Chapter Eight
Kue dari Roti Tawar
POV: Arief
Tanggal delapan belas Oktober selalu kumulai dengan cara yang sama: bangun jam empat, mandi, lalu memandangi kalender di dinding kos selama sepuluh detik, dan sesudahnya tidak memikirkannya lagi.
Itu tanggal di KTP-ku. Tanggal yang dipilih Bu Rahmah dua puluh empat tahun lalu, hari seorang anak laki-laki berumur empat tahun datang ke Panti Asuhan Kasih Bunda dengan baju kebesaran dan kakak perempuan berumur enam tahun yang tidak mau melepaskan tangannya.
Itu bukan hari aku lahir. Itu hari aku sampai.
Setelah Kak Kanaya pergi, tidak ada lagi yang membuatkan kue roti tawar. Anak-anak panti yang lain tidak tahu, dan aku tidak memberi tahu. Waktu aku mulai bekerja di Bumi Ni Dewi, tanggal delapan belas Oktober di data karyawan hanya berarti satu hal bagi bagian keuangan: tunjangan ulang tahun lima puluh ribu rupiah yang ditransfer bersama gaji. Setiap tahun aku menyumbangkannya ke kotak amal masjid dekat kos.
Tidak ada yang pernah menanyakannya. Itu yang kuinginkan.
Jam lima lewat sepuluh, aku sudah di dapur Dago. Mang Ujang sudah datang, dan anehnya ia sedang tidak marah-marah. Ia hanya berdiri di depan kompor, mengaduk kuah sayur asem, dan bersiul.
Mang Ujang tidak pernah bersiul.
“Mang, sehat?”
“Sehat pisan, Rief. Sehat pisan.” Ia bersiul lagi. Lagunya dangdut lama. Sumbang.
Aku mencatatnya di kepala sebagai anomali, lalu lupa, karena jam lima lewat tiga puluh, ponselku berdering dengan nama yang tidak pernah menelepon sepagi ini.
Anggita.
“Arief.” Suaranya serak, seperti baru bangun, tapi tegang. “Kamu udah lihat TikTok?”
Videonya diunggah tadi malam jam sebelas, dari akun seorang kreator makanan dengan dua ratus tiga puluh ribu pengikut. Judulnya: JANGAN MAKAN DI SINI!! Ayam bakar MENTAH di restoran Sunda terkenal Bandung 🤮🤮
Dalam video berdurasi empat puluh detik itu, seorang perempuan muda membelah paha ayam bakar dengan garpu di bawah lampu restoran. Di dekat tulang, dagingnya berwarna merah muda gelap. Ia menunjukkannya dekat-dekat ke kamera, lalu memperlihatkan logo Bumi Ni Dewi di kotak tisu dan papan nama cabang: Cimahi.
Sampai jam lima pagi, video itu sudah ditonton delapan ratus ribu kali. Ada empat ribu komentar. Sebagian besar marah, sebagian lagi menandai teman mereka yang akan makan di sana minggu ini, dan sebagian kecil menulis hal-hal yang tidak pantas tentang Nene.
Anggita datang ke dapur sepuluh menit kemudian. Ia masih memakai piyama satin biru tua dengan kardigan di atasnya, rambutnya digulung asal-asalan, matanya sembap kurang tidur, dan ia memegang laptop seperti orang memegang perisai.
“Aku udah nyiapin draf permintaan maaf,” katanya, membuka laptop di meja stainless. “Kita minta maaf, kasih voucher, bilang kita evaluasi total cabang Cimahi. Tim sosmed bisa posting jam tujuh. Makin cepat makin—”
“Teh, tunggu.”
“Arief, ini krisis. Setiap jam kita diam, viewsnya nambah seratus ribu.”
“Saya tahu. Makanya jangan sampai kita minta maaf untuk sesuatu yang belum tentu salah.” Aku menarik kursi plastik dan menyuruhnya duduk dengan isyarat. “Lima belas menit. Kasih saya lima belas menit.”
Ia memandangiku. Matanya ragu, takut, dan lelah. Lalu ia duduk.
Aku membuka tablet.
Hal pertama yang kucek adalah waktu dan meja. Video diambil jam tujuh lewat empat puluh malam, menurut keterangan unggahan. Dari sudut kamera dan jendela di latar belakang, itu meja nomor empat belas cabang Cimahi. Sistem kasir Cimahi menunjukkan pesanan meja empat belas jam tujuh lewat dua puluh delapan: dua paket ayam bakar kampung, satu sayur asem, dua es jeruk.
Ayam bakar kampung, bukan ayam bakar biasa.
Hal kedua adalah catatan suhu. Satu setengah tahun lalu, setelah satu kasus diare di cabang Padalarang, aku mewajibkan semua cabang mengecek suhu inti ayam dengan termometer tusuk sebelum disajikan. Koki menusuk bagian paling tebal di dekat tulang dan mencatat angkanya di tablet dapur. Kalau di bawah tujuh puluh empat derajat, ayam kembali ke panggangan. Sistemnya menolak mencetak tiket saji sebelum angka itu diisi.
Cabang Cimahi, meja empat belas, jam tujuh lewat tiga puluh lima: suhu inti ayam paha kiri delapan puluh satu derajat, paha kanan tujuh puluh sembilan. Dua-duanya di atas batas aman.
Hal ketiga adalah pemasoknya. Ayam kampung Cimahi datang dari peternakan Pak Sobari di Cisarua. Umur potongnya tujuh puluh hari, dan aku tahu itu karena aku yang menandatangani kontraknya.
Aku menutup tablet dan memandang Anggita.
“Ayamnya matang.”
“Tapi videonya—”
“Warna merah di dekat tulang itu bukan darah dan bukan daging mentah. Itu sumsum tulang.” Aku mengambil sepotong paha ayam kampung yang baru diangkat Mang Ujang dari panggangan untuk sarapan karyawan, membelahnya di depan Anggita, dan menunjukkan bagian di dekat tulang. Warnanya merah muda gelap, persis seperti di video.
“Ayam kampung yang dipotong muda, tulangnya belum keras. Sumsumnya masih banyak dan merah. Kalau dipanggang, pigmennya merembes keluar dan bikin daging di sekitar tulang kelihatan merah, walaupun suhunya sudah lewat delapan puluh derajat.” Aku menusukkan termometer dari saku apron ke bagian itu. Layar digitalnya menunjukkan delapan puluh tiga. “Ini matang. Ini aman. Cuma kelihatannya nggak aman.”
Anggita memandangi potongan ayam itu, lalu angka di termometer, lalu wajahku.
“Jadi kita nggak salah?”
“Secara keamanan pangan, nggak. Tapi secara pengalaman tamu, kita salah. Tamunya kaget, nggak ada yang jelasin, dan dia pulang dengan perasaan dibohongi. Itu salah kita.” Aku menaruh termometer. “Jadi kita nggak minta maaf karena ayamnya mentah. Kita minta maaf karena nggak ngejelasin. Lalu kita jelasin. Ke delapan ratus ribu orang sekaligus.”
Lima detik kemudian, matanya berubah. Aku sudah mulai mengenali perubahan itu. Itu saat mesin di kepalanya mengejar mesin di kepalaku, menyalip, lalu berlari ke arah yang tidak terpikirkan olehku.
“Video,” katanya. “Bukan teks. Video balasan. Kamu yang di depan kamera, di dapur, persis kayak barusan. Belah ayam, tusuk termometer, tunjukin angkanya. Jelasin sumsum tulang. Nggak defensif, nggak nyalahin dia.”
“Saya nggak bisa ngomong di depan kamera.”
“Kamu barusan ngomong di depan aku, dan aku lebih galak dari kamera.” Ia sudah mengetik. “Terus kita tag kreatornya. Kita undang dia ke dapur Cimahi, makan gratis, ngecek termometernya sendiri, ketemu Pak Sobari peternaknya kalau dia mau. Kalau dia datang, kita dapat video kedua. Kalau dia nggak datang, orang lihat kita yang ngundang duluan.”
“Dan dua hal lagi,” kataku. “Satu: mulai hari ini, setiap ayam kampung disajikan dengan kartu kecil di piring. Tulisannya: ‘Warna merah dekat tulang adalah sumsum, bukan mentah. Ayam ini sudah dicek suhunya.’ Terus angka suhunya ditulis tangan sama kokinya.”
“Itu jenius,” bisik Anggita. “Itu branding. Itu transparansi jadi branding.”
“Dua: tamu meja empat belas tadi malam, kita kembalikan uangnya. Semua. Bukan karena kita salah masak, tapi karena dia pulang dengan perasaan nggak enak. Itu harganya.”
Anggita berhenti mengetik dan memandangiku.
“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “aku punya teman di agensi PR Jakarta yang ditagih tiga ratus juta buat nanganin krisis kayak gini. Hasilnya cuma surat permintaan maaf di Instagram yang dibikin pakai Canva.”
“Tiga ratus juta bisa buat sewa dapur satelit tiga tahun.”
Ia tertawa. Lalu, karena sedang lelah atau karena memang sudah begitu sejak awal, ia menjatuhkan dahinya ke bahuku. Hanya dua detik. Rambutnya yang setengah tergulung menyentuh pipiku, dan wanginya seperti sampo dan tidur.
“Oke,” gumamnya ke bahuku. “Ganti baju. Kita syuting jam enam.”
“Teh Anggita yang ganti baju. Saya udah pakai baju.”
Ia mengangkat kepala dan memandangi piyama satinnya sendiri seolah baru menyadari keberadaannya. Wajahnya memerah dari leher sampai dahi.
“Jangan ngeliat.”
“Saya dari tadi ngeliat ayam.”
“BOHONG.”
Ia berlari keluar dapur. Mang Ujang, yang dari tadi pura-pura mengaduk sayur asem dengan sangat khusyuk, bersiul lagi.
Video balasan kami diunggah jam tujuh lewat lima belas. Durasinya satu menit dua puluh detik. Isinya aku di dapur Dago, memakai apron dan memegang paha ayam kampung, dengan suara gugup yang kata Anggita “justru bikin percaya”.
Menjelang jam dua belas siang, video itu sudah ditonton satu koma dua juta kali, lebih banyak dari video aslinya.
Komentar teratas: Kenapa gue jadi belajar biologi jam 9 pagi dari mas-mas ganteng di dapur
Komentar kedua: Ternyata ayam kampung emang gitu ya?? Gue selama ini suka buang bagian deket tulang 😭
Komentar ketiga, dari akun kreator video yang pertama: Mas, saya minta maaf ya, saya nggak tahu. Saya mau datang ke Cimahi minggu ini. Boleh ketemu peternaknya juga? 🙏
Komentar keempat, dari akun yang fotonya stiker MENU INI BELUM TERSEDIA: ITU HEAD OF OPERATIONS KAMI. JOMBLO. SEKIAN.
Aku menelepon Asep. Asep tidak mengangkat. Asep tidak mengangkat sampai jam tiga.
Sepanjang sore, aku lupa hari ini tanggal berapa.
Aku menelepon Pak Sobari, mengatur kunjungan kreator itu, dan memesan cetakan kartu sumsum tulang untuk empat puluh tujuh cabang. Aku membalas tiga ratus pesan, sebagian besar dari wartawan lokal dan sebagian dari nomor tidak dikenal yang menanyakan apakah komentar keempat itu benar. Jam lima sore, data reservasi untuk minggu depan menunjukkan kenaikan tiga puluh persen dibanding minggu ini.
Jam tujuh malam, Teh Euis memanggilku ke ruang karyawan.
“A, aya nu rusak di loker. Tolongan heula.”
Ruang karyawan gelap waktu aku membuka pintunya.
Lalu lampu menyala, dan dua puluh orang berteriak bersamaan.
“SELAMAT ULANG TAHUN, A ARIEF!”
Ada balon hijau dan cokelat. Tentu saja hijau dan cokelat. Ada spanduk yang jelas dicetak di tempat fotokopi depan kampus, bergambar wajahku dari video TikTok tadi pagi dengan tulisan HAPPY BIRTHDAY KANG SUMSUM TULANG. Ada Mang Ujang dengan topi kerucut kertas di atas kepalanya yang besar. Ada Asep, yang akhirnya muncul dan tidak terlihat menyesal sedikit pun. Ada Iwan, Dede, Teh Euis, dan Pak Darto. Ada Bi Ratna, yang entah datang dari mana. Bahkan Nene ada, duduk di kursi plastik di pojok dengan tongkat di pangkuan, tersenyum kecil.
Di tengah meja ada kue tart besar dengan lapisan krim putih dan tulisan cokelat: Wilujeng Tepang Taun, Arief. 28.
Aku berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bergerak.
“Teh Euis,” kataku akhirnya. “Teteh tahu dari mana?”
“Data karyawan atuh, A! Aa sendiri nu nyieun sistemna.” Teh Euis mengusap matanya yang sudah basah duluan. “Tujuh taun Aa di dieu, tujuh taun Aa teu pernah bebeja. Tujuh taun duit tunjangan Aa dikirim ka masjid. Abdi nyaho ti Pak Haji DKM. Aa pikir abdi teu nyaho?”
“Teh—”
“Ulah ‘Teh-Teh’! Tiup lilinna!”
Mereka bernyanyi. Sumbang, keras, campuran bahasa Indonesia dan Sunda, dengan Mang Ujang menyanyikan nada yang sama sekali berbeda dari yang lain. Aku meniup lilin berbentuk angka dua dan delapan. Semua bertepuk tangan. Asep menyalakan musik dangdut dari speaker kecil, dan ruang karyawan mendadak berubah jadi kondangan.
Aku tersenyum. Aku berterima kasih kepada satu per satu orang. Aku memotong kue dan membagikannya, dan bagian yang paling besar kuberikan kepada Iwan karena ia yang paling muda. Aku memeluk Mang Ujang, yang menangis lebih keras dari Teh Euis. Aku mencium tangan Nene, dan Nene menepuk pipiku dua kali tanpa berkata apa-apa.
Aku melakukan semuanya dengan benar.
Tapi ada sesuatu di dadaku yang tidak bisa kujelaskan kepada siapa pun di ruangan itu. Sesuatu yang membuatku, setelah setengah jam, pamit dengan alasan mengecek sesuatu di kantor, lalu keluar lewat pintu belakang, melewati kebun Nene, dan duduk sendirian di saung paling ujung.
Saung itu gelap. Satu-satunya cahaya datang dari lampu taman di kejauhan dan bulan yang separuh tertutup awan. Dari sini, suara dangdut di ruang karyawan terdengar samar seperti radio tetangga.
Aku duduk bersila dan memandangi kebun.
Dua puluh delapan tahun.
Bukan, dua puluh empat tahun sejak aku sampai di panti. Empat belas tahun sejak terakhir kali seseorang membuatkanku kue. Kue yang sesungguhnya, maksudku. Bukan tart dengan krim putih dan tulisan cokelat, tapi tiga lembar roti tawar, mentega, gula, dan satu lilin yang dicuri dari laci darurat Bu Rahmah.
“Kenapa kabur?”
Aku tidak menoleh. Aku sudah tahu suara itu, dan langkah kakinya. Ia selalu berjalan sedikit lebih cepat dari kebanyakan orang, seolah takut ketinggalan sesuatu.
Anggita naik ke saung dan duduk di sebelahku. Tidak terlalu dekat. Ia membawa dua potong kue di piring kertas dan meletakkannya di antara kami.
“Aku nggak kabur.”
“Kamu keluar lewat pintu belakang, lewat kebun, dalam gelap, sambil nunduk. Itu definisi kabur di kamus mana pun.”
Aku tersenyum kecil.
“Kamu nggak suka?” tanyanya pelan. “Pestanya? Aku yang nyuruh Teh Euis. Waktu dia bilang tanggal ulang tahun kamu, aku pikir... Maaf. Harusnya aku tanya dulu.”
“Saya suka.”
“Arief.”
“Saya beneran suka.” Aku memandangi kue di piring kertas itu. “Cuma... ini pertama kalinya, dalam empat belas tahun, ada yang inget.”
Ia diam.
Aku tidak tahu kenapa aku terus bicara. Mungkin karena gelap. Mungkin karena hari ini panjang dan aku lelah. Mungkin karena sejak di dapur belakang rumah Nene, sejak telunjuknya yang basah menempel di dadaku, ada pintu di dalam diriku yang sudah tidak bisa ditutup lagi.
“Tanggal delapan belas Oktober itu bukan tanggal lahir saya,” kataku. “Itu tanggal saya datang ke panti. Umur empat. Nggak ada yang tahu saya lahir kapan. Akte nggak ada. Orang tua saya meninggal di jalan tol Padaleunyi, dan semua surat ikut hangus di mobil. Bu Rahmah, ibu panti, milih tanggal itu buat saya. Katanya, angka delapan nggak ada ujungnya, jadi saya juga harus nggak ada ujungnya.”
Anggita tidak berkata apa-apa. Tapi ia bergeser sedikit lebih dekat.
“Panti nggak punya uang buat beli kue ulang tahun buat empat puluh satu anak. Jadi nggak ada yang ngerayain. Kecuali kakak saya.” Aku tertawa pelan, dan tawanya terdengar aneh di telingaku sendiri. “Setiap delapan belas Oktober, dia nyelinap ke dapur jam sembilan malam waktu semua udah tidur. Dia ambil tiga lembar roti tawar, oles mentega, taburin gula pasir di antara lapisannya, numpuk jadi satu. Terus dia ambil satu lilin dari laci darurat Bu Rahmah. Lilin buat mati lampu. Kecil, putih, jelek. Dia tancepin di tengah roti itu, nyalain pakai korek dapur, terus bawa ke gudang belakang, tempat kami biasa ngumpet.”
Tenggorokanku mulai sakit, jadi aku berhenti. Anggita menunggu.
“Dia nyanyiin selamat ulang tahun. Pelan banget, bisik-bisik, biar nggak ketahuan. Suaranya jelek, fals. Lebih fals dari Mang Ujang.” Aku tersenyum. “Terus dia bilang, ‘Tiup, Rief. Minta yang banyak. Kakak udah minta buat kamu juga.’”
“Kamu minta apa?”
“Tiap tahun sama.” Aku memandangi kebun yang gelap. “Minta Kakak nggak pergi.”
Hening. Dangdut di ruang karyawan sudah berganti lagu pop Sunda. Seseorang tertawa keras sekali, mungkin Asep.
“Terus dia pergi,” kata Anggita. Bukan pertanyaan.
“Dia diadopsi. Umur enam belas. Saya yang nyuruh dia pergi.” Aku menunduk. “Saya nggak pernah ketemu dia lagi.”
Aku merasakan tangannya menyentuh punggung tanganku di atas tikar saung. Hanya sebentar. Lalu ia berdiri.
“Tunggu di sini,” katanya. “Jangan ke mana-mana. Jangan kabur lagi.”
“Mau ke mana?”
Ia sudah berlari menuruni tangga saung, melintasi kebun dalam gelap, menuju pintu belakang dapur restoran. Aku mendengar ia tersandung sesuatu, mungkin selang air, mengumpat pelan dalam bahasa Inggris, lalu terus berlari.
Aku menunggu.
Lima menit. Sepuluh. Lima belas.
Lalu aku melihat cahaya kecil bergerak di kebun. Satu titik kuning yang bergoyang, berjalan pelan sekali, seolah orang yang membawanya takut titik itu akan padam kalau ia melangkah terlalu cepat.
Anggita naik ke saung dengan dua tangan memegang piring kaleng dapur, piring seng biasa yang dipakai karyawan untuk makan siang. Di atasnya ada tiga lembar roti tawar yang ditumpuk agak miring, dengan mentega yang meleleh di pinggirnya dan gula pasir yang berceceran. Di tengahnya, menancap agak bengkok, ada satu lilin kecil putih.
Lilin mati lampu. Ia pasti mengambilnya dari laci darurat di dapur, yang kuisi sendiri bulan lalu.
Ia duduk berlutut di depanku dan menyodorkan piring itu.
“Aku nggak bisa nyanyi,” katanya. Suaranya bergetar. “Suaraku juga fals. Mungkin lebih fals dari kakak kamu. Tapi...”
Ia menarik napas, lalu bernyanyi.
Pelan. Bisik-bisik. Seolah takut ketahuan, padahal tidak ada siapa-siapa di kebun itu selain kami, jangkrik, dan bulan yang separuh tertutup awan.
Selamat ulang tahun... selamat ulang tahun...
Suaranya memang fals, dan di nada tinggi ia hampir tertawa sendiri, tapi ia tidak berhenti.
Aku tidak tahu kapan mulai menangis. Aku hanya tahu bahwa di tengah lagu itu, pandanganku kabur, lilin kecil itu berubah jadi bintang yang pecah, dan sesuatu yang hangat mengalir di pipiku tanpa izin. Aku menunduk supaya ia tidak melihat. Bahuku bergetar. Aku menutup mulut dengan punggung tangan supaya tidak ada suara.
Empat belas tahun. Empat belas tahun aku tidak menangis. Tidak waktu wisuda S1 tanpa ada keluarga yang datang, tidak waktu wisuda S2 dengan Nene sebagai satu-satunya orang di kursi tamu. Tidak juga waktu lima tahun lalu aku kembali ke Cimahi dan mendapati gedung panti sudah berganti nama, papannya sudah dicat ulang, dan tidak ada satu pun orang di sana yang ingat ada anak bernama Kanaya.
Malam ini aku menangis karena tiga lembar roti tawar.
Anggita selesai menyanyi. Ia tidak berkata apa-apa tentang air mataku. Ia tidak memelukku dan tidak menyentuhku. Ia hanya tetap berlutut di depanku, memegang piring seng itu dengan dua tangan yang sedikit gemetar, menunggu.
“Tiup,” bisiknya akhirnya. “Minta yang banyak.”
Aku mengusap mataku dengan lengan baju, lalu memandang lilin itu.
Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam dua puluh empat tahun, aku meminta sesuatu yang berbeda.
Aku tidak memberi tahu Anggita apa yang kuminta. Ia juga tidak bertanya.
Aku meniup lilin itu, dan saung menjadi gelap.
Dalam gelap, aku mendengar Anggita menghela napas panjang, seperti orang yang sejak tadi lupa bernapas. Lalu aku mendengar ia tertawa kecil, basah.
“Aku nangis duluan pas nyanyi bait kedua,” akunya. “Kamu nggak lihat karena kamu nunduk.”
“Saya lihat.”
“Bohong.”
“Saya selalu lihat, Teh.”
Ia tidak menjawab. Dalam gelap, ia mematahkan roti tawar itu jadi dua, tidak di tengah, lalu menyodorkan bagian yang lebih besar ke tanganku.
Interlude
POV: Kanaya
Jam sembilan malam, kamar hotel di lantai dua puluh dua Sirius Tower, Surabaya.
Bryan sudah kusuruh tidur di kamarnya sendiri. Ia sempat bertanya kenapa aku memesan roti tawar, mentega, dan gula pasir dari layanan kamar, dan aku menjawab bahwa itu urusan pribadi. Ia memandangiku dengan curiga, lalu dengan pasrah, lalu memesan tambahan: alat pemadam api kecil, “buat jaga-jaga, Bu.”
Aku menyusun roti itu di atas meja kerja, di samping laptop yang masih menampilkan laporan kuartal ketiga. Tiga lembar. Mentega. Gula. Tumpukannya miring, seperti biasa.
Lilinnya kuambil dari tas. Lilin mati lampu biasa yang kubeli satu kotak di minimarket bandara Soekarno-Hatta empat tahun lalu dan kubawa ke mana-mana. Kotaknya tinggal tiga batang.
Aku menyalakannya dengan korek api hotel.
Lalu aku duduk di lantai, bersandar ke kaki tempat tidur, memeluk lutut, dan memandangi nyala kecil itu bergoyang ditiup udara dari pendingin ruangan.
“Selamat ulang tahun, Rief,” bisikku ke kamar kosong.
Aku tidak bernyanyi. Aku sudah lama berhenti bernyanyi. Suaraku memang selalu fals, dan tanpa ada yang mendengarkan, rasanya seperti bernyanyi untuk dinding.
Di laptop, ada satu email baru dari Pak Sutomo. Subjeknya: Update – data alumni kampus Jawa Barat. Aku belum membukanya. Aku tidak akan membukanya malam ini, karena malam ini aku tidak sanggup membaca kata bukan sekali lagi.
“Kamu dua puluh delapan sekarang,” kataku pada lilin itu. “Udah tua.”
Lilin itu tidak menjawab.
“Kamu udah makan?” Aku mengusap mataku. “Ada yang bikinin kamu kue nggak? Ada yang inget nggak?”
Di luar jendela, lampu-lampu Surabaya berkelip seperti biasa. Di suatu tempat, kalau ia masih hidup, adikku sedang merayakan atau tidak merayakan hari ia sampai di panti, dua puluh empat tahun lalu, dengan baju kebesaran dan tangan yang tidak mau melepaskan tanganku.
Malam itu aku belum tahu bahwa di jarak tujuh ratus kilometer dari kamar hotel itu, di sebuah saung gelap di kebun belakang restoran Sunda di Dago, seseorang baru saja menyalakan satu lilin putih kecil di atas tiga lembar roti tawar untuknya.
Aku belum tahu bahwa untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun, ia tidak sendirian.
Aku meniup lilinku.
“Kakak udah minta buat kamu juga,” bisikku.
Lalu, seperti setiap tahun, aku memakan roti itu sendirian. Bagian yang lebih besar kusisihkan di piring, untuk seseorang yang tidak akan datang.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar reading
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu