Chapter Thirty Two
Giliranku Berjuang
POV: Anggita
Aku pulang ke Jakarta hari Kamis pagi, naik kereta cepat jam enam lewat lima, tanpa memberi tahu siapa pun kecuali Mama.
Mama ikut. Mama tidak bertanya kenapa. Waktu aku mengetuk pintu kamar tamu di rumah Nene jam lima pagi, dengan tas kecil dan wajah yang belum tidur sejak gudang arsip, Mama hanya memandangiku sebentar, lalu mengambil kerudungnya dan berkata, “Mama siap-siap lima menit.”
Di kereta, Mama duduk di sebelahku di kursi dekat jendela dan memandangi sawah yang berubah jadi pabrik, pabrik yang berubah jadi perumahan, perumahan yang berubah jadi gedung-gedung abu-abu. Sepanjang perjalanan ia tidak bicara.
Di stasiun Halim, ia menggenggam tanganku.
“Git,” katanya. “Apa pun yang Papa bilang nanti, Mama di sini.”
“Mama udah tahu?”
Mama menggeleng. “Mama nggak tahu apa-apa. Itu masalahnya.” Ia tersenyum, kecil dan lelah. “Dua puluh delapan tahun nikah, dan Mama nggak tahu apa-apa.”
Rumah kami di Jakarta ada di sebuah kompleks di Pondok Indah. Dua lantai, cat putih, dan pohon mangga di halaman depan yang ditanam Papa waktu aku lahir. Dulu setiap musim mangga Papa memanjat pohon itu sendiri, di atas tangga lipat yang goyang, sambil berteriak ke Mama, “Lusi! Lihat! Papa masih bisa manjat!”
Pagi itu, pohon mangga itu masih berdiri. Tapi ada sesuatu yang berbeda dengan rumah itu.
Garasinya kosong. Mobil Mama sudah dijual bulan Agustus, aku tahu itu. Tapi mobil Papa juga tidak ada, SUV hitam yang selalu ia bawa ke Bandung. Hanya ada satu motor bebek tua yang biasanya dipakai Mang Asep, sopir keluarga kami. Mang Asep yang lain, bukan Asep di Bumi Ni Dewi.
Ada sesuatu di pintu pagar. Selembar kertas yang ditempel dengan selotip bening, setengah terlepas tertiup angin. Aku mendekatinya.
Pemberitahuan dari PT Bank...
Mama menarik kertas itu dari pagar sebelum aku sempat membaca kalimat berikutnya, melipatnya dua kali dengan tangan yang gemetar, dan memasukkannya ke tas.
“Masuk, Git,” katanya. Suaranya tenang. Terlalu tenang.
Papa ada di ruang kerjanya di lantai dua.
Pintunya setengah terbuka. Aku mendorongnya.
Papa duduk di kursi kulit di depan meja kerja, dengan kemeja batik yang sama dengan yang ia pakai dua hari lalu. Aku tahu, karena aku mengenali motifnya: parang, warna cokelat, dengan noda kecil di saku dada yang belum hilang. Di meja di depannya ada tumpukan map, laptop yang terbuka dengan layar mati, dan secangkir kopi yang sudah dingin dengan lapisan tipis di permukaannya.
Ia mengangkat kepala waktu aku masuk.
Wajahnya berubah. Pertama terkejut, lalu senang, senang sekali, seperti setiap kali aku pulang. Lalu, pelan-pelan, sesuatu di wajah itu menyadari kenapa aku pulang, dan senangnya padam seperti lampu.
“Git,” katanya. “Kok nggak bilang mau pulang? Papa bisa jemput di—”
“Papa nggak punya mobil.”
Papa diam.
Aku berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Mama berdiri di belakangku.
“Gita udah tahu, Pa,” kataku.
Papa memandangiku lama.
“Tahu apa, Git?”
“Dua belas cabang Nene. Satu Januari. Dua puluh tiga koma enam miliar.” Suaraku keluar lebih tenang dari yang kuduga. Mungkin karena aku sudah terlalu lelah untuk gemetar. “Gita nggak tahu semuanya. Gita cuma baca sepuluh halaman dari empat belas. Tapi Gita tahu cukup.”
Papa tidak bergerak.
“Dari siapa?” bisiknya. “Siapa yang bilang ke kamu? Arief? Bu Kanaya?”
“Nggak ada yang bilang, Pa.” Aku melangkah masuk ke ruang kerja. “Itu masalahnya. Nggak ada yang mau bilang. Arief bilang tanya Papa. Kak Kanaya bilang itu hak Papa. Nene bilang nggak ada apa-apa. Semua orang tahu, dan semua orang diem, karena semua orang mau ngelindungin Papa.”
Aku berhenti di depan mejanya.
“Jadi Gita dateng ke sini,” kataku. “Biar Papa sendiri yang bilang.”
Papa menangis lagi. Lebih lama dari waktu di ruang kerja Nene sebulan lalu.
Tapi kali ini ia bicara.
Ia bicara sambil menangis, dengan suara yang pecah-pecah, dan kadang berhenti di tengah kalimat untuk mengusap mata dengan lengan batiknya. Mama duduk di kursi di sebelahku dan menggenggam tanganku begitu erat sampai jariku sakit.
Anak kedua. Kakak yang selalu benar, adik yang selalu disayang. Engke heula, Rudi. Itung heula. Restoran di Bandung Utara yang ditolak Nene lalu dibangun Uwa Haris. Usaha ekspor teh yang bangkrut. Cabang Jakarta yang tidak pernah untung.
Tanah di Bekasi. Dua menara apartemen. Kontraktor yang pailit bulan Maret.
Dua puluh empat setengah miliar dari Bank Prima, dengan jaminan dua belas cabang Bumi Ni Dewi. Surat kuasa dari Nene. Cicilan yang dibayar dari rekening ekspansi Jakarta selama setahun. Tujuh bulan tunggakan, tiga surat peringatan, dan tanggal satu Januari.
Rumah ini, rumah dengan pohon mangga yang ia tanam waktu aku lahir. Ia menggadaikannya bulan September, ke bank lain, untuk membayar bunga utang ke orang-orang yang membeli uang muka apartemen dan mulai mengancam akan melapor ke polisi. Kertas di pintu pagar tadi adalah surat pemberitahuan pertama.
Mobilnya, ia jual minggu lalu. Untuk membayar pengacara.
Lalu ia bercerita soal perjodohan.
“Papa yang usul, Git,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Bukan Bu Liliana. Bu Liliana cuma mau bales budi ke Nene. Papa yang bilang, ‘Kalau mau jadi keluarga, jadikan keluarga beneran.’”
“Kenapa, Pa?”
Papa memandangi tangannya di atas meja.
“Karena kalau Sastrawidjaya masuk sebagai investor biasa, semua orang bakal tahu. Nene bakal manggil Uwa Haris. Nene bakal buka semua buku. Bi Ratna, sepupu-sepupu di Cimahi, semuanya bakal tahu Rudi gagal lagi. Kalau Sastrawidjaya masuk sebagai keluarga, sebagai besan, semuanya jadi urusan keluarga. Diselesaikan di meja makan. Diam-diam.”
“Itu alasan pertama,” kataku.
Papa diam.
“Alasan keduanya apa, Pa?”
Papa mengangkat kepala dan memandangiku. Matanya merah, basah, dan penuh sesuatu yang membuat dadaku sakit dengan cara yang tidak bisa kujelaskan.
“Karena Papa udah nggak punya apa-apa buat kamu, Git,” bisiknya. “Rumah ini udah digadai. Mobil udah dijual. Tabungan buat pernikahan kamu, yang Papa kumpulin dari kamu SD, udah habis buat bayar bunga. Papa nggak punya apa-apa.” Suaranya hancur. “Papa cuma bisa kasih kamu satu hal. Suami yang nggak akan bangkrut kayak Papa. Keluarga yang punya tiga menara. Supaya kalau Papa jatuh, kamu nggak ikut jatuh.”
Aku tidak bisa bicara.
Di sebelahku, Mama menutup mulut dengan tangannya yang bebas, dan menangis tanpa suara.
Aku memandangi ayahku. Laki-laki yang memanjat pohon mangga di atas tangga lipat yang goyang dan berteriak Lusi, lihat, Papa masih bisa manjat. Laki-laki yang membawa martabak telur setiap pulang kerja, padahal aku sukanya martabak manis, dan aku tidak pernah memberitahunya karena aku suka melihat wajahnya waktu menyerahkan kotak martabak itu. Laki-laki yang menyebut nama setiap karyawan Bumi Ni Dewi dan membawakan roti untuk mereka semua.
Laki-laki yang menjualku.
Bukan. Itu tidak benar. Tidak lengkap.
Laki-laki yang tidak punya apa-apa lagi, dan yang dalam kepanikannya memberikan satu-satunya hal yang ia pikir masih ia miliki: masa depanku, dibungkus kertas emas tiga menara. Tanpa bertanya apakah aku menginginkan bungkusan itu.
“Papa,” kataku. Suaraku pecah. “Papa nggak jual Gita.”
Papa memandangiku.
“Papa jual diri Papa sendiri,” kataku. “Papa nggak mau Nene tahu Papa gagal. Papa nggak mau Uwa Haris tahu. Papa nggak mau Bi Ratna tahu. Papa jual harga diri Papa, dan Papa bungkus pakai Gita, biar keliatan kayak hadiah buat Gita.”
Papa tidak bisa menjawab.
“Itu bukan hadiah, Pa.” Air mataku jatuh. “Itu bungkus.”
Aku melihat kalimat itu sampai padanya. Aku melihatnya di wajahnya: wajah yang perlahan runtuh, dari pinggir dulu, lalu ke tengah, seperti kue yang dipotong.
Papa membungkuk ke depan, menutup wajah dengan kedua tangan, dan bahunya bergetar.
“Maafin Papa, Git,” katanya di balik tangannya. “Maafin Papa.”
Aku berdiri dari kursi.
Mama mendongak, dengan wajah takut, mungkin karena ia mengira aku akan pergi. Seperti di makan siang keluarga itu, berjalan keluar dari ruangan dengan punggung tegak dan langkah biasa.
Aku tidak pergi.
Aku memutari meja kerja Papa, berdiri di sebelah kursinya, dan memeluk kepalanya. Kepala ayahku, dengan uban di pelipis yang disembunyikan dengan semir rambut, dan bau keringat dua hari bercampur minyak rambut murah.
Papa membeku. Lalu, pelan-pelan, tangannya naik dan menggenggam lenganku, dan ia menangis di pelukanku seperti anak kecil.
“Gita nolak perjodohan itu, Pa,” kataku di atas kepalanya. “Gita nggak akan nikah sama Ervan.”
Papa mengangguk di dalam pelukanku. Ia tidak membantah.
“Tapi Gita nggak ninggalin Papa,” kataku. “Gita nggak akan ninggalin Papa.”
Papa menangis lebih keras.
Di kursi di seberang meja, Mama berdiri, memutari meja juga, dan memeluk kami berdua dari sisi lain. Kami bertiga berpelukan di ruang kerja kecil di lantai dua rumah yang sudah digadai, di depan secangkir kopi yang sudah dingin dengan lapisan tipis di permukaannya.
Lama sekali tidak ada yang bicara.
“Pa,” kataku akhirnya, setelah tangis Papa reda dan Mama turun ke dapur untuk membuat teh. “Ada satu hal yang Papa harus tahu.”
Papa mengusap mata dengan lengan batik. “Apa, Git?”
“Arief tahu.”
Papa membeku.
“Arief tahu semuanya, Pa. Dari go-live. Enam November.” Aku duduk di tepi meja kerjanya. “Sistem yang dia bangun, modul aset, nemu dua belas cabang yang dijaminkan. Dia nemu nama PT Wardhana. Dia ngitung cicilannya sendiri, mundur, dari angka transfer. Dia nemu tiga surat peringatan di arsip kantor Jakarta. Dia tahu tanggal satu Januari.”
Papa tidak bisa bicara. Wajahnya pucat.
“Dia tahu sebelum Papa ngumumin perjodohan di meja makan,” kataku. “Dia duduk di sebelah Gita waktu itu, Pa. Dia satu-satunya orang di meja itu yang tahu kenapa.”
“Dia...” Papa menelan. “Dia nggak bilang apa-apa.”
“Dia nggak bilang apa-apa.”
“Kenapa?”
Aku memandangi ayahku.
“Karena kalau dia bilang,” kataku pelan, “dia harus jelasin semuanya. Di depan dua puluh tiga orang. Di depan Mama. Di depan Gita. Dan Papa bakal hancur di meja makan Nene, di depan semua orang.”
Papa menutup mata.
“Dia diem buat Papa,” kataku. “Dia biarin Gita pergi dari meja makan itu. Dia biarin Gita bilang dia nggak pernah memperjuangkan Gita. Dia biarin Gita ngembaliin jaketnya. Dia motong bawang lima puluh kilo semalaman.” Suaraku bergetar. “Semua itu, buat Papa.”
Papa membuka mata. Air mata mengalir lagi di pipinya.
“Minggu lalu Papa nelepon dia,” bisiknya. “Sebelum rapat di Jakarta. Papa bilang, ‘Presentasi yang diminta aja ya, Rief, yang lain nggak usah dibahas.’ Papa bilang...” Ia menelan. “Papa bilang, ‘Kamu anak Om.’”
Aku tidak menjawab.
“Papa bilang itu karena Papa takut,” katanya. “Papa takut dia tahu. Papa ngomong ‘kamu anak Om’ buat... buat nyogok dia.” Ia menutup wajah lagi. “Ya Allah. Ya Allah, Git. Dia udah tahu dari sebulan sebelumnya. Dan dia bilang ‘iya, Om’. Dia bilang ‘iya, Om’, dan dia presentasi yang diminta aja, dan dia nggak bahas yang lain.”
“Dia bikin rencana, Pa,” kataku. “Empat belas halaman. Rencana Bumi. Buat nyelametin dua belas cabang tanpa perjodohan, tanpa investor, tanpa ada yang malu. Dia kirim ke Nene jam empat pagi, empat hari setelah Gita bilang dia nggak pernah memperjuangkan Gita.”
Papa memandangiku.
“Rencananya pakai tanah Bekasi Papa,” kataku. “Tanahnya nggak dijaminkan. Dia udah cek. Nilainya cukup buat lunasin semuanya, termasuk ngembaliin uang muka pembeli apartemen. Dia cuma butuh waktu. Dan tanda tangan Papa.”
Papa memandangiku lama sekali. Lalu, pelan, ia tertawa. Tawa yang hancur dan basah, yang bukan tawa.
“Tanah Bekasi,” katanya. “Papa nggak pernah mikir itu. Papa cuma mikir harus bangun apartemen. Papa nggak pernah mikir tanahnya bisa dijual aja.”
“Arief mikir.”
“Arief selalu mikir.” Papa menggeleng pelan. “Anak itu... anak itu yang Papa ajarin pakai dasi di toilet Balairung. Dia ngiket dasinya kayak tali sepatu.”
Aku tersenyum, dan air mataku jatuh lagi.
Lalu aku berdiri dari tepi meja.
“Pa, Gita mau minta satu hal.”
Papa mengangkat kepala.
“Papa yang bilang ke keluarga,” kataku. “Bukan Gita, bukan Arief, bukan Kak Kanaya. Papa sendiri. Di depan Nene. Di depan Uwa Haris. Di depan semua orang.” Aku memandanginya lurus-lurus. “Gita nggak minta Papa nggak malu. Gita minta Papa berdiri.”
Papa memandangiku lama.
Lalu ia mengangguk, sekali, pelan sekali, seperti orang yang mengangguk pada sesuatu yang sudah lama ia tahu harus dilakukan, tapi tidak pernah berani.
“Papa ke Bandung,” katanya. “Besok. Papa mau ketemu Arief dulu.”
Aku pulang ke Bandung malam itu juga, naik kereta jam tujuh. Mama tinggal di Jakarta bersama Papa.
Di kereta, aku memandangi jendela yang gelap dan memikirkan satu hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
Selama dua bulan aku menyalahkan Arief karena tidak berdiri di meja makan itu. Karena tidak memperjuangkan aku. Karena berdiri di belakang, di tempat yang tidak bisa kulihat.
Dan selama dua bulan, aku juga tidak berdiri.
Aku pergi dari meja makan. Aku mengembalikan jaket. Aku membuat Pakta Saung dengan Ervan, untuk menunda, untuk mengulur waktu, untuk menunggu sesuatu atau seseorang menyelesaikannya untukku. Aku menunggu Arief berdiri, menunggu Papa mengaku, menunggu Nene berubah pikiran, menunggu Ervan selesai mastiin.
Aku menunggu seseorang memperjuangkan aku.
Aku tidak pernah memperjuangkan diriku sendiri.
Kadang yang paling sayang itu yang mau nerima, kataku pada Arief di atap, dua malam lalu. Sekarang di kereta jam tujuh, dengan wajah memantul di kaca jendela yang gelap, aku menyadari kalimat yang lain.
Kadang yang paling sayang itu yang berhenti menunggu.
Jumat malam, makan malam keluarga di rumah Nene.
Ini bukan makan siang keluarga Sabtu kedua. Tidak ada yang mengatur. Aku sendiri yang meminta Mak Odah memasak lebih banyak dan mengirim pesan ke Uwa Haris, Bi Ratna, dan Tante Euceu, istri Uwa Haris. Makan malam di rumah Nene, Jumat jam tujuh. Gita mau ngomong sesuatu.
Bi Ratna membalas dalam tiga detik: BIBI DATENG. BIBI BAWA KERUPUK.
Jam tujuh lewat lima, kami duduk di meja kayu panjang itu. Hanya delapan orang kali ini, bukan dua puluh tiga. Nene di kepala meja. Uwa Haris dan Wa Euceu. Bi Ratna, dengan dua kantong besar kerupuk aci. Mak Odah dan Mak Iyah, yang kusuruh duduk.
Dan Arief.
Ia tidak berdiri dengan teko teh di ambang pintu dapur. Aku sudah menunggunya di pintu dapur jam tujuh kurang lima, mengambil teko teh dari tangannya, meletakkannya di meja, dan menunjuk kursi nomor sembilan.
Ia memandangiku.
“Duduk,” kataku.
Ia duduk.
Aku duduk di kursi nomor sepuluh, di sebelahnya, tidak menyentuhnya. Masih ada meja yang tidak kelihatan di antara kami, tapi kali ini aku tahu meja itu akan kuangkat sendiri, dengan tanganku sendiri.
Nene memandangiku dari kepala meja, dengan mata tua yang berkabut di pinggir. Ia tidak berkata apa-apa.
Kami makan. Nasi liwet, ayam goreng, sayur asem, sambal terasi. Bi Ratna bercerita soal katering pernikahan berikutnya, Uwa Haris soal dapur satelit Cileunyi yang mulai beroperasi Senin depan. Semua orang bicara dengan suara yang sedikit terlalu ceria, seperti orang yang tahu sesuatu akan terjadi dan mencoba menundanya dengan kerupuk.
Setelah colenak dihidangkan, aku berdiri.
Aku tidak mengetuk gelas dengan sendok seperti Papa. Aku hanya berdiri, dan semua orang diam.
“Gita mau ngomong satu hal,” kataku. Suaraku bergetar. Aku membiarkannya. “Ke semua orang di sini. Terutama ke Nene.”
Nene meletakkan sendok colenaknya.
“Gita nolak perjodohan sama Ervan Sastrawidjaya.”
Hening.
Tidak ada sendok yang jatuh kali ini. Bi Ratna memang membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Uwa Haris melepas kacamatanya. Mak Odah dan Mak Iyah saling pandang, dengan kecepatan yang mencurigakan.
Di sebelahku, Arief tidak bergerak.
“Gita udah ngomong ke Papa,” lanjutku. “Kemarin, di Jakarta. Papa setuju. Papa nggak maksa Gita lagi.” Aku menelan. “Gita juga udah ngomong ke Ervan. Ervan setuju. Ervan dari awal juga nggak mau. Kami bikin pakta di saung buat nunda. Sekarang paktanya bubar.”
Aku memandangi Nene.
“Gita tahu ada alasan kenapa perjodohan itu penting buat keluarga ini, Ne,” kataku. “Gita tahu sebagian. Gita nggak tahu semuanya. Papa bakal cerita sendiri, ke semua orang, secepatnya. Itu janji Papa ke Gita kemarin.” Suaraku pecah sedikit. “Tapi apa pun alasannya, Gita nggak bisa jadi jawabannya. Gita bukan kopi, Ne. Gita bukan tower. Gita orang.”
Nene memandangiku lama sekali.
“Gita sayang Nene,” kataku. “Gita sayang Bumi Ni Dewi. Gita mau bantu apa aja. Gita bakal kerja siang-malam buat nyelametin apa pun yang harus diselametin. Tapi bukan dengan cara itu.”
Hening panjang.
Lalu Nene bicara. Pelan, sangat pelan.
“Saha?” tanyanya.
Aku tidak mengerti. “Ne?”
“Saha nu ngajarkeun maneh ngomong kitu?” Nene memandangiku dengan mata yang tidak bisa kubaca. “Di hareupeun sarerea. Ngadeg.”
Siapa yang mengajarimu bicara begitu? Di depan semua orang. Berdiri.
Aku memandangi Nene. Lalu, tanpa sadar, aku memandangi laki-laki di sebelahku, laki-laki di kursi nomor sembilan yang tidak bergerak, yang memandangi piring colenaknya dengan telinga yang merah sampai ke leher.
“Bukan dia, Ne,” kataku pelan. “Dia nggak pernah berdiri. Dia selalu di belakang.”
Arief menunduk lebih dalam.
“Tapi Gita belajar dari dia,” lanjutku, “bahwa kalau ada orang yang Gita sayang, Gita nggak bisa nunggu orang lain yang berdiri. Gita harus berdiri sendiri.”
Nene memandangiku lama. Lalu ia memandangi Arief. Lalu ia memandangiku lagi.
Ia tidak berkata Nene satuju. Ia tidak berkata engke heula.
Ia hanya mengangguk sekali, sangat pelan, lalu mengambil sendok colenaknya lagi.
Aku duduk kembali, dan kakiku gemetar di bawah meja.
Lalu, di bawah meja, ada sesuatu yang menyentuh kakiku. Bukan senggolan, hanya menempel, diam, seperti orang yang berpegangan pada sesuatu.
Kode kaki kami. Satu-satunya sistem rahasia kami yang pernah gagal, sekali, di meja makan ini, sebulan lalu.
Malam ini kode itu bekerja lagi.
Aku tidak menyenggol balik. Aku membiarkan kakinya menempel di kakiku, dan memakan colenak dengan wajah yang sangat datar, sementara Bi Ratna di seberang meja memandangi kami berdua dengan mata menyipit seperti detektif, lalu mengeluarkan ponselnya.
ArGi REBORN 💚🤎 + KAKAK IPAR 👑
Bi Ratna: KONFIRMASI. TEH ANGGITA NOLAK PERJODOHAN. DI DEPAN NENE. BERDIRI. ULANG: BERDIRI.
Asep: 😭😭😭😭😭😭😭
Teh Euis: YA ALLAH. YA ALLAH. YA ALLAH.
Dede: Terus A Arief gimana??
Bi Ratna: A Arief diem. Kupingnya merah sampai leher.
Mang Ujang: Tah kan. Sambel.
Asep: Mang itu nasehat dari dua bulan lalu Mang
Mang Ujang: Nasehat nu bener mah teu aya kadaluarsana
Ervan Sastrawidjaya: halo semua. Asep yang masukin aku ke sini barusan.
Ervan Sastrawidjaya: Gita, Pakta Saung resmi bubar?
Ervan Sastrawidjaya: berarti gue boleh pacaran sama orang lain sekarang?
Asep: A Ervan teh gaduh kabogoh?
Ervan Sastrawidjaya: belum. tapi ada barista di Rasa Sastra lantai dasar Exo Tower yang selalu nulis nama gue bener di gelas. itu tanda kan?
Teh Euis: Eta mah tanda manehna bisa nulis A 🙄
Bryan (Asisten Bu Kanaya): Mas Ervan, barista itu namanya Sinta. Dia udah punya tunangan. Saya cek.
Ervan Sastrawidjaya: BRYAN KENAPA LO ADA DI SINI
Bryan (Asisten Bu Kanaya): Protokol, Mas.
Kanaya Sastrawidjaya: Gita. Kakak bangga.
Grup itu diam selama satu menit penuh.
Lalu tiga puluh orang mengirim emoji menangis bersamaan.
Jam sepuluh malam, aku menemukannya di Meja Tujuh.
Ia tidak sedang bekerja. Tidak ada laptop di meja, tidak ada tablet, tidak ada buku catatan cokelat. Ia hanya duduk di kursiku, kursi yang menghadap jendela ke Jalan Dago dan kebun Nene, dengan dua tangan di atas meja kayu jati, memandangi jendela.
Aku berjalan ke Meja Tujuh dan berdiri di seberangnya.
Ia mengangkat kepala.
“Kamu duduk di kursi aku,” kataku.
“Iya.”
“Kenapa?”
“Mau lihat yang kamu lihat tiap pagi.” Ia memandangi jendela lagi. “Dari sini kamu bisa lihat pintu ruang makan. Kamu bisa lihat aku masuk tiap jam tujuh. Kamu bisa ngitung aku berdiri dua belas detik.”
Aku tidak menjawab. Aku menarik kursinya, kursi di seberang, dan duduk.
Kami duduk berhadapan di Meja Tujuh, dengan kursi yang tertukar, seperti malam ia bilang aku tetap di belakangmu.
Tapi malam ini berbeda.
“Gita,” katanya.
“Hm?”
“Tadi di meja makan.” Ia menelan. “Kamu berdiri.”
“Iya.”
“Aku nggak bisa berdiri di meja makan itu, sebulan lalu.”
“Aku tahu.”
“Kamu bisa.”
“Aku belajar.” Aku memandanginya. “Dari kamu. Dari Kak Kanaya. Dari surat di amplop biru. Dari Papa yang nangis di ruang kerjanya.” Aku tersenyum. “Kamu bilang ke aku di parkiran, hari pertama di Bandung. ‘Kopi bukan sarapan.’ Kamu ngajarin aku sarapan. Kamu ngajarin aku banyak hal, Rief.”
“Aku nggak ngajarin kamu berdiri.”
“Nggak. Kamu ngajarin aku apa yang terjadi kalau orang nggak berdiri.” Aku mencondongkan badan ke depan. “Dan aku nggak mau itu terjadi lagi. Ke kamu, ke aku, ke siapa pun.”
Ia memandangiku lama.
Lalu aku melakukan sesuatu yang sudah kurencanakan sejak di kereta jam tujuh. Hal yang sudah kutulis di catatan ponsel, di folder Ide yang Dicolong dari Arief, dengan judul Rencana Gita, Versi 1.
“Rief.”
“Hm?”
“Dua bulan lalu aku bilang ke kamu, di meja ini, ‘aku pesan kamu’.”
Ia diam.
“Dua minggu lalu aku bilang lagi, di ruang rapat, dengan suara yang capek. Kamu nggak bisa jawab.”
“Gita—”
“Aku nggak akan bilang itu lagi.”
Ia membeku.
Aku melihat wajahnya, wajah yang sudah dua bulan kupelajari, berubah. Hancur sedikit, di pinggir. Takut.
Aku tersenyum.
“Aku nggak pesan kamu lagi,” kataku. “Pesan itu pasif. Pesan itu duduk di meja, nunggu pelayan dateng, nunggu menunya tersedia. Aku udah capek nunggu.”
Aku berdiri dari kursi, berdiri dengan dua tangan di atas Meja Tujuh, dan memandanginya dari atas.
“Mulai malam ini,” kataku, “aku ngejar kamu.”
Arief memandangiku dari bawah. Mulutnya sedikit terbuka. Telinganya, perlahan, mulai merah. Mulai dari ujung, lalu turun ke cuping, lalu ke leher.
“Ngejar,” ulangnya.
“Ngejar.” Aku mengangguk dengan sangat serius. “Tiap pagi aku duduk di sini. Tiap jam tiga sore ada gehu pedas di meja kamu. Itu dari aku, bukan dari Teh Euis, Teh Euis udah sumpah. Tiap malem aku kirim laporan harian. Tiap kali kamu motong bawang, aku berdiri di sebelah kamu. Tiap kali kamu nyetir ke cabang, aku duduk di kursi depan dan muter lagu galau. Tiap kali kamu bilang ‘nggak apa-apa’, aku bilang ‘bohong’.”
Ia tidak bisa bicara.
“Aku nggak akan nyentuh kamu,” kataku. Suaraku melembut. “Belum. Masih ada urusan Papa, dua belas cabang, satu Januari. Masih ada Nene yang belum bilang apa-apa. Aku nggak mau kamu ngerasa harus milih antara aku dan Nene, antara aku dan Bumi Ni Dewi.” Aku menarik napas. “Tapi aku ngejar. Terbuka. Di depan semua orang. Di depan Asep, Teh Euis, Mang Ujang, Pak Darto, Bi Ratna, grup WA, kakak kamu, semuanya.”
Aku meluruskan badan.
“Kamu bilang kamu nggak tahu cara jadi orang yang ditolong,” kataku. “Oke. Aku juga nggak tahu cara jadi orang yang ngejar. Kita belajar bareng.”
Lalu aku berbalik dan berjalan ke pintu samping.
Di ambang pintu, aku berhenti, tanpa menoleh, persis seperti malam itu.
“Oh iya, Rief.”
“Hm?” Suaranya serak.
“Besok jam lima pagi aku ikut kamu ke pasar.” Aku menoleh, hanya separuh, supaya ia bisa melihat senyumku. “Aku udah bikin kopi pakai V60. Sama teh tawar. Aku nggak tahu kamu tim apa pagi ini, jadi aku bikin dua-duanya.”
Aku keluar.
Di koridor, aku berpapasan dengan Pak Darto, yang sedang berpatroli dengan senter.
“Wilujeng wengi, Teh Anggita,” katanya.
Aku berhenti dan memandanginya.
“Pak Darto,” kataku. “Bapak bener lagi.”
Pak Darto tersenyum di bawah kumisnya, lalu menunjuk dengan senter ke arah pintu samping di belakangku. Dari celah pintu itu, aku bisa melihat Meja Tujuh, dan laki-laki yang masih duduk di sana dengan dua tangan menutupi wajahnya. Bahunya bergetar.
Bukan menangis.
Ia tertawa.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang reading
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu