Chapter Thirty One
Donatur K.S.
POV: Arief
Gudang arsip Bumi Ni Dewi ada di bawah tangga kantor belakang. Ruangannya sempit, tanpa jendela, dengan rak-rak besi berkarat yang dipasang tahun 2019 waktu kantor direnovasi. Bau kertas tua, debu, dan sedikit kamper, karena Mak Odah menaburkan kamper di setiap pojok sejak seekor tikus memakan arsip pajak tahun 2011.
Aku tidak pernah suka ruangan ini. Ruangan ini adalah tempat masa lalu Bumi Ni Dewi disimpan, dalam kardus-kardus yang tidak pernah dibuka siapa pun, karena tidak ada yang punya waktu. Itu sebabnya aku membangun modul arsip surat. Supaya suatu hari semua kardus ini dibuka, difoto, dan disimpan di tempat yang tidak bisa dimakan tikus.
Teh Euis duduk di lantai di antara tiga kardus yang sudah terbuka, dengan tablet di pangkuan dan sebuah map cokelat di tangan.
Ia mengangkat kepala waktu aku masuk. Matanya merah.
Gita masuk di belakangku dan berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk lebih jauh. Ruangannya terlalu sempit untuk tiga orang, dan sesuatu di wajahnya berkata bahwa ia tahu ini bukan tempatnya. Belum.
“A,” kata Teh Euis pelan. Ia menyodorkan map itu dengan dua tangan, seperti menyodorkan sesuatu yang suci.
Aku berjongkok dan mengambilnya.
Map cokelat dari karton tebal, jenis yang dijual di toko alat tulis di depan sekolah dengan harga dua ribu rupiah. Ujung-ujungnya sudah melunak dan berbulu. Ada noda air di pojok kiri bawah, seperti pernah terkena tetesan dari langit-langit. Talinya, tali kain putih yang dililitkan di kancing karton, masih terikat rapi.
Di bagian depannya ada tulisan tangan dengan tinta biru, huruf yang miring ke kanan, rapi, dan sedikit bergetar, huruf yang kukenal.
Huruf yang sama yang dulu menulis Arief – Kelas 5 – Juara 1 di sertifikat yang ditempel di dinding ruang belajar panti. Huruf yang sama yang setiap bulan menulis Untuk Arief, dari K.S. di amplop berisi uang seragam dan buku.
Titipan dari Rahmah Hidayati, Panti Asuhan Kasih Bunda Cimahi. Untuk Arief. Mohon diserahkan kalau dia sudah siap. Dititipkan kepada Ibu Dewi Kurniasih, Maret 2018.
Di bawahnya, dengan tinta yang lebih tipis, seperti ditambahkan belakangan oleh tangan yang lebih lemah:
Jangan dibuka oleh siapa pun selain dia.
“Abdi teu muka, A,” kata Teh Euis cepat. “Sumpah. Abdi ngan ukur maca nu di luar. Terus abdi langsung nelepon Aa.”
“Saya tahu, Teh.”
“Map ieu aya di tukangeun kardus pajeg taun dua rebu dalapan welas.” Teh Euis menunjuk sebuah kardus di rak paling bawah. “Diselapkeun. Siga nu ngahaja disimpen, terus kaselip waktu renovasi. Kardus-kardus ieu dipindahkeun ti kantor heubeul taun dua rebu salapan welas, A. Panginten Ibu nyimpen di laci, terus lacina dikosongkeun, terus...”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku memandangi map di tanganku. Delapan tahun. Map ini sudah delapan tahun ada di gedung yang sama denganku, di bawah tangga kantor yang setiap hari kunaiki, sementara aku bekerja sampai jam tiga pagi di ruangan di atasnya.
Maret 2018. Aku masih kuliah S1 di UI, semester enam. Aku pulang ke Bandung setiap Jumat malam naik kereta ekonomi untuk bekerja di Bumi Ni Dewi akhir pekan, dan kembali ke Depok Minggu malam.
Bu Rahmah meninggal bulan Mei 2018. Aku tahu dari grup WhatsApp alumni panti yang hampir tidak pernah aktif. Seseorang mengirim pesan singkat: Innalillahi wa innailaihi rojiun, Bu Rahmah sudah berpulang tadi subuh di RS Cibabat. Mohon doanya. Aku tidak bisa datang ke pemakamannya, karena hari itu aku ujian akhir semester. Aku datang tiga minggu kemudian, ke makam di Cimahi, membawa bunga dari pasar dan menangis sendirian di depan nisan yang tanahnya masih merah.
Dua bulan sebelum ia meninggal, ia datang ke Bandung, ke Nene, dan menitipkan map ini.
Ia tidak menitipkannya padaku.
Aku tidak tahu kenapa. Aku tidak tahu apa artinya kalau dia sudah siap.
“Rief,” kata Gita pelan dari ambang pintu. “Mau aku tinggalin sendiri?”
Aku memandanginya. Lalu Teh Euis, yang sudah mulai berdiri dengan wajah orang yang tahu ia harus pergi tapi tidak ingin pergi.
“Jangan,” kataku. “Jangan pergi.”
Teh Euis duduk kembali di lantai.
Gita masuk satu langkah dan berdiri di sebelah rak, setengah meter dari bahuku. Tidak lebih dekat.
Aku membuka tali map itu.
Di dalamnya ada tiga hal.
Pertama, sebuah amplop putih panjang, yang biasa dipakai untuk surat resmi. Ada tulisan di depannya dengan huruf Bu Rahmah: Untuk Arief.
Kedua, setumpuk kertas tipis yang dijepit penjepit besi yang sudah berkarat. Puluhan lembar. Kertas slip setoran bank, yang fotokopiannya sudah memudar ke abu-abu.
Ketiga, sebuah amplop kecil berwarna biru muda, jenis amplop surat yang dijual di koperasi sekolah, tertutup rapat. Lemnya masih utuh, tidak pernah dibuka. Di depannya, ada tulisan tangan yang lain. Bukan huruf Bu Rahmah. Huruf yang bulat, tegak, dan sedikit menekan terlalu keras di beberapa tempat, seperti ditulis oleh seseorang yang marah atau sedang menahan sesuatu.
Buat Arief. Dari Kakak.
Aku berhenti bernapas.
Aku mengenal huruf itu. Huruf yang dulu menulis nama kami berdua di sampul buku tulis bekas yang kami pakai bergantian. Huruf yang menulis ARIEF ITU BODOH di kertas yang ditempel diam-diam di punggungku waktu umur sembilan, yang membuat seluruh panti tertawa selama satu hari penuh dan membuatku tidak bicara padanya selama tiga jam. Huruf yang menulis daftar belanja untuk Bu Nining waktu Bu Nining sakit dan Kak Kanaya menggantikannya di dapur selama seminggu, dan memasak nasi yang setengah keras.
Gita, di sebelahku, menarik napas tajam. Ia melihat tulisan di amplop biru itu juga.
Aku tidak membuka amplop biru itu dulu. Aku tidak sanggup.
Aku membuka amplop putih.
Arief,
Kalau kamu membaca surat ini, berarti Ibu sudah tidak ada, dan berarti kamu sudah siap.
Ibu tidak tahu kapan itu. Ibu menitipkan surat ini kepada Ibu Dewi karena Ibu percaya Ibu Dewi akan tahu kapan kamu siap, lebih baik dari Ibu. Ibu Dewi sudah memberimu makan, pekerjaan, sekolah. Ibu Dewi sudah melakukan semua yang tidak bisa Ibu lakukan. Ibu percaya Ibu Dewi.
Ada yang harus Ibu ceritakan. Ibu sudah berjanji tidak akan menceritakannya. Tapi Ibu akan pergi, dan Ibu tidak mau membawa janji ini ke kubur.
Donatur K.S. yang membiayai seragam, buku, dan ongkos angkot kamu dari kelas tiga SMP sampai lulus SMA, itu kakakmu.
Kanaya.
Aku berhenti membaca.
Kata-kata di surat itu berhenti bergerak di mataku. Mereka diam di kertas, tapi mataku tidak bisa membacanya lagi, karena tiba-tiba semuanya kabur.
Donatur K.S.
Kanaya Sastrawidjaya.
K.S.
Aku menjatuhkan surat itu ke pangkuanku dan menutup wajah dengan dua tangan.
Teh Euis mengeluarkan suara yang tidak pernah kudengar dari siapa pun. Seperti suara orang yang tercekik dan menangis di saat yang sama. Ia menutup mulut dengan ujung kerudung.
Meureun si K.S. teh jodoh Aa. K.S.! Bisa jadi Kirana Saraswati. Kartika Sari. Ka—
Ia memotong kalimatnya sendiri, dua bulan lalu, di belakang meja kasir, dengan sepiring bala-bala. Ka—
Ka.
Gita berlutut di sebelahku. Ia tidak menyentuhku. Ia hanya berlutut di sana, setengah meter jauhnya, dengan tangan di lutut dan mata yang basah, dan menunggu.
Aku tidak tahu berapa lama aku menutup wajahku. Mungkin satu menit, mungkin lima.
Lalu aku mengambil surat itu lagi dan melanjutkan membaca, dengan mata yang masih kabur, satu kata demi satu kata.
Kanaya mulai mengirim uang ke rekening panti satu bulan setelah ia diadopsi, waktu kamu masih kelas tiga SMP. Uang saku pertamanya dari keluarga barunya. Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Ia menelepon Ibu dari telepon umum di Jakarta, diam-diam, dan berkata, “Bu, ini buat Arief. Buat sekolahnya. Jangan bilang dari saya.”
Ibu tanya kenapa. Ia bilang dua hal.
Pertama, keluarga barunya punya syarat. Ia tidak boleh menghubungi masa lalunya. Ibunya yang baru baik sekali, kata Kanaya, tapi ibunya takut Kanaya tidak bisa bahagia kalau terus menoleh ke belakang. Kalau ibunya tahu, ibunya akan sedih, atau mungkin melarang.
Kedua, dan ini yang membuat Ibu menangis setelah menutup telepon, ia bilang: “Kalau Arief tahu ini dari saya, dia nggak akan mau terima, Bu. Dia bakal bilang saya harus pakai uangnya buat diri saya sendiri. Dia bakal bilang dia bisa sendiri. Saya kenal dia.”
Ia benar, kan, Rief? Ia selalu kenal kamu.
Aku tidak bisa membaca kalimat berikutnya untuk waktu yang lama.
Setiap bulan, uangnya datang. Kadang lebih. Waktu kamu masuk SMA, uangnya naik jadi satu setengah juta. Ia pasti menyisihkan uang sakunya sendiri. Ibu tidak tahu bagaimana ia hidup di Amerika dengan sisa uang itu. Ibu tidak berani tanya.
Ibu memberikannya padamu atas nama Donatur K.S. Ibu yang memilih nama itu. Inisial namanya. Ibu pikir, kalau suatu hari kamu sudah besar dan cukup pintar, kamu akan menebaknya sendiri. Kamu anak paling pintar yang pernah Ibu asuh, Rief. Tapi kamu tidak pernah menebaknya. Mungkin karena kamu tidak pernah berani berharap.
Lalu kamu lulus SMA dan keluar dari panti, dan Ibu melakukan kesalahan.
Ibu menutup rekening itu.
Aku membeku.
Ibu pikir, uang itu untuk Arief, bukan untuk panti. Arief sudah keluar. Arief sudah kerja di Bumi Ni Dewi, sudah dapat beasiswa dari Ibu Dewi untuk kuliah. Ibu tidak mau uang Kanaya dipakai untuk anak lain tanpa izinnya. Ibu tidak punya nomor telepon Kanaya. Ia selalu menelepon dari telepon umum, atau dari nomor yang berbeda-beda. Ibu tidak bisa bertanya padanya. Jadi Ibu menutup rekening itu, supaya uangnya tidak masuk lagi. Supaya ia tahu ada yang berubah, dan menelepon.
Ia tidak menelepon.
Ibu baru sadar belakangan, terlambat sekali, bahwa rekening itu bukan cuma rekening. Rekening itu satu-satunya jalan antara kakakmu dan kamu. Waktu Ibu menutupnya, Ibu memutus satu-satunya benang yang masih menghubungkan kalian.
Ibu pikir Ibu sedang jujur. Ibu pikir Ibu sedang menjaga amanah. Ternyata Ibu sedang memisahkan dua anak yang paling Ibu sayangi untuk kedua kalinya.
Maafkan Ibu, Rief.
Gita mengeluarkan suara kecil, seperti orang yang baru saja dipukul di perut.
Aku memandangi kalimat itu. Maafkan Ibu.
Bu Rahmah, yang menghitung telur setiap hari Kamis dan memijat pelipis kalau jumlahnya kurang. Yang memilih tanggal delapan belas Oktober untukku, karena angka delapan tidak ada ujungnya. Yang tidak pernah mau memberitahuku nama keluarga yang membawa kakakku, bahkan setelah aku memohon tiga kali, karena itu syarat mereka, Rief, kalau kamu sayang dia, biarin dia mulai dari awal.
Bu Rahmah yang jujur. Bu Rahmah yang menjaga amanah.
Bu Rahmah, yang karena jujurnya, karena kebaikannya, menutup satu-satunya pintu.
Kebaikan yang salah tempat.
Aku tidak bisa marah padanya. Aku mencoba, di gudang arsip yang bau kamper itu, dengan surat di tangan. Aku mencoba marah, karena marah lebih gampang dari apa pun yang sedang terjadi di dadaku sekarang.
Aku tidak bisa.
Karena aku tahu persis bagaimana rasanya. Aku tahu, karena aku sendiri, di meja makan keluarga Nene, menarik kakiku ke bawah kursi untuk melindungi seseorang, dan dengan itu memutus satu-satunya benang yang menghubungkanku dengan orang yang kucintai.
Aku membaca sisa surat itu.
Di dalam map ini Ibu sertakan fotokopi semua slip setoran yang Ibu simpan. Empat puluh empat bulan. Supaya kamu tahu itu nyata.
Dan satu amplop biru. Kanaya mengirimnya lewat pos tahun 2014, waktu ia umur delapan belas. Untuk kamu. Ia minta Ibu menyerahkannya kalau ia sudah bisa datang menjemputmu. Ibu menunggu. Ia tidak pernah datang. Ibu tidak tahu kenapa. Mungkin ia tidak bisa. Mungkin syarat itu lebih kuat dari yang Ibu kira.
Ibu tidak membukanya. Itu bukan untuk Ibu.
Sekarang Ibu titipkan semuanya pada Ibu Dewi. Kalau kamu sudah siap, Ibu Dewi akan memberikannya. Kalau kamu bertemu kakakmu suatu hari nanti, dan Ibu yakin kamu akan bertemu, karena dua anak yang membelah telur seperti kalian tidak mungkin terpisah selamanya, sampaikan pada Kanaya: Ibu minta maaf. Ibu menutup pintu yang seharusnya Ibu biarkan terbuka.
Dan sampaikan juga: terima kasih. Karena ia tidak pernah berhenti menjadi kakakmu, bahkan waktu tidak ada yang tahu.
Belajar yang benar, Rief.
Dan sekali-sekali, makan bagian yang lebih besar.
— Bu Rahmah
Aku tidak menangis. Itu yang aneh.
Aku sudah menangis lebih banyak dalam dua bulan terakhir daripada empat belas tahun sebelumnya. Di saung, karena roti tawar. Di tangga darurat lantai 27. Di lantai penthouse, waktu Kak Kanaya memakan bagian telur yang besar. Di depan bak cuci, dengan tangan di air sabun yang dingin.
Tapi di gudang arsip itu, dengan surat Bu Rahmah di tangan, aku tidak menangis. Aku hanya diam, dan merasakan sesuatu yang sangat besar dan sangat tenang turun ke dadaku, seperti air yang mengisi sumur yang kering sampai penuh.
Aku mengambil tumpukan slip setoran.
Empat puluh empat lembar, fotokopi yang sudah memudar. Setiap lembar adalah slip setoran tunai dari sebuah bank di Jakarta, lalu, mulai lembar ketiga belas, slip transfer internasional dari sebuah bank di Boston. Tanggal-tanggalnya berurutan, setiap bulan, tanpa satu bulan pun terlewat.
Di kolom Nama Penyetor, di setiap lembar, dengan huruf ketik yang sudah memudar:
KANAYA SASTRAWIDJAYA.
Di kolom Keterangan, di setiap lembar:
UNTUK ARIEF.
Aku membalik lembar-lembar itu satu per satu. Oktober 2012, tujuh ratus lima puluh ribu. November 2012, tujuh ratus lima puluh ribu. Desember 2012, tujuh ratus lima puluh ribu, ditambah dua ratus ribu dengan keterangan tambahan: UNTUK ARIEF. BELIIN SEPATU. YANG TALINYA BUKAN RAFIA.
Aku berhenti di lembar itu.
Ia tahu soal tali rafia. Aku tidak pernah menceritakannya pada siapa pun kecuali Gita, di mobil pulang dari Garut. Aku tidak tahu bagaimana ia tahu. Mungkin Bu Rahmah yang bercerita di telepon. Mungkin Bu Nining.
Desember 2012. Aku ingat bulan itu. Bu Rahmah memanggilku ke kantornya dan memberiku amplop berisi uang yang lebih banyak dari biasanya. Ini dari K.S. Katanya buat beli sepatu. Aku membeli sepatu kets hitam di Pasar Antri Cimahi, dengan tali sepatu sungguhan, putih, dari kain. Aku memakainya sampai kelas dua SMA, sampai solnya berlubang dan jempolku keluar.
Sepatu itu dari kakakku.
Aku membalik lembar-lembar berikutnya. Januari 2013. Agustus 2013, UNTUK ARIEF. UANG BUKU SMA. Oktober 2013, satu setengah juta, UNTUK ARIEF. SELAMAT ULANG TAHUN. BELIIN ROTI.
Roti.
Aku ingat. Delapan belas Oktober 2013, ulang tahun pertama setelah Kak Kanaya pergi. Bu Rahmah memberiku uang tambahan dan bilang, K.S. titip, buat ulang tahun kamu. Aku tidak membeli roti. Aku tidak sanggup. Tiga lembar roti tawar dengan mentega dan gula adalah sesuatu yang hanya bisa dibuat oleh satu orang, dan orang itu tidak ada. Jadi aku memakai uang itu untuk membayar ongkos angkot selama tiga bulan.
Lembar terakhir: Mei 2016. Satu setengah juta. UNTUK ARIEF. SELAMAT LULUS SMA. KAKAK BANGGA.
Kakak bangga.
Ia menulisnya di kolom keterangan slip transfer internasional, di bank di Boston, dengan huruf kapital, karena kolom itu hanya menerima huruf kapital. Lalu ia mengirimnya ke rekening panti di Cimahi. Bu Rahmah mencairkannya dan memberikannya padaku dalam amplop, tanpa nama, tanpa tulisan apa pun selain dari K.S.
Dua minggu kemudian, aku meninggalkan panti.
Sebulan kemudian, Bu Rahmah menutup rekening itu.
Aku membayangkan bulan Juli 2016. Seorang perempuan berumur dua puluh di Boston, di depan mesin bank atau layar komputer asrama, mengirim satu setengah juta lagi dengan keterangan UNTUK ARIEF, dan melihat transfernya kembali. Ditolak. Rekening tujuan tidak aktif.
Aku tidak ada di sana. Aku sedang mengangkut kardus ke kos pertamaku di Cimahi, dengan sepatu kets hitam yang solnya mulai tipis.
Aku memandangi slip Mei 2016. KAKAK BANGGA.
Tidak ada slip Juli 2016 di tumpukan itu, karena transfernya tidak pernah sampai.
Lalu aku membuka amplop biru.
Lemnya sudah keras, delapan belas tahun... tidak, dua belas tahun. Aku membukanya dengan sangat pelan, dengan ujung kuku, supaya kertasnya tidak robek.
Di dalamnya ada satu lembar kertas surat bergaris, jenis yang dijual di koperasi sekolah. Kertasnya dilipat tiga.
Aku membukanya.
Huruf yang bulat, tegak, dan menekan terlalu keras di beberapa tempat. Tinta biru dari pulpen yang hampir habis, karena di beberapa kata tintanya putus-putus.
Rief,
Kakak di Boston sekarang. Di sini dingin banget. Salju. Kamu belum pernah lihat salju. Kayak serutan es di warung Mang Odin depan sekolah, tapi turun dari langit dan nggak manis.
Kakak nggak boleh nulis surat ke kamu. Itu syaratnya. Mama yang baru baik banget, Rief, beneran. Tapi Mama takut Kakak nggak bisa bahagia kalau Kakak terus inget panti. Jadi Kakak nggak boleh nulis.
Kakak nulis.
Surat ini Kakak kirim ke Bu Rahmah. Kakak minta Bu Rahmah simpen sampai Kakak bisa jemput kamu. Kakak lagi nabung, Rief. Kakak lagi belajar yang rajin. Kakak bakal kerja, Kakak bakal punya uang sendiri, Kakak bakal punya rumah sendiri, dan nanti Kakak jemput kamu. Nanti kita tinggal bareng. Nanti Kakak beliin telur satu kardus, biar kita nggak usah bagi dua lagi.
Kamu jangan berani sendirian. Kalau ada Dodi lagi, kamu lari. Jangan lompat. Kakak nggak ada buat nampar dia.
Kamu harus makan. Bagian tengah telur yang lembek itu enak, Rief. Kakak bohong waktu bilang nggak suka. Kakak suka banget. Mulai sekarang kamu yang makan bagian tengah, ya. Kakak udah nggak di sana buat makan yang gosong.
Di sini Kakak masih makan bagian yang gosong. Biar adil.
Tunggu Kakak.
— Kanaya
P.S. Delapan belas Oktober Kakak bakal bikin kue roti tawar di sini. Di kamar asrama. Kamu tiup lilinnya dari sana, ya. Minta yang banyak. Kakak udah minta buat kamu juga.
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.
Mungkin di kalimat tentang salju. Mungkin di Kakak nulis. Mungkin di tunggu Kakak.
Yang kutahu, di suatu titik, aku tidak lagi bisa membaca, karena kertas itu basah. Dan aku sedang membungkuk di lantai gudang arsip yang bau kamper, dengan surat biru di satu tangan dan slip setoran di tangan yang lain, menangis dengan suara, seperti di tangga darurat, seperti di gudang belakang panti.
Gita tidak menyentuhku. Ia tetap berlutut di sana, setengah meter jauhnya, dengan tangan di lutut, menangis bersamaku.
Teh Euis menangis di pojok, dengan ujung kerudung menutupi wajahnya.
Ia menulis tunggu Kakak di umur delapan belas.
Aku menunggu. Empat belas tahun aku menunggu, di dapur, di kampus, di lantai kos yang bocor di pojok kiri. Aku menunggu, tanpa tahu bahwa aku sedang diminta menunggu. Aku menunggu, sambil menyuruh diriku berhenti menunggu, karena harapan yang terlalu sering dibangun dan dirobohkan lama-lama menjadi semacam penyakit.
Dan ia tidak pernah datang menjemput.
Bukan karena ia tidak mau. Karena syarat itu, dan rekening yang ditutup. Karena dunia dua orang dewasa yang baik hati, Mama Liliana dan Bu Rahmah, yang masing-masing melakukan hal yang mereka anggap benar untuk melindungi kami, dan dengan itu membangun tembok di antara kami batu demi batu.
Ia tidak datang menjemput. Ia malah datang ke lantai 27, empat belas tahun kemudian, sebagai CEO yang membaca angka dan tidak mengangkat kepala selama dua puluh dua menit, karena terlalu takut berharap.
Dan selama empat belas tahun itu, ia tetap mengirim uang. Membuat kue roti tawar. Makan bagian yang gosong. Biar adil.
Ia tidak pernah pergi.
Ia hanya berdiri di tempat yang tidak bisa kulihat.
Aku tidak tahu jam berapa waktu aku akhirnya berhenti. Teh Euis bilang jam dua belas lewat dua puluh. Gita bilang aku menangis empat puluh menit. Aku tidak tahu. Waktu tidak berjalan di gudang arsip malam itu.
Aku duduk di lantai, bersandar ke rak besi berkarat, dengan surat biru terlipat di pangkuan. Mataku sakit dan tenggorokanku perih.
Gita duduk di sebelahku, setengah meter jauhnya. Ia tidak berkata apa-apa selama empat puluh menit, dan baru sekarang bicara.
“Kamu bilang di atap,” katanya pelan, “kalau kamu terima, kamu nggak tahu siapa kamu.”
Aku tidak menjawab.
“Rief.” Ia menunjuk tumpukan slip setoran di pangkuanku. “Kamu udah terima. Empat puluh empat bulan. Seragam, buku, ongkos angkot, sepatu yang talinya bukan rafia. Kamu udah terima semuanya. Kamu cuma nggak tahu dari siapa.”
Aku memandangi slip-slip itu.
“Dan kamu tetap kamu,” lanjut Gita. Suaranya bergetar. “Kamu tetap ngebelah telur buat yang lebih muda. Kamu tetap ngirim beras ke panti. Kamu tetap nolongin Pak Encep. Kamu terima dari kakak kamu selama empat tahun, dan kamu nggak berubah jadi orang lain. Kamu jadi kamu, karena kamu terima.”
Aku menutup mata.
“Dia ngasih tanpa nanya kamu mau atau nggak,” kata Gita. “Persis kayak kamu lompat ke Dodi tanpa nanya dia mau atau nggak. Kalian berdua udah saling ngasih dari dulu. Kalian cuma nggak pernah tahu.”
Di pojok, Teh Euis mengeluarkan suara tercekik lagi.
Aku membuka mata, lalu memandangi Gita. Perempuan yang berlutut setengah meter dariku, dengan sweter rajut hijau sage, mata bengkak, dan dua jari yang sejak tadi ingin menyentuh lengan jaketku tapi menahan diri.
“Kamu bener,” kataku.
“Aku selalu bener soal kamu.”
“Kamu bilang kamu ngumpulin data.”
“Aku ngumpulin data dari hari pertama.” Ia tersenyum, basah. “Dari behel.”
Aku tertawa. Tawa yang serak, basah, dan sakit di tenggorokan. Tapi itu tawa.
Lalu aku berdiri, dan lututku hampir tidak kuat. Aku memasukkan surat Bu Rahmah, tumpukan slip, dan amplop biru kembali ke map cokelat dengan sangat hati-hati, satu per satu, lalu mengikat tali kainnya.
“Mau ke mana?” tanya Gita.
“Braga.”
Hotel tempat Kak Kanaya menginap adalah hotel tua di Jalan Braga, gedung art deco yang dicat putih dengan jendela-jendela tinggi. Jam satu kurang sepuluh malam, lobinya sepi. Hanya ada satu resepsionis yang mengantuk dan satu satpam yang memandangiku curiga, karena wajahku pasti seperti orang yang baru keluar dari kecelakaan.
Aku menelepon.
Dering pertama, kedua, ketiga.
Di dering keempat, ia mengangkat.
“Rief?” Suaranya serak, bukan karena tidur. Suara orang yang sudah berjam-jam berbaring di tempat tidur dan memandangi langit-langit. “Kenapa? Ada apa? Jam satu...”
“Kak.”
Ia diam. Ia pasti mendengar sesuatu di suaraku.
“Rief? Kamu di mana?”
“Di lobi.”
“Lobi mana?”
“Lobi hotel Kakak.”
Hening.
“Kamu nangis?”
Aku tidak menjawab. Aku memandangi map cokelat di tanganku.
“Kak,” kataku. “Donatur K.S.”
Hening di seberang. Panjang, sangat panjang. Aku mendengar napasnya berhenti, lalu tidak terdengar apa-apa lagi. Satu detik, dua, lima.
Lalu ada suara kecil, sangat kecil, seperti suara sesuatu yang jatuh di karpet.
“Siapa yang bilang,” bisiknya. Suaranya hampir tidak ada.
“Bu Rahmah.”
“Bu Rahmah udah...”
“Bu Rahmah nitip surat ke Nene. Maret 2018. Dua bulan sebelum meninggal. Suratnya keselip di gudang arsip waktu kantor direnovasi. Teh Euis nemu tadi malem.” Aku menelan. “Ada slip setorannya, Kak. Empat puluh empat bulan. Fotokopi. Bu Rahmah simpen semua.”
Ia tidak menjawab.
“Ada amplop biru juga,” kataku. “Dari Kakak. Tahun 2014.”
Aku mendengarnya mulai menangis di seberang telepon. Pelan, ditahan, lalu tidak ditahan lagi.
“Kakak tulis,” bisiknya di sela tangis. “Kakak tulis surat itu di kamar asrama. Jam dua pagi. Kakak tulis empat kali, karena tiga yang pertama basah.”
“Aku baca.”
“Kakak bilang tunggu.”
“Aku nunggu.”
“Kakak nggak dateng, Rief. Kakak nggak pernah dateng. Kakak bilang Kakak bakal jemput kamu, terus Kakak...” Suaranya hancur. “Rekeningnya ditutup. Kakak nggak tahu kenapa. Kakak pikir kamu... Kakak pikir kamu yang minta ditutup. Kakak pikir kamu udah nggak mau. Kakak pikir kamu udah mulai dari awal, kayak yang Mama mau buat Kakak.”
Aku menutup mata.
Selama sepuluh tahun, ia berpikir aku yang menutup pintu itu. Selama sepuluh tahun, aku berpikir ia yang tidak pernah mengetuk.
“Bu Rahmah yang nutup, Kak,” kataku. “Bu Rahmah pikir uang itu buat aku, bukan buat panti. Aku udah keluar. Bu Rahmah nggak punya nomor Kakak. Bu Rahmah nutup rekening itu biar Kakak tahu ada yang berubah dan telepon.” Suaraku bergetar. “Bu Rahmah nulis, ‘Ibu pikir Ibu sedang jujur. Ternyata Ibu sedang memisahkan dua anak yang paling Ibu sayangi untuk kedua kalinya.’ Bu Rahmah minta maaf, Kak. Buat Kakak juga.”
Kak Kanaya menangis di telepon, lama sekali.
Aku berdiri di lobi hotel tua di Jalan Braga, dengan map cokelat di tangan, dan membiarkannya menangis. Resepsionis yang mengantuk memandangiku. Satpam yang curiga berhenti memandangiku dan berpura-pura sibuk dengan buku tamu.
Lalu, setelah lama sekali, ia bicara lagi. Suaranya kecil, seperti anak perempuan berumur enam belas.
“Kamu marah?”
“Marah kenapa?”
“Karena Kakak bayarin sekolah kamu. Tanpa nanya. Tanpa bilang.” Ia menarik napas. “Kamu bilang di atap, kamu nggak mau jadi beban. Kamu bilang kalau kamu terima, kamu nggak tahu siapa kamu. Dan ternyata Kakak udah... Kakak udah bikin kamu terima. Empat tahun. Tanpa kamu tahu.”
Aku memandangi map di tanganku. Belajar yang benar, Rief. Dan sekali-sekali, makan bagian yang lebih besar.
“Kak,” kataku. “Desember 2012. Kakak kirim dua ratus ribu tambahan. Keterangannya, ‘Beliin sepatu. Yang talinya bukan rafia.’”
Ia diam.
“Aku beli sepatu kets hitam. Di Pasar Antri. Talinya putih. Dari kain.” Aku tersenyum, dan air mataku jatuh lagi. “Aku pakai sampai kelas dua SMA. Sampai jempolku keluar.”
Ia tidak bisa menjawab. Aku mendengarnya terisak.
“Aku nggak marah, Kak,” kataku. “Aku cuma mau bilang satu hal. Yang nggak pernah sempat aku bilang ke K.S., karena aku nggak tahu dia siapa.”
“Apa?”
“Makasih.”
Kakakku menangis di telepon.
“Makasih buat sepatunya,” kataku. “Makasih buat buku SMA. Makasih buat ongkos angkot. Makasih buat uang ulang tahun yang aku pakai buat ongkos angkot tiga bulan, karena aku nggak sanggup beli roti tawar sendirian.”
“Rief...”
“Makasih udah nggak pernah pergi,” kataku. “Makasih udah berdiri di tempat yang nggak bisa aku lihat. Selama ini.”
Di seberang telepon, kakakku tidak bisa bicara. Aku mendengar ia menangis, dan menangis, dan menangis.
Lalu aku mendengar bunyi pintu kamar hotel dibuka, langkah kaki di koridor, cepat, terlalu cepat, seperti orang yang takut ketinggalan sesuatu, dan bunyi tombol lift yang ditekan berkali-kali.
Satu menit kemudian, pintu lift di lobi hotel tua di Jalan Braga terbuka.
Kak Kanaya keluar dengan piyama katun abu-abu, kaus kaki, tanpa sandal, dan rambut yang berantakan. Ponselnya masih di telinga. Wajahnya basah dari dahi sampai dagu.
Ia melihatku di tengah lobi, dengan map cokelat di tangan.
Ia tidak berlari. CEO tidak berlari. Tapi ia berjalan begitu cepat sampai resepsionis yang mengantuk terbangun sepenuhnya, dan satpam yang curiga berdiri dari kursinya.
Ia berhenti satu langkah di depanku.
Lalu ia memandangi map cokelat di tanganku, dan tulisan tangan Bu Rahmah di depannya.
“Kakak juga mau bilang makasih,” bisiknya.
“Buat apa?”
“Buat nerima,” katanya. “Akhirnya.”
Ia memelukku.
Di lobi hotel tua di Jalan Braga, jam satu pagi, dengan piyama katun, tanpa sandal, dan dengan resepsionis dan satpam yang pura-pura tidak melihat.
Kali ini aku membalas pelukannya tanpa memikirkan cara membalasnya.
Aku hanya menerima.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S. reading
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu