Chapter Six

Hujan di Lembang

POV: Anggita

Ada tiga hal yang kupelajari tentang Arief dalam lima hari pertama di Bandung.

Pertama, ia bangun jam empat pagi. Ini bukan gosip dari Teh Euis. Aku melihatnya sendiri dari jendela kamar di lantai dua rumah Nene, jam empat lewat dua puluh, waktu aku belum tidur karena masih sibuk mengedit foto Garut. Lampu dapur restoran menyala dan ada satu sosok di dalamnya, sedang mencatat sesuatu di papan tulis kecil sambil minum teh tawar.

Kedua, ia tidak pernah duduk di kursi yang paling empuk. Di rapat, di saung, di ruang karyawan, ia selalu memilih kursi plastik atau bangku kayu dan membiarkan kursi yang lebih nyaman untuk orang lain. Kalau orang lain sudah duduk semua, baru ia duduk. Kalau tidak ada kursi tersisa, ia berdiri, dan kelihatannya ia tidak sadar sedang melakukannya.

Ketiga, dan ini yang paling menyebalkan: ia ganteng tanpa usaha.

Bukan ganteng yang rapi seperti cowok-cowok Jakarta yang kukenal, yang potongan rambutnya dijadwalkan dua minggu sekali dan parfumnya punya nama Prancis. Arief gantengnya lain. Kulitnya sawo matang, warna orang yang sering kena matahari tanpa pernah mengeluh. Rahangnya tegas, alisnya tebal, dan ada bekas luka tipis yang memotong ujung alis kirinya. Kalau sedang serius, matanya seperti menyala dari dalam. Kalau ia tersenyum, dan ia jarang tersenyum lebar, senyumnya datang pelan-pelan, mulai dari ujung bibir, lalu naik ke mata, dan begitu sampai di mata, kau sudah kalah.

Aku sudah kalah tiga kali minggu ini. Aku menghitungnya di catatan ponsel, di folder yang sama dengan Ide yang Dicolong dari Arief.

Folder itu sekarang berisi empat belas catatan. Yang terakhir kutulis jam dua pagi tadi:

Dia nyetir lebih pelan pas aku ketiduran di Nagreg. Dia pikir aku nggak tahu. Aku bangun di Cicalengka dan pura-pura tidur sampai Leles.


Hari Jumat, Arief akhirnya mengunjungi cabang Lembang yang tertunda karena ia harus menjemputku minggu lalu.

Kali ini aku tidak perlu memaksa. Nene yang menyuruh.

“Gita, ilu ka Lembang. Foto-foto. Lembang mah rame ku nu ngora.”

Arief, yang berdiri di belakang Nene sambil memegang map, membuka mulut seperti mau protes, lalu menutupnya lagi. Aku sudah mulai hafal gerakan itu. Itu gerakan orang yang tahu ia akan kalah berdebat dengan Nene dan memilih menghemat tenaga.

Aku tersenyum padanya dari balik bahu Nene. Ia memalingkan wajah ke jendela.

Empat kali.


Bumi Ni Dewi Lembang ada di pinggir jalan raya menuju Tangkuban Parahu. Bangunannya dua lantai dengan teras kayu yang menghadap kebun stroberi, dan dari lantai dua kau bisa melihat kabut turun perlahan di lereng bukit. Secara visual, menurutku cabang ini punya potensi Instagram paling besar setelah Garut.

Secara ulasan Google, cabang ini sedang sekarat.

“Tiga koma satu,” kata Arief di parkiran, sambil menunjukkan layar ponselnya. “Setahun lalu masih empat koma lima.”

Aku membaca beberapa ulasan terakhir.

Makanannya enak tapi nunggu 50 menit. Anak saya sampai tidur.

Pelayannya bolak-balik kayak setrikaan tapi pesanan nggak datang-datang.

Datang lapar, pulang emosi. Bintang satu.

“Kokinya lambat?” tebakku.

“Kepala dapurnya Kang Usep. Dia pernah juara lomba masak tingkat provinsi. Dapurnya rapi. Waktu masak per piring di laporan rata-rata dua belas menit, itu termasuk cepat.”

“Terus kenapa tamu nunggu lima puluh menit?”

Arief mengantongi ponselnya. “Itu yang mau saya lihat.”

Ia tidak masuk lewat pintu belakang kali ini. Ia duduk di meja tamu, di lantai dua, dekat tangga, memesan secangkir bandrek, lalu diam.

Diam selama dua jam.

Aku duduk di seberangnya, awalnya sambil memotret pemandangan, lalu sambil membalas email, lalu sambil menatapnya dengan curiga. Ia tidak membuka laptop. Ia hanya memperhatikan, sesekali mencatat sesuatu di buku kecil bersampul cokelat dan mengklik penghitung genggam yang ia keluarkan dari saku. Jenis yang biasa dipakai petugas menghitung jumlah penumpang.

“Kamu ngitung apa?”

“Pelayan naik turun tangga.”

“Buat apa?”

“Nanti.”

Restoran mulai ramai jam dua belas. Rombongan keluarga dari Jakarta, rombongan anak kuliah, dua bus pariwisata. Aku mulai melihat apa yang ia lihat, pelan-pelan.

Dapur ada di lantai satu. Lantai dua, tempat meja-meja dengan pemandangan paling bagus, selalu penuh duluan. Setiap pesanan dari lantai dua harus dibawa pelayan turun ke kasir di lantai satu, dimasukkan ke sistem, lalu tiketnya dicetak di dapur. Begitu makanan matang, pelayan naik lagi membawa nampan. Lalu tamu minta sambal tambahan, dan stasiun sambal ada di dapur. Turun lagi. Tamu minta lalapan tambahan, turun lagi. Tamu minta tagihan, turun lagi ke kasir, naik lagi bawa tagihan, turun lagi bawa uang.

Pelayan-pelayan itu benar-benar seperti setrikaan, persis kata ulasan.

Jam dua, Arief menunjukkan penghitung genggamnya padaku. Angkanya 311.

“Tiga ratus sebelas kali naik turun tangga dalam dua jam,” katanya. “Enam pelayan. Rata-rata lima puluh dua kali per orang. Tiap naik turun kira-kira empat puluh detik, belum termasuk antre di kasir.” Ia menyentuh pena ke kertas, menghitung tanpa kalkulator. “Kira-kira tiga setengah jam kerja habis cuma buat tangga, dalam dua jam operasional.”

Aku memandangi angka itu. “Jadi bukan dapurnya yang lambat.”

“Dapurnya cepat. Tangganya yang lambat.”

“Terus solusinya? Bikin dapur di lantai dua? Itu renovasi ratusan juta.”

“Nggak perlu.” Ia membalik halaman buku catatannya. Ada sketsa denah sederhana yang ia gambar sambil minum bandrek tadi. “Satu: pelayan lantai dua pegang tablet pesanan, langsung kirim ke dapur. Nggak usah turun ke kasir. Tablet bekas dari cabang Cimahi masih ada empat di gudang. Dua: stasiun sambal, lalapan, kerupuk, sama air minum dipindah ke atas. Pojok situ.” Ia menunjuk sudut di dekat tangga, tempat sekarang ada lemari hias berisi guci-guci yang tidak pernah dilihat siapa pun. “Tiga: bayarnya di meja. QRIS dicetak di tiap meja. Empat: lift barang kecil.”

“Lift?”

“Dumbwaiter. Lift makanan pakai katrol. Tukang las di Cimahi bisa bikin dua minggu, biayanya kurang dari sebulan gaji satu pelayan.” Ia menunjuk dinding di samping tangga. “Lubang buat jalurnya sudah ada. Itu bekas cerobong tungku waktu bangunan ini masih rumah orang Belanda. Saya lihat dari denah lama di arsip.”

Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana, jadi aku mengatakan hal pertama yang muncul di kepalaku.

“Kamu baca denah bangunan Belanda di arsip?”

“Waktu nyusun daftar aset.”

“Buat iseng?”

“Buat kerja.”

“Arief, nggak ada orang yang baca denah bangunan Belanda buat kerja.”

Ia memandangiku dengan wajah yang sangat datar. “Saya ada.”

Aku tertawa sampai tamu di meja sebelah menoleh.

Sore itu, Kang Usep dan keenam pelayan dikumpulkan di teras. Arief tidak menyuruh. Ia bertanya. Ia menunjukkan angka 311, lalu bertanya pada para pelayan, kalau mereka yang mengatur, apa yang akan mereka pindahkan ke atas. Mereka menjawab hampir persis seperti sketsanya. Satu pelayan muda bernama Dini menambahkan satu hal yang tidak ada di sketsa: tisu dan tusuk gigi juga sering diminta.

“Dini benar,” kata Arief, lalu menuliskannya di buku cokelat. “Itu saya lewat.”

Dini tersenyum lebar sekali, seperti baru diangkat jadi manajer.

Aku memperhatikan semuanya dari pojok teras, sambil memotret. Dan aku mengerti satu hal tentang Arief yang belum kumengerti di Garut: ia tidak pernah menjadi orang paling pintar di ruangan. Maksudku, ia memang selalu yang paling pintar, tapi ia tidak pernah membiarkan orang lain merasakannya. Ia membuat semua orang merasa ide itu milik mereka.

Lima kali.


Kami meninggalkan Lembang jam lima sore. Langit di atas Tangkuban Parahu sudah gelap dan berat seperti kain basah.

Hujan turun di Cikole. Bukan gerimis Bandung yang sopan, tapi hujan gunung yang turun sekaligus seperti seseorang menumpahkan ember dari langit. Wiper bekerja keras, dan jalan berkabut. Arief menyetir pelan, kedua tangan di setir.

Lalu, di tanjakan setelah hutan pinus, mobilnya terbatuk, tersendat, dan mati.

Arief menyalakan lampu hazard dan mencoba menghidupkan mesin lagi. Mesinnya berputar, tapi tidak mau menyala. Ia mencoba lagi. Sama.

“Mogok?” tanyaku, karena aku memang orang yang bertanya hal-hal yang sudah jelas kalau sedang panik.

“Mogok.”

“Kenapa?”

Ia diam, mendengarkan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Lalu ia melihat jarum suhu yang masih normal, mencium udara, dan melihat lampu indikator yang menyala.

“Bukan aki. Bukan panas. Bensin masih setengah.” Ia menggosok dagu. “Kemungkinan pompa bensinnya. Mobil ini umurnya sebelas tahun dan pompanya belum pernah diganti. Saya sudah jadwalkan servis minggu depan.” Ia menghela napas pelan, setengah tertawa. “Minggu depan.”

“Kamu bisa benerin?”

“Kalau di bengkel, bisa. Di sini, pakai obeng sama doa, nggak bisa.”

Aku mengecek ponsel. Satu garis sinyal, lalu nol, lalu satu lagi.

Arief sudah mengetik sesuatu dengan cepat. “Saya kirim lokasi ke Kang Usep. Dia punya saudara tukang derek di Lembang. Pesannya kekirim.” Ia menunjukkan dua centang. “Kira-kira empat puluh menit.”

Lalu ia memandang ke luar jendela. Di seberang jalan, sekitar dua puluh meter, ada warung kecil beratap seng dengan lampu kuning yang menyala. Asap tipis keluar dari cerobongnya.

“Teh Anggita lapar?”

“Kamu selalu nanya itu.”

“Karena Teh Anggita selalu lapar.”

Aku memukul lengannya. Ia tidak menghindar.


Ia membuka jaketnya, jaket parasut hitam yang dari tadi ia pakai, lalu menyodorkannya padaku.

“Pakai.”

“Kamu gimana?”

“Saya kemeja.”

“Itu bukan jawaban.”

“Saya orang Bandung. Teh Anggita orang Jakarta yang sarapan kopi.”

“Itu udah lewat seminggu, Arief!”

“Dan hari ini Teh Anggita sarapan apa?”

Aku diam. Aku sarapan setengah croissant dan kopi.

Ia meletakkan jaket itu di pangkuanku, membuka pintunya sendiri, lalu memutari mobil, membuka pintuku, dan berdiri di sana menutupi kepalaku dengan buku catatan cokelatnya, yang jelas tidak berguna sama sekali untuk melawan hujan sebesar itu. Kami berlari menyeberang jalan.

Dalam dua puluh meter itu, kemejanya basah kuyup.

Warung itu milik seorang ibu bernama Ceu Imas. Usianya sekitar enam puluh, dan ia memakai kerudung bergo serta sandal jepit yang ujungnya sudah tipis. Warungnya menjual bandrek, bajigur, jagung bakar, dan mi rebus. Ada dua bangku kayu dan meja reyot yang ditutupi taplak plastik bermotif buah.

Ceu Imas menatap kami berdua, kemeja Arief yang menempel ke badan, jaket kebesaran di bahuku, dan dengan keyakinan penuh seorang ibu yang sudah melihat segalanya ia bertanya:

“Pangantén anyar, nya?”

Aku tidak bisa bahasa Sunda dengan lancar, tapi kata pangantén aku tahu. Pengantin.

Wajahku langsung panas. “Bukan, Bu, kami—”

“Mogok, Ceu,” kata Arief dengan tenang. “Mobilna.”

“Oh, mogok.” Ceu Imas mengangguk penuh pengertian. “Nya, wajar. Pangantén anyar mah sok aya wae cobaan.”

“Ceu, sanés—”

“Bandrek dua? Jagung bakar? Neng geulis teh kedah haneut, karunya, tiris.”

Arief menyerah. Aku bisa melihat persis detik ketika ia menyerah. Ia menunduk sedikit, sudut bibirnya naik, dan ia berkata, “Muhun, Ceu. Bandrek dua, jagung bakar dua, mi rebus hiji. Pake endog.”

“Siap.” Ceu Imas berbalik ke tungku, lalu berbalik lagi dan menunjukku dengan sendok sayur. “Salakina kasep, Neng. Ulah dileupaskeun.”

Aku tidak tahu artinya, tapi dari cara Arief tersedak bandrek yang bahkan belum disajikan, aku tahu artinya bahaya.

“Dia bilang apa?”

“Nggak penting.”

“Arief.”

“Dia bilang jagungnya mau yang manis atau pedas.”

“Bohong. Kata ‘kasep’ artinya ganteng. Aku tahu kata itu. Teh Euis ngomong ‘kasep’ dua puluh kali sehari kalau ngomongin kamu.”

Ia diam. Telinganya merah, dan aku tidak yakin itu karena dingin.

Aku menarik ponsel, membuka Google Translate, dan mengetik apa yang masih kuingat. Salakina kasep. Ulah dileupaskeun.

Hasilnya: Suaminya ganteng. Jangan dilepaskan.

Aku memandangi layar ponsel itu lama sekali.

Lalu aku menaruh ponsel telungkup di meja dan memandangi hujan, karena memandangi hujan lebih aman daripada memandangi apa pun di sebelahku.


Mi rebus Ceu Imas mungkin bukan mi rebus terenak di dunia, tapi malam itu, di warung seng dengan hujan gunung yang menghantam atap seperti drum, rasanya seperti mi rebus terenak di dunia.

Arief memasukkan telur rebus dari mangkuknya ke mangkukku tanpa berkata apa-apa, seolah itu hal yang paling wajar.

“Kamu suka banget ngasih orang telur,” kataku.

“Kebiasaan.”

“Dari mana?”

Ia tidak langsung menjawab. Ia meniup mi di sendoknya, lalu menaruhnya kembali di mangkuk tanpa memakannya.

Aku memperhatikan wajahnya dari samping, diterangi lampu kuning warung yang bergoyang tertiup angin. Air hujan masih menetes dari rambutnya, dan setetes jatuh tepat melewati bekas luka di alis kirinya.

Aku tidak berpikir panjang. Tanganku bergerak lebih dulu daripada otakku.

Aku mengusap tetes air itu dengan ibu jari, pelan, di sepanjang garis luka yang tipis.

Arief membeku.

Aku juga membeku, karena baru sadar apa yang sedang kulakukan, dan sudah terlambat untuk pura-pura tidak sedang melakukannya. Kulitnya hangat meskipun basah. Bekas luka itu sedikit lebih halus daripada kulit di sekitarnya.

“Ini kenapa?” bisikku.

Ia tidak menarik diri. Ia juga tidak menjawab dengan cepat seperti biasanya, padahal Arief yang kukenal selama seminggu ini selalu punya jawaban dalam tiga detik, lengkap dengan angka dan sumber datanya.

Kali ini ia diam lama.

“Waktu SMP,” katanya akhirnya. “Ada anak yang ngatain kakak saya. Saya maju sendirian. Dia bertiga.”

“Kamu kalah?”

“Saya kalah.” Ia tersenyum tipis. “Tapi seminggu kemudian kakak saya nampar dia di depan satu kelas. Jadi secara keseluruhan, keluarga saya menang.”

Aku tertawa pelan, tapi tawanya tertahan di tenggorokan.

“Kamu punya kakak?”

“Punya.” Ia memandangi bandreknya. “Dulu.”

Kata itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam air.

Dulu.

Aku tidak bertanya lagi. Aku tahu dari ceritanya di jalan pulang dari Garut bahwa ia besar di panti. Aku tahu dari Teh Euis bahwa ia tidak punya keluarga yang datang di hari raya, bahwa setiap Lebaran ia justru yang menggantikan jadwal piket karyawan supaya yang lain bisa mudik. Dan sekarang aku tahu ada seorang kakak, ada perkelahian, ada tamparan, dan ada kata dulu.

Aku tidak tahu apakah dulu itu artinya meninggal, atau pergi, atau hilang. Aku tidak berani bertanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku yang penuh pertanyaan, aku memilih tidak bertanya.

Sebagai gantinya, aku menurunkan tanganku dari alisnya, dan, tanpa memberi diriku sendiri kesempatan untuk ragu, aku menggenggam tangannya di atas meja reyot bertaplak buah itu.

Bukan meletakkan seperti di mobil kemarin. Menggenggam.

Tangannya besar dan kasar di beberapa tempat, terutama di pangkal jari, bekas orang yang bertahun-tahun mencuci piring dan memotong bawang. Aku merasakan ia menahan napas. Lalu, pelan sekali, seperti orang yang belum pernah melakukannya dan takut salah, jari-jarinya membalas genggamanku.

Kami duduk seperti itu, tidak berkata apa-apa, sementara hujan turun di atap seng dan Ceu Imas bersenandung lagu dangdut lama di depan tungkunya, pura-pura tidak melihat.

Pura-pura dengan sangat buruk, karena aku melihatnya mengintip tiga kali dan tersenyum seperti orang yang menang taruhan.


Truk derek datang jam tujuh lewat lima belas, bersama Kang Usep yang menyetir mobilnya sendiri untuk mengantar kami pulang. Ia datang dengan payung dan dua handuk, dan ekspresinya berubah total waktu melihat jaket Arief di bahuku.

Ia tidak berkata apa-apa. Tapi aku yakin, sebelum kami sampai Dago, grup “BND Pusat Sadayana” sudah tahu.

Ceu Imas tidak mau dibayar. Arief memaksa. Mereka berdebat dalam bahasa Sunda yang cepat sekali selama dua menit, sampai Arief akhirnya meninggalkan uang di bawah gelas bandrek waktu Ceu Imas sedang membungkus jagung bakar tambahan untuk kami bawa pulang.

Di ambang warung, Ceu Imas menarik lenganku.

“Neng,” katanya pelan, dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata, supaya aku pasti mengerti. “Laki-laki nu ngasih endog ka awewe, padahal manehna oge lapar, eta teh laki-laki nu bener. Ibu mah geus kolot. Ibu nyaho.”

Aku mengangguk, karena tidak ada lagi yang bisa kulakukan.


Di kursi belakang mobil Kang Usep, kami duduk berdua. Kang Usep menyetel radio keras-keras, lagu pop Sunda, mungkin supaya kami punya privasi, atau mungkin karena ia sendiri malu.

Arief memandangi jendela. Aku memandangi tangannya, yang tadi kugenggam, yang sekarang diam di atas lututnya.

Lalu, di tikungan Punclut, saat lampu-lampu Bandung tiba-tiba terhampar di bawah kami seperti seseorang menumpahkan permata ke lembah, ia bicara. Pelan, tanpa menoleh.

“Teh Anggita.”

“Hm?”

“Jaketnya dipakai aja dulu. Nggak usah dibalikin besok.”

“Kenapa?”

“Biar ada alasan.”

Aku menoleh. “Alasan apa?”

Ia masih memandangi lampu kota di bawah sana. “Alasan buat nanya kabar. Kalau jaketnya masih di Teh Anggita.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab, karena jantungku sedang melakukan sesuatu yang tidak masuk akal secara medis.

Malam itu, di kamar lantai dua rumah Nene, dengan jaket parasut hitam yang masih bau hujan dan sedikit bau sabun cuci piring tersampir di kursi meja rias, aku membuka folder catatan di ponsel dan mengetik satu baris baru.

Lalu aku menghapusnya, karena terlalu memalukan.

Lalu aku mengetiknya lagi, karena itu benar.

Ini bahaya. Dia bahaya.

Dan aku udah jatuh.