Chapter Eighteen
Foto di Halaman Sembilan
POV: Kanaya
Ada satu hal yang tidak pernah kuajarkan pada siapa pun di Sastrawidjaya Group, karena tidak bisa diajarkan: cara membaca angka yang sedang berbohong.
Angka yang jujur itu membosankan. Pendapatan naik sedikit, biaya naik sedikit, laba naik sedikit. Angka jujur selalu sedikit berantakan, karena hidup memang sedikit berantakan.
Angka yang berbohong selalu terlalu rapi.
Jam sembilan pagi hari Rabu, di ruang rapat lantai 28 Exo Tower, Pak Hendrawan menayangkan slide kedua belas presentasinya, dan aku melihat angka yang terlalu rapi.
“Jadi, Bu,” kata Pak Hendrawan dengan senyum yang sudah ia latih semalaman, “struktur kemitraan dengan Bumi Ni Dewi kami usulkan sebagai berikut. Satu: Rasa Sastra masuk ke empat puluh tujuh cabang mereka sebagai mitra minuman eksklusif. Dua: Sastrawidjaya Group menyuntikkan dana kemitraan sebesar dua puluh lima miliar rupiah. Tiga: dana tersebut digunakan untuk pengembangan infrastruktur dan penyelesaian kewajiban pembiayaan wilayah Jakarta.”
“Berhenti di nomor tiga, Pak.”
Pak Hendrawan berhenti.
Di sebelah kananku, Mama duduk dengan blus krem dan senyum yang sopan. Mama menjabat komisaris dan jarang datang ke rapat direksi, tapi hari ini ia datang, duduk di kursi yang biasanya kosong, dan memegang map biru tebal di pangkuannya seperti memegang buku doa.
Di sebelah kiriku, Ervan duduk dengan kemeja yang tidak disetrika dan wajah orang yang lebih memilih berada di mana saja selain di sini.
“‘Penyelesaian kewajiban pembiayaan wilayah Jakarta’,” ulangku. “Kewajiban kepada siapa?”
“Kepada... kepada pihak bank, Bu.”
“Bank mana?”
Pak Hendrawan membalik halaman lampirannya. “Bank Prima Nusantara.”
“Atas nama siapa kewajibannya?”
Pak Hendrawan berhenti membalik. Ia melirik Mama. Mama tidak meliriknya balik.
“Atas nama, eh, PT Wardhana Graha Lestari, Bu.”
“Itu bukan Bumi Ni Dewi.”
“Bukan, Bu. Itu perusahaan milik Bapak Rudi Wardhana, putra kedua pendiri Bumi Ni Dewi. Tapi jaminannya aset Bumi Ni Dewi, jadi secara efektif—”
“Secara efektif,” potongku, “kita bukan investor, Pak. Kita pelunas utang pribadi seorang direktur ke bank lain. Dua puluh lima miliar, dan yang kita dapat kopi kita dijual di restoran Sunda.”
Ruang rapat hening. Bryan, yang duduk di belakangku dengan tablet, berhenti mengetik.
“Kanaya,” kata Mama dengan lembut.
Aku tidak menoleh. “Ma, ini rapat direksi.”
“Mama tahu, Sayang.” Suaranya tetap lembut, tetap sopan, persis seperti empat belas tahun lalu di mobil hitam. “Tapi ini bukan cuma bisnis. Kamu tahu itu.”
Aku tahu itu. Mama sudah mengatakannya tiga minggu lalu, di makan malam keluarga di rumah Menteng, waktu pertama kali menyebut nama Bumi Ni Dewi dan keluarga Wardhana dengan nada yang biasanya ia simpan untuk nama-nama orang yang sudah meninggal.
Mama dibesarkan di Bandung. Itu hal yang tidak banyak orang tahu tentang Liliana Sastrawidjaya, istri pengusaha properti terkaya ketiga di Jakarta Selatan, yang selalu memakai blus krem dan tidak pernah meninggikan suara. Ayah Mama dulu pegawai negeri golongan rendah di Bandung. Waktu Mama berumur sepuluh tahun, ayahnya sakit keras dan keluarga mereka tidak punya uang untuk makan. Setiap sore, selama satu tahun, seorang perempuan muda yang punya rumah makan enam meja di Dago mengirimkan rantang berisi nasi, sayur, dan lauk ke rumah mereka. Tanpa diminta dan tanpa pernah menagih.
Perempuan muda itu Dewi Kurniasih.
“Mama nggak pernah bisa balas,” kata Mama malam itu, dengan mata yang basah. “Bu Dewi nggak pernah mau dibalas. Mama coba kirim uang waktu Mama sudah menikah sama Papa, Bu Dewi kembalikan. Mama coba kirim parsel Lebaran, Bu Dewi bagi-bagikan ke karyawannya. Hampir lima puluh tahun Mama berutang sama perempuan itu, Naya. Sekarang keluarganya kesusahan. Sekarang Mama bisa balas.”
“Dengan menikahkan Ervan?”
“Dengan menjadikan mereka keluarga.” Mama menggenggam tanganku di atas meja makan. “Utang yang dibayar dengan uang bisa dilupakan, Naya. Utang yang dibayar dengan keluarga tidak bisa.”
Aku tidak membantah malam itu. Mama jarang meminta apa-apa. Ervan, yang duduk di seberang meja, mengangkat bahu dengan wajah pasrah dan berkata, “Ya udah lah, Kak. Mama udah fix. Aku juga udah dua puluh tujuh. Lagian katanya dia cantik.”
Dan aku membiarkannya, karena aku terlalu sibuk. Karena Surabaya, Singapura, rapat dewan. Karena email Pak Sutomo yang berisi daftar tiga ratus dua belas nama dan yang kubaca sepuluh nama setiap malam sebelum tidur, sampai mataku tidak bisa lagi membedakan satu Arief dari Arief yang lain.
“Kanaya,” kata Mama lagi di ruang rapat, sama lembutnya. “Mama minta tolong.”
Aku memandangi slide kedua belas.
Lalu aku melakukan apa yang selalu kulakukan kalau tidak bisa memenangkan pertarungan secara langsung: aku mengubah medan pertarungannya.
“Pak Hendrawan. Kita ubah strukturnya.” Aku berdiri dan berjalan ke layar. “Bukan dana kemitraan. Penyertaan modal. Sastrawidjaya Group menyuntikkan dua puluh lima miliar dan mendapat dua puluh persen saham Bumi Ni Dewi, dengan satu kursi di dewan komisaris dan hak veto atas penjaminan aset di masa depan. Dananya tidak ditransfer ke Bapak Rudi. Dananya ditransfer langsung ke Bank Prima, untuk pelunasan, disaksikan notaris kita, dan hak tanggungan atas dua belas cabang dicoret pada hari yang sama.”
“Bu, itu...” Pak Hendrawan mencatat dengan cepat. “Itu jauh lebih aman, Bu.”
“Itu satu-satunya cara saya tanda tangan.” Aku memandang Mama. “Kalau Mama mau balas budi, kita balas dengan cara yang tidak membuat keluarga Bu Dewi berutang lagi pada orang yang salah.”
Mama memandangiku lama. Lalu ia tersenyum, dan senyumnya kali ini sampai ke mata.
“Anak Mama,” katanya pelan. “Selalu lebih pintar dari Mama.”
“Satu lagi.” Aku kembali ke kursiku dan memandang Mama lurus-lurus. “Soal perjodohan. Itu bukan bagian dari kontrak perusahaan. Saya tidak mau ada satu kalimat pun di dokumen ini yang menyebut nama Ervan atau nama cucu Bu Dewi. Sastrawidjaya Group bukan biro jodoh, Ma.”
“Itu urusan keluarga,” kata Mama. “Bukan urusan perusahaan. Mama setuju.”
“Dan kalau salah satu dari mereka tidak mau, perjodohan batal, dan investasi tetap jalan.”
Mama diam sebentar. Lalu mengangguk. “Setuju.”
Aku menoleh ke Ervan. “Kamu dengar itu?”
Ervan, yang dari tadi menggambar kucing di pinggir notulennya, mengangkat kepala. “Hah? Iya, Kak. Dengar. Investasi tetap jalan. Aku masih dijodohin.”
“Kalau kamu tidak mau—”
“Kak, aku udah bilang. Mama udah fix.” Ia tersenyum, senyum Ervan yang biasa, setengah bercanda dan setengah pasrah. “Lagian Kakak lihat aja. Siapa tahu calon istri aku bisa masak. Bisa nyelametin Kakak dari telur gosong.”
Bryan, di belakangku, tersedak.
Rapat selesai jam sebelas. Pak Hendrawan meletakkan bundel uji tuntas di mejaku, map hitam setebal empat jari dengan label Uji Tuntas — PT Bumi Ni Dewi — RAHASIA.
“Lampiran A sampai E, Bu. Laporan keuangan tiga tahun, daftar aset, struktur kepemilikan, analisis pasar, dan profil manajemen.”
Aku membuka Lampiran A, B, dan D, membaca semuanya dalam empat puluh menit, dan menandai tujuh angka dengan stabilo kuning.
Laporan keuangan Bumi Ni Dewi ternyata bagus. Sangat bagus, malah, untuk jaringan restoran keluarga. Food cost turun dari tiga puluh sembilan ke tiga puluh empat persen dalam dua tahun. Waktu tutup buku bulanan dari dua minggu jadi tiga hari. Sistem terpusat untuk empat puluh tujuh cabang baru aktif awal November, dan menurut catatan kaki, go-live berjalan tanpa kehilangan data, termasuk cabang dengan gangguan listrik.
Seseorang di sana tahu apa yang ia kerjakan. Seseorang di sana membangun sesuatu yang rapi dari sesuatu yang berantakan, dan membiarkan angkanya tetap sedikit berantakan, karena ia jujur.
Aku menutup Lampiran D dan memandangi Lampiran E. Profil Manajemen, 14 halaman.
“Bu, yang E belum,” kata Bryan dari pintu.
“Saya baca angka, Bryan. Bukan CV.”
“Tapi Bu, itu profil orang-orang yang bakal kerja sama kita. Biasanya Ibu—”
“Biasanya saya punya waktu.” Aku menutup map hitam itu dan menyerahkannya pada Bryan. “Berikan ke Ervan. Dia yang akan sering ke Bandung. Biar dia yang kenal orang-orangnya.”
Bryan memandangiku dengan curiga. “Bu, Ibu nggak pernah skip lampiran.”
“Hari ini saya skip.”
“Ibu sakit?”
“Bryan.”
“Oke. Oke. Saya kasih Mas Ervan.” Ia mengambil map itu dan berjalan pergi, lalu berhenti di ambang pintu dan berbalik. “Bu. Ibu udah makan?”
Aku tidak menjawab.
“Saya pesenin ayam bakar.”
“Dua,” kataku tanpa berpikir.
Bryan mengangkat alis. “Dua?”
“Satu buat Ervan.”
Jam sembilan malam, kantor kosong.
Aku duduk di lantai ruanganku, bersandar ke sofa, dengan laptop di pangkuan dan email Pak Sutomo terbuka di layar.
Data alumni bernama Arief (tanpa nama belakang atau dengan nama belakang tidak tercatat), lulusan perguruan tinggi di Jawa Barat dan DKI Jakarta, rentang tahun lulus 2016–2022, usia sesuai: 312 orang. Disusun urut abjad nama kampus. Konfirmasi alamat dan riwayat panti asuhan sedang berjalan.
Aku sudah sampai nomor enam puluh satu. Malam ini aku membaca dari enam puluh dua.
62. Arief — Institut Teknologi Bandung, Teknik Sipil, 2019. Asal: Garut. Status orang tua: lengkap. → Bukan.
63. Arief — Institut Teknologi Bandung, Desain Produk, 2020. Asal: Bekasi. Riwayat panti: tidak ada. → Bukan.
64. Arief — Institut Teknologi Bandung, Teknik Elektro, 2018. Asal: Cimahi. Riwayat: belum terkonfirmasi.
Aku berhenti di nomor enam puluh empat. Cimahi. Aku membaca baris itu tiga kali, lalu menandainya dengan bintang, seperti sembilan belas baris lain yang sudah kutandai bintang selama tiga minggu terakhir. Sembilan belas Arief dari Cimahi. Pak Sutomo sudah mengecek empat belas di antaranya. Semuanya bukan.
Daftar itu urut abjad. ITB di depan. Universitas Indonesia, karena huruf U, ada di ujung. Nomor dua ratus delapan puluh sampai tiga ratus dua belas.
Dengan sepuluh nama semalam, aku akan sampai ke huruf U pada pertengahan Januari.
Aku tidak tahu kenapa hal itu kupikirkan malam itu. Tidak ada alasan untuk berpikir Universitas Indonesia lebih mungkin dari kampus lain. Adikku pintar, tapi Universitas Indonesia di Depok, jauh dari Cimahi, dan mahal. Anak panti tanpa keluarga tidak kuliah di sana kecuali ada keajaiban.
Aku menutup laptop.
Ayam bakar dari Bryan sudah dingin di meja. Dua kotak.
Aku mengambil keduanya dan naik lift ke lantai 25, lantai divisi pengembangan bisnis, tempat Ervan punya ruangan yang ia sebut “kantor” dan aku sebut “tempat ia tidur siang”. Ia masih di sana. Lampunya menyala, dan pintunya setengah terbuka.
Aku mendorong pintu itu tanpa mengetuk, seperti yang selalu ia lakukan di ruanganku.
“Ervan, Kakak bawa ayam—”
Ervan duduk di mejanya dengan map hitam uji tuntas terbuka di depannya. Lampiran E, profil manajemen.
Ia tidak menoleh.
Ia sedang memandangi satu halaman. Tangannya diam di atas kertas, jari telunjuknya menyentuh sesuatu di pojok kanan atas halaman itu. Mungkin foto, karena aku melihat ada kotak persegi kecil di sana, seperti pas foto. Wajahnya pucat, pucat sekali, seperti orang yang baru melihat hantu, atau seperti orang yang baru melihat sesuatu yang sudah lama ia cari padahal ia tidak sedang mencarinya.
“Ervan?”
Ia tersentak. Lalu, dengan gerakan yang terlalu cepat untuk seseorang yang biasanya bergerak selambat koala, ia menutup map itu.
“Kak! Ya ampun! Kakak ngagetin!”
“Kamu kenapa?”
“Nggak! Nggak apa-apa!” Ia tertawa, terlalu keras dan terlalu panjang. Tangannya masih di atas map yang tertutup, menekannya seperti takut map itu terbuka sendiri. “Aku cuma... aku lagi lihat calon istri aku. Profilnya. Ada fotonya. Dan, Kak...” Ia menarik napas dramatis. “Cantik banget. Beneran cantik. Aku shock. Aku kira ‘katanya cantik’ itu kayak ‘katanya cantik’ biasanya, ternyata beneran. Aku nggak siap, Kak.”
Aku memandanginya.
Ervan adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tidak bisa berbohong padaku, karena ia tidak pernah belajar caranya. Sejak ia berumur empat belas dan pertama kali mencoba menyembunyikan nilai ujian matematikanya yang empat puluh, aku tahu tanda-tandanya: tertawa terlalu keras, bicara terlalu cepat, dan selalu menambahkan satu kalimat lagi setelah kalimat yang sudah cukup.
Malam ini ia menunjukkan ketiganya.
Tapi aku capek. Aku sudah membaca enam puluh empat Arief yang bukan adikku, dan aku tidak punya tenaga untuk satu misteri lagi.
Dan mungkin memang itu. Mungkin Ervan memang kaget melihat calon istrinya cantik. Ervan memang selalu dramatis soal hal-hal kecil.
“Makan,” kataku, meletakkan dua kotak ayam bakar di mejanya. Aku membuka keduanya, mengambil potongan paha dari kotakku, potongan yang paling besar, dan memindahkannya ke kotak Ervan.
Ervan memandangi potongan ayam itu. Lalu memandangiku. Matanya tiba-tiba basah.
“Kak...”
“Apa?”
“Nggak.” Ia mengusap matanya dengan lengan kemejanya yang tidak disetrika. “Pedes. Sambalnya.”
“Kamu belum makan sambalnya.”
“Baunya pedes.”
Aku menggelengkan kepala, tersenyum sedikit, dan duduk di sofa di pojok ruangannya, sofa yang selalu ia pakai untuk tidur siang. Kami makan dalam diam. Ervan makan sangat pelan, dan setiap beberapa suap ia melirikku, lalu melirik map hitam di mejanya, lalu kembali ke ayamnya.
“Kak,” katanya di tengah makan.
“Hm?”
“Kalau, misalnya, hipotetis...”
“Kamu dari kapan pakai kata ‘hipotetis’?”
“Dari barusan.” Ia menaruh sendok. “Kalau misalnya Kakak nemu sesuatu. Sesuatu yang penting banget. Tapi Kakak belum yakin seratus persen. Mungkin delapan puluh persen. Mungkin sembilan puluh. Terus kalau Kakak salah, ada orang yang bakal sakit banget. Udah pernah sakit dua kali karena hal yang sama.” Ia menelan. “Kakak bakal langsung ngomong? Atau Kakak pastiin dulu?”
Aku memandangi adik angkatku lama.
Ia bertanya tentang sesuatu. Aku tahu itu. Tapi aku tidak tahu tentang apa, dan malam ini aku terlalu lelah untuk menebak.
“Pastikan dulu,” kataku akhirnya. “Kalau ada yang sudah sakit dua kali, jangan bikin sakit yang ketiga karena kamu terburu-buru. Pastikan dulu, baru bicara.”
Ervan mengangguk pelan, sangat pelan, seperti orang yang baru saja diberi izin melakukan sesuatu yang sudah ia putuskan sendiri.
“Oke,” katanya. “Pastikan dulu.”
Aku pulang jam sepuluh lewat.
Di lift turun, aku teringat bahwa aku meninggalkan ponselku di sofa Ervan. Aku menekan tombol lantai 25 lagi.
Pintu ruangan Ervan masih setengah terbuka. Aku hendak mendorongnya, lalu berhenti.
Ervan masih duduk di mejanya. Map hitam itu terbuka lagi, di halaman yang sama. Ia tidak membacanya. Ia memotretnya dengan ponsel, sekali, dua kali, tiga kali, dari jarak dekat, seperti orang yang memotret barang bukti.
Dari ambang pintu, aku hanya bisa melihat pojok kanan bawah halaman itu, tempat nomor halaman dicetak kecil dengan huruf abu-abu.
E–9.
Lampiran E, halaman sembilan.
Aku tidak tahu siapa yang ada di halaman sembilan. Aku tidak membaca Lampiran E. Aku bilang pada Bryan bahwa aku membaca angka, bukan CV.
Aku mengetuk pintu. Ervan tersentak lagi dan menutup map itu lagi, dengan gerakan yang sama terlalu cepatnya.
“Ponsel Kakak ketinggalan.”
“Oh! Iya! Di sofa!” Ervan melompat, mengambil ponselku, menyerahkannya, dan tertawa terlalu keras. “Kakak ini, CEO tapi pelupa.”
Aku mengambil ponsel itu dan memandangi Ervan satu detik lebih lama dari biasanya.
“Calon istri kamu,” kataku. “Halaman berapa profilnya?”
Ervan membeku setengah detik.
“Delapan, Kak,” katanya. “Halaman delapan.”
Aku mengangguk. “Selamat malam, Van.”
“Selamat malam, Kak.”
Pintu lift tertutup di depanku. Lift turun dari lantai 25 ke basemen, dan aku memandangi pantulan wajahku sendiri di dinding baja lift yang mengilap. Perempuan berumur tiga puluh dengan setelan monokrom dan mata yang lelah.
Halaman delapan, kata Ervan. Tapi ia memotret halaman sembilan.
Aku seharusnya bertanya. Aku seharusnya kembali ke lantai 25, mengambil map hitam itu dari mejanya, dan membuka halaman sembilan. Aku CEO grup yang punya tiga menara. Aku membaca angka yang berbohong dari jarak tiga meter. Aku tahu Ervan tidak bisa berbohong padaku.
Tapi malam itu aku tidak kembali.
Aku menyuruh diriku untuk tidak kembali, karena tadi aku baru saja berkata pada Ervan, pastikan dulu, baru bicara. Karena aku sudah terlalu sering berharap dan terlalu sering dirobohkan. Dan karena di bagian terdalam diriku, yang tidak pernah kuakui pada siapa pun, ada sesuatu yang takut, takut sekali, pada apa pun yang bisa membuat Ervan memandangi sebuah foto dengan wajah seperti itu.
Lift sampai di basemen. Pintunya terbuka.
Aku pulang ke penthouse di Annex Tower, duduk di lantai ruang tengah, membuka laptop, dan membaca daftar Pak Sutomo dari nomor enam puluh lima sampai tujuh puluh empat.
Semuanya bukan.
Di lantai 25 Exo Tower, lampu ruangan Ervan menyala sampai jam empat pagi. Aku tahu, karena Bryan melaporkannya besok paginya dengan nada khawatir, sambil meletakkan secangkir kopi di mejaku.
“Bu, Mas Ervan semalem nggak pulang. Security bilang dia di kantor sampai subuh. Katanya lagi nonton video. Video TikTok, Bu. Satu video, diulang-ulang. Security dengernya dari luar. Ada suara cowok ngejelasin soal... soal sumsum tulang ayam.”
Aku mengangkat kepala dari laporan kuartal.
“Sumsum tulang ayam?”
“Iya, Bu. Aneh, kan? Mas Ervan kan masak mi instan aja gosong.” Bryan menggelengkan kepala. “Mungkin buat riset bisnis ghost kitchen yang keempat.”
Aku kembali ke laporanku.
Mungkin.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan reading
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu