Chapter Seven

Grup WA Sebelah

POV: Arief

Ada satu hal yang tidak pernah kutulis di laporan mana pun: kecepatan rambat gosip di Bumi Ni Dewi lebih cepat daripada sinkronisasi data sistemku.

Sistemku butuh empat menit untuk memperbarui stok empat puluh tujuh cabang. Gosip soal jaket hitam di bahu Anggita butuh tiga menit untuk sampai dari parkiran Lembang ke dapur Dago, dan itu pun Kang Usep masih menyetir.

Sabtu pagi, jam lima lewat lima belas, waktu aku masuk dapur, Mang Ujang sudah berdiri di depan rak sambal dengan tangan bersedekap dan wajah seorang ayah yang baru tahu anaknya pulang larut malam.

“Rief.”

“Mang.”

“Jaket.”

“Hujan, Mang.”

“Hujan mah unggal poe di Bandung. Unggal poe ge maneh teu pernah nginjeumkeun jaket ka saha-saha. Ka abdi ge henteu, padahal abdi kahujanan di Pasar Simpang taun kamari.”

“Mang Ujang waktu itu bawa payung.”

“Payungna bolong.”

Aku tidak menjawab. Aku mengambil apron dan mulai memeriksa daftar pesanan bahan. Mang Ujang mengikutiku dari belakang seperti bayangan berkumis.

“Rief, dengekeun,” katanya dengan nada khotbah Jumat. “Abdi rek mere nasehat. Awewe teh siga sambel.”

Aku menunggu.

“Lamun teu dicobaan, moal nyaho lada atawa henteu.”

“Mang, itu nasihat buat apa?”

Mang Ujang mengerutkan dahi, memikirkan nasihatnya sendiri, lalu tampak kurang yakin. “Pokona mah... cobaan.”

“Saya nggak akan nyobain cucu Nene kayak sambal, Mang.”

“Lain kitu maksudna!” Ia memukul meja stainless dengan centong. “Maksudna teh... ah, pokona maneh ngarti!”

Aku tidak mengerti, dan aku yakin Mang Ujang juga tidak.


Ponselku bergetar sepanjang pagi.

Grup “BND Pusat Sadayana” tetap ramai, tapi yang lebih berbahaya adalah grup lain. Grup yang aku tidak ada di dalamnya, yang keberadaannya hanya kuketahui karena Iwan, satu-satunya karyawan yang tidak bisa berbohong, menunjukkannya padaku dengan wajah ketakutan.

Nama grupnya: ArGi Garis Keras 💚🤎.

Anggotanya empat belas orang. Ada Asep sebagai admin, Dede, Teh Euis, Kang Usep dari Lembang, Bi Enok dari Garut yang entah bagaimana sudah bisa pakai emoji, Teh Yuyun dari Tasik, dan beberapa nomor yang tidak kukenali.

“Ijo jeung coklat teh naon, Wan?”

“Kata Asep, ijo itu kardigan Teh Anggita yang hari Senin, A. Coklat itu kulit Aa.”

Aku memandangi Iwan. Iwan memandangi lantai.

“Saya bilang, kulit saya warnanya sawo matang.”

“Kata Asep, sawo matang nggak ada emojinya, A.”

Aku menggulir layar ponsel Iwan. Ada foto kami berdua di Meja Tujuh, diambil dari balik pintu dapur. Ada foto papan merah muda berglitter. Ada foto jaket hitam di bahu Anggita, buram, diambil Kang Usep dari kaca spion. Dan ada satu stiker WhatsApp yang dibuat Asep sendiri: wajahku hasil potongan dari foto rapat bulanan, dengan tulisan kuning besar MENU INI BELUM TERSEDIA.

Stiker itu sudah dikirim seratus dua belas kali.

“Wan.”

“A?”

“Siapa nomor ini? Yang plus enam dua delapan satu satu, ujungnya tujuh tujuh?”

Iwan menelan ludah. “Itu... Bi Ratna, A.”

Bi Ratna. Anak bungsu Nene Dewi. Empat puluh lima tahun, pemilik usaha katering pernikahan di Antapani, dan satu-satunya anggota keluarga direksi yang pernah ikut karaoke karyawan sampai jam dua pagi.

Pesan terakhir di grup itu berasal dari nomornya. Dikirim jam lima lewat dua puluh, empat menit yang lalu.

Bi Ratna: Barudak, hari ini makan siang keluarga di rumah Nene. Bibi atur tempat duduk. Siaga satu.


Makan siang keluarga Nene Dewi diadakan setiap Sabtu kedua setiap bulan, di ruang makan rumah besar di belakang kantor. Biasanya yang datang sekitar lima belas orang: anak-anak Nene, menantu, cucu, kadang besan. Meja makannya kayu panjang dengan dua puluh kursi. Makanannya dimasak sendiri oleh Nene dan dua asisten lamanya, bukan dari dapur restoran, karena kata Nene, “Kulawarga mah kudu ngadahar masakan imah.”

Aku selalu diundang. Sudah tujuh tahun.

Aku juga selalu tidak duduk.

Bukan karena aku tidak diizinkan. Nene selalu menyuruhku duduk. Tapi ada sesuatu tentang meja panjang itu, tentang anak-anak dan cucu-cucu yang saling memanggil “Uwa”, “Om”, “Teteh”, tentang lelucon keluarga yang hanya dimengerti orang-orang yang tumbuh bersama, yang membuatku merasa lebih nyaman berdiri. Aku mengisi gelas, memastikan nasi liwet tidak habis, membantu asisten Nene mencuci piring di belakang. Lalu aku makan sendiri di dapur setelah semuanya selesai.

Tidak ada yang pernah protes. Lama-lama semua orang menganggapnya biasa.

Hari ini, waktu aku masuk lewat pintu dapur dan mengambil teko teh seperti biasa, Bi Ratna sudah berdiri di ambang pintu ruang makan dengan tangan di pinggang.

“Arief. Simpen tekona.”

“Bi, ini teh buat—”

“Simpen.”

Aku menaruh teko itu.

Bi Ratna mengambil lenganku dengan cengkeraman yang mengingatkanku pada Nene, karena memang begitulah cengkeraman perempuan di keluarga ini, lalu menuntunku ke ruang makan. Semua kursi sudah ada kartu namanya, ditulis tangan dengan spidol emas. Bi Ratna jelas tidak main-main.

Kartu bertuliskan ARIEF ada di kursi nomor sembilan.

Kartu bertuliskan GITA ada di kursi nomor sepuluh.

Di seberang kami, kursi Nene. Di samping Nene, kursi Uwa Haris yang kalem dengan kacamata bacanya, lalu Tante Lusi, ibu Anggita, yang tersenyum lembut padaku dengan cara yang membuatku curiga ia juga sudah masuk grup ArGi Garis Keras. Di ujung meja, ada tablet berdiri di atas penyangga, dengan layar video call yang menampilkan wajah Om Rudi dari kantornya di Jakarta.

“Arief!” seru Om Rudi dari layar, ramah seperti biasa. “Wah, akhirnya duduk juga kamu! Ibu yang nyuruh?”

“Bi Ratna, Om.”

“Ratna mah emang tukang ngatur.” Om Rudi tertawa. “Gimana Gita? Nggak ngerepotin kamu, kan? Dia kalau di rumah suka nggak sarapan.”

“Papa!” Anggita muncul dari pintu tengah, membawa sepiring besar pepes ikan, lalu langsung memelototi tablet. “Itu fitnah.”

“Itu data,” kataku pelan, tanpa sengaja.

Seluruh meja tertawa. Anggita menoleh padaku dengan mata menyipit, menaruh pepes di meja, lalu duduk di kursi nomor sepuluh, tepat di sebelahku, begitu dekat sampai lengan kami hampir bersentuhan.

“Pengkhianat,” bisiknya.

“Saya cuma ngoreksi Om Rudi. Om Rudi bilang ‘suka’. Datanya ‘selalu’.”

Ia menginjak kakiku di bawah meja. Pelan, tapi sangat sengaja.


Makan siang berjalan seperti biasa, kecuali bagiku, karena ini pertama kalinya aku makan bersama mereka dari kursi, bukan dari dapur.

Ternyata dari kursi, segalanya terdengar berbeda. Aku mendengar Uwa Haris bercerita soal cucunya yang baru bisa berjalan. Aku mendengar Tante Lusi bertanya pelan pada Anggita apakah ia sudah tidur cukup. Aku mendengar Nene memarahi Bi Ratna karena sambalnya terlalu manis, lalu diam-diam menambah sambal itu ke piringnya sendiri tiga kali.

Aku mendengar keluarga. Dari dalam, bukan dari balik pintu.

Rasanya hangat, dan juga sedikit perih, karena sesuatu yang hangat selalu mengingatkanku pada hal yang tidak kumiliki.

Lalu Uwa Haris berdeham dan mengeluarkan selembar kertas dari saku kemejanya.

“Bu, mumpung semua kumpul,” katanya pada Nene. “Haris mau usul. Bumi Ni Dewi buka lima cabang baru di Bandung Timur. Cileunyi, Ujungberung, Arcamanik, Antapani, Cicaheum. Daerahnya berkembang. Perumahan baru banyak. Kita belum ada di sana.”

Nene mengangguk pelan, lalu, tanpa menoleh, berkata, “Arief?”

Semua kepala berputar ke arahku.

Aku menaruh sendok. Ini bukan pertama kalinya Nene melempar pertanyaan padaku di tengah makan, tapi ini pertama kalinya aku menjawab dari kursi, di antara mereka, bukan sambil berdiri memegang teko.

“Uwa Haris benar soal pertumbuhannya,” kataku. “Bandung Timur memang naik. Tapi boleh saya tunjukkan satu hal, Wa?”

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka peta data pesanan antar dari aplikasi. Titik-titik merah menyebar di seluruh Bandung, dan paling padat di timur. Aku menggeser tablet Om Rudi sedikit supaya ia juga bisa melihat, lalu meletakkan ponselku di tengah meja.

“Ini pesanan delivery tiga bulan terakhir. Titik merah ini semua alamat pembeli. Uwa lihat, Bandung Timur paling padat. Artinya orang-orang di sana sudah beli dari kita. Sekarang mereka dilayani dari cabang Dago, Buahbatu, sama Antapani.”

“Antapani sudah ada?” tanya Bi Ratna.

“Sudah, Bi. Cabang kecil, buka tahun 2022, dekat katering Bibi.” Aku menggeser layar. “Kalau kita buka lima cabang dine-in baru, tiga di antaranya, Arcamanik, Antapani kedua, sama Cicaheum, jaraknya kurang dari tiga kilo dari cabang yang sudah ada. Mereka nggak dapat pelanggan baru. Mereka ambil pelanggan dari cabang kita sendiri.”

“Kanibal,” gumam Om Rudi dari layar.

“Persis, Om. Kanibalisasi.”

Uwa Haris membetulkan kacamatanya dan memandangi peta itu dengan saksama. Ia bukan orang yang keras kepala. Ia hanya orang yang terbiasa mengandalkan perasaan, dan perasaannya selama tiga puluh tahun sering benar.

“Jadi kamu nggak setuju?”

“Saya setuju kita masuk Bandung Timur, Wa. Bedanya cuma caranya.” Aku menggeser layar lagi, menunjukkan dua titik yang sudah kutandai biru sejak bulan lalu, karena aku sudah menduga usulan ini cepat atau lambat akan datang. “Cileunyi dan Ujungberung beda. Di sana pesanannya banyak tapi waktu antarnya rata-rata lima puluh menit, karena jauh dari semua cabang. Makanannya sampai dingin. Rating delivery kita di dua daerah itu paling jelek.”

“Terus?”

“Di dua tempat itu, kita buka dapur satelit. Dapur saja, tanpa ruang makan. Sewa ruko kecil, delapan juta sebulan, bukan bangunan seratus lima puluh juta. Dua dapur satelit, biayanya kurang dari seperlima satu cabang dine-in. Waktu antar turun ke dua puluh menit, pelanggan baru masuk, cabang lama aman.” Aku memandang Uwa Haris. “Kalau dalam setahun dapur satelitnya ramai sampai orang datang minta makan di tempat, baru kita bangun ruang makannya. Biar pelanggan yang nentuin di mana cabang kita berikutnya, Wa. Bukan kita yang nebak.”

Meja hening sebentar.

Lalu Uwa Haris tertawa, tawa yang lepas dan tidak tersinggung sama sekali. Ia melipat kertas usulannya dan memasukkannya kembali ke saku kemeja.

“Ibu,” katanya pada Nene. “Ieu budak teh bahaya.”

“Nene geus nyaho ti baheula,” jawab Nene sambil menyendok pepes. Wajahnya datar, tapi matanya bersinar seperti orang yang sedang memamerkan sesuatu.

Di layar tablet, Om Rudi bertepuk tangan. “Mantap, Rief! Itu yang Om suka. Cepat, hemat, data. Nanti Jakarta juga kamu bantuin ya. Tapi Jakarta mah aman, Bu. Jakarta mah Rudi yang pegang.”

“Siap, Om.”

Om Rudi tersenyum lebar, tapi untuk sepersekian detik, senyum itu tertahan di pinggirnya, seperti jeda kecil di antara dua kata. Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikannya. Mungkin karena buku catatan cokelat di tasku masih menyimpan satu baris yang belum kucoret.

Aku menyingkirkan pikiran itu. Om Rudi selalu baik padaku. Ia yang dulu menandatangani surat rekomendasi beasiswa S2-ku.

Di bawah meja, ada yang menyentuh punggung tanganku. Hanya sebentar, satu sentuhan ringan dengan jari kelingking, lalu hilang.

Aku tidak menoleh ke kursi nomor sepuluh, karena kalau aku menoleh, seluruh meja akan melihat wajahku.


Setelah makan, aku melakukan apa yang selalu kulakukan: mengangkat piring dan pergi ke dapur belakang.

Bi Ratna menghadangku. “Arief, ulah. Aya nu nyeuseuh.”

“Nggak apa-apa, Bi. Kebiasaan.”

“Ih, budak ieu.”

Aku sudah melewatinya. Di dapur belakang, dua asisten Nene, Mak Odah dan Mak Iyah, sedang merendam panci. Mereka sudah mengenalku sejak aku umur lima belas, dan mereka tidak lagi berusaha menghentikanku. Mak Odah menyodorkan sabut tanpa berkata apa-apa.

Lima menit kemudian, pintu dapur terbuka dan Anggita masuk, menggulung lengan bajunya sampai siku.

“Mak, Gita yang bilas ya.”

Mak Odah dan Mak Iyah saling pandang dengan kecepatan yang mencurigakan. Lalu, serempak, mereka menemukan alasan untuk keluar: menjemur lap, mengangkat jemuran yang tidak sedang dijemur, dan mencari sesuatu di gudang yang tidak pernah hilang.

Tinggal kami berdua di depan bak cuci. Aku menyabun, ia membilas. Air mengalir, piring berdenting, dan dari jendela kecil di atas bak cuci, aku melihat kebun belakang Nene yang basah oleh gerimis.

“Kamu nggak pernah duduk,” kata Anggita, sambil mengeringkan piring dengan lap. “Di makan siang keluarga. Bi Ratna cerita. Tujuh tahun, katanya. Kamu selalu berdiri ngisi teh terus makan sendiri di dapur.”

Aku menyabun piring berikutnya.

“Kenapa?”

“Karena saya nyaman di dapur.”

“Arief.”

Aku tahu nada itu. Ia sudah memakainya dua kali minggu ini: di warung Ceu Imas, dan di mobil pulang dari Garut. Itu nada yang artinya aku tahu kamu bohong, dan aku menunggu.

Aku menaruh piring di rak dan mematikan keran.

“Itu meja keluarga,” kataku akhirnya. “Teh Anggita, saya cuma karyawan yang beruntung. Nene nyekolahin saya. Om Rudi tanda tangan rekomendasi beasiswa saya. Uwa Haris yang ngajarin saya baca laporan keuangan pertama kali. Bi Ratna nyelipin uang saku tiap Lebaran waktu saya masih kuliah, padahal saya udah umur dua puluh.” Aku tersenyum kecil. “Semua orang di meja itu udah ngasih saya sesuatu. Saya nggak bisa duduk di sana, makan dari piring mereka, seolah saya punya hak yang sama.”

“Kenapa nggak?”

“Karena saya bukan siapa-siapa di keluarga ini.”

Anggita berhenti mengeringkan piring.

Ia meletakkan lap itu di pinggir bak cuci, lalu berbalik menghadapku sepenuhnya. Tangannya masih basah. Gerimis di luar jendela membuat cahaya di dapur menjadi abu-abu lembut, dan di cahaya itu wajahnya terlihat sangat serius, sangat cantik, dan sangat marah sekaligus.

“Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “berapa kali tadi Nene ngeliatin kamu waktu kamu ngejelasin peta?”

Aku tidak menjawab.

“Sebelas kali. Aku ngitung.” Ia mengangkat dagu. “Kamu bukan satu-satunya yang bisa ngumpulin data, Pak Head of Operations.”

“Teh—”

“Uwa Haris nyimpen kertas usulannya sambil ketawa. Uwa Haris nggak pernah ketawa kalau usulannya ditolak. Dia ngambek tiga hari. Tante Lusi, mamaku sendiri, motongin pepes buat kamu duluan sebelum buat aku. Aku anaknya.” Suaranya sedikit bergetar. “Dan Nene bilang ke Uwa, ‘Nene geus nyaho ti baheula.’ Kamu tahu artinya apa? Itu artinya Nene bangga. Nene nggak pernah bilang itu soal aku.”

“Itu beda.”

“Nggak beda.” Ia melangkah satu langkah lebih dekat. “Kamu boleh ngerasa bukan siapa-siapa di keluarga ini. Kamu boleh keras kepala soal itu. Itu hak kamu.”

Ia mengangkat tangannya yang masih basah dan menempelkan telunjuknya ke dadaku, tepat di tengah, di atas kemeja yang tadi pagi kupilih karena kemeja abu-abuku sedang dicuci.

“Tapi kamu siapa-siapa buat aku.”

Air menetes dari ujung jarinya ke kemejaku, menembus sampai ke kulit. Dingin. Lalu hangat.

Aku tidak bisa bicara. Aku yang bisa memetakan stok empat puluh tujuh cabang dalam dua belas menit, yang hafal jam settlement QRIS sampai catatan kaki, yang barusan membatalkan usulan lima cabang baru dengan satu peta, tidak bisa menemukan satu kata pun.

Pintu dapur berderit.

Kami melompat menjauh pada saat bersamaan. Anggita menyambar lap. Aku menyambar sabut dan menyalakan keran begitu keras sampai air muncrat ke kemejaku sendiri.

Bi Ratna berdiri di ambang pintu dengan ponsel di tangan, wajahnya terlalu polos untuk dipercaya.

“Oh,” katanya. “Bibi teh ngan rek nyokot... eh... naon tadi...” Ia memandang sekeliling dapur. “Kerupuk.”

“Kerupuknya di ruang makan, Bi,” kata Anggita, terlalu cepat.

“Oh, enya. Di ruang makan.” Bi Ratna mundur pelan, masih memegang ponsel dengan layar menghadap kami. “Mangga, mangga. Teruskeun nyeuseuhna.”

Pintu tertutup.

Tiga detik kemudian, ponselku bergetar di saku. Aku tidak ada di grup itu, tapi Iwan, yang tidak bisa berbohong dan mungkin juga tidak bisa menahan diri, meneruskan pesan terbaru dari ArGi Garis Keras 💚🤎 langsung ke nomorku.

Bi Ratna: KONFIRMASI. NYUSEUH PIRING BARENG. DAPUR BELAKANG. TANGAN NEMPEL DI DADA. ULANG: TANGAN. NEMPEL. DI DADA.

Asep: 😭😭😭😭😭

Teh Euis: Ya Allah urang ceurik

Bi Enok: Alhamdulillah

Mang Ujang: Tah kan. Sambel.

Aku menaruh ponsel di rak piring, telungkup.

Di sebelahku, Anggita menunduk dalam-dalam di atas bak cuci. Bahunya bergetar. Mula-mula aku pikir ia menangis, lalu ia mengeluarkan suara yang jelas sekali adalah tawa yang ditahan sekuat tenaga.

Aku menyerah. Aku juga tertawa.

Kami tertawa di depan bak cuci piring dapur belakang rumah Nene, dengan tangan penuh busa dan kemeja basah, sementara di ruang makan seluruh keluarga Bumi Ni Dewi pura-pura tidak sedang menunggu kabar dari Bi Ratna.

Dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, aku tidak merasa sedang berdiri di luar pintu.