Chapter Twenty

Ervan Belajar Cuci Piring

POV: Arief

Senin pagi, jam enam lewat lima belas, calon suami Gita berdiri di pintu belakang dapur Bumi Ni Dewi Dago, memakai sepatu.

Itu hal pertama yang kuperhatikan, karena Asep sudah menceritakan insiden sandal jepit biru hari Sabtu ke seluruh grup BND Pusat Sadayana, lengkap dengan foto Ervan berdiri di atas kursi meja delapan, yang ia ambil diam-diam dari balik pintu dapur. Pagi ini Ervan memakai sepatu kets putih yang masih sangat baru, celana jins, kaus polos hitam, dan ransel kecil. Ia terlihat seperti mahasiswa baru di hari pertama ospek.

Ia juga terlihat seperti orang yang tidak tidur.

“Pagi,” katanya, dengan senyum lesung pipinya. “Gue magang.”

Aku memandanginya dari meja potong, dengan pisau di tangan dan bawang putih setengah terkupas di talenan.

“Magang, A?”

“Iya. Magang. Mama gue bilang gue harus kenal bisnis calon keluarga. Jadi gue magang. Seminggu. Atau sehari. Tergantung.” Ia menggaruk tengkuk. “Tergantung gue bisa bertahan atau nggak.”

Mang Ujang, di depan kompor, menoleh dengan sangat pelan, memandangi Ervan dari atas sampai bawah, lalu memandangiku. Alisnya yang tebal terangkat tinggi, sampai hampir menyentuh kupluknya.

“Ka saha magangna, A?” tanya Mang Ujang.

Ervan menunjukku. “Ke dia.”

Seluruh dapur berhenti bergerak. Dua tukang potong sayur, Iwan di pojok dengan karung bawang, dan Dede yang baru datang dari ruang ganti dengan apron setengah terpasang. Bahkan Si Belang, di dekat tong sampah, berhenti menjilati kakinya.

“Ke saya,” ulangku.

“Ke lo. Kata Dede, lo yang ngajarin semua orang di sini. Karedok, pencok, sistem, semuanya. Jadi gue magang ke lo.” Ervan tersenyum lebih lebar, tapi matanya tidak ikut tersenyum. Matanya memandangiku dengan cara yang sama seperti hari Sabtu di Meja Tujuh, seperti orang yang memandangi sesuatu yang lama hanya ia lihat di buku. “Boleh, kan?”

Aku menaruh pisau di talenan.

Aku tahu apa ini.

Calon suami seorang perempuan datang ke tempat kerja laki-laki yang semua orang tahu pernah dekat dengan perempuan itu, laki-laki yang membawakan makanan ke meja mereka, menaruh sambal di dekat piring calon istrinya, bukan piringnya, dan yang sengaja tidak memandangi calon istrinya lebih dari dua detik. Lalu calon suami itu bilang ingin magang. Ingin mengikuti laki-laki itu seharian, ingin mengenal, ingin melihat dari dekat.

Itu intimidasi. Versi orang kaya Jakarta yang sopan, dengan sepatu kets baru dan lesung pipi, tapi tetap intimidasi.

Aku mengerti. Kalau aku di posisinya, mungkin aku juga ingin tahu siapa laki-laki yang membuat calon istriku memandangi kastrol liwet seperti kastrol itu berutang padanya.

“Boleh, A,” kataku. “Mangga.”

Ervan menghela napas, terdengar lega, terlalu lega untuk orang yang sedang mengintimidasi.

“Oke. Gue mulai dari mana?”

Aku memandangi tumpukan piring kotor dari sarapan karyawan di bak cuci.

“Dari situ, A.”


Dalam empat puluh menit pertama, Ervan Sastrawidjaya memecahkan tiga piring.

Piring pertama tergelincir dari tangannya yang penuh sabun waktu ia mencoba membilas dua piring sekaligus, “biar efisien”. Piring kedua jatuh waktu Si Belang lewat di dekat kakinya dan ia melompat ke belakang sambil berteriak. Piring ketiga pecah karena ia menaruhnya di rak pengering dengan cara yang, menurut Mang Ujang, “siga nu keur ngalungkeun batu ka balong.”

“Sori! Sori!” Ervan berjongkok memunguti pecahan piring ketiga dengan tangan telanjang.

“A, ulah ku leungeun!” Mang Ujang berlari dengan sapu dan pengki. “Ku sapu! Ku sapu! Engke leungeunna raheut!”

“Raheut itu apa?”

“Luka!”

“Oh.” Ervan berdiri dan memandangi telapak tangannya. Ada satu goresan kecil, berdarah sedikit. “Oh. Iya. Raheut.”

Aku mengambil kotak P3K dari dinding, membersihkan lukanya dengan alkohol, lalu menempelkan plester. Ervan memandangiku selama aku melakukannya. Ia tidak memandangi tangannya, tapi wajahku, dari jarak setengah meter, dengan cara yang membuatku tidak nyaman.

“Lo sering ngobatin orang ya?” tanyanya.

“Di dapur sering yang luka, A.”

“Lo juga diplester.” Ia menunjuk jari telunjuk kiriku. “Kenapa?”

“Kena pisau.”

“Pas motong apa?”

Aku melepaskan tangannya. “Bawang.”

Ervan memandangi plester di jariku, lalu wajahku, lalu plesternya lagi. Lalu ia mengangguk pelan, seperti orang yang menyimpan sesuatu, dan aku punya perasaan aneh bahwa ia tahu lebih banyak tentang lima puluh kilo bawang merah itu daripada yang seharusnya.

Grup BND Pusat Sadayana, tentu saja.


Jam sembilan, aku memindahkannya dari bak cuci ke meja potong. Mang Ujang meminta dengan sangat, “Rief, demi Allah, sebelum piring urang beak.”

Ervan memotong wortel. Potongannya tidak sama besar, ada yang setebal jari, ada yang tipis seperti kertas. Tapi ia tidak memecahkan apa pun dan tidak melukai siapa pun, dan menurut Mang Ujang itu “kamajuan nu luar biasa”.

Sambil memotong, Ervan bicara. Ia bicara terus.

“Lo tahu nggak, gue pernah punya restoran. Tiga.”

“Ghost kitchen,” kataku tanpa menoleh dari papan pesanan bahan yang sedang kucek. “Kaus A Ervan hari Sabtu. ‘I Survived Bangkrut 3X’.”

“Lo merhatiin kaus gue?”

“Asep foto, A. Diunggah ke grup.”

Ervan tertawa. “Asep. Si pahlawan kucing. Gue suka Asep.” Ia memotong wortel lagi, dengan potongan setebal jempol. “Yang pertama namanya ‘Ayam Geprek Galau’. Tahun 2021. Konsepnya, tiap level pedes ada nama mantannya. Level satu ‘Mantan yang Baik’, level lima ‘Mantan yang Selingkuh’. Viral, Rief. Viral banget. Tiga bulan pertama sehari bisa empat ratus pesanan.”

“Terus?”

“Terus tutup di bulan kesembilan.” Ia mengangkat bahu. “Gue nggak ngerti kenapa. Rame, viral, terus tiba-tiba sepi. Yang kedua, ‘Mie Ayam Mama Muda’, sama. Yang ketiga, ‘Rice Bowl Anak Kos’, sama. Rame tiga bulan, sepi enam bulan, tutup.”

Aku menaruh papan pesanan bahan.

Ini bukan urusanku. Laki-laki ini calon suami perempuan yang kucintai. Ia datang ke dapurku untuk mengintimidasi aku dengan lesung pipi dan sepatu baru. Kalau ia bangkrut empat kali, itu bukan masalahku.

Tapi aku tidak pernah bisa mendengar orang bercerita tentang masalah tanpa ingin menyelesaikannya. Mang Ujang menyebutnya penyakit. Teh Euis menyebutnya dukun nu make Excel.

“A Ervan,” kataku. “Menu Ayam Geprek Galau ada berapa item?”

Ervan berhenti memotong. “Hah? Ehm... banyak. Geprek lima level, ditambah topping. Keju, sambal matah, telur asin, terus ada minuman, ada dessert... Mungkin delapan puluh tujuh item?”

“Delapan puluh tujuh item buat dapur yang cuma jualan delivery?”

“Biar banyak pilihan.”

“Berapa yang laku?”

“Ehm...” Ervan memandangi wortel. “Mungkin... sepuluh?”

“Tujuh puluh tujuh item lainnya bahannya harus distok, tapi jarang dipesan. Bahan basi, dibuang. Food cost naik.” Aku menghitung di kepala. “Kemungkinan food cost A Ervan di atas lima puluh persen. Radius antarnya berapa?”

“Lima belas kilo. Biar jangkauannya luas.”

“Ayam geprek dikirim lima belas kilo di Jakarta, di jam makan siang, makan waktu satu jam. Tepungnya lembek, sambalnya meresap. Pelanggan pertama pesen karena viral, pelanggan kedua nggak pesen lagi karena ayamnya sampai kayak kerupuk direndam air.” Aku berhenti sebentar. “Satu lagi. Tiga bulan pertama, A Ervan pakai promo dari aplikasi? Diskon lima puluh persen, gratis ongkir?”

Ervan memandangiku dengan mulut terbuka.

“Iya. Dari mana lo tahu?”

“Karena ‘rame tiga bulan, sepi enam bulan’ itu persis polanya program promo merchant baru di aplikasi ojol. Tiga bulan disubsidi, terus subsidinya dicabut. Pelanggan yang datang karena diskon pergi waktu diskonnya habis. Mereka bukan pelanggan A Ervan. Mereka pelanggan diskon.”

Dapur hening. Mang Ujang berhenti mengaduk. Iwan berhenti mengupas.

Ervan menaruh pisaunya dengan sangat pelan di talenan.

“Lima menit,” katanya. “Lo barusan ngejelasin kenapa gue bangkrut tiga kali dalam lima menit. Gue butuh tiga tahun dan dua konsultan buat nggak ngerti.”

“Empat menit, A.”

“Ulah sombong!” seru Mang Ujang dari kompor, setengah tertawa.

Ervan menoleh ke Mang Ujang, lalu kembali padaku. Ekspresinya berubah. Bukan kagum, bukan iri, bukan intimidasi. Ekspresinya lebih aneh: seperti bangga. Seperti orang yang bangga pada sesuatu yang bukan miliknya, atau mungkin miliknya dengan cara yang tidak kumengerti.

“Kakak gue,” katanya pelan, “juga gitu. Bisa ngebaca angka dari jarak tiga meter dan tahu angkanya bohong atau nggak. Dia bilang angka yang bohong selalu terlalu rapi.”

“Kakak A Ervan pintar.”

“Kakak gue jenius.” Ervan tersenyum, dan kali ini senyumnya sampai ke mata. “Lo pasti suka dia.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tertarik pada kakak calon suami Gita. Aku sedang berusaha tidak tertarik pada apa pun tentang laki-laki ini.

Tapi aku mencatat satu hal: setiap kali Ervan menyebut kakak gue, suaranya berubah. Lebih lembut. Seperti suara orang yang menyebut sesuatu yang ia jaga.

Aku tahu suara itu, karena itu suaraku dulu.


Ervan bertanya terus.

Bukan soal bisnis. Setelah ghost kitchen, ia tidak bertanya apa pun soal bisnis lagi. Ia bertanya soal aku.

“Lo udah berapa lama di sini?”

“Tiga belas tahun, A.”

“Dari umur berapa?”

“Lima belas.”

“Sebelumnya di mana?”

“Panti.”

Ia sudah tahu jawaban itu. Aku melihatnya di wajahnya. Gita pasti sudah memberitahunya hari Sabtu, atau Asep, atau grup BND Pusat Sadayana. Tapi ia tetap bertanya, dan ia tetap menunggu jawabannya seperti orang yang menunggu hasil ujian.

“Panti mana?”

“Kasih Bunda. Cimahi. Sekarang udah ganti nama.”

Ervan memotong wortel lagi, sangat pelan.

“Ganti nama jadi apa?”

“Yayasan Cahaya Harapan. Digabung tahun 2017.”

Ia mengangguk dan tidak bertanya lagi selama dua puluh menit.

Jam sebelas, waktu restoran mulai buka dan aku sedang mengecek suhu ayam kampung dengan termometer, ia berdiri di sebelahku dan memperhatikan angka di layar digital.

“Ini yang di TikTok,” katanya. “Sumsum tulang.”

“Iya, A.”

“Gue nonton video itu...” Ia berhenti. “Beberapa kali.”

“Makasih, A.”

“Dua puluh tujuh kali.”

Aku menoleh. Ervan memandangi termometer, tidak memandangku.

“Lo pas ngomong di video itu,” katanya pelan, “lo gugup. Suara lo agak gemetar di detik keempat belas. Terus pas lo bilang ‘ini matang, ini aman’, lo nyentuh alis kiri lo. Detik ketiga puluh dua.”

Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak ingat menyentuh alisku di video itu. Aku sering menyentuhnya tanpa sadar, Gita pernah bilang begitu.

“A Ervan,” kataku pelan, akhirnya. Dapur sedang ramai, Mang Ujang berteriak soal sambal yang kurang, dan tidak ada yang mendengar kami. “Saya mau ngomong sesuatu.”

Ervan menoleh.

“Kalau A Ervan nanya-nanya soal saya buat dipakai ke Teh Anggita, nggak perlu.” Aku menjaga suaraku tetap rendah dan sopan. “Saya nggak akan ganggu. Saya nggak akan deketin Teh Anggita. Saya karyawan di sini. Teh Anggita calon istri A Ervan. Saya tahu tempat saya.”

Ervan memandangiku lama sekali. Dan wajahnya, wajah dengan lesung pipi yang selalu tersenyum terlalu cepat, perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang sangat sedih.

“Bukan itu,” katanya. Suaranya serak. “Sumpah, Rief. Bukan itu.”

“Terus kenapa?”

Ia membuka mulut. Lalu menutupnya lagi. Ia menelan, dan aku melihat jakunnya bergerak.

“Gue belum bisa bilang,” katanya. “Belum. Gue harus pastiin dulu. Ada orang yang udah sakit dua kali.”

Aku tidak mengerti. Tapi ada sesuatu di matanya, sesuatu yang tidak bisa dipalsukan bahkan oleh orang yang pandai berbohong. Dan Ervan, aku mulai sadar, sama sekali tidak pandai berbohong.


Jam satu, makan siang karyawan.

Aku menyuruh Ervan duduk di bangku panjang di belakang dapur bersama yang lain. Ia duduk di antara Iwan dan Dede, dengan piring yang diisi Mang Ujang: nasi, sayur asem, ayam goreng, dan telur dadar.

Lalu aku melihat sesuatu yang membuatku berhenti mengunyah.

Ervan mengambil sendok, memandangi telur dadarnya, lalu memandangi Iwan di sebelahnya, yang paling muda di meja, sembilan belas tahun. Ia membelah telur itu, tidak di tengah. Bagian yang besar ia pindahkan ke piring Iwan.

Iwan memandanginya. “A, ieu keur abdi?”

“Iya. Lo paling muda, kan?”

“Muhun, A. Tapi... A teh tamu.”

“Gue magang. Magang lebih rendah dari tamu.” Ervan menyendok bagian kecil yang gosong ke mulutnya. “Yang lebih tua makan yang gosong.”

Aku menaruh sendokku.

Bukan karena ia melakukannya. Semua orang di dapur ini melakukannya sejak hari Kamis, semua orang yang memindahkan telur ke piringku. Ervan mungkin melihatnya dari grup, atau Dede yang cerita.

Yang membuatku berhenti adalah caranya.

Ervan tidak membelah telur itu dengan pisau atau garpu. Ia memakai sendok, dengan satu tekanan dari ujung sendok, miring sedikit ke kiri, sehingga bagian yang besar jatuh ke sisi kanan dan langsung bisa didorong ke piring sebelah tanpa diangkat. Sendoknya diputar sedikit di akhir, seperti orang menutup kunci.

Aku hanya pernah melihat satu orang membelah telur seperti itu.

Seorang anak perempuan berumur sembilan tahun, dengan kepang dua yang miring ke kiri, di bangku panjang dekat jendela dapur panti, setiap hari Kamis.

Aku memandangi Ervan. Ervan sedang mengunyah bagian gosong dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa.

Lalu aku menyingkirkan pikiran itu. Banyak orang membelah telur dengan sendok. Banyak orang memutar sendoknya di akhir. Aku sudah dua puluh empat tahun melihat orang makan telur, dan aku sudah terlalu sering melihat hal-hal yang tidak ada. Aku pernah mengejar perempuan berkepang di Pasar Baru tahun 2018 sampai ia menoleh dan ternyata umurnya empat puluh. Aku pernah membeku di Stasiun Bandung tahun 2020 karena seseorang di peron tertawa dengan tawa yang mirip.

Tidak setiap sendok adalah sendoknya.

Aku kembali makan.


Jam tiga, restoran sepi. Aku kembali ke bak cuci, karena dua pencuci piring sedang istirahat dan piring makan siang tamu sudah menumpuk. Ervan berdiri di sebelahku, membilas. Kali ini ia membilas satu per satu, pelan-pelan, dan tidak memecahkan apa pun.

Kami bekerja dalam diam selama sepuluh menit. Air mengalir, piring berdenting, dan dari jendela kecil di atas bak cuci aku melihat kebun Nene, saung-saung, dan pohon pisang di pojok.

“Rief,” kata Ervan.

“Hm?”

“Lo ulang tahun kapan?”

Pertanyaan itu begitu tiba-tiba sampai aku menjawab dengan jujur. Aku memang selalu menjawab dengan jujur kalau terkejut.

“Delapan belas Oktober. Tapi itu bukan tanggal lahir asli. Itu tanggal saya datang ke panti. Nggak ada yang tahu saya lahir kapan.”

Piring di tangan Ervan jatuh.

Piring keempat hari ini, tapi kali ini tidak pecah. Piring itu jatuh ke dalam bak cuci yang penuh air sabun, tenggelam pelan-pelan, lalu berhenti di dasar dengan bunyi teredam.

Ervan tidak memungutnya. Ia berdiri di depan bak cuci dengan dua tangan basah di udara, dan wajahnya, dari samping, seperti wajah orang yang baru saja ditabrak sesuatu yang tidak kelihatan.

“A Ervan?”

Ia tidak menjawab. Ia menelan, sekali, dua kali.

“Lo...” Suaranya keluar sangat pelan, sangat hati-hati, seperti orang menginjak papan yang mungkin patah. “Lo punya kakak?”

Aku memandangi Ervan.

Lalu aku memandangi air sabun di bak cuci, tempat piring itu tenggelam.

“Punya,” kataku. “Dulu.”

Ervan menutup mata.

Ia berdiri seperti itu lama sekali, dengan mata tertutup dan tangan basah yang meneteskan air sabun ke lantai. Bahunya naik dan turun dengan napas yang terlalu dalam. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Aku tidak tahu kenapa satu kata, dulu, bisa membuat orang yang baru dua hari kukenal berdiri di depan bak cuci dengan mata tertutup seperti orang yang sedang berdoa.

Lalu ia membuka mata, mengambil lap dari gantungan, dan mengeringkan tangannya. Ia melakukannya sangat pelan, jari demi jari.

“Gue harus balik ke Jakarta,” katanya. Suaranya datar.

“Sekarang, A?”

“Sekarang.” Ia melepaskan apron yang dipinjamkan Mang Ujang, melipatnya dengan rapi, lebih rapi dari yang kuduga dari orang yang memotong wortel setebal jempol, lalu meletakkannya di meja stainless. “Ada yang harus gue kerjain. Penting.”

“Magangnya?”

“Gue balik lagi.” Ia memandangiku. Matanya merah. “Gue pasti balik lagi, Rief. Gue janji.”

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk berjabat tangan. Telapak tangannya menyentuh bahuku, lalu menepuknya dua kali, pelan, persis seperti cara Nene menepuk pipiku dan cara Mang Ujang menepuk bahuku.

Seperti cara keluarga.

“Makasih udah ngajarin gue cuci piring,” katanya.

Lalu ia pergi lewat pintu belakang dapur, tanpa ranselnya. Ranselnya tertinggal di bangku panjang, dan Asep berlari mengejarnya ke parkiran lima menit kemudian.


Dari jendela kantor belakang, aku bisa melihat sebagian parkiran.

Sedan hitam Ervan masih di sana. Sopirnya sedang merokok di bawah pohon ketapang di ujung parkiran, jauh dari mobil.

Ervan duduk di kursi belakang dengan pintu tertutup.

Dari jarak tiga puluh meter dan lewat kaca film yang gelap, aku hampir tidak bisa melihatnya. Tapi aku bisa melihat bentuknya: laki-laki yang membungkuk ke depan, dahinya menempel di sandaran kursi depan, dan bahunya bergetar naik turun dengan ritme yang hanya punya satu arti.

Ia menangis.

Aku berdiri di jendela lama sekali, memandangi mobil itu.

Aku tidak mengerti. Aku mencoba mengerti, seperti aku mencoba mengerti semua hal: dengan data, dengan pola, dengan menyusun potongan-potongan sampai membentuk gambar.

Laki-laki ini dijodohkan dengan perempuan yang tidak mencintainya. Ia datang ke Bandung, bertemu perempuan itu, dan melihat perempuan itu memandangi kastrol liwet seperti kastrol itu berutang padanya, karena laki-laki lain yang menaruh sambal di dekat piringnya. Lalu ia magang ke laki-laki lain itu, bertanya soal panti, alis, ulang tahun, kakak. Mungkin ia ingin tahu apa yang dimiliki laki-laki itu dan tidak dimiliki dirinya. Mungkin ia baru sadar bahwa yang dimiliki laki-laki itu hanya bekas luka, panti asuhan yang sudah ganti nama, ulang tahun yang bukan ulang tahun, dan seorang kakak yang hilang. Bukan apa-apa.

Mungkin ia menangis karena kasihan.

Atau mungkin, pikirku sambil memandangi bahu yang bergetar di balik kaca film itu, ia menangis karena baru menyadari bahwa calon istrinya tidak akan pernah memandanginya seperti memandangi kastrol liwet itu.

Itu kesimpulan yang paling masuk akal. Aku mempercayainya.

Aku tidak memberi diriku kesempatan untuk mempercayai kesimpulan lain.

Karena kesimpulan lain, yang muncul sebentar di bak cuci waktu piring itu tenggelam, yang muncul sebentar di bangku makan waktu sendok itu berputar seperti orang menutup kunci, terlalu besar. Kesimpulan itu terlalu mustahil. Kesimpulan seperti itu sudah terlalu sering kubangun dan dirobohkan, di Pasar Baru, di Stasiun Bandung, di ratusan wajah perempuan berkepang yang ternyata bukan.

Harapan yang terlalu sering dibangun dan dirobohkan lama-lama menjadi semacam penyakit.

Dan aku tidak boleh sakit. Terlalu banyak orang yang bergantung padaku untuk tetap berdiri.

Sedan hitam itu akhirnya menyala jam tiga lewat empat puluh. Sopirnya membuang puntung rokok, masuk ke kursi depan, dan mobil itu keluar dari parkiran, berbelok ke Jalan Dago, menuju tol, menuju Jakarta.

Aku kembali ke bak cuci.

Piring yang tadi dijatuhkan Ervan masih di dasar bak, di bawah air sabun yang sudah dingin. Aku merogohnya dan mengangkatnya.

Piring itu utuh, tanpa retak sedikit pun.

Aku mencucinya, membilasnya, dan menaruhnya di rak pengering bersama piring-piring lain.

Lalu aku berdiri di depan bak cuci yang kosong, dengan tangan basah, dan untuk alasan yang tidak bisa kujelaskan, menyentuh bekas luka di alis kiriku.