Chapter Twenty One

Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu

POV: Ervan

Gue bukan orang pintar.

Ini bukan merendah. Ini data, kata si Arief. Nilai matematika gue waktu SMP empat puluh. Gue bangkrut tiga kali. Gue pernah salah naik pesawat ke Medan padahal mau ke Makassar, karena dua-duanya huruf M dan gue lagi ngantuk. Gue takut kucing, takut ayam hidup, takut boneka badut, dan takut sama Mama kalau Mama lagi senyum terlalu sopan.

Tapi ada satu hal yang gue tahu lebih baik dari siapa pun di dunia ini. Lebih baik dari Mama, dari Papa, dari Bryan, bahkan lebih baik dari Kak Naya sendiri.

Gue tahu Kak Naya.


Gue umur tiga belas waktu Kak Naya datang ke rumah kami di Menteng.

Gue nggak ngerti waktu itu. Mama bilang gue bakal punya kakak. Gue pikir maksudnya Mama hamil, terus gue protes, karena itu kan namanya adik, bukan kakak. Mama ketawa dan bilang, “Bukan, Van. Kakak beneran. Umurnya enam belas. Dari Cimahi.”

Dia turun dari mobil hitam di halaman rumah kami dengan koper kecil, rambut dikepang satu, dan muka yang... gue nggak tahu gimana ngejelasinnya.

Muka orang yang lagi nahan napas, terus-terusan, dan nggak pernah dilepas.

Dia nggak tidur. Itu hal pertama yang gue tahu soal dia. Kamar gue di sebelah kamar tamu yang dikasih ke dia, dan tiap malam jam dua, jam tiga, gue denger dia jalan bolak-balik. Kadang gue denger dia buka jendela. Kadang gue denger dia duduk di lantai.

Malam keempat, gue turun ke dapur jam dua pagi buat ngambil es krim, dan gue nemu dia di pantry. Duduk di lantai, di antara rak beras sama kardus mi instan, meluk lutut, nangis tanpa suara.

Gue umur tiga belas. Gue nggak tahu harus ngapain. Jadi gue ngelakuin satu-satunya hal yang gue tahu: gue duduk di sebelahnya dan nawarin es krim.

Dia nggak ambil es krimnya. Tapi dia nggak ngusir gue.

Kami duduk di pantry sampai jam empat. Di jam empat itu, tanpa gue tanya, dia ngeluarin sesuatu dari saku piyamanya. Foto polaroid, udah lecek. Dua anak di depan gerbang. Cewek kepang satu, sama cowok kurus item dengan plester di alis kiri.

“Ini adik Kakak,” katanya. Itu kalimat pertama yang dia ucapin ke gue, setelah empat hari. “Namanya Arief.”

Gue ngeliatin foto itu lama. Cowok kurus itu ngeliatin Kak Naya, bukan kamera.

“Dia di mana?” tanya gue.

Kak Naya masukin foto itu lagi ke saku piyamanya.

“Kakak nggak boleh tahu,” katanya.


Gue tumbuh besar ngeliatin Kak Naya nyari adiknya.

Bukan nyari dengan cara yang keliatan. Kak Naya nggak pernah ngomong soal itu di meja makan. Mama nggak suka. Mama bilang Kak Naya harus mulai dari awal, dan Kak Naya, yang selalu nurut di depan Mama, nggak pernah nyebut nama Arief di depan siapa pun.

Kecuali di depan gue.

Gue yang tahu dia pakai uang saku pertamanya dari Papa buat transfer ke rekening panti di Cimahi. Tiap bulan, atas nama Donatur K.S., mulai dari sebelum dia berangkat ke Boston sampai bertahun-tahun sesudahnya. Gue yang tahu karena gue yang nemenin dia ke bank tiap tanggal lima, tahun pertama itu, dan tiap kali dia libur di Jakarta. Gue disuruh berdiri di pintu, jaga-jaga kalau ada sopir Papa yang lewat.

Gue juga yang tahu waktu transfernya mental. Kak Naya umur dua puluh, di Boston, dan nelepon gue jam tiga pagi waktu Jakarta. “Van, transferannya balik. Rekening pantinya nggak nerima. Kenapa nggak nerima?” Gue nggak tahu. Gue umur tujuh belas, baru kelas tiga SMA, dan nggak ngerti apa-apa soal rekening panti. Gue cuma bisa dengerin dia nangis lewat telepon internasional yang putus-putus.

Gue yang tahu soal kue roti tawar.

Tiap delapan belas Oktober. Tiga lembar roti, mentega, gula, satu lilin. Pertama kali gue lihat, gue umur tiga belas, dan gue pikir Kak Naya lagi ulang tahun. Gue nyanyi. Dia diem aja, terus bilang, “Bukan Kakak, Van. Adik Kakak.” Dan sejak itu tiap tahun gue ikut nyanyi, fals, di dapur rumah Menteng, di kamar asrama Boston lewat video call, di kamar hotel Singapura. Buat cowok yang gue nggak kenal, yang cuma gue lihat di foto polaroid lecek.

Gue yang tahu aturan telur.

Kak Naya nggak bisa masak. Sama sekali. Tapi tiap kali dia berhasil bikin telur dadar, yang biasanya gosong di pinggir, dia selalu ngebelahnya dengan sendok, miring sedikit, terus diputer di akhir kayak orang ngunci pintu. Bagian yang gede dikasih ke gue.

“Yang lebih tua makan yang gosong,” katanya, waktu gue protes pertama kali.

“Aturan siapa?”

“Aturan Kakak.”

Gue belajar ngebelah telur kayak gitu dari dia. Gue nggak sadar gue udah ngelakuinnya selama empat belas tahun, sampai hari Senin kemarin di bangku makan belakang dapur Bumi Ni Dewi, waktu gue ngebelah telur buat Iwan dan ngeliat si Arief berhenti ngunyah.

Dia ngeliatin sendok gue.

Gue tahu dia ngeliatin sendok gue. Dan gue tahu, dari cara dia berhenti ngunyah, bahwa dia pernah ngeliat sendok yang diputer kayak gitu sebelumnya.


Kak Naya udah dua kali jatuh.

Gue nggak tahu kata lain buat itu. Bukan jatuh dari tangga. Jatuh ke dalam.

Yang pertama tahun 2019. Detektif ketiga, atau keempat, gue lupa, nemu seorang cowok namanya Arief di Sukabumi, umur dua puluh satu, ngaku pernah tinggal di panti di Cimahi. Kak Naya terbang dari New York. Tiga hari dia nggak tidur di pesawat, di hotel, di mobil. Dia ketemu cowok itu di sebuah warung kopi. Cowok itu nangis, meluk dia, manggil dia “Kak”.

Seminggu kemudian cowok itu minta duit. Lima puluh juta, buat “modal usaha”. Detektif keempat ngecek ulang, dan ternyata cowok itu bukan Arief. Cowok itu cuma pernah denger cerita soal Donatur K.S. dari mantan pengurus panti yang kebanyakan ngomong, terus mencoba peruntungannya.

Kak Naya nggak nangis waktu itu. Dia cuma diem. Dia balik ke New York, kerja dua puluh jam sehari selama enam bulan, dan berat badannya turun sembilan kilo.

Yang kedua tahun 2022. Lebih parah.

Detektif kedelapan nemu makam. Di pemakaman umum pinggiran Cimahi, ada nisan dengan nama Arief bin —, tanpa nama ayah, umur dua puluh tiga, meninggal kecelakaan motor. Data kependudukan nyebut dia pernah tinggal di yayasan sosial di Cimahi.

Kak Naya pulang dari Singapura, langsung ke pemakaman itu. Gue ikut, Bryan ikut. Kak Naya berdiri di depan nisan itu dua jam, di bawah hujan, dan nggak ngomong satu kata pun.

Malamnya dia pingsan di kamar hotel. Kelelahan, dehidrasi, tekanan darah anjlok. Dirawat empat hari di rumah sakit.

Hari kelima, detektif yang sama nelepon. Data tambahan dateng. Arief yang di makam itu umurnya ternyata dua puluh tiga, bukan dua puluh satu, dan panti yang dia tinggali bukan Kasih Bunda. Dia orang lain. Arief yang lain.

Kak Naya dengerin telepon itu dari ranjang rumah sakit, dengan infus di tangan. Dia cuma ngangguk, nutup telepon, terus ngeliatin langit-langit.

Terus dia ketawa.

Itu yang paling serem buat gue. Kak Naya ketawa, lama, di ranjang rumah sakit, sampai suster masuk dan nanya ada apa. Kak Naya bilang, “Nggak apa-apa, Sus. Adik saya masih hidup. Cuma saya nggak tahu dia di mana.”

Sejak itu Kak Naya nggak pernah lagi terbang langsung ke mana pun kalau ada petunjuk. Dia nunggu konfirmasi. Dia nyuruh detektif ngecek dua kali, tiga kali. Dia baca daftar tiga ratus dua belas nama sepuluh per malam, pelan-pelan, karena dia nggak sanggup baca lebih cepet dari itu.

Dan dia nggak pernah, nggak pernah sekali pun, ngebolehin dirinya berharap lebih dari sepuluh nama semalam.


Jadi waktu gue buka Lampiran E di kantor gue malem itu, dan halaman sembilan nunjukin pas foto cowok umur dua puluh delapan dengan kulit sawo matang, rahang tegas, dan bekas luka tipis yang motong ujung alis kiri, gue nggak langsung lari ke lantai 28.

Gue duduk di kursi gue sampai jam empat pagi.

Gue nonton video TikTok sumsum tulang ayam itu dua puluh tujuh kali. Gue lihat dia nyentuh alis kirinya di detik ketiga puluh dua. Gue lihat cara dia ngomong “ini matang, ini aman”, dengan suara agak gemetar tapi mata yang... yang sama. Mata yang ada di foto polaroid lecek itu. Mata yang ngeliatin sesuatu kayak besok pasti lebih baik.

Tapi gue juga tahu satu hal: matanya Kak Naya pas di ranjang rumah sakit tahun 2022, waktu dia ketawa.

Kalau gue salah sekali lagi, gue nggak yakin Kak Naya bisa ketawa lagi.

Jadi gue ngelakuin satu hal yang Kak Naya sendiri bilang ke gue malem itu, tanpa dia tahu dia lagi ngasih izin.

Pastikan dulu, baru bicara.


Gue setuju sama perjodohan itu bukan karena Mama.

Oke, sebagian karena Mama. Mama emang serem kalau udah senyum sopan. Tapi gue bisa nolak. Gue pernah nolak Mama tiga kali seumur hidup, soal kuliah di jurusan desain, soal ghost kitchen pertama, dan soal piaraan iguana, dan gue masih hidup.

Gue setuju karena perjodohan itu tiket.

Tiket ke Bandung, ke Bumi Ni Dewi, ke dapur tempat cowok di halaman sembilan itu kerja. Tiket buat ngeliat dia dari deket, buat nanya-nanya tanpa dicurigain. Kalau gue dateng sebagai Ervan Sastrawidjaya, anak investor yang tiba-tiba magang di dapur, orang bakal curiga. Kalau gue dateng sebagai calon suami cucu yang punya restoran, wajar kalau gue pengen kenal bisnisnya. Wajar kalau gue nanya-nanya.

Gue nggak mikir soal ceweknya. Itu kesalahan gue yang pertama.

Gue nggak mikir bahwa ada cewek beneran di ujung tiket itu. Cewek yang punya perasaan, yang punya pilihan, dan yang ternyata, waktu gue duduk di depannya di meja nomor tujuh dengan celana basah es teh, ngeliatin kastrol liwet kayak kastrol itu ngutang sama dia, cuma karena cowok yang naruh sambal di deket piringnya adalah cowok yang dia sayang.

Dan cowok itu adalah adik kakak gue.

Gue duduk di saung itu sama Gita dan bikin Pakta Saung, dan gue ngerasa kayak orang paling jahat di dunia. Gue jadi tembok di antara dua orang yang saling sayang, dan alasannya cuma karena gue butuh tiket.

Gue minta maaf ke Gita, tapi itu nggak cukup. Gue tahu itu nggak cukup.


Sekarang gue tahu sembilan puluh lima persen.

Gue nulis daftarnya di catatan HP, kayak si Arief. Gue belajar dari dia. Data.

1. Foto halaman E-9: luka alis kiri, posisi sama persis dengan plester di polaroid. 2. Panti Kasih Bunda, Cimahi. Sekarang Yayasan Cahaya Harapan, digabung 2017. Sama dengan data detektif. 3. Ulang tahun 18 Oktober, bukan tanggal lahir asli, tanggal datang ke panti. Sama dengan tanggal roti tawar Kak Naya. 4. Aturan telur: “yang lebih tua makan yang gosong”. Kata Dede, Arief bilang itu “aturan kakak saya”. 5. Waktu ditanya punya kakak: “Punya. Dulu.” 6. Dia berhenti ngunyah waktu ngeliat sendok gue diputer.

Enam poin, dan semuanya cocok.

Tapi yang Arief di Sukabumi juga cocok di awal. Yang di makam juga cocok di awal.

Gue butuh lima persen terakhir. Gue butuh orang yang kenal mereka berdua. Bukan data, tapi orang.


Hari Rabu, gue nyetir sendiri ke Cimahi.

Gue nggak bilang ke siapa-siapa. Gue bilang ke Bryan gue ada janji sama dokter gigi. Bryan curiga, karena gue takut dokter gigi lebih dari gue takut kucing, tapi Bryan lagi sibuk ngurusin jadwal Kak Naya ke Surabaya, jadi dia cuma ngangguk.

Yayasan Cahaya Harapan ada di gang kecil di pinggir Jalan Gandawijaya. Gedungnya dua lantai, cat hijau muda yang udah ngelupas, pagar besi yang udah karatan di bawah. Di halamannya ada lapangan kecil yang setengahnya berbatu, tempat beberapa anak kecil lagi main bola pakai sandal.

Gue berdiri di depan pagar itu lama banget.

Gue nggak pernah ke sini, tapi gue tahu gerbang ini. Gue udah ngeliat gerbang ini empat belas tahun, di foto polaroid lecek yang disimpen di dompet kakak gue, di belakang dua anak yang berdiri di depannya.

Gerbangnya udah dicat ulang. Papan namanya udah diganti. Tapi tiang batu di kiri gerbang masih sama, dengan retakan diagonal di bagian atasnya. Retakan yang sama persis dengan yang ada di foto itu, tepat di atas kepala cowok kurus dengan plester di alis.

Gue nggak sadar gue nangis sampai seorang anak kecil yang lagi main bola berhenti dan ngeliatin gue.

“Om kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Gue ngusap muka pakai lengan kaus. “Om kelilipan.”

“Kelilipan apa?”

“Kelilipan... tiang.”

Anak itu ngeliatin gue kayak gue orang gila, terus lanjut main bola.


Di dalem, gue ketemu Bu Nining.

Umurnya hampir tujuh puluh, kerudungnya cokelat, dan jalannya agak pincang. Dia satu-satunya pengurus dari zaman Panti Kasih Bunda yang sekarang ada di sini. Dulu dia juru masak, berhenti waktu panti digabung, terus balik lagi tiga tahun lalu buat ngajarin anak-anak ngaji tiap sore.

Gue bilang gue dari keluarga donatur. Bukan bohong, Kak Naya kan Donatur K.S. Gue bilang gue lagi nyari tahu soal dua anak yang dulu tinggal di sini, sekitar tahun 2000-an. Kakak-adik.

Bu Nining nggak perlu nanya siapa.

“Kanaya jeung Arief,” katanya langsung, sebelum gue sempet nyebut nama. Matanya berkaca-kaca. “Ya Allah. Si Kanaya jeung si Arief. Nu teu bisa dipisahkeun.”

Gue nggak bisa ngomong. Gue cuma ngangguk.

Bu Nining nyuruh gue duduk di bangku panjang di dapur yayasan. Bangku kayu, dekat jendela. Gue nggak tahu apakah itu bangku yang sama, tapi rasanya kayak bangku yang sama. Dia bikinin gue teh manis, terus duduk di sebelah gue, terus cerita.

Dia cerita soal telur hari Kamis. Kanaya selalu ngasih bagian yang gede ke Arief. Arief selalu protes, Kanaya selalu bilang aturan Kakak. Bu Nining yang masak telurnya, jadi dia yang lihat setiap Kamis, selama sepuluh tahun.

Dia cerita soal anak SMP namanya Dodi yang ngatain Kanaya. Arief maju sendirian, pulang dengan alis sobek dan berdarah. Malamnya Bu Nining nemuin obat merah dari UKS sekolah di gudang belakang, di antara kardus mi instan, dan tahu siapa yang ngambil, tapi nggak pernah bilang ke Bu Rahmah.

Dia cerita soal tamparan. Seminggu kemudian Kanaya nampar si Dodi di depan satu kelas, dan dihukum bersihin toilet dua minggu. “Si Arief mantuan unggal poe. Unggal poe, Jang. Duaan nyikat toilet bari nyanyi.”

Terus dia cerita soal mobil hitam.

“Si Arief lumpat,” kata Bu Nining, suaranya pecah. “Ngudag mobil eta nepi ka tungtung gang. Sendalna pegat. Pegat talina. Manehna terus lumpat make sendal sabeulah. Ibu ningali ti jandela ieu.” Dia nunjuk jendela di sebelah kami. “Ti jandela ieu, Jang.”

Gue ngeliatin jendela itu, terus ngeliatin gang di luar, gang yang dulu dilewatin mobil hitam itu. Mobil yang bawa kakak gue ke rumah gue.

Gue nangis lagi. Kali ini gue nggak bilang kelilipan.

“Terus,” kata Bu Nining sambil ngusap matanya pakai ujung kerudung, “si Arief ayeuna... manehna teh damang, Jang. Alhamdulillah. Ibu terang. Manehna gawe di Bumi Ni Dewi, di Bandung. Jadi jalma penting ayeuna, cenah. Sakola nepi ka S2.”

Gue berhenti nangis.

“Ibu... Ibu tahu dia di mana?”

“Terang atuh.” Bu Nining senyum. “Unggal bulan aya nu ngirim beas ka dieu. Lima puluh kilo. Teu kungsi telat, ti saprak Ibu balik ka dieu, sareng cenah ti samemehna oge. Teu kungsi nyebut ngaran. Kurirna ngan ukur bebeja ‘ti Bumi Ni Dewi’. Terus bulan kamari incu Ibu nembongkeun video TikTok, budak lalaki ngajelaskeun tulang hayam. Ibu ningali alisna, Jang. Ibu langsung ceurik. Eta si Arief.” Ia berhenti sebentar. “Jeung aya tulisan dina karungna. Unggal bulan sarua.”

“Tulisan apa?”

Bu Nining berdiri, pincang ke gudang di belakang dapur, terus balik bawa karung beras kosong yang udah dilipat rapi. Karung dari bulan lalu. Dia ngebuka lipatannya dan nunjuk tulisan di pojok, pakai spidol hitam, tulisan tangan yang rapi dan miring sedikit ke kanan.

Buat yang hari Kamis nggak kebagian telur.

Gue ngeliatin tulisan itu.

Lima persen terakhir.


Gue nyetir balik ke Jakarta malam itu, dan gue berhenti tiga kali di rest area karena nggak bisa liat jalan.

Gue tahu sekarang. Seratus persen. Nggak ada lagi kemungkinan Arief Sukabumi, Arief di makam, atau Arief yang lain. Cowok yang ngajarin gue cuci piring, yang ngejelasin kenapa gue bangkrut tiga kali dalam empat menit, yang ngebersihin luka di telapak tangan gue dan bilang di dapur sering yang luka, A, yang naruh sambal di deket piring Gita, adalah adik kakak gue.

Cowok itu yang ngirim lima puluh kilo beras ke panti tiap bulan, entah udah berapa tahun, dengan tulisan buat anak-anak yang hari Kamis nggak kebagian telur. Sementara kakak gue, di Boston, di New York, di Singapura, di Jakarta, ngirim duit ke rekening panti yang sama atas nama Donatur K.S. sampai rekeningnya mental.

Mereka berdua ngirim sesuatu ke tempat yang sama. Selama bertahun-tahun. Dan nggak pernah tahu satu sama lain.

Gue mau langsung nelepon Kak Naya. Gue udah buka kontaknya di rest area kedua, di Cikampek, jempol gue udah di atas tombol hijau.

Terus gue berhenti.

Karena ada satu hal lagi yang gue tahu. Satu hal yang bikin gue nggak bisa nelepon.

Gue tahu soal Gita.

Gue tahu Arief sayang Gita. Gue tahu Gita sayang Arief. Gue tahu mereka berdua dipisahin sama perjodohan yang dibikin Mama gue, keluarga gue, keluarga Kak Naya. Gue tahu Kak Naya yang tanda tangan memo investasinya. Kak Naya yang setuju, walaupun dia ngapus klausul pernikahan dari kontrak, walaupun dia bilang itu urusan keluarga, bukan perusahaan.

Kalau gue nelepon sekarang, Kak Naya bakal tahu dua hal sekaligus dalam satu telepon: adiknya masih hidup, dan keluarganya, keluarga yang ngadopsi dia, yang bikin syarat dia nggak boleh nyari adiknya, sekarang lagi ngerebut satu-satunya hal yang adiknya pengenin buat dirinya sendiri.

Gue kenal Kak Naya. Dia bakal ngerasa itu salah dia, semuanya.

Gue nggak mau Kak Naya tahu lewat telepon, di rest area Cikampek, jam sebelas malem. Gue nggak mau adiknya jadi suara di telepon yang putus-putus. Mereka udah empat belas tahun cuma jadi foto dan transferan mental buat satu sama lain.

Mereka harus ketemu. Di depan mata. Biar Kak Naya liat sendiri bekas luka itu, biar Kak Naya yakin sendiri, tanpa gue, tanpa detektif, tanpa daftar tiga ratus dua belas nama.

Gue nutup aplikasi telepon.

Gue buka email kerja, dan gue nulis ke Pak Hendrawan.

Pak, untuk rapat final kemitraan BND minggu depan, saya usul kita undang Head of Operations Transformation mereka untuk presentasi langsung di depan Bu Kanaya. Yang bikin sistem terpusat 47 cabang itu. Kalau kita mau naruh 25 M, kita harus denger dari orang yang paling ngerti operasionalnya, bukan cuma dari direksi keluarga. Bu Kanaya pasti setuju, beliau selalu bilang lebih percaya orang yang bikin angka daripada orang yang ngomongin angka. — Ervan

Gue baca ulang email itu tiga kali.

Itu bukan bohong. Kak Naya emang selalu bilang gitu.

Gue kirim.


Gue tahu ini mungkin salah. Gue tahu nanti Kak Naya bakal marah. Bakal marah banget, mungkin bakal nampar gue. Gue udah pernah liat dia nampar orang sekali, di lobi kantor, waktu ada kontraktor yang ngatain Bryan “banci”. Kak Naya nggak pernah nampar tanpa alasan, dan alasan kali ini bakal gede banget.

Gue tahu Gita masih sedih. Gue tahu Arief masih motong bawang tiap malem, atau sesuatu yang mirip motong bawang.

Gue tahu gue masih jadi tembok, dan gue masih orang jahat di cerita orang lain, setidaknya sampai rapat itu.

Tapi gue juga tahu satu hal yang lebih gede dari semua itu.

Gue tahu Kak Naya, lebih baik dari siapa pun. Dan gue tahu, kalau dia ngeliat adiknya dengan matanya sendiri, di ruangan yang sama, dengan bekas luka yang sama di alis kiri, dia nggak akan jatuh untuk ketiga kalinya.

Kali ini dia bakal berdiri.

Dan kalau Kak Naya udah berdiri, nggak ada perjodohan, nggak ada Mama, nggak ada dua puluh lima miliar, dan nggak ada apa pun di dunia ini yang bisa ngalahin dia.

Gue tahu, karena gue udah empat belas tahun ngeliat dia berdiri di depan semua orang.

Ini pertama kalinya gue bakal ngeliat dia berdiri buat dirinya sendiri.


Jam satu pagi, gue sampai di rumah Menteng. Lampu dapur masih nyala.

Kak Naya duduk di lantai pantry, di antara rak beras sama kardus mi instan, kayak empat belas tahun lalu. Bedanya, sekarang dia pakai setelan kantor yang belum diganti dan laptop di pangkuan. Daftar Pak Sutomo kebuka di layarnya. Nomor delapan puluh tiga sampai sembilan puluh dua.

Dia ngangkat kepala waktu gue masuk.

“Van? Kok baru pulang? Dari dokter gigi sampai jam satu?”

Gue nggak jawab. Gue jalan ke kulkas, ngambil es krim cokelat dua, duduk di sebelahnya di lantai pantry, dan nyodorin satu.

Kak Naya ngeliatin es krim itu. Terus ngeliatin muka gue. Mata gue pasti masih merah, karena Kak Naya langsung naruh laptopnya.

“Kamu nangis?”

“Kelilipan.”

“Kelilipan apa?”

“Tiang.”

Kak Naya ngeliatin gue lama. Gue tahu dia tahu gue bohong. Gue tahu dia lagi mutusin mau nanya atau nggak, persis kayak malem itu di lantai 25 waktu gue bilang halaman delapan.

Dia nggak nanya.

Dia ngambil es krimnya, ngebuka tutupnya, terus nyendok bagian yang paling banyak cokelatnya, bagian tengah, terus nyodorin sendok itu ke gue.

“Buat yang lebih muda,” katanya.

Gue makan es krim itu, di lantai pantry rumah Menteng, jam satu pagi, di sebelah kakak gue, yang nggak tahu bahwa adiknya, adik beneran, adik di foto polaroid, cuma satu jam naik kereta cepat dari tempat kami duduk.

Gue nggak nangis lagi. Gue udah abis nangis di tiga rest area.

Tapi gue ngeliatin daftar di laptopnya. Nomor delapan puluh tiga sampai sembilan puluh dua, semua dari kampus di Bandung yang huruf depannya I sama P.

Huruf U masih jauh, di ujung. Nomor dua ratus delapan puluh.

Nggak perlu sampai sana, Kak, pikir gue. Sebentar lagi. Tunggu sebentar lagi.

Itu satu-satunya hal yang gue tahu.