Chapter Thirty

Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong

POV: Arief

Uwa Haris memanggilku ke kantor jam empat sore. Ia menutup pintu dan tidak duduk.

Itu tanda pertama. Uwa Haris selalu duduk. Ia orang paling kalem di keluarga Nene, yang membaca laporan keuangan dengan kacamata di ujung hidung dan mengangguk dua kali kalau setuju. Dalam tujuh tahun aku belum pernah melihatnya berdiri di tengah ruangan dengan tangan di pinggang, seperti sekarang.

“Rief.”

“Wa.”

“Rudi aya masalah?”

Aku memandanginya.

“Ulah ngabohong ka Uwa,” katanya pelan. “Uwa geus kolot. Uwa teu bodo. Rudi teu sare tilu bulan. Lusi nyarios mobilna dijual. Jakarta nampilkeun laporan nu rapi teuing, unggal bulan, angkana sarua. Terus aya investor Jakarta nu ujug-ujug datang mawa dua puluh lima miliar jeung calon salaki keur Gita.” Ia melepas kacamatanya. “Terus kamari di Jakarta, CEO-na ninggalkeun rapat. Terus ayeuna CEO-na di dieu, jeung manehna teh lanceuk maneh.”

Ia diam sebentar.

“Uwa teu nanya naha lanceuk maneh CEO. Eta mah urusan Gusti Allah, alhamdulillah. Uwa ngan nanya hiji.” Ia memandangiku lurus-lurus. “Rudi aya masalah?”

Aku tidak bisa berbohong pada Uwa Haris. Aku tidak pernah bisa berbohong pada siapa pun yang bertanya langsung, kecuali soal telinga merah dan stok cabai.

Tapi aku juga tidak bisa menjawab.

“Wa,” kataku. “Tanya Nene.”

Uwa Haris memandangiku lama. Lalu ia tertawa. Tawa yang pendek dan sedih, sama sekali tidak seperti tawa Uwa Haris.

“Uwa geus nanya Ibu,” katanya. “Kamari. Ibu teu ngajawab.” Ia memakai kacamatanya lagi. “Ibu ngan nyarios, ‘Engke heula, Haris.’”

Engke heula. Nanti dulu.

Dua kata yang Nene katakan pada Om Rudi selama tiga puluh tahun. Dua kata yang Nene katakan padaku di ambang pintu ruang kerjanya waktu aku hendak minta izin soal Gita. Dua kata yang sekarang Nene katakan pada anak pertamanya juga.

“Sabaraha lila deui, Rief?” tanya Uwa Haris. Suaranya sangat pelan. “Sabaraha lila deui kulawarga ieu bakal ‘engke heula’?”

Aku tidak punya jawaban.


Jam sembilan malam, aku naik ke atap.

Rumah lama Nene, bagian belakang, atap datar bekas tempat menjemur pakaian. Dua tiang jemuran besi berkarat dan satu kursi plastik. Lampu-lampu Dago bertingkat-tingkat sampai ke lembah, dan garis cahaya jalan tol membelah malam di kejauhan.

Tempat aku menunggu Om Rudi mengaku, dan tempat aku mencium seseorang untuk pertama kali dalam hidupku.

Aku duduk di kursi plastik dengan laptop di pangkuan. Rencana Bumi, versi dua. Aku memperbaruinya setiap malam sejak versi satu dikirim jam empat pagi tanggal dua puluh November, waktu masih ada lima minggu. Sekarang tinggal enam belas hari.

Aku mendengar langkah kaki di tangga besi. Langkahnya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan punggung yang pasti tegak.

“Pak Darto nunjukin jalan,” kata Kak Kanaya sambil naik ke atap. “Dia bilang, ‘Bu Kanaria, A Arief mah lamun keur galau sok naek ka hateup.’”

“Pak Darto tahu semuanya.”

“Pak Darto harusnya jadi intel.” Ia berdiri di sebelahku, di pinggir atap, memandangi lampu kota. Ia sudah berganti pakaian: celana kain hitam dan sweter rajut abu-abu yang terlalu tipis untuk udara Dago malam hari. “Gita bilang hal yang sama. Soal intel.”

Aku tidak menjawab. Aku melepas jaket parasut hitam yang kupakai, jaket yang sama, yang dulu dipinjam, dikembalikan, lalu kupakai lagi sejak itu, dan menyampirkannya di bahunya.

Kak Kanaya memandangi jaket itu, lalu memandangiku.

“Ini jaket yang dibalikin di Meja Tujuh?”

“Gita cerita?”

“Gita cerita banyak.” Ia menarik jaket itu lebih erat di bahunya. “Ada permen jahe di sakunya.”

“Itu permen dari laci dasbor mobil aku. Dia ambil di hari pertama. Dia simpen sebulan.”

Kak Kanaya diam sebentar. Lalu ia duduk di lantai atap, bersandar ke tiang jemuran berkarat, seperti duduk di lantai gudang belakang panti. Aku menutup laptop dan duduk di sebelahnya.

Kami memandangi lampu kota bersama-sama.

“Kakak udah tahu semuanya, Rief,” katanya akhirnya.

Aku menoleh.

“Bank Prima, PT Wardhana, surat kuasa, tanah Bekasi, kontraktor yang pailit bulan Maret.” Ia tidak menoleh. “Kakak telepon direktur Bank Prima. Kakak panggil Om Rudi ke kantor Kakak hari Senin. Dia cerita semuanya. Dia nangis.”

Aku memejamkan mata.

“Dia nggak tahu kamu tahu,” lanjut Kak Kanaya. “Kakak tanya, ‘Arief tahu?’ Dia bilang nggak mungkin. Dia bilang kamu anak paling jujur yang dia kenal, dan kalau kamu tahu, kamu pasti udah bilang ke Ibu Dewi.”

“Aku udah bilang ke Nene.”

“Kakak tahu.” Ia akhirnya menoleh. “Gita cerita soal Rencana Bumi. Soal tulisan pensil di pinggirnya. ‘Hampura, Jang.’”

Aku tidak menjawab.

“Dan dia juga nggak tahu Kakak siapa buat kamu,” kata Kak Kanaya. “Om Rudi. Kakak nggak bilang. Itu bukan hak Kakak.”

“Makasih, Kak.”

Ia memandangiku lama.

“Rief, Kakak udah mikir semuanya. Tiga hari. Kakak tulis di papan tulis di kantor, kayak Bu Rahmah dulu.” Ia menarik napas. “Ada empat pilihan.”

Aku menunggu.

“Satu, lanjut investasi sama perjodohannya. Bumi Ni Dewi selamat. Kamu kehilangan Gita. Dua, batalin semua. Gita bebas. Dua belas cabang dilelang. Tiga, investasi tanpa perjodohan. Ideal, tapi butuh Om Rudi ngaku, Nene berubah pikiran, dan Mama ngerti, dalam enam belas hari.”

Ia berhenti.

“Empat?” tanyaku.

Ia memandangi lampu kota.

“Empat, Kakak bayar sendiri.”


Aku tidak langsung menjawab.

Aku memandangi kakakku dari samping. Rambutnya yang sebahu bergerak sedikit tertiup angin malam. Jaket parasut hitamku kebesaran di bahunya. Wajahnya, yang empat belas tahun lalu wajah anak perempuan berkepang dengan seragam bekas, sekarang wajah perempuan yang bisa mengubah struktur investasi dua puluh lima miliar dalam lima menit.

“Uang pribadi,” katanya. “Bukan uang grup, bukan uang Mama. Uang Kakak sendiri, dari gaji, bonus, saham yang Papa kasih waktu Kakak umur dua puluh lima. Kakak punya, Rief. Dua puluh tiga koma enam miliar nggak bikin Kakak bangkrut.”

“Kak.”

“Kakak transfer langsung ke Bank Prima. Hak tanggungan dicoret. Dua belas cabang bebas. Nggak ada investasi, nggak ada perjodohan, nggak ada urusan sama Mama. Om Rudi bisa jual tanah Bekasinya pelan-pelan, balikin ke Kakak kapan pun dia bisa, tanpa bunga. Atau nggak usah balikin. Kakak nggak peduli.”

“Kak, nggak.”

Ia menoleh. “Kenapa nggak?”

“Karena aku nggak mau.”

“Ini bukan buat kamu. Ini buat Bumi Ni Dewi. Buat Ibu Dewi. Buat empat ratus dua belas karyawan.”

“Ini buat aku, Kak.” Aku memandanginya lurus-lurus. “Kakak nggak kenal Bumi Ni Dewi. Kakak baru dateng tadi pagi. Kakak nggak kenal Bi Enok, Pak Encep, Teh Yuyun. Kakak mau bayar dua puluh tiga miliar karena ada aku di sini. Karena Gita. Karena Kakak tahu aku motong bawang lima puluh kilo.”

Ia tidak membantah.

“Kalau Kakak bayar,” kataku, “Nene utang dua puluh tiga miliar sama Kakak. Om Rudi utang dua puluh tiga miliar sama Kakak. Dan mereka utang karena aku. Karena aku adik CEO.” Suaraku mulai naik. Aku tidak menahannya. “Tiap Lebaran, Nene bakal ngeliat aku, dan Nene bakal inget dua puluh tiga miliar. Tiap makan siang keluarga, Om Rudi bakal ngeliat aku, dan Om Rudi bakal inget bahwa anak panti yang dia ajarin pakai dasi di toilet Balairung ternyata punya kakak yang ngebayar utangnya. Aku nggak bisa, Kak. Aku nggak bisa jadi itu buat mereka.”

“Jadi apa?”

“Jadi beban.”

Kata itu jatuh di atap seperti batu ke dalam air.

Kak Kanaya memandangiku lama sekali.

Lalu ia berdiri. Jaket parasut jatuh dari bahunya ke lantai atap. Ia tidak memungutnya.

“Beban,” ulangnya. Suaranya pelan, sangat pelan, tapi di bawah suara itu aku mendengar sesuatu yang dulu kudengar di koridor SMP, waktu ia berjalan melewati tiga barisan meja. “Kamu bilang beban.”

“Kak—”

“Dua puluh empat tahun, Rief. Dua puluh empat tahun Kakak nyari kamu, dan pas Kakak nemu, kamu bilang Kakak nolongin kamu itu beban?”

Aku berdiri juga.

“Bukan buat Kakak. Buat mereka.”

“Mereka siapa? Mereka yang ngejual cewek kamu ke adik Kakak buat nutupin utang? Mereka yang bilang ‘Nene satuju’ di depan dua puluh tiga orang sementara kamu duduk di sebelah Gita dan narik kaki kamu ke bawah kursi?”

“Kakak nggak kenal Nene.”

“Kakak kenal cukup!”

Suaranya menggema di atap, di antara tiang jemuran berkarat, dan turun ke kebun di bawah. Di kejauhan, aku mendengar seekor anjing menggonggong, lalu diam.

Aku menarik napas. Aku tidak mau bertengkar. Ini malam keenam sejak tangga darurat. Enam malam kami punya, setelah empat belas tahun tidak punya apa-apa.

Jadi aku membuka laptop.


“Aku punya rencana, Kak,” kataku, dengan suara yang kubuat setenang mungkin. Suara Head of Operations Transformation. “Rencana Bumi. Versi dua. Nggak butuh uang Kakak, nggak butuh perjodohan.”

Kak Kanaya memandangi laptop di tanganku. Lalu memandangiku. Lalu, dengan gerakan yang terlalu cepat untuk orang yang sedang marah, ia mengambil laptop itu dari tanganku, duduk di kursi plastik, dan mulai membaca.

Aku berdiri dan menunggu.

Ia membaca empat belas halaman dalam enam menit. Aku menghitungnya. Enam menit untuk empat belas halaman, termasuk tabel tiga ratus dua belas pelanggan katering korporat dan simulasi harga Kartu Langganan Liwet.

Lalu ia mengangkat kepala.

“Kamu telat tiga minggu,” katanya.

Itu bukan suara kakak. Itu suara CEO.

“Versi satu kamu bilang dua koma delapan miliar dalam lima minggu. Sekarang tinggal enam belas hari.” Ia menggeser layar ke tabel katering. “Asumsi kamu, lima puluh persen pelanggan korporat mau bayar di muka tiga bulan, dengan diskon sepuluh persen. Lima puluh persen, Rief. Di bulan Desember, waktu semua perusahaan lagi tutup buku, lagi nahan kas buat bonus akhir tahun, lagi nunggu anggaran baru Januari.” Ia memandangiku. “Itu angka yang terlalu rapi.”

“Itu bukan asumsi.”

“Kalau bukan asumsi, apa?”

“Data.”

Kak Kanaya mengangkat satu alis.

Aku mengambil ponselku dan membuka satu spreadsheet. Aku tidak pernah menunjukkannya pada siapa pun, termasuk Nene, termasuk Gita. Aku memutarnya ke arahnya.

“Minggu ini aku telepon empat puluh pelanggan korporat,” kataku. “Satu-satu. Dari yang paling lama langganan. Dinas Pendidikan Kota Bandung, sebelas tahun. RS Hermina Pasteur, sembilan tahun. Pabrik tekstil di Majalaya, tujuh tahun. Aku bilang ke mereka, Bumi Ni Dewi lagi ngadain program ‘Langganan Setia’: bayar tiga bulan di muka, dapat potongan sepuluh persen, ditambah gratis katering untuk satu acara akhir tahun kantor mereka.”

Kak Kanaya memandangi layar ponselku.

“Tiga puluh satu dari empat puluh bilang mau,” kataku. “Tujuh puluh tujuh koma lima persen. Bukan lima puluh. Dua belas udah transfer. Nilainya empat ratus delapan puluh juta. Sisanya nunggu tanda tangan direktur keuangan mereka, paling lambat Jumat ini.”

Ia menggulir layar. Daftar empat puluh nama, dengan kolom Ya / Tidak / Pertimbangan, kolom tanggal telepon, kolom nama penanggung jawab, dan kolom nilai.

“Kamu telepon empat puluh perusahaan,” katanya pelan. “Minggu ini. Minggu kamu nemu Kakak.”

“Malem-malem. Abis Kakak tidur di penthouse, sebelum Kakak bangun. Terus di kereta. Terus kemarin.”

“Tanpa bilang siapa-siapa.”

“Belum ada yang perlu dibilangin. Belum pasti.”

Kak Kanaya memandangiku. Wajahnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat: bingung, terkesan, dan sangat, sangat marah, semuanya sekaligus.

“Ini...” Ia menggulir lagi. “Ini bisa jalan.”

“Bisa jalan.”

“Kalau tiga ratus dua belas, bukan empat puluh, dengan tingkat konversi tujuh puluh tujuh persen...” Ia menghitung di kepala. Aku melihat matanya bergerak, persis seperti mataku kalau sedang menghitung, seperti kata Gita. “Tiga koma dua miliar. Lebih dari dua koma delapan. Dalam dua minggu.”

“Tiga koma satu. Ada diskon sepuluh persen.”

“Tiga koma satu.” Ia menutup laptop. “Terus?”

“Terus aku bawa ke Bank Prima. Tunggakan bunga dan denda lunas. Bank mau restrukturisasi. Tenor diperpanjang dua tahun. Dalam dua tahun, tanah Bekasi dijual dengan harga wajar, utangnya lunas, uang muka pembeli apartemen dikembaliin.” Aku menarik napas. “Nggak butuh uang Kakak. Nggak butuh perjodohan. Nggak ada yang utang sama siapa-siapa kecuali sama pelanggan setia, dan utangnya dibayar pakai nasi liwet.”

Kak Kanaya diam lama.

“Ada satu masalah,” katanya akhirnya.

“Apa?”

“Kamu bukan pemilik jaminannya. Bumi Ni Dewi yang punya, dan Bumi Ni Dewi itu Ibu Dewi. Bank cuma mau duduk sama pemilik jaminan, atau sama yang punya kuasa dari pemilik jaminan.” Ia memandangiku. “Kamu nggak bisa jalanin rencana ini tanpa tanda tangan Ibu Dewi. Dan tanah Bekasi milik PT Wardhana. Kamu nggak bisa jual tanah itu tanpa Om Rudi.”

Aku tidak menjawab.

“Dan Ibu Dewi bilang ‘lain ayeuna’,” kata Kak Kanaya. “Gita cerita. Ibu Dewi bilang rencana kamu bagus, tapi bukan sekarang.”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Aku nggak tahu, Kak.”

“Kamu nggak tahu, tapi kamu tetap telepon empat puluh perusahaan.”

“Karena kalau Nene berubah pikiran, uangnya udah siap.”

“Dan kalau Ibu Dewi nggak berubah pikiran?”

Aku diam.

Kak Kanaya berdiri dari kursi plastik dan berjalan mendekat, sampai kami hanya terpisah setengah meter.

“Kakak bisa bikin bank nunggu,” katanya. “Kakak kenal direkturnya. Satu telepon, Rief. Kakak bilang Sastrawidjaya Group lagi uji tuntas dan butuh tambahan tiga puluh hari. Bank pasti mau. Kakak bisa ketemu Ibu Dewi besok pagi, bawa rencana kamu, dan bilang Kakak yang jamin. Kakak bisa telepon Om Rudi, suruh dia tanda tangan kuasa jual tanah Bekasi. Kakak bisa—”

“Itu Kakak lagi.”

Ia berhenti.

“Itu Kakak lagi, Kak.” Suaraku keluar lebih keras dari yang kumaksud. “Kakak telepon bank. Kakak ketemu Nene. Kakak suruh Om Rudi. Kakak, Kakak, Kakak.”

“Karena Kakak bisa!”

“Aku juga bisa!”

Hening.

Angin malam bertiup dan menggoyangkan tiang jemuran berkarat. Di bawah, di kebun, lampu taman berkedip sekali.

“Kakak selalu di depan,” kataku. Pelan sekarang, karena suaraku sudah terlalu lelah untuk keras. “Dari kecil. Kakak yang ngebelah telur. Kakak yang nampar Dodi. Kakak yang ngaku soal nasi gosong satu dandang. Kakak yang makan bagian gosong dua puluh empat tahun. Kakak nggak pernah, sekali pun, biarin aku di depan.”

“Karena kamu nggak pernah mau di depan!” Suara Kak Kanaya pecah. “Kamu yang nyuruh Kakak pergi! Di gudang belakang, di bawah hujan, kamu bilang ‘Kak, pergi’! Kamu yang diem di meja makan itu! Kamu yang narik kaki kamu ke bawah kursi waktu Gita nyari kaki kamu! Kamu yang bilang ‘aku tetap di belakangmu’ ke cewek yang kamu sayang, terus motong bawang lima puluh kilo sendirian sampai jam empat pagi!” Ia menunjuk dadaku, persis seperti Gita di dapur belakang rumah Nene. “Kamu selalu di belakang, Rief! Jadi Kakak harus di depan! Siapa lagi yang di depan kalau bukan Kakak?!”

Aku tidak bisa menjawab.

“Dulu kamu dipukuli buat Kakak,” katanya, dan sekarang air mata mengalir di pipinya. Ia tidak mengusapnya. “Umur dua belas. Tiga lawan satu. Alis kamu sobek. Kamu nggak nanya Kakak boleh atau nggak. Kamu langsung lompat. Dan sekarang, sekarang Kakak punya kesempatan buat bales, buat sekali aja ngelindungin kamu kayak kamu ngelindungin Kakak, dan kamu bilang nggak boleh?”

“Itu beda.”

“Apa bedanya?!”

“Aku umur dua belas! Aku nggak tahu apa-apa!”

“Itu nggak beda!” Ia memukul dadaku dengan telapak tangan. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatku mundur setengah langkah. “Kamu umur dua belas, dan kamu lompat, dan kamu nggak nanya! Kamu nggak nanya Kakak mau ditolong atau nggak! Kamu nggak nanya Kakak mau lihat adik Kakak berdarah di lantai koridor atau nggak!”

Ia menarik napas, terengah-engah.

“Kakak nggak mau, Rief. Kakak nggak pernah mau kamu berdarah buat Kakak. Tapi Kakak terima, karena itu yang kamu kasih. Kakak bersihin luka kamu pakai obat merah curian. Kakak bilang kamu bodoh. Tapi Kakak terima.” Suaranya turun menjadi bisikan. “Kenapa kamu nggak bisa terima dari Kakak?”

Aku memandangi kakakku.

Aku tidak punya jawaban yang tidak akan menyakitinya. Aku juga tidak punya jawaban yang tidak akan menyakitiku.

Jadi aku mengatakan yang benar.

“Karena kalau aku terima, Kak,” kataku, “aku nggak tahu siapa aku.”

Kak Kanaya diam.

“Dua puluh empat tahun aku jadi orang yang ngasih. Yang ngebelah telur buat yang lebih muda. Yang ngirim beras ke panti. Yang nyuci piring orang lain. Yang nolongin Pak Encep, Teh Yuyun, Iwan.” Aku menelan. “Aku nggak tahu cara jadi orang yang ditolong. Aku nggak pernah belajar. Bu Rahmah ngajarin aku satu hal: kalau ada orang yang nolong kamu, kamu jangan minta lebih. Kamu terima kasih, kamu kerja, kamu balas. Kamu jangan jadi beban.”

Kak Kanaya menutup mata.

“Bu Rahmah juga ngajarin Kakak hal yang sama,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Kakak nggak pernah biarin siapa pun nolong Kakak. Bryan cerita. Kakak masak di pantry kantor biar Bryan yang bersihin kalau gagal, tapi Kakak nggak pernah biarin Bryan yang masak. Kakak sewa sebelas detektif tapi Kakak baca daftar tiga ratus dua belas nama sendirian, sepuluh tiap malam, karena Kakak nggak mau ada yang lihat Kakak nangis.” Aku memandanginya. “Kakak nggak pernah biarin Ervan bilang ke Kakak duluan. Ervan harus ngatur rapat, Kak. Ngatur rapat, biar Kakak lihat sendiri. Karena kalau Ervan yang bilang, Kakak nggak akan percaya. Kakak cuma percaya sama yang Kakak temuin sendiri.”

Kak Kanaya membuka mata.

“Kita sama,” kataku. “Kita sama persis, Kak. Kita dua orang yang nggak mau ditolong.”


Lama sekali tidak ada yang bicara.

Kami berdiri di atap, di antara tiang jemuran berkarat dan kursi plastik, satu langkah terpisah. Di bawah kami, lampu-lampu Dago bertingkat-tingkat sampai ke lembah. Jaket parasut hitam tergeletak di lantai atap di antara kami.

Lalu Kak Kanaya tertawa.

Bukan tawa yang di dapur siang tadi, waktu alarm asap berbunyi. Tawa yang pendek, pahit, dan basah.

“Kamu tahu apa yang paling Kakak benci, Rief?”

Aku menunggu.

“Kakak ngerti kamu.” Ia mengusap mata dengan punggung tangan. “Kakak ngerti banget. Setiap kalimat yang kamu bilang barusan, Kakak ngerti. Kakak bisa nulis kalimat-kalimat itu sendiri. Kakak udah nulisnya di kepala Kakak, empat belas tahun, tiap kali ada yang nawarin bantuan dan Kakak bilang ‘nggak usah, saya bisa sendiri’.”

Ia membungkuk, memungut jaket parasut hitam dari lantai atap, dan menyodorkannya padaku.

“Dan Kakak benci, karena Kakak tahu Kakak nggak bisa ngubah pikiran kamu,” katanya. “Sama kayak nggak ada yang bisa ngubah pikiran Kakak.”

Aku mengambil jaket itu.

“Kakak nginep di hotel,” katanya. “Bryan udah pesen. Di Braga.”

“Kak—”

“Besok pagi Kakak balik ke Jakarta. Ada rapat dewan yang Kakak batalin hari ini. Kakak harus jadwal ulang.” Ia berjalan ke tangga besi. “Kakak nggak akan telepon bank. Kakak nggak akan ketemu Ibu Dewi. Kakak nggak akan suruh Om Rudi.”

Aku memandangi punggungnya.

“Kamu mau di depan? Silakan.” Ia berhenti di ujung tangga, tanpa menoleh. “Tapi kalau tanggal satu Januari dua belas cabang itu dilelang, kalau Gita nikah sama Ervan, kalau kamu motong bawang lima puluh kilo lagi...” Suaranya bergetar. “Kakak nggak akan diem, Rief. Kakak udah diem empat belas tahun. Kakak nggak akan diem lagi.”

Ia menuruni tangga besi.

Aku mendengar langkahnya. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat, dengan punggung yang pasti tegak, sampai langkah itu hilang di kebun.


Aku berdiri sendirian di atap, memegang jaket parasut hitam, lama sekali.

Lalu aku mendengar suara lain dari tangga besi. Bukan langkah kaki. Suara orang yang menarik napas, lalu menahannya.

“Kamu dengar semuanya?” tanyaku, tanpa menoleh.

Hening. Lalu suara langkah naik, pelan, dua anak tangga, tiga. Gita muncul di ujung tangga, dengan sweter rajut hijau sage dan wajah yang basah.

“Aku nganterin teh,” katanya. Ia mengangkat dua gelas bandrek yang sudah dingin. “Buat kalian berdua. Terus aku denger kalian teriak. Terus aku nggak bisa naik. Terus aku nggak bisa turun.”

Ia berjalan ke pinggir atap dan berdiri di sebelahku, satu meter jauhnya. Masih ada meja yang tidak kelihatan di antara kami.

Ia menyodorkan satu gelas bandrek. Aku mengambilnya.

Kami memandangi lampu kota.

“Kalian berdua,” kata Gita akhirnya, pelan, “bodoh.”

Aku tertawa. Tawa yang pendek dan sedih.

“Kak Kanaya bilang hal yang sama ke aku,” kataku. “Di gudang belakang, umur dua belas. ‘Kamu bodoh.’”

“Dia bener.”

“Dia selalu bener.”

“Kamu juga bener.” Gita memandangiku. “Itu masalahnya, Rief. Kalian berdua bener. Kamu bener nggak mau jadi beban. Dia bener nggak mau diem lagi. Dan kalian berdua sama-sama nggak mau dengerin yang satunya, karena kalian berdua sama-sama yakin yang paling sayang itu yang paling banyak ngasih.”

Aku memandanginya.

“Aku baru belajar ini dua minggu lalu,” kata Gita. “Dari sepuluh lembar kertas di meja Nene. Kadang yang paling sayang itu yang mau nerima.”

Aku tidak bisa menjawab.

Ponselku bergetar di saku celana.

Aku mengeluarkannya. Nama di layar: Teh Euis.

Jam sepuluh lewat empat puluh malam. Teh Euis tidak pernah menelepon jam segini, kecuali ada kebakaran. Dalam empat tahun, Teh Euis cuma pernah meneleponku jam segini dua kali: waktu banjir Dayeuhkolot dan waktu ia lupa password sistem kasir.

“Teh?”

“A! A Arief!” Suaranya bergetar. Bukan panik, tapi gemetar, seperti orang yang memegang sesuatu yang terlalu berat. “A, abdi di gudang arsip. Di kantor. Abdi nuju digitalisasi.”

“Digitalisasi apa, Teh, jam segini?”

“Modul arsip surat nu ku Aa dijieun! Nu kudu motoan sadaya surat heubeul ti taun dua rebuan! Abdi teu sare, A, abdi teu bisa sare, unggal peuting abdi motoan lima puluh map, ngarah gancang beres.” Ia menarik napas. “Terus abdi manggih hiji map, A.”

Aku berhenti bernapas.

“Map naon, Teh?”

“Map heubeul pisan. Map coklat. Di rak paling handap, di tukangeun kardus arsip pajeg taun dua rebu dalapan welas. Aya tulisan leungeun dina luarna.” Teh Euis diam sebentar. Aku mendengar bunyi kertas. “Abdi bacakeun, A.”

Aku menunggu. Gita, di sebelahku, menurunkan gelas bandreknya dan memandangiku.

“Titipan dari Rahmah Hidayati, Panti Asuhan Kasih Bunda Cimahi,” baca Teh Euis pelan, kata demi kata. “Untuk Arief. Mohon diserahkan kalau dia sudah siap.”

Gelas bandrek di tanganku miring. Bandrek yang sudah dingin tumpah ke lantai atap, membasahi sepatuku.

“Dititipkan kepada Ibu Dewi Kurniasih,” lanjut Teh Euis, suaranya pecah. “Maret 2018.”

Maret 2018. Dua bulan sebelum Bu Rahmah meninggal.

“A?” Suara Teh Euis kecil sekali. “A, Aa masih di dinya?”

Aku tidak bisa menjawab.

Gita mengulurkan tangan dan memegang ujung lengan jaketku, di bagian manset, dengan dua jari. Hanya kain jaketnya, seperti di Meja Tujuh hari Jumat.

“Arief,” bisiknya.

“Teh,” kataku ke telepon. Suaraku keluar sangat jauh, seperti suara orang lain. “Jangan dibuka. Saya ke sana sekarang.”