Chapter Five

Garut Tidak Pernah Lapor

POV: Arief

Jam empat lima puluh delapan pagi, aku sudah berdiri di samping mobil di parkiran Bumi Ni Dewi Dago.

Jam lima tepat, tidak ada siapa-siapa.

Jam lima lewat dua menit, masih tidak ada.

Jam lima lewat lima, aku sudah menyusun di kepala tiga kalimat yang sopan, tegas, dan sama sekali tidak terdengar seperti “saya sudah bilang”.

Jam lima lewat tujuh, pintu samping rumah Nene terbuka dan Anggita berlari keluar. Rambutnya masih basah, sepatu ketsnya belum diikat, dan ia memeluk tas kain besar yang berisi entah apa, sambil menenteng dua termos di tangan yang lain.

“Tujuh menit!” serunya dari kejauhan, sebelum aku sempat membuka mulut. “Aku tahu! Tujuh menit! Tapi dengerin dulu!”

“Saya belum ngomong apa-apa.”

“Muka kamu udah ngomong.”

Ia berhenti di depanku, terengah-engah, lalu menyodorkan satu termos.

“Kopi. Bukan dari dapur. Aku bikin sendiri pakai V60 yang aku bawa dari Melbourne, biji Java Preanger, medium roast, suhu air sembilan puluh dua derajat. Itu yang bikin telat.” Ia menyodorkan termos kedua. “Ini teh tawar hangat. Buat kamu, kalau kamu nggak minum kopi pagi. Aku nggak tahu kamu tim apa, jadi aku bikin dua-duanya.”

Lalu ia mengangkat tas kainnya. “Ini bekal. Nasi, telur dadar, tumis kangkung, sambal. Aku minta Mang Ujang ajarin jam empat tadi. Dia marah-marah tapi ngajarin.”

Aku menatap kedua termos itu, lalu tas kainnya, lalu wajahnya yang memerah karena berlari, dengan rambut basah yang menempel di pelipis.

Tiga kalimat yang sudah kususun di kepala menguap entah ke mana.

“Saya minum dua-duanya,” kataku.

“Hah?”

“Kopi dulu, teh nanti.” Aku mengambil kedua termos dan tas bekalnya, lalu membuka pintu penumpang. “Masuk, Teh. Tali sepatunya diikat di mobil.”

Ia masuk sambil tersenyum seperti orang yang baru memenangkan sesuatu.

Aku menutup pintunya pelan. Di jendela lantai dua rumah Nene, tirainya bergerak sedikit. Ada yang mengintip.

Aku tidak perlu menebak siapa.


Garut tiga jam dari Bandung kalau lewat Nagreg dan tidak macet. Hari Selasa jam lima pagi, jalanan masih sepi dan langit di atas Cileunyi baru berubah dari hitam ke biru tua.

Anggita memegang kendali musik di menit pertama.

Ia menyambungkan ponselnya ke speaker mobil tanpa bertanya, lalu memutar lagu galau beruntun. Penyanyi perempuan dengan suara serak, gitar akustik, lirik tentang hujan dan orang yang tidak pernah menoleh. Lagu ketiga, ia ikut bernyanyi pelan, sumbang di nada tinggi tapi sangat percaya diri.

“Kamu nggak suka lagunya?” tanyanya di tengah lagu keempat.

“Saya nggak bilang apa-apa.”

“Muka kamu bilang.”

“Muka saya dari tadi diem.”

“Itu diemnya diem yang menghakimi.” Ia menunjuk dasbor. “Oke. Giliran kamu. Kamu dengerin apa kalau nyetir sendiri?”

“Podcast.”

“Podcast apa?”

“Manajemen rantai pasok.”

Ia memandangiku dengan mulut terbuka. “Kamu bercanda.”

“Ada episode bagus soal sistem logistik pangan di Jepang—”

“Arief.”

“Hm?”

“Kamu umur dua puluh delapan.”

“Iya.”

“Kamu ganteng. Kamu pintar. Kamu nyetir mobil sendiri jam lima pagi ke Garut sama perempuan cantik.” Ia mengangkat tangan ke arah dirinya sendiri, seolah sedang menunjukkan barang bukti. “Dan kamu dengerin podcast rantai pasok?”

“Teh Anggita barusan muji diri sendiri.”

“Itu fakta, bukan pujian. Kamu sendiri yang kemarin buktiin pakai data ojol sama Pak Darto.”

Aku tidak bisa membantah itu.

Akhirnya kami sepakat: satu lagu galau, satu episode podcast, bergantian. Di Nagreg, Anggita tertidur di tengah episode tentang manajemen rantai dingin untuk ikan segar. Kepalanya bersandar ke kaca jendela, mulutnya sedikit terbuka, termos kopinya masih dalam genggaman.

Aku mengecilkan volume podcast dan membelokkan kisi AC supaya tidak menghembus langsung ke wajahnya. Di jalan yang bergelombang, aku menyetir lebih pelan dari biasanya.

Bukan karena ia sedang tidur. Aspal Nagreg memang jelek.


Jam delapan lewat sedikit, kami tiba di Bumi Ni Dewi cabang Garut.

Bangunannya rumah panggung kayu yang besar dengan atap ijuk dan enam saung di pinggir kolam ikan. Latarnya Gunung Cikuray yang masih berselimut kabut. Anggita bangun, menatap ke luar jendela, dan kantuknya hilang seketika.

“Ya Tuhan,” bisiknya. “Ini cantik banget.”

“Saung paling cantik di jaringan Bumi Ni Dewi.”

“Kenapa nggak pernah ada di Instagram?”

“Karena cabang ini,” kataku sambil mematikan mesin, “nggak pernah lapor apa pun.”

Anggita menoleh.

“Laporan bulanannya selalu telat dua sampai tiga minggu. Food cost-nya empat puluh satu persen. Paling buruk di seluruh jaringan. Standar kita tiga puluh tiga. Selisihnya delapan persen dari omzet, kira-kira dua belas juta sebulan, hilang entah ke mana.”

“Korupsi?”

“Itu yang semua orang di kantor pusat pikir.”

“Kamu nggak?”

Aku membuka pintu mobil. “Saya belum lihat dapurnya.”


Aku tidak masuk lewat pintu depan.

Itu kebiasaanku setiap mengunjungi cabang. Pintu depan adalah tempat semua orang sudah siap: senyum sudah dipasang, meja sudah dilap, manajer sudah berdiri tegak. Pintu belakang adalah tempat restoran sesungguhnya.

Anggita mengikutiku lewat jalan setapak di samping kolam, melewati tumpukan kayu bakar dan ember-ember plastik, sampai ke pintu dapur yang terbuka lebar. Di dalamnya, lima orang sedang menyiapkan makanan untuk buka jam sepuluh.

“Assalamualaikum.”

Lima kepala menoleh. Seorang ibu yang sedang menumbuk sambal di cobek batu langsung berdiri dan merapikan kerudungnya. Seorang pemuda yang memotong ayam menjatuhkan pisaunya.

“Waalaikumsalam... eh... Pak Arief? Ti pusat? Kok ti tukang?”

“Iya, Bu. Lewat belakang aja, biar nggak ganggu.” Aku melepas jaket dan menggulung lengan kemeja. “Sudah sarapan, Bu? Saya bawa bekal. Mari makan dulu sama-sama.”

Lima menit kemudian, kami bertujuh duduk di bangku kayu panjang di belakang dapur: aku, Anggita, ibu penumbuk sambal yang ternyata bernama Bi Enok, pemuda pemotong ayam bernama Jajang, dua pencuci piring, dan seorang anak perempuan kecil berumur sekitar enam tahun yang muncul entah dari mana dan langsung duduk di sebelah Anggita.

Anggita membuka tas bekalnya dengan gugup. Nasinya agak lembek. Telur dadarnya agak gosong di pinggir. Sambalnya, kata Jajang dengan jujur, “rada asin, Teh.”

“Mang Ujang bilang sambalnya kurang garam!” protes Anggita. “Jadi aku tambahin!”

“Mang Ujang mah lidahnya udah kebal, Teh,” kata Bi Enok sambil tertawa. “Dia mah makan garam sesendok juga bilangnya kurang.”

Semua tertawa. Anggita ikut tertawa, malu tapi tidak tersinggung. Anak perempuan kecil di sebelahnya diam-diam mengambil telur dadar dari kotak bekal dan memakannya dengan lahap.

“Itu siapa, Bi?” tanyaku pelan.

“Si Neng, putu abdi. Ibuna gawe di Jakarta, jadi dititipkeun ka abdi. Hampura, Pak, sok ngiringan ka dieu.”

“Nggak apa-apa, Bi.”

Anggita melirik anak itu, lalu membelah sisa telur dadar di kotaknya dan memberikan bagian yang lebih besar kepada si Neng.

Aku berhenti mengunyah.

Ia tidak sadar aku melihatnya. Ia sedang tersenyum pada si Neng, menyelipkan rambut anak itu ke belakang telinga, dan bertanya dengan suara pelan apakah si Neng sudah sekolah. Ia tidak tahu bahwa apa yang barusan ia lakukan, membelah telur dan memberikan bagian yang lebih besar kepada yang lebih kecil, adalah hal yang paling kukenal di dunia.

Ada sesuatu di dadaku yang bergeser sedikit, seperti pintu yang selama ini terkunci dan sekarang kuncinya berputar setengah.

Aku menunduk dan menghabiskan nasiku, lalu mengambil piring kotor semua orang, berdiri, dan mencucinya sendiri di bak cuci belakang.

“Pak, ulah, Pak! Ku abdi!” seru salah satu pencuci piring.

“Nggak apa-apa, Kang. Dulu saya tukang cuci piring juga. Pengen tahu masih bisa atau nggak.”

Dari bak cuci, aku bisa melihat seluruh dapur. Dan dari bak cuci, aku menemukan masalah pertama.


“Bi Enok, ini centong nasi yang dipakai buat porsi tamu?”

Aku mengangkat centong nasi dari rak. Kayu, besar, dan sudah tua.

“Muhun, Pak. Centong eta mah ti jaman bapa abdi keneh.”

Aku mengambil timbangan digital kecil dari tas kerjaku. Aku selalu membawanya ke setiap cabang, dan Teh Euis menyebutnya “jimat”. Aku menyendok nasi dengan centong itu satu kali, persis seperti cara Bi Enok, lalu menimbangnya.

Dua ratus empat puluh gram.

Standar porsi nasi Bumi Ni Dewi adalah seratus delapan puluh gram.

“Sayur asemnya pakai sendok sayur yang mana, Bi?”

Bi Enok menunjuk sendok sayur aluminium berukuran besar. Aku menimbang satu sendok penuh. Kelebihannya dua puluh tiga persen dari standar.

Anggita sudah berdiri di sampingku. Ia memperhatikan timbangan di tanganku, lalu angka di layarnya, lalu wajahku.

“Porsinya kegedean,” katanya pelan.

“Porsinya kegedean.” Aku menoleh ke Bi Enok. “Bi, standar porsi dari pusat sudah pernah dikirim ke sini?”

“Sudah, Pak. Ada di kertas. Ditempel di lawang.” Ia menunjuk sehelai kertas yang sudah menguning di pintu dapur. “Tapi abdi teu ngarti gram-graman, Pak. Abdi mah biasa ku centong. Ti baheula kitu.”

Itu bukan kesalahan Bi Enok. Itu kesalahanku. Atau kesalahan siapa pun yang tiga tahun lalu mengirim standar porsi dalam satuan gram ke dapur yang selama empat puluh tahun mengukur dengan centong.

“Bi, nanti saya kirim centong dan sendok sayur baru. Ukurannya pas standar, jadi Bibi nggak perlu nimbang. Satu centong penuh, ya sudah, pasti seratus delapan puluh gram. Tinggal pakai kayak biasa.”

Mata Bi Enok berbinar. “Leres, Pak? Teu kudu ngitung?”

“Nggak usah ngitung, Bi. Biar centongnya yang ngitung.”

Anggita, di sampingku, mengeluarkan ponsel dan mengetik sesuatu dengan cepat. Belakangan aku tahu ia menulis: Centong standar = branding packaging = SOP visual. Bukan angka, tapi alat. Ia menyimpannya dalam folder bernama Ide yang Dicolong dari Arief.


Porsi yang kebesaran menjelaskan sebagian. Kira-kira separuh dari delapan persen itu.

Separuhnya lagi baru kutemukan jam dua siang.

Pak Encep, manajer cabang Garut, sudah enam puluh dua tahun. Badannya kurus, punggungnya mulai bungkuk, dan ia bicara dengan sangat hati-hati, seolah setiap kalimat bisa saja kalimat terakhirnya di perusahaan ini. Sepanjang pagi ia menemaniku dengan senyum tegang, menjawab setiap pertanyaan dengan “muhun, Pak” dan “leres, Pak”, dan setiap kali aku membuka laporan stok, keringat di dahinya bertambah.

Jam dua lewat lima, saat restoran mulai sepi, aku melihatnya diam-diam keluar lewat pintu samping. Di tangannya ada kantong plastik hitam besar.

Aku mengikutinya. Anggita mengikutiku.

Di bawah pohon nangka di ujung jalan, di depan pangkalan ojek, Pak Encep berhenti. Dari kantong plastik itu ia mengeluarkan nasi bungkus satu per satu, masih hangat. Dua puluh lima, kuhitung. Ia membagikannya ke tukang ojek, ke dua nenek penjual kerupuk, ke anak-anak berseragam SD yang baru pulang sekolah, dan ke seorang bapak tua yang sepertinya tidak punya tempat tinggal.

Ia melakukannya dengan cepat dan diam-diam, sambil sesekali menoleh ke belakang, seperti orang yang sedang mencuri.

Lalu ia menoleh lagi, dan melihatku.

Wajahnya pucat seketika. Kantong plastik itu jatuh dari tangannya.

“Pak Arief...”

Aku berjalan mendekat pelan. Anggita berhenti beberapa langkah di belakangku.

“Pak Encep, sudah berapa lama?”

Ia menunduk. Bahunya yang bungkuk semakin turun.

“Opat taun, Pak.” Suaranya bergetar. “Ti mimiti pandemi. Waktu eta seueur nu teu boga dahareun. Abdi ningali ti jandela, budak-budak nungguan di handap tangkal ieu, ngadagoan sesa. Abdi teu tega, Pak.” Ia menelan ludah. “Abdi nyandak tina dapur. Saeutik-saeutik. Teu bebeja ka pusat. Abdi salah, Pak. Abdi siap dipecat.”

Anak-anak berseragam SD itu berhenti makan dan menatap kami dengan cemas, takut nasi bungkus mereka akan diambil kembali.

Aku menghitung di kepala. Dua puluh lima bungkus sehari. Harga pokok per bungkus, dengan nasi, sayur, dan tempe, sekitar delapan ribu rupiah. Dua ratus ribu sehari, enam juta sebulan. Persis separuh dari selisih yang hilang.

Aku berjongkok, memungut kantong plastik yang terjatuh, dan menyerahkannya kembali kepada Pak Encep.

“Pak Encep, besok jangan pakai kantong plastik hitam lagi.”

Ia menatapku bingung.

“Pakai kardus yang ada logo Bumi Ni Dewi-nya.” Aku berdiri. “Mulai bulan ini, program ini resmi. Namanya terserah Bapak. Anggarannya saya masukkan ke pos tanggung jawab sosial. Dua puluh lima bungkus sehari, dicatat di sistem, dimasak dari sisa bahan yang masih layak sebelum tutup, jadi bukan bahan baru. Kalau perlu, nanti kita tambah.”

Pak Encep tidak bergerak. Matanya mulai basah.

“Pak... abdi teu dipecat?”

“Bapak dipecat kalau Bapak berhenti ngasih makan anak-anak itu.” Aku tersenyum. “Satu lagi, Pak. Laporan bulanan Garut sering telat. Itu kenapa?”

Pak Encep mengusap matanya dengan lengan baju dan tertawa malu. “Abdi teu bisa make tablet, Pak. Sok kapencet nu lain. Nu ngetik laporan teh incu abdi nu kuliah di Tasik, mulang ngan saminggu sakali.”

Itu menjelaskan keterlambatan dua sampai tiga minggu. Bukan karena malas, bukan karena menyembunyikan sesuatu. Hanya seorang kakek yang menunggu cucunya pulang dari Tasik supaya bisa diketikkan laporan.

“Pak, kasir yang di depan itu, Neng Lilis, umurnya berapa?”

“Dua puluh, Pak.”

“Bisa pakai tablet?”

“Bisa pisan. Manehna mah TikTok-an wae.”

“Mulai minggu depan, Neng Lilis jadi PIC data cabang Garut. Saya tambahkan tunjangan kecil buat dia. Bapak tinggal ngomong ke dia, dia yang ngetik. Laporannya tiap hari, bukan tiap bulan.” Aku menepuk bahu Pak Encep pelan. “Bapak ngurus orang. Biar anak muda yang ngurus tablet.”

Pak Encep memegang tanganku dengan dua tangannya. Tangannya kasar dan gemetar.

“Hatur nuhun, Pak,” katanya berkali-kali. “Hatur nuhun. Hatur nuhun pisan.”


Anggita tidak bicara sampai kami kembali ke dalam restoran.

Ia duduk di saung paling ujung, yang menghadap kolam dan Gunung Cikuray, lalu memotret saung-saung itu dengan kamera yang ia bawa dari tas kainnya. Kameranya bagus dan lensanya panjang. Ia memotret Bi Enok yang sedang menumbuk sambal, Pak Encep yang sedang mengajari Neng Lilis menyusun laporan, dan Jajang yang memamerkan ayam bakar dengan senyum lebar sekali sampai pipinya hampir robek.

Dan aku. Aku tahu ia memotretku, karena aku mendengar bunyi rana kamera setiap kali aku sedang tidak melihat ke arahnya.

Aku pura-pura tidak mendengar.

Sore itu, sebelum kami pulang, aku meminta Pak Encep satu hal lagi: fotokopi sertifikat bangunan cabang Garut, untuk melengkapi daftar aset di sistem terpusat. Ini pekerjaan administratif biasa. Aku sudah melakukannya di tiga puluh satu cabang lain.

Pak Encep menggaruk kepalanya.

“Sertifikat aslina mah teu aya di dieu, Pak. Taun kamari dicandak ku urang kantor Jakarta. Cenah rek diropea, diperbaharui. Suruhan Pak Rudi.”

Aku berhenti menulis.

“Pak Rudi Wardhana?”

“Muhun, Pak. Putra Nene nu kadua. Sumuhun, ramana Teh Anggita.”

Aku melirik ke arah saung. Anggita sedang memotret si Neng yang memberi makan ikan di kolam, tertawa keras setiap kali ikan-ikan itu melompat.

“Ada tanda terimanya, Pak?”

“Aya, Pak. Sakedap.”

Tanda terima itu selembar kertas bermeterai dengan tanda tangan seorang staf kantor Jakarta yang namanya tidak kukenal. Tertulis: Sertifikat asli diterima untuk keperluan administrasi perpanjangan.

Tidak ada yang aneh. Sertifikat memang kadang dikumpulkan untuk diperbarui. Pak Rudi memegang ekspansi Jakarta, dan wajar kalau kantornya mengurus administrasi aset.

Aku memotret tanda terima itu, mengembalikannya ke Pak Encep, dan mencatat satu baris kecil di buku catatanku. Buku catatan kertas, bukan tablet, karena aku belum tahu baris itu masuk ke folder mana.

Garut — sertifikat asli dibawa kantor Jkt (P. Rudi), 2025. Cek status.

Lalu aku menutup buku itu dan memasukkannya ke tas.


Perjalanan pulang lebih sunyi.

Anggita tidak memutar lagu galau, dan aku tidak memutar podcast. Kami hanya mendengarkan bunyi ban di aspal dan suara jangkrik dari sawah di kiri-kanan jalan, ketika matahari turun di belakang Gunung Guntur dan langit berubah jingga, lalu ungu.

Di Kadungora, ia akhirnya bicara.

“Kamu tahu,” katanya pelan sambil memandang jendela, “di kantor pusat aku denger Om-Om direksi ngomongin Garut. Mereka bilang, ‘Pak Encep udah tua, udah waktunya diganti. Cabangnya bocor.’ Mereka udah nyiapin nama pengganti.”

“Saya tahu.”

“Kamu tahu?”

“Saya yang minta mereka nunggu sampai saya ke sini.”

Anggita menoleh padaku. Langit ungu dari jendela membuat matanya terlihat lebih gelap dan lebih dalam.

“Kenapa?”

Aku diam sebentar. Pertanyaan ini sudah sering ditanyakan orang dengan berbagai cara: Teh Euis, Mang Ujang, dosenku di UI, Nene. Biasanya aku menjawab dengan sesuatu yang aman, soal data, soal efisiensi, soal biaya rekrutmen manajer baru.

Malam ini, entah karena langit ungu, entah karena lelah, entah karena perempuan di sebelahku memberikan bagian telur yang lebih besar kepada anak kecil yang tidak ia kenal, aku menjawab dengan jujur.

“Karena orang yang kelihatannya mencuri,” kataku, “kadang cuma orang yang nggak tahu harus minta izin ke siapa.”

Anggita tidak menjawab.

“Waktu saya umur lima belas,” lanjutku, “saya datang ke Bumi Ni Dewi Cimahi buat ngelamar jadi tukang cuci piring. Saya nggak punya pengalaman, nggak punya ijazah SMP yang dilegalisir. Saya cuma punya surat keterangan dari panti, dan baju yang kegedean karena itu baju sumbangan. Manajernya mau nolak. Wajar. Saya juga bakal nolak diri saya sendiri.” Aku tersenyum tipis, memandang jalan. “Terus ada nenek-nenek pakai kebaya, lagi duduk di meja pojok, minum teh. Dia manggil saya. Dia nanya, ‘Maneh tos dahar?’”

“Nene,” bisik Anggita.

“Saya bilang belum. Dia nyuruh pelayan bawain saya nasi timbel. Saya makan di meja pojok itu sementara dia ngeliatin. Pas saya selesai, dia bilang ke manajernya, ‘Terima budak ieu. Budak nu ngabeungkeut sapatu ku tali rafia mah moal males.’”

Aku tertawa pelan. “Sepatu saya talinya putus. Saya ganti pakai tali rafia.”

Anggita tidak tertawa.

Ia mengulurkan tangan, pelan sekali, dan meletakkannya di atas tanganku yang sedang memegang tuas transmisi. Tangannya hangat. Ia tidak menggenggam, hanya meletakkan, seolah bertanya apakah boleh.

Aku tidak menarik tanganku.

Kami melewati Nagreg seperti itu. Di Cileunyi, ia menarik tangannya kembali dengan sangat pelan, seperti takut membangunkan sesuatu.


Jam sembilan malam, aku sudah di kos, di sebuah kamar kecil di Sekeloa. Nene sudah berkali-kali menawariku tinggal di paviliun rumahnya, dan aku selalu menolak dengan alasan yang tidak pernah benar-benar kujelaskan kepada siapa pun.

Aku duduk di kasur dan membuka buku catatan kertas itu lagi, membaca baris yang kutulis siang tadi.

Garut — sertifikat asli dibawa kantor Jkt (P. Rudi), 2025. Cek status.

Mungkin ini bukan apa-apa. Mungkin besok aku menelepon kantor Jakarta, mereka bilang sertifikatnya sudah selesai diperbarui dan akan dikembalikan minggu depan, dan baris ini kucoret.

Tapi selama sepuluh tahun mengurus angka, aku belajar satu hal: baris kecil yang membuatmu tidak bisa tidur jarang sekali tidak ada apa-apanya.

Ponselku bergetar.

Anggita: Udah sampe kos?

Saya: Sudah.

Anggita: Makasih udah ngajak aku hari ini.

Saya: Saya nggak ngajak. Teh Anggita yang maksa.

Anggita: Oke. Makasih udah nggak nolak.

Aku menatap layar.

Anggita: Arief.

Anggita: Yang tadi. Yang soal tali rafia.

Anggita: Kamu belum pernah cerita itu ke siapa-siapa, kan?

Aku lama sekali sebelum membalas.

Saya: Belum.

Tanda mengetik muncul, hilang, muncul lagi. Lalu satu pesan, pendek.

Anggita: Aku jagain ceritanya.

Aku menaruh ponsel di dada dan memandangi langit-langit kos yang bocor sedikit di pojok kiri.

Di luar, Bandung mulai gerimis.

Aku teringat cara Anggita membelah telur dadar tadi pagi, bagian besar untuk si Neng dan bagian gosong untuk dirinya sendiri, dan aku tahu, dengan kepastian yang biasanya hanya kumiliki untuk angka, bahwa aku sedang dalam masalah besar.