Chapter One
Hari Pertama
POV: Sheila
Aku cantik.
Itu bukan sombong. Itu fakta yang sudah dikonfirmasi oleh tiga pihak independen: cermin kamar mandi, tukang parkir minimarket depan kompleks, dan Ibu, yang setiap pagi bilang, “Cantik-cantik begini kok nggak laku-laku, Nduk,” dengan nada orang membaca berita duka.
Pagi itu, hari pertama tahun ajaran baru, aku berdiri di depan cermin dan memeriksa semuanya. Rambut panjang sepunggung sudah kucepol tinggi, ditusuk pensil warna hijau karena jepit rambutku hilang lagi entah ke dimensi mana. Lesung pipi kiri masih di tempatnya. Mata bulat yang kata almarhum nenekku “kelihatan ketawa duluan sebelum mulutnya” juga masih bersinar, walaupun semalam aku begadang nonton drama sampai jam dua.
Seragam batik guru, rapi. Senyum, siap.
“Si Pinky, kita berangkat!”
Motor matic pink-ku menjawab dengan batuk dua kali, lalu menyala. Si Pinky memang begitu. Dia harus dirayu dulu, persis perempuan yang sudah terlalu lama sendiri.
Di lampu merah pertigaan, radio di warung kopi pinggir jalan memutar lagu dangdut koplo kesukaanku. Aku tidak bisa menahan diri. Tanganku menepuk-nepuk setang mengikuti kendang, kepalaku bergoyang, dan waktu reffnya masuk aku ikut menyanyi, keras, lengkap dengan cengkok.
Waktu aku membuka mata, ada empat bapak ojol di sebelahku sedang menatap.
Satu di antaranya bertepuk tangan. “Mantap, Neng! Nyanyi di kawinan saya bulan depan, mau?”
“Tarifnya mahal, Pak!”
“Berapa?”
“Nasi kotak dua!”
Lampu hijau. Aku melaju sambil tertawa, meninggalkan empat bapak ojol yang masih bersorak. Di kampus dulu aku vokalis band dangdut-rock bernama Kendang Distorsi. Kami pernah main di tiga acara nikahan dan satu acara sunatan. Karier musikku berakhir saat aku memilih jadi guru TK, tapi jiwaku tidak pernah benar-benar pensiun.
TK Pelangi Ceria pagi itu seperti pasar malam dengan versi yang lebih banyak menangis.
Hari pertama sekolah selalu begitu. Ada anak yang memeluk kaki ibunya seperti koala, ada yang langsung berlari ke perosotan tanpa menoleh, dan ada satu anak laki-laki yang duduk di tengah halaman sambil makan tanah dengan sangat tenang.
“Bu Kinan, itu si Rafi makan tanah lagi,” lapor Bu Tari sambil membetulkan kerudungnya. Dia rekan sesama guru TK B sekaligus sahabatku sejak kuliah, dan manusia paling sabar yang pernah Tuhan ciptakan. Kesabarannya itu mungkin memang dirancang khusus untuk menghadapi aku.
“Rafi! Tanah itu bukan cokelat, Sayang!”
“Tapi lasanya kayak cokelat, Bu.”
“Ya udah, nanti kita makan cokelat beneran pas istirahat. Buang tanahnya, oke?”
Pagi berjalan seperti biasa: kekacauan yang indah. Aku mengajari dua puluh anak TK B lagu perkenalan dengan gerakan yang sudah kulatih semalaman. Tanganku berputar, pinggulku bergoyang, dan suaraku, yang dulu mampu menenggelamkan suara distorsi gitar, memenuhi kelas.
Lagu tentang lima balon warna-warni itu keluar dari mulutku lengkap dengan cengkok, dan dua puluh suara kecil ikut menyanyi, sebagian besar salah nada dan salah lirik. Aku menyukainya. Ada satu anak yang menyanyikan lagu balon itu dengan nada lagu kebangsaan, dan aku tidak mengoreksinya karena itu terlalu lucu.
Di barisan kedua, ada seorang anak perempuan yang tidak ikut menyanyi.
Rambutnya panjang sebahu, dikuncir dua, tapi kuncirannya miring. Yang kiri tinggi di atas telinga, yang kanan rendah hampir di tengkuk. Seperti dikuncir oleh seseorang yang sedang menyetir sambil lomba lari. Dia memeluk tas ransel berbentuk kelinci dan memperhatikan kami semua dengan mata cokelat besar yang serius.
Di name tag yang kutulis kemarin, namanya: Wulan.
Waktu lagu selesai, aku jongkok di depannya. “Wulan nggak suka nyanyi?”
Dia menggeleng. “Suka.”
“Terus kenapa nggak nyanyi?”
“Aku lagi dengelin Ibu dulu. Kata Papa, kalau di tempat balu, dengelin dulu, baru ikut.”
Oh. Anak ini cadel dan bijak. Kombinasi yang berbahaya untuk kesehatan hatiku.
“Papa Wulan pinter, ya.”
“Pintel. Tapi nggak bisa nguncil.”
Dia menyentuh kunciran miringnya dengan wajah pasrah, seperti orang tua yang sudah menerima nasib. Aku nyaris tertawa, tapi kutahan.
“Nanti pas pulang, Ibu benerin, ya?”
Mata cokelatnya membesar sedikit. Lalu dia mengangguk, dan untuk pertama kalinya pagi itu, dia tersenyum.
Jam pulang TK Pelangi Ceria adalah pukul sebelas.
Pukul sebelas lewat lima, halaman sudah ramai oleh orang tua dan pengasuh. Pukul sebelas lewat lima belas, sebagian besar anak sudah pulang. Pukul sebelas lewat dua puluh, tinggal tiga. Pukul sebelas lewat tiga puluh, tinggal satu.
Wulan.
Dia duduk di bangku kayu di bawah pohon ketapang, tas kelincinya di pangkuan, kakinya berayun-ayun tidak menyentuh tanah. Dia tidak menangis. Dia cuma menatap gerbang dengan kesabaran yang terlalu dewasa untuk anak lima tahun.
Aku duduk di sebelahnya. “Papa biasanya telat?”
“Kadang-kadang. Papa kelja malam. Jadi pagi-pagi Papa tidul. Jam sebelas itu, kata Papa, subuhnya Papa.”
Aku berkedip. “Papa kerja apa?”
“Komputel. Olangnya di Amelika. Jadi kalau di sini malam, di sana siang.” Dia berhenti, lalu menambahkan dengan nada informatif, “Papa sering ngomong sama komputel. Kadang maalah-maalah.”
Aku tertawa. Lalu, karena janji adalah janji, aku melepas kunciran miringnya.
“Wulan mau dikepang?”
Matanya berbinar. “Mau! Papa nggak bisa ngepang. Papa pelnah coba, jadinya kayak mi.”
Aku mulai mengepang. Rambutnya halus dan wangi sampo bayi. Tanganku bergerak otomatis, karena dulu aku sering mengepang rambut sepupu-sepupuku waktu Lebaran. Selesai dua kepang kecil, aku mengambil dua jepit rambut dari saku seragamku: yang satu bentuk stroberi, yang satu bentuk bintang. Jepit cadangan, karena guru TK yang bijak selalu menyimpan jepit, permen, dan tisu basah di saku.
“Selesai. Coba lihat.”
Aku mengangkat HP dengan kamera depan. Wulan menatap bayangannya lama sekali. Lalu dia menyentuh kepangnya pelan, seperti menyentuh sesuatu yang bisa pecah.
“Kayak…” Dia berhenti.
“Kayak apa?”
“Kayak di foto Mama.”
Dadaku mencelos sedikit. Aku belum tahu cerita lengkapnya, tapi aku cukup lama jadi guru untuk tahu kapan harus tidak bertanya. Jadi aku hanya merapikan anak rambutnya dan berkata, “Cantik banget. Besok mau dikepang lagi?”
Dia mengangguk kuat-kuat.
Tepat saat itu, gerbang terbuka dengan suara berderit yang terlalu keras.
Laki-laki itu berlari.
Aku menyebutnya berlari, tapi sebenarnya itu campuran antara berlari, tersandung, dan panik. Dia mengenakan kemeja biru muda, dan kancingnya salah pasang. Kancing ketiga masuk ke lubang keempat, sehingga satu sisi kemeja lebih panjang dari sisi lainnya. Rambutnya hitam, sedikit berantakan dengan jejak bantal masih tertinggal di sisi kiri. Di tangannya ada kunci mobil dan sebuah botol susu kotak rasa stroberi.
Dia berhenti di depan bangku, terengah-engah, lalu membungkuk sedikit ke arahku.
“Maaf, Bu. Maaf banget. Alarm saya… saya pasang jam sepuluh, tapi ternyata jam sepuluh malam. Saya minta maaf, sungguh. Wulan, maaf ya, Nak.”
Lalu dia menegakkan badan, dan aku melihat wajahnya dengan jelas.
Aku harus berhenti sebentar di sini dan menjelaskan sesuatu.
Aku sudah dua puluh delapan tahun hidup di dunia. Aku sudah melihat banyak laki-laki ganteng: di drama, di band kampus, di kondangan, bahkan di iklan sampo. Aku kira aku sudah kebal.
Ternyata tidak.
Wajahnya bukan tipe ganteng yang berteriak. Wajahnya tipe ganteng yang tenang. Rahangnya tegas tapi lembut. Matanya agak sipit, sehingga ketika dia tersenyum minta maaf, matanya menyipit jadi dua garis melengkung yang ramah. Ada kantung mata tipis yang membuatnya kelihatan lelah, tapi justru lelah yang manis, seperti orang yang begadang karena menjaga sesuatu yang dia sayang.
Dan dia tersenyum pada Wulan dengan cara yang membuat perutku terasa jatuh dari lantai tiga.
“Papa,” kata Wulan dengan wajah pura-pura galak, “Papa telat tiga puluh menit.”
“Iya, Papa tahu. Papa jelek.”
“Papa nggak jelek. Papa telat.”
“Papa telat dan jelek.”
“Papa!”
Dia tertawa, pelan dan hangat, lalu berjongkok di depan anaknya. Dan saat itulah dia melihat kepangan itu. Tawanya berhenti. Wajahnya berubah jadi sesuatu yang lembut sekali. Jarinya menyentuh ujung kepang kecil itu dengan hati-hati, persis seperti Wulan tadi.
“Siapa yang ngepang?”
“Bu Nanan!”
Dia menoleh padaku. Kami bertatapan. Lalu dia berdiri, dan ternyata dia tinggi, jadi aku harus sedikit mendongak.
“Terima kasih, Bu…”
“Kinan,” kataku. “Sheila Kinanti. Anak-anak panggil Bu Kinan, tapi Wulan manggil Bu Nanan karena R-nya masih cuti.”
Sudut bibirnya naik. “Danny. Papanya Wulan. Terima kasih, Bu Kinan. Saya… sudah tiga tahun nyoba ngepang, dan hasilnya selalu—”
“Kayak mi,” potong Wulan.
“Kayak mi,” ulangnya pasrah, lalu tertawa lagi.
Dan di sini aku melakukan kesalahan terbesar sekaligus paling jujur dalam hidupku.
Otakku, yang sejak dia datang sudah berhenti berfungsi normal, memutuskan untuk mengambil alih mulutku tanpa izin. Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa rem, tanpa pertimbangan, tanpa filter.
“Pak, sudah beristri?”
Hening.
Burung di pohon ketapang berhenti berkicau. Angin berhenti bertiup. Di kejauhan, Bu Tari yang sedang menyapu teras berhenti menyapu.
Pak Danny berkedip.
Dan sebelum aku sempat menarik kata-kataku, Wulan menjawab dengan nada paling santai sedunia, sambil membuka botol susu stroberinya.
“Mama aku di sulga, Bu. Kata Papa di sana nggak ada PL.”
Kalau ada lubang di bawah bangku ketapang itu, aku pasti sudah masuk ke dalamnya, menutup diri pakai tanah, dan menyuruh Rafi memakanku.
“Ya Allah,” kataku. “Maaf. Maaf, Pak. Saya nggak… itu tadi mulut saya jalan sendiri. Saya turut berduka. Aduh. Maaf banget.”
Aku menunggu dia marah, tersinggung, atau paling tidak menatapku dengan dingin lalu pergi.
Dia tidak melakukan satu pun dari itu.
Dia malah menunduk, menutup mulut dengan punggung tangannya, dan bahunya bergetar. Dia sedang menahan tawa.
“Nggak apa-apa, Bu,” katanya akhirnya, suaranya masih bergetar. “Sudah tiga tahun. Kami sudah… baik-baik aja. Iya kan, Lan?”
“Iya,” jawab Wulan. “Mama di sulga nggak ada PL, nggak ada macet, telus bisa makan es klim tiap hali.”
“Itu tambahan Wulan sendiri,” jelas Pak Danny padaku. “Versi Papa cuma sampai ‘nggak ada PR’.”
Aku tertawa, tidak bisa menahan. Rasa maluku masih ada, tapi dia sudah membuatnya jadi ringan.
Lalu aku memutuskan sesuatu.
Aku perempuan dua puluh delapan tahun yang sudah jomblo lima tahun, dan ibuku sudah mulai menyebut namaku sambil mengelus dada. Aku baru saja mempermalukan diri sendiri di depan laki-laki paling menarik yang pernah kutemui. Dan menurut pengalaman hidupku, setelah mempermalukan diri, tidak ada gunanya mundur.
Jadi aku maju.
“Berarti,” kataku, “posisinya kosong, ya, Pak?”
Pak Danny, yang baru saja berhasil berhenti tertawa, langsung tersedak udara.
“Bu…”
“Bercanda,” kataku. Lalu, karena aku tidak bisa berbohong dengan wajah lurus, aku menambahkan, “Tujuh puluh persen bercanda.”
“Sisanya?”
“Tiga puluh persen serius. Saya jujur orangnya, Pak.”
Aku melihat telinganya memerah. Pelan-pelan, dari ujung atas ke bawah, seperti termometer yang naik. Dia mengusap tengkuknya, lalu menatap Wulan, gerbang, pohon ketapang, apa pun kecuali aku.
“Bu Kinan ini… orangnya selalu begini?”
“Iya, Pak,” jawab Bu Tari dari teras dengan suara lantang, padahal dia tadi pura-pura sibuk menyapu. “Sabar, ya, Pak.”
Akhirnya dia pamit. Dia menggendong Wulan di satu lengan, dengan tas kelinci tersampir di bahunya, lalu berjalan ke mobil. Di tengah jalan dia berhenti, menoleh, dan berkata, “Terima kasih kepangnya, Bu. Sungguh.”
Bukan sekadar sopan. Suaranya memang benar-benar berterima kasih.
Lalu, dari atas bahu papanya, Wulan melambai padaku sambil berteriak, “Dadah, Bu Nanan! Besok kepang lagi!”
“Dadah, Wulan! Dadah juga, Papanya Wulan!”
Pak Danny tidak menoleh lagi. Tapi aku melihat bahunya bergetar sekali lagi. Dia tertawa.
Mobilnya pergi. Aku berdiri di bawah pohon ketapang, memegang dadaku yang berdetak terlalu keras.
Bu Tari mendekat, bersandar di sapunya, dan menatapku dengan wajah orang yang sudah melihat bencana dan tahu bencana ini baru permulaan.
“Kinan.”
“Hm?”
“Kamu barusan nanya wali murid sudah beristri atau belum. Di hari pertama sekolah.”
“Iya.”
“Di depan anaknya.”
“Iya.”
“Kamu sadar itu nggak normal?”
Aku memandang gerbang tempat mobilnya tadi menghilang. “Tari, kamu lihat nggak cara dia megang kepangnya Wulan tadi?”
Bu Tari diam sebentar. Lalu dia menghela napas panjang, seperti orang yang baru saja membaca vonis.
“Ya Allah. Kamu udah jatuh.”
“Dari lantai tiga,” aku mengakui. “Tanpa parasut.”
Sore itu, sebelum pulang, aku mengisi buku penghubung anak-anak satu per satu. Buku penghubung itu buku kecil bersampul plastik yang dibawa anak setiap hari, dan fungsinya sebagai jembatan komunikasi antara guru dan orang tua.
Untuk sembilan belas anak, catatanku standar. Hari ini ananda sudah berani berkenalan. Mohon dibantu latihan memakai sepatu sendiri. Dan sebagainya.
Untuk Wulan, aku menulis:
Hari ini Wulan mendengarkan dulu sebelum ikut bernyanyi, persis seperti pesan Papa. Wulan anak yang bijak. Sepertinya bijaknya menurun dari Papa.
P.S. Kepangnya boleh dikepang ulang setiap hari oleh Ibu, jadi Papa tidak perlu begadang latihan ngepang. Kecuali mau. Kalau mau, Ibu bisa ajari. Gratis.
Aku menatap catatan itu. Lalu, karena aku tidak punya rem, aku membuka laci meja, mengambil selembar stiker bintang emas, yang biasanya kuberikan untuk anak yang berhasil menghabiskan bekal, dan menempelkannya di pojok halaman.
Di bawahnya, aku menulis kecil:
Bintang ini untuk Papa, karena sudah berusaha datang walaupun alarmnya salah. Tiga puluh persen serius.
Aku menutup buku itu, memasukkannya ke tas kelinci, lalu menutup wajahku dengan kedua tangan dan menjerit tanpa suara.
Dari meja sebelah, Bu Tari berkata tanpa menoleh, “Kamu tempel stiker, ya.”
“…Iya.”
“Kinan.”
“Satu aja, kok.”
Bu Tari menggeleng pelan. “Semoga Tuhan melindungi bapak itu.”
Aku menyalakan Si Pinky, yang kali ini langsung menyala tanpa batuk. Seolah dia juga merestui.
Di perjalanan pulang, aku menyanyikan lagu Balonku dengan cengkok dangdut sepanjang jalan, dan di lampu merah yang sama, bapak ojol tadi pagi masih mangkal dan bertepuk tangan lagi.
Hari pertama tahun ajaran baru.
Aku sudah jatuh cinta pada papa muridku.
Dan anehnya, aku sama sekali tidak menyesal.
- 1 Hari Pertama reading
- 2 Buku Penghubung
- 3 Rapat Keluarga Darurat
- 4 Kopi Jam Sebelas
- 5 Prakarya Keluarga
- 6 Perang Grup WA
- 7 Sekutu di Lapangan RT
- 8 Latihan Hari Orang Tua
- 9 Penolakan Resmi
- 10 Saya Kalah, Bu
- 11 Syarat dan Ketentuan
- 12 Kencan Dibuntuti
- 13 Kondangan
- 14 Tim Sukses
- 15 Agen Rahasia Melapor
- 16 Foto di Ruang Tengah
- 17 Skakmat
- 18 Duel Gombal
- 19 Ulang Tahun Wulan
- 20 Nilainya Berapa
- 21 Foto Viral
- 22 Panggilan Kepala Sekolah
- 23 Rapat Komite
- 24 Kemungkinan Terburuk
- 25 Dua Surat Rahasia
- 26 Jeda
- 27 Wulan Mogok
- 28 Oma Ratmi Bicara
- 29 Mode Maksimal
- 30 Pulang ke Sini
- 31 Aturan Baru
- 32 Giliran Papa
- 33 Rencana Bocor
- 34 Rencana Tandingan
- 35 Dua Rencana Tabrakan
- 36 Gladi Wisuda
- 37 Ziarah
- 38 Malam Sebelumnya
- 39 Rapor Papa
- 40 Jam Sebelas
- 41 Epilog — Setahun Kemudian