Chapter Ten
Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
POV: Anggita
Hari pertama pacaran diam-diam, aku sadar satu hal: aku tidak berbakat jadi mata-mata.
Jam tujuh pagi, aku turun ke Meja Tujuh seperti biasa. Arief sedang berdiri di dekat kasir, memeriksa tablet bersama Teh Euis. Ia memakai kemeja biru dongker, yang kata Teh Euis “matak kasep”, lengannya digulung sampai siku, dan rambutnya sedikit berantakan karena baru pulang dari pasar pagi.
Ia mengangkat kepala, melihatku, dan untuk sepersekian detik, senyumnya muncul dari ujung bibir, lalu naik ke mata.
Aku tersenyum balik.
Lalu aku menabrak kursi.
Bukan menyenggol, tapi menabrak, dengan tulang kering, keras. Kursi kayu jati itu bergeser setengah meter dan berderit nyaring, dan semua orang di ruang makan menoleh: Teh Euis, Asep yang sedang mengelap meja, Dede yang sedang menyusun sendok, dan dua tamu pagi yang sedang minum bandrek.
“Teh Anggita, teu nanaon?” Teh Euis setengah berdiri.
“Nggak apa-apa! Nggak apa-apa.” Aku memegangi tulang keringku dan tersenyum terlalu lebar. “Kursinya... kursinya yang salah.”
“Kursina, Teh?”
“Iya. Posisinya. Kurang ke kiri.”
Asep memandangi kursi itu. Lalu memandangiku. Lalu memandangi Arief, yang tiba-tiba sangat sibuk membaca sesuatu di tablet dengan wajah yang benar-benar datar, kecuali telinganya. Telinganya merah sekali.
Asep menyipitkan mata.
Aku duduk, membuka laptop, dan memandangi layar kosong selama lima menit tanpa mengetik apa pun.
Ponselku bergetar.
Arief: Tulang keringnya nggak apa-apa?
Saya: JANGAN CHAT AKU DI JAM KERJA. ASEP LAGI NGELIATIN.
Arief: Asep lagi ngelap meja.
Saya: ASEP NGELAP MEJA YANG SAMA DARI TADI. ITU MEJA SEBELAH AKU.
Arief: Oke.
Arief: Kursinya kurang ke kiri ya?
Saya: Aku blokir kamu.
Arief: Nanti jam istirahat aku kompres pakai es batu dari dapur.
Aku menaruh ponsel telungkup di meja dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Dua minggu. Aku harus bertahan dua minggu.
Hari ketiga, kami sepakat membuat kode.
Idenya dari Arief, tentu saja. Ia menyusunnya di buku catatan cokelat dengan rapi, seperti menyusun SOP dapur, lalu menunjukkannya padaku di parkiran sambil pura-pura membahas jadwal pemotretan menu.
“Kalau mau ketemu di saung, bilang ‘cek stok kebun’,” katanya pelan. “Kalau mau telepon malam, bilang ‘laporan harian’. Kalau kangen...”
“Kalau kangen apa?”
Ia diam. Telinganya merah lagi. Aku mulai curiga telinganya adalah satu-satunya bagian tubuhnya yang tidak bisa berbohong.
“Kalau kangen,” katanya akhirnya, sangat datar, “bilang ‘stok cabai menipis’.”
Aku memandanginya.
“Stok cabai.”
“Itu yang paling nggak mencurigakan. Stok cabai menipis tiap hari. Nggak ada yang bakal curiga.”
“Arief, itu kode paling nggak romantis yang pernah ada di sejarah umat manusia.”
“Justru itu. Nggak ada yang bakal nyangka.”
Sistemnya bekerja selama tepat dua hari.
Hari kelima, jam dua siang, aku mengirim pesan ke grup kerja Branding & Ops BND, bukan ke chat pribadi Arief, karena aku sedang mengedit foto sambil makan siang dan jempolku terlalu cepat.
Saya: Stok cabai menipis 🥺
Grup itu berisi sebelas orang, termasuk Uwa Haris, Bi Ratna, Teh Euis, dan Mang Ujang.
Aku menghapus pesannya dalam empat detik. Terlambat.
Mang Ujang: Hah? Cabe? Cabe mah kamari abdi meser 20 kilo, Teh. Teu acan seep.
Mang Ujang: Cabe naon, Teh? Cabe rawit? Cabe tanjung?
Uwa Haris: Kenapa pakai emoji nangis, Gita?
Bi Ratna: 👀
Bi Ratna: 👀👀
Teh Euis: Mang Ujang, cabena mah lain cabe nu kitu 🤭
Mang Ujang: Cabe aya sabaraha rupa atuh, Teh?
Arief: Stok cabai aman. Saya sudah cek. Terima kasih Teh Anggita.
Bi Ratna: “Saya sudah cek” 😭😭😭 UDAH DICEK KATANYA
Aku mematikan ponsel, menaruhnya di laci meja, lalu menelungkupkan kepala di atas keyboard laptop dan membiarkannya mengetik huruf J dua ribu kali.
Masalah terbesar pacaran diam-diam dengan Arief adalah: Arief tidak pernah diam-diam.
Maksudku, ia tidak pernah mengatakan apa pun di depan orang. Ia tidak pernah menyentuhku di depan orang. Ia tetap memanggilku “Teh Anggita” dengan nada profesional di semua rapat. Di permukaan, ia sempurna.
Tapi ia melakukan hal-hal kecil, dan hal-hal kecil itulah yang membuatku gila.
Es teh di Meja Tujuh tiba-tiba selalu setengah gula, padahal aku tidak memesan. Kursi Meja Tujuh selalu sudah ditarik sedikit ke luar sebelum aku datang, karena sejak insiden tulang kering ia menyuruh Dede menggeser posisinya. Ada sepotong gehu pedas di piring kecil setiap jam tiga sore, waktu aku biasanya mulai lapar dan belum sadar sedang lapar. Di dashboard laptopku, yang aksesnya ia berikan untuk data branding, ada satu laporan baru berjudul Jam Makan Tim Branding, dengan satu baris yang di-highlight kuning: Anggita — sarapan: belum tercatat.
Ia membuat laporan untuk memantau sarapanku.
Di sistem perusahaan.
Hari ketujuh, aku menyerah. Aku masuk ke kantor belakang waktu ia sedang sendirian, menutup pintu, dan berdiri di depan mejanya dengan tangan di pinggang.
“Kamu bikin laporan sarapan aku.”
Ia mengangkat kepala dari laptop. “Itu laporan tim branding.”
“Tim branding isinya cuma aku!”
“Sama Dede. Dede bantu foto.”
“Baris Dede nggak di-highlight kuning!”
“Dede selalu sarapan.”
Aku tidak bisa membantah itu. Dede memang selalu sarapan. Dede sarapan dua kali.
“Arief,” kataku, berusaha terdengar galak. “Kalau orang lain lihat laporan itu, mereka bakal curiga.”
“Nggak ada orang lain yang punya akses ke laporan itu.”
“Terus kenapa kamu bikin?”
Ia menutup laptopnya, menyandarkan diri di kursi, dan memandangku. Itu pandangan yang tenang, lama, sedikit lelah, dan sepenuhnya jujur, dan aku sudah tahu sebelum ia membuka mulut bahwa aku akan kalah lagi.
“Karena aku nggak bisa nanya ‘kamu udah makan?’ di depan orang,” katanya pelan. “Jadi aku bikin cara biar aku tetap tahu.”
Aku berdiri di sana dengan tangan di pinggang, dan semua kalimat galak yang sudah kusiapkan menguap seperti air di wajan panas.
“Itu curang,” bisikku.
“Itu data.”
“Itu curang pakai data.”
Ia tersenyum. Aku berjalan memutari meja, membungkuk, dan memeluk lehernya dari belakang kursi. Tiga detik, cepat, dan dengan wajah merah. Lalu aku berlari keluar ruangan sebelum ia sempat bereaksi.
Di koridor, aku berpapasan dengan Pak Darto, yang sedang membawa gulungan kabel.
“Eh, Teh Agnes.”
“Anggita, Pak.”
“Muhun, Teh Anggrek.” Ia memandangi wajahku yang merah, lalu pintu kantor Arief di belakangku. Ia mengangguk perlahan, seperti orang yang menyimpan rahasia negara, lalu berjalan pergi sambil bersiul.
Pak Darto ikut bersiul juga. Ini wabah.
Hari kesepuluh, jam dua belas lewat dua puluh malam.
Aku tidak bisa tidur. Bukan karena gugup, tapi karena hal yang jauh lebih memalukan. Aku sudah tiga jam tidak mendengar suaranya, sejak ia pamit pulang dari kantor jam sembilan malam dengan wajah lelah dan tumpukan dokumen go-live di tangan.
Enam hari lagi go-live. Selama seminggu terakhir ia tidur paling lama empat jam per malam, aku tahu, karena laporan aktivitas sistem yang juga bisa kulihat menunjukkan login terakhirnya jam dua pagi, tiga malam berturut-turut. Jadi aku juga bisa curang pakai data.
Aku tidak mau mengganggunya. Aku benar-benar tidak mau.
Lima menit kemudian, aku mengganggunya.
Saya: Laporan harian.
Centang dua, langsung biru.
Arief: Masih bangun?
Saya: Kamu juga.
Arief: Lagi ngecek skrip sinkronisasi cabang Pangandaran. Sinyalnya jelek. Kalau go-live hari Jumat dan internetnya mati, data kasirnya harus tetap kesimpen di tablet dan otomatis nyusul pas sinyal balik.
Arief: Maaf, kamu nggak nanya itu.
Saya: Aku suka kamu ngomongin skrip sinkronisasi.
Arief: Bohong.
Saya: Iya bohong. Tapi aku suka kamu ngomongin apa aja.
Tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.
Arief: Kamu kenapa belum tidur?
Aku memandangi pertanyaan itu, lalu jendela kamar, lalu jaket parasut hitam yang masih tersampir di kursi meja rias sejak malam hujan di Lembang. Jaket yang tidak pernah kukembalikan, karena katanya biar ada alasan.
Lalu aku mengetik hal yang sudah ingin kuketik sejak hari pertama di Meja Tujuh, hal yang dulu kuucapkan sebagai lelucon di depan Asep dan dua tamu yang berhenti mengunyah.
Saya: Aku pesan kamu.
Aku menekan kirim sebelum sempat menyesal.
Centang dua. Biru.
Tidak ada tanda mengetik.
Satu menit. Dua menit. Tiga.
Aku menutup wajah dengan bantal. Oke. Mungkin itu terlalu jauh. Mungkin ia ketiduran. Mungkin ia sedang mencari cara sopan untuk bilang menu itu belum tersedia lagi. Mungkin—
Ponselku bergetar.
Arief: Sudah dikirim.
Arief: Buka pintu.
Aku duduk tegak begitu cepat sampai kepalaku pusing.
Pintu apa? Pintu kamar? Pintu rumah Nene? Ini jam dua belas lewat setengah malam. Rumah Nene dikunci. Pak Darto ada di pos. Nene tidurnya di lantai satu, dan pendengarannya, meskipun umurnya tujuh puluh enam, lebih tajam dari radar bandara.
Aku menyibak tirai jendela.
Di bawah sana, di depan pagar samping rumah Nene, di bawah lampu jalan yang kuning, berdiri seseorang dengan jaket abu-abu dan helm motor yang masih ia tenteng di satu tangan. Di tangan yang lain ada kantong plastik putih.
Ia mendongak ke jendelaku dan mengangkat kantong plastik itu sedikit, seperti kurir yang sedang membuktikan barangnya sampai.
Aku tidak ingat bagaimana aku turun tangga.
Aku hanya ingat aku berjalan berjingkat dengan kaus kaki, menahan napas setiap kali anak tangga kayu berderit. Aku melewati pintu kamar Nene yang tertutup dan mendengar dengkurannya yang teratur. Aku membuka kunci pintu samping dengan sangat pelan, sampai butuh waktu lima belas detik untuk satu putaran kunci, lalu berlari kecil melintasi halaman sampai ke pagar.
Ia berdiri di balik pagar besi, dengan wajah lelah, mata merah karena kurang tidur, rambut yang lepek karena helm, dan senyum yang muncul pelan-pelan dari ujung bibir.
“Pesanan atas nama Gita,” katanya pelan. “Martabak manis setengah keju setengah cokelat kacang. Sama teh tawar hangat.”
Aku memegang jeruji pagar dengan dua tangan dan memandanginya.
“Kamu,” bisikku, “naik motor jam dua belas malam dari Sekeloa ke Dago buat nganterin martabak?”
“Martabaknya dari Simpang Dago. Searah.”
“Itu nggak searah. Kos kamu di Sekeloa. Simpang Dago di arah sebaliknya.”
“Oke. Nggak searah.” Ia menyodorkan kantong plastik itu lewat celah pagar. “Kamu bilang kamu pesan aku. Aku nggak tahu cara ngirim diri sendiri lewat aplikasi.”
Aku menerima kantong plastik itu. Hangat. Bau mentega dan cokelat.
Lalu aku memasukkan tanganku yang bebas lewat celah pagar dan meraih ujung jaketnya, menariknya lebih dekat ke jeruji.
“Kamu tahu nggak,” bisikku, “ini pertama kalinya ada cowok yang dateng jam dua belas malam ke rumah aku cuma buat nganterin makanan, terus nggak minta masuk.”
“Aku nggak bisa masuk. Pagarnya dikunci.”
“Bukan itu maksud aku.”
“Aku tahu bukan itu maksud kamu.” Ia memandangiku lewat jeruji. Lampu jalan membuat bayang-bayang pagar jatuh di wajahnya seperti garis-garis. “Gita. Enam hari lagi. Habis go-live, aku ngomong ke Nene. Habis itu aku nggak perlu berdiri di balik pagar lagi.”
“Janji?”
“Aku belum pernah ingkar janji ke Nene. Aku nggak akan mulai ingkar janji ke kamu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan lewat celah pagar besi selebar lima belas senti.
Aku menyelipkan tanganku lebih dalam, menyentuh pipinya, dan mengusap bekas luka tipis di ujung alis kirinya dengan ibu jari, sama seperti di warung Ceu Imas.
Ia memejamkan mata.
Lalu lampu pos satpam di ujung halaman menyala.
Kami membeku.
“Saha eta?” Suara Pak Darto, berat dan serak oleh kantuk, menggema di halaman. Senter menyala, dan sinarnya menyapu rumput, pohon jambu, lalu bergerak ke arah pagar samping. “Saha di dinya?!”
Arief melepaskan tanganku dan mundur selangkah dari pagar dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk orang yang mengaku baru tidur empat jam semalam. Lalu ia mengangkat map plastik bening dari dalam jaketnya. Map. Ia membawa map ke kencan jam dua belas malam. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah sinar senter.
“Pak Darto! Ini Arief! Nganterin dokumen go-live buat Teh Anggita! Buat... buat presentasi besok!”
Sinar senter berhenti tepat di wajah Arief, lalu bergeser ke map plastik di tangannya, lalu ke kantong martabak di tanganku, lalu kembali ke wajah Arief.
Hening yang sangat panjang.
“Oh,” kata Pak Darto akhirnya. “Dokumen.”
“Dokumen, Pak.”
“Dokumen nu bau martabak.”
“...Dokumennya kena martabak, Pak. Di jalan.”
Hening lagi.
Lalu sinar senter turun ke tanah dan lampu pos padam.
“Mangga, mangga, A Arief. Bapak teu ningali nanaon,” suara Pak Darto bergema dari kegelapan, dan terdengar seperti orang yang sedang menahan tawa sekuat tenaga. “Bapak mah sok rabun, tengah peuting kieu. Teh Agnes, wilujeng sare.”
“Anggita, Pak,” bisikku otomatis.
“Muhun, Teh Anggrek.”
Aku menutup mulut dengan kantong martabak supaya tawaku tidak meledak. Di balik pagar, Arief memejamkan mata, menunduk, dan bahunya bergetar.
Ia mengenakan helm, menatapku sekali lagi lewat jeruji, lalu berjalan ke motornya yang diparkir di bawah pohon ketapang di ujung jalan.
Sebelum menyalakan motor, ia mengirim satu pesan.
Arief: Makan. Jangan disisain buat besok. Besok aku bikinin laporan kalau kamu nggak sarapan.
Saya: Ini martabak jam 1 malem, Arief. Ini bukan sarapan.
Arief: Secara teknis ini sarapan. Udah lewat jam 12.
Aku duduk di anak tangga teras samping, membuka kotak martabak, dan makan sambil menangis dan tertawa sekaligus, sendirian di bawah lampu teras dengan kaus kaki basah oleh embun.
Itu martabak terenak yang pernah kumakan seumur hidupku.
Hari keenam belas, Jumat, enam November. Go-live.
Aku tidak pernah melihat Arief seperti hari itu.
Ruang rapat di rumah lama Nene diubah jadi apa yang Teh Euis sebut “ruang perang”. Ada tiga layar besar di dinding, masing-masing menampilkan peta Jawa Barat dengan empat puluh tujuh titik, satu titik untuk setiap cabang. Setiap titik akan berubah dari abu-abu ke hijau begitu cabangnya berhasil tersambung ke sistem terpusat. Kalau gagal, titiknya merah.
Jam enam pagi, semuanya abu-abu.
Arief berdiri di tengah ruangan dengan headset di satu telinga, tablet di tangan, dan wajah yang sangat tenang. Di sekelilingnya ada empat orang tim IT dari vendor sistem, dua staf keuangan, dan Teh Euis, yang ditugaskan memegang daftar nomor telepon semua manajer cabang. Aku duduk di pojok dengan kamera, karena Nene memintaku mendokumentasikan “dinten bersejarah”.
Jam tujuh, titik pertama berubah hijau. Dago.
Ruangan bertepuk tangan kecil-kecilan. Arief tidak. Ia hanya mengangguk dan menggeser layar tabletnya.
Jam delapan, dua puluh tiga titik hijau.
Jam sembilan, tiga puluh delapan.
Jam sembilan lewat dua puluh, titik Pangandaran berubah merah.
Teh Euis langsung menelepon. Suara manajer Pangandaran, Kang Dadang, terdengar panik dari speaker. “A Arief! Internet pareum! Listrik oge pareum, PLN aya gangguan! Tablet kasir rek beak batre! Tamu geus ngantay! Kumaha ieu, A?!”
Semua orang di ruangan menoleh ke Arief.
Aku menahan napas.
Arief tidak menahan napas. Ia menekan satu tombol di tabletnya, lalu bicara ke headset dengan suara yang sama tenangnya dengan waktu ia menanyakan apakah aku sudah sarapan.
“Kang Dadang, tenang dulu. Dengerin saya. Tabletnya masih nyala?”
“Masih, A. Dua puluh persen.”
“Oke. Sistem kasirnya tetap bisa dipakai. Saya udah setel mode offline dari minggu lalu, khusus buat cabang yang sinyalnya jelek. Transaksi tetap kesimpen di tablet, otomatis dikirim begitu sinyal balik. Kang Dadang terima pesanan seperti biasa.”
“Tapi batrena, A—”
“Di laci bawah kasir ada power bank merah. Dua puluh ribu mAh. Saya kirim ke semua cabang pantai bulan lalu, nempel di bungkusnya ada stiker segitiga. Itu cukup buat delapan jam.”
Hening sebentar. Lalu suara laci dibuka, plastik dirobek, dan Kang Dadang setengah berteriak.
“AYA! Aya, A! Beureum! Aya stiker segitiga!”
“Colok. Terus satu lagi, Kang. Genset di belakang dapur masih ada solarnya?”
“Aya, A.”
“Nyalain genset buat freezer sama kompor listrik. Lampu ruang makan nggak usah, siang ini terang. Tamu suruh duduk di saung yang dekat pantai, biar adem tanpa kipas. Kasih es teh gratis buat tamu yang udah antre lebih dari lima belas menit, saya yang tanggung. Catat di sistem pakai kode ‘PLN’.”
“Siap, A! Siap!”
Telepon terputus.
Titik Pangandaran tetap merah selama empat puluh menit. Lalu, jam sepuluh lewat lima, setelah PLN memulihkan listrik, titik itu berkedip sekali dan berubah hijau. Seratus dua belas transaksi yang tersimpan di tablet masuk ke sistem sekaligus, tanpa satu pun yang hilang.
Ruangan bersorak. Kali ini lebih keras. Teh Euis memeluk staf keuangan, dan salah satu orang vendor IT bertepuk tangan sambil menggelengkan kepala tidak percaya.
Aku memotret semuanya. Tapi lebih banyak yang kupotret adalah Arief, yang masih berdiri di tengah ruangan dengan headset di telinga, tidak bersorak, tidak tersenyum lebar, hanya menghela napas pelan dan menutup mata sebentar, satu detik saja, seperti orang yang baru meletakkan beban yang sudah ia pikul sendirian sejak lama.
Lalu ia membuka mata, menoleh ke pojok, dan menemukanku di balik kamera.
Ia tersenyum. Hanya untuk satu orang, di pojok ruangan.
Aku menurunkan kamera karena tanganku gemetar.
Jam empat sore, keempat puluh tujuh titik di layar berwarna hijau.
Nene Dewi masuk ke ruang perang dengan tongkatnya, memandangi peta hijau itu lama sekali, lalu berjalan ke Arief dan menepuk pipinya dua kali, persis seperti di malam ulang tahun.
“Nuhun, Jang,” katanya pelan. Terima kasih, Nak.
Arief menunduk dan mencium tangan Nene, lebih lama dari biasanya.
Malam itu, jam delapan, ruang perang sudah sepi. Tim vendor sudah pulang, Teh Euis sudah pulang, dan pizza yang dipesan Bi Ratna untuk merayakan sudah habis, kecuali satu potong yang disisakan Asep untuk Arief dengan tulisan saus tomat di kotaknya: buat Kang Sumsum.
Aku kembali ke ruangan itu untuk mengambil kartu memori kamera yang ketinggalan, dan menemukan Arief masih duduk di sana, sendirian, di depan laptop.
“Kamu belum pulang?”
“Bentar lagi. Lagi ngecek modul terakhir.” Ia tidak mengangkat kepala. “Modul aset. Ini yang nyambungin data aset semua cabang, sertifikat, nilai bangunan, status, ke laporan keuangan pusat. Baru bisa jalan setelah semua cabang hijau.”
Aku berjalan ke belakangnya dan melingkarkan lenganku di lehernya dari belakang, menyandarkan dagu di bahunya. Ruangan kosong. Pintu tertutup. Hari ini hari kemenangan, dan besok ia akan menemui Nene.
“Besok,” bisikku di telinganya. “Besok kamu ngomong ke Nene.”
“Besok.”
“Kamu gugup?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Iya, bohong.”
Aku tertawa kecil dan memandang layar laptopnya dari balik bahunya. Ada tabel panjang dengan nama-nama cabang, kolom-kolom angka, dan bilah kemajuan di bagian bawah yang bergerak perlahan. Memproses data aset: 89%... 94%... 100%.
Lalu layar berkedip.
Sebuah kotak peringatan muncul di tengah layar. Warnanya merah, merah yang sama dengan titik Pangandaran tadi pagi, tapi lebih gelap. Di dalamnya ada angka. Aku tidak sempat membaca angkanya dengan jelas. Aku hanya melihat ada banyak sekali nol, dan satu kata dalam huruf kapital yang sempat tertangkap mataku sebelum semuanya hilang.
Ada nama-nama cabang di bawahnya. Banyak. Aku sempat membaca Garut di baris pertama.
Bahu Arief di bawah daguku berubah keras seperti batu.
Lalu, dengan gerakan yang sangat cepat dan sangat tenang sekaligus, ia menutup laptop itu.
“Arief?”
“Hm.”
“Itu apa?”
Ia diam satu detik, dua detik. Lalu ia menoleh padaku, dan senyumnya muncul seperti biasa, pelan-pelan dari ujung bibir.
Tapi kali ini senyumnya tidak naik ke mata.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Biasa. Data lama yang belum dibersihin. Sistem baru sering nemu yang kayak gitu di hari pertama.”
“Yakin?”
“Yakin.” Ia berdiri, memasukkan laptop ke tas, lalu mengambil satu potong pizza yang disisakan Asep dan menyodorkannya padaku. “Kamu belum makan malam. Aku lihat di laporan.”
Aku mengambil potongan pizza itu.
Aku percaya padanya. Aku sudah sebulan mengenal laki-laki ini, dan dalam sebulan itu aku belum pernah melihatnya berbohong soal pekerjaan. Tentang perasaan, tentang telinga merah, tentang stok cabai, iya. Tapi soal angka, tidak pernah.
Jadi aku percaya.
Aku tidak melihat bahwa waktu ia mematikan lampu ruang perang dan kami berjalan keluar berdua melewati kebun Nene yang gelap, tangannya yang memegang tali tas laptop menggenggam terlalu erat, sampai buku-buku jarinya memutih.
Dan baru belakangan aku tahu bahwa malam itu, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Arief tidak bisa tidur bukan karena kebiasaan.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan reading
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu