Chapter Twenty Two

Cemburu Itu Tidak Profesional

POV: Anggita

Aku punya satu prinsip kerja yang kupegang sejak S2 di Melbourne, sejak profesor Brand Strategy-ku, seorang perempuan Skotlandia berumur enam puluh yang memakai anting berbentuk garpu, berkata di hari pertama kuliah: “Emotion belongs in the campaign, not in the person running it.”

Emosi itu tempatnya di kampanye, bukan di orang yang menjalankannya.

Aku memegang prinsip itu selama tiga tahun. Waktu klien Jepang menolak konsepku empat kali, waktu agensi tempatku magang di Collins Street memberi kredit ideku ke senior, dan waktu Papa mengumumkan perjodohanku di depan dua puluh tiga orang, aku tetap menyelesaikan mockup kemasan versi tiga, empat, dan lima tepat waktu.

Hari Kamis, jam sepuluh pagi, di ruang makan Bumi Ni Dewi Dago, prinsip itu mati.

Pembunuhnya bernama Nadia Paramitha. Dua puluh lima tahun, kreator makanan dengan dua ratus tiga puluh ribu pengikut, akun @nadiamakan. Rambut cokelat madu berpotongan bob, lipstik merah bata, dan tawa yang terdengar seperti lonceng angin.

Dialah kreator yang dulu mengunggah video JANGAN MAKAN DI SINI!! Ayam bakar MENTAH, yang dibalas Arief dengan video sumsum tulang, yang komentar keempatnya dari akun Asep berbunyi ITU HEAD OF OPERATIONS KAMI. JOMBLO. SEKIAN.

Nadia membaca komentar itu. Nadia jelas membaca komentar itu.


Kolaborasi ini rencanaku sendiri. Aku yang mengusulkannya ke grup kerja tiga minggu lalu, waktu aku masih memakai prinsip profesor Skotlandia itu: video kedua, Nadia berkunjung ke peternakan Pak Sobari di Cisarua, lalu ke dapur Dago untuk memasak ayam kampung bersama tim, lalu duduk di Meja Tujuh mencicipi hasilnya. Transparansi menjadi branding. Musuh menjadi sekutu.

Di proposal itu, aku menulis: Talent: Mang Ujang (kepala dapur) dan Arief (Head of Operations), karena video pertama sudah membangun kredibilitasnya.

Aku menulis kalimat itu dengan tanganku sendiri, tiga minggu lalu.

Jam sepuluh lewat lima, Nadia masuk ke dapur Dago dengan dua kru kamera, melihat Arief di depan meja potong, dan berhenti di ambang pintu.

“Ya ampun,” katanya, dengan suara lonceng angin. “Mas Sumsum. Aslinya lebih ganteng dari di video.”

Arief, yang sedang menyiapkan ayam kampung di talenan, mengangkat kepala, tersenyum sopan, dan berkata, “Selamat datang, Teh Nadia. Terima kasih sudah mau datang.”

“Panggil Nadia aja.” Nadia berjalan ke meja potong, terlalu dekat menurut ukuran mana pun, dan memandangi tangan Arief yang sedang memegang pisau. “Mas, itu jarinya kenapa? Diplester?”

“Kena pisau, Teh.”

“Aduh. Hati-hati dong, Mas. Tangan secakep itu.”

Di belakangku, Asep, yang sedang membawa nampan, tersandung kakinya sendiri. Teh Euis, yang entah kenapa ada di dapur padahal ia kasir, menjatuhkan buku kas.

Aku berdiri di pojok dapur dengan tablet berisi daftar adegan dan wajah paling profesional yang kumiliki.

“Teh Nadia,” kataku dengan suara yang sangat ramah, sangat jelas, dan sangat keras. “Kita mulai dari adegan satu, ya. Mang Ujang nunjukin sambal terasi. Mas Arief nanti di adegan empat.”

Nadia menoleh padaku, tersenyum, dan memandangku dari atas sampai bawah dengan cara yang hanya dipahami sesama perempuan.

“Oh, Mbak yang dari branding, ya? Anggita?”

“Iya.”

“Cantik banget, Mbak. Serius.” Senyumnya melebar. “Mbak udah punya pacar?”

Pertanyaan itu menggantung di udara dapur seperti asap terasi bakar.

“Saya sudah dijodohkan,” kataku.

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Kalimat itu keluar sebelum aku sempat memeriksanya. Mungkin karena aku ingin Nadia tahu bahwa aku bukan saingan. Mungkin karena aku ingin seseorang di depan meja potong mendengarnya dan merasakan sesuatu.

Di depan meja potong, pisau Arief berhenti di tengah dada ayam kampung.

Satu detik. Lalu pisau itu bergerak lagi, memotong dengan rapi.

“Oh, gitu,” kata Nadia, dan senyumnya sekarang benar-benar lebar. “Selamat ya, Mbak.” Lalu ia menoleh kembali ke Arief. “Berarti Mas Sumsum masih jomblo, ya? Asep bilang di komentar.”

Asep, di pojok dapur, membeku dengan nampan di tangan. Wajahnya pucat seperti orang yang baru sadar bahwa satu komentar yang ia ketik sebulan lalu bisa jadi senjata pembunuh massal.


Syuting berlangsung tiga jam. Selama tiga jam itu, aku melanggar setiap prinsip kerja yang pernah kupelajari.

Di adegan dua, Nadia meminta Arief memegang tangannya untuk “mengajarinya cara menusuk termometer dengan benar”. Aku mengubah angle kamera menjadi close-up termometer, sehingga tangan siapa pun tidak kelihatan.

Di adegan tiga, Nadia bertanya apakah Arief bisa ikut makan bersamanya di Meja Tujuh di akhir video. Aku bilang Meja Tujuh sedang “dalam proses rebranding” dan tidak boleh dipakai syuting. Itu bohong. Meja Tujuh tidak pernah dalam proses apa pun. Meja Tujuh adalah meja kayu jati yang sama sejak tiga tahun lalu.

Di adegan empat, waktu Nadia meminta Arief tersenyum ke kamera dan berkata “Datang ke Bumi Ni Dewi, ya”, aku menghentikan syuting tiga kali karena alasan “pencahayaan”. Pencahayaannya sempurna. Kru kamera Nadia memandangiku seperti memandangi orang gila.

Di adegan lima, Nadia bertanya langsung di depan kamera, sambil tertawa, “Mas Sumsum, available nggak?”

Seluruh dapur diam. Mang Ujang berhenti mengulek. Asep menahan napas. Kru kamera menunggu.

Aku berdiri di pojok dapur dan tidak bisa bernapas.

Arief memandangi Nadia dengan senyum yang sopan. Senyum profesionalnya, yang tidak sampai ke mata tapi juga tidak pura-pura sampai.

“Saya nggak di menu, Teh,” katanya.

Nadia tertawa, lonceng angin. “Kok gitu? Nggak di menu kenapa?”

“Udah ada yang pesan.”

Ia tidak memandangku waktu mengatakannya. Ia tidak memandang siapa pun. Ia memandangi ayam kampung di talenan, menusukkan termometer, membaca angkanya, dan berkata ke kamera dengan suara yang sangat tenang: “Delapan puluh dua derajat. Ini matang. Ini aman.”

Lalu ia menyentuh alis kirinya.

Aku berbalik dan keluar dari dapur.


Aku tidak menangis. Aku pergi ke Meja Tujuh, duduk di kursiku, kursi yang sudah tiga minggu kosong setiap pagi, membuka laptop, dan memandangi layar kosong selama dua puluh menit.

Udah ada yang pesan.

Aku tidak tahu apa artinya. Bisa saja itu lelucon, cara sopan menolak kreator TikTok yang terlalu agresif. Bisa juga bukan.

Aku tidak tahu, dan itu membuatku ingin melemparkan laptop ke jendela.

Jam dua siang, Nadia dan krunya pamit. Nadia berhenti di Meja Tujuh dalam perjalanan keluar, memandangiku, lalu tersenyum. Kali ini senyumnya berbeda: lebih kecil, lebih jujur, sedikit menyesal.

“Mbak,” katanya pelan. “Sori ya. Tadi aku kelewatan.”

Aku memandanginya.

“Aku nggak tahu,” lanjut Nadia. “Asep bilang dia jomblo. Terus pas aku nanya ‘available nggak’, dia jawab ‘udah ada yang pesan’, dan matanya...” Nadia berhenti. “Matanya nggak ke kamera, Mbak. Matanya ke pintu dapur. Ke tempat Mbak tadi berdiri, sebelum Mbak keluar.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Semoga perjodohannya batal, Mbak,” kata Nadia sambil memakai kacamata hitam. “Sumpah. Aku doain.”

Lalu ia pergi, dan aku duduk di Meja Tujuh, memandangi pintu yang tertutup di belakangnya.


Sore itu kami rapat. Aku, Arief, dan Dede, di ruang rapat kecil di kantor belakang, untuk memilih potongan video yang akan diunggah.

Ruangannya kecil. Mejanya kecil. Kursinya dekat-dekat.

Selama empat puluh menit, aku dan Arief bicara dengan bahasa paling profesional yang pernah ada di Bumi Ni Dewi. Pak Arief, menurut Bapak, adegan tiga dipotong di detik ke berapa? Menurut saya di detik empat belas, Teh, sebelum Teh Nadia ketawa. Baik, Pak. Terima kasih, Teh.

Dede duduk di antara kami dan memandangi layar laptop dengan sangat serius, seperti orang yang sedang menonton pertandingan tenis dengan bola yang tidak kelihatan.

Di menit keempat puluh satu, Dede tiba-tiba berdiri.

“Abdi... abdi bade ka WC heula,” katanya. “Lami. Panginten lami pisan. Aya... aya masalah beuteung.”

Ia keluar dan menutup pintu.

Kami berdua duduk di ruangan kecil itu, dengan laptop terbuka di antara kami, menampilkan wajah Arief yang sedang menusukkan termometer ke ayam kampung, dalam keadaan pause.

Aku mengulurkan tangan untuk mengambil pulpen di tengah meja. Arief juga, di detik yang sama. Jari-jari kami berhenti satu senti dari satu sama lain, di atas pulpen biru murah dengan logo bank.

Kami berdua menarik tangan.

Kami berdua memandangi pulpen itu, lalu memandangi layar laptop, ke mana saja kecuali satu sama lain.

“Kamu tadi bilang ke dia,” kataku akhirnya, ke layar laptop, “‘udah ada yang pesan’.”

Arief tidak menjawab.

“Siapa yang pesan?”

Ia tetap tidak menjawab.

Aku tertawa. Tawa yang pendek dan pahit, yang sudah dua kali keluar dari mulutku minggu ini, dan aku benci suaranya.

“Kamu tahu nggak, Rief.” Aku memandanginya akhirnya. Ia sedang memandangi pulpen biru itu. “Sebulan lalu, di Meja Tujuh, aku bilang ‘aku pesan kamu’. Kamu bilang ‘menu itu belum tersedia’. Terus aku nungguin. Kamu ingat? Aku bilang ‘belum’ itu kata yang bahaya. ‘Belum’ itu artinya ada kemungkinan.”

Ia diam.

“Terus menu itu tersedia. Di saung. Kamu bilang ‘menu khusus, cuma buat satu meja’. Terus menu itu dikirim. Martabak jam dua belas malam, lewat pagar.” Suaraku mulai retak. Aku membiarkannya. “Sekarang aku duduk di sini, dan aku udah dijodohin sama orang lain, dan kamu bilang ke kreator TikTok ‘udah ada yang pesan’, dan aku nggak tahu itu artinya apa.”

Aku menarik napas.

“Jadi aku tanya sekarang. Kalau aku bilang lagi...” Aku menelan. Lalu aku mengatakannya, pelan, dengan suara yang tidak lagi menggoda seperti dulu, yang tidak lagi tertawa, yang hanya lelah. “Aku pesan kamu.”

Hening.

“Kamu jawab apa, Rief?”

Arief mengangkat kepala.

Ia memandangiku. Dan untuk pertama kalinya sejak Meja Tujuh malam itu, aku melihat seluruh wajahnya. Bukan wajah profesional atau wajah sopan, tapi wajah yang sebenarnya.

Wajah itu hancur. Hancur dengan rapi, seperti kastrol yang dicuci sampai mengilap tapi tetap retak di dasarnya.

Ia membuka mulut, lalu menutupnya.

Membuka lagi, menutup lagi.

Aku menunggu. Lima detik, sepuluh, lima belas.

Ia tidak menjawab.

Aku mengangguk pelan, seperti orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya, lalu menutup laptop dan berdiri.

“Potongan videonya pakai yang detik empat belas,” kataku dari ambang pintu. “Saya kirim ke tim sosmed malam ini. Terima kasih, Pak Arief.”


Malam itu jam sembilan, aku mengetuk pintu ruang kerja Nene.

Aku tidak datang untuk Arief. Aku datang karena Papa.

Papa sudah kembali ke Jakarta sejak Senin. Ia masih belum bisa cerita. Ia meneleponku setiap malam, menanyakan aku sudah makan atau belum, lalu diam lama di telepon seperti orang yang mau mengatakan sesuatu tapi lupa caranya. Mama masih di Bandung bersamaku, dan setiap pagi wajahnya sedikit lebih pucat.

Aku ingin bertanya pada Nene. Aku tidak tahu apa yang akan kutanyakan. Mungkin Nene, Papa salah apa? Mungkin Nene, kenapa Nene setuju? Mungkin hanya Nene, Gita harus gimana?

Tidak ada jawaban dari dalam. Aku membuka pintunya pelan.

Nene tertidur di kursi rotan dekat jendela, dengan kacamata baca yang melorot ke ujung hidung dan selimut rajut di pangkuan. Mulutnya sedikit terbuka. Napasnya teratur dan berat, napas orang tua yang kelelahan.

Aku berjalan pelan untuk membetulkan selimutnya. Lalu aku melihat kertas-kertas di meja kecil di sampingnya.

Tumpukan kertas HVS yang dicetak, mungkin sepuluh lembar, dijepit dengan penjepit kertas besi. Kertasnya sudah lecek di pinggir, seperti sudah dibuka-tutup berkali-kali. Halaman paling atas bernomor lima di pojok bawahnya. Halaman satu sampai empat tidak ada.

Di bagian atas halaman lima, dicetak tebal:

RENCANA BUMI — VERSI 1 Bagian 2: Rencana Penyelamatan

Aku tidak tahu apa itu. Aku tidak pernah mendengar nama itu.

Tapi aku mengenali formatnya. Huruf Calibri ukuran sebelas, judul tebal, tabel dengan garis tipis abu-abu, dan nomor halaman di pojok kanan bawah. Aku sudah sebulan menerima laporan dengan format persis seperti itu. Laporan food cost, laporan go-live, laporan sarapan tim branding.

Aku mengambil tumpukan kertas itu, duduk di lantai di samping kursi rotan Nene, dan mulai membaca.


Tujuan: Menghindari eksekusi lelang atas 12 aset cabang paling lambat 1 Januari 2027, tanpa menjual aset produktif dan tanpa pemutusan hubungan kerja.

Dua belas aset cabang. Satu Januari. Lelang.

Aku membaca baris itu tiga kali.

Lalu aku membaca semuanya.

Ada rencana membayar sesuatu yang disebut tunggakan bunga dan denda sebesar dua koma delapan miliar dalam lima minggu, sebagai tiket masuk ke meja restrukturisasi. Ada tabel tiga ratus dua belas pelanggan katering korporat: kantor dinas, sekolah, rumah sakit, pabrik, masing-masing dengan nama, nilai pesanan bulanan, dan berapa tahun mereka sudah berlangganan. Ada usulan Kartu Langganan Liwet untuk keluarga-keluarga yang setiap tahun mengadakan arisan di Bumi Ni Dewi, lengkap dengan simulasi harga. Ada satu halaman penuh tentang lahan seluas 6.200 m² di Bekasi Timur milik PT W.G.L., dengan tabel harga tanah di sekitarnya dan satu kalimat yang digarisbawahi: Aset ini tidak dibebani hak tanggungan dan nilainya mencukupi untuk pelunasan penuh, termasuk pengembalian dana konsumen.

Aku tidak tahu PT W.G.L. itu apa. Aku tidak tahu siapa konsumennya. Halaman satu sampai empat, yang mungkin menjelaskan semuanya, tidak ada.

Tapi aku tahu satu hal: dua belas cabang Nene dalam bahaya. Bahaya yang punya tanggal. Dan aku tahu ini ada hubungannya dengan Papa, dengan kendala pembiayaan, dengan Papa yang tidak tidur dan menjual mobil Mama, dengan Papa yang menangis di ruangan ini dan berkata Papa salah besar.

Di halaman terakhir, halaman empat belas, ada satu paragraf kesimpulan. Kalimat terakhirnya dicetak dengan huruf yang sama, ukuran yang sama, tidak tebal, dan tidak digarisbawahi. Kalimat yang seolah ditulis supaya tidak ada yang memperhatikannya.

Rencana ini tidak memerlukan penyertaan pihak ketiga dengan syarat non-bisnis dalam bentuk apa pun.

Syarat non-bisnis.

Aku memandangi tiga kata itu sampai hurufnya kabur.

Aku tahu syarat non-bisnis yang mana. Syarat non-bisnis itu duduk di Meja Tujuh hari Sabtu dengan sandal jepit biru dan celana basah es teh. Syarat non-bisnis itu ditukar dengan dua puluh lima miliar di meja makan keluarga.

Syarat non-bisnis itu aku.


Aku menyadari sesuatu yang lain waktu membalik halaman-halaman itu lagi, pelan, dari depan.

Ada tulisan tangan di pinggirnya.

Pensil, dengan huruf yang bergetar dan miring, huruf orang tua yang matanya sudah tidak awas. Aku mengenali huruf itu. Huruf itu ada di kartu Lebaran yang setiap tahun diselipkan ke tas sekolahku, dengan uang lima puluh ribu dan tulisan Gita, dahar nu bener.

Tulisan Nene.

Di samping tabel katering korporat: Bener.

Di samping Kartu Langganan Liwet: Ieu bisa. Arisan Ibu-ibu Pengajian Al-Ikhlas oge pasti mau.

Di samping halaman tanah Bekasi, dua kata dengan garis bawah tebal: Naha teu ti baheula?

Kenapa tidak dari dulu?

Dan di halaman terakhir, di bawah kalimat tentang syarat non-bisnis, di ruang kosong sebelum pinggir kertas, dengan pensil yang ditekan terlalu keras sampai kertasnya sedikit berlubang:

Hampura, Jang.

Maafkan, Nak.

Aku duduk di lantai ruang kerja Nene lama sekali, dengan sepuluh lembar kertas di pangkuan, memandangi dua kata itu.

Nene membaca rencana ini. Nene membacanya berkali-kali, sampai kertasnya lecek. Nene menulis bener dan ieu bisa dan naha teu ti baheula.

Lalu Nene menulis hampura.

Dan Nene tetap berkata Nene satuju di meja makan.

Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti sama sekali. Tapi aku mengerti satu hal yang membuat dadaku sakit dengan cara yang berbeda dari tiga minggu terakhir.

Aku melihat tanggal yang dicetak di pojok kiri atas setiap halaman, di bagian header yang biasanya otomatis.

Dicetak dari email: Jumat, 20 November 2026, 04:12.

Empat hari setelah malam di Meja Tujuh. Empat hari setelah aku tetap di belakangmu. Empat hari setelah aku berkata kamu nggak pernah sekali pun memperjuangkan aku dan meletakkan jaket di pangkuannya dan berjalan pergi.

Jam empat pagi lewat dua belas menit.

Jam empat pagi, waktu lampu dapur restoran menyala dan aku tidak bisa tidur sampai melihatnya dari jendela kamar. Pagi itu aku melihat lampunya menyala dan menyangka ia sedang memotong bawang lagi, atau mengecek sambal, atau melakukan apa saja yang ia lakukan setiap pagi.

Ternyata ia sedang mengirim ini.


Aku menemukannya di kantor belakang jam sepuluh lewat sedikit.

Lampunya menyala, seperti biasa. Ia duduk di depan laptop, seperti biasa. Di mejanya ada segelas bandrek yang sudah dingin dan sepiring gehu pedas yang tidak disentuh.

Ia mengangkat kepala waktu aku masuk, dan wajahnya langsung berubah jadi wajah profesional. Teh Anggita. Aku melihatnya memasang wajah itu seperti orang memasang plester.

Aku tidak berkata apa-apa. Aku berjalan ke mejanya dan meletakkan sepuluh lembar kertas lecek itu di depannya, di atas keyboard laptopnya.

Ia memandangi kertas itu.

Wajah profesional itu tidak bertahan lebih dari tiga detik.

“Kamu...” Suaranya hilang. “Dari mana kamu...”

“Meja Nene. Nene ketiduran.” Aku menarik kursi di seberang mejanya dan duduk. Bukan di sampingnya, di seberang. Ada meja di antara kami, dan aku sengaja membiarkannya di sana. “Halaman satu sampai empat nggak ada. Kayaknya Nene simpen di tempat lain. Jadi aku nggak tahu semuanya. Aku nggak tahu PT W.G.L. itu apa. Aku nggak tahu siapa konsumennya.”

Arief diam.

“Tapi aku tahu dua belas cabang. Aku tahu satu Januari. Aku tahu kalimat terakhir di halaman empat belas.” Suaraku bergetar. “Dan aku tahu kamu ngirim ini jam empat pagi. Empat hari setelah aku bilang kamu nggak pernah memperjuangkan aku.”

Ia menunduk.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

Lama sekali sebelum ia menjawab.

“Karena belum tentu berhasil,” katanya pelan, ke kertas-kertas di atas keyboard. “Rencana ini baru di kertas. Pelanggan katering belum tentu mau bayar di muka. Bank belum tentu mau restrukturisasi. Tanah Bekasi belum tentu laku dengan harga segitu. Dan Nene udah bilang ‘biar Nene yang urus’. Nene udah bilang setuju di depan semua orang.” Ia mengangkat kepala. “Aku nggak mau kamu berharap sama sesuatu yang belum pasti, Gita. Aku udah cukup bikin kamu kecewa. Aku nggak mau bikin kamu kecewa dua kali.”

“Jadi kamu diem.”

“Jadi aku diem.”

“Dan berjuang.” Aku mengetuk kertas itu dengan ujung jari. “Diem-diem. Di belakang. Jam empat pagi, lewat email, waktu nggak ada yang lihat. Kayak biasa.”

Ia tidak membantah.

Aku memandanginya lama. Laki-laki di depanku dengan plester di jari telunjuk kiri, mata merah karena kurang tidur, bekas luka di alis kiri, dan kemeja biru dongker yang kancing atasnya terbuka karena ia lupa mengancingkannya lagi setelah syuting tadi.

Laki-laki yang tidak berdiri di meja makan itu.

Laki-laki yang empat hari kemudian, jam empat pagi, menyusun empat belas halaman supaya aku tidak perlu menikah dengan siapa pun, lalu mengirimkannya ke orang yang paling mungkin membuangnya, tanpa memberi tahu siapa pun. Tanpa memberi tahu aku.

“Aku masih marah,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kamu masih nggak berdiri. Di meja makan itu, kamu masih nggak berdiri, dan itu masih sakit, dan mungkin bakal sakit lama.”

“Aku tahu.”

“Tapi aku ngerti sekarang.” Aku menarik napas. “Aku ngerti kamu berdiri di mana. Kamu nggak berdiri di depan. Kamu nggak pernah berdiri di depan. Kamu berdiri di belakang, jam empat pagi, di depan laptop, ngitung tiga ratus dua belas pelanggan katering satu-satu.” Mataku basah. Aku membiarkannya. “Aku cuma nggak bisa lihat kamu dari sana, Rief. Itu masalahnya. Aku nggak bisa lihat.”

Arief memandangiku. Dan perlahan, sangat perlahan, wajahnya yang hancur rapi itu retak sedikit lebih lebar, dan sesuatu yang hangat keluar dari retakannya.

“Gita,” katanya. Hanya itu. Namaku. Untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, bukan Teh.

Aku menelan.

“Satu lagi,” kataku. “Kamu harus tahu satu hal. Biar adil.”

Ia menunggu.

“Ervan juga nggak mau nikah sama aku.”

Arief membeku.

“Dia bilang sendiri, di saung, hari Sabtu. ‘Gue juga nggak mau nikah sama lo. Sumpah.’ Kami bikin pakta. Namanya Pakta Saung, dia yang kasih nama. Kami tunda. Kami pura-pura kenalan, makan siang tiap Sabtu biar Mama dia seneng dan Papa aku tenang. Tapi kami nggak akan tunangan. Sampai...” Aku berhenti. “Sampai dia selesai mastiin sesuatu. Dia nggak mau bilang apa.”

Arief tidak bergerak. Wajahnya melakukan sesuatu yang belum pernah kulihat: lega, bingung, dan sedikit takut sekaligus, seperti orang yang baru diberi kabar baik tapi tidak tahu harus memercayainya atau tidak.

“Mastiin apa?” tanyanya. Suaranya aneh.

“Dia bilang rahasia negara. Kalau dia salah, ada orang yang bakal sakit banget. Orang yang udah sakit dua kali.” Aku memandangi Arief. “Dia nanya-nanya soal kamu, Rief. Di saung. Dia nanya kamu orang mana. Waktu aku bilang panti asuhan di Cimahi, matanya merah.”

Arief memandangiku lama. Lalu ia memandangi sesuatu di udara, di antara kami, sesuatu yang hanya bisa ia lihat. Dan tangan kanannya, tanpa ia sadari, naik dan menyentuh bekas luka di alis kirinya.

“Senin kemarin di bak cuci,” katanya pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri, “dia nanya ulang tahun aku.”

“Terus?”

“Terus dia jatuhin piring.” Ia diam. “Dan dia ngebelah telur pakai sendok. Diputer di akhir.”

Aku tidak mengerti apa artinya. Tapi aku melihat wajah Arief, dan aku tahu bahwa ia mengerti sesuatu, atau hampir mengerti, atau takut mengerti.

“Rief?”

Ia menggeleng pelan, seperti orang mengusir mimpi.

“Nggak apa-apa.” Ia tersenyum. Senyumnya kecil, tapi kali ini naik sampai ke mata. Pertama kalinya dalam tiga minggu. “Aku cuma capek. Kebanyakan lihat hal yang nggak ada.”

Aku tidak percaya, tapi aku tidak mendesak.

Sebagai gantinya, aku mengambil sepiring gehu pedas yang tidak disentuh dari mejanya, mengambil satu, lalu menyodorkan piringnya.

“Makan,” kataku. “Kamu belum makan malam. Aku nggak punya laporan, tapi aku punya mata.”

Ia mengambil satu gehu.

Kami makan gehu pedas yang sudah dingin, di kantor belakang, jam sepuluh malam, di dua sisi meja yang berbeda, tanpa menyentuh satu sama lain. Itu bukan berbaikan. Belum. Masih ada meja di antara kami, masih ada Papa, masih ada dua belas cabang, masih ada satu Januari, dan masih ada Nene satuju.

Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, aku bisa melihatnya.


Jam sepuluh lewat dua puluh, laptopnya berbunyi. Satu email masuk.

Ia memandangi layarnya. Wajahnya berubah. Bukan hancur, bukan lega, tapi bingung.

“Kenapa?”

Ia memutar laptopnya sedikit ke arahku.

Email itu dari Pak Hendrawan, Direktur Rasa Sastra, Sastrawidjaya Group. Ditembuskan ke Nene, Uwa Haris, dan Papa.

Kepada Yth. Bapak Arief, Head of Operations Transformation, PT Bumi Ni Dewi.

Sehubungan dengan rencana kemitraan strategis antara Sastrawidjaya Group dan PT Bumi Ni Dewi, kami mengundang Bapak untuk mempresentasikan secara langsung sistem operasional terpusat dan profil operasional PT Bumi Ni Dewi pada rapat final yang akan dihadiri oleh CEO Sastrawidjaya Group.

Waktu: Kamis, 10 Desember 2026, pukul 10.00 WIB. Tempat: Ruang Rapat Utama, Lantai 27, Exo Tower, Jakarta.

Permintaan ini disampaikan atas usulan Bapak Ervan Sastrawidjaya.

Kami berdua memandangi baris terakhir itu.

Atas usulan Bapak Ervan Sastrawidjaya.

“Kenapa Ervan minta kamu?” bisikku.

Arief tidak menjawab. Ia memandangi email itu lama sekali, dan tangannya, lagi-lagi, naik dan menyentuh alis kirinya.