Chapter Four
Lantai 27
POV: Kanaya
Alarm asap di pantry lantai 27 Exo Tower berbunyi pukul enam lewat empat puluh dua menit.
Bunyinya nyaring dan panjang. Lampu merah kecil di langit-langit berkedip-kedip dengan semangat yang tidak proporsional, mengingat penyebabnya cuma satu butir telur.
“Bu Kanaya! Bu Kanaya!” Bryan, asisten pribadiku, berlari masuk dari koridor dengan setelan jas setengah terpakai, satu lengan masuk dan satu lagi masih menggantung. “Oh my God. Oh my God, Bu. Is it a fire? Literally fire? Saya panggil security? Saya panggil damkar?”
“Bukan api, Bryan.”
“Terus itu asap apa?”
Aku menatap teflon di depanku. Di atasnya ada sesuatu yang lima menit lalu adalah telur dadar, dan sekarang lebih mirip peta topografi Pegunungan Jayawijaya: hitam di pinggir, cokelat gelap di tengah, dengan satu bagian kecil yang secara ajaib masih kuning.
“Sarapan,” kataku.
Bryan memandangi teflon itu, lalu memandangiku, lalu kembali ke teflon. Ia anak Jakarta Selatan yang sekolah di Singapura. Ia bisa menyusun jadwal tiga negara dalam satu jam dan memesan meja di restoran yang daftar tunggunya enam bulan dalam satu telepon. Tapi dalam dua tahun bekerja untukku, ia belum pernah benar-benar siap menghadapi aku di dapur.
“Bu,” katanya hati-hati, seperti bicara dengan orang yang memegang senjata. “Ibu tahu kan, kita punya lima belas outlet Rasa Sastra di gedung ini. Ibu tinggal bilang, saya order. Lima menit sampai. Lima menit.”
“Saya bisa masak telur.”
“Ibu nggak bisa masak telur.”
“Saya bisa.”
“Ini percobaan keberapa minggu ini, Bu?”
Aku diam.
“Bu?”
“Ketiga.”
Bryan menghela napas yang sangat panjang dan sangat dramatis, lalu mengambil kursi lipat, naik ke atasnya, dan mengipasi detektor asap dengan map rapat yang seharusnya ia bawa ke lantai 28 jam tujuh nanti.
Aku mematikan kompor, mengambil sendok, dan membelah telur itu jadi dua. Aku memakan bagian yang paling gosong.
“Bu, itu yang item jangan dimakan, Bu. Itu karsinogen. Saya pernah baca artikel—”
“Yang lebih tua makan yang gosong,” kataku, sambil mengunyah sesuatu yang rasanya seperti arang dengan sedikit garam.
Bryan berhenti mengipas. “Itu peribahasa dari mana, Bu?”
“Bukan peribahasa.”
“Terus?”
Aku tidak menjawab. Aku memakan sisa bagian gosong itu sampai habis, dan bagian kecil yang kuning kubiarkan di teflon. Tidak ada yang memakannya. Sudah empat belas tahun bagian itu tidak ada yang memakan.
Jam tujuh tepat, aku duduk di ujung meja rapat lantai 28.
Ada dua belas orang di ruangan ini: direktur keuangan, direktur properti, kepala divisi Rasa Sastra, dua konsultan dari firma di Singapura, dan sisanya manajer yang menghabiskan seminggu menyusun presentasi yang akan kuhabisi dalam lima belas menit.
Bukan karena aku kejam. Aku hanya tidak punya waktu untuk kalimat yang tidak perlu.
Direktur Rasa Sastra, Pak Hendrawan, membuka presentasinya dengan slide berjudul EKSPANSI 2027: MENJADI RAJA KOPI DAN TEH NUSANTARA, dengan latar belakang foto biji kopi yang berjatuhan dalam gerak lambat.
“Pak Hendrawan.”
“Ya, Bu?”
“Lewati judulnya. Langsung ke slide angka.”
“Baik, Bu.”
Slide angka muncul. Rencana membuka seratus dua puluh gerai baru di dua tahun, investasi empat ratus miliar, dan proyeksi balik modal yang sangat optimis.
“Asumsi pertumbuhan penjualan per gerai Anda dua puluh dua persen per tahun,” kataku. “Rata-rata pertumbuhan gerai kita yang sudah ada, tiga tahun terakhir, sembilan koma empat. Dari mana angka dua puluh dua?”
“Itu... proyeksi berdasarkan tren pasar, Bu.”
“Tren pasar siapa?”
Ia melirik salah satu konsultan Singapura. Konsultan itu pura-pura sangat tertarik pada gelas airnya.
“Kita nggak akan buka seratus dua puluh gerai baru,” kataku. “Pasar kopi sudah jenuh. Setiap gang di Jakarta Selatan punya tiga kedai kopi, dan dua di antaranya punya nama yang terdengar seperti nama anjing. Kita tidak menang dengan jumlah. Kita menang dengan tempat.”
“Tempat, Bu?”
“Rasa Sastra perlu masuk ke tempat orang makan, bukan cuma tempat orang nongkrong. Restoran keluarga, restoran tradisional. Tempat orang datang membawa ibu, nenek, anak-anak, lalu duduk dua jam. Kopi dan teh kita jadi bagian dari meja makan mereka, bukan cuma jadi gelas plastik yang dibawa ke kantor.”
Pak Hendrawan mengangguk cepat, mencatat sesuatu, lalu membalik halaman lampirannya.
“Kebetulan, Bu, ada satu usulan dari Ibu Liliana. Kemitraan dengan jaringan restoran tradisional di Jawa Barat. Sekitar empat puluh sampai lima puluh cabang. Ibu Liliana bilang beliau sudah berbicara dengan salah satu pemilik keluarganya, seorang Bapak Rudi Wardhana dari—”
Ponselku bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat semua yang ada di ruangan ini mendadak tidak penting.
Pak Sutomo – Investigasi.
“Lanjutkan, Pak Hendrawan. Kirim usulan itu ke email saya. Saya baca nanti.” Aku sudah berdiri. “Bryan, ambil alih sepuluh menit.”
“Ambil alih apa, Bu?”
“Rapatnya.”
“Saya? Bu, saya asisten—”
Pintu ruang rapat sudah tertutup di belakangku.
Pak Sutomo adalah detektif swasta kesebelas yang kusewa dalam delapan tahun. Ia mantan polisi, umurnya enam puluh, bicaranya pelan, dan tidak pernah memberikan harapan yang tidak perlu. Itu sebabnya aku memilihnya.
“Bu Kanaya.”
“Pak.”
“Saya sudah ke Cimahi lagi. Arief yang di bengkel motor Jalan Gandawijaya itu sudah saya temui langsung.”
Aku menunggu. Aku berdiri di tangga darurat lantai 28, satu-satunya tempat di gedung ini yang tidak punya kamera, tidak punya kaca, dan tidak punya orang. Tanganku menggenggam pegangan tangga yang dingin.
“Bukan dia, Bu.”
Aku memejamkan mata.
“Umurnya cocok. Dua puluh delapan. Tapi dia lahir di Majalengka, orang tuanya masih hidup, dan dia tidak pernah tinggal di panti.” Pak Sutomo diam sebentar. “Dan tidak ada bekas luka di alis, Bu. Saya cek, sesuai foto yang Ibu kasih.”
“Baik, Pak.”
“Bu Kanaya, saya mau jujur. Jejaknya putus waktu dia umur delapan belas. Arsip Panti Kasih Bunda hilang waktu pantinya digabung tahun 2017. Ibu pantinya sudah wafat. Anak-anak panti angkatan dia sudah tersebar. Saya sudah coba data BPJS, data kependudukan, data kampus. Nama ‘Arief’ tanpa nama belakang, dengan tanggal lahir yang bahkan pantinya sendiri cuma memperkirakan, itu...”
“Seperti mencari satu butir beras di karung,” kataku.
“Ya, Bu.”
“Teruskan, Pak.”
“Bu—”
“Teruskan. Biayanya saya tambah. Coba lagi data kampus. Dia pintar, Pak. Dia pasti kuliah. Dia pasti dapat beasiswa di suatu tempat. Anak sepintar itu tidak mungkin hilang.”
Hening di seberang. Lalu, dengan nada seorang ayah, Pak Sutomo berkata:
“Baik, Bu. Saya teruskan.”
Aku menutup telepon dan berdiri di tangga darurat itu lima menit lagi, sampai napasku normal dan wajahku cukup rapi untuk kembali ke ruang rapat.
Aku tidak menangis. Aku sudah lama tidak menangis di depan orang. Kalau perlu menangis, ada tempat-tempat seperti tangga darurat ini. Dulu ada gudang belakang panti di antara kardus mi instan, dan satu orang yang selalu tahu di mana harus mencariku.
Sekarang tidak ada yang mencari.
Sepuluh menit kemudian aku kembali ke ruang rapat. Bryan sedang berdiri di depan layar, keringatnya mengalir di pelipis, mencoba menjelaskan proyeksi arus kas pada direktur keuangan yang umurnya dua kali lipat umurnya.
“—dan karena itu, Pak, menurut saya pribadi, yang mana saya bukan ahli, tapi menurut feeling saya—”
“Terima kasih, Bryan.”
Ia nyaris menangis lega. “Bu. Thank God.”
Aku duduk, membuka laptop, dan menyelesaikan rapat dalam dua puluh menit. Ekspansi seratus dua puluh gerai kupangkas jadi dua puluh, dan sisa anggarannya dialokasikan untuk kemitraan dengan jaringan restoran keluarga, “dengan seleksi yang ketat,” kataku, “berdasarkan data, bukan berdasarkan siapa kenal siapa.” Konsultan Singapura diminta mengulang analisis pasar dengan asumsi yang realistis. Laporan revisi kuminta ada di mejaku hari Jumat.
Saat orang-orang mulai keluar, Pak Hendrawan berhenti di ambang pintu.
“Bu, usulan Ibu Liliana tadi—”
“Kirim ke email saya.”
“Sudah, Bu. Ibu Liliana juga bilang, eh, kemitraannya kemungkinan akan... lebih dari kemitraan bisnis. Ada unsur keluarga. Beliau minta saya sampaikan bahwa Ibu sebaiknya membacanya bersama Mas Ervan.”
Aku mengangkat kepala. “Ervan?”
“Ya, Bu.”
“Ada urusan apa Ervan dengan restoran?”
Pak Hendrawan tersenyum canggung, senyum orang yang tahu sesuatu tapi tidak berhak mengatakannya. “Mungkin lebih baik Ibu tanya Mas Ervan langsung, Bu.”
Ervan datang ke ruanganku jam dua belas lewat sedikit, membawa dua kotak makan siang dari salah satu gerai di lantai dasar dan wajah orang yang akan dieksekusi.
Ia adik angkatku. Lebih tepatnya, ia anak kandung keluarga ini dan aku yang anak angkat, tapi sejak ia berumur tiga belas dan aku enam belas, ia selalu menyebutku “kakak gue” dengan nada seperti orang menyebut seorang superhero. Sekarang umurnya dua puluh tujuh. Ia punya tiga bisnis ghost kitchen yang semuanya bangkrut, satu podcast yang pendengarnya empat puluh dua orang, dan ketakutan pada kucing yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah.
Ia juga satu dari dua orang di dunia ini yang tahu aku menyimpan foto di dompet.
“Kak,” katanya sambil meletakkan kotak makan di mejaku dengan sangat hati-hati. “Kak Naya. Kakakku yang paling cantik, paling pintar, paling—”
“Langsung saja.”
“Mama mau jodohin aku.”
Aku membuka kotak makan siang. Nasi, ayam bakar, sambal. “Lalu?”
“‘Lalu’?! Kak! Aku dijodohin! Kayak sinetron! Kayak zaman Siti Nurbaya!” Ervan menjatuhkan diri ke sofa di pojok ruanganku dan menutup wajah dengan bantal. “Mama bilang aku udah dua puluh tujuh, udah waktunya ‘serius’, udah waktunya ‘punya pegangan’. Pegangan apa? Aku bukan angkot.”
“Dengan siapa?”
“Cucu pemilik restoran Sunda.” Suaranya teredam bantal. “Di Bandung. Restoran, Kak. Restoran! Aku aja bangkrut tiga kali di bisnis restoran, sekarang mau dikawinin sama restoran!”
Aku menyendok nasi. Di sudut mata, layar laptopku menampilkan email dari Pak Hendrawan yang belum kubuka. Subjeknya: Usulan Kemitraan Strategis – Jaringan Restoran Tradisional Jawa Barat (Arahan Ibu Liliana).
“Kamu sudah ketemu orangnya?”
“Belum. Katanya cantik. Lulusan Australia. Tapi Kak, semua orang yang mau dijodohin pasti ‘katanya cantik’. Nggak pernah ada perjodohan yang dimulai dengan ‘katanya biasa aja’.”
“Kalau kamu tidak mau, bilang ke Mama.”
Ervan mengangkat bantal dan menatapku seperti aku baru saja menyarankan agar ia melompat dari lantai 27.
“Bilang ke Mama,” ulangnya datar. “Kak. Kakak kenal Mama, kan?”
Aku kenal Mama. Mama yang sopan, berblus krem, tersenyum dengan cara yang membuat orang mengangguk sebelum sadar sedang diminta apa. Mama yang empat belas tahun lalu duduk di sebelahku di mobil hitam, menggenggam tanganku yang dingin, dan berkata dengan lembut: “Kanaya, Mama mau kamu mulai dari awal. Benar-benar dari awal. Itu satu-satunya syarat Mama.”
Aku menyetujuinya. Aku enam belas tahun, dan aku pikir aku cukup pintar untuk mencari celah di setiap syarat.
Aku memang menemukan celah. Untuk sementara.
Lalu celah itu tertutup.
“Kak?”
“Hm.”
“Kakak ngelamun lagi.” Ervan duduk tegak. Wajahnya berubah. Kalau sedang tidak bercanda, ia bisa sangat peka, dan hanya sedikit orang yang tahu itu. “Detektifnya nelepon, ya?”
Aku tidak menjawab.
“Bukan dia lagi?”
“Bukan.”
Ervan diam sebentar. Lalu ia berdiri, berjalan ke mejaku, dan dengan gerakan yang sudah terlalu sering ia lakukan untuk disebut kebetulan, ia mengambil potongan ayam bakar dari kotaknya sendiri dan menaruhnya di kotakku. Potongan paha, yang paling besar.
“Makan,” katanya. “Kakak dari pagi cuma makan telur gosong. Bryan udah lapor.”
“Bryan terlalu banyak bicara.”
“Bryan peduli. Kita semua peduli.” Ia kembali ke sofa, menjatuhkan diri, dan menatap langit-langit. “Kak, kalau suatu hari ketemu...”
“Kalau.”
“Kalau suatu hari ketemu, Kakak mau ngomong apa pertama kali?”
Aku menatap ayam bakar di kotakku, yang sekarang bagiannya lebih besar karena seseorang memutuskan aku layak mendapat yang lebih besar.
“Belum tahu,” jawabku jujur.
Malam itu aku pulang ke penthouse di Annex Tower jam sebelas.
Penthouse itu luasnya dua ratus meter persegi. Jendelanya dari lantai ke langit-langit, dengan pemandangan lampu Jakarta yang membentang seperti papan sirkuit yang tidak pernah dimatikan. Dapurnya marmer putih dengan kompor induksi enam tungku dan kulkas dua pintu yang isinya air mineral, yogurt, dan saus sambal botol yang tidak pernah kubuka.
Dapur itu belum pernah dipakai untuk memasak satu kali pun. Aku memasak di pantry kantor, supaya kalau gagal, Bryan yang membersihkan.
Aku duduk di lantai ruang tengah, bersandar ke sofa yang terlalu mahal untuk didudukinya, dan membuka dompet.
Foto polaroid itu sudah lusuh sekali. Ujungnya melengkung, warnanya pudar ke kuning, dan ada lipatan halus di tengah karena dulu aku menyimpannya di saku seragam. Foto itu diambil oleh salah satu donatur yang berkunjung ke panti, empat belas tahun lalu, dua bulan sebelum mobil hitam itu datang.
Dua anak berdiri di depan gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda. Yang perempuan berumur enam belas, rambutnya dikepang satu, tersenyum dengan cara yang tidak sampai ke mata. Yang laki-laki berumur empat belas, kurus, kulitnya sawo matang terbakar matahari, dan ada plester cokelat di alis kirinya. Itu luka lama yang sempat terbuka lagi karena ia bermain bola di lapangan berbatu.
Ia sedang memandangku, bukan memandang kamera. Matanya penuh semangat dengan cara yang tidak pernah kumengerti, karena kami tidak punya apa-apa yang perlu disemangati. Tapi ia selalu begitu. Ia selalu memandang segala sesuatu seolah besok pasti lebih baik.
Aku menyentuh foto itu dengan ujung jari, tepat di plester alisnya.
Sepuluh hari lagi, delapan belas Oktober.
Itu ulang tahunnya. Bukan ulang tahun yang sebenarnya, karena tidak ada yang tahu tanggal lahirnya yang sebenarnya. Bu Rahmah memilih tanggal itu untuknya: hari ia pertama kali datang ke panti. Katanya, angka delapan tidak ada ujungnya. Setiap delapan belas Oktober, aku menumpuk tiga lembar roti tawar, mengoleskan mentega dan gula di antaranya, lalu menancapkan satu lilin kecil yang kuambil dari laci darurat Bu Rahmah.
Kue roti tawar. Ia selalu memakannya dengan lahap seolah itu kue tart dari toko mahal.
Sudah empat belas tahun aku masih membuatnya setiap delapan belas Oktober, di kota mana pun aku sedang berada. Boston, New York, Singapura, Jakarta. Tiga lembar roti tawar, mentega, gula, satu lilin, dan kalau sedang beruntung tidak ada alarm asap.
Ponselku bergetar. Pesan dari Ervan.
Ervan: Kak. Mama udah fix. Katanya tinggal nunggu “keluarga sana siap”. Abis itu aku disuruh ke Bandung buat kenalan.
Ervan: Doain aku ya Kak. Semoga keluarga restorannya nggak melihara kucing.
Aku membaca pesan itu dua kali. Kata yang kulihat bukan “perjodohan”, bukan “restoran”, bukan juga “kucing”.
Kata yang kulihat adalah Bandung.
Bandung. Empat puluh menit dari Cimahi.
Aku mengetik balasan.
Saya: Bandung di mana?
Titik-titik mengetik muncul.
Ervan: Dago katanya. Kenapa Kak?
Aku menatap pertanyaan itu lama sekali.
Lalu aku menghapus balasan yang sudah setengah kuketik, Kakak ikut, karena besok aku harus ke Surabaya, lusa ke Singapura, dan minggu depan ada rapat dewan. Karena Pak Sutomo sudah mencari di Cimahi dan sekitarnya selama delapan tahun dan tidak menemukan apa-apa. Karena harapan yang terlalu sering dibangun dan dirobohkan lama-lama menjadi semacam penyakit, dan aku tidak boleh sakit. Terlalu banyak orang yang bergantung padaku untuk tetap berdiri.
Saya: Tidak apa-apa. Tidur. Besok kamu ada rapat jam delapan.
Ervan: Siap Bu CEO 🫡
Aku menaruh ponsel di lantai, menyimpan foto polaroid itu kembali ke dompet di balik kartu identitas, lalu memeluk lutut di ruang tengah penthouse yang terlalu besar untuk satu orang.
Di luar jendela, Jakarta tidak pernah tidur.
Di suatu tempat di luar sana, mungkin di Bandung, mungkin di kota lain, mungkin di jarak empat puluh menit dari tempat yang belum pernah kubayangkan, adikku sedang memandangi sesuatu seolah besok pasti lebih baik.
Aku harap ia sudah makan.
Aku harap ada yang memberinya bagian yang lebih besar.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27 reading
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu