Chapter Fifteen
Pengumuman di Meja Makan
POV: Arief
Hari Minggu, jam sebelas lewat empat puluh, ruang makan rumah besar Nene penuh.
Aku menghitungnya dari ambang pintu dapur, kebiasaan lama. Dua puluh tiga orang. Nene di kepala meja. Uwa Haris dan istrinya, Wa Euceu. Bi Ratna, yang datang dengan mata sembap kurang tidur setelah katering dua ribu porsi kemarin tapi memaksa hadir karena “Rudi teh jarang ngumpulkeun sarerea.” Om Rudi dan Tante Lusi. Empat sepupu dari Cimahi dengan anak-anak mereka yang masih kecil, berlarian di sekitar meja sampai ditegur Nene dengan satu ketukan tongkat. Dua besan dari pihak Wa Euceu yang kebetulan sedang berkunjung. Mak Odah dan Mak Iyah, yang kali ini tidak di dapur karena Nene menyuruh mereka duduk juga.
Dan Gita, di kursi nomor sepuluh. Kursi nomor sembilan di sebelahnya kosong, dan tangannya menahan sandaran kursi itu supaya tidak ada sepupu yang duduk di sana.
Ia melihatku di ambang pintu dan tersenyum. Senyumnya cepat dan rahasia, hanya untuk satu orang, dengan pipi yang langsung memerah. Aku tahu ia sedang memikirkan atap semalam, dan aku juga sedang memikirkannya.
Aku menaruh teko teh yang tanpa sadar sudah kupegang, lalu berjalan ke kursi nomor sembilan dan duduk.
Di bawah meja, kakinya langsung menyenggol kakiku. Hai.
Aku menyenggol balik. Hai.
“Rief,” bisiknya tanpa menoleh, sambil pura-pura merapikan serbet. “Bibir kamu.”
“Kenapa bibirku?”
“Nggak apa-apa. Cuma pengen nyebut aja.”
Aku memandangi piring kosong di depanku dengan sangat serius. Di seberang meja, Bi Ratna memandangi kami berdua dengan mata menyipit seperti detektif yang baru menemukan petunjuk baru. Ia mengeluarkan ponsel, melirik ke arah Nene, lalu memasukkannya lagi dengan berat hati.
Makanannya enak, karena Nene sendiri yang memasak sejak subuh: nasi liwet di tiga kastrol besar, ayam goreng serundeng, gurame pesmol, sayur lodeh, tahu-tempe bacem, sambal terasi, lalapan dari kebun belakang, kerupuk aci yang digoreng Mak Iyah, dan colenak untuk pencuci mulut, dua nampan penuh.
Om Rudi makan sedikit. Aku memperhatikannya. Ia mengambil nasi satu centong, ayam satu potong, dan sambal sesendok, lalu memindah-mindahkan semuanya di piring dengan garpu sambil tertawa pada lelucon sepupu dari Cimahi. Tawanya keras dan selesainya terlalu cepat, seperti lampu yang dimatikan.
Tante Lusi di sebelahnya tidak makan sama sekali. Tangannya di pangkuan, menggenggam ujung kerudungnya.
Nene makan seperti biasa: pelan, sedikit, dengan sambal tiga kali tambah. Ia tidak melihat Om Rudi, tidak melihatku, dan tidak melihat siapa pun. Ia memandangi piringnya seperti orang yang sedang berdoa.
Aku memandangi Nene, dan sesuatu di perutku yang tadi hangat oleh harapan pelan-pelan mendingin.
Kalau Om Rudi akan mengaku hari ini, kalau Nene sudah bicara dengannya kemarin dan memutuskan bahwa urusan keluarga diselesaikan di meja makan keluarga, maka seharusnya ada sesuatu di antara mereka. Tatapan, anggukan kecil, atau ketegangan. Seorang ibu yang akan mendengar anaknya mengaku di depan dua puluh tiga orang tidak akan makan sambal tiga kali tambah dengan tenang.
Kecuali kalau Nene sudah tahu apa yang akan dikatakan, dan apa yang akan dikatakan bukan pengakuan.
Aku menyingkirkan pikiran itu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri di atap semalam untuk berharap. Satu hari ini saja.
Jam dua belas lewat dua puluh, saat colenak dihidangkan, Om Rudi berdiri.
Ia mengetuk gelas tehnya dengan sendok, tiga kali. Bunyinya nyaring di ruang makan yang tiba-tiba hening. Anak-anak sepupu berhenti berlari. Mak Odah berhenti menuang teh.
“Sadayana,” kata Om Rudi, dan suaranya keras dan riang seperti biasa, seperti suara orang yang akan membuka acara pernikahan. “Hatur nuhun parantos sumping. Rudi tahu Ratna kecapekan habis katering, Haris harusnya ke Cileunyi ngecek dapur satelit, anak-anak Cimahi harusnya les. Tapi Rudi minta semua dateng, karena ada kabar penting. Kabar baik.”
Ia tersenyum ke seluruh meja. Senyumnya lebar, tapi tidak sampai ke mata.
Di bawah meja, kaki Gita menyenggol kakiku. Ini dia.
Aku tidak menyenggol balik. Aku memandangi Om Rudi.
“Kalian semua tahu,” lanjut Om Rudi, “dua tahun terakhir Rudi pegang ekspansi Jakarta. Dan Rudi harus jujur...”
Napasku berhenti. Jujur. Kata itu. Ini dia. Ini pengakuannya.
“...ekspansi Jakarta nggak semudah yang Rudi kira.” Om Rudi tertawa kecil, sedikit malu, dan beberapa orang di meja ikut tertawa simpati. “Pasar Jakarta keras. Biaya tinggi. Ada beberapa kendala pembiayaan yang... yah, yang bikin Rudi pusing. Sampai Lusi bilang rambut Rudi rontok.”
Tawa lagi, lebih banyak. Tante Lusi tidak tertawa.
Kendala pembiayaan. Bukan dua belas cabang yang dijaminkan, bukan dua puluh tiga koma enam miliar, bukan tanggal satu Januari. Hanya kendala pembiayaan, diucapkan sambil tertawa dan diselipkan di antara lelucon rambut rontok.
Harapanku retak di satu sudut.
“Tapi,” Om Rudi mengangkat telunjuknya, dan suaranya naik dengan semangat, “Alhamdulillah, Gusti Allah ngasih jalan. Rudi ketemu dengan satu keluarga di Jakarta. Keluarga pengusaha besar, keluarga baik-baik, keluarga yang visinya sama dengan kita. Mereka punya grup properti. Annex Tower, Exo Tower, Sirius Tower di Jakarta sama Surabaya, itu punya mereka. Mereka juga punya Rasa Sastra, kopi sama teh yang di mal-mal itu, yang Gita suka beli.”
Gita mengangguk pelan di sebelahku. Aku melihat dari sudut mata, ia sedang mendengarkan dengan serius, wajahnya sopan dan tertarik, wajah cucu yang mendengarkan pengumuman bisnis keluarga.
“Keluarga Sastrawidjaya,” kata Om Rudi.
Sastrawidjaya.
Nama itu tidak berarti apa-apa bagiku. Kedengarannya seperti nama gedung di Jakarta, seperti nama jalan atau nama bank, sesuatu yang besar, berkaca, dan jauh. Aku mencatatnya di kepala seperti mencatat nama pemasok baru, tanpa curiga dan tanpa getaran apa pun.
“Grup Sastrawidjaya mau kerja sama dengan Bumi Ni Dewi,” lanjut Om Rudi. “Rasa Sastra bakal masuk ke semua empat puluh tujuh cabang kita. Kopi sama teh mereka di meja makan kita. Dan mereka siap investasi. Investasi besar. Cukup untuk...” Ia berhenti sebentar, memilih kata. “Cukup untuk menyelesaikan semua kendala pembiayaan Jakarta. Semuanya. Lunas.”
Seluruh meja bertepuk tangan. Bi Ratna bersorak. Uwa Haris membetulkan kacamata dan mengangguk dua kali. Anak-anak sepupu ikut bertepuk tangan tanpa tahu kenapa.
Aku tidak bertepuk tangan.
Aku sedang menghitung.
Cukup untuk menyelesaikan semua kendala. Lunas. Dua puluh tiga koma enam miliar. Investasi sebesar itu dari grup yang punya tiga menara perkantoran tidak mustahil. Tapi tidak ada investor yang menyuntikkan dua puluh tiga miliar untuk melunasi utang pribadi seorang direktur ke bank lain, dengan jaminan dua belas cabang yang hampir dilelang, kecuali mereka mendapat sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar menaruh kopi di meja makan.
Sesuatu yang bukan angka.
“Dan...” Om Rudi mengetuk gelasnya lagi, sekali, dan tepuk tangan mereda. Suaranya berubah, jadi lebih lembut, lebih hati-hati, seperti orang yang menurunkan sesuatu yang rapuh dari rak tinggi. “Dan supaya kerja sama ini bukan cuma kerja sama bisnis, tapi kerja sama keluarga, kerja sama yang kuat, yang langgeng, yang turun-temurun...”
Ia memandang ke arah kursi nomor sepuluh.
“...keluarga Sastrawidjaya dan keluarga kita sepakat untuk mempererat hubungan dengan cara yang paling baik. Dengan cara yang paling Sunda. Dengan cara yang Ibu dulu juga lakukan waktu Ibu nikah sama Bapak.”
Di bawah meja, kaki Gita berhenti bergerak.
“Gita,” kata Om Rudi, dan suaranya bergetar sedikit, tapi senyumnya tetap terpasang. “Anak Papa. Papa sudah bicara dengan keluarga Sastrawidjaya. Putra mereka, Ervan Sastrawidjaya, anak yang baik, ganteng, umur dua puluh tujuh. Kakaknya yang sekarang pegang grupnya, perempuan, hebat sekali, lulusan Amerika. Keluarganya terpandang. Papa sudah ketemu Ervan dua kali, anaknya lucu, sopan. Papa yakin kamu bakal suka.”
Ia menarik napas.
“Papa dan Mama Liliana Sastrawidjaya sepakat menjodohkan kamu dengan Ervan.”
Ruang makan diam.
Diam yang sesungguhnya. Bukan diam karena kaget sebentar lalu orang-orang mulai berbisik. Diam yang membuat suara jangkrik di kebun belakang terdengar, padahal ini tengah hari. Diam yang membuat bunyi kipas angin di langit-langit seperti bunyi baling-baling helikopter.
Lalu Bi Ratna menjatuhkan sendok colenaknya ke piring. Bunyinya nyaring seperti bel.
Aku tidak bergerak. Aku tidak bisa bergerak. Aku duduk di kursi nomor sembilan, dengan tangan di atas lutut di bawah meja, dan merasakan seluruh tubuhku menjadi sangat dingin dan sangat tenang, seperti air di dasar sumur.
Di kepalaku, potongan-potongan itu bergeser ke tempatnya satu per satu, dengan bunyi klik yang hanya bisa kudengar sendiri, seperti data yang tersinkronisasi.
Bu Liliana, nama yang kudengar dari mulut Gita semalam di atap, waktu ia bercerita setengah tertawa tentang telepon Papa di kebun yang tidak ia mengerti. Gita anak baik. Dia nurut.
Kandidat, anak teman Papa yang ganteng, keluarga pengusaha gede, Papa jamin kamu suka. Lelucon di makan malam Jumat, yang membuat sendokku berhenti di udara lima detik tanpa aku tahu kenapa.
Engke heula, Jang. Lain ayeuna. Bukan karena Nene capek, bukan karena Nene butuh waktu. Karena Nene sudah tahu apa yang akan diumumkan hari ini, dan tidak mau aku meminta sesuatu yang sudah dijanjikan pada orang lain.
Biar Nene nu ngurus. Ieu urusan kulawarga.
Inilah cara Nene mengurusnya. Inilah cara keluarga ini menyelesaikan urusan keluarga.
Dua puluh tiga koma enam miliar, dibayar dengan satu pernikahan.
“Nggak.”
Suara Gita memotong keheningan seperti pisau memotong kain.
Ia berdiri. Kursinya terdorong ke belakang dan berderit di lantai. Wajahnya pucat, lalu merah, lalu pucat lagi. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Nggak, Pa. Gita nggak mau.”
“Git, dengerin Papa dulu—”
“Gita nggak kenal dia! Gita nggak pernah ketemu dia! Papa ngejodohin Gita sama orang yang Gita bahkan nggak tahu mukanya kayak gimana?!” Suaranya naik, pecah di ujung. “Ini tahun dua ribu dua puluh enam, Pa! Bukan zaman Siti Nurbaya! Papa sendiri yang bilang itu Jumat kemarin! Papa bilang bercanda!”
“Gita, ieu lain ngan ukur soal maneh—”
“Terus soal apa?! Soal kopi?! Soal tower?! Papa mau tukar Gita sama kopi?!”
“GITA!”
Om Rudi membentak. Sekali, keras sekali. Seluruh meja tersentak. Salah satu anak sepupu mulai menangis dan langsung dibawa keluar ibunya.
Aku belum pernah mendengar Om Rudi membentak. Dalam tujuh tahun aku belum pernah sekali pun mendengarnya meninggikan suara pada siapa pun, apalagi pada anaknya, yang ia sebut anak Papa yang paling cantik setiap kali pulang membawa martabak.
Om Rudi sendiri tampak kaget mendengar suaranya. Ia memegang pinggir meja dengan dua tangan. Bahunya turun. Ia terlihat lebih tua sepuluh tahun dalam lima detik.
“Git,” katanya, jauh lebih pelan, hampir memohon. “Papa minta tolong. Sekali ini. Papa nggak pernah minta apa-apa ke kamu. Sekali ini aja.”
Gita memandangi ayahnya. Matanya penuh air, tapi belum jatuh.
Lalu ia memalingkan wajah ke kepala meja.
“Nene,” katanya. Suaranya kecil sekarang, seperti suara anak umur dua belas dengan behel. “Nene. Bilang sesuatu. Nene nggak setuju, kan? Nene nggak mungkin setuju. Nene yang bilang nasi liwet itu imah. Nene yang bilang Bumi Ni Dewi itu keluarga, bukan dagangan. Nene...”
Semua kepala menoleh ke Nene.
Nene Dewi duduk di kepala meja dengan tongkat di pangkuan dan kedua tangan di atas tongkat. Ia tidak memandang Gita, tidak memandang Om Rudi, dan tidak memandang siapa pun. Ia memandangi colenak di piringnya yang belum disentuh.
Lalu, setelah keheningan yang terasa seperti satu jam padahal hanya lima detik, ia bicara.
“Nene satuju.”
Dua kata.
Gita mundur selangkah, seperti didorong.
Tante Lusi menutup mulutnya dengan tangan. Uwa Haris melepas kacamatanya dan memandangi ibunya seperti memandangi orang asing. Bi Ratna berdiri setengah, membuka mulut, lalu menutupnya lagi dan duduk kembali dengan wajah yang tidak percaya.
“Ibu,” kata Tante Lusi pelan. Suaranya bergetar. Ia memandang Nene, lalu suaminya, lalu Nene lagi. “Rudi bilang naon ka Ibu?”
Rudi bilang apa ke Ibu?
Om Rudi tidak menjawab. Nene juga tidak.
Dan di tengah keheningan itu, Gita menoleh ke arahku.
Ia menoleh perlahan, seperti orang yang mencari pegangan di dalam gelap. Matanya menemukanku di kursi nomor sembilan, di sebelahnya, tempat ia sendiri menahan kursi itu dengan tangannya supaya tidak ada yang mengambil.
Aku melihat semua yang ada di mata itu.
Ia sedang memintaku bicara. Berdiri, mengatakan sesuatu, apa saja. Mengatakan bahwa kursi nomor sembilan bukan kursi kosong. Mengatakan bahwa semalam di atap, di antara tiang jemuran berkarat, di bawah lampu kota Dago, ada dua orang yang berjanji untuk bicara hari ini, abis Papa ngumumin, kita ngomong. Mengatakan bahwa ia tidak bisa dijodohkan dengan siapa pun karena ia sudah memilih, dan yang ia pilih sedang duduk tepat di sebelahnya.
Arief, kata matanya. Ngomong. Kamu janji.
Aku membuka mulut.
Lalu aku melihat semua hal lain di ruangan itu, dalam satu detik, seperti melihat empat puluh tujuh titik di peta sekaligus.
Aku melihat Om Rudi memegangi pinggir meja dengan dua tangan, dengan wajah laki-laki yang sudah tidak tidur berbulan-bulan, laki-laki yang mengajariku memakai dasi di toilet Balairung UI dan menulis Arief adalah salah satu orang paling jujur yang pernah saya kenal. Kalau aku bicara sekarang, di depan dua puluh tiga orang, aku tidak hanya akan mengatakan bahwa aku mencintai anaknya. Aku harus menjelaskan kenapa aku tahu pernikahan ini bukan soal kopi. Dan begitu aku mulai menjelaskan, dua belas cabang, dua puluh tiga koma enam miliar, apartemen mangkrak di Bekasi, dan seorang ibu yang menjual mobil untuk uang muka akan tumpah ke atas meja makan ini, di depan istrinya, kakaknya, adiknya, keponakan-keponakannya, besan-besannya, dan anak perempuannya.
Gita akan kehilangan ayahnya dua kali. Persis seperti kata Nene.
Aku melihat Tante Lusi, yang menggenggam ujung kerudung dan memandangi suaminya dengan wajah orang yang sudah lama tahu ada sesuatu yang salah tapi belum tahu seberapa salah. Tante Lusi, yang selalu memotongkan pepes untukku duluan.
Aku melihat Nene, yang meminta satu hal padaku kemarin pagi. Ulah bebeja ka saha-saha. Ka Gita oge henteu. Nene, yang memberiku makan di meja pojok cabang Cimahi waktu aku umur lima belas dan memakai tali rafia sebagai tali sepatu. Nene, yang menyekolahkanku S1 dan S2, dan yang tidak pernah meminta apa pun dariku selama tiga belas tahun.
Sampai kemarin pagi.
Lalu aku melihat sesuatu yang tidak ada di ruangan itu, tapi selalu ada di dalam diriku: halaman panti di Cimahi, mobil hitam, dan anak laki-laki berumur empat belas yang berkata pada kakaknya, Kak, pergi. Kakak bisa jadi orang. Kalau Kakak di sini, Kakak cuma bisa jadi kakaknya aku.
Aku yang menyuruh Kak Kanaya pergi, karena aku tidak mau jadi alasan ia kehilangan kesempatannya. Karena dari kecil aku diajari bahwa kalau ada orang yang menolongmu, kau tidak meminta lebih. Kau berterima kasih. Kau kerja. Kau balas.
Kau jangan jadi beban.
Kalau aku bicara sekarang, aku akan jadi beban. Beban yang membuat keluarga ini pecah di meja makannya sendiri. Beban yang membuat Om Rudi dipermalukan di depan anaknya. Beban yang membuat Nene, di usia tujuh puluh enam, harus memilih antara anak kandungnya dan anak panti yang ia pungut dari meja pojok cabang Cimahi.
Dan kalau aku bicara, apa yang bisa kutawarkan? Dua puluh tiga koma enam miliar? Aku punya tabungan empat puluh tujuh juta dan satu motor bekas. Aku punya kamar kos di Sekeloa yang bocor di pojok kiri. Aku punya berkas tiga puluh dua halaman dengan tiga pilihan penyelamatan yang bahkan tidak dibaca Nene sampai halaman tiga.
Sastrawidjaya punya tiga menara.
Aku menutup mulutku.
Aku tidak bicara.
Aku melihat persis kapan Gita mengerti bahwa aku tidak akan bicara.
Itu bukan satu saat, tapi tiga, seperti tiga foto yang diambil berurutan oleh kamera.
Pada saat pertama, matanya masih berharap. Ia masih menungguku, masih percaya, seperti semalam di atap ia berkata kalau kamu bilang ada alasan, berarti ada alasan.
Pada saat kedua, matanya bingung. Ia mencari sesuatu di wajahku, sebuah penjelasan, sebuah isyarat, senggolan kaki di bawah meja. Tapi kakiku sudah kutarik, tanpa kusadari, ke bawah kursi, menjauh dari kakinya.
Pada saat ketiga, sesuatu di matanya padam.
Seperti lampu di lembah yang semalam berkedip-kedip lalu mati.
Ia tidak menangis. Air mata yang sejak tadi menggenang di pinggir matanya tidak jatuh. Ia hanya memandangiku satu detik lagi, dengan wajah yang belum pernah kulihat selama sebulan aku mengumpulkan data tentangnya. Wajah orang yang baru saja jatuh dari tempat yang sangat tinggi dan belum sempat merasakan sakitnya.
Lalu ia berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan.
Ia tidak berlari. Ia berjalan, dengan punggung tegak dan langkah biasa, seperti cucu yang sopan pamit dari meja makan keluarga. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar, tanpa menoleh, dan aku melihat bahunya bergetar sekali.
Lalu ia pergi.
Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kakinya di tangga kayu menuju lantai dua. Kali ini langkahnya cepat, terlalu cepat, seperti takut ketinggalan sesuatu, atau seperti dikejar sesuatu.
Pintu kamar di lantai atas tertutup. Tidak dibanting, ditutup pelan.
Itu yang paling menyakitkan. Ia tidak membantingnya.
“Gita...” Tante Lusi berdiri dan menyusul anaknya.
Bi Ratna menatapku dari seberang meja. Hanya menatap. Wajahnya, yang biasanya penuh kompor dan emoji, sekarang kosong dan tidak percaya. Pelan-pelan, tangannya yang memegang ponsel turun ke pangkuan, dan layar ponsel itu, yang tadi masih menampilkan grup ArGi Garis Keras 💚🤎, padam sendiri.
Uwa Haris memasang kacamatanya lagi dan memandangi Nene dengan rahang mengeras. Ia tidak berkata apa-apa. Uwa Haris tidak pernah berkata apa-apa kalau sedang sangat marah.
Om Rudi duduk kembali. Ia memandangi piringnya. Lalu, setelah lama, ia mengangkat kepala dan menemukanku di kursi nomor sembilan.
“Rief,” katanya. Suaranya parau. “Kamu... kamu kenapa? Muka kamu pucat.”
Ia tidak tahu. Om Rudi tidak tahu bahwa aku tahu. Ia tidak tahu tentang modul aset, tentang tiga surat peringatan di arsip kantor Jakarta yang dipindai Neng Sari dengan semangat, atau tentang berkas tiga puluh dua halaman. Ia juga tidak tahu tentang atap semalam.
Ia hanya melihat seorang anak muda yang ia sayangi seperti anak sendiri, duduk di kursi di sebelah anak perempuannya, pucat seperti kertas.
“Nggak apa-apa, Om,” kataku.
Suaraku terdengar normal. Aku sudah sangat terlatih membuat suaraku terdengar normal.
“Kecapekan habis go-live.”
Om Rudi mengangguk, percaya, dan kembali memandangi piringnya.
Di kepala meja, Nene akhirnya mengangkat pandangan dari colenak yang tidak disentuhnya. Ia memandangiku. Hanya sebentar, satu detik, mungkin dua.
Aku tidak tahu apa yang ada di mata tua itu. Aku sudah tujuh tahun belajar membaca Nene, dan aku tidak pernah sekali pun berhasil menebak pertanyaannya di rapat direksi. Hari ini aku juga tidak bisa membaca matanya.
Tapi untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Nene yang lebih dulu memalingkan wajah.
Aku duduk di kursi nomor sembilan sampai ruang makan kosong.
Sepupu-sepupu dari Cimahi pamit pulang dengan canggung. Besan-besan Wa Euceu pamit dengan senyum yang terlalu sopan. Uwa Haris keluar tanpa pamit. Bi Ratna berdiri lama di ambang pintu, memandangiku seperti mau berkata sesuatu, lalu pergi tanpa berkata apa-apa. Om Rudi dibawa Mak Odah ke ruang kerja karena tiba-tiba katanya pusing. Nene berjalan pelan dengan tongkatnya ke kamar, dan pintu kamarnya tertutup.
Tinggal aku, dua puluh tiga piring kotor, tiga kastrol liwet yang setengah kosong, dan dua nampan colenak yang hampir tidak disentuh siapa pun.
Aku berdiri dan mengangkat piring-piring itu satu per satu, menumpuknya, dan membawanya ke dapur belakang. Aku menyalakan keran dan mencucinya. Aku selalu melakukan ini, karena ini satu-satunya hal yang selalu bisa kulakukan.
Di atas bak cuci, ada jendela kecil yang menghadap kebun. Dari sana aku bisa melihat jendela kamar Gita di lantai dua. Tirainya tertutup rapat.
Aku mencuci dua puluh tiga piring, dua puluh tiga gelas, dua puluh tiga sendok, dan dua puluh tiga garpu. Lalu tiga kastrol, sampai hitam di dasarnya hilang dan permukaannya mengilap seperti cermin.
Lalu aku berdiri di depan bak cuci yang sudah kosong, dengan tangan masih di dalam air sabun yang sudah dingin, dan menyadari satu hal yang tidak pernah kuhitung di spreadsheet mana pun.
Di meja makan itu, di antara dua puluh tiga orang, aku satu-satunya yang tahu kenapa.
Nene tahu sebagian. Om Rudi tahu sebagian. Mungkin Tante Lusi mulai menduga. Tapi aku satu-satunya yang tahu angka persisnya, tanggalnya, nama banknya, dan nama perusahaannya. Aku tahu bahwa pernikahan itu bukan kerja sama keluarga, bukan cara paling Sunda, dan bukan cara Nene dulu menikah dengan Bapak. Pernikahan itu harga, dan harganya adalah dua puluh tiga koma enam miliar ditambah seorang perempuan yang semalam menciumku seperti orang membaca surat yang sudah lama ditunggu.
Aku satu-satunya yang tahu, dan aku diam.
Aku mematikan keran.
Di saku celanaku, ponselku bergetar sekali. Aku mengeringkan tangan dengan lap, mengeluarkannya, dan melihat layarnya.
Satu pesan dari Gita.
Tidak ada kata-kata. Hanya satu foto: foto photo booth dari Braga, yang keempat. Foto saat ia tidak memandang kamera tapi memandangku, dengan senyum yang sangat lembut, dari jarak yang sangat dekat, sementara aku memandang balik.
Foto yang ia berikan padaku untuk disimpan di dompet. Foto yang sekarang ia kirim kembali, tanpa satu kata pun.
Aku berdiri di dapur belakang rumah Nene, memandangi foto itu, sampai layarnya padam sendiri.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan reading
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu