihatku menang.

“SIAP?” teriak Pak RT. “SATU… DUA… TIGA!”


Aku tidak akan menceritakan detail teknik makan kerupukku, karena itu rahasia keluarga yang diwariskan dari almarhum nenek. Aku hanya akan bilang bahwa teknik itu melibatkan gigitan dari bawah, rotasi kepala empat puluh lima derajat, dan tidak peduli sama sekali pada martabat.

Aku menggigit, mengunyah, menggigit lagi. Kerupuk bergoyang seperti musuh yang licik, remah-remah berterbangan ke mana-mana, dan aku mendengus seperti banteng.

Di pinggir lapangan, suara-suara bercampur jadi satu.

“AYO KINAN! INGAT KATERING!” Itu Ibu, dan aku tidak mau tahu maksudnya.

“AYO BU NANAN! GIGIT! GIGIT!” Itu Wulan.

“Kiri sedikit,” gumam Bapak, seperti memberi instruksi catur.

Lalu, di tengah semua itu, ada satu suara yang tidak terlalu keras tapi entah bagaimana menembus semuanya:

“Ayo, Kinan.”

Bukan Bu Kinan. Hanya Kinan.

Aku hampir tersedak kerupuk.

Tiga gigitan terakhir. Kerupuk habis, dan aku mengangkat kepala dengan remah-remah di pipi, di hidung, dan di jepit panda.

“SELESAI!” teriak Pak RT. “DUA PULUH SEMBILAN DETIK! REKOR BARU! NENG KINAN MEMECAHKAN REKORNYA SENDIRI!”

Lapangan meledak. Ibu melompat-lompat sambil memeluk Bu Ratmi, dan Bu Ratmi melompat-lompat sambil memeluk Ibu. Bapak mengangguk sekali dan bergumam, “Hm.” Bagas berteriak ke HP-nya. Bu Tari menepuk tangan dengan wajah pasrah. Wulan melompat-lompat sampai ikat kepalanya jatuh.

Dan Pak Danny, di tengah semua kekacauan itu, masih memegang spanduk. Dia tidak bersorak, dia hanya tersenyum. Senyum yang begitu lebar sampai matanya menyipit jadi dua garis melengkung, seperti waktu hari pertama dia minta maaf karena terlambat. Hanya saja kali ini senyum itu untukku.


Setelah penyerahan hadiah, yaitu piala kerupuk emas keempat dan sebuah kompor gas satu tungku sumbangan Pak RT, aku menemukan Pak Danny di bawah pohon mangga di pojok lapangan.

Dia sedang menggulung spanduk dengan hati-hati, seperti menggulung sesuatu yang berharga. Wulan sudah diculik Bu Ratmi dan Ibu untuk beli es krim, dan menurutku itu sama sekali bukan kebetulan.

“Pak.”

Dia menoleh. “Selamat, Bu. Rekor baru.”

“Makasih, Pak. Spanduknya.”

“Spanduknya jelek.”

“Spanduknya bagus. N-nya terbalik dua kali, pandanya kayak kentang. Itu spanduk terbagus yang pernah saya dapat.”

Dia tertawa pelan dan menyelesaikan gulungannya. Lalu, dengan gerakan yang terlihat seperti tidak sengaja tapi jelas disengaja, dia mengangkat tangannya dan mengambil remah kerupuk yang tersangkut di jepit panda di rambutku.

Jarinya sangat pelan, hampir tidak menyentuh rambutku.

“Masih ada kerupuknya,” katanya.

“…Oh.”

“Di pipi juga.”

Aku mengusap pipi kiriku.

“Kanan,” katanya.

Aku mengusap pipi kanan, dan remahnya masih ada. Aku tahu karena dia tersenyum dengan cara yang sabar sekali, seperti orang yang sedang melihat anak kecil yang lucu.

“Biar saya,” katanya pelan. Lalu ibu jarinya menyentuh pipiku, sebentar sekali, dan mengusap remah itu.

Aku berhenti bernapas.

Pohon mangga, umbul-umbul, suara pengeras suara Pak RT yang mengumumkan lomba balap karung ibu-ibu, semuanya menjauh dan jadi samar.

“Pak,” kataku, dan suaraku pelan sekali. “Kemarin Bapak bilang mau kasih tahu yang tujuh puluh persen. Hari ini.”

Tangannya turun, dan dia mundur setengah langkah. Aku melihat sesuatu berkedip di matanya: ragu, hati-hati, persis seperti yang kuceritakan pada Bu Ratmi tadi.

Lalu dia menarik napas.

“Yang tiga puluh persen,” katanya, “saya datang ke sini supaya nggak bohong ke Mama Keysha.”

“Terus yang tujuh puluh?”

Dia menatapku lama. Angin bertiup, dan daun-daun mangga bergemerisik.

“Yang tujuh puluh persen,” katanya pelan, “saya pengen lihat Ibu menang.”

Hanya itu. Bukan pengakuan, bukan janji, bukan kalimat romantis dari drama yang biasa kutonton sampai jam dua pagi.

Tapi dia mengatakannya dengan wajah yang begitu jujur, dengan telinga yang merah dan tangan yang meremas gulungan spanduk terlalu kuat, sampai aku tahu. Aku tahu itu bukan kalimat kecil untuknya.

“Terus?” bisikku. “Bapak lihat?”

“Saya lihat.” Dia tersenyum kecil. “Dua puluh sembilan detik.”

“Dan?”

“Dan…” Dia berhenti, memalingkan wajah ke arah lapangan, lalu kembali menatapku. “Dan itu dua puluh sembilan detik paling… paling bagus yang saya tonton tahun ini.”

Dari kejauhan, terdengar suara dua ibu yang berteriak bersamaan dengan kekompakan mencurigakan:

“DANNY! KINAN! ES KRIMNYA MELELEH!”

Kami berdua menoleh. Di bawah tenda es krim, Ibu dan Bu Ratmi berdiri berdampingan, masing-masing memegang satu cone es krim, dan melambai-lambai dengan terlalu semangat. Di antara mereka, Wulan menjilat es krim cokelat sampai belepotan ke dagu.

Pak Danny mengusap wajahnya dengan satu tangan. “Mama saya sama ibu Ibu…”

“Iya.”

“Mereka udah…”

“Sejak lima belas menit pertama, Pak.”

“Mereka tadi bisik-bisik apa?”

Aku ingat Bu Ratmi yang meminta nomorku, dan kalimatnya: grup yang Danny nggak boleh tahu.

“Nggak tahu, Pak,” kataku, dengan wajah paling polos sedunia. “Mungkin resep kue.”

Pak Danny menatapku dengan mata menyipit curiga. Tapi dia tidak bertanya lagi. Dia hanya menyelipkan gulungan spanduk ke bawah lengannya, lalu berjalan di sebelahku menuju tenda es krim.

Di tengah jalan, tangan kami bersentuhan sekali, tidak sengaja. Lalu sekali lagi, dan yang kedua, aku cukup yakin, bukan tidak sengaja.

Tapi dia tidak menggenggam, dan aku juga tidak.

Belum.