Chapter Thirty Three

Om Rudi

POV: Arief

Pasar Kosambi jam lima pagi adalah tempat yang paling jujur di Bandung, lebih jujur dari dapur restoran mana pun.

Di sini tidak ada laporan, tidak ada dasbor, dan tidak ada angka yang terlalu rapi. Yang ada hanya cabai merah keriting di karung goni, bawang merah Brebes yang ditumpuk seperti bukit kecil, ikan mas yang masih menggelepar di baskom plastik, dan pedagang-pedagang yang sudah tiga puluh tahun berdiri di lapak yang sama. Mereka menyebut harga dengan suara serak dan mata yang membaca pembeli lebih cepat dari sistem mana pun yang pernah kubangun.

Aku ke sini setiap Sabtu pagi sejak umur tujuh belas. Dulu untuk membantu Mang Ujang mengangkut karung. Sekarang untuk membaca harga.

Pagi ini, untuk pertama kalinya, aku tidak datang sendirian.

“Kenapa kita nggak beli yang ini aja?” Gita menunjuk tumpukan cabai merah di lapak pertama, yang paling dekat dengan pintu masuk. “Merahnya bagus. Mengilap.”

“Mengilapnya karena disemprot air,” kataku. “Biar keliatan segar. Kalau dibawa ke dapur, besok udah lembek.”

Gita memandangi cabai itu, lalu memandangiku, dengan mata menyipit di balik uap kopi dari termos V60 yang ia pegang dengan dua tangan.

“Kamu tahu dari mana?”

“Pegang.”

Ia memegang satu. Lalu ia mengerutkan dahi. “Basah.”

“Pagi-pagi gini, cabai yang baru dipetik kemarin harusnya kering di kulit. Yang basah biasanya stok dua tiga hari yang disemprot.” Aku menunjuk lapak di ujung lorong, yang paling gelap, dengan seorang nenek berkerudung hitam yang duduk di atas karung goni. “Kita ke Ma Icih.”

“Kenapa Ma Icih?”

“Karena Ma Icih nggak nyemprot. Ma Icih bilang, ‘Cabe mah kudu jujur, Jang. Lamun teu jujur, sambelna bakal bohong.’”

Gita tertawa. Tawa yang keras dan lepas, yang membuat seorang tukang ikan di lapak sebelah menoleh dan tersenyum.

Kami berjalan ke lapak Ma Icih. Gita berjalan di sebelahku, setengah meter jauhnya, tidak menyentuhku, sambil memegang termos kopi dan termos teh tawar. Dua-duanya, karena aku nggak tahu kamu tim apa pagi ini. Ia memakai jaket parasut hitam. Jaketku. Aku tidak tahu kapan ia mengambilnya dari gantungan di kantor. Waktu ia keluar dari pagar samping jam empat lewat lima puluh pagi, jaket itu sudah ada di bahunya, kebesaran, dengan lengan yang digulung tiga kali.

Mulai malam ini, aku ngejar kamu.

Ia tidak bercanda. Sejak semalam, ia mengirimiku tujuh pesan. Satu laporan harian jam sebelas malam, berisi foto dirinya sedang makan gehu dengan keterangan sarapan besok udah aku siapin, jangan bikin laporan. Satu jam dua belas: kamu tahu nggak pasar kosambi buka jam berapa? aku googling tapi katanya beda-beda. Satu jam tiga: aku nggak bisa tidur. Satu jam empat: lampu dapur kamu belum nyala. kamu masih tidur? bagus. tidur. Satu jam empat lewat dua puluh: lampunya nyala. oke. aku turun lima belas menit lagi.

Ma Icih mengangkat kepala waktu kami sampai di lapaknya. Ia memandangi aku, lalu Gita, lalu jaket parasut hitam di bahu Gita, lalu aku lagi.

“Jang Arief,” katanya. Suaranya serak oleh usia dan rokok kretek. “Ieu saha?”

Aku membuka mulut.

“Abdi nu ngudag anjeunna, Ma,” kata Gita sebelum aku sempat menjawab, dengan bahasa Sunda yang aksennya Jakarta sekali dan satu katanya salah. “Nembé ti tadi wengi.”

Ma Icih memandangi Gita lama sekali. Lalu ia tertawa, tawa yang serak dan berderak seperti mesin diesel tua, sampai ia terbatuk dan harus menepuk dadanya sendiri.

“Alus, Neng,” katanya di sela batuknya. “Alus. Si Jang ieu mah kudu diudag. Lamun henteu, manehna mah ngan ukur bakal ngitung cabe nepi ka paeh.”


Aku membeli dua puluh kilo cabai merah keriting dari Ma Icih dengan harga empat puluh tiga ribu per kilo. Harga di lapak pertama tadi tiga puluh delapan ribu.

“Kenapa yang lebih mahal?” tanya Gita, waktu kami berjalan ke parkiran sambil menenteng dua karung, ia satu, aku satu. Aku sudah memintanya meletakkan karung itu dan membiarkan kuli yang mengangkut, tapi ia menolak dengan alasan aku lagi ngejar, orang yang ngejar nggak nyuruh kuli.

“Cabai di lapak pertama, tiga puluh delapan ribu, tapi besok sepuluh persen udah lembek dan harus dibuang. Hari ketiga, dua puluh persen. Rata-rata kita cuma bisa pakai delapan puluh lima persen.” Aku menghitung di kepala sambil berjalan. “Cabai Ma Icih, empat puluh tiga ribu, tapi bisa dipakai sembilan puluh delapan persen sampai hari keempat. Harga per kilo yang beneran kepake, cabai Ma Icih empat puluh tiga koma delapan ribu. Lapak pertama empat puluh empat koma tujuh ribu.”

Gita berhenti berjalan.

“Jadi yang mahal sebenernya lebih murah.”

“Kalau dihitung yang kepake, iya.”

“Kamu ngitung itu sambil jalan?”

“Aku udah ngitung dari dua tahun lalu. Pakai data waste cabai dapur pusat selama enam bulan.” Aku mengangkat bahu. “Sekarang tinggal update harganya aja tiap Sabtu.”

Gita memandangiku dengan ekspresi yang mulai kukenali sebagai aku nggak tahu mau marah atau mau meluk kamu. Lalu ia menggeleng pelan, menyesuaikan genggamannya di karung cabai, dan terus berjalan.

“Kamu tahu nggak,” katanya tanpa menoleh, “aku lagi ngejar orang yang ngitung harga cabai per kilo yang kepake. Jam lima pagi. Di pasar.”

“Kamu bisa berhenti ngejar.”

“Nggak bisa.” Ia menoleh dan tersenyum. “Aku udah keluar biaya. V60. Dua termos. Bangun jam empat. Itu biaya hangus. Kalau aku berhenti sekarang, rugi.”

Aku tertawa.

Gita memandangiku tertawa. Senyumnya melebar, naik sampai ke mata, dan ia memalingkan wajah cepat-cepat ke arah parkiran, tapi aku sempat melihat pipinya memerah.


Om Rudi menunggu di Meja Tujuh jam delapan pagi.

Aku tidak tahu ia akan datang hari itu. Gita bilang Om Rudi akan ke Bandung besok, hari Jumat. Tapi Om Rudi tidak datang hari Jumat. Gita meneleponnya Jumat malam setelah makan malam keluarga, dan Om Rudi bilang ia masih di Jakarta, masih belum siap, dan butuh satu hari lagi.

Pagi ini ia duduk di Meja Tujuh, di kursi yang menghadap jendela, kursi Gita, dengan kemeja batik yang berbeda dari Rabu. Motif kawung, warna biru tua, disetrika rapi. Rambutnya disisir. Tapi tidak ada minyak rambut kali ini, dan tidak ada semir. Uban di pelipisnya kelihatan jelas di bawah cahaya pagi dari jendela.

Ia tidak memesan apa-apa. Asep, yang berdiri di dekat kasir dengan buku menu, memandangiku dengan wajah orang yang tidak tahu harus berbuat apa.

Gita berhenti di ambang pintu samping, dengan karung cabai di tangan. Ia memandangi ayahnya di Meja Tujuh. Lalu ia memandangiku.

“Aku bawa cabainya ke dapur,” katanya pelan.

“Gita—”

“Ini urusan kalian.” Ia tersenyum, kecil. “Aku udah ngomong sama Papa. Sekarang giliran kamu.”

Ia mengambil karung cabai dari tanganku, menumpuknya di atas karungnya sendiri, dan berjalan ke dapur dengan dua karung dua puluh kilo dan termos V60, sedikit terhuyung. Dari pintu dapur, aku mendengar Mang Ujang berteriak, “Teh Anggita! Ulah! Ku abdi! Engke tonggongna potong!”

Aku berjalan ke Meja Tujuh dan berdiri di seberang Om Rudi.

Om Rudi mengangkat kepala.

“Rief,” katanya. Suaranya parau. “Duduk.”

Aku duduk.

Kami memandangi satu sama lain di atas meja kayu jati, di bawah cahaya pagi yang jatuh miring dari jendela.

“Kamu tahu,” kata Om Rudi. Bukan pertanyaan.

“Saya tahu, Om.”

“Dari go-live.”

“Dari go-live.”

Om Rudi menutup mata. Ia diam lama sekali, sampai Asep, di dekat kasir, perlahan-lahan mundur ke arah dapur dengan langkah sangat pelan, seperti orang yang mundur dari harimau.

“Kenapa kamu nggak bilang?” tanya Om Rudi akhirnya, dengan mata masih tertutup. “Ke Ibu, ke Haris, ke siapa aja. Kenapa kamu nggak bilang?”

“Saya bilang ke Nene, Om. Tanggal empat belas November. Pagi.”

Om Rudi membuka mata.

“Kamu bilang ke Ibu,” ulangnya. Suaranya aneh.

“Saya bawa berkas tiga puluh dua halaman. Saya kasih tiga pilihan penyelamatan.” Aku memandanginya. “Nene bilang biar Nene yang urus. Nene bilang jangan bilang ke siapa-siapa. Termasuk Gita.”

Om Rudi memandangiku. Wajahnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat: ia tidak terkejut. Ia seperti orang yang baru mendengar sesuatu yang sudah lama ia takuti tapi tidak pernah ia percayai.

“Tanggal empat belas,” katanya pelan. “Sehari sebelum Rudi ngumumin perjodohan.”

“Iya, Om.”

Om Rudi menunduk. Ia memandangi tangannya sendiri di atas meja, tangan yang gemetar.

“Dan Ibu tetap bilang setuju,” bisiknya. “Di meja makan. Sehari setelah kamu kasih tahu semuanya.”

Aku tidak menjawab. Aku juga sudah memikirkan itu, setiap malam, selama sebulan.


“Rief,” kata Om Rudi setelah lama sekali. “Rudi mau jujur sama kamu. Soal satu hal. Satu hal yang nggak pernah Rudi bilang ke siapa pun.”

Aku menunggu.

Om Rudi menarik napas panjang, lalu menghembuskannya.

“Rudi iri sama kamu.”

Aku memandanginya.

“Dari dulu,” katanya. Ia tidak memandangku. Ia memandangi jendela, ke arah Jalan Dago, tempat ojol lewat satu per satu. “Dari kamu umur lima belas. Waktu Ibu nyuruh pelayan bawain kamu nasi timbel di meja pojok cabang Cimahi. Rudi ada di sana, Rief. Kamu nggak inget. Rudi duduk di meja sebelah, lagi nemenin Ibu, lagi minta tanda tangan buat usaha ekspor teh.”

Aku tidak ingat. Aku hanya ingat Nene, kebaya, dan nasi timbel.

“Ibu ngeliatin kamu makan,” kata Om Rudi. “Lama banget. Terus Ibu bilang ke manajer, ‘Terima budak ieu. Budak nu ngabeungkeut sapatu ku tali rafia mah moal males.’ Terus Ibu noleh ke Rudi, dan Ibu bilang...” Suaranya pecah sedikit. “Ibu bilang, ‘Rudi, tingali budak eta. Kitu carana jalma nu daek usaha.’”

Rudi, lihat anak itu. Begitu caranya orang yang mau berusaha.

“Rudi umur tiga puluh delapan waktu itu,” kata Om Rudi. “Punya istri, punya anak umur tiga belas. Udah bangkrut sekali. Dan Ibu bilang ke Rudi, di depan manajer, ‘lihat anak panti itu, begitu caranya orang yang mau berusaha.’”

Ia tertawa, tawa yang pendek dan sakit.

“Rudi benci kamu hari itu,” katanya. “Sehari. Cuma sehari. Besoknya Rudi lihat kamu nyuci piring di belakang, sendirian, jam sebelas malem, waktu semua karyawan udah pulang. Tangan kamu merah sampai siku, kena sabun. Kamu nyanyi lagu dangdut sambil nyuci. Fals.” Om Rudi tersenyum, dan matanya basah. “Rudi nggak bisa benci anak yang nyanyi dangdut fals sambil nyuci piring jam sebelas malem.”

Aku tidak bisa bicara.

“Tapi irinya nggak hilang, Rief.” Om Rudi mengusap mata dengan punggung tangan. “Tiga belas tahun. Kamu naik jadi pelayan, kepala pelayan, staf pusat, manajer, Head of Operations. Kamu kuliah di UI, S1 cum laude, S2. Ibu nyekolahin kamu. Ibu bangga sama kamu. Ibu cerita soal kamu ke semua orang. ‘Arief nu ngajieun sistem. Arief nu ngabéréskeun Garut. Arief nu ngeureunkeun cabang anyar Haris ku hiji peta.’” Ia menggeleng. “Ibu nggak pernah cerita soal Rudi kayak gitu. Nggak sekali pun. Tiga puluh tahun.”

“Om—”

“Itu sebabnya Rudi bangun apartemen di Bekasi.” Om Rudi memandangiku akhirnya. “Bukan buat uang, Rief. Buat cerita. Biar Ibu punya cerita soal Rudi. ‘Rudi nu ngawangun dua menara di Bekasi.’ Sekali aja.”

Aku memandangi laki-laki di depanku. Laki-laki yang mengajariku memakai dasi di toilet Balairung UI, sambil tertawa karena aku mengikatnya seperti tali sepatu. Laki-laki yang menulis di surat rekomendasi S2-ku, Arief adalah salah satu orang paling jujur yang pernah saya kenal, sambil iri padaku.

Laki-laki yang selama tiga belas tahun iri pada seseorang yang ia sayangi, dan tetap menyayanginya.

“Om,” kataku. “Om yang tanda tangan rekomendasi S2 saya.”

Om Rudi mengangguk.

“Om nulis, ‘Arief salah satu orang paling jujur yang pernah saya kenal.’ Saya baca suratnya. Panitia beasiswa nunjukin ke saya waktu wawancara.” Aku menelan. “Om nulis itu sambil iri sama saya.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Om Rudi memandangiku lama.

“Karena itu bener,” katanya. “Irinya bener. Suratnya juga bener. Dua-duanya bener, Rief. Rudi iri sama kamu, dan Rudi sayang sama kamu. Rudi nggak tahu caranya cuma ngerasain satu.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku tahu rasanya. Aku tahu rasanya merasakan dua hal yang bertentangan untuk satu orang. Aku merasakannya untuk Nene, untuk Bu Rahmah, untuk Mama Liliana yang belum pernah kutemui dengan benar. Untuk semua orang yang mencintai aku dan kakakku dengan cara yang memisahkan kami.

“Om,” kataku. “Saya nggak marah.”

Om Rudi membeku.

“Saya nggak marah sama Om,” ulangku. “Saya nggak pernah marah. Waktu saya nemu nama PT Wardhana di sistem, saya nggak marah. Saya sedih. Karena saya ngerti kenapa Om diem.”

“Kamu ngerti?”

“Saya juga diem, Om. Sebulan.” Aku tersenyum kecil. “Saya diem di meja makan, waktu Om ngumumin perjodohan. Saya diem waktu Gita nyari kaki saya di bawah meja. Saya diem waktu dia bilang saya nggak pernah memperjuangkan dia. Saya diem, karena saya nggak mau Om hancur di depan dua puluh tiga orang.”

Om Rudi tidak bisa bicara.

“Kita sama, Om,” kataku. “Kita sama-sama diem buat ngelindungin orang yang kita sayang. Dan kita sama-sama bikin orang yang kita sayang sakit.”

Dan itu, kalimat itu, yang membuat Om Rudi runtuh.

Ia tidak menangis seperti di ruang kerja Nene atau di ruang kerjanya di Jakarta, kata Gita. Ia tidak menutup wajah dengan dua tangan. Ia hanya duduk di Meja Tujuh, memandangiku, dan air mata mengalir dari matanya tanpa suara, tanpa ia usap. Wajahnya diam, seperti wajah orang yang sudah terlalu lelah untuk menangis dengan benar.

“Kalau kamu marah,” bisiknya, “Rudi bisa terima, Rief. Rudi bisa terima kamu marah. Rudi bisa terima kamu benci. Rudi udah nyiapin diri buat itu, dari Jakarta. Sepanjang tol.”

Ia menggeleng pelan.

“Tapi kamu nggak marah. Kamu bilang kita sama.” Suaranya hampir tidak ada. “Itu lebih susah, Rief. Itu jauh lebih susah.”


Aku menunggu Om Rudi berhenti menangis.

Tidak ada yang mengganggu kami. Restoran belum buka. Asep, Dede, dan Teh Euis sudah menghilang ke dapur. Pak Darto, di pos, menyalakan radio dengan lagu dangdut yang sangat keras, sepertinya supaya tidak ada yang bisa mendengar apa pun dari Meja Tujuh.

Lalu aku mengeluarkan ponselku.

“Om,” kataku. “Saya punya rencana.”

Om Rudi mengusap mata. “Rencana Bumi. Gita cerita.”

“Versi dua. Udah saya update.” Aku membuka satu dokumen dan memutar ponselku ke arahnya. “Saya butuh dua hal dari Om. Pertama, tanda tangan. Kedua, Om berdiri.”

Om Rudi memandangi layar ponselku.

“Tanah Bekasi,” kataku. “Enam ribu dua ratus meter persegi. Pinggir tol, empat ratus meter dari pintu keluar yang baru dibuka. Tanahnya nggak dijaminkan, saya udah cek di BPN. Atas nama PT Wardhana Graha Lestari, Om direkturnya.”

“Rudi tahu. Tanahnya bagus. Tapi siapa yang mau beli tanah mangkrak dengan fondasi setengah jadi?”

“Tiga orang.”

Om Rudi membeku.

Aku menggeser layar. Tiga nama perusahaan, tiga nama kontak, tiga tanggal telepon.

“Sebulan lalu, waktu saya pertama kali nemu tanah itu, saya cari pengembang yang lagi butuh lahan pinggir tol di Bekasi Timur,” kataku. “Saya telepon sembilan. Tiga tertarik. Dua mau lihat lokasi bulan Januari. Satu udah lihat minggu lalu, diam-diam. Saya kirim mereka koordinat dan foto satelit.”

Aku menggeser layar lagi. Satu dokumen PDF, dengan kop surat perusahaan.

“PT Graha Tol Mandiri. Mereka bangun gudang logistik di sepanjang tol Jakarta-Cikampek. Fondasi beton setengah jadi di tanah Om justru nilai tambah buat mereka, karena tanahnya udah dipadatkan dan udah ada akses jalan. Kemarin sore mereka kirim Letter of Intent.”

Om Rudi memandangi layar itu. Bibirnya terbuka.

“Empat koma enam juta per meter,” bacaku. “Total dua puluh delapan koma lima miliar. Uang muka sepuluh persen, dua koma delapan lima miliar, dibayar waktu tanda tangan Perjanjian Pengikatan Jual Beli. Pelunasan sembilan puluh hari setelahnya.”

Om Rudi tidak bisa bicara.

“Dua koma delapan lima miliar, Om.” Aku memandanginya. “Tunggakan bunga dan denda di Bank Prima sekitar dua koma delapan. Uang mukanya cukup buat bayar tiket masuk ke meja restrukturisasi. Uang dari katering prabayar pelanggan setia, yang udah tiga koma satu miliar, jadi cadangan, buat jaga-jaga, dan buat mulai ngembaliin uang muka pembeli apartemen yang paling butuh.”

“Ibu yang jual mobil,” bisik Om Rudi.

“Saya udah cari di forum, Om. Namanya Bu Sumarni. Unit studio, uang muka empat puluh tujuh juta. Dia yang pertama dibalikin.”

Om Rudi memandangiku seperti memandangi hantu.

“Kamu...” Ia menelan. “Kamu cari nama ibu-ibu di forum pembeli apartemen Rudi?”

“Saya baca empat ratus balasan, Om. Waktu malem-malem nggak bisa tidur.”

Om Rudi menutup mulut dengan tangannya.

“Sembilan puluh hari setelah PPJB, tanahnya lunas. Dua puluh delapan koma lima miliar. Utang di Bank Prima lunas sepenuhnya, sekitar dua puluh tiga koma enam. Sisanya buat ngembaliin semua uang muka pembeli.” Aku menggeser layar ke halaman terakhir. “Nggak ada yang perlu nikah sama siapa-siapa. Nggak ada investor dengan syarat non-bisnis. Nggak ada yang utang sama siapa-siapa kecuali sama pelanggan setia, dan utangnya dibayar pakai nasi liwet.”

Om Rudi memandangi layar ponselku lama sekali.

“Ini bisa jalan,” bisiknya.

“Ini bisa jalan. Tapi saya butuh dua hal.”

“Tanda tangan.”

“Om tanda tangan penerimaan LOI ini, sebagai Direktur PT Wardhana Graha Lestari. Hari ini. Biar PPJB bisa ditandatangani sebelum Natal. Bank Prima butuh lihat uang muka masuk sebelum tanggal dua puluh delapan supaya mau duduk.”

“Dan yang kedua?”

Aku memandanginya.

“Om berdiri,” kataku. “Di depan Nene, di depan Uwa Haris, di depan keluarga. Om yang cerita, bukan saya, bukan Gita, bukan Nene. Om sendiri. Karena Bank Prima nggak cuma butuh uang muka. Mereka butuh pemilik jaminan, yaitu Bumi Ni Dewi, yaitu Nene, duduk di meja restrukturisasi. Dan Nene nggak akan duduk di meja itu kalau keluarganya belum tahu.”

Om Rudi diam.

“Gita minta hal yang sama ke Om kemarin,” kataku pelan. “Di Jakarta. Om bilang iya.”

“Rudi bilang iya.” Om Rudi mengusap wajahnya dengan dua tangan. “Rudi bilang iya ke anak Rudi. Terus Rudi naik travel ke Bandung kemarin, dan Rudi minta turun di rest area Cipularang, dan Rudi duduk di warung kopi di sana tiga jam, terus naik travel balik ke Jakarta, karena Rudi nggak sanggup.”

“Om takut Nene bilang ‘engke heula’.”

Om Rudi memandangiku. Matanya merah.

“Rudi takut Ibu bilang ‘kunaon teu ngitung heula’,” bisiknya. “Rudi takut Ibu bener lagi. Kayak tiga puluh tahun ini.”

Aku memandangi Om Rudi lama. Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan pada siapa pun dalam tiga belas tahun di Bumi Ni Dewi, kecuali pada Nene.

Aku mengulurkan tangan di atas Meja Tujuh dan meletakkannya di atas tangan Om Rudi yang gemetar.

“Om,” kataku. “Nanti, waktu Om berdiri di depan Nene, saya ada di sana.”

Om Rudi memandangi tanganku di atas tangannya.

“Di belakang Rudi?” tanyanya.

Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku memikirkan atap tiga malam lalu, dan Kak Kanaya yang berkata kamu selalu di belakang, Rief, jadi Kakak harus di depan. Aku memikirkan Gita yang berdiri di meja makan semalam. Aku memikirkan surat biru di amplop koperasi sekolah, tunggu Kakak, dan surat Bu Rahmah, dan sekali-sekali, makan bagian yang lebih besar.

“Bukan, Om,” kataku. “Di sebelah Om.”


Om Rudi menandatangani penerimaan LOI itu jam sembilan lewat dua puluh, di Meja Tujuh, dengan pulpen biru murah berlogo bank yang kuambil dari meja kasir. Tangannya gemetar, sehingga tanda tangannya keluar sedikit miring.

Aku memotretnya dan mengirimkannya ke PT Graha Tol Mandiri.

Balasannya datang dalam empat menit: Terima kasih, Pak Arief. Draf PPJB akan kami kirimkan Senin pagi. Penandatanganan bisa dilakukan Rabu, 23 Desember, di kantor notaris kami di Bekasi.

Om Rudi membaca balasan itu dari layar ponselku, lalu bersandar ke kursi dan memandangi langit-langit ruang makan Bumi Ni Dewi lama sekali.

“Rief,” katanya. “Satu lagi.”

“Om?”

“Bu Kanaya.” Om Rudi mengerutkan dahi. “Hari Senin, di kantornya, Bu Kanaya nanya ke Rudi, ‘Arief tahu?’ Rudi bilang nggak mungkin. Terus Bu Kanaya diem lama banget, kayak... kayak Rudi barusan bilang sesuatu yang bodoh.” Ia memandangiku. “Kenapa Bu Kanaya nanya soal kamu? Kenapa CEO Sastrawidjaya peduli kamu tahu atau nggak?”

Aku memandangi Om Rudi.

Aku memikirkan berbagai cara untuk menjawab pertanyaan itu. Cara yang paling sopan, yang paling halus, yang tidak akan membuat laki-laki di depanku, yang sudah menangis dua kali pagi ini, terkena serangan jantung di Meja Tujuh.

Lalu aku memutuskan untuk jujur saja.

“Karena dia kakak saya, Om.”

Om Rudi tidak bergerak.

Satu detik. Dua. Lima.

“Kakak,” ulangnya.

“Kakak kandung. Kanaya. Yang diadopsi waktu umur enam belas. Yang saya kejar sampai tali sandal jepit saya putus.”

Om Rudi memandangiku. Lalu memandangi jendela. Lalu memandangiku lagi.

“Bu Kanaya,” katanya. “CEO Sastrawidjaya Group. Annex Tower. Exo Tower. Sirius Tower. Rasa Sastra.”

“Iya, Om.”

“Kakak kamu.”

“Iya, Om.”

Om Rudi berdiri dari kursinya. Lalu ia duduk lagi, keras, sampai kursi kayu jati itu berderit. Lalu ia menutup wajah dengan dua tangan.

“Ya Allah,” katanya di balik tangannya. “Ya Allah, Rief.”

“Om?”

“Rudi...” Ia menurunkan tangannya. Wajahnya pucat. “Rudi ngajuin investasi ke kakak kamu sendiri. Buat nutupin utang yang kamu temuin. Pakai jaminan cabang yang kamu urus. Terus Rudi ngejodohin anak Rudi, yang kamu sayang, sama adik angkat kakak kamu. Terus Rudi nelepon kamu, bilang ‘kamu anak Om’, biar kamu nggak bilang apa-apa ke kakak kamu sendiri. Terus Rudi duduk di depan kakak kamu di kantornya hari Senin dan bilang, ‘Arief anak baik, paling jujur, nggak mungkin tahu.’”

Ia memandangiku dengan mata yang membelalak.

“Rief. Rudi ini... Rudi ini tokoh jahat di sinetron. Rudi tokoh jahat yang paling bodoh di sinetron.”

Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa.

Om Rudi memandangiku tertawa, dengan wajah yang masih pucat dan mata yang masih membelalak.

Lalu, pelan-pelan, sudut bibirnya bergerak. Naik. Naik lagi.

Dan Om Rudi tertawa juga. Tawa yang keras, terlalu keras, tawa yang dulu selalu ia keluarkan duluan di setiap ruangan, yang menular, yang membuat semua orang ikut tertawa meskipun leluconnya tidak lucu. Tapi kali ini tawanya tidak selesai terlalu cepat. Tawanya panjang, basah, dan hancur, dan di tengahnya ia menangis lagi, dan tertawa lagi, dan menangis lagi, sampai harus berpegangan pada meja.

Dari pintu dapur yang sedikit terbuka, aku melihat tiga kepala yang mengintip bertumpuk: Asep di bawah, Teh Euis di tengah, Mang Ujang di atas.

Dan di belakang mereka, sedikit terpisah, Gita. Dengan jaket parasut hitam yang lengannya digulung tiga kali, memandangi ayahnya yang tertawa sambil menangis di Meja Tujuh.

Ia juga menangis. Tapi ia tersenyum.


Om Rudi pergi ke ruang kerja Nene jam sepuluh pagi.

Sendirian. Ia memintanya. “Sebelum yang lain, Rief. Sebelum Haris, Ratna, semuanya. Rudi mau ngomong ke Ibu dulu. Berdua. Anak ke ibunya.”

Aku menunggu di lorong, di depan foto-foto keluarga. Nene muda, Uwa Haris dan Om Rudi kecil, Gita dengan behel.

Satu jam.

Aku tidak mendengar apa-apa dari balik pintu. Tidak ada teriakan, tidak ada tongkat yang dihentakkan ke lantai. Hanya sunyi yang sangat panjang, lalu sesekali suara yang sangat pelan, terlalu pelan untuk dimengerti.

Jam sebelas lewat lima, pintu ruang kerja terbuka.

Om Rudi keluar. Matanya merah, wajahnya basah, tapi punggungnya tegak. Lebih tegak dari yang pernah kulihat.

Ia berjalan ke arahku dan berhenti di depan foto dirinya sendiri waktu kecil, bersama Uwa Haris, dengan seragam SD yang kebesaran.

“Ibu nggak bilang ‘engke heula’,” katanya pelan.

Aku menunggu.

“Ibu nggak bilang ‘itung heula’ juga.” Ia memandangi foto itu. “Ibu cuma meluk Rudi. Lama banget. Rudi umur lima puluh satu, Rief. Dan Ibu meluk Rudi kayak Rudi umur tujuh.”

Aku tidak bisa bicara.

Om Rudi menoleh padaku. Wajahnya berubah. Ada sesuatu yang lain sekarang, di bawah mata merah dan wajah basah. Sesuatu yang serius, berat, dan sedikit takut.

“Ibu mau ketemu kamu, Rief,” katanya. “Besok pagi. Berdua.”

“Kenapa, Om?”

Om Rudi memandangiku lama.

“Ibu bilang,” katanya pelan, “ada yang harus Ibu akuin juga. Ke kamu.”