Chapter Three

Meja Nomor Tujuh

POV: Arief

Setiap restoran punya satu meja yang paling berharga, dan biasanya bukan meja yang paling mahal.

Di Bumi Ni Dewi Dago, meja itu adalah Meja Nomor Tujuh.

Letaknya di lantai satu, menempel ke jendela kaca besar yang menghadap Jalan Dago, dengan kebun kecil Nene di sisi kanan. Mejanya kayu jati, kursinya empat. Tiga tahun lalu aku membuat satu aturan yang membuat Teh Euis protes selama sebulan: Meja Nomor Tujuh tidak boleh direservasi.

Tidak untuk pejabat, tidak untuk kerabat direksi, tidak untuk siapa pun.

Pukul tujuh pagi hari Senin, aku masuk ke ruang makan untuk mengecek kebersihan sebelum restoran buka, dan Meja Nomor Tujuh sudah ada yang menempati.

Anggita duduk di sana dengan laptop terbuka, segelas kopi susu dari dapur, dan sepiring gehu pedas yang jelas bukan menu sarapan. Ia memakai kaus putih dan kardigan rajut warna hijau sage, rambutnya diikat asal-asalan dengan pensil. Cahaya pagi dari jendela jatuh tepat di separuh wajahnya.

Aku berhenti di tengah ruangan lebih lama dari yang perlu.

Masalah dengan wajah seperti itu adalah kau tidak bisa memandangnya sebentar. Kau bisa berniat sebentar, tapi kenyataannya selalu lebih lama.

“Pagi, Pak Head of Operations.” Ia tidak mengangkat kepala dari laptop. “Kamu berdiri di situ udah dua belas detik.”

“Saya lagi ngecek lantai.”

“Lantainya di bawah. Kamu ngeliat ke sini.”

“Saya ngecek jendela.”

“Jendelanya bersih?”

“...Bersih.”

“Bagus.” Ia akhirnya mendongak dan tersenyum. “Aku juga bersih. Udah mandi.”

Aku memutuskan bahwa diam adalah strategi terbaik, dan memeriksa taplak meja sebelah dengan sangat serius.


“Ini meja paling bagus,” kata Anggita, sambil mengetuk permukaan kayu dengan ujung jari. “View-nya jalan, kebun, cahaya pagi. Tapi aku perhatiin dari kemarin, meja ini kosong terus pas jam ramai. Teh Euis bilang ini nggak boleh direservasi. Aturan kamu, katanya.”

“Aturan saya.”

“Kenapa? Kamu buang potensi revenue. Meja empat orang di posisi premium.”

Aku menarik kursi di seberangnya, lalu ragu, karena duduk satu meja dengan cucu atasan di jam kerja bukan kebiasaanku. Tapi ia menunjuk kursi itu dengan dagunya, dan aku duduk.

“Teh Anggita orang branding, kan?”

“Brand management. S2. Melbourne. Cum laude, kalau mau tahu.”

“Coba lihat dari luar.” Aku menunjuk jendela. “Orang yang lewat di Jalan Dago, naik mobil atau motor, mereka lihat apa?”

Anggita memutar badan dan melihat ke luar.

“Meja ini,” katanya pelan.

“Meja ini satu-satunya yang kelihatan jelas dari jalan. Kalau meja ini direservasi untuk jam satu, artinya jam dua belas meja ini kosong, menunggu tamu yang belum datang. Orang lewat lihat jendela restoran kosong, mereka pikir restorannya sepi, mereka nggak mampir.”

“Jadi kamu sengaja—”

“Meja ini selalu untuk tamu walk-in yang datang paling awal. Begitu ada yang duduk, orang di jalan lihat ada yang makan dan ketawa di jendela. Data kita tiga tahun terakhir: hari-hari di mana Meja Tujuh terisi sebelum jam sebelas, kunjungan walk-in naik sekitar delapan belas persen dibanding hari yang mejanya kosong.” Aku mengangkat bahu. “Meja Tujuh itu iklan paling murah yang kita punya. Biayanya cuma satu meja yang nggak bisa dijual ke pejabat.”

Anggita tidak berkata apa-apa. Ia menatapku, lalu menatap meja, lalu kembali menatapku dengan ekspresi orang yang baru dikalahkan di permainan yang ia kira jagoannya.

“Kamu ngerti branding,” katanya akhirnya. Nadanya hampir menuduh.

“Saya ngerti tamu.”

“Itu sama aja.”

“Kalau gitu saya ngerti branding.”

Ia menutup laptopnya pelan, menopang dagu dengan kedua tangan, dan tersenyum. Senyum yang mulai kukenali sebagai tanda bahaya.

“Oke,” katanya. “Berarti aku punya usul.”

“Apa?”

“Mulai hari ini, aku duduk di sini. Tiap pagi.”

“Teh, meja ini untuk tamu.”

“Aku tamu. Aku baru datang kemarin.” Ia mengangkat jari telunjuk. “Dan menurut teori kamu barusan, orang lewat lihat ada yang duduk di jendela, mereka mampir. Ya kan?”

“...Ya.”

“Sekarang pertanyaannya.” Ia menunjuk wajahnya sendiri dengan dua jari, memutar sedikit ke arah cahaya. “Aku cantik, kan?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Di dapur, aku mendengar bunyi panci jatuh. Aku yakin itu bukan kebetulan.

“Teh Anggita—”

“Jawab aja. Ini pertanyaan bisnis.”

“Itu bukan pertanyaan bisnis.”

“Kalau aku cantik, iklan kamu makin efektif. Itu bisnis.” Matanya berkilat. “Jadi? Aku cantik, nggak?”

Aku punya beberapa pilihan. Aku bisa mengelak, bercanda, atau pura-pura ada telepon masuk. Aku memilih satu-satunya hal yang selalu kupakai kalau terpojok: data.

“Tadi jam enam lima puluh,” kataku, “ada tiga motor ojol yang berhenti di depan sini, padahal restoran belum buka. Mereka nggak ada orderan. Mereka berhenti, lihat ke jendela, terus pergi lagi.”

Anggita mengerjap.

“Dan Pak Darto,” lanjutku, “satpam kita, yang tiap pagi harusnya nyapu parkiran, dari tadi nyapu satu titik yang sama selama sepuluh menit. Titik yang paling dekat jendela ini.”

Pipinya memerah, pelan-pelan, dari tulang pipi naik ke telinga.

“Jadi secara data,” aku berdiri dan merapikan kursiku, “iya.”

Aku berjalan ke dapur tanpa menoleh. Kalau aku menoleh, ia akan melihat wajahku, dan wajahku tidak sedang dalam kondisi untuk dilihat siapa pun.

Di belakangku, aku mendengar ia bergumam ke laptopnya sendiri: “Ya Tuhan. Licik. Licik banget.”


Jam sepuluh, restoran buka. Asep bertugas di area jendela.

Aku sedang berdiri di dekat meja kasir, mengecek laporan pagi bersama Teh Euis, waktu Asep menghampiri Meja Nomor Tujuh dengan buku menu dan senyum pelayan profesional.

“Selamat pagi, Teh Anggita. Mau pesan apa? Hari ini rekomendasi kita nasi timbel komplit sama sayur asem.”

Anggita tidak membuka menu. Ia menoleh ke arah kasir, tepat ke arahku, dan menunjukku dengan jarinya.

“Aku pesan dia.”

Asep membeku. Teh Euis menjatuhkan pulpen. Dua tamu walk-in di meja delapan berhenti mengunyah.

Seluruh ruang makan menunggu.

Aku menaruh tabletku di meja kasir, berjalan ke Meja Tujuh dengan langkah biasa, mengambil buku menu dari tangan Asep yang masih membeku, lalu membukanya di depan Anggita.

“Maaf, Teh,” kataku dengan suara pelayan yang paling sopan. “Menu itu belum tersedia.”

Anggita menatapku dari bawah, dagunya bertumpu di kepalan tangan.

“Belum?”

“Belum.”

“Berarti nanti tersedia?”

Aku membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ia tersenyum lebar. “Oke. Aku tunggu. Sementara nunggu, nasi timbel komplit, sayur asem, sama es teh manis. Gulanya setengah.”

Aku menutup buku menu dan menyerahkannya kembali ke Asep. “Timbel komplit, sayur asem, es teh setengah gula.”

“S-siap, A.”

Asep berjalan ke dapur dengan langkah kaku. Begitu pintu dapur tertutup, aku mendengar teriakan tertahan, lalu suara Mang Ujang: “Naon? NAON?! Nu leres?!”

Dalam lima menit, grup “BND Pusat Sadayana” berisi tiga puluh tujuh pesan baru.

Aku tidak membukanya.

Itu bohong. Aku membukanya di toilet karyawan. Pesan teratas dari Asep:

Asep: RESMI. HARI INI SAYA MENDIRIKAN FANBASE.

Dede: Namanya apa

Asep: ArGi. Arief-Anggita.

Teh Euis: Kurang kreatif Sep

Asep: Teteh punya usul?

Teh Euis: ...ArGi bagus.

Mang Ujang: Abdi teu ngarti naon ieu tapi abdi ngadukung


Siang hari, Anggita memintaku duduk lagi di Meja Tujuh. Kali ini urusannya kerja betulan.

Ia memutar laptopnya ke arahku. Di layar ada presentasi rebranding Bumi Ni Dewi: logo baru yang minimalis, palet warna pastel, dan tagline bahasa Inggris, Sundanese Soul, Modern Table. Ada foto-foto mockup interior dengan lampu gantung rotan dan dinding putih bersih.

“Pendapat kamu,” katanya. “Jujur.”

Aku membaca semua slidenya dua kali. Desainnya bagus. Sangat bagus, malah, seperti yang bisa diharapkan dari lulusan Melbourne yang cum laude. Tapi aku tahu desain sebagus ini kalau dipasang di Dago hari Sabtu akan membuat Bu Haji rombongan arisan bingung di mana letak sambalnya.

“Desainnya bagus,” kataku.

“Tapi?”

“Saya belum bilang tapi.”

“Muka kamu bilang tapi.”

Aku menarik tabletku, membuka dasbor pelanggan, dan memutarnya ke arahnya.

“Ini data dine-in kita setahun terakhir. Enam puluh empat persen tamu umurnya di atas empat puluh. Mayoritas datang berombongan: keluarga besar, arisan, reuni, pengajian. Mereka datang karena tempat ini terasa seperti rumah nenek mereka. Kalau dindingnya kita cat putih dan pasang lampu rotan, mereka nggak akan marah. Mereka cuma akan berhenti datang.”

Rahang Anggita mengeras sedikit. Ia jelas bersiap membela diri.

“Tapi,” lanjutku sebelum ia sempat bicara, dan kugeser layar ke grafik berikutnya, “ini data delivery. Pesanan lewat aplikasi naik tiga puluh dua persen tahun ini, dan pemesannya kebanyakan umur dua puluh sampai tiga puluh lima. Mereka belum pernah ke sini, dan mereka kenal kita cuma dari foto di aplikasi. Foto kita jelek, kemasan kita kardus cokelat polos, dan nama menunya pakai bahasa Sunda yang mereka nggak ngerti.”

Aku menunjuk logo minimalis di layar laptopnya.

“Logo ini, warna ini, tagline ini, jangan dipakai buat ngubah ruang makan. Pakai buat kemasan, aplikasi, Instagram, dan menu delivery. Ruang makan biarin jadi rumah nenek. Kemasan delivery jadi wajah baru. Dua pasar, dua wajah, satu dapur.”

Anggita terdiam lama. Matanya bergerak antara layar tablet dan layar laptopnya.

“Kamu,” katanya akhirnya, pelan, “barusan ngambil ide aku, terus bikin versi yang lebih bagus dari ide aku sendiri.”

“Itu tetap ide Teh Anggita.”

“Kamu yang benerin.”

“Saya cuma kasih datanya. Yang punya mata buat desain itu Teh Anggita. Saya mah kalau disuruh bikin logo, paling jadinya tulisan Arial di dalam kotak.”

Ia tertawa, tidak bisa menahannya. Lalu tawanya mereda, dan ia menatapku dengan cara yang berbeda dari tadi pagi. Bukan menggoda. Lebih tenang dan lebih lama.

“Di rapat direksi nanti,” katanya, “aku presentasiin ini. Versi yang dua wajah.”

“Bagus.”

“Aku sebut nama kamu.”

“Nggak usah.”

“Kenapa?”

“Karena itu ide Teh Anggita.”

“Arief.” Untuk pertama kalinya ia menyebut namaku tanpa embel-embel jabatan, tanpa nada bercanda. “Kamu selalu begini, ya? Ngasih orang sesuatu, terus pura-pura bukan kamu yang ngasih?”

Aku tidak punya jawaban untuk itu, jadi aku berdiri dan pamit ke dapur dengan alasan mengecek stok cabai, yang tidak perlu dicek karena aku sudah mengeceknya jam enam pagi.


Teh Euis menahanku di meja kasir saat restoran mulai sepi menjelang jam tiga.

“A.”

“Teh.”

“Duduk heula.”

Aku tahu nada itu. Itu nada interogasi. Teh Euis punya tiga anak dan dua menantu, dan konon tidak ada satu rahasia pun di keluarganya yang bertahan lebih dari seminggu.

Aku duduk di kursi plastik di belakang kasir. Ia menyodorkan sepiring bala-bala, umpan klasik.

“Naksir?”

“Teh—”

“Ulah ‘Teh-Teh’. Naksir, henteu?”

“Teh Anggita itu cucu Nene.”

“Terus?”

“Terus saya karyawan Nene.”

“Terus?”

“Teh Euis, itu bukan jawaban ‘terus’. Itu jawaban ‘udah’.”

Teh Euis menatapku dengan iba yang familiar. Lalu ekspresinya melunak, dan ia bertanya hal yang tidak pernah ia tanyakan selama empat tahun bekerja satu atap denganku.

“A, Aa teh dulu sekolahnya dibiayain siapa? Kan Aa ke Nene umur lima belas. Sebelum itu?”

Aku menggigit bala-bala, dan lama sekali sebelum menjawab.

“SMP sama SMA saya dibiayain donatur, Teh.”

“Donatur panti?”

“Donatur khusus. Buat saya aja.” Aku menatap minyak di piring. “Tiap bulan Bu Rahmah, ibu panti saya, manggil saya ke kantornya. Dia bilang, ‘Ini dari K.S., buat sekolah kamu. Belajar yang benar.’ Seragam baru, buku, ongkos angkot. Semuanya dari K.S.”

“K.S. teh saha?”

“Nggak tahu, Teh. Saya nggak pernah ketemu. Bu Rahmah juga katanya nggak pernah ketemu. Uangnya datang lewat transfer, atas nama ‘Donatur K.S.’ Itu aja.”

“Aa nggak pernah nyari?”

“Pernah.” Aku tersenyum tipis. “Waktu saya lulus SMA dan keluar panti, saya mau bilang terima kasih. Saya minta Bu Rahmah nanya ke bank. Tapi kirimannya berhenti persis bulan itu. Nggak ada alamat, nggak ada nomor. Terus Bu Rahmah meninggal dua tahun kemudian, dan arsip panti ikut hilang waktu pantinya digabung sama yayasan lain.”

Teh Euis meletakkan tangannya di lenganku. Tangannya hangat dan bau minyak goreng.

“Jadi Aa teh,” katanya pelan, “dibantuin terus sama orang yang nggak pernah Aa kenal. Nene, Bu Rahmah, si K.S. ieu.”

“Iya, Teh.”

“Pantes Aa sok nolongin batur terus.”

Aku tidak menjawab. Ia benar, dan aku tidak terbiasa mendengar orang mengatakannya dengan lantang.

Lalu Teh Euis menepuk lenganku dua kali dan wajahnya kembali ke mode gosip.

“Meureun si K.S. teh jodoh Aa.”

“Teh.”

“K.S.! Bisa jadi Kirana Saraswati. Kartika Sari. Ka—”

“Teh Euis.”

“—Kanjeng Sekar. Eh, Sekar! Sekar, A! Anggita Sekar! S-nya ada!”

“Itu S.W., Teh. Sekar Wardhani. Bukan K.S.”

“Ah, deukeut.” Ia mengibaskan tangan. “Cinta mah teu kudu persis, A.”


Malam itu, setelah restoran tutup dan semua laporan masuk, aku duduk di meja kerjaku di kantor belakang dan memeriksa ulang data empat puluh tujuh cabang. Ini kebiasaanku setiap Senin malam. Teh Euis menyebutnya “ngaji angka”.

Ponselku bergetar. Nomor tidak dikenal.

+62 812-xxxx: Ini Anggita. Nomor kamu aku minta ke Teh Euis. Dia ngasih dalam 3 detik tanpa nanya. Kamu perlu ngomong sama dia soal keamanan data karyawan.

Aku menatap layar. Lalu aku menyimpan nomor itu. Kuketik “Anggita”, kuhapus, kuketik “Teh Anggita”, kuhapus juga, dan akhirnya kubiarkan “Anggita”.

Saya: Nanti saya bicarakan dengan Teh Euis.

Anggita: Btw. Besok aku ikut ke Garut.

Aku berhenti mengetik.

Saya: Siapa yang bilang saya ke Garut?

Anggita: Kalender kamu. Kamu share ke grup direksi, Pak Head of Operations. “Selasa, 05.00, visit cabang Garut – audit food cost & sistem pelaporan.” Aku direksi juga sekarang. Nene yang masukin.

Saya: Itu kunjungan kerja.

Anggita: Aku kerja. Branding. Aku perlu foto cabang-cabang buat konten. Garut katanya punya saung paling cantik.

Saya: Berangkatnya jam lima pagi.

Anggita: Oke.

Saya: Jam lima pagi, Teh. Bukan jam lima lewat.

Anggita: Kamu meragukan aku?

Saya: Teh Anggita kemarin sarapan kopi doang.

Anggita: Itu beda kasus.

Anggita: Btw tadi siang. Pas kamu bilang “menu itu belum tersedia.”

Anggita: Aku masih kepikiran.

Aku menunggu. Titik-titik tanda mengetik muncul, hilang, lalu muncul lagi.

Anggita: “Belum” itu kata yang bahaya, Arief. “Belum” itu artinya ada kemungkinan.

Anggita: Selamat malam. Jangan telat besok. Nanti aku galakin.

Aku menaruh ponsel di meja dan memandangi layar laptop yang masih menampilkan laporan food cost cabang Garut: empat puluh satu persen. Angka paling buruk di seluruh jaringan.

Aku memandanginya lama sekali, tapi baru belakangan aku sadar bahwa yang kupikirkan malam itu sama sekali bukan angka.