← Berkembang Sangat Baik

Chapter Eight

Latihan Hari Orang Tua

POV: Danny


Mama menelepon hari Minggu pagi pukul enam. Buatku itu sama saja dengan tengah malam.

“DANNY.”

Aku menjauhkan HP dari telinga. Mama, Bu Rini Hermansyah, enam puluh dua tahun, pensiunan pegawai bank dan penggemar berat sinetron azab, punya suara yang bisa menembus tiga lapis tembok beton. Dan suara itu sekarang bergetar.

“Ma? Ada apa? Mama sakit?”

“Mama nggak sakit! Mama bahagia!” Terdengar suara isakan. Isakan asli, bukan pura-pura. “Mama lihat videonya. Lomba kerupuk. Spanduknya. Kamu pegang spanduk sambil senyum kayak orang bodoh.”

“Video dari mana?”

“Dari grup.”

“Grup apa, Ma?”

Hening sebentar, lalu Mama berdeham. “Grup… pengajian.”

“Mama nggak pernah ikut pengajian online.”

“Pokoknya grup! Terus Mama lihat kamu ngusap pipi perempuan itu. Pipi, Danny. Pipi. Mama nangis, Papa kamu juga hampir nangis, tapi Papa kamu pura-pura kelilipan.”

Aku menutup mata. Di latar belakang, suara Papa terdengar samar dan datar: “Papa kelilipan beneran.”

“Siapa yang rekam?”

“Adiknya perempuan itu. Bagas. Anaknya sopan, tahu diri. Dia kirim ke Oma Ratmi, Oma Ratmi kirim ke Mama, Mama kirim ke Dinda, Dinda bikin jadi video pakai lagu Rossa.”

“Ma.”

“Kapan kamu bawa dia ke rumah?”

“Ma, kami bahkan belum…”

“Belum apa?”

Aku terdiam. Belum apa? Belum pacaran. Belum bicara apa pun dengan jelas. Belum ada kalimat yang bisa dipegang, selain tiga puluh persen, tujuh puluh persen, satu helm, satu spanduk dengan N terbalik, dan satu pipi yang ibu jariku sentuh selama kurang dari dua detik.

Dua detik yang sudah kuputar ulang di kepala kira-kira empat ratus kali sejak kemarin.

“Belum apa-apa, Ma,” kataku akhirnya.

Mama diam sebentar. Lalu suaranya berubah, lebih pelan, seperti waktu dia menemaniku di rumah sakit tiga tahun lalu.

“Dan. Nggak apa-apa kalau belum. Tapi jangan kelamaan, ya, Nak. Kamu itu kalau kelamaan mikir, suka nggak jadi.”


Hari Orang Tua di TK Pelangi Ceria jatuh pada hari Sabtu dua minggu lagi. Surat edarannya datang Senin, dan kali ini ada lampiran yang membuat perutku melilit:

Setiap Ayah diharapkan tampil bersama Ananda membawakan tari lagu “Ambilkan Bulan, Bu” di panggung. Latihan dapat dilakukan di rumah. Gerakan terlampir.

Lampirannya berupa selembar kertas berisi gambar-gambar orang lidi dalam berbagai pose: tangan ke atas, tangan memutar, jongkok, berdiri, dan satu pose yang, menurutku, secara anatomis tidak mungkin dilakukan manusia dewasa bertulang normal.

Di bawahnya, dengan tulisan tangan yang sudah sangat kukenal:

Pak, gerakan nomor tujuh itu kelihatannya susah, tapi sebenarnya gampang. Kalau Bapak butuh bimbingan, Ibu buka les privat. Gratis. Lokasi: kelas TK B, Selasa & Kamis jam 11.30, setelah anak-anak pulang. Wulan boleh ikut sebagai asisten pelatih.

P.S. Ibu nggak memaksa. Tapi Ibu sudah lihat Bapak senam di Jumat Sehat.

Aku menatap catatan itu, lalu menatap gerakan nomor tujuh: berjongkok, satu tangan ke atas menunjuk bulan, dan satu tangan memeluk anak.

Lalu aku menatap Wulan, yang sedang duduk di lantai ruang tengah dan menggambar bulan dengan krayon kuning.

“Lan.”

“Hm?”

“Kamu tahu nama kamu artinya apa?”

“Bulan,” jawabnya tanpa mengangkat kepala. “Mama yang kasih. Kata Oma, Mama suka lihat bulan dali jendela lumah sakit waktu aku mau lahil.”

Aku tahu cerita itu. Aku ada di sana, di sebelah Anin, di kamar rumah sakit dengan jendela yang menghadap langit malam. Anin menunjuk bulan purnama dan berkata, “Namanya Wulan, ya. Biar dia selalu tahu jalan pulang, walaupun gelap.”

“Lan, kamu mau tampil sama Papa di Hari Orang Tua?”

Wulan mengangkat kepala. Matanya berbinar. “Lagu bulan?”

“Lagu bulan.”

“MAU!”

Dia melompat ke pangkuanku dan memelukku dengan tangan penuh krayon kuning. Lalu dia melepaskan diri dan bertanya dengan wajah serius:

“Tapi Papa bisa nali?”

“…Papa bisa belajar.”

“Sama Bu Nanan?”

Aku tidak menjawab. Wulan menyipitkan mata seperti detektif, lalu tersenyum lebar dengan cara yang sangat mirip Bu Kinan waktu merencanakan sesuatu.

“Papa telinganya melah lagi.”


Selasa, pukul sebelas tiga puluh. Kelas TK B kosong dan sunyi.

Kursi-kursi kecil sudah ditumpuk di pojok. Di dinding, gambar-gambar anak-anak ditempel berjajar: rumah, keluarga, matahari yang tersenyum. Di papan tulis, dengan kapur warna-warni, tertulis LES PRIVAT PAPA WULAN — HARI 1 dengan gambar bintang di sebelahnya.

Bu Kinan berdiri di tengah kelas dengan kaus olahraga pink dan rambut dicepol pakai jepit bintang. Di tangannya ada speaker kecil, dan di wajahnya ada senyum instruktur senam yang terlalu bersemangat.

“Selamat datang di les privat, Pak! Asisten pelatih, siap?”

“SIAP!” teriak Wulan, yang sudah berdiri di sebelah Bu Kinan dengan tangan di pinggang, meniru posenya dengan sempurna.

Aku berdiri di depan mereka berdua, merasa seperti murid baru di sekolah yang salah.

“Bu, saya boleh jujur?”

“Boleh.”

“Saya nggak pernah nari seumur hidup, kecuali di nikahan sepupu, dan itu karena dipaksa. Hasilnya, saya disuruh berhenti.”

“Kenapa disuruh berhenti?”

“Katanya saya kayak orang kesetrum.”

Bu Kinan menutup mulut, menahan tawa. Wulan tidak menahan apa pun. Dia tertawa sampai terduduk di lantai.

“Oke,” kata Bu Kinan, berusaha serius. “Kita mulai pelan-pelan. Gerakan satu: tangan ke atas, pelan, kayak mau ambil bulan.”

Aku mengangkat tangan ke atas.

“Pelan, Pak. Pelan. Itu kayak mau nyamber jemuran pas hujan.”

Aku menurunkan tangan dan mengangkatnya lagi, lebih pelan.

“Bagus! Sekarang gerakan dua: putar badan ke kiri, sambil tangan turun kayak bulan terbenam.”

Aku memutar badan ke kiri. Tanganku turun, lalu kakiku tersandung kakiku sendiri.

“Papa kebalik lagi!” teriak Wulan.

“Kiri, Pak, kiri,” kata Bu Kinan, menahan tawa sampai matanya berair.

“Ini kiri.”

“Itu kanan, Pak.”

Aku menunduk dan menatap kedua tanganku. Aku orang yang menulis ribuan baris kode tanpa salah indentasi, tapi di kelas TK dengan lagu anak, aku tidak bisa membedakan kiri dan kanan.

“Bu,” kataku pelan. “Saya mulai paham kenapa saya disuruh berhenti di nikahan sepupu.”

Bu Kinan tidak kuat lagi. Dia tertawa. Tertawanya keras, dengan seluruh badan, membungkuk sambil memegang lutut, seperti waktu dia melihatku menirukan suara printer rusak. Wulan ikut tertawa, dan aku juga, sampai kelas kecil itu penuh suara kami bertiga.

Aku berdiri di tengah kelas TK dengan kaus yang basah keringat, dan tertawa sampai perutku sakit.

Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku tertawa seperti ini di hari Selasa.


Kamis, hari kedua.

“Hari ini kita fokus ke hitungan,” kata Bu Kinan. “Masalah Bapak itu bukan gerakannya, Pak. Masalah Bapak itu ketukannya. Bapak selalu telat satu ketukan.”

“Saya selalu telat,” kataku. “Itu karakter saya.”

“Dari hari pertama,” Wulan mengonfirmasi. “Alalmnya salah.”

Bu Kinan tertawa, lalu menaruh speaker di meja kecil dan berjalan ke arahku.

“Sini, Pak. Tangannya.”

Aku mengulurkan tangan, dan dia menggenggamnya. Kedua tanganku, di dalam kedua tangannya.

Tangannya lebih kecil dari tanganku, hangat, dan sedikit kasar di ujung jari karena terlalu sering memegang krayon dan gunting kertas. Di pergelangan tangan kirinya ada gelang karet hijau bertuliskan TK PELANGI CERIA, dan di kuku jari telunjuknya ada sisa cat poster biru.

“Kita hitung bareng,” katanya. “Setiap hitungan, saya tekan tangan Bapak. Jadi Bapak bisa ngerasain ketukannya. Oke?”

“…Oke.”

Dia menekan tombol musik. Lagu Ambilkan Bulan, Bu mengalun pelan dari speaker kecil.

“Satu,” katanya, dan dia menekan tanganku pelan. “Dua.” Tekan. “Tiga.” Tekan. “Empat.”

Aku seharusnya fokus ke hitungan. Aku seharusnya mendengarkan musik, merasakan ketukan, dan menggerakkan kaki.

Tapi aku malah menatapnya.

Dia sedang menunduk, fokus pada tangan kami, bibirnya bergerak menghitung. Dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat semuanya dengan jelas: bulu matanya yang lentik, pipinya yang sedikit merona karena panas kelas, dan anak rambut yang lepas dari cepolan lalu menempel di pelipisnya yang berkeringat. Lesung pipi kirinya muncul setiap kali dia mengucapkan angka.

Dia cantik. Aku sudah tahu itu sejak hari pertama. Semua orang tahu. Tapi ada hal-hal tentang cantiknya yang baru kusadari sekarang: bagaimana dia bisa terlihat begitu fokus dan begitu lembut di saat yang sama, dan bagaimana dia menghitung ketukan untuk seorang papa yang tidak bisa menari seolah itu hal paling penting di dunia.

“…tujuh. Delapan. Pak? Pak, sekarang gerakan tiga.”

Aku berkedip.

“Pak?”

“…Maaf. Hitungan berapa?”

Dia mengangkat kepala. Mata kami bertemu, sangat dekat, dan dia tahu. Aku bisa melihat detik ketika dia sadar bahwa aku tidak mendengarkan hitungannya sama sekali, bahwa aku sedang menatapnya.

Pipinya memerah, dan kali ini bukan karena panas kelas.

“Pak Danny,” katanya pelan, dengan suara yang tiba-tiba kehilangan semua semangat instruktur senamnya. “Bapak lupa hitungan?”

“…Iya.”

“Kenapa?”

Aku bisa berbohong. Aku bisa bilang aku melamun soal kerjaan, soal klien di Amerika, soal bug yang belum selesai.

“Karena,” kataku, “saya lagi lihat yang ngitung.”

Hening.

Musik masih mengalun, lagu tentang seorang anak yang meminta bulan kepada ibunya.

Tangan Bu Kinan di tanganku sedikit gemetar.

Lalu, dari bawah, suara kecil yang sangat, sangat jelas:

“Papa. Bu Nanan. Kalian kok pegangan tangan tapi nggak nali?”

Bu Kinan melepaskan tanganku secepat orang memegang panci panas. Aku mundur satu langkah, tersandung tumpukan kursi kecil di pojok, kehilangan keseimbangan, dan jatuh terduduk di lantai kelas dengan bunyi gedebuk yang memalukan.

Wulan menatapku. Bu Kinan juga menatapku.

Lalu Bu Kinan jongkok, menutup muka dengan kedua tangan, dan tertawa. Tawanya pecah tanpa suara dulu, lalu keras, sampai bahunya berguncang, sampai dia ikut terduduk di lantai di sebelahku.

Aku juga tertawa. Aku tidak bisa berhenti. Kami duduk di lantai kelas TK B, di antara kursi-kursi kecil yang berserakan, bersandar di dinding penuh gambar keluarga, dan tertawa seperti dua orang bodoh.

Wulan berdiri di depan kami dengan tangan di pinggang, menggeleng-geleng seperti guru yang kecewa.

“Kalian ini,” katanya, dengan nada yang jelas-jelas dia tiru dari Bu Tari. “Nggak selius.”

Itu membuat kami tertawa lebih keras lagi.

Di tengah tawa itu, Bu Kinan menyandarkan kepalanya ke dinding, dan tanpa sengaja, atau mungkin sengaja, bahunya menyentuh bahuku.

Dia tidak menariknya, dan aku juga tidak.

Kami duduk begitu, bahu bersentuhan, sampai tawa kami reda jadi napas yang terengah dan senyum yang tidak mau pergi.

“Pak,” katanya pelan, masih menatap langit-langit kelas yang ditempeli bintang-bintang kertas.

“Hm?”

“Hitungannya nggak usah dipikirin. Nanti pas pentas, lihat saya aja. Saya berdiri di samping panggung. Saya kasih kode.”

Aku menoleh padanya.

Dia masih menatap langit-langit, pipinya masih merah.

“Lihat Ibu aja,” ulangku pelan.

“Iya.”

“Itu gampang,” kataku. “Itu yang dari tadi saya lakukan.”

Dia menutup muka dengan kedua tangan lagi, tapi kali ini tidak tertawa. Dari balik jari-jarinya, aku mendengar dia bergumam, “Ya Allah, Pak, jangan gitu, saya bisa pingsan di kelas.”


Sabtu, Hari Orang Tua.

Halaman TK Pelangi Ceria disulap jadi aula terbuka, dengan panggung dari papan kayu, tenda biru, dan kursi plastik berderet. Orang tua memenuhi setiap kursi dengan HP terangkat untuk merekam. Di barisan depan ada Oma Ratmi, Mama, Papa, dan Dinda, yang datang tanpa diundang dan tanpa memberitahuku sebelumnya. Mereka duduk berjajar seperti juri ajang pencarian bakat, dan Dinda memegang ring light.

“Kalian ngapain?” desisku waktu melihat mereka.

“Nonton cucu,” jawab Oma Ratmi polos.

“Nonton cucu,” ulang Mama.

“Nonton Kakak joget kebalik,” kata Dinda.

Papa tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengacungkan jempol dengan wajah datar.

Wulan dan aku tampil keempat. Kostum kami kembar, kaus kuning dengan gambar bulan sabit yang dibuat Wulan dengan cat kain semalam. Bulannya lebih mirip pisang, tapi Wulan bilang itu bulan, jadi itu bulan.

Musik dimulai.

Aku berdiri di panggung, di depan lima puluh orang tua, dengan kaki gemetar dan tangan berkeringat. Lalu aku mencari-cari di samping panggung.

Dia ada di sana, berdiri di balik tirai biru, dengan kebaya hijau muda seragam guru dan rambut disanggul rapi. Jepit panda penyok terselip di sanggulnya.

Dia menatapku, tersenyum, dan mengangkat satu jari. Satu.

Aku mengangkat tangan pelan, seperti mau mengambil bulan.

Dua jari. Aku memutar badan ke kiri, dan kali ini benar-benar ke kiri.

Tiga jari. Tangan turun, bulan terbenam.

Aku tidak lihat penonton, tidak lihat Mama yang sudah menangis di barisan depan, tidak lihat Dinda dengan ring light-nya. Aku hanya lihat jari-jari di balik tirai biru, dan senyum di atasnya, dan jepit panda penyok yang berkilau kena lampu panggung.

Gerakan nomor tujuh: jongkok, satu tangan menunjuk ke atas, satu tangan memeluk Wulan.

Aku jongkok. Wulan bersandar di dadaku, tangannya menunjuk ke atas juga, ke langit, ke bulan yang tidak kelihatan karena ini siang hari.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak telat satu ketukan pun.

Lagu selesai. Tepuk tangan pecah. Mama berdiri, Oma Ratmi berdiri, Dinda berteriak “KAKAKKU!”, dan Papa mengangguk sekali dengan mata merah. Katanya kelilipan.

Lalu Wulan melakukan sesuatu yang tidak ada di latihan.

Dia berlari ke pembawa acara, mengambil mikrofon dari tangannya, lalu berlari ke samping panggung dan menarik tangan Bu Kinan keluar dari balik tirai, naik ke panggung, di depan lima puluh orang tua.

“Wulan!” bisik Bu Kinan panik. “Wulan, Ibu nggak ikut tampil…”

Wulan mengangkat mikrofon dengan dua tangan. Suaranya kecil, cadel, dan terdengar ke seluruh halaman lewat speaker.

“Aku mau bilang telima kasih sama Bu Nanan. Soalnya Bu Nanan ngajalin Papa nali. Papa dulu kayak olang kesetlum. Sekalang Papa bisa.”

Seluruh halaman tertawa. Aku menutup muka dengan satu tangan.

Tapi Wulan belum selesai.

“Telus,” lanjutnya, dengan suara yang tiba-tiba lebih pelan, “kalau aku bisa ambil bulan betulan, aku mau kasih ke Bu Nanan. Soalnya Bu Nanan ngepang lambut aku kayak Mama. Bu Nanan kayak Mama.”

Halaman hening, dan semua suara berhenti.

Lalu, pelan-pelan, terdengar suara aww yang panjang dari barisan ibu-ibu. Beberapa orang mengusap mata. Mama sudah menangis sesenggukan di bahu Oma Ratmi, dan Oma Ratmi menangis diam-diam di balik kacamata bulatnya.

Bu Kinan berdiri membeku di panggung. Tangannya menutup mulut, dan matanya berkaca-kaca menatap Wulan. Lalu dia jongkok dan memeluk anakku erat-erat, di depan semua orang.

Dan aku berdiri di situ, di atas panggung kayu, dengan kaus kuning bergambar bulan pisang, dan merasakan sesuatu yang dingin merayap dari perut ke dada.

Bu Nanan kayak Mama.

Aku melihat Wulan dalam pelukan Bu Kinan. Anakku memeluk leher gurunya dengan kedua tangan kecilnya dan menempelkan pipinya di bahu kebaya hijau itu, erat, seperti tidak mau lepas.

Anakku yang dulu, di usia dua tahun, bangun setiap malam selama berbulan-bulan dan memanggil nama yang tidak lagi menjawab.

Bagaimana kalau ini tidak berhasil?

Pikiran itu masuk begitu saja, dingin dan tajam, seperti bug yang muncul tepat sebelum rilis.

Bagaimana kalau aku dan Bu Kinan mencoba, lalu gagal? Aku bisa bertahan, karena aku sudah pernah kehilangan. Tapi Wulan? Wulan akan kehilangan dua kali. Kehilangan “yang kayak Mama”, dan kehilangan guru yang dia sayang, di kelas yang harus dia datangi setiap hari.

Di barisan kedua, aku melihat Mama Keysha. Dia tidak bertepuk tangan. Dia sedang berbisik ke ibu di sebelahnya sambil menunjuk ke panggung, dan ibu di sebelahnya mengangguk-angguk dengan wajah yang tidak lagi berkata aww.

Bu Kinan mendongak dari pelukan Wulan dan menatapku. Matanya basah, dan senyumnya bergetar, penuh sesuatu yang begitu terbuka dan begitu jujur.

Aku balas tersenyum. Itu senyum paling sulit yang pernah kubuat.

Karena di balik senyum itu, untuk pertama kalinya sejak hari pertama di bawah pohon ketapang, aku mulai menghitung.

Bukan ketukan musik, tapi kemungkinan terburuk.