Chapter Thirty Seven

Pitch

POV: Arief

Alarm asap di penthouse lantai teratas Annex Tower tidak berbunyi pagi itu.

Itu hal pertama yang kusadari waktu bangun di sofa abu-abu yang terlalu mahal, jam lima lewat lima belas pagi, hari Senin, dua puluh delapan Desember. Aku menginap di sana malam sebelumnya. Kak Kanaya memaksa. “Komite jam sepuluh. Kalau kamu naik kereta jam lima dari Bandung, kamu sampai jam enam, macet di tol, sampai Sudirman jam setengah sepuluh dengan kemeja kusut. Nginep di tempat Kakak. Itu bukan permintaan.”

Aku bangun karena bau.

Bukan bau gosong. Bau minyak yang dipanaskan dengan benar, bau daun bawang yang baru dipotong, dan bau telur.

Aku duduk tegak di sofa dan memandangi dapur.

Kak Kanaya berdiri di depan kompor induksi dengan piyama katun abu-abu dan celemek bergambar kucing yang jelas bukan miliknya. Pasti milik Bryan, atau hadiah dari Bryan. Ia memegang teflon empat puluh lima ribu dengan gagang plastik hitam, teflon yang kubeli di minimarket lobi tiga minggu lalu dan ternyata tidak pernah ia buang.

Di belakangnya, satu meter jauhnya, Bryan berdiri dengan setelan jas lengkap, dasi yang lurus sempurna, dan tabung pemadam api di dua tangan. Posisi siaga. Wajahnya tegang seperti orang yang menonton adu penalti final Piala Dunia.

Di sofa yang lain, di seberangku, Ervan terbangun karena suara yang sama dan memandangi dapur dengan mata setengah tertutup.

“Rief,” bisiknya. “Itu... Kak Naya lagi masak?”

“Kayaknya.”

“Kok nggak bunyi alarmnya?”

Kami berdua memandangi dapur.

Kak Kanaya memiringkan teflon dengan hati-hati supaya telur yang masih cair mengalir ke pinggir. Ia menunggu, memandangi pinggiran telur yang mulai mengering dan menggelembung. Ia tidak menunggu terlalu lama. Ia melipat telur itu jadi dua dengan spatula dan membaliknya dengan satu gerakan yang agak kaku tapi berhasil.

Telur dadar itu mendarat di teflon, utuh. Tidak menempel di pinggir wajan dan tidak terlipat tidak rapi.

Bryan menurunkan tabung pemadam api lima senti.

Kak Kanaya menunggu tiga puluh detik, lalu memindahkan telur itu ke piring putih yang mungkin dari Jerman. Ia memandanginya lama sekali.

Pinggirnya kecokelatan sedikit. Tengahnya kuning dan lembut. Tidak gosong.

“Bryan,” kata Kak Kanaya pelan, tanpa menoleh.

“Ya, Bu?”

“Ini nggak gosong.”

Bryan memandangi telur dadar itu. Lalu ia menurunkan tabung pemadam api sepenuhnya ke lantai, mundur dua langkah, berbalik menghadap jendela, dan menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Enam hari, Bu,” katanya dari balik tangannya, suaranya pecah. “Enam hari latihan. Tiga puluh empat telur. Dua alarm. Satu teflon baru. Dan akhirnya...”

Bahunya bergetar.

Ervan, di sofa, memandangi Bryan menangis di depan jendela dengan mulut terbuka.

“Bryan nangis,” bisiknya padaku. “Rief. Bryan nangis. Gue empat tahun kenal Bryan, gue nggak pernah lihat Bryan nangis. Waktu ibunya ulang tahun ke enam puluh aja dia nggak nangis.”

Kak Kanaya membawa piring itu ke meja pulau marmer. Lalu ia mengambil sendok.

Ia membelah telur itu tidak di tengah, dengan ujung sendok, miring sedikit ke kiri, dan memutar sendoknya di akhir seperti orang menutup kunci.

Ia mendorong bagian yang besar ke kursi kosong di seberangnya.

“Rief,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Sarapan. Komite jam sepuluh.”

Aku berdiri dari sofa, berjalan ke meja pulau, dan duduk di kursi tinggi di depan bagian telur yang besar.

Aku memandanginya.

“Kak,” kataku. “Yang lebih tua makan yang gede. Aturan aku.”

“Aturan kamu berlaku kalau kamu yang masak.” Kak Kanaya menyendok bagian yang kecil ke piringnya sendiri. “Kalau Kakak yang masak, aturan Kakak.”

Aku tertawa.

Aku memakan telur dadar itu. Telur dadar pertama dari kakakku dalam empat belas tahun. Telur yang tidak gosong, dengan bagian tengah yang lembut, kuning, dan sedikit keasinan karena Kak Kanaya masih belum bisa mengukur garam.

Rasanya persis seperti telur hari Kamis di panti.


Kantor pusat PT Bank Prima Nusantara Tbk ada di lantai dua puluh dua sampai tiga puluh sebuah gedung di Kuningan. Gedung itu bukan milik Sastrawidjaya Group. Kak Kanaya memberitahuku di lift dengan nada yang sedikit kecewa.

Ruang rapat komite kredit ada di lantai dua puluh sembilan. Ruangannya lebih kecil dari ruang rapat lantai 27 Exo Tower, tapi lebih serius. Meja oval dari kayu gelap, sembilan kursi kulit cokelat, dinding panel kayu, dan satu jendela sempit yang menghadap gedung kaca di seberang jalan. Tidak ada layar raksasa. Hanya satu proyektor di langit-langit dan layar putih yang diturunkan dari atas.

Di belakang meja oval, menempel ke dinding, ada satu baris kursi untuk pengamat. Enam kursi.

Lima di antaranya terisi.

Nene duduk di kursi paling ujung, dengan kebaya katun warna tanah yang paling bagus, yang hanya dipakai untuk Lebaran dan pernikahan, dan tongkat kayu di pangkuan. Nene tidak ke Jakarta selama tujuh tahun. Waktu Uwa Haris menawarkan untuk mewakilinya, Nene menjawab, “Lima puluh taun Nene dagang. Sakali-kali Nene hayang ningali budak Nene ngomong di bank.” Lalu Nene naik kereta cepat jam enam pagi bersama Uwa Haris dan Om Rudi.

Uwa Haris di sebelahnya, dengan kacamata di ujung hidung dan map di pangkuan. Om Rudi di sebelah Uwa Haris. Ia memakai kemeja batik yang disetrika, dan uban di pelipisnya tidak disemir. Kak Kanaya di sebelah Om Rudi, dengan setelan hitam dan wajah CEO, sebagai penjamin.

Dan di kursi kelima, di ujung yang lain, paling dekat ke meja oval, sehingga ia bisa melihat wajahku dari samping waktu aku berdiri di depan layar, duduk Gita.

Ia memakai blus putih sederhana dan celana kain krem, dengan rambut digerai lurus. Riasannya tipis, seperti waktu presentasi rebranding di depan direksi keluarga. Ia memegang map biru yang sama dengan milikku. Ia sendiri yang mencetak dua puluh lima rangkap Rencana Bumi versi tiga.

Ia tersenyum padaku waktu aku masuk.

Aku langsung lupa kalimat pertama presentasiku.


Komite kredit Bank Prima terdiri dari tujuh orang.

Ibu Ratnasari dari Special Asset Management, yang tersenyum padaku dengan sopan. Pak Hadi Kusuma, Kepala Manajemen Risiko, laki-laki berumur lima puluhan dengan kumis tipis dan wajah yang sepertinya tidak pernah tersenyum sejak krisis moneter 1998. Ibu Diana dari Hukum. Dua orang dari Kredit Korporasi. Satu orang dari Keuangan. Dan di kursi kepala meja oval, laki-laki berumur enam puluhan dengan rambut putih, kacamata berbingkai tanduk, dan jas abu-abu: Pak Gandhi, Direktur Utama.

Pak Gandhi tidak biasanya duduk di komite kredit untuk kasus sebesar ini. Ibu Ratnasari memberitahuku di lift dengan suara pelan: “Pak Gandhi minta ikut, Pak. Beliau bilang mau lihat sendiri orang yang membuat Ibu Kanaya berdiri di rapat keluarga.”

Aku berdiri di depan layar putih, menyambungkan laptop ke proyektor, dan memandangi tujuh orang di meja oval. Lalu lima orang di kursi pengamat.

Lalu satu orang di kursi paling dekat ke meja oval.

Gita sedang memandangiku. Ia tersenyum, senyum kecil dan miring di satu sisi, yang hanya untuk satu orang. Ia tidak berusaha menyembunyikannya.

Aku memandangi layar.

Lihat angkanya, kata surat di dompetku. Jangan lihat orangnya.

“Selamat pagi, Bapak-bapak, Ibu-ibu,” kataku. “Nama saya Arief. Saya Head of Operations Transformation PT Bumi Ni Dewi, dan pemegang kuasa khusus dari Direktur Utama kami, Ibu Dewi Kurniasih, untuk restrukturisasi ini.”

Di kursi pengamat, Nene mengangguk sekali.

“Pagi ini saya akan menjelaskan bagaimana PT Bumi Ni Dewi akan melunasi seluruh kewajiban PT Wardhana Graha Lestari di Bank Prima, yang dijamin dengan dua belas aset kami, dalam sembilan puluh hari, tanpa menjual aset produktif, tanpa pemutusan hubungan kerja, dan...”

Aku melirik ke samping.

Gita memiringkan kepalanya sedikit dan menyelipkan rambut ke belakang telinga, pelan sekali.

“...dan tanpa...” Aku kehilangan kalimatku. Aku memandangi layar. Angka. Lihat angkanya. “Tanpa menambah beban bagi pihak mana pun di luar pelanggan setia kami.”

Pak Hadi Kusuma, Kepala Manajemen Risiko, mengangkat satu alis.

Di kursi pengamat, Kak Kanaya menutup mulut dengan tangan dan memandang ke langit-langit.

Aku menggeser slide.


Dua puluh delapan menit.

Aku menjelaskan semuanya. Dana prabayar katering korporat yang sudah terkumpul tiga koma tujuh miliar, naik dari tiga koma empat seminggu lalu, karena lima puluh tiga pelanggan lagi transfer sebelum Natal. Kartu Langganan Liwet, lima ratus dua puluh juta. PPJB tanah Bekasi yang ditandatangani tanggal dua puluh tiga Desember di kantor notaris di Bekasi, dengan Om Rudi menandatanganinya dengan tangan yang tidak gemetar. Uang muka dua koma delapan lima miliar, yang masuk ke rekening escrow tanggal dua puluh empat.

Lalu tunggakan bunga dan denda, dua koma delapan miliar, lunas tanggal dua puluh enam Desember, dua hari sebelum batas waktu dari komite. Aku menampilkan bukti transfernya di layar.

Pak Hadi Kusuma mencatat sesuatu.

Lalu proyeksi arus kas bulanan untuk sembilan puluh hari ke depan, cabang per cabang.

Aku menampilkan satu grafik yang kubuat semalam di lantai penthouse, setelah Kak Kanaya tertidur dan Ervan mendengkur seperti anak kucing. Grafik itu menunjukkan bahwa bulan Januari, bulan paling sepi untuk restoran keluarga setelah liburan akhir tahun, arus kas operasional Bumi Ni Dewi akan turun dua puluh dua persen, persis seperti tiga tahun terakhir. Garis merah putus-putus. Lalu garis biru di atasnya: dana prabayar yang sudah diterima di muka. Garis biru itu menutupi lubang Januari dengan sisa satu koma satu miliar.

“Program prabayar ini bukan cuma alat untuk membayar tunggakan,” kataku. “Program ini meratakan arus kas di bulan-bulan sepi. Pelanggan membayar di bulan Desember, waktu kami punya kelebihan dari musim liburan, dan menerima layanan di bulan Januari sampai Maret, waktu kami biasanya kekurangan. Kami tidak meminjam dari bank. Kami meminjam dari musim.”

Ibu Ratnasari tersenyum.

Lalu aku menampilkan slide terakhir.

Tata Kelola: Agar Ini Tidak Terjadi Lagi.

Pak Hadi Kusuma meletakkan pulpennya.

“Pak Arief,” katanya, sebelum aku sempat bicara. Suaranya kering, seperti kertas tua. “Sebelum Anda menjelaskan slide ini, saya punya pertanyaan.”

“Silakan, Pak.”

“Dua puluh empat setengah miliar dijaminkan dengan dua belas aset perusahaan Anda, dengan surat kuasa umum, tanpa persetujuan rapat direksi, tanpa sepengetahuan direktur lain, selama hampir dua tahun.” Pak Hadi memandangiku dari balik kacamatanya. “Dan dana perusahaan Anda dipakai untuk membayar cicilan utang perusahaan pribadi seorang direktur, dengan keterangan transfer palsu, selama dua belas bulan. Itu terjadi di bawah manajemen yang sama yang sekarang meminta kami percaya pada rencana Anda.”

Ruangan diam.

Di kursi pengamat, Om Rudi menunduk. Uwa Haris meletakkan tangannya di bahu adiknya.

“Kenapa kami harus percaya,” kata Pak Hadi Kusuma, “bahwa manajemen yang membiarkan itu terjadi bisa mencegahnya terjadi lagi?”

Itu pertanyaan uang. Pertanyaan risiko. Pertanyaan Uwa Haris, dalam bahasa bank.

Aku sudah menyiapkannya. Halaman dua belas Rencana Bumi versi tiga.

Tapi aku tidak membuka halaman dua belas.

Aku menutup laptop.


Layar putih di belakangku berubah jadi biru polos. Tujuh orang di meja oval memandangiku. Lima orang di kursi pengamat juga.

“Pak Hadi benar,” kataku.

Pak Hadi Kusuma mengangkat alis.

“Manajemen kami membiarkan itu terjadi,” lanjutku. “Direktur Utama kami menandatangani surat kuasa itu. Direktur yang bersangkutan menyembunyikan utangnya. Direktur lain tidak bertanya. Dan saya, Head of Operations, tidak menemukannya selama dua tahun.”

Om Rudi mengangkat kepala dan memandangiku.

“Saya tidak menemukannya, Pak, karena sampai bulan November, Bumi Ni Dewi tidak punya sistem untuk menemukannya. Sertifikat aset kami tersebar di lemari besi kantor pusat, di laci manajer cabang, di kantor notaris. Satu sertifikat bahkan disimpan di bawah kasur seorang pegawai sejak tahun 1998.” Aku diam sebentar. “Laporan cabang Jakarta dikirim sebagai satu angka total setiap akhir bulan, dan tidak ada yang membukanya. Termasuk saya.”

Pak Hadi Kusuma tidak berkata apa-apa. Ia mendengarkan.

“Tanggal enam November, kami menyalakan sistem terpusat untuk empat puluh tujuh cabang. Ada satu modul yang menarik data dari tiga sumber sekaligus: daftar aset, mutasi rekening bank, dan data publik pertanahan. Kalau ketiganya tidak cocok, sistem memberi peringatan. Jam delapan malam, di hari pertama, sistem itu memberi peringatan dua belas kali.” Aku memandangi Pak Hadi. “Masalah ini tidak ditemukan oleh auditor, Pak. Tidak ditemukan oleh bank, tidak ditemukan oleh direksi. Masalah ini ditemukan oleh sistem yang kami bangun, di hari pertama sistem itu menyala.”

Aku membuka laptop lagi, dan menampilkan halaman dua belas.

“Sistem yang sama sekarang mengirim peringatan otomatis ke seluruh direktur dan komisaris, bukan cuma ke saya, setiap kali ada perubahan status aset. Kuasa umum sudah dicabut. Semua kuasa sekarang kuasa khusus, dengan lingkup yang jelas dan masa berlaku yang terbatas. Pak Rudi Wardhana sudah mengundurkan diri dari jabatan Direktur Pengembangan Wilayah Jakarta per tanggal dua puluh dua Desember, atas permintaannya sendiri.”

Di kursi pengamat, Om Rudi menegakkan punggung.

“Pak Rudi sekarang memimpin program pengembalian dana konsumen Wardhana Residence,” kataku. “Dua ratus tujuh puluh pembeli, termasuk Ibu Sumarni, yang menjual mobil satu-satunya untuk uang muka unit studio. Pak Rudi sudah menelepon dua ratus empat belas di antaranya, satu per satu, sejak hari Selasa. Pengembalian pertama, untuk Ibu Sumarni, ditransfer tanggal dua puluh tujuh Desember. Kemarin.”

Pak Hadi Kusuma memandangi Om Rudi di kursi pengamat lama sekali.

Om Rudi memandang balik. Matanya merah, tapi ia tidak menunduk.

“Bapak tanya kenapa harus percaya pada manajemen yang membiarkan ini terjadi,” kataku. “Saya tidak minta Bapak percaya pada orang. Orang bisa salah. Direktur Utama kami salah. Direktur Jakarta kami salah. Saya salah karena tidak bertanya selama dua tahun.”

Aku menunjuk layar.

“Saya minta Bapak percaya pada sistem yang menemukan kesalahan itu. Sistem yang sama yang sekarang menjaganya.”


Ruangan diam.

Pak Hadi Kusuma memandangi layar lama sekali. Lalu ia mengambil pulpennya dan menulis sesuatu di kertas di depannya. Satu kata, pendek. Aku tidak bisa membacanya dari tempatku berdiri.

Lalu ia meletakkan pulpennya dan bersandar ke kursi.

“Terima kasih, Pak Arief,” katanya. “Saya tidak punya pertanyaan lagi.”

Ibu Diana dari Hukum bertanya soal klausul pembatalan PPJB. Aku menjelaskan bahwa uang muka sepuluh persen itu hangus kalau pembeli mundur, dan ada dua pengembang cadangan yang sudah menyatakan minat tertulis. Salah satu orang dari Kredit Korporasi bertanya soal kolaborasi Rasa Sastra. Aku menjelaskan bahwa itu kontrak pasokan murni, bagi hasil penjualan minuman di empat puluh tujuh cabang, ditandatangani oleh Pak Hendrawan sebagai Direktur Rasa Sastra, tanpa keterlibatan CEO Sastrawidjaya Group, yang mengundurkan diri dari keputusan itu karena konflik kepentingan. Tanpa syarat non-bisnis dalam bentuk apa pun. Proyeksinya menambah margin dua koma tiga persen per tahun.

Di kursi pengamat, Kak Kanaya mengangguk sekali, dengan wajah CEO yang sangat datar.

Lalu ruangan diam lagi.

Semua orang memandangi kepala meja oval.

Pak Gandhi, Direktur Utama, belum bicara sama sekali selama tiga puluh lima menit. Ia duduk dengan tangan terlipat di atas meja, kacamata berbingkai tanduk di ujung hidung, dan wajah yang tenang, seperti orang mendengarkan lagu.

Seperti Nene di rapat direksi.

Pak Gandhi melepas kacamatanya, membersihkannya dengan sapu tangan dari saku jas, lalu memakainya lagi. Gerakannya lambat, seperti Uwa Haris.

“Pak Arief,” katanya. Suaranya rendah dan pelan, dengan logat Jawa yang halus. “Saya punya satu pertanyaan. Bukan soal angka.”

Aku menunggu.

Aku tahu jenis pertanyaan ini. Aku sudah tujuh tahun menghadapinya di rapat direksi Bumi Ni Dewi, dari satu orang di kepala meja yang selalu bertanya dengan perasaan, bukan dengan kepala. Pertanyaan yang tidak pernah bisa kutebak.

“Anda bukan pemilik Bumi Ni Dewi,” kata Pak Gandhi. “Anda tidak punya saham. Anda bukan keluarga pendiri. Ibu Kanaya menyampaikan pada saya bahwa Anda dibesarkan di panti asuhan di Cimahi, mulai bekerja di Bumi Ni Dewi sebagai pencuci piring di umur lima belas, dan tinggal di kamar kos yang...” Ia melirik Kak Kanaya di kursi pengamat. “...yang menurut beliau bocor di pojok kiri.”

Di kursi pengamat, Kak Kanaya memandang ke langit-langit.

“Utang ini bukan utang Anda. Kesalahan ini bukan kesalahan Anda. Kalau dua belas cabang itu dilelang, Anda tetap punya pekerjaan. Dengan rekam jejak seperti yang Anda tunjukkan pagi ini, saya bisa menawari Anda posisi di bank ini besok pagi, dengan gaji tiga kali lipat.” Pak Gandhi memandangiku. “Kenapa Anda melakukan semua ini?”

Aku memandangi Pak Gandhi.

Aku tahu jawaban yang benar untuk bank. Jawaban tentang tanggung jawab profesional, loyalitas, dan empat ratus dua belas karyawan. Jawaban yang bisa dicatat di notulen rapat.

Lalu aku memandangi kursi pengamat.

Nene, dengan kebaya Lebaran dan tongkat di pangkuan, memandangiku dengan mata tua yang berkabut di pinggir.

Jawab pakai perasaan juga, kataku pada Gita, malam sebelum rapat direksi, di Meja Tujuh.

“Pak,” kataku. “Waktu saya umur lima belas, saya datang ke Bumi Ni Dewi cabang Cimahi buat ngelamar jadi tukang cuci piring. Saya nggak punya pengalaman. Ijazah SMP saya belum dilegalisir. Saya pakai baju sumbangan yang kegedean, dan tali sepatu saya putus, jadi saya ganti pakai tali rafia.”

Pak Gandhi mendengarkan.

“Manajernya mau nolak saya. Terus ada nenek-nenek pakai kebaya, lagi duduk di meja pojok, minum teh. Dia manggil saya.” Aku memandangi Nene di kursi pengamat. “Dia nggak nanya saya dari mana. Dia nggak nanya saya bisa apa. Dia nggak nanya saya bakal balas apa. Dia cuma nanya satu hal.”

Ruangan diam.

“‘Maneh tos dahar?’” kataku. “‘Kamu udah makan?’”

Di kursi pengamat, Nene menutup mulut dengan tangannya yang keriput.

“Saya bilang belum. Dia nyuruh pelayan bawain saya nasi timbel. Saya makan di meja pojok itu sementara dia ngeliatin.” Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya. “Tiga belas tahun, Pak. Tiga belas tahun keluarga itu nanya saya udah makan atau belum. Nene, Mang Ujang di dapur, Teh Euis di kasir, Bi Ratna yang nyelipin uang Lebaran. Om Rudi, yang ngajarin saya pakai dasi di toilet Balairung UI.”

Aku menelan.

“Bapak tanya kenapa saya ngelakuin ini, padahal bukan utang saya, bukan kesalahan saya, bukan keluarga saya.” Aku memandangi Pak Gandhi. “Karena Bapak salah, Pak. Mereka keluarga saya.”

Lalu aku menoleh ke kursi pengamat. Ke Nene, ke Uwa Haris, ke Om Rudi, ke kakakku.

Dan ke kursi yang paling dekat ke meja oval.

“Dan saya belum pernah sekali pun nanya ke mereka, ‘udah makan?’”


Komite kredit Bank Prima Nusantara menyetujui restrukturisasi itu jam sebelas lewat dua belas menit.

Bulat, tujuh suara, tanpa catatan tambahan.

Pak Hadi Kusuma, Kepala Manajemen Risiko yang tidak pernah tersenyum sejak krisis moneter 1998, menandatangani berita acara pertama. Waktu ia menggeser kertas itu ke orang di sebelahnya, aku melihat satu kata yang ia tulis di kertas catatannya, dengan huruf yang kecil dan rapi:

Sistem.

Pak Gandhi menandatangani terakhir. Lalu ia berdiri, berjalan memutari meja oval, dan menyalamiku dengan dua tangan.

“Pak Arief,” katanya pelan. “Tawaran saya tetap berlaku. Kapan saja.”

“Terima kasih, Pak. Saya sudah punya pekerjaan.”

Pak Gandhi tersenyum. Lalu ia menoleh ke kursi pengamat, ke Kak Kanaya.

“Kanaya,” katanya. “Saya kasih kamu nilai A di kelas Corporate Finance, di Boston, yang tidak sepenuhnya kamu dapat.”

“Saya ingat, Pak.”

“Adik kamu dapat nilai A pagi ini.” Pak Gandhi tertawa kecil. “Sepenuhnya.”


Di lobi gedung di Kuningan, jam sebelas lewat empat puluh, Nene berhenti berjalan.

Kami semua berhenti. Uwa Haris, Om Rudi, Kak Kanaya, Gita, aku.

Nene berdiri di tengah lobi marmer yang mengilap, di bawah lampu kristal yang tidak masuk akal, dengan kebaya Lebaran dan tongkat kayu. Orang-orang berjas yang lalu-lalang memandanginya, nenek-nenek dari Bandung di lobi bank di Kuningan.

Nene tidak peduli. Ia memandangiku.

“Jang.”

“Ne?”

“Salasa kamari, sabada rapat di bumi,” kata Nene, “Haris ngusulkeun hiji hal ka direksi. Rudi ngadukung. Ratna ngadukung. Nene satuju.”

Aku memandangi Uwa Haris. Uwa Haris membetulkan kacamatanya dan memandangi lampu kristal dengan sangat serius.

“Mimiti tanggal hiji Januari,” kata Nene, “maneh lain Head of Operations deui.”

Aku membeku.

“Maneh Managing Director PT Bumi Ni Dewi.”

Lobi bank di Kuningan tidak berhenti berputar. Orang-orang berjas tetap lalu-lalang, lift tetap naik turun, dan satpam di pintu depan tetap memeriksa tas. Tapi bagiku, lobi itu berhenti.

“Ne,” kataku. “Saya—”

“Ulah,” potong Nene.

Aku berhenti.

“Ulah nyarios ‘saya teu pantes’,” kata Nene. “Ulah nyarios ‘saya mah ngan ukur budak panti nu untung’. Ulah nyarios ‘saya teu bisa nampa’.” Ia mengetuk lantai marmer dengan tongkatnya, sekali. Bunyinya menggema di lobi. “Tarima.”

Terima.

Aku memandangi Nene. Perempuan yang memberiku sepiring nasi timbel di meja pojok, yang memilih anaknya sendiri daripada aku, yang menangis di atas kepalaku di ruang kerjanya dan berkata hampura empat kali.

Perempuan yang mengajariku untuk tidak meminta lebih, dan yang sekarang memerintahkanku untuk menerima.

Aku melirik ke samping, ke Kak Kanaya. Ia memandangiku dengan wajah yang sangat tenang, dan matanya berkata satu hal, sangat jelas.

Boleh.

Lalu aku memandangi Gita. Ia memandangiku dengan mata basah, dan bibirnya membentuk satu kata tanpa suara.

Terima.

Aku menarik napas.

“Hatur nuhun, Ne,” kataku. “Abdi tarima.”

Nene tersenyum, senyum yang jarang, yang rasanya seperti dapat nilai seratus.

Lalu ia berjalan pergi dengan tongkatnya, ke pintu lobi, dengan langkah yang lebih cepat dari separuh orang berjas di lobi itu. Uwa Haris dan Om Rudi buru-buru menyusulnya.


Kak Kanaya berdiri di sebelahku di tengah lobi.

“Managing Director,” katanya.

“Managing Director.”

“Kakak CEO.”

“Kakak CEO.”

“Kamu masih pakai motor bekas.”

“Motor bekasnya masih jalan.”

“Kamu masih tinggal di kos yang bocor di pojok kiri.”

“Kakak tahu dari mana soal pojok kiri?”

“Kamu cerita di penthouse. Jam tiga pagi.” Kak Kanaya mengangkat dagu. “Kakak nyatet.”

Aku tertawa.

Kak Kanaya memandangiku tertawa, lalu tersenyum, senyum yang miring di satu sisi.

“Kamu udah makan siang?” tanyanya.

“Belum, Kak.”

“Kakak traktir.”

“Kak—”

“Kamu bilang ‘tarima’ ke Ibu Dewi lima menit lalu.” Kak Kanaya memandangiku dengan mata menyipit. “Latihan.”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

“Oke, Kak,” kataku. “Makasih.”

Kak Kanaya mengangguk, puas, lalu berjalan ke pintu lobi, menyusul Nene. Di tengah jalan ia berhenti, dan menoleh. Bukan padaku, tapi pada Gita, yang berdiri setengah langkah di belakangku.

“Gita,” kata Kak Kanaya. “Kamu sengaja, ya?”

Gita memandanginya dengan wajah polos. “Sengaja apa, Kak?”

“Duduk di kursi paling deket ke meja. Senyum tiap kali dia buka slide baru. Nyelipin rambut ke belakang telinga pas dia mau ngomong ‘tanpa menambah beban’.” Kak Kanaya mengangkat satu alis. “Dia kehilangan kalimat dua kali. Kakak ngitung.”

Gita memandangi Kak Kanaya. Lalu memandangiku. Lalu tersenyum lebar, tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Aku lagi ngejar, Kak,” katanya. “Orang yang ngejar harus ngeganggu.”

Kak Kanaya memandanginya lama. Lalu ia tertawa, tawa yang pendek dan keras, yang tidak cocok dengan setelan hitam dan wajah CEO-nya.

“Kakak suka,” katanya, dan berjalan pergi.


Tinggal kami berdua di tengah lobi bank di Kuningan.

Gita berdiri setengah meter dariku. Tidak menyentuhku. Masih ada sesuatu di antara kami, meskipun sudah sangat tipis sekarang, setipis kertas.

“Managing Director,” katanya.

“Kamu juga mau ngulang itu?”

“Aku mau ngulang itu sampai kamu percaya.” Ia tersenyum. “Managing Director. Arief. Yang dulu ngiket dasi kayak tali sepatu.”

“Kamu tahu soal dasi?”

“Papa cerita. Di ruang kerja. Sambil nangis.” Ia memandangiku. “Papa bilang kamu ngiketnya pakai simpul mati. Butuh lima belas menit buat ngelepasnya.”

Aku tertawa.

Gita memandangiku tertawa. Lalu senyumnya berubah, sedikit. Lebih lembut, dan lebih serius.

“Tadi,” katanya pelan. “Waktu kamu bilang ‘mereka keluarga saya’.”

“Hm?”

“Terus kamu bilang, ‘dan saya belum pernah sekali pun nanya ke mereka, udah makan?’” Ia menelan. “Terus kamu noleh. Ke kursi pengamat. Ke Nene, Uwa Haris, Papa, Kak Kanaya.”

Aku menunggu.

“Terus kamu noleh ke aku,” katanya. “Terakhir. Paling lama.”

Aku tidak menjawab.

Gita memandangiku dengan mata yang basah dan senyum yang naik sampai ke mata.

“Aku udah makan,” katanya. “Tadi pagi. Di kereta. Telur dadar. Bikin sendiri.”

“Gosong?”

“Sedikit. Di pinggir.” Ia mengangkat dagu. “Yang gosong aku makan sendiri. Yang tengah aku simpen.”

“Buat siapa?”

Gita tidak menjawab. Ia membuka tas kainnya dan mengeluarkan kotak makan kecil dari plastik bening. Di dalamnya ada setengah telur dadar, bagian tengahnya, yang lembut dan kuning.

Ia menyodorkannya padaku.

“Buat Managing Director,” katanya. “Sarapan kedua. Kamu pasti cuma makan setengah tadi pagi, karena kakak kamu yang masak dan kamu nggak tega bilang keasinan.”

Aku memandangi kotak makan itu. Lalu Gita.

“Kamu bikin laporan sarapan aku?”

“Aku ngumpulin data.” Ia tersenyum lebar. “Dari behel.”

Aku mengambil kotak makan itu.

Lalu, karena kami berdiri di tengah lobi bank di Kuningan dan tidak ada meja kayu jati di antara kami, karena masih ada sesuatu setipis kertas yang belum boleh kusobek, dan karena Nene bilang di tempat nu bener, ku cara nu bener, aku tidak memeluknya.

Aku hanya mengatakan satu hal.

“Gita.”

“Hm?”

“Tanggal satu Januari. Jam tujuh pagi.” Aku memandanginya. “Meja Tujuh.”

Gita membeku.

“Jangan telat,” kataku.

Ia memandangiku lama sekali. Wajahnya memerah perlahan, dari leher, ke pipi, ke telinga.

“Aku nggak pernah telat,” katanya. Suaranya sedikit bergetar.

“Tujuh menit,” kataku. “Ke Garut. Rambut kamu masih basah. Tali sepatu belum diiket.”

Gita menutup wajah dengan dua tangan, di tengah lobi bank di Kuningan.

“Licik,” katanya dari balik tangannya. “Kamu licik, Arief.”

“Aku cuma ngoreksi data.”

“Itu yang licik.”

Dari pintu lobi, aku mendengar suara tongkat yang diketukkan ke lantai marmer. Nene, yang sudah setengah jalan ke mobil, berbalik dan memandangi kami berdua dengan mata yang berkilat licik.

“Jang!” serunya, suaranya menggema di seluruh lobi. “Gancang! Nene lapar! Lanceuk maneh rék nraktir!”

Orang-orang berjas di lobi menoleh.

Gita tertawa dari balik tangannya, keras dan lepas, dan sama sekali tidak cocok dengan lobi bank di Kuningan.

Aku memasukkan kotak makan berisi setengah telur dadar itu ke tas laptop, di sebelah map biru, dan berjalan ke pintu lobi.

Gita berjalan di sebelahku. Setengah meter jauhnya.

Tiga hari lagi.