Chapter Twenty Three

Undangan ke Jakarta

POV: Arief

Jam tujuh pagi hari Jumat, Mak Odah berdiri di pintu dapur pusat dengan wajah orang yang membawa pesan dari raja.

“Jang Arief. Ditaros Ibu. Ka rohangan damel. Ayeuna.”

Aku menaruh tablet dan melepas apron.

Mang Ujang, di depan kompor, menoleh dengan pelan. “Rief. Ati-ati.”

“Kenapa, Mang?”

“Ibu teu sare tadi peuting. Mak Odah nu bebeja. Lampuna hurung nepi ka subuh.” Mang Ujang mengaduk sayur asem tanpa melihatnya. “Lamun Ibu teu sare, isukna sok aya nu robah.”

Aku berjalan menyusuri lorong yang dindingnya penuh foto keluarga, melewati Nene muda, Uwa Haris dan Om Rudi kecil, dan Gita dengan behel. Kali ini aku tidak berjalan cepat atau pelan. Aku berjalan seperti biasa, karena aku tidak tahu harus berjalan seperti apa.

Pintu ruang kerja terbuka setengah. Nene duduk di kursi rotan dekat jendela, seperti dua minggu lalu, dengan secangkir teh tubruk dan kacamata baca. Di pangkuannya ada map biru tua.

Map biru tua itu milikku, berisi berkas tiga puluh dua halaman yang kuserahkan dua minggu lalu dan tidak pernah kulihat lagi.

Di atas map itu ada sepuluh lembar kertas HVS yang dijepit penjepit besi. Kertasnya sudah lecek di pinggir.

Aku berhenti di ambang pintu.

“Diuk,” kata Nene.

Aku duduk di kursi kayu di seberangnya.

Nene tidak langsung bicara. Ia memandangi jendela, kebun, dan saung paling ujung, lama sekali. Lalu ia menunduk dan memandangi sepuluh lembar kertas di pangkuannya. Ujung jarinya yang keriput menyentuh halaman paling atas, halaman lima, Rencana Bumi, Versi 1, Bagian 2.

“Gita nyandak ieu tadi peuting,” kata Nene.

Aku tidak menjawab.

“Nene teu sare, Jang. Nene ngadenge manehna asup. Nene ngadenge manehna diuk di lanté, maca. Lila pisan.” Nene menghela napas. “Terus manehna kaluar, mawa ieu. Sajam ti harita, manehna balik deui, nyimpen deui ieu di meja. Pas pisan di tempat asalna. Siga budak leutik nu nyokot kueh tina toples terus nyimpen deui bungkusna.”

Aku memandangi kertas-kertas itu. Gita mengembalikannya. Tentu saja. Ia tidak akan membiarkan Nene bangun dan mendapati kertasnya hilang.

“Ne, saya—”

“Nene tos maca, Jang.” Nene mengangkat tangan. “Sakabéhna. Ti kamari. Sapuluh kali, sigana.”

Aku menunggu.

Nene memandangiku dari balik kacamata yang tergores, dan untuk pertama kalinya sejak makan siang keluarga itu, matanya tidak berpaling.

“Rencana maneh alus,” katanya. “Alus pisan.”

“Ne—”

“Tapi lain ayeuna.” Ia menggeleng pelan. “Lain ayeuna, Jang. Nene can bisa.”

Bukan sekarang. Nene belum bisa.

Aku tidak mengerti. Kalau rencananya bagus, kenapa tidak sekarang? Tanggal satu Januari tinggal empat minggu. Dua koma delapan miliar butuh lima minggu. Setiap hari yang lewat membuat rencana itu semakin mustahil. Aku sudah menghitungnya. Nene juga pasti sudah menghitungnya, dengan pensil, di pinggir halaman.

Tapi aku tidak bertanya. Tujuh tahun aku belajar membaca Nene, dan satu-satunya hal yang kupelajari adalah bahwa ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan data, dan pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh Nene sendiri, pada waktunya sendiri.

“Muhun, Ne,” kataku.

Nene mengangguk. Lalu ia mengambil secarik kertas lain dari bawah map biru, email yang sudah dicetak oleh Mak Odah.

Atas usulan Bapak Ervan Sastrawidjaya.

“Maneh indit,” kata Nene. “Kemis. Ka Jakarta.”

“Ne, saya nggak yakin saya orang yang tepat buat—”

“Maneh nu nyieun sistemna. Maneh nu paling ngarti.” Nene meletakkan email itu di atas Rencana Bumi. “Presentasikeun sistem maneh. Sakabéhna. Sing jujur.”

“Rencana Bumi juga, Ne?”

Nene diam lama.

“Nu dipenta ku maranehna,” katanya akhirnya. “Sistem. Profil operasional. Eta wae.” Ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya. “Nu sejenna... engke. Engke Nene nu nangtukeun.”

Aku mengangguk dan berdiri.

Di ambang pintu, suara Nene menghentikanku.

“Jang.”

“Ne?”

“Tadi peuting, Gita diuk di lanté. Lila. Nene ngadenge manehna ceurik.” Nene tidak menoleh dari jendela. “Lain ceurik nu sedih. Nene apal sora ceurik incu Nene. Ti leutik. Nu tadi peuting mah... ceurik nu lega.”

Aku berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bergerak.

“Indit,” kata Nene. “Engke telat ka dapur. Si Ujang ngamuk.”


Sastrawidjaya Group mengirim daftar pertanyaan uji tuntas hari Jumat sore, dua puluh tiga pertanyaan, lewat email Pak Hendrawan. Mereka ingin jawabannya dimasukkan ke presentasi hari Kamis.

Aku membukanya di kantor belakang jam lima sore, dan membacanya sekali.

Lalu aku membacanya lagi, lebih pelan.

Lalu aku menaruh laptop di meja dan memandangi dinding selama satu menit penuh.

Pertanyaan nomor satu: Food cost cabang Garut turun dari 41% menjadi 35% dalam satu bulan (Oktober–November) tanpa perubahan pemasok. Jelaskan mekanismenya. Apakah ini perbaikan struktural atau anomali pencatatan?

Nomor empat: Laporan kas cabang Tasik menunjukkan selisih negatif berulang setiap Sabtu selama tiga minggu di bulan September, kemudian berhenti. Jelaskan penyebab dan perbaikannya.

Nomor sembilan: Pos tanggung jawab sosial cabang Garut muncul sebagai pos baru pada bulan Oktober sebesar Rp 6 juta/bulan. Apa dasar keputusannya dan bagaimana pengawasannya?

Nomor empat belas: Saat go-live 6 November, cabang Pangandaran tercatat offline selama 40 menit namun tidak ada transaksi yang hilang. Jelaskan arsitektur mode offline dan siapa perancangnya.

Aku sudah membaca ratusan daftar pertanyaan uji tuntas. Bank, konsultan pajak, investor yang pernah mendekati Nene dan mundur, dosenku di UI yang memberikan studi kasus. Semuanya bertanya hal yang sama: berapa pendapatanmu, berapa utangmu, berapa labamu. Pertanyaan yang membaca angka besar.

Dua puluh tiga pertanyaan ini tidak membaca angka besar. Pertanyaan-pertanyaan ini membaca angka kecil yang bergerak, angka yang terlalu rapi di satu tempat dan terlalu berantakan di tempat lain. Selisih kas tiga Sabtu di Tasik. Enam juta sebulan di Garut. Empat puluh menit di Pangandaran.

Siapa pun yang menyusun pertanyaan ini membaca angka seperti aku.

Tidak. Lebih baik dariku. Ia membaca angka-angka itu dari laporan keuangan tiga tahun yang tebal, tanpa pernah datang ke dapur, tanpa pernah melihat centong Bi Enok atau kantong plastik hitam Pak Encep, dan menemukan semua tempat aku pernah berdiri di dapur cabang dan memperbaiki sesuatu.

Ia menemukan jejakku, tanpa tahu itu jejakku.

Kakak gue, kata Ervan di dapur Senin kemarin, sambil memandangi termometer, bisa ngebaca angka dari jarak tiga meter dan tahu angkanya bohong atau nggak. Dia bilang angka yang bohong selalu terlalu rapi.

Aku menutup email itu.

Aku tidak akan memikirkannya. Banyak orang pintar di Jakarta. Sastrawidjaya Group punya tiga menara dan ratusan karyawan. Daftar pertanyaan ini mungkin disusun oleh tim analis, oleh konsultan Singapura, oleh siapa saja.

Aku membuka slide kosong dan mulai bekerja.


Hari Sabtu, Om Rudi menelepon.

Aku sedang di parkiran, memeriksa ban mobil yang baru diganti pompa bensinnya. Servis yang tertunda sejak hujan di Lembang. Ponselku berdering, dan nama yang muncul membuatku berdiri tegak tanpa sadar.

“Rief!” Suara Om Rudi masih keras dan riang, tapi ada sesuatu di bawahnya. Getaran kecil, seperti mesin mobil yang hampir mogok. “Gimana kabarnya? Sehat?”

“Sehat, Om. Om sehat?”

“Sehat, sehat.” Jeda yang terlalu panjang. “Rief, Om liat email dari Pak Hendrawan. Kamu diundang presentasi Kamis.”

“Iya, Om.”

“Bagus. Bagus itu. Kamu memang yang paling ngerti sistemnya.” Jeda lagi. “Rief, Om cuma mau... Om cuma mau titip.”

Aku menunggu.

“Presentasi yang diminta aja, ya. Sistemnya. Operasionalnya. Kamu jago di situ.” Suara Om Rudi turun sedikit, nyaris berbisik, seperti orang yang takut didengar. “Yang lain-lain... nggak usah dibahas. Biar Om sama Nene yang urus.”

Aku memandangi ban mobil yang baru.

Om Rudi tahu.

Tidak, Om Rudi tidak tahu apa yang kutahu. Tapi Om Rudi takut aku tahu. Ia mendengar sesuatu, entah dari Nene, entah dari arsip surat kantor Jakarta yang tiba-tiba dipindai dengan semangat oleh Neng Sari. Ia tidak yakin. Ia menelepon untuk memastikan, dengan cara orang yang tidak berani bertanya langsung.

“Saya presentasi yang diminta, Om,” kataku.

Om Rudi menghela napas panjang. Lega, terdengar sangat lega.

“Makasih, Rief. Makasih.” Lalu suaranya melembut, sangat lembut. “Kamu anak Om, Rief. Kamu tahu itu, kan? Anak Om.”

Aku berdiri di parkiran dengan ponsel di telinga, dan merasakan kalimat itu masuk ke dadaku seperti pisau yang sangat tipis.

Kamu anak Om.

Tujuh tahun aku menunggu seseorang mengatakan kalimat seperti itu. Sekarang ada yang mengatakannya, dan aku tahu ia mengatakannya karena takut.

“Iya, Om,” kataku.


Hari Senin, Ervan mengirim pesan.

Aku tidak menyimpan nomornya. Pesannya masuk dari nomor tidak dikenal, dan aku tahu itu dia sebelum membaca isinya, karena ada tujuh emoji di kalimat pertama.

+62 811-xxxx: Rief!!! Ini Ervan 🙋‍♂️🍳🐈❌🚫😭🙏

+62 811-xxxx: Lo dateng kan Kamis? Ke Jakarta?

Saya: Iya, A.

+62 811-xxxx: Naik apa? Kereta cepat? Jam berapa? Gue jemput di Halim.

Saya: Nggak usah repot, A. Saya bisa naik taksi.

+62 811-xxxx: Gue maksa.

+62 811-xxxx: Serius. Gue harus.

+62 811-xxxx: Maksud gue. Gue pengen. Lo kan udah ngajarin gue cuci piring. Gue bales jemput. Impas.

Aku memandangi pesan itu. Gue harus, lalu dikoreksi jadi gue pengen, dengan cara orang yang terlambat menyadari bahwa ia mengatakan terlalu banyak.

Saya: Kereta jam 07.05 dari Tegalluar. Sampai Halim 07.50.

+62 811-xxxx: SIAP 🫡

+62 811-xxxx: Rief.

+62 811-xxxx: Lo udah sarapan belum pas berangkat nanti? Jangan lupa sarapan ya.

Aku memandangi pesan terakhir itu lama sekali.

Semua orang menanyakan itu padaku. Teh Euis, Mang Ujang, Gita dengan laporan sarapannya yang curang. Tapi cara Ervan menanyakannya, dua kali dalam satu pesan, membuatku teringat seseorang yang tidak pernah berhenti menanyakannya, setiap Kamis, di antrean dapur panti.

Kamu dapat?

Aku menutup pesan itu.


Seminggu sebelum Jakarta, Gita dan aku tidak berbaikan, tapi juga tidak bertengkar.

Kami ada di tempat di antaranya, tempat yang tidak punya nama. Ia kembali duduk di Meja Tujuh setiap pagi. Kunjungan walk-in sebelum jam sebelas naik lagi delapan belas persen. Ia memanggilku Pak Arief di grup kerja, tapi Rief kalau kami berpapasan di koridor. Ia tidak menyentuhku, dan aku tidak menyentuhnya. Tapi setiap jam tiga sore, ada sepiring gehu pedas di mejaku. Bukan dari Teh Euis. Teh Euis bersumpah bukan dia.

Rabu malam, sehari sebelum Jakarta, aku pulang dari kantor jam sembilan dan menemukan tas kain di kursi depan mobilku. Pintu mobilnya tidak kukunci, karena aku selalu lupa mengunci mobil di parkiran Bumi Ni Dewi. Pak Darto bilang itu satu-satunya kebiasaan buruk yang pernah ia lihat dariku.

Di dalam tas kain itu ada rantang kecil dua susun: nasi dengan telur dadar yang hanya sedikit gosong di pinggir, dan tumis kangkung. Ada satu botol kecil sambal terasi. Ada termos teh tawar hangat.

Dan secarik kertas, dilipat dua, ditulis tangan dengan huruf yang bulat dan sedikit miring ke kiri.

Sarapan. Di kereta. Ini laporan.

Sambalnya udah bener. Bukan cuma asin yang baik hati. Mang Ujang yang bilang, bukan aku.

Jangan gugup. Kamu bakal baik-baik aja. Kamu selalu baik-baik aja di depan angka.

Yang nggak baik-baik aja itu kalau kamu di depan orang.

Jadi jangan lihat orangnya. Lihat angkanya.

— G.

Aku membaca surat itu di parkiran, di bawah lampu jalan, tiga kali.

Lalu aku melipatnya dan menyimpannya di dompet, di balik KTP, di sebelah dua foto photo booth dari Braga. Foto ketiga dan keempat, yang ia berikan padaku untuk disimpan. Foto keempat yang ia kirim kembali tanpa kata-kata di hari Minggu itu masih ada di ponselku. Aku tidak pernah menghapusnya.


Jam tiga pagi hari Kamis, aku tidak bisa tidur.

Aku tidak pulang ke kos. Aku tidur di sofa tua di kantor belakang, atau mencoba tidur, sampai jam tiga. Lalu aku berhenti mencoba, berjalan ke dapur pusat dalam gelap, menyalakan satu lampu di atas kompor, dan mengambil satu telur dari kulkas.

Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya tahu tanganku butuh sesuatu untuk dikerjakan.

Aku mengocok telur itu di mangkuk kecil dengan garpu, sedikit garam, sedikit daun bawang. Aku menuangkannya ke teflon yang sudah dipanaskan dengan minyak, dan menunggu pinggirnya mulai kecokelatan. Lalu aku melipatnya, membaliknya, dan memindahkannya ke piring seng.

Telur dadar, gosong sedikit di pinggir.

Aku duduk di bangku panjang di belakang dapur, sendirian, di bawah satu lampu, dengan piring seng di pangkuan.

Lalu aku membelahnya dengan sendok. Tidak di tengah.

Aku memandangi kedua bagian itu. Satu besar dan satu kecil, dengan pinggir yang gosong.

Tidak ada siapa-siapa di meja. Tidak ada Iwan, tidak ada Dede, tidak ada siapa pun yang lebih muda dariku. Jam tiga pagi, di dapur yang gelap, aku sendirian dengan dua potong telur dan tidak ada orang untuk diberi bagian yang besar.

Aku memakan bagian yang kecil, yang gosong.

Lalu aku memandangi bagian yang besar lama sekali. Aku tidak memakannya. Aku menutupnya dengan piring seng lain, terbalik, seperti tudung saji kecil, dan meletakkannya di rak di atas kompor.

Untuk seseorang yang tidak akan datang.

Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Aku tidak percaya pada pertanda. Aku percaya pada data.

Tapi malam itu, jam tiga pagi, dengan email yang menyebut nama Ervan Sastrawidjaya, dengan dua puluh tiga pertanyaan uji tuntas yang membaca jejakku tanpa tahu itu jejakku, dengan sendok yang berputar di akhir seperti orang menutup kunci, aku menyisakan bagian yang lebih besar.


Jam empat lewat lima, pintu belakang dapur terbuka. Mang Ujang masuk dengan jaket tebal dan kupluk, menyalakan lampu utama, dan berhenti.

Ia melihatku di bangku panjang. Ia melihat piring seng terbalik di rak di atas kompor. Ia berjalan ke rak itu, mengangkat piring yang menutupi, dan memandangi setengah telur dadar di bawahnya.

Ia memandanginya lama.

Lalu ia menutupnya lagi dengan sangat pelan, seperti menutup sesuatu yang suci.

“Keur saha?” tanyanya.

“Nggak tahu, Mang.”

Mang Ujang tidak bertanya lagi. Ia melepas kupluknya, menyalakan kompor, dan mulai memanaskan air untuk kopi.

“Rief,” katanya sambil menunggu air mendidih. “Abdi rek mere nasehat.”

“Mang, jangan sambal.”

“Lain sambel.” Ia diam sebentar, berpikir keras. “Jakarta teh siga...”

Aku menunggu.

“...siga...” Mang Ujang mengerutkan dahi. Kumisnya bergerak-gerak. “...ah, teu aya. Abdi teu nyaho Jakarta siga naon. Abdi can kungsi ka Jakarta.”

“Mang Ujang belum pernah ke Jakarta?”

“Sakali. Taun sangeus dalapan puluh. Nonton dangdut di Ancol. Leungiteun dompet.” Ia menuang air panas ke dua gelas kopi tubruk. “Pokona mah ati-ati.”

Aku tertawa. Mang Ujang menyodorkan satu gelas kopi, lalu duduk di sebelahku di bangku panjang.

“Rief.”

“Mang?”

“Lamun isukan maneh balik ka dieu jeung beungeut nu aneh...” Mang Ujang memandangi kopinya. “Abdi moal nanya heula. Abdi ngan ukur nyieunkeun endog.”

Aku memandanginya.

“Kumaha Mang tahu saya bakal pulang dengan muka aneh?”

Mang Ujang mengangkat bahu dan menunjuk dengan dagunya ke rak di atas kompor, ke piring seng yang terbalik.

“Lalaki nu nyésakeun endog keur jalma nu teu bakal datang,” katanya, “biasana mah keur nyiapkeun diri. Keur hiji hal nu can manehna nyaho.”

Laki-laki yang menyisakan telur untuk orang yang tidak akan datang, biasanya sedang menyiapkan diri. Untuk sesuatu yang belum ia ketahui.

Itu nasihat kedua Mang Ujang yang benar, dalam tiga minggu.

Aku tidak memberitahunya. Ia akan minta dicatat di sistem.


Jam enam lewat lima belas, di parkiran Bumi Ni Dewi, setengah dapur sudah berdiri berbaris lagi, persis seperti hari Gita pertama datang ke Bandung.

Aku tidak menyuruh mereka. Aku yakin Nene juga tidak.

Teh Euis di depan, dengan kantong plastik berisi gorengan “keur di kareta”. Asep di sebelahnya, memegang sesuatu yang disembunyikan di balik punggung. Dede, Iwan, dan Pak Darto dengan termos kopi. Mang Ujang di belakang, dengan celemek yang masih bau minyak.

“A,” kata Asep, maju selangkah. Wajahnya sangat serius. “Ieu jimat.”

Ia menyodorkan apa yang ia sembunyikan. Selembar stiker WhatsApp yang sudah dicetak, dilaminasi, dan dipotong rapi seukuran kartu nama: wajahku dari foto rapat bulanan, dengan tulisan kuning besar MENU INI BELUM TERSEDIA.

“Asep,” kataku.

“Simpen di dompet, A.” Asep menegakkan bahu. “Biar inget. Aa teh jalma nu teu bisa dipesen saembarangan. Aa teh menu husus.”

Seluruh barisan mengangguk, sangat serius. Bahkan Pak Darto.

Aku mengambil stiker laminasi itu dan memasukkannya ke dompet, di sebelah surat dari Gita dan dua foto photo booth.

Dompetku mulai penuh oleh hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan data.

Di jendela lantai dua rumah Nene, tirainya bergerak. Bukan jendela kamar Nene. Jendela di sebelahnya.

Aku tidak menoleh. Kalau aku menoleh, semua orang di parkiran akan melihat wajahku.

Aku masuk ke mobil, dan Pak Darto membukakan pagar.


Kereta cepat dari Tegalluar ke Halim memakan waktu empat puluh lima menit. Aku makan nasi dan telur dadar dari rantang Gita di kursi 7D, di gerbong yang hampir kosong, sambil memandangi sawah yang berubah jadi pabrik dan pabrik yang berubah jadi perumahan dan perumahan yang berubah jadi gedung-gedung abu-abu.

Sambalnya memang sudah benar.

Di Halim, di pintu kedatangan, ada seseorang yang memegang papan.

Papan merah muda, ukuran setengah meter, dengan glitter perak di setiap huruf. Tulisannya: SELAMAT DATANG A ARIEF DI JAKARTA ❤️. Di pojoknya ada gambar daun pisang.

Ervan Sastrawidjaya memegang papan itu dengan dua tangan, memakai kemeja batik yang sudah disetrika, kali ini benar-benar disetrika, dan sepatu kulit cokelat. Ia tersenyum dengan lesung pipinya, terlalu lebar, dan matanya merah seperti orang yang tidak tidur.

“Asep kirim template-nya,” katanya, sebelum aku sempat bertanya. “Gue follow Instagram dia. Dia baik banget. Dia bilang gue harus pakai glitter. ‘Glitter teh wajib, A.’”

Aku memandangi papan itu. Lalu memandangi Ervan.

“Kenapa, A?”

“Kenapa apa?”

“Kenapa jemput saya. Kenapa pakai papan. Kenapa A Ervan yang minta saya presentasi.”

Ervan memandangiku lama. Senyum lesung pipinya bergetar sedikit di pinggirnya, seperti senyum Om Rudi waktu menelepon hari Sabtu.

“Lo udah sarapan?” tanyanya.

“Udah.”

“Beneran? Bukan kopi doang?”

“Nasi sama telur dadar. Di kereta.”

Ervan menghela napas, terdengar sangat lega, terlalu lega, seolah itu jawaban yang paling penting di dunia.

“Bagus,” katanya. “Bagus. Itu bagus.”

Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia menggulung papan merah muda itu, menyelipkannya di bawah lengan, dan berjalan ke parkiran.

Aku mengikutinya.

Di mobil, Ervan menyetir sendiri, tanpa sopir. Ia tidak bicara sepanjang jalan dari Halim ke Sudirman. Ervan yang di Bandung tidak pernah berhenti bicara, yang menjelaskan fobia kucingnya dengan detail sampai ke merek es krim cokelat. Pagi ini Ervan diam, memegang setir dengan dua tangan, dan sesekali melirikku lewat sudut mata, lalu cepat-cepat kembali ke jalan.

Di lampu merah Semanggi, ia akhirnya bicara.

“Rief.”

“A?”

“Nanti... nanti di rapat.” Ia tidak menoleh. “Apa pun yang terjadi, lo tetap presentasi, ya. Sampai selesai. Lo jago di depan angka.”

“Itu yang selalu orang bilang.”

“Karena itu bener.” Ervan menelan. “Cuma... kalau ada yang aneh. Kalau ada yang... lo tahu, berhenti di tengah jalan. Lo jangan panik. Oke? Lo tunggu aja. Lo cuma perlu nunggu sebentar.”

“A Ervan, saya nggak ngerti.”

“Gue tahu.” Lampu berubah hijau. Ervan menginjak gas. “Nanti lo ngerti.”


Exo Tower menjulang di depan kami, tiga puluh dua lantai kaca biru keperakan yang memantulkan langit Jakarta yang kelabu. Di lobi, lantainya marmer putih dan langit-langitnya setinggi tiga lantai, dengan lampu kristal yang tidak masuk akal. Seorang satpam berseragam menyapa Ervan dengan hormat dan memandangiku dengan sopan.

Di dinding lobi, di belakang meja resepsionis, ada logo besar dari kuningan: SASTRAWIDJAYA GROUP.

Kami masuk ke lift. Ervan menekan tombol.

27.

Lift naik. Angka di layar kecil di atas pintu berganti satu per satu. Lima, sepuluh, lima belas.

Aku memandangi pantulan diriku di dinding baja lift yang mengilap. Laki-laki berumur dua puluh delapan dengan kemeja biru dongker, celana kain abu-abu, tas laptop di bahu, dan bekas luka tipis yang memotong ujung alis kiri.

Di sebelahku, Ervan juga memandangi pantulan itu. Bukan pantulannya sendiri. Pantulanku.

Dua puluh, dua puluh lima.

Lihat angkanya, kata surat di dompetku. Jangan lihat orangnya.

Dua puluh tujuh.

Pintu lift terbuka.