Chapter Nine
Menyerah dalam Arti Baik
POV: Arief
Rapat direksi Bumi Ni Dewi diadakan sebulan sekali, hari Kamis jam sepuluh pagi, di ruang tamu rumah lama Nene yang sekarang jadi ruang rapat.
Rapat itu punya reputasi.
Selama tujuh tahun aku menghadirinya, mula-mula sebagai orang yang mengisi gelas teh, lalu sebagai orang yang menyiapkan slide, dan sekarang sebagai orang yang mempresentasikan slide itu. Aku sudah melihat dua manajer cabang menangis di toilet setelahnya, satu konsultan dari Jakarta yang pulang tanpa menyelesaikan presentasinya, dan seorang arsitek interior yang pernah ditanya Nene, “Ieu desain atawa kandang hayam?”
Rapat itu juga punya pola. Aku menyadarinya di tahun ketiga dan sejak itu tidak pernah meleset: setiap usulan baru selalu mendapat tepat tiga pertanyaan jebakan. Satu tentang uang, satu tentang risiko, dan satu yang tidak bisa diprediksi, yang selalu datang dari Nene.
Kamis ini, Anggita akan mempresentasikan rebranding Bumi Ni Dewi untuk pertama kalinya.
Rabu malam jam sembilan, ia meneleponku.
“Arief.” Suaranya terdengar seperti orang yang sedang berjalan bolak-balik di kamar. “Aku nggak bisa tidur.”
“Masih jam sembilan.”
“Aku nggak bisa tidur jam sembilan, jam sepuluh, dan kayaknya juga jam sebelas.” Napasnya pendek. “Aku udah presentasi di depan dosen Melbourne. Aku udah pitching ke klien Jepang yang ngomongnya cuma tiga kata per jam. Aku nggak pernah gugup. Tapi ini Nene, Uwa Haris, Papa, Bi Ratna, Tante Lusi. Mereka yang dulu gantiin popok aku. Kalau aku gagal di depan klien Jepang, aku pulang. Kalau aku gagal di depan mereka, aku pulangnya ke mereka juga.”
Aku memikirkannya sebentar. Lalu aku mengambil kunci motor.
“Teh Anggita masih di rumah Nene?”
“Iya. Kenapa?”
“Turun ke Meja Tujuh. Bawa laptop. Sepuluh menit.”
Restoran sudah tutup. Satu-satunya lampu yang menyala di ruang makan hanya lampu gantung di atas Meja Nomor Tujuh. Pak Darto, yang sedang patroli malam, menyalakannya untuk kami dengan wajah orang yang sedang menyaksikan sesuatu yang bersejarah.
“Mangga, Teh Anggi... Teh Anggrek... eh, Teh...”
“Anggita, Pak.”
“Muhun, Teh Anggita. Hampura, Bapak mah sok lieur. Anggita, Anggrek, Agnes, sarua kitu.” Ia mundur sambil membungkuk-bungkuk. “Bapak di pos. Moal ngintip.”
Ia mengintip dari pos dua menit kemudian.
Anggita duduk di kursi yang biasa ia duduki, memakai hoodie abu-abu kebesaran dan celana training, dengan rambut diikat tinggi dan wajah tanpa riasan yang membuatnya terlihat lima tahun lebih muda dan, entah bagaimana, lebih cantik daripada biasanya. Aku duduk di seberangnya.
“Oke,” kataku. “Presentasiin ke saya.”
“Sekarang?”
“Sekarang. Anggap saya Uwa Haris.”
Ia presentasi. Lima belas menit, tiga puluh dua slide. Isinya rebranding dua wajah: ruang makan dibiarkan seperti rumah nenek, kemasan dan aplikasi delivery memakai wajah baru, lengkap dengan logo minimalis, palet hijau daun pisang dan krem, tagline Rasa Imah, Ti Mana Wae, dan kartu sumsum tulang yang sudah ia desain ulang supaya terlihat seperti kartu catatan resep nenek. Di slide terakhir ada foto saung Garut dan Pak Encep yang tertawa dengan Neng Lilis.
Itu presentasi yang bagus, sangat bagus.
“Pertanyaan pertama,” kataku dengan suara yang dibuat lebih berat. Aku menyilangkan tangan, mengerutkan dahi, dan membetulkan kacamata yang tidak kupakai. “Neng Gita, ieu sadayana biayana sabaraha? Iraha baliknya?”
Anggita mengerjap. Lalu tertawa. “Ya ampun. Kamu niruin Uwa Haris persis banget.”
“Saya Uwa Haris. Jawab.”
Ia menjawab. Biaya totalnya empat ratus dua puluh juta, mencakup desain, cetak kemasan untuk enam bulan, pemotretan menu, dan iklan digital. Ia menjelaskan bahwa itu investasi. Bahwa brand adalah aset jangka panjang. Bahwa—
“Uwa Haris nggak peduli brand itu aset jangka panjang,” potongku. “Uwa Haris peduli kapan uangnya balik. Kasih satu angka.”
“Aku... belum ngitung balik modalnya.”
“Kita hitung sekarang.” Aku menarik laptopnya dan membuka spreadsheet kosong. “Delivery kita sekarang rata-rata seribu dua ratus pesanan sehari di seluruh jaringan. Nilai rata-rata pesanan delapan puluh tujuh ribu. Margin kontribusi delivery, setelah potongan aplikasi, sekitar dua puluh dua persen. Kalau rebranding bikin pesanan delivery naik lima belas persen...” Aku mengetik. “...itu tambahan seratus delapan puluh pesanan sehari, kali delapan puluh tujuh ribu, kali dua puluh dua persen. Tambahan laba kotor tiga koma empat juta sehari. Seratus dua juta sebulan.”
“Empat bulan,” bisik Anggita.
“Empat bulan dua minggu. Kalau naiknya cuma sepuluh persen, enam bulan lebih sedikit.” Aku memutar laptop kembali ke arahnya. “Jawab Uwa Haris pakai angka itu, terus tambahin satu kalimat: ‘Kalau dalam tiga bulan delivery nggak naik sepuluh persen, iklan digitalnya Gita hentikan, biar Uwa nggak rugi lebih banyak.’ Uwa Haris suka orang yang ngasih pintu keluar sebelum diminta.”
Anggita memandangiku dengan mulut sedikit terbuka. Lalu ia mulai mencatat, dengan cepat.
“Pertanyaan kedua.” Aku mengubah suaraku, kali ini lebih ramah, setengah tertawa, dengan nada Jakarta yang bersemangat. “Gita, Papa suka banget. Tapi kenapa nggak sekalian ruang makannya diubah? Biar kekinian! Biar anak muda Jakarta mampir!”
Anggita berhenti mencatat. “Kamu tahu Papa bakal nanya itu?”
“Om Rudi selalu mau yang lebih besar. Itu karakter beliau.” Aku mengangkat bahu. “Itu bukan jelek. Tapi jawabannya ada di slide nomor sembilan Teh Anggita sendiri, data umur tamu dine-in. Pakai itu. Jangan bilang ‘Papa salah’. Bilang ‘Gita setuju, Pa, makanya ruang makan yang kekinian kita mulai dari dapur satelit Cileunyi yang usulan Arief kemarin. Kalau anak muda suka, baru kita bawa ke Dago.’”
“Kamu nyambungin rebranding aku ke dapur satelit kamu?”
“Saya nyambungin dua usulan yang sebenarnya satu. Direksi lebih gampang setuju kalau usulan baru nyambung ke usulan yang udah mereka setujui. Itu namanya...”
“Anchoring,” potong Anggita. “Aku tahu. Aku S2 marketing.”
“Saya tahu Teh Anggita tahu.”
Ia memandangiku lama, dengan ekspresi yang mulai kukenali sebagai aku nggak tahu mau marah atau mau meluk kamu.
“Pertanyaan ketiga,” katanya akhirnya. “Nene. Nene bakal nanya apa?”
Aku diam.
“Arief?”
“Saya nggak tahu.”
“Kamu nggak tahu?”
“Pertanyaan Nene nggak pernah bisa ditebak. Tujuh tahun, saya nggak pernah sekali pun nebak dengan benar.” Aku tersenyum. “Nene nggak nanya pakai kepala. Nene nanya pakai perasaan. Dan perasaan Nene nggak ada di spreadsheet mana pun.”
“Terus aku harus gimana?”
“Jawab pakai perasaan juga.”
Malam itu ia akhirnya bisa tidur jam dua belas lewat sedikit. Aku tahu karena ia mengirimiku pesan.
Anggita: Aku udah latihan 4x. Di depan cermin. Pakai suara Uwa Haris versi kamu. Aku ketawa terus pas pertanyaan pertama jadi harus ulang.
Anggita: Makasih.
Anggita: Kamu tidur juga. Jangan bangun jam 4.
Saya: Kebiasaan.
Anggita: Kebiasaan bisa diubah. Kamu sendiri yang bilang ke Bi Enok.
Anggita: Btw. Kamu dateng kan besok? Ke rapat?
Saya: Saya selalu dateng.
Anggita: Duduk di depan?
Saya: Saya selalu duduk di belakang.
Tanda mengetik muncul lama sekali, lalu hilang. Lalu muncul lagi.
Anggita: Oke. Asal ada.
Kamis, jam sembilan lewat lima puluh pagi.
Aku sudah ada di ruang rapat jam setengah sembilan, mengecek proyektor, kabel, teh, dan kue. Mang Ujang mengirim satu nampan penuh cemilan yang tidak diminta siapa pun: kue cucur, awug, dan colenak, disusun berbentuk hati.
Aku menyusun ulang kuenya jadi bentuk persegi sebelum ada yang datang.
Jam sembilan lewat empat puluh, Anggita datang. Ia memakai blus putih berpotongan sederhana, celana kain krem, dan rambut yang digerai lurus. Riasannya tipis dan rapi. Ia terlihat seperti orang yang sudah memimpin seratus rapat.
Kecuali tangannya.
Tangannya gemetar waktu menyambungkan laptop ke proyektor. Ia salah mencolokkan kabel dua kali. Yang ketiga, kabelnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.
Aku memungut kabel itu dan mencolokkannya. Lalu, karena ruangan masih kosong, karena pintu masih tertutup, dan karena Nene dan yang lain baru akan masuk lima menit lagi, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan pada siapa pun selama empat belas tahun.
Aku berdiri di belakangnya. Tidak menyentuh. Hanya cukup dekat sampai ia tahu aku ada di sana.
Lalu aku membungkuk sedikit dan berbisik di dekat telinganya.
“Aku di belakangmu.”
Anggita membeku.
Aku juga membeku, karena baru sadar dua hal sekaligus. Pertama, aku baru saja mengucapkan kalimat yang dulu hanya diucapkan satu orang untukku, di halaman panti, di samping mobil hitam. Kalimat yang kusimpan empat belas tahun seperti foto di dompet. Kedua, untuk pertama kalinya aku tidak memakai kata saya kepadanya.
Aku.
Anggita menoleh pelan. Wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. Matanya basah sedikit di pinggir, tapi tangannya sudah berhenti gemetar.
“Kamu bilang ‘aku’,” bisiknya.
“Kelepasan.”
“Jangan dibalikin.”
Pintu ruang rapat terbuka. Kami terpisah begitu cepat sampai aku menabrak kursi.
Bi Ratna masuk paling depan, melihat kami berdua, lalu melihat kursi yang bergeser, lalu tersenyum lebar sekali sambil berjalan ke kursinya tanpa berkata apa-apa. Ponselnya sudah di tangan.
Presentasi Anggita berjalan seperti yang kubayangkan, dan juga tidak.
Ia memulai dengan suara yang tenang. Ia menunjukkan foto-foto lama Bumi Ni Dewi, foto Nene muda di depan rumah makan enam meja, lalu foto-foto baru dari Garut dan Lembang. Ia menunjukkan data umur tamu dine-in dan data delivery, persis seperti kami latih. Ia memperkenalkan konsep dua wajah. Saat logo baru muncul di layar, warna hijau daun pisang dengan huruf yang bulat dan ramah, Bi Ratna bertepuk tangan sendirian, lalu berhenti karena tidak ada yang ikut.
Aku duduk di kursi paling belakang, di dekat pintu, seperti biasa.
Pertanyaan pertama datang dari Uwa Haris, persis seperti kutebak, hampir kata demi kata. Anggita menjawab dengan angka empat bulan dua minggu, lalu menambahkan kalimat pintu keluar itu. Uwa Haris membetulkan kacamatanya, mengangguk dua kali, dan menulis sesuatu di kertasnya. Untuk Uwa Haris, dua anggukan sama dengan tepuk tangan meriah.
Pertanyaan kedua datang dari tablet di ujung meja, tempat Om Rudi tersambung dari Jakarta.
“Gita, Papa suka banget. Tapi kenapa nggak sekalian ruang makannya diubah? Biar kekinian!”
Anggita melirikku dari depan. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihat sudut bibirnya bergerak, menahan tawa. Lalu ia menjawab persis seperti yang kami latih, menyambungkannya ke dapur satelit Cileunyi. Om Rudi tertawa, mengacungkan jempol ke kamera, dan berkata, “Anak Papa! Pinter!”
Lalu ruangan diam.
Semua orang menunggu Nene.
Nene Dewi duduk di kursinya dengan tongkat di pangkuan. Sepanjang presentasi ia diam, matanya setengah terpejam, seperti orang yang mendengarkan lagu. Sekarang ia membuka mata dan memandangi layar proyektor yang menampilkan logo baru itu lama sekali.
“Gita.”
“Ne?”
“Lamun urang robah ieu sadaya...” Nene mengetuk lantai pelan dengan tongkatnya. “Naon nu leungit?”
Kalau kita ubah semua ini, apa yang hilang?
Ruangan hening. Bahkan Bi Ratna berhenti mengetik di ponselnya.
Aku melihat Anggita membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Aku melihat tangannya meraih pinggir meja. Aku melihat ia melirik ke belakang, ke kursiku, dan aku tidak bisa membantunya. Aku sudah bilang semalam: pertanyaan Nene tidak bisa dijawab dengan spreadsheet.
Ia memandangiku satu detik lagi. Aku tidak mengangguk dan tidak tersenyum. Aku hanya memandang balik, dan berharap ia mengerti bahwa aku masih di sana.
Lalu Anggita melepaskan pinggir meja, berjalan dari depan layar ke kursi Nene, dan berlutut di samping kursi itu, sehingga matanya sejajar dengan mata neneknya.
“Ne,” katanya pelan. Ia tidak lagi memakai suara presentasi. Ia memakai suara cucu. “Waktu Gita kecil, tiap libur sekolah Gita ke Bandung. Nene selalu bikinin Gita nasi liwet di kastrol, terus Nene bilang, ‘Gita, ieu teh lain ngan sangu. Ieu teh imah.’ Gita nggak ngerti waktu itu. Gita pikir Nene ngomongin nasi.”
Nene diam.
“Sekarang Gita ngerti.” Anggita menunjuk ke arah layar. “Yang di layar itu cuma bungkus, Ne. Kardusnya, logonya, warnanya. Itu biar anak-anak muda di Jakarta, di Surabaya, yang belum pernah ke Dago, yang nggak punya nenek di Bandung, bisa nyobain rasa imah Nene. Isinya nggak berubah. Sambalnya tetap sambal Nene. Liwetnya tetap kastrol Nene. Ruang makan ini tetap rumah Nene.”
Ia menggenggam tangan Nene yang keriput.
“Nu leungit teh... euweuh, Ne. Nu nambahan teh, incu Nene di mana-mana. Nu teu kenal Nene, tapi bisa ngadahar masakan Nene.”
Yang hilang tidak ada, Ne. Yang bertambah adalah cucu-cucu Nene di mana-mana. Yang tidak kenal Nene, tapi bisa makan masakan Nene.
Bahasa Sundanya berantakan. Aksennya Jakarta sekali. Ada dua kata yang salah pakai.
Tapi Nene Dewi, yang pernah menyebut desain seorang arsitek sebagai kandang ayam, yang membuat konsultan Jakarta pulang di tengah presentasi, dan yang tidak pernah, dalam tujuh tahun yang kuingat, menangis di rapat direksi, mengangkat tangannya yang bebas dan menyentuh pipi cucunya. Matanya berkaca-kaca.
“Disatujuan,” kata Nene. Suaranya serak. “Sadayana. Disatujuan.”
Bi Ratna menangis dengan suara keras. Tante Lusi mengusap mata dengan ujung kerudung. Uwa Haris berdeham panjang dan sangat sibuk membersihkan kacamatanya. Di layar tablet, Om Rudi bertepuk tangan dan berteriak “ANAK PAPAAA!” begitu keras sampai speaker tablet pecah suaranya.
Dan aku, di kursi paling belakang, dekat pintu, di tempat yang sudah kududuki selama tujuh tahun, menyadari bahwa aku sedang berdiri.
Aku tidak ingat kapan aku berdiri.
Malam itu aku menemukannya di saung paling ujung. Saung yang sama dengan malam roti tawar, empat hari lalu.
Kali ini aku yang datang belakangan. Ia sudah duduk di sana, memeluk lutut, memandangi kebun. Bulan penuh malam ini, dan seluruh kebun tampak keperakan.
Aku naik dan duduk di sebelahnya. Tidak terlalu dekat.
“Selamat,” kataku.
“Bukan aku. Itu Nene.”
“Itu Teh Anggita.”
“Kamu yang latih.”
“Saya latih dua pertanyaan. Pertanyaan ketiga, Teh Anggita sendiri. Dan itu yang menang.”
Ia tersenyum ke arah kebun, tanpa menoleh.
Kami diam beberapa saat. Jangkrik berbunyi dan angin malam Dago yang dingin menggoyangkan daun pisang di pojok kebun.
Lalu aku bicara. Aku sudah menyiapkan kalimatnya sejak sore, dan sudah menulis lalu menghapusnya di buku catatan cokelat tujuh kali. Tapi begitu duduk di sini, semua versi itu hilang, dan yang tersisa cuma yang benar.
“Empat hari lalu, Teh Anggita nggak nanya saya minta apa waktu niup lilin.”
Ia menoleh.
“Selama dua puluh empat tahun,” kataku, “saya selalu minta hal yang sama. Minta Kakak nggak pergi. Terus setelah dia pergi, saya minta dia baik-baik aja. Saya nggak pernah minta apa-apa buat diri saya sendiri. Saya nggak tahu caranya. Dari kecil saya diajarin, kalau ada orang yang nolong kamu, kamu jangan minta lebih. Kamu terima kasih, kamu kerja, kamu balas. Kamu jangan jadi beban.”
Anggita tidak berkata apa-apa. Matanya tidak lepas dariku.
“Empat hari lalu, saya minta sesuatu yang lain.” Aku menarik napas. “Saya minta, sekali aja, boleh nggak saya pengen sesuatu buat diri sendiri. Tanpa ngerasa nggak tahu terima kasih.”
“Kamu pengen apa?”
Aku memandangnya. Di bawah bulan penuh, wajahnya keperakan. Rambutnya tergerai dan sedikit kusut oleh angin. Ia masih memakai blus putih dari rapat tadi, sudah kusut di bagian lengan. Ia cantik dengan cara yang membuatku lupa bahwa aku pernah bisa memetakan stok empat puluh tujuh cabang dalam dua belas menit.
“Kamu,” kataku.
Satu kata. Untuk pertama kalinya, tanpa Teh, tanpa saya.
“Aku suka sama kamu, Gita. Dari stasiun. Dari behel. Dari surabi oncom yang kamu makan sambil merem. Dari Meja Tujuh, dari telur dadar yang kamu kasih ke si Neng, dari tangan kamu di warung Ceu Imas, dari roti tawar.” Suaraku tidak lagi tenang, dan aku membiarkannya. “Aku udah nyoba nggak suka. Aku udah nyoba inget aku siapa, kamu siapa, Nene siapa. Aku udah nyoba pakai data. Datanya nggak mau kerja sama.”
Anggita memandangiku.
Lalu, pelan, sangat pelan, senyumnya mulai muncul, dari ujung bibir, naik ke mata. Dan begitu sampai di mata, aku tahu aku sudah kalah. Kalau ini kekalahan, aku tidak keberatan kalah setiap hari.
“Akhirnya,” bisiknya. “Menunya tersedia.”
“Belum masuk menu,” kataku. “Masih menu khusus. Cuma buat satu meja.”
“Meja nomor berapa?”
“Kamu tahu meja nomor berapa.”
Ia tertawa. Tawa yang keras dan lepas dan sama sekali tidak cocok dengan wajahnya yang anggun. Lalu tawa itu berhenti di tengah, dan matanya basah, dan ia melakukan sesuatu yang membuatku lupa caranya bernapas.
Ia memelukku.
Ia tidak ragu sedikit pun. Kedua lengannya melingkar di leherku, wajahnya terbenam di bahuku, dan seluruh tubuhnya sedikit gemetar, entah karena tertawa, menangis, atau dingin.
Aku tidak tahu harus meletakkan tanganku di mana. Aku belum pernah dipeluk seperti ini, oleh seseorang yang bukan kakakku dan bukan Nene. Aku tidak tahu aturannya.
Lalu aku berhenti mencari aturan. Aku melingkarkan lenganku di punggungnya dan menariknya lebih dekat. Pelan, hati-hati, seperti memegang sesuatu yang bisa pecah, padahal aku tahu ia sama sekali tidak rapuh. Aku memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membiarkan diriku menerima sesuatu tanpa langsung memikirkan cara membalasnya.
“Kamu tahu nggak,” gumamnya ke bahuku, “aku udah suka sama kamu dari kamu bilang ‘I don’t know, the last photo I saw she was twelve, with braces.’”
“Itu kalimat paling buruk yang pernah aku ucapin.”
“Itu kalimat paling jujur yang pernah aku denger dari cowok di hari pertama ketemu.” Ia menarik diri sedikit, cukup untuk memandang wajahku, tapi lengannya masih di leherku. “Semua cowok di Jakarta, di Melbourne, hari pertama ketemu aku, bilang aku cantik. Kamu bilang aku pakai behel.”
“Kamu memang pakai behel. Di foto.”
“ARIEF.”
Aku tersenyum, dan ia memukul bahuku pelan, lalu menyandarkan dahinya ke dahiku. Napas kami bercampur di udara dingin Dago.
“Terus sekarang gimana?” bisiknya.
Aku sudah memikirkan ini juga, sejak sore, di buku catatan cokelat yang sama.
“Aku mau minta izin Nene,” kataku. “Dengan benar. Bukan karena ketahuan Bi Ratna, bukan dari grup WA. Aku mau datang ke Nene, duduk di depan beliau, dan bilang. Tapi aku mau datang bawa sesuatu.”
“Bawa apa?”
“Sistem terpusat buat empat puluh tujuh cabang. Go-live tanggal enam November. Itu janji aku ke Nene waktu beliau nyekolahin aku S2.” Aku memegang tangannya di antara kami. “Aku nggak mau datang ke Nene sebagai anak panti yang beruntung, yang naksir cucunya. Aku mau datang sebagai orang yang udah nepatin janjinya. Habis itu, baru aku minta.”
Anggita memandangiku lama.
“Dua minggu,” katanya.
“Sampai go-live.”
“Dua minggu kita diam-diam?”
“Dua minggu.”
Ia menghela napas panjang, sangat dramatis, seperti orang yang baru dijatuhi hukuman berat.
“Oke. Dua minggu.” Ia mengacungkan telunjuk ke hidungku. “Tapi syaratnya kamu nggak boleh pakai ‘saya’ lagi kalau lagi berdua. Dan kamu harus panggil aku ‘Gita’, bukan ‘Teh Anggita’. Dan kalau aku pesan kamu di Meja Tujuh, kamu nggak boleh bilang ‘belum tersedia’ lagi.”
“Terus aku harus bilang apa?”
“Pikirin sendiri. Kamu kan pintar.”
Ia menyandarkan kepalanya di bahuku. Kami duduk seperti itu di saung, di bawah bulan penuh, sementara jangkrik bernyanyi dan daun pisang bergoyang.
Di pos satpam di kejauhan, aku melihat siluet Pak Darto berdiri di jendela, memegang termos kopi dan sama sekali tidak pura-pura sedang tidak melihat. Lalu, dengan sangat pelan, ia memutar badannya membelakangi kami dan mematikan lampu pos.
Aku memutuskan untuk menaikkan gaji Pak Darto bulan depan.
Dengan alasan yang tidak akan kutulis di laporan mana pun.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik reading
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu