Chapter Thirty Four
Mama Liliana
POV: Kanaya
Rumah di Menteng tidak pernah berubah.
Aku pulang ke sana Sabtu siang, jam satu, naik taksi dari Annex Tower. Pagar besi hitam yang tinggi, halaman dengan rumput yang dipotong setiap Selasa oleh tukang kebun yang sama sejak empat belas tahun lalu, dan rumah dua lantai bergaya kolonial dengan jendela-jendela tinggi dan daun pintu kayu jati yang selalu dipelitur. Di teras ada dua kursi rotan yang tidak pernah diduduki siapa pun, karena Mama menganggap teras adalah tempat untuk dilihat, bukan untuk duduk.
Empat belas tahun lalu aku turun dari mobil hitam di halaman ini, dengan koper kecil dan rambut dikepang satu, dan memandangi rumah ini seperti memandangi istana di buku cerita yang tidak pernah kubaca, karena panti tidak punya buku cerita.
Hari ini aku memandanginya seperti memandangi seseorang yang sudah lama kukenal, yang baru saja kuketahui menyimpan rahasia.
Aku sudah memberi tahu Mama hari Kamis, lewat pesan singkat, satu-satunya pesan yang kukirim setelah sepuluh panggilan tidak terjawab sejak hari rapat. Kanaya pulang ke Menteng Sabtu. Kita bicara.
Mama membalas dalam tiga detik. Mama tunggu, Sayang.
Yang membuka pintu bukan Mama. Papa.
Papa jarang di rumah. Papa Gunawan Sastrawidjaya, enam puluh tahun, pendiri grup, setengah pensiun sejak tiga tahun lalu, yang menghabiskan setengah tahun di perjalanan bisnis dan setengahnya lagi di lapangan golf. Ia selalu hangat, selalu tersenyum, dan selalu tidak ada.
Hari ini ia ada, dengan kaus polo hijau, celana pendek, sandal rumah, dan sebuah kantong plastik besar di tangan.
“Naya!” Ia memelukku di ambang pintu dengan satu lengan, lengan yang lain masih memegang kantong plastik itu. “Papa baru pulang dari Makassar tadi pagi. Mama cerita semuanya. Semuanya!”
“Semuanya, Pa?”
“Adik kamu! Ketemu! Di Bandung!” Papa melepaskan pelukannya dan memandangiku dengan mata yang berkaca-kaca. Papa tidak pernah berkaca-kaca. Papa adalah orang yang tertawa di pemakaman. “Papa nggak tahu harus ngapain, Naya. Papa di bandara Makassar, Mama telepon, Papa nangis di depan konter check-in. Petugasnya nanya Papa kenapa. Papa bilang, ‘Anak saya ketemu adiknya.’”
Aku tidak bisa bicara.
“Terus Papa bingung mau beliin apa,” lanjut Papa, mengangkat kantong plastik di tangannya. “Papa kan belum pernah ketemu dia. Papa nggak tahu dia suka apa. Jadi Papa beli ini.”
Ia membuka kantong itu.
Isinya sandal jepit. Sepuluh pasang. Warnanya macam-macam: biru, hijau, merah, kuning, hitam. Di tali setiap sandal tercetak dengan huruf putih: I ♥ MAKASSAR.
Aku memandangi sandal-sandal itu.
“Mama cerita,” kata Papa pelan, “waktu dia ngejar mobil kita dulu, sandalnya putus. Talinya.” Ia menelan. “Jadi Papa beliin sepuluh. Biar kalau putus, ada gantinya. Biar dia nggak usah lari pakai sandal sebelah lagi.”
Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa, dan menangis, dan tertawa lagi, di ambang pintu rumah Menteng, di depan Papa yang memegang sepuluh pasang sandal jepit bertuliskan I ♥ MAKASSAR.
“Pa,” kataku di sela tawaku. “Dia orang Bandung.”
“Papa tahu.”
“Papa beliin orang Bandung sandal jepit Makassar.”
“Itu yang ada di bandara, Naya! Papa panik!” Papa memandangi sandal-sandal itu dengan wajah bingung. “Salah alamat, ya?”
“Salah alamat banget, Pa.”
Dari dalam rumah, Ervan muncul di ujung lorong dengan kaus dan celana pendek, dan pipi kiri yang sudah tidak merah lagi. Ia memandangi Papa, kantong plastik, dan sepuluh pasang sandal jepit, lalu menutup wajah dengan dua tangan.
“Pa,” katanya dari balik tangannya. “Aku udah bilang. Beliin dia yang ada hubungannya sama dapur. Pisau. Talenan. Panci yang bisa ditempel magnet.”
“Papa nggak ngerti panci, Van.”
“Itu masalahnya, Pa. Nggak ada yang di keluarga ini ngerti panci.”
Papa memandangi Ervan. Lalu memandangiku. Lalu tersenyum lebar, senyum Papa yang jarang kulihat, yang membuat kerutan di matanya dalam sekali.
“Jadi Papa punya anak laki-laki dua sekarang?” tanyanya.
“Pa.” Ervan menurunkan tangannya. “Aku dari dulu anak laki-laki.”
“Maksud Papa, dua yang bisa masak.”
“Aku nggak bisa masak, Pa.”
“Makanya. Satu yang bisa masak, satu yang nggak.” Papa menepuk bahu Ervan dengan kantong sandal jepit. “Seimbang.”
Mama menunggu di taman belakang.
Taman itu adalah tempat Mama. Tidak ada yang boleh mengubah apa pun di sana tanpa izinnya. Kolam ikan koi dengan air mancur kecil, pohon kamboja putih yang berbunga sepanjang tahun, dan bangku kayu di bawah pergola yang dirambati bugenvil ungu. Mama duduk di bangku itu setiap sore jam lima dengan secangkir teh melati, membaca atau hanya memandangi ikan koi.
Hari ini ia duduk di sana jam satu siang, dengan blus krem dan kerudung tipis warna pasir, tanpa teh, tanpa buku. Tangannya terlipat di pangkuan, dan ia memandangi kolam.
Ia mengangkat kepala waktu aku datang.
Wajahnya lebih tua dari waktu rapat sembilan hari lalu. Aku tidak tahu wajah seseorang bisa bertambah tua sembilan hari dalam sembilan hari, tapi wajah Mama bisa. Ada garis di sudut bibirnya yang dulu tidak ada, dan kantung di bawah matanya yang tidak bisa disembunyikan oleh bedak.
“Naya,” katanya.
“Ma.”
Aku tidak duduk. Aku berdiri di depan bangku itu, dua meter dari Mama, dengan tangan di saku celana.
Mama tidak memintaku duduk. Ia memandangiku dengan mata yang basah, dan menunggu.
“Kenapa, Ma?” tanyaku.
Satu pertanyaan, yang sudah empat belas tahun kubawa. Sejak mobil hitam, sejak Kanaya, Mama mau kamu mulai dari awal, benar-benar dari awal, itu satu-satunya syarat Mama.
Mama memandangi kolam ikan koi lama sekali.
“Kamu nggak tidur, Naya,” katanya akhirnya. “Tahun pertama. Kamu inget?”
Aku tidak menjawab.
“Mama denger kamu tiap malem. Jam dua, jam tiga. Kamu jalan bolak-balik di kamar. Kamu buka jendela. Kamu duduk di lantai.” Mama menelan. “Tiap malem kamu duduk di depan jendela yang ngadep ke timur. Ke arah Bandung. Ke arah Cimahi. Kamu duduk di sana sampai subuh. Kamu nggak sadar Mama berdiri di depan pintu kamar kamu, dengerin.”
Aku memandangi Mama.
“Kamu ngomong sama jendela, Naya.” Suara Mama pecah. “Tiap malem. ‘Rief, udah makan?’ ‘Rief, tadi ada yang ganggu kamu nggak?’ ‘Rief, Kakak di sini.’ Tiap malem. Mama berdiri di depan pintu kamar kamu, dengerin kamu ngomong sama jendela, sampai subuh.”
Aku tidak ingat. Aku tidak ingat berbicara pada jendela. Aku hanya ingat duduk di lantai, memandangi langit timur yang perlahan berubah dari hitam ke abu-abu.
“Mama takut,” kata Mama. “Mama takut kamu nggak akan pernah bisa hidup. Kamu cuma bakal duduk di depan jendela itu, ngomong sama adik kamu yang nggak ada di sana, sampai kamu tua.”
Ia memandangiku. Air mata mengalir di pipinya.
“Mama pernah lihat orang kayak gitu, Naya. Ibu Mama. Nenek kamu yang nggak pernah kamu kenal.”
Aku tidak tahu soal itu. Mama tidak pernah bercerita soal ibunya.
“Waktu ayah Mama sakit, waktu Mama umur sepuluh, waktu Bu Dewi kirim rantang tiap sore...” Mama menarik napas. “Ayah Mama meninggal tahun berikutnya. Ibu Mama nggak pernah pulih. Ibu Mama duduk di kursi di teras rumah kami di Bandung, tiap sore, ngadep ke jalan, nungguin ayah Mama pulang kerja. Tiap sore. Sepuluh tahun. Sampai Ibu Mama sendiri meninggal.”
Aku diam.
“Ibu Mama nggak pernah lihat Mama lulus SMA. Nggak pernah lihat Mama nikah sama Papa. Nggak pernah lihat Ervan lahir. Ibu Mama cuma lihat jalan, nungguin orang yang nggak akan pulang.” Mama mengusap mata dengan ujung kerudung. “Waktu Mama lihat kamu duduk di depan jendela itu, ngomong sama adik kamu, Mama lihat ibu Mama, Naya. Mama lihat kursi di teras itu. Dan Mama nggak mau kamu jadi kursi di teras itu.”
Aku tidak bisa bicara.
“Jadi Mama bikin syarat itu,” kata Mama pelan. “Mama pikir, kalau kamu nggak boleh menoleh, kamu bakal belajar jalan ke depan. Mama pikir Mama lagi nyelametin kamu.”
Kebaikan yang salah tempat.
Aku sudah melihatnya di semua orang: di Ervan, di Om Rudi, di Bu Rahmah yang menutup rekening, di adikku yang tidak berdiri di meja makan. Aku sudah melihatnya di diriku sendiri, empat belas tahun, setiap kali aku menolak bantuan dan berkata saya bisa sendiri.
Sekarang aku melihatnya di Mama. Asalnya dari kursi di teras rumah di Bandung, lima puluh tahun lalu.
“Ma,” kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Kanaya nggak berhenti nengok.”
Mama memandangiku.
“Empat belas tahun, Ma. Kanaya nggak pernah berhenti. Kanaya cuma berhenti nengok di depan Mama.” Aku menelan. “Kanaya pindah ke Boston, ke New York, ke Singapura. Tiap delapan belas Oktober, Kanaya bikin kue roti tawar buat adik Kanaya, sendirian di kamar. Kanaya sewa sebelas detektif. Kanaya kirim uang ke panti tiap bulan, empat tahun, pakai uang saku dari Papa.”
Mama menutup mulut dengan tangan.
“Syarat Mama nggak bikin Kanaya berhenti nengok, Ma,” kataku. “Syarat Mama cuma bikin Kanaya nengok sendirian.”
Mama menangis. Ia tidak menutup wajahnya. Ia memandangiku sambil menangis, dengan tangan yang masih menutup mulut, dan bahunya bergetar.
Aku duduk di bangku itu akhirnya, di sebelah Mama, satu jengkal jauhnya. Kami memandangi kolam ikan koi bersama-sama. Ikan-ikan berwarna jingga dan putih berenang pelan di bawah air mancur kecil, tidak peduli pada dua perempuan yang menangis di atas mereka.
Lalu Mama bicara lagi.
“Ada satu hal lagi, Naya.”
Aku menunggu.
“Mama lihat dia,” kata Mama. “Hari itu. Waktu mobil kita keluar dari gerbang panti.”
Aku menoleh.
“Mama duduk di kursi belakang, di sebelah kamu. Kamu nggak noleh. Kamu ngeliatin lurus ke depan, kaku banget, kayak patung. Kamu megang tangan Mama kenceng banget sampai kuku kamu nancep.” Mama menelan. “Tapi Mama noleh, Naya. Mama noleh ke jendela belakang.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Mama lihat dia lari,” bisik Mama. “Anak laki-laki kurus. Kulitnya item kebakar matahari. Ada plester di alisnya. Dia lari ngejar mobil kita, di gang yang sempit, di jalan yang berbatu. Dia lari terus, Naya. Mama nggak pernah lihat anak lari kenceng kayak gitu.” Suara Mama pecah. “Terus sandalnya putus. Talinya. Mama lihat dia hampir jatuh. Terus dia lanjut lari, pakai sandal sebelah. Sampai ujung gang. Sampai mobil kita belok.”
Aku menutup mata.
“Mama hampir bilang ke Pak Darman, sopir kita, ‘Pak, berhenti.’” Mama menangis. “Mama udah buka mulut, Naya. Mama udah buka mulut. Terus Mama mikir, kalau Mama berhentiin mobilnya, kalau Mama bawa dia juga, panti nggak akan izinin, karena syarat adopsinya cuma satu anak. Papa lagi di Singapura, nggak bisa ditelepon buat tanda tangan. Prosesnya bakal mulai dari awal, berbulan-bulan. Dan Mama mikir, kalau Mama berhenti sekarang, kamu bakal turun dari mobil. Kamu bakal lari ke dia. Kamu nggak akan pernah naik mobil ini lagi.”
Mama memandangi kolam.
“Jadi Mama nggak bilang apa-apa. Mama tutup mulut Mama. Dan Mama bilang ke diri Mama sendiri: nanti. Nanti, kalau Kanaya udah kuat, kalau Kanaya udah bahagia, Mama jemput adiknya. Mama janji sama diri Mama sendiri di mobil itu.”
“Mama nggak pernah jemput.”
“Mama dateng, Naya.”
Aku membeku.
Mama memandangiku. Matanya merah dan basah, penuh sesuatu yang sudah terlalu lama disimpan.
“Juni 2016,” kata Mama. “Kamu umur dua puluh, di Boston. Kamu baru lulus S1, pakai toga, Mama lihat fotonya dari Papa. Kamu senyum di foto itu, Naya. Pertama kali Mama lihat kamu senyum sampai ke mata.” Mama menelan. “Mama pikir, sekarang. Kanaya udah kuat. Kanaya udah bahagia. Sekarang waktunya.”
“Mama ke panti.”
“Mama ke panti. Sendirian. Nggak bilang Papa, nggak bilang siapa-siapa. Naik kereta ke Bandung, terus taksi ke Cimahi.” Mama memandangi tangannya sendiri. “Mama ketemu ibu panti. Ibu Rahmah. Mama bilang Mama mau ketemu Arief. Mama bilang Mama ibu angkatnya Kanaya.”
Aku tidak bisa bicara.
“Ibu Rahmah bilang Arief baru keluar dari panti. Sebulan sebelumnya. Lulus SMA, kerja di restoran di Bandung, dapat beasiswa kuliah dari pemilik restorannya.” Mama menarik napas. “Ibu Rahmah nanya, ‘Ibu mau saya kasih alamatnya?’”
“Dan Mama bilang?”
Mama tidak menjawab untuk waktu yang lama.
“Mama bilang nggak usah,” bisiknya.
Aku memandangi Mama.
“Mama bilang nggak usah, Naya. Karena Mama berdiri di halaman panti itu, di depan gerbang yang tiangnya retak, dan Mama mikir: Arief udah keluar. Arief udah kerja. Arief udah dapat beasiswa. Arief udah mulai dari awal.” Mama menutup wajah dengan dua tangan. “Dan Kanaya udah senyum sampai ke mata. Di foto toga. Mama mikir, kalau Mama kasih tahu Kanaya sekarang, Kanaya bakal balik lagi ke jendela itu. Kanaya bakal ninggalin Boston. Kanaya bakal ninggalin semuanya. Dan Arief, Arief juga udah punya hidup baru. Mama mikir, mungkin mereka berdua udah baik-baik aja, masing-masing. Mungkin mereka nggak butuh Mama ngebuka luka lama.”
“Mama pulang.”
“Mama pulang.” Suara Mama hampir tidak ada di balik tangannya. “Mama naik kereta pulang ke Jakarta. Mama nggak pernah bilang ke siapa-siapa. Sepuluh tahun. Mama nggak pernah bilang ke Papa, ke Ervan, ke kamu.”
Ia menurunkan tangannya dan memandangiku.
“Bulan berikutnya, Juli 2016, kamu nelepon Ervan jam tiga pagi dari Boston. Nangis. Transfer kamu ke panti mental.” Mama menangis. “Ervan cerita ke Mama besoknya. Ervan nggak tahu Mama tahu. Mama dengerin Ervan cerita soal kamu nangis di telepon, dan Mama tahu kenapa transfernya mental. Karena Arief udah keluar. Karena rekeningnya mungkin udah ditutup. Mama tahu, Naya. Mama bisa bilang ke kamu, ‘Kanaya, Mama tahu di mana adikmu. Dia di Bandung. Di restoran. Kuliah pakai beasiswa.’”
“Mama nggak bilang.”
“Mama nggak bilang.” Mama memandangiku. “Mama nggak bilang, karena kalau Mama bilang, Mama harus ngaku Mama ke panti sebulan sebelumnya dan Mama bilang ‘nggak usah’. Mama harus ngaku Mama yang milih buat nggak jemput dia. Lagi. Untuk kedua kalinya.”
Aku berdiri dari bangku.
Aku tidak tahu kenapa. Kakiku berdiri sendiri, seperti kaki adikku di lantai 27 waktu Bryan menyebut namaku.
Aku berjalan ke pinggir kolam ikan koi dan berdiri di sana, dengan punggung menghadap Mama, memandangi ikan-ikan jingga dan putih yang berenang pelan.
Juni 2016. Arief baru sebulan keluar dari panti. Ia mengangkut kardus ke kos pertamanya di Cimahi, dengan sepatu kets hitam yang solnya mulai tipis, sepatu yang dibeli dari dua ratus ribu tambahan bulan Desember 2012, yang talinya bukan rafia.
Mama berdiri di halaman panti, di depan gerbang yang tiangnya retak. Ibu Rahmah menawarkan alamat, dan Mama bilang nggak usah.
Satu bulan kemudian, Bu Rahmah menutup rekening itu. Satu bulan kemudian, aku menelepon Ervan jam tiga pagi dari Boston.
Sepuluh tahun. Sebelas detektif. Tiga ratus dua belas nama. Nisan di Cimahi di bawah hujan. Ranjang rumah sakit dan infus. Tertawa di ranjang rumah sakit.
Dan Mama tahu. Mama tahu ia di Bandung. Mama tahu ia kuliah dengan beasiswa dari pemilik restoran.
Bumi Ni Dewi. Bu Dewi. Perempuan yang mengirim rantang setiap sore ke rumah Mama selama satu tahun, waktu Mama sepuluh tahun.
Mama tahu.
Aku memandangi ikan koi lama sekali. Sesuatu bangkit di dadaku, sesuatu yang panas, besar, dan sangat galak. Sesuatu yang membuatku menampar Dodi. Sesuatu yang membuatku menampar Ervan seminggu lalu.
Aku menoleh.
Mama duduk di bangku kayu di bawah pergola bugenvil, dengan blus krem dan kerudung warna pasir, menangis. Ia tidak menutup wajahnya dan tidak memalingkan wajah. Ia memandangiku, menunggu, seperti orang yang menunggu tamparan dan sudah siap menerimanya.
Persis seperti Ervan, yang memiringkan kepala dan menyodorkan pipi kirinya.
Aku memandangi Mama.
Perempuan yang mengirimiku ke Boston, membayar sekolahku sampai S2, dan menghadiri setiap wisudaku dengan blus krem dan senyum yang sopan. Yang tidak pernah meninggikan suara, tidak pernah sekali pun memarahiku, tidak pernah sekali pun membuatku merasa aku anak pungut dari panti, padahal aku memang anak pungut dari panti.
Perempuan yang berdiri di depan pintu kamarku setiap malam selama satu tahun, mendengarkan aku bicara pada jendela, dan menangis di sana tanpa aku tahu.
Perempuan yang melihat ibunya sendiri duduk di kursi teras selama sepuluh tahun, menunggu seseorang yang tidak akan pulang.
Sesuatu yang panas di dadaku perlahan surut. Bukan hilang, tapi surut.
“Mama nggak salah karena takut,” kataku akhirnya.
Mama memandangiku.
“Kanaya ngerti Mama takut. Kanaya ngerti soal kursi di teras. Kanaya ngerti Mama mau nyelametin Kanaya.” Suaraku bergetar. “Kanaya juga pernah takut. Kanaya baca daftar tiga ratus dua belas nama sepuluh per malam, karena takut. Kanaya nggak baca halaman sembilan, karena takut. Kanaya ngerti takut, Ma.”
Mama menangis lebih keras.
“Tapi Mama salah karena nggak nanya Kanaya,” kataku. “Empat belas tahun, Ma. Mama nggak pernah nanya Kanaya mau apa. Mama nggak nanya, ‘Naya, kamu mau mulai dari awal atau nggak?’ Mama nggak nanya, ‘Naya, Mama tahu adikmu di mana, kamu mau ketemu atau nggak?’” Aku menelan. “Mama mutusin buat Kanaya. Dua kali. Mama mutusin apa yang bikin Kanaya bahagia, tanpa nanya Kanaya.”
Mama tidak bisa menjawab.
“Itu yang Kanaya nggak bisa terima, Ma,” bisikku. “Bukan takutnya. Nggak nanyanya.”
Lama sekali tidak ada yang bicara.
Air mancur kecil di kolam terus bergemericik. Ikan-ikan koi terus berenang. Di kejauhan, dari dalam rumah, aku mendengar suara Papa dan Ervan yang bertengkar soal sandal jepit. Pa, kalau Papa kasih dia sepuluh pasang, dia bakal pikir Papa nyindir. Nyindir gimana, Van? Nyindir soal sandalnya putus! Kayak Papa bilang, ‘Nih, biar nggak lari-lari lagi kayak orang miskin!’ Ya Allah. Papa nggak kepikiran. Ya udah, kasih dua aja. Yang biru sama yang hijau. PA. MASALAHNYA BUKAN JUMLAHNYA.
Aku hampir tertawa, di tengah semua ini.
Mama juga hampir tertawa. Aku melihat sudut bibirnya bergerak, di balik air mata.
“Papa kamu,” kata Mama pelan. “Papa kamu beli sepuluh sandal jepit di bandara Makassar. Tadi pagi. Sambil nangis di depan konter check-in.”
“Papa cerita.”
“Papa nggak tahu soal Juni 2016.” Mama memandangiku. “Mama mau bilang ke Papa. Hari ini. Habis kamu.”
Aku mengangguk.
Lalu Mama berdiri dari bangku. Pelan, seperti orang yang lututnya sakit. Ia berjalan ke pinggir kolam, ke sebelahku, dan berdiri di sana, satu jengkal jauhnya.
“Naya,” katanya. “Mama nggak minta kamu maafin Mama.”
Aku tidak menjawab.
“Mama tahu Mama nggak pantes. Dua kali, Naya. Dua kali Mama milih nggak jemput dia.” Ia memandangi ikan koi. “Mama cuma minta satu hal.”
“Apa?”
“Mama mau ketemu dia.” Suara Mama pecah. “Mama mau minta maaf. Bukan ke kamu, ke dia. Ke anak yang lari ngejar mobil Mama sampai sandalnya putus. Ke anak yang Mama lihat dari jendela belakang dan Mama tinggal. Dua kali.”
Aku memandangi Mama.
“Mama nggak minta dia maafin Mama juga,” kata Mama. “Mama cuma mau dia tahu bahwa Mama lihat dia. Hari itu. Mama lihat dia lari. Mama nggak pura-pura nggak lihat.” Mama menelan. “Dia harus tahu ada yang lihat, Naya. Ada yang lihat dia lari.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku memikirkan adikku, berlari di gang sempit berbatu, dengan sandal jepit yang talinya putus, mengejar mobil hitam yang tidak berhenti. Aku memikirkan bagaimana rasanya berlari mengejar sesuatu dan tidak tahu apakah ada yang melihat. Berlari sampai ujung gang, sampai mobilnya belok, dan berdiri di sana dengan sandal sebelah, sendirian, tanpa tahu apakah ada yang menoleh.
Ada yang menoleh. Mama menoleh.
Dan Mama tidak pernah memberitahunya.
“Dia nggak akan marah, Ma,” kataku akhirnya.
Mama memandangiku.
“Dia nggak pernah marah sama siapa pun,” kataku. “Dia nggak marah sama Om Rudi. Dia nggak marah sama Bu Rahmah, yang nutup rekening itu. Dia nggak marah sama Ervan.” Aku tersenyum, basah. “Dia bakal bilang ‘nggak apa-apa, Bu’. Dan Mama bakal pengen ditampar, karena ‘nggak apa-apa’ dari dia jauh lebih sakit dari tamparan Kanaya.”
Mama menangis, dan tertawa sedikit, di tengah tangisnya.
“Om Rudi bilang hal yang sama?”
“Om Rudi bilang, ‘Kalau kamu marah, saya bisa terima. Tapi kamu bilang kita sama. Itu jauh lebih susah.’” Aku memandangi kolam. “Adik Kanaya cerita ke Kanaya tadi siang, lewat telepon.”
Mama mengangguk pelan.
“Perjodohannya batal, Ma,” kataku.
Mama memandangiku.
“Gita nolak. Di depan keluarganya, hari Jumat. Berdiri.” Aku tersenyum. “Ervan juga nolak dari awal. Mereka bikin pakta di saung. Om Rudi udah setuju. Om Rudi udah ngaku ke Bu Dewi tadi pagi.”
“Bu Dewi...” Mama menelan. “Utang Mama ke Bu Dewi...”
“Arief punya rencana, Ma. Nggak butuh uang kita. Nggak butuh investasi. Tanah Bekasi Om Rudi dijual, katering pelanggan setia dibayar di muka, bank restrukturisasi.” Aku memandangi Mama. “Mama nggak bisa bayar utang ke Bu Dewi pakai uang. Bu Dewi nggak pernah mau dibayar pakai uang. Mama sendiri yang bilang.”
“Terus Mama bayar pakai apa, Naya?”
Aku memandangi Mama lama.
“Mama dateng ke Bandung,” kataku. “Mama duduk di meja makan keluarga Bu Dewi. Mama minta maaf ke anak yang Bu Dewi kasih makan di meja pojok cabang Cimahi waktu umur lima belas. Anak yang Mama tinggal dua kali.” Aku menelan. “Itu bayarannya, Ma. Bu Dewi bakal ngerti. Bu Dewi juga ngasih makan anak itu waktu Mama nggak jemput.”
Mama tidak bisa bicara. Ia memandangiku dengan mata yang penuh air, lalu, pelan sekali, ia mengangguk.
Lalu ia mengulurkan tangan. Bukan untuk memelukku. Ia mengulurkan tangannya di udara di antara kami, satu jengkal, dengan telapak tangan menghadap ke atas, seperti orang yang meminta izin.
Naya, boleh?
Empat belas tahun, Mama tidak pernah bertanya. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia bertanya dengan tangannya.
Aku memandangi tangan itu. Lalu aku meletakkan tanganku di atasnya.
Mama menggenggamnya. Tangannya dingin, halus, dan sedikit gemetar, persis seperti waktu di mobil hitam empat belas tahun lalu, waktu aku menggenggamnya sampai kukuku menancap.
Kami berdiri di pinggir kolam ikan koi, bergandengan tangan, dan tidak berpelukan. Belum. Masih ada satu jengkal di antara kami.
Tapi satu jengkal tidak sejauh empat belas tahun.
“Naya,” kata Mama, setelah lama. Suaranya kecil.
“Ma?”
“Dia...” Mama ragu. “Dia makan bagian yang besar sekarang? Telurnya?”
Aku memandangi Mama.
Aku tidak pernah menceritakan soal telur pada Mama. Tidak sekali pun, dalam empat belas tahun. Telur adalah hal yang hanya kuceritakan pada Ervan, di lantai pantry, jam dua pagi.
“Mama tahu soal telur?”
“Mama denger kamu ngomong sama jendela, Naya.” Mama tersenyum kecil, sedih. “‘Rief, kamu udah makan bagian tengahnya? Jangan kasih ke anak lain. Itu buat kamu.’”
Aku menutup mata.
“Dia ngasih Kanaya bagian yang besar, Ma,” kataku. “Di penthouse. Minggu lalu. Dia bilang aturannya diganti. ‘Yang lebih tua makan yang gede. Aturan adik Kakak.’”
Mama menangis lagi. Kali ini ia menarikku, satu jengkal terakhir itu, dan memelukku. Pelan, hati-hati, seperti memeluk sesuatu yang bisa pecah.
Aku membiarkannya.
Ponselku bergetar di saku celana jam tiga sore, waktu aku masih di taman belakang, duduk di bangku kayu di sebelah Mama, memandangi ikan koi.
Aku mengeluarkannya. Satu pesan.
Rief: Kak.
Rief: Nene mau ketemu aku. Besok pagi. Berdua. Nene bilang ada yang harus Nene akuin juga.
Aku memandangi pesan itu. Mama, di sebelahku, ikut memandanginya dari sudut mata.
Ada yang harus Nene akuin juga.
Aku mengingat Om Rudi di kantorku hari Senin, yang ragu dan tersentak sedikit waktu kutanya Ibu Dewi tahu soal utang ini sejak kapan? Aku mengingat jawabannya, Ibu tahu... secukupnya.
Aku mengingat sepuluh lembar kertas dengan tulisan pensil di pinggirnya. Naha teu ti baheula? Hampura, Jang.
Aku mengetik balasan.
Saya: Kakak ke Bandung besok pagi. Kereta pertama.
Tanda mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi. Lama sekali.
Rief: Jangan dulu, Kak.
Aku memandangi kalimat itu. Sesuatu di dadaku mengencang. Jangan. Lagi.
Tanda mengetik muncul lagi.
Rief: Aku mau ketemu Nene sendiri dulu. Ini antara aku sama Nene. Nene yang kasih aku makan.
Rief: Tapi abis itu
Tanda mengetik berhenti. Lama. Satu menit, dua menit.
Lalu:
Rief: Abis itu Kakak dateng ya.
Rief: Aku minta Kakak dateng.
Aku memandangi pesan itu sampai layarnya padam sendiri.
Aku minta Kakak dateng.
Dua puluh empat tahun, adikku tidak pernah meminta apa pun. Bukan bagian telur yang lebih besar, bukan aku untuk tinggal, bukan sepatu yang talinya bukan rafia. Ia selalu menyuruh orang pergi, menolak bantuan, berkata nggak apa-apa dan aku bisa sendiri.
Untuk pertama kalinya, adikku meminta.
Aku menyalakan layar lagi dan mengetik dengan jari yang gemetar.
Saya: Kakak dateng.
Saya: Kakak tunggu di Meja Tujuh. Dari pagi.
Rief: Itu meja Gita.
Saya: Kakak pinjem.
Rief: 😂
Itu emoji pertama yang pernah dikirim adikku padaku.
Aku memandanginya lama sekali, sampai Mama, di sebelahku, menyentuh tanganku dengan pelan.
“Naya,” katanya. “Mama ikut?”
Aku memandangi Mama.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan pada Mama. Aku tidak memutuskan untuknya. Aku bertanya.
“Mama mau?”
Mama memandangiku dengan mata yang basah. Ia tahu apa yang baru saja kulakukan. Aku melihatnya di wajahnya: kesadaran yang pelan, dan rasa terima kasih yang tidak bisa diucapkan.
“Mama mau,” bisiknya.
“Kalau gitu Mama ikut,” kataku. “Tapi Mama duduk di Meja Delapan. Meja Tujuh punya Kanaya besok.”
Mama tertawa, basah dan pelan.
Dari dalam rumah, suara Papa terdengar keras: “NAYA! VAN BILANG CUMA BOLEH BAWA DUA SANDAL! PAPA BAWA YANG BIRU SAMA HIJAU, YA? ATAU YANG MERAH? MERAH KAYAK WARNA SAMBAL KAN?”
Mama dan aku saling pandang.
Lalu kami berdua tertawa, di bangku kayu di bawah pergola bugenvil, di taman belakang rumah Menteng yang tidak pernah berubah, dengan kolam ikan koi yang terus bergemericik.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana reading
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu