Chapter Twenty Nine
Calon Kakak Ipar
POV: Anggita
Arief pulang dari Jakarta hari Jumat jam tujuh malam, dan aku tahu ada sesuatu yang berubah sebelum ia membuka mulut.
Aku tahu dari cara ia berjalan.
Selama dua bulan aku mengumpulkan data tentang cara Arief berjalan. Langkahnya cepat dan pendek di dapur, karena dapur selalu sempit dan selalu ada yang lewat. Di koridor kantor langkahnya biasa, sedang, dengan bahu sedikit maju seperti orang yang selalu sedang menuju sesuatu. Dan ada langkah yang hanya kulihat tiga kali: di Garut waktu ia mengikuti Pak Encep ke pohon nangka, di parkiran waktu ia menyuruh Iwan menunjukkan stiker merah dan hijau, dan di malam ia menjemput martabak. Itu langkah orang yang tahu ia akan menemukan sesuatu yang penting.
Malam itu ia berjalan dari parkiran ke pintu samping restoran dengan langkah yang belum pernah kulihat.
Langkah yang ringan.
Bukan cepat, bukan lambat. Ringan, seperti orang yang baru meletakkan karung beras lima puluh kilo yang sudah dipikulnya sejak kecil.
Aku sedang duduk di Meja Tujuh, mengedit desain kartu ucapan Natal untuk pelanggan korporat. Restoran sudah tutup sejak jam delapan, tapi aku tidak pulang. Aku bilang pada diriku sendiri bahwa itu karena desainnya harus selesai malam ini.
Itu bohong. Aku menunggu.
Ia masuk lewat pintu samping, melihatku di Meja Tujuh, dan berhenti di tengah ruang makan.
Satu detik, dua, lima, dua belas.
Aku tidak berkata kamu berdiri di situ udah dua belas detik. Aku hanya memandanginya, karena wajahnya juga baru.
Matanya bengkak dan merah, seperti orang yang menangis berjam-jam. Ada bekas air mata kering di pipinya yang sawo matang. Kemeja biru dongkernya kusut di bahu, kancing atasnya terbuka. Plester di jari telunjuk kirinya sudah berganti plester baru.
Tapi wajahnya menyala. Seperti seseorang menyalakan lampu di rumah yang sudah empat belas tahun gelap.
“Gita,” katanya.
“Kamu kenapa?”
Ia berjalan ke Meja Tujuh, menarik kursi di seberangku, kursinya, dan duduk. Ia meletakkan dua tangan di atas meja kayu jati itu, lalu memandanginya, seperti orang yang memandangi meja untuk pertama kalinya.
“Aku nemu kakak aku,” katanya.
Aku tidak ingat apa yang kulakukan setelah itu. Teh Euis, yang ternyata belum pulang karena masih menghitung kas di belakang meja kasir dan diam-diam mendengarkan, bilang aku menjatuhkan laptop. Laptopnya tidak rusak, untungnya, karena jatuh ke kursi, bukan ke lantai. Lalu aku menutup mulut dengan dua tangan. Lalu aku menangis lebih keras dari Arief.
Aku tidak tahu kenapa aku menangis lebih keras darinya. Aku tidak pernah bertemu kakaknya. Aku bahkan tidak tahu nama kakaknya. Yang kutahu hanya satu kata: dulu. Aku punya kakak. Dulu. Kata itu ia ucapkan di warung Ceu Imas dengan air hujan menetes di bekas luka alis kirinya.
Dan tiga lembar roti tawar, di saung gelap, dengan lilin mati lampu.
“Di mana?” tanyaku, akhirnya, di sela tangis. “Di mana kamu nemu dia? Gimana? Siapa?”
Ia tersenyum. Senyum yang naik dari ujung bibir sampai ke mata, dan di matanya ada sesuatu yang belum pernah kulihat di sana. Sesuatu yang tidak lagi menunggu.
“Lantai dua puluh tujuh,” katanya. “Exo Tower. Dia CEO-nya.”
Aku berhenti menangis.
“CEO-nya,” ulangku.
“Kanaya Sastrawidjaya.”
Aku memandanginya.
Di belakang meja kasir, Teh Euis menjatuhkan buku kas.
“Sastrawidjaya,” kataku pelan. “Yang... yang Papa umumin. Yang Rasa Sastra. Yang tower.”
“Iya.”
“Yang anaknya Ervan.”
“Ervan adik angkatnya. Kak Kanaya diadopsi keluarga itu waktu umur enam belas. Waktu mobil hitam itu dateng ke panti.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku memikirkan Ervan dengan sandal jepit biru, berdiri di atas kursi meja delapan karena Si Belang. Ervan yang menumpahkan es teh waktu melihat alis kiri Arief. Ervan yang membelah telur dadar dengan sendok dan memberikan bagian yang besar padaku, kata pelayan tadi, yang gede buat yang paling muda, dan dari seseorang yang gue kenal, kakak gue, dia juga selalu makan bagian yang gosong. Ervan yang matanya merah waktu aku menyebut Cimahi. Ervan yang bilang ia harus mastiin sesuatu, rahasia negara, karena kalau ia salah, ada orang yang akan sakit banget. Orang yang sudah sakit dua kali.
“Ervan tahu,” bisikku.
“Ervan tahu lima belas hari.” Arief menghela napas, setengah tertawa. “Dia ke Cimahi. Ketemu juru masak panti yang dulu masakin telur buat kami. Terus dia ngatur supaya aku diundang presentasi. Biar Kak Kanaya lihat aku sendiri.”
“Itu yang dia pastiin.”
“Itu yang dia pastiin.”
Aku menutup mata. Lalu, pelan-pelan, aku mulai tertawa. Tertawa sambil menangis, dengan air mata yang belum kering di pipi, di Meja Tujuh, jam tujuh malam.
“Kenapa ketawa?” tanya Arief.
“Karena...” Aku mengusap mata dengan lengan sweter. “Karena kakak kamu calon kakak ipar aku, Rief.”
Arief membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
“Kalau aku nikah sama Ervan,” kataku, setengah tertawa setengah menangis, “dia jadi kakak ipar aku. Kakaknya suami aku. Dan kalau aku...” Aku berhenti. Wajahku panas. Aku tetap mengatakannya, karena malam ini rasanya semua hal yang benar boleh dikatakan. “Kalau aku nikah sama kamu, dia juga jadi kakak ipar aku. Kakaknya suami aku juga.”
Arief memandangiku. Telinganya merah, sampai ke leher.
“Jadi dia calon kakak ipar aku dua kali,” kataku. “Apa pun yang terjadi.”
Hening.
Lalu, dari belakang meja kasir, suara Teh Euis yang sangat pelan dan sangat jelas, seperti orang yang berbisik di masjid tapi semua orang mendengar:
“Ya Allah. Ieu mah... ieu mah drama Korea.”
Aku ingin memeluknya. Aku ingin sekali memeluknya.
Aku ingin berdiri dari kursi, memutari Meja Tujuh, dan melingkarkan lenganku di lehernya, seperti di saung malam bulan penuh, seperti di ruang perang waktu go-live. Aku ingin memberitahunya dengan tubuhku bahwa aku senang sekali untuknya, sampai rasanya dadaku mau pecah.
Tapi ada meja di antara kami. Bukan hanya Meja Tujuh, tapi meja yang lain, yang tidak kelihatan. Meja makan keluarga dengan dua puluh tiga piring. Papa yang menangis di ruang kerja Nene. Nene satuju. Ervan dengan Pakta Saung. Dan cincin pertunangan yang belum ada tapi sudah terasa seperti borgol.
Aku tidak bisa memeluknya selama aku masih terikat pada orang lain. Bukan karena aturan. Karena itu tidak adil, untuk Arief, untuk Ervan, dan untukku.
Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Aku mengulurkan tangan di atas Meja Tujuh, dan dengan dua jari, aku menjepit ujung lengan kemejanya. Bukan tangannya, hanya kain kemejanya, di bagian manset yang sudah kusut.
Arief memandangi jari-jariku di lengan kemejanya.
“Selamat,” bisikku. “Aku seneng banget buat kamu. Banget.”
Ia tidak menarik tangannya. Ia membiarkan aku memegangi ujung lengan kemejanya, dan aku melihat matanya berkaca-kaca lagi.
“Makasih,” katanya. “Makasih udah bikinin aku roti tawar. Waktu Kakak belum ada.”
Aku tidak mengerti apa yang ia maksud. Belum. Aku baru mengerti hari Rabu.
Hari Rabu pagi, jam sembilan lewat sepuluh, sebuah sedan hitam berhenti di parkiran Bumi Ni Dewi Dago.
Pintu belakang terbuka. Yang turun pertama adalah Ervan, dengan kemeja batik yang disetrika, sepatu kulit cokelat, dan satu pipi yang sedikit lebih merah dari pipi yang lain. Ia langsung melirik ke semak-semak di pinggir parkiran.
Yang turun kedua adalah seorang laki-laki muda dengan setelan jas rapi dan dasi yang miring dua derajat. Ia memegang tablet di satu tangan dan, di tangan yang lain, sebuah tabung pemadam api kecil berwarna merah.
Pak Darto, yang berjalan dari pos untuk menyambut tamu, berhenti di tengah parkiran dan memandangi tabung pemadam api itu.
“Aya kahuruan, A?” tanyanya.
“Belum, Pak,” kata laki-laki muda itu dengan sangat serius. “Ini protokol.”
Lalu pintu belakang yang lain terbuka, dan seorang perempuan turun.
Aku sedang berdiri di ambang pintu samping, karena Asep sudah berlari ke dapur lima menit sebelumnya sambil berteriak “SEDAN HITAM! SEDAN HITAM NU KAMARI! CALON SALAKI TEH ANGGITA! JEUNG... JEUNG SAHA ETA?!”
Perempuan itu tinggi. Lebih tinggi dariku, mungkin sepuluh senti. Rambutnya hitam sebahu, lurus dan rapi, dengan satu sisi diselipkan di belakang telinga. Ia memakai setelan celana abu-abu gelap tanpa motif, kemeja putih, dan sepatu hak rendah, tanpa perhiasan kecuali jam tangan kecil di pergelangan kiri.
Wajahnya cantik. Bukan cantik yang membuat ojol berhenti di depan jendela. Cantik yang membuat orang otomatis berdiri lebih tegak dan merapikan baju tanpa sadar. Cantik yang dingin, tajam, dan tidak meminta izin.
Pak Darto berdiri lebih tegak dan merapikan seragamnya.
Perempuan itu memandangi bangunan Bumi Ni Dewi lama sekali, rumah panggung kayu dua lantai dengan atap genteng tua dan kebun di sisi kanan. Ia memandanginya seperti memandangi sesuatu yang sudah lama ia cari di peta dan akhirnya ia temukan.
Lalu ia memandangi jendela besar di lantai satu. Jendela Meja Tujuh.
Lalu ia memandangiku.
Aku tidak tahu bagaimana ia tahu itu aku. Mungkin dari halaman delapan. Ervan bilang kakaknya akhirnya membaca halaman delapan. Mungkin dari cara aku berdiri di ambang pintu, dengan tangan yang memegang kusen terlalu erat.
Ia berjalan ke arahku. Langkahnya biasa, tidak cepat dan tidak lambat, dengan punggung tegak.
Ia berhenti satu meter di depanku.
Dari dekat, aku melihat matanya. Mata yang tajam, lelah, sedikit bengkak di bawahnya, seperti orang yang beberapa malam ini menangis lebih banyak dari biasanya. Dan di mata itu ada sesuatu yang membuat lututku hampir lemas: bentuknya sama.
Bukan mirip. Sama. Mata yang memandangi segala sesuatu seolah besok pasti lebih baik, hanya saja di wajah ini mata itu sudah belajar untuk tidak terlalu berharap.
“Anggita Sekar Wardhani,” katanya. Suaranya rendah, jelas, dan sedikit serak.
“Iya, Bu.”
“Jangan panggil Bu.”
“Iya... Kak?”
Ia memandangiku lebih lama. Matanya bergerak dari wajahku ke rambutku, ke sweter rajut hijau sage yang kupakai, ke tanganku yang masih memegang kusen pintu.
Lalu ia bertanya, dengan suara yang sangat datar:
“Jadi kamu yang bikin adikku nggak tidur?”
Aku tidak siap untuk pertanyaan itu. Aku sudah menyiapkan banyak hal sejak Arief bilang hari Senin bahwa kakaknya akan datang hari Rabu. Aku menyiapkan Selamat datang, Kak, Terima kasih sudah datang, Arief cerita banyak soal Kakak. Aku bahkan latihan di depan cermin, seperti latihan presentasi rebranding.
Aku tidak menyiapkan apa pun untuk jadi kamu yang bikin adikku nggak tidur?
Di belakangku, aku mendengar Asep berbisik ke Dede: “Eta saha? Eta saha?! Naha siga bos mafia?!”
Di belakang Kanaya, Ervan menutup wajah dengan dua tangan.
Laki-laki dengan tabung pemadam api memandangi langit.
Aku memandangi perempuan di depanku. Calon kakak iparku, dua kali, apa pun yang terjadi.
Lalu, karena aku tidak punya jawaban yang sudah disiapkan, aku memberikan jawaban yang jujur.
“Dia yang bikin aku nggak tidur duluan, Kak.”
Kanaya mengangkat satu alis.
“Dia bangun jam empat,” kataku. “Tiap hari. Lampu dapur nyala jam empat lewat dua puluh, dan kamar aku di lantai dua, jendelanya ngadep ke dapur. Aku nggak bisa tidur sampai lihat lampunya nyala.” Wajahku panas. “Dan dia bikin laporan sarapan buat aku, Kak. Di sistem perusahaan. Dengan baris yang di-highlight kuning. Itu curang. Itu curang pakai data.”
Kanaya memandangiku.
Lalu, di sudut bibirnya, sesuatu bergerak. Sangat sedikit, hampir tidak terlihat.
“Laporan sarapan,” ulangnya.
“Iya, Kak.”
“Dia bilang ke Kakak, ‘nanti aku bikin laporan’, di stasiun Halim. Waktu Kakak bilang Kakak belum makan siang.”
Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa, keras dan lepas, sama sekali tidak cocok dengan situasi berdiri di ambang pintu di depan CEO grup properti yang baru saja menanyaiku dengan nada interogasi.
Kanaya memandangiku tertawa. Sudut bibirnya bergerak lebih jauh. Lalu ia menoleh ke Ervan.
“Van.”
“Ya, Kak?” Suara Ervan teredam di balik tangan.
“Dia ketawanya keras.”
“Iya, Kak. Gue udah bilang.”
“Nggak cocok sama mukanya.”
“Iya, Kak. Gue udah bilang juga.”
Kanaya menoleh kembali padaku. Kali ini senyumnya muncul sepenuhnya. Senyum yang kecil dan sedikit miring, tapi sampai ke mata.
“Kakak suka,” katanya.
Seluruh Bumi Ni Dewi Dago tahu dalam empat menit.
Itu rekor baru, kata Teh Euis, lebih cepat dari gosip jaket hitam di Lembang dan lebih cepat dari martabak jam dua belas malam. Grup ArGi (Arsip) yang sudah dikunci Asep selama sebulan, yang hanya bisa diisi admin, tiba-tiba dibuka kuncinya. Namanya diganti dalam satu menit.
ArGi REBORN 💚🤎 + KAKAK IPAR 👑
Asep: INFORMASI RESMI. SAYA ULANGI. INFORMASI RESMI. KAKAK A ARIEF DATANG. KAKAK KANDUNG. NU BOGA TOWER. CEO.
Teh Euis: Nu leres Sep?!?!
Asep: Leres Teh!!! Tadi nanya Teh Anggita “jadi kamu yang bikin adikku nggak tidur” 😭😭😭
Dede: Ya Allah gaya pisan
Bi Ratna: BIBI OTW. BIBI OTW DAGO. TUNGGU BIBI.
Bi Enok: Alhamdulillah
Kang Usep (Lembang): Abdi ti Lembang teu bisa datang tapi abdi ngadoakeun
Pak Darto: Namina saha?
Asep: Kanaya, Pak.
Pak Darto: Muhun. Bu Kenanga.
Asep: KANAYA PAK
Pak Darto: Bu Kanaria.
Mang Ujang tidak mengetik apa pun di grup. Mang Ujang keluar dari dapur dengan celemek berlumuran sambal, berdiri di ambang pintu dapur, dan memandangi Kanaya lama sekali, dengan centong kayu di tangan.
Kanaya, yang sedang berdiri di tengah ruang makan memandangi Meja Tujuh, menoleh dan melihatnya.
Mang Ujang berjalan pelan ke arahnya, berhenti satu meter di depannya, dan memandangi wajah Kanaya dengan saksama. Seperti memandangi resep lama yang tidak ia lihat bertahun-tahun.
“Teteh teh...” kata Mang Ujang pelan. “Nu sok dibeulahkeun endog?”
Teteh ini... yang biasa dibelahkan telur?
Kanaya memandangi Mang Ujang. Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Dinginnya retak di satu sudut.
“Bukan,” katanya. “Kakak yang dulu ngebelahin.”
Mang Ujang mengangguk pelan, sangat pelan, seperti orang yang baru memecahkan teka-teki yang sudah tiga belas tahun ia pikirkan. Lalu matanya berkaca-kaca, dan ia menepuk bahu Kanaya dua kali, keras sekali, dengan tangan yang masih bau terasi.
“Hatur nuhun,” katanya serak. “Hatur nuhun parantos ngajarkeun manehna.”
Lalu ia berbalik dan berjalan cepat kembali ke dapur, sambil mengusap mata dengan lengan celemek.
Kanaya berdiri di tengah ruang makan dengan bahu yang sekarang berbekas sambal terasi, memandangi pintu dapur yang berayun di belakang Mang Ujang. Laki-laki dengan tabung pemadam api, yang belakangan kuketahui bernama Bryan, mengeluarkan tisu basah dari saku jasnya dan menyodorkannya dengan wajah orang yang sudah terlalu sering berada dalam situasi yang tidak ia mengerti.
Kanaya tidak mengambil tisu itu. Ia membiarkan noda sambal itu di bahunya.
Nene datang ke ruang makan jam sepuluh.
Tidak ada yang memanggil Nene. Tapi Nene selalu tahu, dan Nene datang dengan tongkat dan kebaya katun warna tanah, berjalan lebih pelan dari biasanya. Seluruh ruang makan jadi sunyi.
Arief, yang dari tadi berdiri di dekat kasir dengan tangan di saku dan telinga merah karena seluruh staf memandanginya, langsung bergerak. Ia berjalan ke sisi Nene, mengulurkan lengannya, dan Nene berpegangan padanya. Bukan karena perlu. Nene tidak pernah benar-benar perlu berpegangan pada siapa pun. Tapi Nene selalu berpegangan pada Arief kalau Arief menawarkan lengannya.
Mereka berjalan bersama ke tengah ruang makan, ke tempat Kanaya berdiri dengan noda sambal di bahu.
Kanaya memandangi Nene, dan Nene memandangi Kanaya.
Dua perempuan dari dua generasi yang berbeda, dua kota, dan dua dunia. Satu dengan kebaya katun dan selop, satu dengan setelan celana abu-abu dan sepatu hak rendah. Satu yang memberi makan seorang anak laki-laki berumur lima belas di meja pojok cabang Cimahi. Satu yang membelah telur untuk anak laki-laki itu di bangku panjang dekat jendela dapur panti, setiap hari Kamis, sepuluh tahun sebelumnya.
Dua perempuan yang sama-sama, dengan cara yang berbeda, punya Arief.
Aku menahan napas. Seluruh ruang makan menahan napas. Asep bahkan menurunkan ponselnya.
Lalu Kanaya melakukan sesuatu yang tidak kuduga.
Ia membungkuk, meraih tangan Nene yang keriput, tangan yang tidak sedang memegang tongkat, dan menciumnya. Ia melakukannya dengan sopan, seperti seorang cucu, persis seperti yang Arief lakukan setiap pagi.
Nene membeku.
“Ibu Dewi,” kata Kanaya, masih membungkuk, dengan suara yang sangat pelan. “Terima kasih sudah memberi adik saya makan. Waktu saya tidak bisa.”
Nene tidak bergerak.
Lalu, perlahan sekali, tangan Nene yang sedang dicium terangkat. Tangan itu tidak menarik diri. Tangan itu naik dan menyentuh pipi Kanaya, lalu menepuknya dua kali, pelan, persis seperti cara Nene menepuk pipi Arief di malam ulang tahun dan di ruang perang go-live.
“Lain Nene nu mere manehna dahar, Neng,” kata Nene. Suaranya serak. “Manehna nu mere Nene.”
Bukan Nene yang memberi dia makan, Neng. Dia yang memberi Nene.
Kanaya mengangkat kepala.
“Tilu belas taun,” kata Nene, memandangi Kanaya dengan mata tua yang berkabut di pinggir. “Tilu belas taun manehna ngurus dapur Nene, ngurus karyawan Nene, ngurus incu Nene.” Ia melirik ke arahku sebentar, dan aku merasakan wajahku memerah sampai ke telinga. “Nene ngan ukur mere manehna sapiring sangu di meja pojok. Manehna mere Nene tilu belas taun.”
Kanaya tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca.
Nene menepuk pipinya sekali lagi.
“Maneh lanceukna,” kata Nene. “Nene nyaho ti mimiti. Ti panonna. Unggal tanggal dalapan welas Oktober, si Arief teh sok ngaleungit sapoe. Teu daek dahar di meja karyawan. Nene sok mikir, budak ieu nungguan saha?”
Ia berhenti, lalu memandangi Arief yang berdiri di sebelahnya.
“Ayeuna Nene nyaho,” kata Nene. “Manehna nungguan maneh.”
Siang itu Kanaya mencoba memasak.
Itu bukan rencanaku, bukan rencana siapa pun. Menurut Ervan, yang menceritakannya padaku sambil berbisik di saung belakang, itu rencana Kanaya sendiri. Sejak semalam di kereta ia bilang ingin “masakin sesuatu buat Ibu Dewi, buat bilang terima kasih”.
Menurut Bryan, yang juga menceritakannya padaku di saung belakang dengan tabung pemadam api di pangkuan, itu ide yang sangat buruk.
Jam dua belas, Kanaya masuk ke dapur pusat Bumi Ni Dewi Dago, memakai celemek yang dipinjamkan Mang Ujang, dan berdiri di depan kompor gas.
Arief berdiri di sebelahnya. Mang Ujang berdiri di belakangnya. Bryan berdiri satu meter di belakang Mang Ujang dengan tabung pemadam api dalam posisi siaga. Ervan, Asep, Dede, Iwan, dan Teh Euis berdiri di ambang pintu dapur, saling dorong untuk bisa melihat. Aku berdiri di belakang mereka semua, berjinjit.
“Kakak mau bikin apa?” tanya Arief.
“Telur dadar.”
“Kak.”
“Kakak bisa bikin telur dadar.”
“Kakak bikin alarm asap bunyi tiga kali bulan ini.”
“Itu di kompor induksi.”
“Itu di pantry kantor. Kompor gas.”
Kanaya memelototi adiknya. Arief memelototi kakaknya balik. Dan aku, dari belakang barisan orang di ambang pintu, melihat sesuatu yang membuatku ingin tertawa sekaligus menangis.
Mereka mirip sekali.
Bukan wajahnya. Wajah mereka berbeda. Kanaya putih dan tajam, Arief sawo matang dan lembut. Tapi cara mereka memelototi satu sama lain sama persis. Dagu sedikit terangkat, mata sedikit menyipit, dan mulut yang ditekan rapat seperti menahan senyum.
“Oke,” kata Arief akhirnya, menyerah. “Telur dadar. Tapi aku yang kocok.”
“Kakak yang kocok.”
“Kak—”
“Kakak yang kocok, kamu yang lihat. Kayak dulu. Dulu kamu yang lihat.”
Arief diam. Lalu ia mundur satu langkah dan menyilangkan tangan. Ia tidak lagi memelototi kakaknya. Ia memandangi kakaknya seperti anak umur tujuh tahun memandangi kakaknya di antrean dapur hari Kamis.
Kanaya memecahkan dua butir telur ke mangkuk.
Satu cangkang jatuh ke dalam mangkuk.
Mang Ujang mengeluarkan suara seperti sapi yang tercekik.
Kanaya mengambil cangkang itu dengan ujung jari, dengan wajah sangat serius, lalu mengocok telurnya dengan garpu, terlalu cepat dan terlalu keras, sampai sebagian telurnya muncrat ke celemek Mang Ujang. Ia menambahkan garam terlalu banyak. Arief membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia menuang telur ke wajan yang minyaknya belum cukup panas.
Lalu ia menunggu, terlalu lama.
Asap mulai naik. Bryan mengangkat tabung pemadam api lima senti.
“Kak,” kata Arief pelan. “Balik sekarang.”
“Belum.”
“Kak, udah.”
“Belum, Rief. Pinggirnya belum kering.”
“Pinggirnya udah gosong, Kak.”
Kanaya membalik telur itu dengan spatula. Gerakannya terlalu cepat, sehingga telur itu terlipat tidak rapi dan setengahnya menempel di pinggir wajan.
Bagian bawahnya hitam. Bukan kecokelatan, hitam.
Alarm asap di langit-langit dapur pusat Bumi Ni Dewi, yang dipasang Arief tiga tahun lalu dan belum pernah berbunyi sekali pun karena Mang Ujang tidak pernah membuat apa pun gosong, berbunyi.
Nyaring dan panjang.
Bryan melompat maju dengan tabung pemadam api. Mang Ujang menghalanginya dengan centong kayu. “ULAH! ULAH DISEMPROT! ENGKE DAPUR ABDI BODAS SADAYANA!” Asep tertawa sampai jatuh. Teh Euis menutup mata. Ervan memotret dengan ponsel. Iwan berlari mengambil sapu untuk mengipasi alarm asap. Dede membuka semua jendela dapur.
Dan di tengah semua kekacauan itu, di depan kompor, Kanaya memandangi telur dadar gosong di wajan dengan wajah yang sangat datar.
Lalu Arief tertawa.
Ia tertawa sampai membungkuk, sampai harus berpegangan pada meja stainless, sampai air mata keluar. Tertawa seperti anak laki-laki berumur sebelas yang menggosongkan nasi satu dandang dan membiarkan kakaknya mengaku.
Kanaya memandangi adiknya tertawa. Wajahnya yang datar perlahan retak. Dari sudut bibir, naik ke mata, dan begitu sampai di mata, ia juga tertawa. Tertawa keras, tidak cocok dengan setelan abu-abu dan wajah CEO-nya, sambil memegang spatula dan berdiri di depan telur gosong.
Alarm asap masih berbunyi. Iwan masih mengipasinya dengan sapu.
Aku berdiri di belakang barisan orang di ambang pintu dapur, berjinjit, memandangi dua bersaudara yang tertawa di depan telur dadar gosong, dan menyadari bahwa aku sedang menangis lagi.
Tapi kali ini aku tidak tahu kenapa.
Ervan, yang berdiri di depanku, menoleh. Ia melihat wajahku, lalu memandangi kakaknya dan Arief di depan kompor, lalu memandangiku lagi.
“Lo tahu nggak,” bisiknya, “gue udah empat belas tahun sama Kak Naya, dan gue belum pernah lihat dia ketawa kayak gitu.”
Aku tidak menjawab.
“Gita.” Ervan mendekat sedikit, berbisik lebih pelan, supaya tidak ada yang mendengar di tengah bunyi alarm. “Kak Naya bilang dia mau nampar gue sekali lagi. Buat lo. Kalau lo yang minta.”
Aku memandanginya.
“Lo mau minta?” tanya Ervan. Pipi kirinya masih sedikit lebih merah dari pipi kanan.
Aku memandangi Ervan Sastrawidjaya. Calon suamiku, adik angkat kakak Arief, dan satu-satunya orang di dunia selain aku yang tahu rasanya duduk di saung dan berjanji untuk menunda sesuatu yang tidak kami inginkan.
“Nanti,” kataku.
Ervan menghela napas lega. “Oke. Nanti. Gue tunggu.”
“Mungkin pas lamaran.”
“Lamaran siapa?”
Aku tidak menjawab. Aku memandangi Arief di depan kompor, yang sekarang sedang mengambil wajan dari tangan kakaknya, membuang telur gosong itu ke tempat sampah, memecahkan dua butir telur baru, dan mulai mengocoknya dengan tenang dan cepat, sementara Kanaya berdiri di sebelahnya dan memperhatikan tangannya, seperti dulu memperhatikan Bu Nining di dapur panti setiap hari Kamis.
Ervan mengikuti arah pandanganku. Lalu ia tersenyum, dengan lesung pipi.
“Oh,” katanya. “Lamaran itu.”
Sore itu, Kanaya mengajakku ke saung paling ujung.
Saung yang sama. Saung roti tawar, saung bulan penuh, saung Pakta.
Kami duduk di tikar, berdua. Ervan dan Bryan ditinggal di Meja Tujuh dengan tugas dari Kanaya untuk “menghitung berapa ojol yang berhenti di depan jendela.” Arief dipanggil Uwa Haris ke kantor. Nene beristirahat di kamarnya.
Kanaya memandangi kebun lama sekali. Lalu ia bicara, tanpa menoleh.
“Kamu bikinin dia kue roti tawar.”
Aku memandanginya.
“Tiga lembar,” kata Kanaya. “Mentega. Gula. Satu lilin. Lilin mati lampu. Di saung ini?”
“Iya, Kak.” Aku menelan. “Arief cerita?”
“Di penthouse Kakak. Jam empat pagi. Sebelum dia cerita soal kamu.” Kanaya akhirnya menoleh. “Kamu tahu kenapa roti tawar?”
“Dia cerita ada kakaknya yang dulu bikinin dia kue kayak gitu. Di panti. Tiap delapan belas Oktober.”
“Kamu tahu siapa kakaknya?”
Aku tidak menjawab. Aku tahu sekarang. Aku tahu sejak Jumat malam.
“Empat belas tahun, Kakak bikin kue itu sendirian,” kata Kanaya pelan. “Tiap delapan belas Oktober. Boston, New York, Singapura, Jakarta. Kamar hotel, apartemen, dapur kantor. Tiga lembar roti tawar, mentega, gula, satu lilin dari kotak yang Kakak beli di minimarket bandara. Kakak nyalain lilinnya, Kakak bilang ‘selamat ulang tahun, Rief’ ke kamar kosong, Kakak tiup, Kakak makan rotinya sendirian.” Suaranya bergetar. “Bagian yang lebih gede Kakak sisihin di piring. Buat seseorang yang nggak akan dateng.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Delapan belas Oktober tahun ini,” lanjut Kanaya, “Kakak di hotel di Surabaya. Kakak bikin kue roti tawar. Kakak nyalain lilin jam sembilan malam. Kakak bilang ‘kamu udah makan? Ada yang bikinin kamu kue nggak? Ada yang inget nggak?’” Ia diam sebentar. “Jam sembilan malam, di saung ini, kamu nyalain lilin buat dia.”
Aku tidak bisa bicara. Air mataku jatuh ke tikar.
“Kamu nggak tahu,” bisik Kanaya. “Kamu nggak tahu soal Kakak. Kamu nggak tahu soal roti tawar. Kamu cuma tahu dia nggak pernah ngerayain ulang tahun. Terus kamu lari ke dapur dalam gelap, kesandung selang air, ngumpat pakai bahasa Inggris, terus balik bawa roti tawar sama lilin mati lampu.”
“Dia cerita soal selang air juga?”
“Dia cerita semuanya. Dia cerita kamu nyanyi fals.” Kanaya tersenyum, sambil menangis. “Dia bilang kamu lebih fals dari Kakak.”
Aku tertawa, basah.
Kanaya mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku di atas tikar. Tangannya dingin, halus, dan sedikit gemetar.
“Terima kasih,” katanya. “Terima kasih udah jadi orang yang ada, waktu Kakak nggak ada.”
Aku menggenggam balik tangannya.
Kami duduk seperti itu lama, di saung paling ujung, sementara matahari sore turun di balik pohon pisang dan seluruh kebun berubah keemasan.
Lalu Kanaya bicara lagi. Suaranya kembali rendah dan jelas, suara CEO.
“Kakak nggak akan biarin kamu nikah sama Ervan.”
Aku memandanginya.
“Tapi Papa...” Aku menelan. “Papa ada masalah, Kak. Masalah besar. Aku nggak tahu semuanya. Papa nggak sanggup cerita. Aku baca sebagian dari Rencana Bumi, tapi halaman satu sampai empat nggak ada, dan aku...”
“Kakak tahu soal Papa kamu.”
Aku berhenti.
Kanaya memandangiku lurus-lurus, dengan mata yang sama dengan mata Arief.
“Kakak tahu semuanya,” katanya. “Angkanya, banknya, tanggalnya, kenapa.”
“Kalau gitu cerita, Kak. Tolong. Aku udah nanya Papa, Papa nangis. Aku nanya Arief, Arief bilang tanya Papa. Aku nanya Nene, Nene nggak jawab. Semua orang tahu kecuali aku.”
Kanaya diam lama.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Itu bukan hak Kakak buat cerita, Gita,” katanya. “Itu hak Papa kamu.”
Aku menarik tanganku dari genggamannya.
“Kakak sama aja kayak Arief.”
Kanaya tidak membantah. Ia memandangiku dengan wajah yang sedih dan sangat jujur.
“Iya,” katanya. “Kakak sama aja kayak Arief. Kakak sama dia belajar dari orang yang sama, dari Bu Rahmah, di panti. Orang yang bilang ke anak umur enam belas, ‘Kalau kamu sayang dia, biarin dia mulai dari awal.’” Ia menghela napas. “Kami berdua belajar bahwa kadang, cara paling baik buat ngelindungin orang adalah nggak bilang apa-apa.”
“Itu bukan cara paling baik.”
“Kakak tahu.”
“Itu cara paling sakit.”
“Kakak tahu, Gita.” Kanaya memandangiku, dan matanya basah lagi. “Kakak baru tahu minggu ini. Empat belas tahun Kakak nggak tahu.”
Aku memandangi perempuan di depanku. Calon kakak iparku, dua kali. Perempuan yang empat belas tahun membuat kue roti tawar sendirian, yang baru minggu ini belajar bahwa diam bukan cara terbaik untuk melindungi orang yang kau cintai.
Lalu aku memandangi kebun yang keemasan, ke jendela kantor belakang, tempat Arief sedang bicara dengan Uwa Haris. Ke laki-laki yang juga baru belajar, atau belum belajar, hal yang sama.
“Kalau gitu,” kataku pelan, “kenapa Kakak nggak ajarin dia?”
Kanaya mengikuti arah pandanganku ke jendela kantor belakang.
“Itu yang mau Kakak lakuin malam ini,” katanya.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar reading
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu