Chapter Thirty Eight
Aku yang Pesan Sekarang
POV: Anggita
Aku bangun jam tiga pagi tanggal satu Januari, dan tidak bisa tidur lagi.
Bukan karena kembang api. Kembang api tahun baru di Bandung sudah berhenti jam satu, meskipun Bi Ratna, yang menginap di kamar sebelah, masih menonton video kembang api Sydney di ponselnya dengan volume penuh sampai jam dua. Bukan karena Mama, yang mendengkur pelan di tempat tidur kecil di sudut kamarku. Mama memutuskan menginap di kamarku malam ini, “biar Mama yang bangunin kamu, biar nggak telat”.
Aku bangun jam tiga karena tanggal satu Januari.
Tanggal yang dulu adalah dinding. Tanggal di surat peringatan ketiga Bank Prima, di empat belas halaman Rencana Bumi. Paling lambat 1 Januari 2027. Tanggal yang membuat Arief tidak tidur selama delapan malam, membuat Papa menangis di ruang kerja, dan membuat Nene berkata Nene satuju di meja makan dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya.
Pagi ini dua belas cabang Bumi Ni Dewi tidak dilelang. Pagi ini Bi Enok di Garut akan menumbuk sambal di cobek batu seperti biasa, Pak Encep akan membagikan dua puluh lima nasi bungkus di bawah pohon nangka dengan kardus berlogo Bumi Ni Dewi, Teh Yuyun di Tasik akan menghitung kas dengan format baru yang memisahkan QRIS sebelum dan sesudah jam sembilan, dan Neng Lilis akan mengetik laporan harian di tablet sambil sesekali membuka TikTok.
Pagi ini, jam tujuh, di Meja Nomor Tujuh.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Itu yang membuatku tidak bisa tidur.
Maksudku, aku tahu. Aku tahu, karena aku membentuk angka tujuh dengan jari di ruang makan Nene seminggu lalu, karena Nene bilang di tempat nu bener, ku cara nu bener, dan karena Arief memandangiku di lobi bank di Kuningan dan berkata jangan telat dengan suara yang membuat lututku hampir tidak kuat berdiri.
Aku tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya tidak tahu bagaimana.
Dan Arief, yang selama tiga bulan selalu kalah setiap kali aku menggodanya, yang telinganya merah setiap kali aku bilang aku pesan kamu, yang tidak bisa menjawab pertanyaan aku cantik nggak kecuali dengan data ojol dan Pak Darto, laki-laki itu sudah merencanakan sesuatu selama tiga hari. Dan aku tidak tahu apa.
Untuk pertama kalinya, aku yang tidak tahu.
Jam empat lewat dua puluh, lampu dapur restoran menyala. Aku melihatnya dari jendela kamar, seperti setiap pagi.
Tapi pagi ini lampunya tidak hanya satu. Lampu ruang makan juga menyala. Dari jendela lantai dua, aku bisa melihat bayangan yang bergerak di balik kaca jendela besar ruang makan, di dekat Meja Nomor Tujuh.
Bukan satu bayangan. Banyak.
Aku memandanginya lama. Lalu aku mengetik satu pesan.
Saya: Kamu lagi ngapain?
Centang dua. Biru.
Arief: Kerja.
Saya: Jam empat pagi tanggal satu Januari?
Arief: Managing Director.
Saya: Itu bukan jawaban.
Arief: Jam tujuh. Jangan telat.
Saya: Ada siapa aja di ruang makan? Aku lihat bayangan banyak.
Tanda mengetik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Arief: Nggak ada siapa-siapa.
Saya: Bohong.
Arief: Iya bohong.
Aku tertawa sendirian di kamar gelap, dengan wajah menempel di kaca jendela, dan Mama, di sudut kamar, bergumam dalam tidurnya.
Jam enam, Mama membangunkanku, padahal aku tidak tidur. Mama tahu aku tidak tidur. Mama hanya berkata “Mandi, Git. Mama siapin baju.”
Baju yang Mama siapkan adalah kebaya.
Bukan kebaya resmi, bukan kebaya pengantin. Kebaya katun sederhana, warna hijau sage, warna kardigan yang kupakai di hari pertama di Meja Tujuh. Dipadu dengan kain batik Garutan berwarna krem dan cokelat. Kebaya itu masih ada label tokonya. Mama pasti membelinya kemarin, diam-diam.
“Ma,” kataku. “Ini kebaya.”
“Iya.”
“Ini jam tujuh pagi. Di restoran. Bukan kondangan.”
“Mama tahu.”
“Ma, kok Mama tahu...”
Mama tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang kecil, lelah, dan sangat bahagia. Senyum yang belum pernah kulihat di wajah Mama sejak sebelum Papa berhenti tidur, sejak sebelum mobil Mama dijual, sejak sebelum semuanya.
“Pakai, Git,” katanya. “Percaya sama Mama.”
Aku memakainya.
Di cermin, aku memandangi diriku sendiri. Kebaya hijau sage, kain batik, dan rambut yang Mama sanggul setengah dengan jepit mutiara kecil peninggalan nenek dari pihak Mama. Riasan tipis. Mama tidak mengizinkanku memakai lebih dari bedak, lip tint, dan sedikit maskara, karena “nanti luntur, Git, kamu pasti nangis”.
“Aku nggak akan nangis, Ma.”
“Iya, iya.”
Jam tujuh kurang lima belas, aku turun tangga kayu rumah Nene. Mama di belakangku.
Di ujung tangga, di lorong yang dindingnya penuh foto keluarga, Nene berdiri dengan tongkat, kebaya Lebaran, dan selop.
Ia memandangiku dari kepala sampai kaki. Lalu ia mengangguk sekali.
“Geulis,” katanya. Hanya itu.
Lalu ia berjalan di depanku, menyusuri lorong, melewati foto Nene muda, foto Uwa Haris dan Papa kecil, foto aku dengan behel, dan foto baru di ujung lorong, dengan pigura yang masih mengilap.
Foto di ruang perang. Empat puluh tujuh titik hijau. Seseorang menunduk mencium tangan Nene.
Arief. Kulawarga.
Nene berhenti di depan foto itu sebentar, lalu terus berjalan.
Pintu samping restoran tertutup.
Biasanya pintu itu terbuka jam enam, waktu dapur mulai bekerja. Pagi ini tertutup, dan ada selembar kertas yang ditempel di pintunya dengan selotip bening.
Tulisan tangan yang rapi, sedikit miring ke kanan. Huruf yang sudah tiga bulan kukenal dari setiap catatan di pinggir mockup kemasan, dari setiap Sudah saya review, Teh.
Bumi Ni Dewi Dago tutup sampai jam 10.00. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Kecuali untuk satu reservasi.
Aku memandangi kertas itu.
Reservasi.
Meja Nomor Tujuh tidak pernah direservasi. Tidak untuk pejabat, tidak untuk kerabat direksi, tidak untuk siapa pun. Itu aturannya, aturan yang ia buat tiga tahun lalu, yang membuat Teh Euis protes selama sebulan, yang ia jelaskan padaku di hari pertama dengan data ojol dan Pak Darto dan delapan belas persen kunjungan walk-in.
Nene memandangi kertas itu juga. Lalu memandangiku, dengan mata yang berkilat licik.
“Ka jero,” katanya.
Aku membuka pintu.
Ruang makan Bumi Ni Dewi Dago, jam tujuh pagi tanggal satu Januari.
Kursi-kursi tidak dibalik ke atas meja seperti biasa di pagi hari. Kursi-kursi itu disusun rapi di sepanjang dinding, dan semuanya terisi.
Mang Ujang, dengan celemek putih bersih yang jelas baru diambil dari laci. Teh Euis, dengan kerudung merah muda baru dan mata yang sudah basah. Asep dan Dede, dengan kemeja batik yang sama persis. Mereka pasti janjian. Iwan, dengan wajah bingung tapi ikut tersenyum. Pak Darto, dengan seragam satpam yang disetrika sampai licin.
Dan lebih banyak lagi.
Bi Enok dari Garut, dengan kerudung cokelat dan si Neng di pangkuannya. Pak Encep, dengan kemeja yang kebesaran dan senyum yang malu-malu. Neng Lilis di sebelahnya, memegang tablet dan merekam. Teh Yuyun dari Tasik. Kang Usep dari Lembang, dan Dini, pelayan muda yang dulu menambahkan tisu dan tusuk gigi ke daftar Arief. Kang Dadang dari Pangandaran, yang entah bagaimana menyetir lima jam semalam untuk sampai ke sini.
Ceu Imas. Ceu Imas dari warung seng di Cikole, dengan kerudung bergo dan sandal jepit yang ujungnya sudah tipis, duduk di kursi plastik di pojok, memeluk termos bandrek.
Bi Ratna, dengan dua kantong kerupuk aci. Uwa Haris dan Wa Euceu. Papa, dengan kemeja batik parang cokelat, yang ada noda kecil di saku dadanya, yang belum juga hilang. Papa memandangiku dengan mata merah dan senyum yang bergetar.
Kak Kanaya, dengan kebaya hitam sederhana, duduk di Meja Nomor Delapan. Di sebelahnya Mama Liliana dengan blus krem, Papa Gunawan dengan kemeja batik, dan Ervan, yang memegang ponsel dan mengetik sesuatu dengan sangat cepat. Di belakang mereka, di kursi plastik di dekat dinding, Bryan duduk dengan tabung pemadam api di pangkuan.
Mereka semua diam.
Semuanya memandangiku di ambang pintu samping, dengan kebaya hijau sage, kain batik Garutan, dan sanggul setengah dengan jepit mutiara.
Lalu aku memandangi Meja Nomor Tujuh.
Meja Nomor Tujuh ada di tempatnya. Menempel ke jendela kaca besar yang menghadap Jalan Dago, dengan kebun kecil Nene di sisi kanan. Kayu jati, empat kursi. Cahaya pagi tanggal satu Januari jatuh miring dari jendela, persis seperti di hari pertama.
Di atas meja ada taplak putih sederhana yang belum pernah kulihat. Di tengahnya ada vas kaca kecil berisi satu tangkai bunga kamboja putih dari kebun Nene. Dan satu papan kecil dari akrilik, berdiri tegak, seperti papan nama di ruang rapat lantai 27.
Tulisannya dicetak rapi, hitam di atas putih:
RESERVED
Di bawahnya, dengan tulisan tangan, tulisan tangan yang rapi dan sedikit miring ke kanan:
Untuk: Anggita Sekar Wardhani. Durasi: Seumur hidup.
Aku tidak bisa bergerak.
Di Meja Delapan, Ervan menutup mulut dengan dua tangan.
Di pojok, Ceu Imas mengeluarkan suara seperti anak ayam yang terinjak.
“Mangga, Teh.”
Suara itu datang dari belakangku. Aku berbalik.
Arief berdiri di ambang pintu dapur.
Ia memakai apron.
Apron hitam pelayan Bumi Ni Dewi, dengan logo lama yang belum diganti, di atas kemeja biru dongker yang kata Teh Euis matak kasep. Lengan kemejanya digulung sampai siku. Plester di jari telunjuk kirinya sudah tidak ada. Lukanya sudah sembuh. Rambutnya disisir, tapi sedikit berantakan di depan, karena Dede pasti bilang jangan terlalu rapi, A, nanti kayak sales.
Ia memegang buku menu.
Buku menu Bumi Ni Dewi Dago, sampul kulit sintetis cokelat dengan logo lama yang dicetak emas. Buku menu yang sama dengan yang Asep pegang di hari pertama, waktu aku menunjuknya dan berkata aku pesan dia.
Arief berjalan ke Meja Nomor Tujuh dengan langkah biasa. Langkah pelayan, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.
Ia menarik kursi di Meja Tujuh, kursiku, yang menghadap jendela, sedikit ke luar, persis seperti yang selalu Dede lakukan sejak insiden tulang kering.
“Silakan duduk, Teh,” katanya, dengan suara pelayan yang paling sopan.
Aku memandanginya.
Lalu aku memandangi seluruh ruang makan, empat puluh orang yang menahan napas.
Lalu aku berjalan ke Meja Tujuh dan duduk.
Arief membuka buku menu dan meletakkannya di depanku dengan dua tangan, persis seperti di hari pertama.
Aku memandangi buku menu itu.
Isinya bukan menu.
Halaman pertamanya kertas putih tebal, ditulis tangan dengan tinta biru, huruf yang rapi dan sedikit miring ke kanan.
MENU KHUSUS Bumi Ni Dewi Dago — Meja Nomor Tujuh 1 Januari 2027
Di bawahnya, satu baris saja.
Arief.
Dan di sebelahnya, di kolom harga, di tempat biasanya tertulis Rp 45.000 atau Rp 68.000, tertulis satu kata.
Tersedia.
Aku tidak bisa bicara.
Aku memandangi halaman itu, Arief, Tersedia, sampai hurufnya kabur, dan aku sadar Mama benar. Maskaranya akan luntur.
Arief berdiri di sebelah Meja Tujuh, dengan apron dan buku catatan pesanan kecil yang ia keluarkan dari saku apron. Pulpen di tangan, siap mencatat, persis seperti pelayan.
“Mau pesan apa, Teh?” tanyanya.
Aku mendongak dan memandanginya. Dari bawah, dengan dagu bertumpu di kepalan tangan, persis seperti di hari pertama.
“Kamu bilang,” kataku. Suaraku bergetar. “Kamu bilang menu ini belum tersedia.”
“Itu tiga bulan lalu, Teh.”
“Kamu bilang ‘belum’.”
“Teh Anggita bilang ‘belum’ itu kata yang bahaya.” Ia tidak tersenyum. Wajahnya sangat serius, wajah Head of Operations Transformation yang sedang mencatat pesanan penting. “‘Belum’ itu artinya ada kemungkinan.”
Di Meja Delapan, Kak Kanaya menunduk dan memandangi lantai. Bahunya bergetar.
“Sekarang tersedia?” bisikku.
“Sekarang tersedia.”
Aku memandangi wajahnya lama sekali.
Lalu aku menutup buku menu itu dengan dua tangan, pelan, dan memandanginya lurus-lurus.
“Aku pesan kamu,” kataku.
Ruang makan diam. Bahkan Bi Ratna berhenti meremas kantong kerupuknya.
Arief memandangiku.
Lalu, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, untuk pertama kalinya sejak stasiun Tegalluar dan kertas HVS bertuliskan ANGGITA S. W., ia tidak menjawab dengan data. Ia tidak menjawab dengan menu itu belum tersedia, dan tidak menjawab dengan diam.
Ia menaruh buku catatan pesanan di atas meja. Ia menaruh pulpennya.
Lalu ia melepas apron.
Pelan, dengan dua tangan. Ia membuka simpul di belakang leher, lalu simpul di pinggang, melipat apron itu jadi dua, lalu jadi empat, dan meletakkannya di atas kursi di sebelahku.
Ia bukan pelayan lagi.
“Teh Anggita,” katanya. Suaranya rendah dan bergetar sedikit. “Maaf. Pesanan itu nggak bisa saya catat.”
Aku membeku.
“Karena tiga bulan lalu,” katanya, “Teh Anggita duduk di sini dan pesan saya. Saya bilang belum tersedia. Teh Anggita nunggu.” Ia menelan. “Dua bulan lalu, Teh Anggita pesan lagi. Lewat chat, jam dua belas malam. Saya kirim martabak lewat pagar.”
Di pojok, Pak Darto mengangguk keras sekali.
“Sebulan lalu,” lanjut Arief, “Teh Anggita pesan lagi. Di ruang rapat. Dengan suara yang capek. Dan saya nggak bisa jawab.”
Matanya basah.
“Dua minggu lalu, Teh Anggita bilang nggak mau pesan lagi. Teh Anggita bilang pesan itu pasif. Duduk di meja, nunggu pelayan dateng.” Ia tersenyum kecil, basah. “Teh Anggita bilang, mulai malam itu, Teh Anggita ngejar.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Tiga bulan, Gita,” katanya. Bukan Teh lagi. “Tiga bulan kamu pesan. Tiga bulan kamu nunggu. Tiga bulan kamu ngejar.” Ia berlutut.
Di samping kursiku, di samping Meja Nomor Tujuh, di lantai tegel ruang makan Bumi Ni Dewi Dago, ia berlutut dengan satu lutut, sehingga matanya sejajar dengan mataku.
Seperti aku berlutut di samping kursi Nene di rapat direksi. Seperti ia berlutut di samping kursi Nene di ruang kerjanya.
“Sekarang giliran aku,” katanya.
Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
Bukan kotak cincin beludru biru tua seperti di film. Kastrol. Kastrol kecil dari aluminium, sebesar kepalan tangan, jenis yang dipakai untuk memasak nasi liwet di Bumi Ni Dewi, tapi miniatur. Sangat kecil, dengan tutup yang punya pegangan kecil di atasnya.
Ia meletakkan kastrol kecil itu di atas Meja Tujuh, di depanku, di samping buku menu.
“Mang Ujang yang bikin,” katanya. “Dari kastrol bekas yang penyok. Dipotong, dibentuk, diampelas. Tiga hari. Jarinya kena gerinda dua kali.”
Di pojok dapur, Mang Ujang mengangkat dua jarinya yang diplester dan mengacungkan jempol dengan tangan yang lain. Matanya sudah basah sampai kumis.
Arief membuka tutup kastrol kecil itu.
Di dalamnya, di atas sejumput nasi liwet asli yang masih hangat, karena Mang Ujang pasti baru memasaknya, ada sebuah cincin.
Cincin emas putih tipis, sederhana, tanpa berlian. Hanya satu mata batu kecil di tengahnya, berwarna hijau. Hijau daun pisang, warna logo baru Bumi Ni Dewi yang kudesain.
“Bukan berlian,” kata Arief. “Peridot. Batu kelahiran bulan Agustus. Kata toko emasnya, ini batu buat orang yang berani.” Ia menelan. “Aku nggak tahu kamu lahir bulan apa. Aku cek di sistem karyawan. Kamu lahir Agustus.”
“Kamu cek di sistem karyawan.”
“Aku ngumpulin data.”
Aku tertawa. Aku menangis. Dua-duanya sekaligus, dan maskaraku luntur, persis seperti kata Mama.
“Aku beli pakai tabungan aku sendiri,” kata Arief. “Kak Kanaya nawarin bayar. Aku bilang nggak usah.” Ia melirik ke Meja Delapan sebentar. Kak Kanaya mengangkat dagu dengan wajah tidak terima. “Ini satu-satunya hal yang aku mau beli sendiri. Pakai empat puluh tujuh juta. Sekarang tinggal dua puluh tiga.”
“Rief—”
“Aku nggak punya tiga menara, Gita,” katanya. Suaranya bergetar sekarang, dan ia membiarkannya. “Aku Managing Director baru seminggu. Aku masih pakai motor bekas. Kos aku masih bocor di pojok kiri. Aku nggak punya keluarga yang bisa dateng ngelamar kamu ke rumah Papa kamu, kecuali kakak aku yang nggak bisa masak dan adik angkatnya yang takut kucing.”
“WOI,” kata Ervan dari Meja Delapan.
Kak Kanaya menyikutnya.
“Tapi aku udah minta izin Nene,” kata Arief. “Di ruang kerjanya. Sambil berlutut. Nene bilang ‘ayeuna’. Nene bilang ‘di tempat nu bener, ku cara nu bener’.” Ia memandangiku. “Ini tempat yang bener, Gita. Meja ini. Tempat kamu pertama kali pesan aku. Tempat kamu nunggu. Tempat yang kunjungan walk-in-nya turun tujuh belas koma delapan persen waktu kamu nggak dateng.”
Di Meja Delapan, Kak Kanaya menutup wajahnya dengan dua tangan.
“Dan ini cara yang bener,” kata Arief. “Di depan semua orang. Di depan Nene, Papa kamu, Mama kamu, kakak aku, Bi Enok, Pak Encep, Ceu Imas, Mang Ujang, Asep, semuanya. Bukan di saung gelap, bukan lewat pagar, bukan jam empat pagi lewat email.” Ia menarik napas. “Di depan.”
Ia mengangkat kastrol kecil itu dengan dua tangan, dengan cincin hijau di atas sejumput nasi liwet yang masih hangat, dan menyodorkannya padaku.
“Gita,” katanya.
Aku menunggu.
Seluruh ruang makan menunggu.
“Boleh sekarang aku yang pesan kamu?”
Ia diam sebentar. Matanya basah, dan sudut bibirnya bergerak. Senyum yang pelan, naik dari ujung bibir sampai ke mata, dan begitu sampai di mata, aku tahu aku sudah kalah. Kalah untuk keseratus kalinya, dan untuk terakhir kalinya.
“Seumur hidup.”
Aku tidak menjawab dengan kata-kata.
Aku tidak bisa. Kata-kata sudah habis, luntur bersama maskara, jatuh ke taplak putih di Meja Nomor Tujuh.
Aku berdiri dari kursi. Arief masih berlutut, dengan kastrol kecil di dua tangan, dan memandangiku dari bawah. Untuk sepersekian detik, wajahnya takut, seperti takut aku akan berjalan ke pintu dengan punggung tegak dan langkah biasa.
Aku tidak berjalan ke pintu.
Aku berlutut juga.
Di lantai tegel ruang makan, di samping Meja Nomor Tujuh, dengan kebaya hijau sage dan kain batik Garutan, aku berlutut di depannya sehingga mata kami sejajar.
Lalu aku mengulurkan tangan kiriku.
“Pasangin,” bisikku.
Arief memandangiku. Lalu ia mengambil cincin itu dari atas nasi liwet dengan dua jari. Tangannya gemetar. Tangan yang bisa memetakan stok empat puluh tujuh cabang dalam dua belas menit, yang tidak gemetar waktu menjelaskan mode offline Pangandaran di depan dua belas orang di lantai 27, sekarang gemetar begitu hebat sampai cincin itu hampir jatuh ke lantai.
Ia memasangkannya di jari manis kiriku.
Pas. Persis.
“Kamu ngukur jari aku juga?” bisikku.
“Mama kamu,” katanya. “Kemarin. Pakai benang.”
Aku menoleh ke Mama, yang berdiri di dekat pintu samping dan menutup mulut dengan dua tangan, menangis.
Lalu aku menoleh kembali ke Arief.
Ia masih memegang tanganku, dengan cincin hijau di jari manis, di antara kami.
Tidak ada meja lagi di antara kami. Tidak ada Meja Tujuh, tidak ada meja makan keluarga dengan dua puluh tiga piring, tidak ada meja yang tidak kelihatan. Tidak ada perjodohan, tidak ada satu Januari, tidak ada Nene yang berkata engke heula.
Hanya kami berdua, berlutut di lantai tegel, dengan empat puluh orang yang menahan napas.
“Rief,” bisikku.
“Hm?”
“Jawabannya iya.”
“Aku tahu.”
“Kok kamu tahu?”
Ia tersenyum, senyum yang naik sampai ke mata. “Kamu berlutut. Data.”
Aku tertawa. Lalu aku menangkup wajahnya dengan dua tangan, dengan ibu jari di bekas luka tipis di ujung alis kirinya, persis seperti di warung Ceu Imas, persis seperti di atap.
Dan aku menciumnya.
Itu ciuman kedua kami.
Yang pertama di atap, di antara tiang jemuran berkarat, di bawah lampu kota Dago, dengan kekakuan tiga detik pertama karena ia belum pernah mencium siapa pun. Ciuman yang manis, lalu sangat sakit keesokan harinya.
Yang kedua di Meja Nomor Tujuh, jam tujuh lewat dua belas menit pagi, tanggal satu Januari, di depan empat puluh orang.
Ia tidak kaku sama sekali.
Ia menciumku seperti orang yang sudah tiga bulan menunggu dan tidak lagi takut kehilangan. Pelan, hangat, dengan satu tangan di pipiku dan satu tangan memegang tangan kiriku, dengan cincin hijau di antara jari kami. Ia menciumku seperti orang yang akhirnya berdiri di depan.
Ruang makan Bumi Ni Dewi Dago meledak.
Bukan dengan tepuk tangan. Dengan teriakan.
Teh Euis berteriak YA ALLAH begitu keras sampai kucing di kebun melompat dari pohon jambu. Bi Ratna melempar dua kantong kerupuk ke udara, dan kerupuk aci berhamburan seperti konfeti. Dede dan Iwan berpelukan sambil melompat-lompat. Mang Ujang menangis dengan suara keras dan berteriak “TAH KAN! SAMBEL! ABDI GEUS NYARIOS TI DUA BULAN KA TUKANG!” Pak Darto bertepuk tangan dengan senter masih di tangan, menyalakannya dan mematikannya berulang kali seperti lampu disko. Ceu Imas berdiri dari kursi plastik dan berteriak ke seluruh ruangan, “ABDI NU MIMITI NYARIOS! DI WARUNG! PANGANTÉN ANYAR! ABDI NU MIMITI!”
Bi Enok memeluk si Neng. Si Neng bertepuk tangan tanpa tahu kenapa. Pak Encep menangis dengan malu-malu ke lengan kemejanya yang kebesaran. Kang Usep dan Dini saling tos. Neng Lilis terus merekam dengan tablet, dan tangannya gemetar.
Di Meja Delapan, Papa Gunawan berdiri dan bersorak seperti di stadion sepak bola. Mama Liliana menangis dengan tangan di dada. Ervan berdiri di atas kursi. Bukan karena kucing. Karena katanya “gue nggak bisa lihat, ketutupan Bi Ratna”. Ia berteriak “PAKTA SAUNG RESMI BUBAR! RESMI! BUBAR!”
Kak Kanaya tidak berteriak. Ia duduk di kursinya dengan dua tangan menutupi wajah, dan bahunya bergetar.
Papa memeluk Mama. Mama memeluk Papa balik. Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, aku melihat Papa tertawa sampai ke mata.
Nene, di dekat pintu samping, dengan tongkat dan kebaya Lebaran, tidak bersorak dan tidak menangis. Ia hanya memandangi kami berdua yang berlutut di lantai tegel di samping Meja Tujuh, dan tersenyum. Senyum yang jarang, yang rasanya seperti dapat nilai seratus.
Lalu ada bunyi yang tidak terdengar di tengah semua teriakan itu. Tapi aku mendengarnya, karena aku sedang memandangi pintu dapur waktu itu terjadi.
Asep, yang berdiri di ambang pintu dapur dengan kemeja batik yang sama dengan Dede, dan memegang ponsel yang merekam semuanya untuk grup ArGi REBORN, memandangi kami berdua berciuman di samping Meja Tujuh. Wajahnya berubah dari merah ke putih, ke merah lagi, ke putih.
Lalu matanya berputar ke atas, dan ia jatuh.
Pingsan. Pelan, seperti pohon pisang yang ditebang, ke arah tumpukan karung beras di belakangnya, dengan ponsel masih di tangan, masih merekam langit-langit dapur.
Iwan yang pertama melihat. “ASEP! ASEP PINGSAN!”
Mang Ujang berlari ke dapur. Dede berlari ke dapur. Bryan, dari kursi plastik di dekat dinding, melompat berdiri dengan tabung pemadam api di tangan, lalu berhenti, memandangi tabung itu, memandangi Asep yang pingsan di atas karung beras, dan jelas sekali tidak tahu apakah tabung pemadam api bisa dipakai untuk orang pingsan.
“Bukan kebakaran, Mas Bryan!” teriak Teh Euis.
“Saya tahu, Bu! Ini protokol!”
Aku tertawa. Arief tertawa. Kami tertawa sambil masih berlutut di lantai tegel, dengan dahi bersentuhan dan tangan masih bergandengan, sementara di dapur Mang Ujang mengipasi Asep dengan centong kayu, dan Asep perlahan-lahan sadar dan bergumam “ArGi... resmi... ArGi...”.
Lama setelah itu, setelah Asep didudukkan di kursi plastik dengan segelas teh manis, setelah kerupuk aci dipungut dari lantai, setelah Ervan turun dari kursi dan Ceu Imas berhenti berteriak, Kak Kanaya berdiri dari Meja Delapan.
Ia berjalan ke Meja Tujuh, tempat Arief dan aku sekarang duduk berdampingan. Bukan berhadapan. Berdampingan, di dua kursi yang menghadap jendela, dengan tangan bergandengan di bawah meja.
Kak Kanaya berhenti di depan kami.
Ia memandangi cincin hijau di jariku. Lalu memandangi adiknya. Lalu memandangiku.
“Gita,” katanya.
“Kak?”
“Ingat? Ervan masih punya utang satu tamparan. Buat kamu. Kalau kamu yang minta.”
Di Meja Delapan, Ervan membeku dengan sepotong kerupuk di tangan.
Aku memandangi Ervan, laki-laki yang datang ke Bumi Ni Dewi dengan sandal jepit biru, yang membuat Pakta Saung denganku, yang menelusuri jejak Arief sampai ke tiang gerbang yang retak di Cimahi, dan mengatur semua ini.
“Kak,” kataku. “Aku udah mutusin.”
Ervan menelan.
“Tamparannya dibatalin.”
Ervan menjatuhkan kerupuknya.
“Tapi,” lanjutku.
Ervan memungut kerupuknya dengan tangan gemetar. “Tapi apa?”
“Tapi Ervan harus jadi pengiring pengantin.” Aku tersenyum. “Di sebelah Arief. Bukan di belakang. Di sebelah.”
Ervan memandangiku lama. Lalu ia memandangi Arief. Arief mengangguk.
Lalu Ervan Sastrawidjaya, yang bangkrut tiga kali, takut kucing, dan salah naik pesawat ke Medan padahal mau ke Makassar, menutup wajah dengan dua tangan dan menangis lebih keras dari Asep tadi.
“Oke,” katanya dari balik tangannya. “Oke. Gue mau. Gue mau banget. Tapi gue nggak pakai sandal jepit.”
“Pakai yang biru,” kata Papa Gunawan dari sebelahnya, mengangkat kantong plastik. “Papa masih punya delapan.”
Jam delapan pagi, Mang Ujang keluar dari dapur dengan nampan besar.
Di atasnya ada piring-piring seng. Empat puluh lebih. Di setiap piring ada nasi putih, sambal terasi, sepotong tempe, dan satu telur dadar.
Ia meletakkan nampan itu di Meja Tujuh, di depan kami, lalu memandangi Arief dengan mata yang masih basah sampai kumis.
“Sarapan,” kata Mang Ujang. “Sadayana.”
Arief memandangi telur-telur dadar di nampan itu. Lalu ia mengambil satu piring dan meletakkannya di depanku.
Ia mengambil sendok dan membelah telur dadar itu, tidak di tengah, miring sedikit ke kiri, dan memutar sendoknya di akhir seperti orang menutup kunci.
Bagian yang besar ia dorong ke arahku.
“Yang lebih muda makan yang gede,” katanya.
“Aturan siapa?”
Ia memandangiku. Lalu ia memandangi Kak Kanaya, yang berdiri di samping Meja Tujuh dengan mata basah. Lalu memandangiku lagi.
“Aturan keluarga,” katanya.
Aku memakan bagian yang besar.
Rasanya sedikit asin. Mungkin Mang Ujang terlalu banyak memberi garam. Mungkin bukan karena garam.
Di jendela besar di samping Meja Tujuh, cahaya pagi tanggal satu Januari jatuh miring ke taplak putih, ke buku menu yang tertutup, ke kastrol kecil yang masih berisi sejumput nasi liwet, dan ke cincin hijau di jari manis kiriku.
Di luar jendela, di Jalan Dago yang sepi di pagi tahun baru, satu ojol lewat pelan. Ia berhenti di depan jendela, memandangi ruang makan yang penuh orang dan dua orang yang duduk berdampingan di Meja Tujuh, lalu tersenyum, dan pergi lagi.
Di sebelahku, Arief mengeluarkan ponsel dari saku celana, membuka satu aplikasi, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu menyimpannya lagi.
“Kamu ngapain?” tanyaku.
“Nyatet.”
“Nyatet apa?”
Ia tersenyum.
“Kunjungan walk-in Meja Tujuh, satu Januari,” katanya. “Satu ojol. Berhenti, lihat, senyum, pergi.”
Aku memandanginya.
“Data,” katanya.
Aku tertawa, menyandarkan kepalaku di bahunya, dan memakan sisa telur dadar.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang reading
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu