Chapter Twenty Seven
Ervan Ditampar (Versi Kakak)
POV: Kanaya
Ervan bangun jam tujuh pagi, dan hal pertama yang ia lihat adalah aku, berdiri di samping sofa dengan tangan terlipat.
Ia memandangiku. Lalu ia memandangi langit-langit. Lalu ia memandangiku lagi.
“Oke,” katanya dengan suara serak baru bangun. “Oke. Gue udah siap.”
“Siap apa?”
“Ditampar.”
Ia duduk tegak di sofa, merapikan kemeja batiknya yang kusut, lalu menyibak rambut yang berantakan. Kemudian, dengan wajah sangat serius, wajah orang yang menghadapi regu tembak, ia mengangkat tangan dan meraba pipi kirinya.
“Yang kiri ya, Kak. Kalau bisa. Yang kanan ada jerawat, kemarin baru dikasih salep.”
Di dapur, Arief, yang sedang berdiri di depan kompor induksi dengan teflon empat puluh lima ribu dan sepuluh butir telur kampung, berhenti mengocok.
Aku tidak bergerak.
“Kak?” Ervan mengerutkan dahi. “Kakak nggak nampar?”
“Belum.”
“Kenapa belum? Gue udah semalaman nunggu. Gue mimpi ditampar, Kak. Tiga kali. Yang terakhir Kakak pakai sandal jepit gue.”
“Kakak mau dengar dulu.”
Ervan memandangiku lama. Lalu bahunya turun, napasnya keluar panjang, dan wajah regu tembak itu runtuh jadi wajah anak umur tiga belas yang dulu duduk di sebelahku di lantai pantry jam dua pagi dan menawarkan es krim yang tidak kuambil.
“Dengerin apa, Kak?”
“Semuanya. Dari halaman sembilan.”
Ervan menceritakan semuanya, sambil duduk di sofa, dengan kaki bersila dan bantal di pangkuan yang ia peluk seperti tameng.
Halaman sembilan, di lantai 25, malam itu. Video TikTok sumsum tulang ayam yang ia tonton dua puluh tujuh kali, dengan detik keempat belas dan detik ketiga puluh dua. Halaman delapan, Kak. Bohong yang buruk sekali, yang ia tahu aku tahu bohong.
Perjodohan. Ia setuju bukan karena Mama, atau bukan hanya karena Mama, tapi karena perjodohan itu tiket ke Bandung. Sandal jepit biru. Si Belang. Meja Nomor Tujuh. Es teh yang tumpah waktu ia melihat alis kiri itu dari jarak setengah meter. Pakta Saung dengan Gita, yang ternyata juga tidak mau menikah, karena Gita memandangi kastrol liwet seperti kastrol itu berutang padanya.
Magang. Empat piring. Ghost kitchen yang dibedah dalam empat menit. Telur yang dibelah dengan sendok diputar di akhir, dan Arief yang berhenti mengunyah. Lo ulang tahun kapan? Delapan belas Oktober. Piring yang tenggelam di bak cuci. Menangis di mobil.
Cimahi. Tiang gerbang yang retak diagonal, persis seperti di polaroid. Bu Nining. Telur hari Kamis, Dodi, obat merah dari UKS. Anak laki-laki yang berlari mengejar mobil hitam sampai tali sandal jepitnya putus.
Karung beras.
“Lima puluh kilo, Kak,” kata Ervan, dengan suara yang mulai bergetar. “Tiap bulan. Ke panti. Nggak pernah pakai nama. Cuma tulisan di karungnya. ‘Buat yang hari Kamis nggak kebagian telur.’”
Aku tidak bisa bicara.
Aku menoleh ke dapur.
Arief berdiri di depan kompor, membelakangiku, dengan teflon di satu tangan dan sendok kayu di tangan lain. Ia tidak bergerak. Punggungnya, punggung lebar yang dulu kurus dan tulangnya terasa di bawah kaus kebesaran, sedikit menegang.
“Rief,” kataku.
Ia tidak menoleh. “Nasi gorengnya keburu gosong, Kak.”
“Kamu kirim beras ke panti. Tiap bulan.”
“Mulai umur sembilan belas. Pas gaji pertama jadi pelayan.” Ia mengaduk nasi di teflon dengan sangat serius. “Lima puluh kilo itu cuma tiga ratus ribu waktu itu. Sekarang enam ratus ribu. Nggak mahal.”
“Dua belas tahun.”
“Sepuluh. Dua tahun pertama cuma dua puluh lima kilo.”
Aku menutup mata.
Sepuluh tahun, adikku mengirim beras ke panti. Bertahun-tahun sebelum itu, aku mengirim uang ke panti yang sama, sampai rekeningnya mental. Kami berdua mengirim sesuatu ke tempat yang sama, bergantian seperti dua orang yang lewat di pintu yang sama tanpa pernah berpapasan, dan tidak satu pun dari kami pernah berpikir untuk bertanya pada panti itu, siapa lagi yang pernah mengirim?
Karena kami berdua sama-sama yakin bahwa yang satu sudah melupakan.
“Terus,” kataku, membuka mata dan memandangi Ervan lagi, “kenapa kamu nggak bilang Kakak?”
Ervan memeluk bantal lebih erat.
“Karena 2019,” katanya pelan. “Karena Sukabumi. Karena 2022. Karena nisan, sama ranjang rumah sakit.” Ia menelan ludah. “Karena Kakak ketawa, Kak. Di ranjang rumah sakit, pakai infus, Kakak ketawa. Gue nggak pernah takut sama apa pun kayak gue takut sama ketawa Kakak waktu itu.”
Aku tidak menjawab.
“Kakak sendiri yang bilang. Malem itu, di kantor gue, pas Kakak bawain ayam bakar. ‘Kalau ada yang udah sakit dua kali, jangan bikin sakit yang ketiga karena kamu terburu-buru. Pastikan dulu.’” Ervan memandangiku dengan mata yang mulai basah. “Jadi gue pastiin, Kak. Gue pastiin sampai seratus persen. Gue nggak mau Kakak tahu dari gue, dari foto di HP, dari telepon di rest area Cikampek jam sebelas malem. Gue mau Kakak lihat sendiri. Pakai mata Kakak sendiri. Gue mau Kakak yakin tanpa gue.”
“Jadi kamu atur rapat itu.”
“Gue atur rapat itu.”
“Kamu email Pak Hendrawan.”
“Gue email Pak Hendrawan.”
“Kamu jemput dia di Halim. Pakai papan glitter.”
“Template dari Asep.”
“Dan kamu biarin Kakak duduk di kepala meja, baca laptop dua puluh dua menit, nggak ngangkat kepala, sementara adik Kakak berdiri di depan layar, tahu Kakak siapa, dan presentasi soal power bank merah.”
Ervan menunduk.
“Gue nggak tahu dia bakal tahu duluan, Kak,” bisiknya. “Gue pikir dia nggak bakal ngenalin Kakak. Kakak udah beda. Rambut, baju, nama. Gue pikir Kakak yang bakal ngenalin dia duluan, lihat alisnya, terus...” Ia berhenti. “Terus gue juga nggak tahu Kakak bakal nggak ngangkat kepala dua puluh dua menit.”
“Kakak baca angka.”
“Kakak selalu baca angka.”
Aku memandangi adik angkatku. Anak laki-laki yang umur tiga belas menawarkan es krim di lantai pantry. Yang umur empat belas berdiri di pintu bank, berjaga-jaga kalau ada sopir Papa yang lewat. Yang umur tujuh belas mendengarkan aku menangis lewat telepon internasional yang putus-putus. Yang berdiri di pemakaman di Cimahi di bawah hujan, memegang payung di atas kepalaku selama dua jam tanpa bicara.
Yang selama lima belas hari terakhir memikul sesuatu yang terlalu besar untuk dipikul sendirian, karena takut aku jatuh untuk ketiga kalinya.
Dan yang selama lima belas hari itu juga membiarkan adikku, adik kandungku, patah hati di dapur Bandung, karena ia butuh tiket.
Aku berjalan ke sofa.
Ervan memejamkan mata dan memiringkan kepala sedikit ke kanan, menyodorkan pipi kirinya.
Aku menamparnya.
Bunyinya keras. Tidak sekeras tamparan untuk Dodi di kelas tiga SMP, karena aku tidak empat belas tahun lagi dan Ervan bukan Dodi. Tapi cukup keras sampai bunyinya bergema di ruang tengah penthouse yang terlalu besar, sampai kepala Ervan terlempar sedikit ke kanan, dan sampai sendok kayu di tangan Arief di dapur jatuh ke lantai marmer.
Ervan tetap memejamkan mata. Pipi kirinya memerah dengan bentuk lima jari.
Lalu ia membuka mata, memandangiku, dan bibirnya bergetar.
“Makasih, Kak,” katanya.
“Kenapa terima kasih?”
“Karena udah ditampar. Gue lega.” Air mata mulai mengalir di pipinya, di pipi kiri yang merah dan di pipi kanan yang berjerawat. “Lima belas hari gue nungguin ini. Lima belas hari gue ngerasa kayak orang paling jahat sedunia. Sekarang udah. Udah impas.”
“Belum impas.”
“Belum?”
“Itu buat halaman delapan.” Aku menunjuk pipinya yang merah. “Belum buat Gita.”
Ervan diam. Wajahnya berubah. Ia memandangi aku, lalu memandangi dapur, ke punggung Arief yang sedang membungkuk memungut sendok kayu.
“Gue udah minta maaf ke Gita,” katanya pelan. “Di saung. Gue bilang gue nggak bermaksud jadi orang jahat di cerita orang lain.”
“Itu belum cukup.”
“Gue tahu.” Ervan menunduk. “Gue tahu itu belum cukup.”
Aku mengangkat tangan lagi.
Ervan memejamkan mata dan menyodorkan pipi kanannya. Pipi yang berjerawat, yang baru dikasih salep.
Aku memandangi pipi itu lama.
Lalu aku menurunkan tanganku, duduk di sofa di sebelahnya, dan menarik kepalanya ke bahuku.
Ervan membuka mata dan membeku.
“Kak?”
“Diem.”
“Kak, Kakak nggak nampar yang kedua?”
“Yang kedua nanti. Kalau Gita yang minta.” Aku memeluk kepalanya. Rambutnya berantakan dan bau keringat semalam. “Sekarang diem.”
Ervan diam. Lalu, pelan-pelan, bahunya mulai bergetar, dan ia menangis di bahuku seperti anak umur tiga belas, dengan suara yang teredam oleh setelan hitam yang belum kuganti sejak kemarin.
“Gue takut Kakak jatuh lagi,” katanya ke bahuku. “Gue takut banget, Kak.”
“Kakak tahu.”
“Gue nggak tahu harus gimana. Gue bukan orang pintar. Gue cuma tahu Kakak.”
“Kakak tahu, Van.”
Aku memandangi dapur dari atas kepala Ervan.
Arief sudah berdiri tegak lagi, dengan sendok kayu yang sudah dicuci di tangannya, memandangi kami dari balik meja pulau marmer. Wajahnya, wajah yang semalam kupelajari ulang garis demi garis, menunjukkan sesuatu yang membuat dadaku sakit dan hangat sekaligus.
Ia tidak cemburu. Ia tidak bingung. Ia memandangi aku memeluk Ervan dengan wajah orang yang sedang belajar sesuatu yang baru: bahwa kakaknya punya adik lain, dan bahwa itu tidak apa-apa.
Lalu ia tersenyum kecil, menunduk, dan kembali ke teflon.
“Nasi gorengnya udah jadi,” katanya ke arah kompor. “Telurnya tiga. Dibelah tiga.”
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam empat belas tahun, aku duduk di satu meja dengan dua adikku.
Meja pulau marmer di dapur penthouse yang belum pernah dipakai untuk makan. Tiga kursi tinggi. Tiga piring putih dari Jerman. Nasi goreng dengan kecap, bawang merah goreng, dan sedikit cabai rawit, karena Arief menemukan dua buah cabai rawit kering di bagian paling belakang lemari dapur yang tidak pernah kubuka. Bryan rupanya pernah menyelipkannya di sana buat jaga-jaga. Di atas setiap piring ada sepotong telur dadar.
Tiga telur, dibelah tiga, dibagi tiga.
Arief membelahnya di depan kami dengan sendok, tidak di tengah, diputar di akhir, dan membaginya dengan aturan yang tidak pernah ada sebelumnya. Bagian yang paling besar untukku. Bagian tengah untuk Ervan. Bagian paling kecil, dengan pinggir yang gosong, untuk dirinya sendiri.
“Aturannya gimana nih?” tanya Ervan, memandangi piringnya dengan mata bengkak dan pipi kiri yang masih merah. “Yang paling tua yang gede, yang paling muda yang gosong?”
“Yang paling tua yang gede,” kata Arief. “Yang baru ditampar yang tengah.”
“Terus yang gosong?”
“Yang masak.”
Ervan memandangi Arief. Lalu memandangiku. Lalu tertawa, tertawa Ervan yang keras dan terlalu panjang, tapi kali ini tidak terdengar seperti bohong.
“Lo tahu nggak, Rief,” katanya sambil menyendok nasi goreng. “Gue kira gue bakal benci sama lo.”
Arief mengangkat alis. “Kenapa?”
“Karena lo adik kandung. Gue cuma adik angkat. Gue pikir, kalau lo ketemu, Kak Naya nggak bakal butuh gue lagi.” Ervan mengunyah. “Gue bahkan udah nyiapin pidato buat diri sendiri. Judulnya ‘Ervan: Sang Pengganti yang Tergantikan.’”
“Van,” kataku.
“Tapi terus gue magang di dapur lo. Lo ngebersihin luka di tangan gue. Lo ngejelasin kenapa gue bangkrut tiga kali. Lo bilang ‘di dapur sering yang luka, A’ kayak itu hal paling biasa di dunia.” Ervan menaruh sendoknya. “Dan gue sadar, lo nggak bakal ngambil Kak Naya dari gue. Lo bukan tipe orang yang ngambil. Lo tipe orang yang ngasih. Telur yang gede. Beras lima puluh kilo. Power bank merah.”
Arief tidak menjawab. Telinganya merah.
Aku belum pernah melihat telinganya merah. Aku menyimpan data itu.
“Jadi gue nggak benci sama lo,” lanjut Ervan. “Gue cuma... gue cuma mau tahu satu hal.”
“Apa?”
“Lo masih nangis kalau motong bawang?”
Arief membeku.
Ervan langsung menutup mulutnya dengan dua tangan, terlambat, dengan wajah orang yang baru sadar ia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya ia ketahui.
Aku memandangi Ervan. Lalu memandangi Arief. Lalu memandangi plester di jari telunjuk kiri Arief.
“Bawang,” kataku pelan. “Kamu bilang kena pisau waktu motong bawang.”
Arief diam.
“Van.” Aku tidak melepaskan pandangan dari adik kandungku. “Bawang apa?”
Ervan memandangi Arief dengan wajah minta maaf. Arief memandangi piringnya.
“Grup WA Bumi Ni Dewi,” bisik Ervan akhirnya. “Asep follow Instagram gue. Asep cerita. Malem setelah... setelah Gita balikin jaketnya. Lima puluh kilo bawang merah. Satu malem. Sampai jam empat pagi. Mang Ujang nemu dia, terus meluk dia. Terus mereka goreng bawangnya dan dijual. ‘Bawang Goreng Edisi Patah Hati.’” Ervan menelan. “Laku, Kak. Asep yang beli pertama. Gue beli dua toples lewat Asep. Ada di mobil.”
Ruangan diam.
Aku memandangi adikku, yang memandangi nasi goreng di piringnya dengan telinga yang sekarang merah sampai ke leher.
Lima puluh kilo bawang merah dalam satu malam. Karena perempuan yang ia cintai mengembalikan jaketnya. Karena ia tidak berdiri di meja makan itu. Karena keluarga yang mengadopsiku, keluarga yang menjadi keluargaku selama empat belas tahun, mengatur pernikahan antara perempuan itu dan adik angkatku.
Dan aku yang menandatangani memonya.
“Rief,” kataku.
“Kak, udah. Nggak apa-apa.”
“Bukan nggak apa-apa.”
“Kak.” Ia mengangkat kepala. Matanya tenang. Terlalu tenang, seperti permukaan danau setelah batu tenggelam. “Itu bukan salah Kakak. Kakak nggak tahu. Kakak bahkan nggak baca halaman delapan.”
Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak membaca halaman delapan. Aku tidak membaca halaman sembilan. Aku tidak membaca apa pun di Lampiran E, karena aku membaca angka, bukan CV.
Seandainya aku membaca.
“Gita sayang lo, Rief,” kata Ervan pelan, memecah keheningan. “Gue lihat sendiri. Di Meja Tujuh. Pas lo naruh sambal di deket piringnya, bukan di deket piring gue. Dia ngeliatin kastrol liwet kayak kastrol itu ngutang sama dia.” Ervan menunduk. “Gue juga lihat lo, pas lo jalan balik ke dapur. Lo nggak noleh. Tapi tangan lo yang megang nampan gemeteran.”
Arief tidak menjawab. Ia memandangi bagian telur yang gosong di piringnya.
Aku meletakkan sendokku.
Di dalam diriku, sesuatu yang panas dan besar dan galak bangkit lagi. Sesuatu yang membuatku berjalan melewati tiga barisan meja dan menampar Dodi. Sesuatu yang membuatku, umur dua puluh sembilan, mengubah struktur investasi dua puluh lima miliar di depan dewan direksi dan Mama dalam lima menit, karena aku tidak mau keluarga Bu Dewi berutang pada orang yang salah.
Sesuatu yang selalu membuatku berdiri di depan.
“Kakak beresin,” kataku.
Arief mengangkat kepala.
“Perjodohan itu. Investasinya. Semuanya.” Aku berdiri dari kursi tinggi. “Kakak CEO-nya. Kakak yang tanda tangan memonya. Kakak bisa batalin.”
“Kak—”
“Kakak bisa ubah semuanya hari ini. Kakak telepon Pak Hendrawan, Kakak telepon Mama, Kakak—”
“Kak.” Arief berdiri juga. Suaranya pelan, tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuatku berhenti. “Jangan.”
Aku memandanginya.
“Jangan dulu,” katanya. “Kakak belum tahu semuanya.”
“Kakak tahu cukup.”
“Kakak nggak tahu kenapa Bumi Ni Dewi butuh uang itu.” Ia memandangiku lurus-lurus, dengan mata yang memandangi segala sesuatu seolah besok pasti lebih baik, tapi kali ini ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang lelah, hati-hati, dan sangat dewasa. “Kakak tahu angkanya dari uji tuntas. Dua puluh tiga koma enam miliar. Bank Prima. PT Wardhana. Tapi Kakak nggak tahu kenapa. Kakak nggak tahu siapa yang tahu dan siapa yang nggak tahu. Kakak nggak tahu Nene. Kakak nggak tahu Om Rudi. Kakak nggak tahu...” Ia berhenti. “Kakak nggak tahu Gita.”
“Kakak bisa cari tahu.”
“Kakak bisa. Kakak selalu bisa.” Ia tersenyum sedikit, senyum yang sedih. “Tapi kalau Kakak batalin sekarang, tanpa tahu semuanya, dua belas cabang dilelang tanggal satu Januari. Empat ratus dua belas orang kehilangan kerja. Bi Enok, Pak Encep, Teh Yuyun di Tasik, Neng Lilis yang baru diangkat jadi PIC data. Dan Nene...” Suaranya bergetar. “Nene yang ngasih aku makan di meja pojok cabang Cimahi waktu aku umur lima belas, Kak. Nene yang nyekolahin aku. Aku nggak mau Nene kehilangan semuanya karena Kakak marah buat aku.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku nggak mau jadi alasan,” kata Arief pelan. “Aku nggak pernah mau jadi alasan orang kehilangan sesuatu.”
Kak, pergi. Kakak bisa jadi orang. Kalau Kakak di sini, Kakak cuma bisa jadi kakaknya aku.
Aku mendengar kalimat itu, empat belas tahun lalu, di gudang belakang di bawah suara hujan, dari anak laki-laki berumur empat belas yang menyuruhku pergi karena ia tidak mau jadi alasan aku kehilangan kesempatan.
Ia masih anak laki-laki yang sama.
Ia masih menyuruh orang-orang yang ia cintai pergi supaya mereka tidak kehilangan apa pun karena dirinya.
Aku memandanginya lama. Lalu aku duduk kembali di kursi tinggi, karena kakiku tidak lagi cukup kuat untuk berdiri.
“Oke,” kataku. “Kakak nggak batalin hari ini.”
Arief menghembuskan napas.
“Tapi Kakak cari tahu,” lanjutku. “Semuanya. Kakak baca semua yang nggak Kakak baca. Kakak ketemu semua orang yang perlu Kakak temui.” Aku memandanginya. “Dan setelah Kakak tahu semuanya, Kakak yang mutusin. Bukan kamu.”
Arief membuka mulut untuk membantah.
Aku mengangkat tangan.
“Dulu kamu yang mutusin Kakak harus pergi. Kakak nurut. Empat belas tahun Kakak nurut.” Suaraku pecah sedikit. Aku membiarkannya. “Kali ini Kakak yang mutusin, Rief. Kali ini aja.”
Arief memandangiku. Lalu memandangi Ervan, yang duduk di antara kami dengan pipi kiri merah dan nasi goreng yang belum habis, memandangi kami bergantian seperti menonton pertandingan tenis.
Lalu Arief duduk kembali.
“Oke, Kak,” katanya.
Tapi aku melihat matanya, dan aku tahu ia belum setuju. Ia hanya belum mau bertengkar, di pagi pertama dalam empat belas tahun kami bisa sarapan bersama.
Aku mengenali tatapan itu. Aku sudah melihatnya di cermin setiap pagi selama empat belas tahun.
Itu tatapan orang yang sudah memutuskan untuk memikul sesuatu sendirian, apa pun yang dikatakan orang lain.
Jam empat sore, aku mengantarnya ke stasiun Halim.
Ia harus kembali ke Bandung. Ada dapur yang nunggu, Kak, katanya, dan aku tidak membantah, karena aku juga punya kantor yang menunggu, dan karena aku tahu ia tidak akan tinggal walaupun aku memohon.
Di pintu keberangkatan, di antara orang-orang yang menarik koper dan menelepon sopir, aku memeluknya. Kali ini tidak kencang sampai tulang rusukku sakit. Pelan, dan lama.
“Kamu punya nomor Kakak sekarang,” kataku ke bahunya.
“Udah disimpan.”
“Namanya apa?”
Ia diam sebentar. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan layarnya.
Kak.
Bukan Kanaya, bukan Kak Kanaya, bukan Bu Kanaya Sastrawidjaya, CEO. Hanya Kak.
Aku tidak bisa bicara. Aku mengeluarkan ponselku sendiri dan menunjukkan layarnya.
Rief.
Ia tersenyum, senyum yang naik dari ujung bibir sampai ke mata. Lalu ia mencium tanganku, seperti mencium tangan Nene. Dulu ia melakukannya setiap pagi sebelum berangkat sekolah, di halaman panti, waktu ia berumur tujuh, sebelum ia belajar bahwa laki-laki tidak perlu melakukan itu pada kakaknya.
Lalu ia berbalik dan berjalan ke peron.
Di tengah jalan, ia berhenti dan menoleh.
“Kak.”
“Hm?”
“Kakak udah makan siang?”
Aku tertawa, di tengah stasiun kereta cepat Halim, dengan setelan hitam yang sudah dua hari tidak kuganti, dengan maskara yang sudah tidak ada dan mata yang masih bengkak.
“Belum,” kataku.
Ia mengangguk dengan wajah sangat serius, wajah Head of Operations Transformation yang sedang mencatat anomali dalam laporan.
“Nanti aku bikin laporan,” katanya.
Lalu ia pergi.
Aku berdiri di pintu keberangkatan sampai keretanya berangkat, sampai lampu ekornya hilang di balik tikungan. Tidak ada sandal jepit putus, dan tidak ada yang berlari mengejar.
Kali ini, untuk pertama kalinya, aku yang berdiri di belakang dan memandanginya pergi.
Dan aku tahu ia akan kembali.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak) reading
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu