Chapter Twenty Four

Lantai 27

POV: Arief

Ruang rapat utama lantai 27 Exo Tower lebih besar dari seluruh dapur pusat Bumi Ni Dewi Dago.

Aku mengukurnya tanpa sadar, kebiasaan lama: kira-kira dua belas kali delapan meter. Meja kayu walnut gelap untuk dua puluh orang membentang di tengah, dengan kursi kulit hitam yang sandarannya lebih tinggi dari kepala orang yang duduk. Satu dinding seluruhnya kaca, dari lantai sampai langit-langit, menghadap ke Jakarta: gedung-gedung abu-abu, jalan tol yang membelah kota seperti sungai mobil, dan langit kelabu yang tidak pernah bisa memutuskan apakah akan hujan atau tidak.

Dinding seberangnya layar. Bukan proyektor, layar besar setinggi dua meter. Di atasnya sudah menyala satu tulisan: Rapat Final — Kemitraan Strategis Sastrawidjaya Group & PT Bumi Ni Dewi.

Jam sembilan lewat empat puluh, ruangan itu sudah setengah terisi.

Ervan mengantarku ke kursi di sisi kanan meja, dekat ujung yang menghadap layar, kursi presentasi. Di depan kursi itu ada papan nama kecil dari akrilik: Bpk. Arief — Head of Operations Transformation, PT Bumi Ni Dewi.

Aku memandangi papan nama itu. Seumur hidup aku belum pernah duduk di depan papan nama akrilik.

“Colok di situ,” kata Ervan, menunjuk lubang kabel di meja. Suaranya pelan dan tegang. “Laptop lo nyambung otomatis ke layar.”

Aku mencolokkan laptop. Layar besar di dinding berkedip, lalu menampilkan slide pertamaku: logo Bumi Ni Dewi, logo lama, karena logo baru Gita belum resmi dipakai. Di bawahnya: Sistem Operasional Terpusat: Dari 47 Dapur, Satu Kebenaran.

Gita yang memilih judul itu. Ia mengirimkannya lewat grup kerja hari Selasa, tanpa kata pengantar, hanya judul itu dan satu emoji jempol. Aku memakainya tanpa mengubah satu huruf pun.


Om Rudi dan Uwa Haris sudah duduk di sisi kiri meja, bersama satu staf hukum dari kantor Jakarta. Uwa Haris mengangguk padaku dengan wajah kalem seperti biasa. Om Rudi tersenyum lebar, dan senyumnya bergetar di pinggir.

“Rief! Akhirnya! Gimana kereta? Lancar?”

“Lancar, Om.”

“Bagus, bagus.” Om Rudi mengacungkan jempol, lalu memandangi layar besar di dinding, lalu memandangiku lagi. Matanya berkata hal yang sama dengan teleponnya hari Sabtu. Yang diminta aja, ya.

Aku mengangguk sedikit, dan ia menghembuskan napas.

Di sisi meja yang lain, orang-orang Sastrawidjaya mulai berdatangan. Pak Hendrawan, Direktur Rasa Sastra, yang kukenal dari email-emailnya, laki-laki berumur lima puluhan dengan kacamata tipis dan senyum yang dilatih. Direktur keuangan, Pak Wibowo, yang tidak tersenyum sama sekali. Dua konsultan muda dari firma Singapura yang berbicara bahasa Inggris satu sama lain dengan suara pelan. Seorang anak muda berumur sekitar tiga puluh dengan setelan jas rapi, tablet di tangan, dan wajah orang yang sudah minum tiga gelas kopi sebelum jam sepuluh. Ia memperkenalkan diri sebagai Bryan, asisten pribadi CEO, lalu memandangiku satu detik terlalu lama sebelum duduk di kursi di belakang kursi kepala meja.

Lalu pintu terbuka lagi, dan seorang perempuan berumur lima puluhan masuk.

Ia memakai blus krem.

Ia berjalan dengan tenang, dengan tas tangan kecil di lengan dan kerudung tipis warna pasir yang disampirkan longgar di bahu. Wajahnya lembut, sopan, terawat. Senyumnya membuat orang-orang di ruangan setengah berdiri sebelum sadar mereka sedang berdiri.

“Ibu Liliana,” kata Pak Hendrawan sambil berdiri sepenuhnya. “Selamat pagi, Bu.”

Ibu Liliana Sastrawidjaya. Komisaris. Mama Liliana, yang disebut Om Rudi di meja makan keluarga. Ibu dari Ervan, dan orang yang menjodohkan anaknya dengan Gita.

Ia berjalan ke sisi meja kami, menyalami Uwa Haris dan Om Rudi dengan dua tangan, lalu berhenti di depanku.

“Jadi ini,” katanya, dengan suara yang sangat lembut, “yang bikin sistemnya? Muda sekali.”

Ia mengulurkan tangan. Aku berdiri dan menyambutnya.

Tangannya halus, dingin, dan kecil. Ia menggenggam tanganku dengan sopan, dua detik, seperti menggenggam tangan siapa saja yang baru ia temui di rapat bisnis.

Aku memandangi wajahnya.

Ada sesuatu. Aku tidak tahu apa. Sesuatu di senyum itu, sopan, sangat sopan, yang membuat orang mengangguk sebelum sadar sedang diminta apa. Sesuatu di cara ia memiringkan kepala sedikit ke kiri waktu bicara. Sesuatu di blus krem itu.

Sesuatu yang membuat bagian kecil di belakang tengkukku dingin.

Aku sudah bertemu ratusan perempuan berumur lima puluhan yang memakai blus krem. Istri pejabat yang memesan katering. Ibu-ibu arisan. Pelanggan setia yang datang setiap Lebaran. Blus krem adalah warna paling umum di lemari ibu-ibu kelas menengah atas Indonesia, aku tahu, karena Gita pernah menunjukkannya padaku dalam riset persona pelanggan.

“Terima kasih, Bu,” kataku.

Ibu Liliana tersenyum sekali lagi, melepaskan tanganku, dan berjalan ke kursinya di sebelah kanan kursi kepala meja.

Ia tidak mengenaliku.

Aku tidak tahu kenapa aku memikirkan kalimat itu, karena tidak ada alasan baginya untuk mengenaliku.

Tapi di belakangku, dari sudut mata, aku melihat Ervan, yang berdiri di dekat jendela kaca dengan dua tangan di saku, sedang memandangi ibunya dengan wajah yang sangat sedih.


Jam sepuluh kurang dua menit, semua kursi sudah terisi kecuali satu: kursi di kepala meja.

Kursi itu sama dengan kursi lain, kulit hitam dengan sandaran tinggi. Tapi tidak ada yang meletakkan apa pun di meja di depannya. Tidak ada gelas, tidak ada map, tidak ada tablet. Orang-orang di ruangan itu memperlakukan kursi itu seperti memperlakukan kursi Nene di kepala meja makan keluarga: kursi yang tidak boleh disentuh sebelum pemiliknya datang.

Ervan duduk di kursi di sebelah kiri kursi kepala meja. Ia tidak memandangi kursi itu. Ia memandangiku.

Jam sepuluh tepat, pintu terbuka.

Bryan berdiri dari kursinya, dengan postur seperti tentara yang mendengar terompet.

“Bapak-bapak, Ibu-ibu,” katanya dengan suara yang jelas. “Ibu Kanaya Sastrawidjaya. CEO Sastrawidjaya Group.”


Ada momen-momen dalam hidup yang tidak terjadi dalam waktu.

Aku tidak tahu cara lain menjelaskannya. Aku orang yang hidup dalam waktu: jam empat bangun, jam lima lewat sepuluh di dapur, dua belas menit untuk memindahkan stok, enam puluh hari sebelum lelang. Aku mengukur segala sesuatu dengan waktu, karena waktu adalah satu-satunya hal yang sama untuk semua orang.

Tapi ada momen yang tidak bisa diukur. Momen yang terjadi di luar jam, seperti foto yang diambil dari dalam mimpi.

Saat mobil hitam itu berbelok ke jalan besar dan hilang, dan tali sandal jepitku putus.

Saat Gita menyanyikan selamat ulang tahun di saung gelap dengan suara fals, di atas tiga lembar roti tawar.

Dan saat Bryan mengucapkan satu nama, di lantai 27 Exo Tower, jam sepuluh tepat.

Kanaya.

Aku tidak bernapas.

Aku tidak memutuskan untuk berhenti bernapas. Paru-paruku berhenti sendiri, seperti mesin mobil di tanjakan Cikole, terbatuk sekali lalu diam. Jantungku juga tidak berdetak lebih cepat. Jantungku berhenti, satu detak, dua, lalu memukul dadaku sekali dengan sangat keras, seperti seseorang menggedor pintu dari dalam.

Seorang perempuan masuk ke ruang rapat.

Tinggi. Lebih tinggi dari yang kuingat, tapi semua orang lebih tinggi dari yang diingat oleh anak berumur empat belas. Rambutnya sebahu, hitam, lurus, dan rapi, dengan satu sisi diselipkan di belakang telinga. Ia memakai setelan hitam tanpa motif, kemeja putih di dalamnya, dan sepatu hak rendah. Tidak ada perhiasan kecuali jam tangan kecil di pergelangan kiri. Ia membawa laptop tipis di satu tangan dan secangkir kopi di tangan yang lain.

Wajahnya cantik dengan cara yang dingin dan tidak meminta izin. Wajah perempuan yang terbiasa dipandangi dan tidak lagi peduli.

Ia tidak memandangi siapa pun di ruangan. Ia berjalan ke kursi di kepala meja, meletakkan laptop, meletakkan kopi, menarik kursi, dan duduk. Semua dalam empat gerakan, tanpa satu gerakan pun yang terbuang.

Lalu ia membuka laptopnya dan berkata, tanpa mengangkat kepala:

“Selamat pagi. Mulai.”

Suaranya rendah, jelas, dan sedikit serak di ujung, seperti suara orang yang tidak tidur cukup.

Aku tidak mengenali suara itu.

Itu yang pertama kali kupikirkan. Aku tidak mengenali suara itu, dan entah kenapa itu membuat dadaku sakit dengan cara yang tidak bisa kujelaskan. Suara Kak Kanaya yang kuingat adalah suara anak perempuan berumur enam belas, tipis dan galak, yang berbisik di gudang belakang di antara kardus mi instan. Kamu bodoh. Lain kali jangan berani sendirian.

Suara ini suara perempuan berumur tiga puluh. Suara CEO yang menyuruh dua belas orang memulai rapat tanpa mengangkat kepala.

Empat belas tahun mengubah suara orang. Aku tahu itu. Suaraku sendiri pecah di umur lima belas, di dapur Bumi Ni Dewi Cimahi, dan sejak itu aku tidak pernah mendengar suara anak laki-laki yang dulu memanggil Kak.

Ada banyak perempuan bernama Kanaya di Indonesia. Aku tahu, karena aku pernah mencari. Tahun pertama kuliah, di laboratorium komputer UI jam dua pagi, aku mengetik Kanaya di setiap media sosial yang ada dan menemukan ribuan. Kanaya penyanyi, Kanaya dokter gigi, Kanaya pemilik toko kue di Medan. Tidak ada satu pun yang berumur enam belas di tahun yang tepat dan pernah tinggal di panti di Cimahi. Atau mungkin ada, tapi aku tidak pernah tahu, karena aku tidak tahu nama belakangnya. Bu Rahmah tidak pernah memberitahuku. Itu syarat mereka, Rief.

Sastrawidjaya.

Nama itu kudengar pertama kali di meja makan keluarga Nene, tiga minggu lalu, dari mulut Om Rudi. Keluarga Sastrawidjaya. Annex Tower, Exo Tower, Sirius Tower. Nama yang terdengar seperti nama gedung di Jakarta, seperti nama bank. Nama yang besar, berkaca, dan jauh.

Kakaknya yang sekarang pegang grupnya, perempuan, hebat sekali, lulusan Amerika.

Kalimat itu juga kudengar di meja makan yang sama, dan lewat begitu saja di kepalaku, tanpa getaran apa pun, seperti nama pemasok baru.

Kakak gue juga gitu. Bisa ngebaca angka dari jarak tiga meter dan tahu angkanya bohong atau nggak.

Lo punya kakak?

Lo ulang tahun kapan?

Sendok yang berputar di akhir, seperti orang menutup kunci.

Piring yang tenggelam di bak cuci. Mobil sedan hitam di parkiran Dago, dengan seseorang yang menangis di dalamnya sambil menempelkan dahi di sandaran kursi depan.

Atas usulan Bapak Ervan Sastrawidjaya.

Dua puluh tiga pertanyaan uji tuntas yang membaca jejakku tanpa tahu itu jejakku.

Papan merah muda dengan glitter perak di pintu kedatangan Halim. Lo udah sarapan?

Kalau ada yang berhenti di tengah jalan, lo jangan panik. Lo tunggu aja.

Semua potongan itu bergeser ke tempatnya sekaligus, dengan bunyi klik yang hanya bisa kudengar sendiri, seperti empat puluh tujuh titik di peta yang berubah hijau di detik yang sama.

Aku tahu.

Aku tidak percaya. Aku tidak boleh percaya. Harapan yang terlalu sering dibangun dan dirobohkan lama-lama menjadi semacam penyakit, dan aku sudah terlalu sering sakit: perempuan berkepang di Pasar Baru, tawa di peron Stasiun Bandung, ribuan nama Kanaya di laboratorium komputer jam dua pagi.

Tapi aku tahu.


“Pak Arief?”

Suara Pak Hendrawan. Aku menoleh. Semua orang di ruangan sedang memandangiku, kecuali satu orang di kepala meja, yang masih memandangi laptopnya.

“Silakan dimulai, Pak.”

Aku memandangi layar besar di dinding. Sistem Operasional Terpusat: Dari 47 Dapur, Satu Kebenaran.

Lihat angkanya, kata surat di dompetku. Jangan lihat orangnya.

Aku berdiri.

Aku tidak ingat memutuskan untuk berdiri. Kakiku berdiri sendiri, seperti waktu aku berdiri di kursi paling belakang rapat direksi Bumi Ni Dewi saat Gita berlutut di samping kursi Nene. Tanganku memegang clicker presentasi, dan aku melihatnya gemetar. Aku menggenggamnya lebih erat sampai gemetarnya berhenti.

“Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu,” kataku.

Suaraku terdengar normal. Aku sudah sangat terlatih membuat suaraku terdengar normal. Tiga belas tahun di dapur, di rapat direksi, di depan bank, di depan Nene. Aku tahu cara membuat suaraku terdengar seperti tidak ada apa-apa, bahkan ketika ada segalanya.

“Nama saya Arief. Saya Head of Operations Transformation di PT Bumi Ni Dewi. Pagi ini saya akan menjelaskan sistem operasional terpusat yang kami bangun selama tiga tahun terakhir, dan menjawab dua puluh tiga pertanyaan uji tuntas yang dikirimkan Sastrawidjaya Group minggu lalu.”

Di kepala meja, perempuan itu tidak mengangkat kepala. Jarinya bergerak di trackpad laptop. Ia membaca sesuatu, mungkin slide-ku yang sudah dikirim Pak Hendrawan kemarin malam, mungkin laporan lain, mungkin email.

Aku tidak memandanginya.

Aku memandangi angka.


Aku presentasi selama dua puluh dua menit.

Aku menjelaskan label warna dan bentuk di rak sambal, segitiga, lingkaran, dan kotak, untuk karyawan yang buta warna. Aku menjelaskan dasbor stok yang memungkinkan pemindahan ikan mas dari Cimahi dan Padalarang dalam dua belas menit saat umbalan di Cirata. Aku menjelaskan centong standar Garut: bukan angka, tapi alat. Aku menjelaskan pemisahan QRIS sebelum dan sesudah jam sembilan malam di Tasik, dan uang Teh Yuyun yang dikembalikan. Aku menjelaskan pos tanggung jawab sosial Garut, nasi bungkus Pak Encep, dua puluh lima bungkus sehari dari sisa bahan yang masih layak, dicatat di sistem, diawasi lewat foto harian.

Pak Wibowo, direktur keuangan yang tidak tersenyum, mencatat dengan cepat dan mengangguk dua kali. Dua konsultan Singapura berhenti berbisik dan mulai menulis. Pak Hendrawan tersenyum, kali ini tanpa latihan. Uwa Haris membetulkan kacamatanya dan memandangiku dengan wajah yang hanya pernah ia tunjukkan sekali, di makan siang keluarga, waktu aku membatalkan lima cabang baru dengan satu peta.

Om Rudi memandangi layar dengan mata berkaca-kaca, dan aku tidak tahu kenapa.

Ibu Liliana duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, mendengarkan dengan senyum sopan yang tidak berubah.

Ervan tidak mendengarkan presentasiku sama sekali. Ia memandangi kakaknya.

Di kepala meja, perempuan itu masih membaca laptopnya. Sekali-sekali jarinya berhenti di trackpad, lalu bergerak lagi. Sekali, waktu aku menjelaskan pemisahan QRIS di Tasik, ia mengangkat cangkir kopinya, meminumnya, dan menaruhnya kembali tanpa mengangkat mata. Sekali, waktu aku menjelaskan nasi bungkus Pak Encep, jarinya berhenti di trackpad lebih lama dari biasanya. Tiga detik, empat. Lalu bergerak lagi.

Ia mendengarkan. Aku tahu ia mendengarkan, karena di setiap angka yang kusebut, kepalanya bergerak sedikit sekali ke arah layar besar. Bukan mendongak, hanya bergeser, seperti orang yang membaca dua halaman sekaligus.

Dan ia tidak mengenali suaraku.

Tentu saja tidak. Suaraku pecah di umur lima belas, setahun setelah ia pergi. Ia tidak pernah mendengar suara laki-laki yang sekarang berdiri di ruangan ini. Ia hanya pernah mendengar suara anak laki-laki berumur empat belas yang berkata Kak, pergi.


“Pertanyaan nomor empat belas,” kataku di menit kedua puluh. “Mode offline cabang Pangandaran saat go-live.”

Aku menggeser slide. Di layar besar muncul diagram sederhana yang kugambar sendiri: tablet kasir, kotak berlabel antrean lokal, panah putus-putus ke server pusat, dan satu power bank merah dengan stiker segitiga.

“Cabang-cabang di pesisir selatan, Pangandaran, Cipatujah, dan Santolo, punya sinyal yang tidak stabil dan listrik yang sering padam. Kami merancang sistem kasir supaya tetap bisa mencatat transaksi tanpa internet. Setiap transaksi disimpan di memori lokal tablet dengan penanda waktu dan nomor urut, lalu dikirim otomatis begitu koneksi kembali. Server pusat mencocokkan nomor urut untuk memastikan tidak ada yang ganda atau hilang.”

Aku menggeser slide lagi.

“Saat go-live tanggal enam November, cabang Pangandaran kehilangan listrik dan internet selama empat puluh menit karena gangguan PLN. Seratus dua belas transaksi tercatat di tablet. Semuanya masuk ke server pusat dalam sembilan detik setelah listrik pulih. Nol yang hilang. Nol yang ganda.”

Ruangan diam.

Lalu, dari kepala meja, suara rendah yang sedikit serak itu bicara untuk kedua kalinya pagi itu.

“Siapa yang merancang arsitekturnya?”

Ia masih tidak mengangkat kepala. Jarinya diam di atas trackpad. Pertanyaannya keluar datar, seperti pertanyaan nomor empat belas di daftar uji tuntas, persis seperti yang tertulis: Jelaskan arsitektur mode offline dan siapa perancangnya.

“Saya, Bu,” kataku.

Ia mengangkat kepala.


Matanya.

Aku tidak tahu kenapa aku tidak mengenali suaranya tapi langsung mengenali matanya. Mungkin karena suara berubah dan mata tidak. Mungkin karena mata itu sudah empat belas tahun kulihat setiap malam sebelum tidur, di langit-langit kamar panti, di langit-langit kos di Sekeloa, di langit-langit kamar asrama UI, dalam gelap.

Mata yang memandangiku di gudang belakang, di antara kardus mi instan, waktu mengusap alisku dengan obat merah yang dicuri dari UKS. Mata yang memandangiku lama sekali, dengan tatapan orang yang baru sadar adiknya bisa terluka karena dirinya, dan membenci kenyataan itu.

Mata yang memandangiku dari jendela belakang mobil hitam, waktu mobil itu melaju keluar gerbang dan aku berlari mengejarnya dengan sandal jepit yang talinya putus.

Mata itu sekarang memandangiku dari kepala meja walnut gelap di lantai 27 Exo Tower.

Pertama, mata itu memandangi wajahku seperti CEO memandangi orang yang baru menjawab pertanyaan uji tuntas: menilai, mengukur, tanpa emosi.

Lalu mata itu bergerak.

Dari dahiku. Ke mataku. Ke hidungku. Lalu berhenti.

Di ujung alis kiriku. Di garis tipis yang sedikit lebih terang dari kulitku yang sawo matang, yang memotong ujung alis seperti garis yang lupa dihapus, di tempat yang dulu ditutupi plester cokelat di foto polaroid.

Aku melihat matanya berhenti di sana.

Aku melihat warna hilang dari wajahnya. Bukan sekaligus, pelan-pelan, dari dahi turun ke pipi, lalu ke bibir, seperti air yang surut dari pasir.

Aku melihat jarinya di atas trackpad berhenti, lalu gemetar, lalu terangkat sedikit dari permukaan laptop dan menggantung di udara, seolah lupa sedang melakukan apa.

Aku melihat bibirnya terbuka. Ia hendak mengatakan sesuatu, mungkin pertanyaan berikutnya, nomor lima belas, atau mungkin terima kasih, Pak Arief, silakan dilanjutkan.

Kalimat itu tidak keluar.

Ia berhenti bicara.

Pulpen yang ia pegang di tangan kirinya, pulpen hitam dengan logo Sastrawidjaya Group, terlepas dari jarinya, jatuh ke meja walnut gelap dengan bunyi kecil yang terdengar sangat keras di ruangan yang tiba-tiba sangat sunyi, lalu menggelinding pelan ke pinggir meja.

Tidak ada yang memungutnya.

Tidak ada yang bergerak.

Dua belas orang di ruangan itu memandangi CEO mereka, yang memandangi Head of Operations Transformation dari sebuah jaringan restoran Sunda di Bandung, yang berdiri di depan layar besar dengan clicker di tangan, dan yang juga tidak bergerak.

Di sebelah kiri kursi kepala meja, Ervan menutup mulutnya dengan dua tangan.

Pulpen hitam itu sampai di pinggir meja, berhenti sebentar, lalu jatuh ke karpet.

Bunyinya hampir tidak terdengar.

Tapi aku mendengarnya.

Dan di bunyi itu, setelah empat belas tahun, aku mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh siapa pun di ruangan itu kecuali kami berdua. Bunyi tali sandal jepit yang putus di ujung gang, dan bunyi mobil hitam yang berbelok ke jalan besar dan menghilang.

Dan bunyi kakakku yang, untuk pertama kalinya sejak hari itu, berhenti pergi.