← Berkembang Sangat Baik

Chapter Thirty

Pulang ke Sini

POV: Danny


Aku sudah memasang dua alarm, dan dua-duanya berbunyi tepat waktu.

Alarm pertama berbunyi pukul lima sore. Aku sudah memeriksa AM dan PM tiga kali. Waktu itu aku sudah berpakaian, dengan kemeja biru muda yang kancingnya kuperiksa di cermin, dan map plastik bening di meja makan yang isinya belum lengkap.

Alarm kedua berbunyi pukul lima lewat lima belas, sebagai cadangan. Waktu itu aku sudah di mobil, menuju TK Tunas Harapan, untuk mengambil kembali satu lembar kertas sebelum pergi ke rapat.

Rencananya sederhana: masuk, minta formulir pendaftaran Wulan, keluar. Sepuluh menit, paling lama lima belas. Masih ada satu jam empat puluh menit sebelum rapat.

Aku tidak memperhitungkan Bu Sri.


Bu Sri masih di ruangannya pukul lima lewat tiga puluh, dengan bros bunga matahari besar di kerudung dan teh manis di meja. Dia mendengarkan penjelasanku tanpa memotong. Aku menjelaskan pembatalan pendaftaran, alasan keluarga yang ternyata bukan alasan keluarga, dan guru bernama Bu Kinan yang dipanggil Bu Nanan.

Lalu dia melepas kacamata tebalnya dan menatapku.

“Pak Danny,” katanya. “Sabtu kemarin, waktu Bapak nulis (Wulan memanggilnya Bu Nanan) di formulir ini, saya udah tahu Bapak bakal balik.”

“…Ibu tahu?”

“Tiga puluh lima tahun jadi guru TK, Pak.” Dia tersenyum dan mengeluarkan formulir itu dari map di laci. “Orang tua yang beneran mau pindahin anaknya nggak nulis nama panggilan guru lamanya dalam kurung.”

Dia menyerahkan formulir itu padaku. Lalu, sebelum aku sempat berdiri, dia mulai bercerita.

Tentang suaminya. Almarhum suaminya, yang dia temui empat puluh tahun lalu waktu dia masih guru TK muda dan suaminya adalah kakak salah satu murid, yang selalu datang menjemput dengan sepeda ontel dan selalu terlambat sepuluh menit. Tentang bagaimana kepala sekolahnya waktu itu melarang mereka bicara di halaman sekolah. Tentang bagaimana suaminya akhirnya melamar di warung bakso depan sekolah dengan cincin yang dibeli dari hasil jual sepeda ontelnya.

“Empat puluh dua tahun kami nikah, Pak,” kata Bu Sri, mengusap matanya dengan ujung kerudung. “Dia selalu telat sepuluh menit, sampai hari terakhir. Waktu dokter bilang dia udah nggak ada, saya lihat jam. Jam sepuluh lewat sepuluh.”

Aku melirik jam dinding di ruangannya, dan menunjukkan pukul enam lewat dua puluh.

Bu Sri melihat arah pandangku. Dia tertawa, lalu berdiri dan mengambil toples kecil berisi kue kering nastar dari lemari.

“Ini,” katanya, menyodorkan toples itu. “Buat Bu Nanan. Bilang dari Bu Sri, TK Tunas Harapan. Titip salam dari sesama guru TK. Bilang, jangan kalah sama kepala sekolah.”

“Terima kasih, Bu.”

“Sekarang lari, Pak.” Bu Sri memakai kacamatanya lagi. “Jangan kayak suami saya. Jangan telat sepuluh menit.”

Aku lari.

Jalan di depan pasar kecamatan macet karena ada truk sayur mogok. Aku terjebak tiga belas menit di sana, menatap jam di dasbor, dan mengetuk setir dengan jari. Setelah itu aku parkir di seberang TK, lari menyeberang jalan, dan lari melewati satpam yang berteriak, “Mas! Rapatnya udah mulai!”

Aku terlambat dua puluh menit, bukan sepuluh.

Aku masih kalah dari suami Bu Sri.


Aku membuka pintu kelas terlalu keras. Pintu itu membentur dinding, dan sebuah gambar rumah dengan matahari tersenyum jatuh dari selotipnya.

Seluruh kelas menoleh padaku: dua puluh orang tua, meja panjang, Pak Wiryo, Bu Hartini, dan dua puluh buku kecil bersampul plastik yang berjajar di meja.

Lalu Kinan.

Dia berdiri di ujung meja panjang dengan jepit panda di rambut dan buku penghubung Wulan di depannya. Wajahnya basah, dan matanya merah. Dia menatapku seperti orang yang tidak berani berharap, tapi tetap berharap.

“Dua puluh menit,” katanya.

“Satu ketukan,” jawabku.

Aku berjalan ke depan kelas. Kakiku gemetar, tapi aku tidak berhenti.

Aku melewati barisan kedua dari belakang. Oma Ratmi mengangkat tas tangannya dari kursi kosong di sebelahnya, lalu tersenyum padaku dengan wajah guru kelas satu yang muridnya akhirnya datang ke sekolah.

Aku tidak duduk di kursi itu. Aku terus berjalan ke depan.

Aku berhenti di depan meja panjang, lalu meletakkan toples nastar di atas meja, di antara buku penghubung Rafi dan buku penghubung Bima.

“Ini dari Bu Sri, kepala TK Tunas Harapan,” kataku ke Kinan. Suaraku serak karena berlari. “Buat kamu. Katanya titip salam dari sesama guru TK. Dan katanya, jangan kalah sama kepala sekolah.”

Bu Hartini, di tengah meja, mengangkat alis. Kinan menatap toples nastar itu, lalu menatapku dengan wajah yang tidak bisa memutuskan harus tertawa atau menangis.

“Kamu,” bisiknya, “ke TK Tunas Harapan dulu?”

“Ambil ini.” Aku mengangkat map plastik bening. Di dalamnya ada selembar formulir, formulir pendaftaran Wulan Anindya Hermansyah. Di bagian bawah ada stempel merah yang masih basah: DIBATALKAN.

Lalu aku menoleh ke Pak Wiryo.

“Pak,” kataku. “Mohon maaf saya lancang. Boleh saya pinjam surat mutasi Bu Kinan?”

Pak Wiryo menatapku, lalu menatap Bu Hartini.

Bu Hartini menatapku lama dari balik kacamatanya. Lalu dia mengangguk sekali, pelan, dan Pak Wiryo membuka mapnya, mengeluarkan selembar kertas, dan menyerahkannya padaku.

Permohonan mutasi ke cabang yayasan yang lain, terhitung mulai semester depan, dengan alasan pribadi. Hormat saya, Sheila Kinanti.

Aku menatap tanda tangan itu. Tulisan tangan besar dan bulat, yang biasanya menulis nilainya berapa, Pak? di buku penghubung dan menempelkan stiker bintang di bawahnya.

Aku berbalik menghadap dua puluh orang tua.


“Bapak Ibu,” kataku. “Minggu lalu, di ruangan ini, Mama Dafa tanya ke saya. Kalau Bapak sama Bu Kinan putus, Wulan gimana?”

Di barisan tengah, Mama Dafa duduk tegak. Wajahnya tidak lagi keras, hanya menunggu.

“Saya diam,” kataku. “Lama. Semua orang lihat. Dan Bu Kinan harus berdiri sendiri buat jawab.”

Aku menatap Kinan. Dia menatapku balik dengan tangan menutup mulut.

“Saya diam bukan karena saya nggak tahu jawabannya. Saya diam karena saya lagi ngitung. Kemungkinan terburuk. Itu kebiasaan saya dari kecil. Kalau takut, saya bikin daftar. Semua hal buruk yang bisa terjadi, satu per satu. Terus saya bikin rencana supaya semua hal buruk itu nggak terjadi.” Aku menarik napas. “Masalahnya, rencana saya selalu sama. Mundur. Supaya orang yang saya sayang nggak kena.”

Aku mengangkat map plastik bening berisi formulir Wulan, dan selembar surat mutasi Kinan.

“Minggu ini, saya mundur. Saya daftarin anak saya ke sekolah lain tanpa nanya dia, supaya Bu Kinan nggak kehilangan kelasnya. Dan di hari yang sama, tanpa saya tahu, Bu Kinan juga mundur. Dia mau pindah supaya anak saya nggak kehilangan teman-temannya.” Aku tersenyum sedikit. “Kami berdua mundur dari satu sama lain, di hari yang sama, dengan alasan yang sama. Kata Bu Hartini, dua kali lipat bodohnya.”

Beberapa orang tua tertawa kecil. Bu Hartini tidak tertawa, tapi sudut bibirnya bergerak.

“Mama Dafa,” kataku, menatapnya langsung. “Jawaban saya yang seharusnya minggu lalu: kalau pun suatu hari saya dan Bu Kinan gagal, Wulan tetap sekolah di sini. Wulan tetap punya Bu Nanan. Karena Bu Kinan sudah janji ke anak saya, janji guru. Dan saya juga janji ke anak saya, janji papa, bahwa urusan orang dewasa nggak akan pernah bikin dia kehilangan orang yang dia sayang.”

Mama Dafa menatapku lama. Lalu dia mengangguk pelan.

“Tapi, Bu,” tambahku, dan suaraku bergetar sedikit. “Saya juga mau jujur soal satu hal lagi. Saya nggak rencana gagal. Tiga tahun saya cuma bikin daftar kemungkinan terburuk. Senin malam kemarin, ibu mertua saya, ibu dari almarhumah istri saya, rebut HP saya, dan suruh saya bikin daftar yang lain.” Aku melirik Oma Ratmi di barisan kedua dari belakang. Dia sedang menangis di balik kacamata bulatnya. “Daftar kemungkinan terbaik. Dan anak saya yang ngetik nomor lima.”

Aku tidak bilang apa isi nomor lima. Tapi aku melihat Kinan di ujung meja menutup muka dengan kedua tangan.

Aku menatap dua lembar kertas di tanganku: formulir Wulan dengan stempel DIBATALKAN, dan surat mutasi Kinan.

Lalu aku merobeknya.

Pelan, dua lembar sekaligus, di depan dua puluh orang tua, Pak Wiryo, Bu Hartini, dan dua puluh buku penghubung. Robek jadi dua, lalu jadi empat.

Aku meletakkan potongan kertas itu di meja panjang, di sebelah toples nastar dari Bu Sri.

“Kami nggak mundur lagi,” kataku. “Kalau yayasan dan Bapak Ibu memutuskan Bu Kinan harus pindah, kami terima. Kami akan hadapi bareng, bukan diam-diam. Tapi kami nggak akan kabur.”


Kelas hening.

Lalu, dari arah pintu, terdengar suara yang tidak kusangka.

“Saya mau ngomong.”

Semua orang menoleh.

Di ambang pintu kelas yang masih terbuka lebar, dengan gamis pink dan kerudung pink, tanpa bulu mata palsu dan tanpa riasan, berdiri Mama Keysha. Wajahnya pucat, dan matanya bengkak seperti orang yang menangis berhari-hari. Tangannya menggenggam HP dengan erat, sampai buku-buku jarinya memutih.

Aku tidak tahu sudah berapa lama dia berdiri di sana. Mungkin dari waktu aku membuka pintu terlalu keras, atau mungkin lebih lama.

“Mama Keysha,” kata Bu Hartini pelan. “Silakan masuk.”

Mama Keysha tidak masuk. Dia tetap berdiri di ambang pintu, seperti orang yang tidak yakin dia berhak melangkah lebih jauh.

“Saya yang motret,” katanya.

Kelas diam total.

“Foto itu. Di teras. Saya yang motret, dari mobil saya. Mobil putih.” Suaranya bergetar hebat. “Sabtu malam, setelah ulang tahun Wulan. Keysha ketinggalan jaketnya. Saya balik lagi buat ambil. Terus saya lihat…”

Dia berhenti. Di barisan depan, Mama Aurel menunduk dalam-dalam.

“Saya nggak tahu kenapa saya motret,” lanjut Mama Keysha. Air mata jatuh di pipinya. “Tangan saya jalan sendiri. Terus saya kirim ke Mama Aurel. Cuma ke Mama Aurel. Malam itu juga. Saya tulis, lihat nih. Terus saya matiin HP, dan saya nangis sampai pagi.”

Dia menatap Mama Aurel. “Saya nggak pernah minta disebar ke grup.”

“Saya tahu,” bisik Mama Aurel, tanpa mengangkat kepala. “Saya yang salah. Saya… waktu itu saya pikir saya bela Mama Keysha. Saya pikir Mama Keysha sakit hati.”

“Saya memang sakit hati,” kata Mama Keysha. “Tapi bukan sama Bu Kinan.”

Dia akhirnya melangkah masuk satu langkah ke dalam kelas.

“Suami saya pergi waktu Keysha umur tiga bulan. Ke luar kota, katanya kerja. Nggak pernah pulang lagi. Nggak pernah telepon Keysha, nggak pernah datang ke ulang tahunnya, nggak pernah.” Dia menarik napas yang tersendat. “Saya ngurus Keysha sendirian lima tahun. Tiap pagi jam empat lewat empat puluh lima, saya kirim gambar mawar ke grup. Semoga harimu berkah. Soalnya itu satu-satunya jam saya bisa ngomong sama orang dewasa lain sebelum semua orang bangun, dan satu-satunya jam saya nggak ngerasa sendirian.”

Kinan di ujung meja menurunkan tangan dari mulutnya.

“Terus Papa Wulan datang. Duda, sendirian ngurus anak, persis kayak saya.” Mama Keysha tertawa kecil, pahit dan basah. “Saya pikir, mungkin… mungkin kita bisa… Makanya saya bawain kue. Makanya saya ngajak rapat berdua. Makanya saya ngajak arisan.”

Dia menatap Kinan.

“Terus Bu Kinan datang dengan kopi dan lagu anak TK dan motor pink. Dan dalam satu bulan, rumah yang tiga tahun gelap itu lampunya nyala.” Suaranya pecah sepenuhnya. “Sabtu malam itu saya berdiri di luar pagar, di mobil, di jalan yang gelap. Saya lihat lampu teras itu nyala. Saya lihat dua orang duduk di bawahnya. Saya lihat anak kecil yang minta ke mamanya di surga supaya gurunya tinggal di rumah.”

Dia menutup muka dengan satu tangan.

“Saya iri, Bu Kinan. Bukan sama Ibu, tapi sama lampu itu. Soalnya lampu di rumah saya nggak pernah nyala lima tahun.”


Kinan berdiri dari kursinya di ujung meja panjang.

Dia berjalan melewati dua puluh buku penghubung dan melewati aku, tanpa menoleh. Dia melewati barisan depan tempat Mama Aurel menangis, dan melewati barisan tengah tempat Mama Rafi sudah berdiri setengah dari kursinya.

Dia berhenti di depan Mama Keysha di ambang pintu kelas.

Lalu dia memeluknya.

Mama Keysha membeku. Tangannya menggantung di udara, masih menggenggam HP, seperti tangan Kinan waktu tidak jadi memeluk Wulan di teras kelas.

“Mama Keysha,” bisik Kinan. Aku bisa mendengarnya karena kelas sangat hening. “Besok pagi jam empat lewat empat puluh lima, kirim mawarnya lagi, ya. Saya balas. Tiap hari. Biar Mama Keysha nggak sendirian di jam itu.”

Mama Keysha menangis keras di bahu Kinan. Tangannya yang menggantung di udara akhirnya turun dan memeluk balik.

Di barisan depan, Mama Aurel berdiri, lalu berjalan pelan ke ambang pintu dan memeluk mereka berdua dari samping. Lalu Mama Rafi, lalu Mama Dafa. Dalam dua menit, setengah ibu-ibu di kelas itu sudah berkerumun di ambang pintu, berpelukan dan menangis. Bapak-bapak di barisan belakang saling pandang, tidak tahu harus ngapain, lalu ayah Bima mengeluarkan tisu dari saku dan membagikannya.

Bu Tari, di meja panjang, menangis sambil tertawa, lalu mengambil satu kue nastar dari toples Bu Sri dan memakannya, karena dia tidak tahu harus ngapain lagi.

Bu Hartini melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan ujung kerudung abu-abu.

Pak Wiryo dari yayasan menatap semua kekacauan itu dengan wajah datar. Lalu, pelan-pelan, dia menutup map di depannya.


“Bapak Ibu,” kata Pak Wiryo setelah kekacauan sedikit reda. Suaranya masih datar, tapi entah bagaimana tidak terdengar seperti notulen lagi. “Yayasan akan menyampaikan keputusan.”

Semua orang kembali ke kursinya, sebagian masih mengusap mata. Kinan kembali ke ujung meja panjang, dan Mama Keysha duduk di kursinya yang kosong di barisan tengah, di sebelah Mama Aurel, yang tidak melepaskan tangannya.

Aku masih berdiri di depan meja panjang, di sebelah potongan kertas yang sudah kurobek.

“Surat mutasi Bu Sheila Kinanti,” kata Pak Wiryo, “sudah dirobek. Berkas perpindahan Ananda Wulan sudah dibatalkan. Maka dua surat itu tidak lagi berlaku.”

Dia melirik Bu Hartini.

“Yayasan menerima usulan kepala sekolah, dengan beberapa perubahan dari kepala sekolah sendiri, yang disampaikan ke saya lima menit lalu lewat kertas di bawah meja.”

Bu Hartini menatap lurus ke depan dengan wajah sangat tenang, seolah dia tidak tahu apa-apa soal kertas di bawah meja.

“Satu,” baca Pak Wiryo, “penilaian perkembangan Ananda Wulan tetap dipegang Bu Tari, demi transparansi. Dua, Bu Kinan boleh menerima Ananda Wulan di gerbang, sama seperti anak-anak lain. Tiga…” Dia berhenti dan membaca ulang kertas kecil itu dengan alis terangkat. “Kopi di gerbang boleh, asalkan disediakan untuk semua orang tua yang menjemput. Lagu di gerbang boleh, asalkan dinyanyikan untuk semua orang tua juga.”

Kelas diam sebentar. Lalu meledak dengan tawa.

Di pojok belakang, Bang Jali, yang ternyata datang lagi tanpa diundang, mengangkat termos kopinya tinggi-tinggi. “SIAP, PAK! SAYA SEDIAKAN!”

Kinan menutup muka dengan kedua tangan dan tertawa sampai bahunya berguncang.

“Empat,” lanjut Pak Wiryo, setelah tawa reda. “Yayasan tidak akan menerima surat keberatan lebih lanjut terkait kehidupan pribadi guru, kecuali terbukti memengaruhi kualitas pengajaran.” Dia menutup mapnya. “Dan menurut dua puluh buku penghubung di meja ini, yang saya baca sekilas tadi selama Bapak ini merobek kertas, kualitas pengajarannya tidak terpengaruh.”

Dia berdiri.

“Bu Sheila Kinanti tetap di TK B. Rapat selesai. Assalamualaikum.”


Aku menemukannya di bawah pohon ketapang setengah jam kemudian, di bangku kayu yang sama, tempat semuanya dimulai.

Orang tua murid sudah pulang, sebagian besar sambil memeluk Kinan dulu di gerbang. Bu Tari pulang membawa toples nastar yang tinggal setengah. Bu Hartini pulang tanpa berkata apa-apa, tapi di ambang pintu dia menyerahkan sesuatu ke tangan Kinan: novel pink dengan gambar pohon sakura. Kembalikan hari Senin, katanya. Saya mau baca ulang.

Di parkiran seberang, di bawah lampu jalan, keluargaku dan keluarga Kinan berkumpul di sekitar dua mobil. Mama menangis di bahu Ibu Yati, dan Ibu Yati menangis di bahu Mama. Dinda dan Bagas bergandengan tangan dengan ring light yang menyala. Oma Ratmi duduk di kursi lipat yang entah dibawa siapa. Pak Darto dan Papa, yang ternyata ikut menyetir dari rumah, duduk di bangku halte bus di depan papan catur magnetik, bermain tanpa bicara.

“Hm,” kata Pak Darto.

“Hm,” kata Papa.

Aku duduk di bangku kayu di sebelah Kinan. Satu rentangan tangan, lalu setengah, lalu tidak ada jarak sama sekali.

Kami diam lama. Di atas kami, daun-daun ketapang bergemerisik, dan satu daun jatuh pelan ke tanah di antara kaki kami. Sama seperti hari itu, waktu aku bilang Ibu gurunya anak saya.

“Kamu telat,” kata Kinan akhirnya.

“Dua puluh menit.”

“Kenapa bisa telat? Kamu kan pasang alarm dua.”

“Bu Sri cerita soal almarhum suaminya. Empat puluh menit. Suaminya dulu selalu telat sepuluh menit.”

Kinan menoleh padaku. “Terus kamu telat dua puluh menit.”

“Aku kalah dari suami Bu Sri.”

Dia tertawa. Tertawanya keras, lepas, dari perut, dengan kedua tangan menutup muka, seperti di hari pertama. Tawa yang bisa kudengar sampai ke parkiran seberang, tawa yang seminggu ini tidak kudengar sama sekali.

Aku mencatatnya di kepalaku, seperti dia mencatat tawaku.

Waktu tawanya reda, dia menurunkan tangannya dari wajah dan menatapku. Matanya turun ke dadaku, ke kemeja biru muda, ke kancing ketiga yang masuk ke lubang keempat.

“Kancingmu,” katanya pelan.

“Salah lagi?”

“Salah lagi.”

Dia mengulurkan tangan. Pelan, satu per satu, dia membuka kancing ketiga, lalu keempat, lalu memasangnya lagi ke lubang yang benar. Di bawah pohon ketapang, di halaman TK, dengan lampu kelas yang masih menyala, di depan satpam yang pura-pura tidak melihat.

Tidak ada pasal empat lagi.

Waktu dia selesai, tangannya tetap di dadaku, di atas kancing ketiga, tepat di atas jantung.

“Danny.”

“Hm?”

“Nomor lima,” katanya pelan. “Di daftar kemungkinan terbaik. Yang Wulan ketik. Isinya apa?”

Aku mengeluarkan HP dari saku, membuka notes, dan menunjukkan layarnya.

Kemungkinan Terbaik

1. Wulan tetap di TK B. Sama Rafi, Bima, Keysha. Dikepang Bu Nanan tiap pagi.
2. Kinan tetap di TK B. Sama dua puluh anaknya. Nyanyi tiap hari.
3. Kopi jam sebelas. Lagu nomor dua belas sampai empat puluh tujuh.
4. Aku nggak jeda.
5. BU NANAN TINGAL DI LUMAH

Kinan membaca daftar itu. Di bawah lampu jalan dan pohon ketapang, dengan ejaan cadel di nomor lima, dia membacanya berkali-kali, sampai air matanya jatuh ke layar HP.

“Satu sampai empat udah,” bisiknya. “Malam ini.”

“Iya.”

“Nomor lima?”

Aku mengambil tangannya dari dadaku dan menggenggamnya.

“Nomor lima belum,” kataku. “Nomor lima harus dikerjain bener-bener. Nggak boleh telat, nggak boleh salah kancing.” Aku tersenyum. “Nomor lima butuh persiapan.”

Kinan menatapku lama. Lalu senyumnya muncul pelan, dengan lesung pipi, mata yang basah, dan telinga yang, aku bisa melihatnya di bawah lampu jalan, memerah.

“Berapa lama persiapannya?”

“Rahasia negara.”

Dia memukul lenganku pelan. Aku menangkap tangannya, menariknya lebih dekat, dan menyandarkan dahiku di dahinya.

“Kinan.”

“Hm?”

“Maaf aku mundur.”

“Maaf aku juga.”

“Kita nggak jeda lagi?”

“Nggak.” Dia tersenyum di dahiku. “Aku kan nggak tahu caranya jeda. Aku nggak punya rem.”

“Aku juga udah nggak punya.”

“Sejak kapan?”

Aku berpikir sebentar.

“Sejak ibu mertuaku rebut HP-ku,” kataku. “Dan anakku ngetik nomor lima.”

Dia tertawa lagi, pelan kali ini, di dahiku.

Dari parkiran seberang, suara Mama menembus malam dengan volume yang bisa membangunkan orang koma:

“DANNY! KINAN! AYO PULANG! IBU YATI UDAH MASAK RENDANG BUAT SEMUA ORANG!”

“RENDANGNYA BUATAN SAYA, BU RINI!” balas Ibu Yati.

“RESEPNYA DARI SAYA!”

“SAYA YANG MASAK!”

“Ibu-ibu,” kata Oma Ratmi dari kursi lipatnya, dengan suara guru kelas satu yang pelan tapi entah bagaimana terdengar paling keras. “Malu sama satpam.”

Kinan dan aku saling pandang di bawah pohon ketapang, lalu tertawa bersamaan.

Aku berdiri dan mengulurkan tanganku padanya.

“Pulang?” tanyaku.

Dia menatap tanganku lama, lalu menatapku. Di matanya ada semuanya: hari pertama, kopi jam sebelas, remedial, jeda, dan pintu yang ditutup pelan-pelan lalu dibuka lagi.

Dia menggenggam tanganku dan berdiri.

“Pulang,” katanya.

Kami berjalan keluar gerbang TK Pelangi Ceria bergandengan tangan, di bawah lampu jalan yang menyala. Kami melewati satpam yang tersenyum, lalu menyeberang jalan ke parkiran, ke dua keluarga berisik yang menunggu, ke rendang yang diperebutkan, ke dua bapak yang main catur di halte bus, dan ke Oma Ratmi di kursi lipat.

Di tengah jalan, Kinan menoleh sekali ke belakang, ke gerbang TK, ke pohon ketapang dan bangku kayu di bawahnya.

“Danny.”

“Hm?”

“Besok jam sebelas, lagu nomor tiga belas.”

“Buat semua orang tua?”

“Buat semua orang tua.” Dia meremas tanganku. “Tapi gombalannya tetap buat kamu.”