Chapter Twelve
Kening
POV: Arief
Salah satu fitur sistem yang paling tidak dipedulikan siapa pun waktu go-live adalah modul arsip surat.
Bahkan tim vendor IT menganggapnya tambahan yang membosankan. Isinya sederhana: setiap surat fisik yang masuk ke kantor cabang mana pun, dari tagihan listrik, surat dinas, undangan kawinan karyawan, sampai brosur katering, difoto oleh petugas admin dengan tablet, diberi label, lalu disimpan di server pusat. Aku membuatnya karena tiga tahun lalu Bumi Ni Dewi Sumedang kena denda pajak dua puluh juta gara-gara surat teguran pajaknya dipakai alas gorengan oleh satpam yang tidak bisa membaca huruf kecil.
Sejak go-live hari Jumat, kantor Jakarta juga memakai modul itu.
Senin pagi, jam lima lewat empat puluh, aku membuka arsip surat kantor Jakarta dan mengetik satu kata di kolom pencarian.
Prima.
Tiga hasil.
Ketiganya surat dari PT Bank Prima Nusantara Tbk, ditujukan kepada PT Bumi Ni Dewi, c.q. Bapak Rudi Wardhana, Direktur Pengembangan Wilayah Jakarta. Semua dipindai Sabtu kemarin oleh admin kantor Jakarta, Neng Sari, yang jelas sedang bersemangat mencoba tablet barunya. Ia memindai seluruh isi laci surat masuk, termasuk yang sudah berbulan-bulan disimpan.
Surat pertama, tertanggal dua Mei 2026: Surat Peringatan I. Keterlambatan pembayaran angsuran kredit atas nama debitur PT Wardhana Graha Lestari, dengan jaminan pihak ketiga berupa dua belas bidang tanah dan bangunan milik PT Bumi Ni Dewi...
Surat kedua, empat Agustus 2026: Surat Peringatan II.
Surat ketiga, tertanggal dua November 2026, empat hari sebelum go-live. Aku membacanya tiga kali, karena setiap kali membacanya aku berharap ada kata yang berubah.
Surat Peringatan III (Terakhir). Apabila dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari kalender sejak tanggal surat ini debitur tidak menyelesaikan seluruh kewajibannya sebesar Rp 23.612.448.917,- maka Bank akan melaksanakan hak eksekusi atas objek Hak Tanggungan melalui pelelangan umum sesuai Pasal 6 Undang-Undang Hak Tanggungan.
Enam puluh hari dari dua November jatuh pada satu Januari.
Tahun baru.
Aku menghitung di kepala dengan sangat tenang, seperti menghitung stok cabai. Lima puluh empat hari lagi, empat ratus dua belas karyawan di dua belas cabang akan kehilangan tempat kerja di hari pertama tahun baru.
Dan angka di surat itu, dua puluh tiga miliar enam ratus dua belas juta, hanya meleset sebelas juta dari tebakanku di lantai kos Jumat malam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berharap tebakanku salah jauh.
Kemudian aku mencari surat kuasa.
Hak tanggungan tidak bisa didaftarkan begitu saja. Harus ada Akta Pemberian Hak Tanggungan yang ditandatangani di depan notaris oleh orang yang berwenang mewakili pemilik aset. Pemilik aset adalah PT Bumi Ni Dewi, dan menurut anggaran dasar perusahaan, yang berwenang mewakili hanya direktur utama, yaitu Nene, atau orang yang diberi kuasa tertulis olehnya.
Om Rudi bukan direktur utama. Jadi pasti ada surat kuasa.
Aku menemukannya di lemari besi kantor pusat jam delapan pagi, di map biru tua berlabel Ekspansi Jakarta – Legal 2025. Map itu ada di rak ketiga, di antara akta pendirian dan sertifikat merek. Aku sendiri yang menyusun rak itu tiga tahun lalu. Aku sudah ratusan kali melewatinya dan tidak pernah membukanya, karena map Jakarta selalu dikirim sudah lengkap dari kantor Jakarta dan aku tidak pernah punya alasan untuk curiga.
Surat kuasa itu dua halaman, dengan kop perusahaan dan meterai sepuluh ribu.
Yang bertanda tangan di bawah ini, Dewi Kurniasih, selaku Direktur Utama PT Bumi Ni Dewi, dengan ini memberikan kuasa kepada Rudi Wardhana untuk dan atas nama Perseroan melakukan segala tindakan hukum yang diperlukan dalam rangka pengembangan usaha wilayah Jakarta dan sekitarnya, termasuk namun tidak terbatas pada membuka rekening, menandatangani perjanjian sewa, perjanjian kerja sama, perjanjian pembiayaan, serta menjaminkan harta kekayaan Perseroan...
Termasuk namun tidak terbatas pada.
Lima kata itu adalah lima kata paling berbahaya dalam bahasa hukum Indonesia. Aku tahu, karena dosen Hukum Bisnis-ku di UI pernah menghabiskan satu sesi penuh untuk itu. Lima kata yang bisa mengubah kuasa untuk menyewa ruko menjadi kuasa untuk menggadaikan satu perusahaan.
Di bagian bawah halaman kedua, di atas meterai, ada tanda tangan Nene.
Aku kenal tanda tangan itu. Aku sudah melihatnya ribuan kali: di slip gaji pertamaku, di surat beasiswa S1-ku, di surat beasiswa S2-ku, di kartu Lebaran yang setiap tahun ia selipkan ke saku kemejaku dengan uang lima ratus ribu yang selalu kukembalikan diam-diam ke laci mejanya. Tanda tangan itu bergetar sedikit di huruf D dan melengkung panjang di huruf K, seperti ekor layang-layang.
Itu benar tanda tangan Nene.
Aku berdiri di depan lemari besi lama sekali, memegang dua lembar kertas itu.
Lalu aku memaksa diriku berpikir dengan cara yang paling masuk akal, cara yang tidak membuat dadaku sakit.
Nene berumur tujuh puluh lima waktu menandatangani surat ini. Matanya sudah tidak awas untuk tulisan kecil, dan ia selalu membaca dengan kacamata baca yang lensanya sudah tergores. Ia menandatangani puluhan dokumen setiap bulan: kontrak pemasok, surat izin, slip gaji, laporan pajak. Sebagian besar dokumen itu dibawa oleh anak-anaknya sendiri, yang ia percayai lebih dari siapa pun di dunia.
Om Rudi pasti membawa surat ini di antara tumpukan dokumen lain, mungkin di hari yang sibuk. Mungkin ia bilang, Bu, ini kuasa buat buka cabang Jakarta, biar Rudi bisa tanda tangan sewa ruko tanpa bolak-balik ke Bandung. Nene membaca judulnya, melihat kata pengembangan usaha, tersenyum bangga karena anak keduanya akhirnya mau serius, dan menandatanganinya.
Nene tidak membaca lima kata itu. Pasti tidak.
Aku memasukkan surat kuasa itu kembali ke map biru, memotret kedua halamannya dengan ponsel, dan menyimpan map itu di rak ketiga persis di tempat semula.
Aku tidak tahu kenapa aku memilih mempercayai versi itu. Mungkin karena itu satu-satunya versi yang bisa kutanggung.
Jam sepuluh, aku menyelesaikan nomor tiga di daftarku: uang dua puluh empat setengah miliar itu dipakai untuk apa.
PT Wardhana Graha Lestari punya satu proyek. Namanya Wardhana Residence, apartemen dua menara dua puluh dua lantai di pinggir tol Bekasi Timur. Akun Instagram pemasarannya masih ada. Unggahan terakhirnya tanggal sebelas Maret 2026, foto maket dengan tulisan Groundbreaking Tower B — Coming Soon! dan dua ratus tujuh puluh komentar, yang paling atas berbunyi: Udah setahun bayar DP kok tanahnya masih rumput?? Tolong dibalas admin!!
Aku membuka Google Maps dan mencari titik lokasinya. Citra satelit terakhir, diperbarui Agustus, menunjukkan satu fondasi beton setengah jadi, beberapa tiang pancang yang menjulang tanpa lantai, dan lahan kosong yang ditumbuhi ilalang. Ada pagar seng biru di sekelilingnya, sebagian sudah roboh. Di pojok lahan ada kantor pemasaran dari kontainer yang jendelanya pecah.
Proyek itu mangkrak sejak Maret, bulan yang sama dengan cicilan terakhir yang dibayar dari rekening Bumi Ni Dewi.
Aku mencari nama proyek itu di forum properti. Ada satu utas berisi empat ratus balasan, dari pembeli yang sudah membayar uang muka dan sekarang menunggu. Seorang ibu menulis bahwa ia menjual mobil satu-satunya untuk DP unit tipe studio, untuk anaknya yang akan kuliah di Bekasi. Seorang bapak menulis bahwa ia sudah tiga kali datang ke kontainer pemasaran dan tidak pernah ada orang.
Aku menutup laptop dan memejamkan mata.
Om Rudi bukan penjahat. Aku tahu itu. Aku sudah tujuh tahun mengenalnya. Ia yang mengajariku cara memakai dasi untuk wisuda S1, di toilet gedung Balairung UI, sambil tertawa karena aku mengikatnya seperti tali sepatu. Ia yang menandatangani surat rekomendasi S2-ku dan menulis di dalamnya, Arief adalah salah satu orang paling jujur yang pernah saya kenal. Ia yang setiap kali ke Bandung membawakan oleh-oleh roti Jakarta untuk semua karyawan dapur, karena ia ingat semua nama mereka.
Om Rudi juga anak kedua yang setiap rapat direksi duduk di sebelah kakaknya, Uwa Haris yang kalem dan selalu benar, dan yang selama tujuh tahun kudengar berkali-kali berkata pada Nene, setengah bercanda, Jakarta mah Rudi yang pegang, Bu. Biar Ibu lihat Rudi juga bisa.
Ia ingin membuktikan sesuatu. Ia mempertaruhkan sesuatu yang bukan miliknya. Taruhannya kalah. Lalu ia diam, karena mengaku kalah di depan ibunya lebih menakutkan daripada dua belas cabang yang dilelang.
Aku mengerti. Itu yang paling menyakitkan. Aku mengerti kenapa seseorang bisa diam selama ini.
Karena aku sendiri sedang melakukannya.
Siang itu Gita membawakan bekal ke kantorku.
Ia sudah belajar dari Mang Ujang selama seminggu terakhir, dan kemajuannya lumayan. Nasinya tidak lembek lagi. Telur dadarnya tidak gosong lagi, hanya kecokelatan di pinggir. Sambalnya, menurut Asep yang diam-diam mencicipi waktu Gita meletakkan rantang di meja kasir, “masih asin, Teh, tapi asinna geus asin nu bageur.”
“Asin yang baik hati itu maksudnya gimana?” tanya Gita padaku, setelah menutup pintu kantor.
“Asin yang masih bisa dimakan.”
“Kamu juga ngatain sambalku?”
“Aku belum nyobain.”
“Cobain.”
Aku mencobanya. Asin, tapi asin yang baik hati.
“Enak,” kataku.
“Bohong.”
“Enak buat orang yang suka sama yang masak.”
Ia memukul bahuku pelan, duduk di kursi di seberang mejaku, dan membuka rantangnya sendiri. Lalu, seperti biasa, ia memperhatikan wajahku sambil mengunyah.
“Kamu masih diem yang berat.”
“Kerjaan.”
“Yang data lama?”
“Iya.”
“Udah jelas?”
Aku menyendok nasi. Itu pertanyaan sederhana, dan jawabannya juga sederhana: sudah. Sudah jelas sekali. Aku bahkan tahu tanggal satu Januari, dan tahu ada seorang ibu di Bekasi yang menjual mobilnya.
“Hampir,” kataku.
Gita memandangiku lama. Lalu ia menaruh sendoknya, memutari meja, berdiri di belakang kursiku, dan memijat bahuku dengan dua tangan. Pijatannya tidak ahli, terlalu keras di satu tempat dan terlalu pelan di tempat lain, tapi tangannya hangat.
“Kamu tegang banget,” katanya. “Bahu kamu kayak batu kali.”
“Itu bahu normal.”
“Itu bahu orang yang tidur dua jam semalam. Aku lihat laporan login kamu. Jam tiga pagi kamu masih buka sistem.”
“Kamu ngintip laporan login aku?”
“Kamu bikin laporan sarapan aku. Kita impas.”
Aku tertawa, dan tawanya keluar lebih ringan dari yang kuduga. Gita membungkuk dan menyandarkan dagunya di atas kepalaku, sementara kedua lengannya melingkar di leherku dari belakang.
“Oh iya,” katanya, ceria. “Papa mau ke Bandung hari Jumat. Katanya mau nginep seminggu. Katanya ada urusan penting sama Nene soal ekspansi Jakarta. Terus dia bilang...” Ia tertawa kecil. “Dia bilang mau kenalan lebih deket sama kamu. Katanya, ‘Arief itu yang paling Papa percaya di Bandung.’”
Tanganku yang memegang sendok berhenti di udara.
Urusan penting sama Nene soal ekspansi Jakarta.
“Terus aku pikir,” lanjut Gita, tidak menyadari apa-apa, karena ia sedang memandangi jendela di belakang mejaku, “minggu depan, pas Papa masih di sini, kamu ngomong ke Nene. Terus aku ngomong ke Papa sama Mama. Sekalian. Biar nggak dua kali deg-degan.” Ia menunduk dan mengecup puncak kepalaku sekilas. “Gimana? Ide bagus, kan?”
Aku tidak menjawab.
“Arief?”
“Ide bagus,” kataku. Suaraku terdengar normal. Aku sudah sangat terlatih membuat suaraku terdengar normal.
Malam itu aku bekerja sampai jam sepuluh di kantor belakang.
Aku menyusun semuanya dalam satu berkas: foto sertifikat, data BPN, mutasi rekening, perhitungan cicilan, tiga surat peringatan, surat kuasa, foto satelit proyek, dan tangkapan layar forum pembeli. Semuanya kususun rapi dengan nomor halaman, ringkasan di halaman pertama, dan garis waktu di halaman kedua. Halaman ketiga berisi tiga pilihan penyelamatan yang sudah kuhitung kasar.
Aku menyusunnya seperti menyusun laporan bulanan, karena itu satu-satunya cara aku bisa menyelesaikannya tanpa berhenti.
Jam sembilan, Gita masuk tanpa mengetuk, membawa dua gelas bandrek dari dapur, lalu duduk di sofa tua di pojok ruangan dengan laptopnya sendiri. Ia tidak bertanya apa yang sedang kukerjakan. Ia hanya mengedit foto-foto Garut dan sesekali menunjukkan layarnya padaku, “Bagusan yang ini atau yang ini?”, padahal kedua foto itu hampir identik.
Jam sepuluh kurang sepuluh, waktu aku menoleh untuk menjawab pertanyaannya yang kesembilan, ia sudah tertidur.
Kepalanya terkulai di sandaran sofa, mulutnya sedikit terbuka, dan laptop masih menyala di pangkuannya dengan foto Bi Enok menumbuk sambal di layar. Satu tangannya masih memegang tetikus.
Aku menyimpan berkasku, mematikan laptopnya, dan memindahkannya dengan hati-hati ke meja. Lalu aku mengambil jaket abu-abuku dari gantungan dan menyelimutkannya ke tubuhnya.
Ia bergerak sedikit, lalu membuka mata separuh.
“Jam berapa?”
“Sepuluh.”
“Aku ketiduran.”
“Iya.”
“Kamu udah selesai?”
“Udah.”
Ia memandangiku dari bawah dengan mata setengah terpejam, dan dalam cahaya lampu meja yang kuning, ia terlihat sangat muda dan sangat percaya. Aku belum pernah dipercaya seperti itu oleh siapa pun sejak seorang anak perempuan berumur enam belas memelukku di halaman panti dan berbisik bahwa ia akan selalu di belakangku.
“Kamu kenapa?” bisiknya. “Kamu ngeliatin aku kayak... kayak aku mau pergi ke mana.”
“Nggak apa-apa.”
“Arief.”
“Kamu cantik kalau tidur.”
“Gombal.”
“Data.”
Ia tersenyum, dengan mata masih setengah terpejam, lalu meraih tanganku yang masih memegang ujung jaket dan menariknya pelan, seperti anak kecil menarik ujung selimut.
“Jangan pergi dulu,” gumamnya. “Lima menit.”
Aku berlutut di samping sofa.
Lalu aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan dan tidak kupikirkan, karena untuk pertama kalinya dalam satu minggu yang penuh angka, aku berhenti berpikir.
Aku menunduk dan mencium keningnya.
Aku tidak mencium sekilas, seperti kecupannya di puncak kepalaku tadi siang. Bibirku menempel di keningnya, di bawah garis rambut yang sedikit berantakan, lama sekali. Mataku terpejam dan napasku tertahan. Aku memeganginya dengan bibirku seperti orang memegangi sesuatu di tepi jurang. Seperti dulu, umur empat belas, aku memegangi tali sandal jepit yang putus waktu berlari mengejar mobil hitam.
Ia tidak bergerak. Napasnya berhenti di bawah bibirku. Lalu tangannya, yang masih memegang tanganku, meremasnya pelan.
Waktu aku menarik diri, matanya sudah terbuka sepenuhnya. Matanya basah sedikit di pinggir.
“Itu tadi apa?” bisiknya.
“Kening.”
“Aku tahu itu kening.” Suaranya bergetar. “Tapi kamu nyiumnya kayak... kayak orang yang takut.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab tanpa berbohong, dan aku sudah terlalu banyak berbohong minggu ini.
Gita memandangiku lama. Lalu ia duduk, membiarkan jaketku jatuh ke pangkuannya, dan menangkup wajahku dengan kedua tangan.
“Apa pun itu,” katanya pelan, “yang bikin kamu nggak tidur, yang bikin bahu kamu kayak batu kali, yang bikin kamu nyium aku kayak gitu, kamu nggak harus pikul sendirian. Kamu tahu itu, kan?”
Ia tidak tahu bahwa ia baru saja mengucapkan hampir kata demi kata kalimat yang kubayangkan akan diucapkan kakakku malam Jumat kemarin, di lantai kos.
Kenapa kamu pikul sendirian?
“Aku tahu,” kataku.
“Janji?”
Itu janji ketiga.
“Janji.”
Ia tersenyum, menyandarkan dahinya ke dahiku sebentar, lalu berdiri, mengembalikan jaketku dengan menyampirkannya di bahuku, dan berjalan ke pintu dengan laptop di pelukan.
“Besok pagi aku bikinin sarapan,” katanya dari ambang pintu. “Sambalnya aku kurangin garamnya. Biar asinnya nggak cuma baik hati, tapi juga bener.”
Pintu tertutup.
Aku duduk di lantai di samping sofa yang masih hangat oleh tubuhnya, dengan jaket di bahu, berkas setebal tiga puluh dua halaman di meja, dan tiga janji yang kutahu tidak bisa kutepati semuanya.
Nene sedang di Tasik sampai Jumat sore, menghadiri pernikahan cucu sepupunya, dan aku tidak mau mengatakan hal seperti ini lewat telepon. Sabtu pagi aku akan menemui Nene. Aku akan membawa berkas itu. Aku akan menceritakan semuanya, dengan cara yang paling lembut yang bisa kutemukan, supaya Nene tidak harus mendengar dari bank bahwa anak keduanya telah menggadaikan dua belas cabang.
Lalu aku akan menceritakannya pada Gita, setelah Nene tahu. Setelah Nene memutuskan.
Itu urutan yang benar. Itu urutan yang paling tidak menyakitkan.
Aku sudah menghitungnya berkali-kali malam itu. Tapi ada satu hal yang tidak pernah bisa kuhitung, dan tidak pernah ada di spreadsheet mana pun: bahwa orang lain juga punya urutannya sendiri, dan urutan mereka tidak menunggu urutanku.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening reading
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu