Chapter Eleven

Angka yang Tidak Mau Diam

POV: Arief

Ada angka yang diam, dan ada angka yang tidak mau diam.

Angka yang diam adalah angka yang sudah selesai. Penjualan kemarin, stok tadi pagi, gaji bulan lalu. Angka-angka itu duduk di tabel dengan sopan, mengisi kolomnya, dan tidak mengganggu siapa pun.

Angka yang tidak mau diam lain lagi. Angka itu muncul di kepalamu waktu kau mandi, waktu kau menyetir, waktu kau sedang tersenyum pada seseorang yang kau cintai di bawah lampu jalan. Angka itu berbisik. Angka itu menunggu kau melihatnya baik-baik.

Malam enam November, di kamar kos di Sekeloa, aku duduk di lantai dengan laptop di pangkuan dan memandangi angka yang tidak mau diam.

Rp 38.614.270.000

Tiga puluh delapan miliar enam ratus empat belas juta. Total nilai buku dua belas bangunan.

Di bawahnya, dalam huruf kapital merah yang dihasilkan sistem yang kubangun sendiri:

PERINGATAN: 12 ASET CABANG BERSTATUS AGUNAN — TIDAK TERCATAT DI LAPORAN DIREKSI

Lalu daftar dua belas cabang. Garut di baris pertama. Lalu Tasik, Ciamis, Sumedang, Subang, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Cikarang, Bogor Baranangsiang, Depok, dan Cibubur.

Dua belas dari empat puluh tujuh cabang. Dua belas bangunan, dengan dua belas sertifikat, yang menurut laporan direksi bebas dari beban apa pun. Menurut modul aset yang baru menyala jam delapan malam tadi, semuanya sedang dijaminkan ke bank.


Aku membangun modul aset itu dengan satu alasan sederhana. Tiga tahun lalu, waktu menyusun daftar aset pertama kali, aku menemukan bahwa tidak ada satu orang pun di Bumi Ni Dewi yang tahu persis Bumi Ni Dewi punya apa saja. Sertifikat tersebar di lemari besi kantor pusat, di laci manajer cabang, di kantor notaris. Ada satu yang bahkan disimpan di bawah kasur Mak Odah sejak tahun 1998, “biar aman, Jang.”

Jadi aku membuat modul yang menarik data dari tiga sumber sekaligus. Pertama, daftar aset di sistem. Kedua, mutasi rekening bank semua akun perusahaan. Ketiga, data publik pertanahan, lewat aplikasi resmi BPN yang bisa menunjukkan status sertifikat: apakah sedang dibebani hak tanggungan atau tidak.

Kalau ketiga sumber itu cocok, titiknya hijau. Kalau ada yang tidak cocok, sistem berteriak.

Malam ini, sistem berteriak dua belas kali.

Aku tidak langsung percaya. Sistem baru bisa salah, dan aku sudah bilang begitu pada Gita sambil tersenyum. Aku memang tidak sepenuhnya berbohong. Mungkin ada kesalahan input atau data lama dari zaman sebelum sistem, dan dalam satu jam aku bisa menertawakan semuanya.

Jadi aku mulai dari yang paling sederhana. Aku membuka aplikasi BPN di ponsel dan memasukkan nomor sertifikat cabang Garut satu per satu, digit demi digit, dari foto tanda terima Pak Encep yang kuambil sebulan lalu.

Status: Terdapat Hak Tanggungan Peringkat I.

Pemegang: PT Bank Prima Nusantara Tbk.

Tanggal pendaftaran: 14 Maret 2025.

Aku memasukkan nomor sertifikat Tasik.

Status: Terdapat Hak Tanggungan Peringkat I.

Pemegang: PT Bank Prima Nusantara Tbk.

Tanggal pendaftaran: 14 Maret 2025.

Ciamis. Sumedang. Subang.

Sama. Sama. Sama.

Semuanya didaftarkan pada hari yang sama, ke bank yang sama.

Aku menaruh ponsel di lantai dan memandangi langit-langit kos yang bocor sedikit di pojok kiri. Hujan sudah reda, tapi air masih menetes dari genteng, satu tetes setiap tujuh detik. Aku menghitungnya tanpa sadar. Kebiasaan.


Hak tanggungan berarti ada utang. Ada utang berarti ada cicilan, dan cicilan berarti ada uang yang keluar setiap bulan dari suatu tempat.

Aku membuka mutasi rekening semua akun Bumi Ni Dewi, dua puluh tiga rekening di empat bank, dan mencari transfer ke Bank Prima Nusantara.

Tidak ada.

Aku mencari transfer dengan jumlah yang sama setiap bulan ke tujuan apa pun di luar pemasok, gaji, pajak, dan sewa yang sudah kukenal.

Ada satu.

Rekening operasional ekspansi Jakarta, rekening yang dipegang kantor Jakarta, yang laporannya selalu dikirim sebagai satu angka total setiap akhir bulan. Setiap tanggal dua puluh lima, sejak April 2025, ada transfer keluar ke sebuah rekening perusahaan bernama PT Wardhana Graha Lestari.

Jumlahnya Rp 413.086.000.

Setiap bulan, tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang, dengan keterangan transfer yang sama: biaya pengembangan ekspansi.

Aku memandangi nama perusahaan itu.

Wardhana.

Aku menutup mata, menghitung sampai sepuluh, lalu membukanya lagi. Namanya masih sama.

Aku membuka laman pencarian data badan hukum milik Kementerian Hukum, yang terbuka untuk umum, dan mengetik nama perusahaan itu. Hasilnya muncul dalam tiga detik.

PT Wardhana Graha Lestari. Didirikan: 2023. Bidang usaha: pengembangan properti residensial. Direktur Utama: Rudi Wardhana.


Aku tidak berhenti di situ. Kalau berhenti, aku harus memikirkan apa artinya, dan aku belum siap.

Jadi aku terus bekerja. Itu satu-satunya hal yang selalu bisa kulakukan.

Rp 413.086.000 per bulan. Jumlah yang terlalu rapi untuk biaya pengembangan dan terlalu tidak bulat untuk honor konsultan. Jumlah seperti itu hanya muncul dari satu tempat: rumus.

Aku membuka spreadsheet kosong dan mulai menebak mundur. Cicilan bank di Indonesia untuk pinjaman korporasi biasanya anuitas: jumlah sama setiap bulan, bunga di depan, pokok di belakang. Kalau aku tahu besar cicilan, tinggal mencari pasangan pokok, bunga, dan tenor yang menghasilkan angka itu.

Aku mencoba bunga sembilan persen, sepuluh, sebelas, lalu mundur setengah.

Di sepuluh koma lima persen, tenor tujuh tahun, angkanya muncul: pokok pinjaman Rp 24.500.000.000. Dua puluh empat setengah miliar. Cicilannya, setelah dibulatkan ke ribuan oleh sistem bank, persis Rp 413.086.000.

Lalu aku menghitung sisi lain. Cicilan itu dibayar selama dua belas bulan, dari April 2025 sampai Maret 2026.

Setelah Maret 2026, tidak ada transfer lagi.

April kosong. Mei kosong. Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, semuanya kosong.

Tujuh bulan tanpa cicilan.

Aku menghitung sisanya. Setelah dua belas kali cicilan, sisa pokoknya sekitar dua puluh dua miliar. Ditambah bunga tujuh bulan yang tidak dibayar dan denda keterlambatan, kewajiban yang sekarang ditagih bank kira-kira dua puluh tiga koma enam miliar. Untuk utang sebesar itu, bank memegang jaminan senilai tiga puluh delapan miliar: dua belas cabang Bumi Ni Dewi.

Pinjaman itu sudah macet.

Aku tahu cukup banyak tentang perbankan untuk tahu apa yang terjadi pada pinjaman yang macet tujuh bulan. Peringatan pertama, kedua, dan ketiga. Lalu bank berhak mengeksekusi jaminannya, yaitu menjual lewat lelang dua belas bangunan tempat lebih dari empat ratus orang bekerja setiap hari, bangunan yang di dalamnya ada saung Garut, Bi Enok dengan centong nasinya, Pak Encep dengan nasi bungkus untuk anak-anak SD, Teh Yuyun di Tasik yang dulu menutup selisih kas dengan gajinya sendiri, dan Neng Lilis yang baru diangkat jadi PIC data.

Aku menutup laptop.

Tetesan air di pojok langit-langit terus jatuh, satu setiap tujuh detik.

Aku duduk di lantai kos sampai jam empat pagi, waktu aku biasanya bangun. Malam itu aku tidak tidur sama sekali, jadi tidak ada yang perlu dibangunkan.


Jam tujuh pagi, aku mengirim pesan pada Gita.

Saya: Pagi. Nene katanya kecapekan habis go-live kemarin. Aku pikir ngomongnya minggu depan aja ya. Biar Nene istirahat dulu.

Balasan datang dalam dua menit.

Gita: Yaaah 🥺

Gita: Tapi iya sih. Tadi Nene sarapan sambil nguap tiga kali.

Gita: Oke minggu depan. Tapi sebagai gantinya, malam ini kamu harus ngajak aku jalan. Beneran jalan. Bukan ke Garut, bukan cek stok kebun. Jalan kayak orang pacaran normal.

Gita: Wajib. Nggak ada laporan yang bisa nyelametin kamu.

Aku memandangi layar.

Nene memang menguap tiga kali saat sarapan, itu bukan bohong. Tapi bukan itu alasanku menunda, dan aku tahu aku sedang menyembunyikan sesuatu dari orang yang paling tidak ingin kubohongi.

Aku belum bisa memberi tahu Gita. Belum, sebelum aku yakin. Sebelum aku tahu persis apa yang terjadi, dan sebelum aku tahu cara mengatakan pada seorang perempuan bahwa ayahnya, laki-laki yang semalam bertepuk tangan dan berteriak ANAK PAPAAA begitu keras sampai speaker pecah, mungkin sudah mempertaruhkan dua belas cabang neneknya dan menyembunyikannya selama satu setengah tahun.

Saya: Oke. Jam tujuh malam. Aku jemput di pagar samping.

Gita: PAGAR SAMPING LAGI 😂

Gita: Pak Darto udah tahu semuanya Rief. Pak Darto kemarin nanya ke aku “Teh Anggrek, dokumen martabakna enak?”

Aku tertawa, dan tawanya keluar dengan aneh, setengah tercekik, karena di bawahnya ada sesuatu yang dingin dan berat yang tidak mau pergi.


Hari itu aku bekerja seperti biasa.

Aku mengecek empat puluh tujuh titik hijau, lalu menelepon Kang Dadang di Pangandaran untuk berterima kasih dan memastikan genset sudah diisi solar lagi. Aku menandatangani pesanan centong standar untuk sebelas cabang berikutnya, membalas email kreator TikTok yang ingin membuat video kedua di peternakan Pak Sobari, dan mengikuti rapat evaluasi go-live dengan tim vendor IT. Di rapat itu aku menjawab semua pertanyaan dengan benar, dan tidak ada yang melihat bahwa setiap kali layar proyektor menampilkan menu modul aset, tanganku berhenti menulis.

Kecuali satu orang.

Jam sebelas, Mang Ujang menyeretku ke gudang bahan kering dan menutup pintunya.

“Rief.”

“Mang.”

“Maneh teu sare.”

“Saya selalu bangun jam empat, Mang.”

“Lain bangun jam opat. Teu sare.” Ia menunjuk mataku dengan centong kayu, yang entah kenapa selalu ia bawa ke mana-mana. “Panon maneh siga panon abdi waktu pamajikan abdi ngalahirkeun budak katilu. Tilu poe teu sare. Ieu naon? Gita?”

“Bukan, Mang.”

“Duit?”

Aku diam.

Mang Ujang memandangiku lama. Lalu, dengan wajah yang tiba-tiba sangat serius, wajah yang belum pernah kulihat selama tujuh tahun, ia meletakkan tangannya yang besar di bahuku.

“Rief, dengekeun. Abdi rek mere nasehat. Nu ieu mah nu bener.”

Aku menunggu.

“Masalah teh siga beas,” katanya. “Lamun teu dikumbah, moal beresih.”

Aku memandanginya.

“Mang, itu artinya apa?”

Mang Ujang mengerutkan dahi, memikirkan nasihatnya sendiri, lalu tampak ragu. “Hartina... lamun aya masalah... kudu dikumbah.”

“Dicuci?”

“Enya.”

“Masalahnya dicuci?”

“...Pokona mah dikumbah.” Ia menepuk bahuku dua kali, lalu membuka pintu gudang. “Abdi teu ngarti oge, Rief. Tapi maneh ngarti. Maneh mah sok ngarti.”

Ia keluar. Aku berdiri sendirian di gudang bahan kering, di antara karung beras dan kardus mi instan, dan untuk pertama kalinya sejak tadi malam, aku tertawa dengan benar.

Karena Mang Ujang, tanpa sengaja, mungkin benar. Masalah memang tidak bisa dibiarkan di karung. Masalah harus dibuka, dicuci, dan dilihat isinya satu per satu.

Tapi tidak hari ini. Hari ini aku sudah janji akan mengajak seseorang jalan.


Jam tujuh malam, Gita keluar dari pagar samping memakai gaun selutut berwarna kuning mentega dengan kardigan krem di atasnya. Rambutnya digerai dan dijepit setengah di belakang, dan ia memakai sepatu kets putih yang, katanya, “biar bisa lari kalau Pak Darto ngejar.”

Aku berdiri di samping motor dan lupa caranya bicara.

“Kenapa?” Ia berputar sekali di bawah lampu jalan. “Jelek?”

“Nggak.”

“Terus kenapa diem?”

“Aku lagi nyari data.”

“Data apa?”

“Data yang bisa ngejelasin kenapa kamu bisa kayak gitu.”

Ia berhenti berputar. Wajahnya memerah dari leher sampai dahi. Lalu ia berjalan mendekat, mengambil helm cadangan dari tanganku, memakainya sendiri, dan memukul bahuku dengan pelan.

“Ayo. Sebelum aku pingsan di pagar.”

Aku mengajaknya ke Braga.

Ia sudah pernah ke Braga, tentu saja, waktu kecil dan waktu SMA. Tapi ia belum pernah ke Braga bersamaku, dan kata Gita itu pengalaman yang sama sekali berbeda.

Kami berjalan di trotoar batu sepanjang jalan tua itu, di antara gedung-gedung art deco yang lampunya kuning hangat, pelukis jalanan yang memajang lukisan di dinding, dan anak-anak muda yang berfoto di depan setiap bangunan. Gita menunjuk semuanya: jendela toko roti tua, kucing yang tidur di atas kotak listrik, tulisan grafiti yang menurutnya “punya tipografi bagus”. Ia memotret semuanya dengan ponsel, dan diam-diam, setiap kali aku tidak melihat, ia juga memotretku.

Aku tahu, karena aku selalu melihat.

Kami makan batagor di gerobak pinggir jalan, berbagi satu piring. Ia mengambil potongan tahu yang paling besar, lalu, setelah satu gigitan, memindahkan sisanya ke sisi piringku.

“Kenapa?”

“Kamu ngasih orang yang besar terus. Sekali-sekali kamu yang dapat.”

Aku memandangi potongan tahu itu, dan sesuatu di dadaku terasa perih dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan sambal kacang.

Di ujung jalan, ada photo booth kecil di depan kafe. Gita menarik lenganku masuk ke dalam kotak sempit itu sebelum aku sempat menolak. Empat foto, sepuluh ribu rupiah.

Foto pertama, kami berdua kaku menghadap kamera, seperti foto KTP.

Foto kedua, Gita tertawa karena wajahku seperti foto KTP.

Foto ketiga, Gita menarik pipiku dengan dua tangan supaya aku tersenyum.

Foto keempat, ia tidak memandang kamera. Ia memandangku, dari jarak yang sangat dekat, dengan senyum yang sangat lembut. Aku memandang balik.

Strip foto itu keluar dari mesin, masih hangat. Gita memandanginya lama sekali, lalu menggunting dengan kuku: dua foto pertama untuknya, dua foto terakhir untukku.

“Simpen di dompet,” katanya. “Biar kamu punya foto yang bukan foto rapat bulanan.”

Aku menyimpannya di dompet, di balik KTP, di tempat yang dulu kosong.


Kami duduk di bangku taman kecil di dekat gedung Merdeka, menghadap jalan yang mulai sepi. Gita bersandar di bahuku dan memakan es krim cokelat dari kedai tua di seberang jalan.

“Kamu dari tadi diem,” katanya.

“Aku memang pendiam.”

“Nggak. Kamu pendiam yang ngitung. Biasanya aku bisa lihat kamu ngitung sesuatu di kepala, matamu gerak-gerak. Malam ini kamu diem yang... nggak ngitung.” Ia mengangkat kepala dari bahuku dan memandang wajahku. “Kamu diem yang berat.”

Aku tidak menjawab.

“Kerjaan?”

“Kerjaan.”

“Yang semalam? Yang data lama?”

Aku memandangi jalan. Sebuah angkot lewat, lampunya kuning, musiknya dangdut keras. Di dalamnya ada seorang ibu yang memangku anak kecil yang tertidur.

“Iya,” kataku akhirnya. “Ada yang harus aku cek ulang. Belum jelas. Kalau udah jelas, aku cerita.”

Gita memandangiku lama. Aku tahu ia sedang memutuskan sesuatu: mendesak atau percaya.

Lalu ia meletakkan kepalanya lagi di bahuku.

“Oke,” katanya. “Aku percaya. Tapi kalau udah jelas, cerita. Janji.”

“Janji.”

Itu janji kedua yang kubuat untuknya. Yang pertama, habis go-live, aku ngomong ke Nene, sudah kutunda.

Aku tidak tahu, malam itu di bangku dekat gedung Merdeka, bahwa yang kedua juga akan kutunda. Dan bahwa setiap janji yang kutunda untuk melindunginya akan menjadi satu batu lagi di jembatan yang suatu hari harus kulewati sendirian.


Jam sebelas malam, aku mengantarnya pulang ke pagar samping. Pak Darto, yang sedang berpatroli dengan senter, berbalik ke arah sebaliknya begitu melihat motorku, dan bersiul keras sekali.

Di kos, aku membuka laptop lagi.

Dua puluh tiga koma enam miliar. Dua belas cabang.

Aku membuka folder baru dan menamainya dengan satu kata, tanpa alasan yang bisa kujelaskan, mungkin karena itu satu-satunya kata yang terpikir untuk sesuatu yang harus kuselamatkan: Bumi.

Lalu aku menyusun daftar.

1. Siapa yang tanda tangan APHT? (Akta Pemberian Hak Tanggungan) — cek notaris. 2. Atas dasar kuasa apa? Direksi tidak pernah setuju — cek notulen rapat 2025. 3. Uang 24,5 M dipakai untuk apa? — cek proyek PT Wardhana Graha Lestari. 4. Kapan bank eksekusi? — cek surat peringatan. 5. Siapa lagi yang tahu?

Aku memandangi nomor lima lama sekali.

Lalu, di bawahnya, aku menulis satu baris lagi. Baris yang bukan pekerjaan, baris yang tidak akan pernah kumasukkan ke folder mana pun.

6. Gimana caranya ngasih tahu Gita.

Aku tidak punya jawaban untuk nomor enam.

Jadi malam itu, di antara angka-angka yang tidak mau diam, aku melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan selama empat belas tahun. Aku membuka dompet dan mengeluarkan dua foto photo booth yang masih hangat beberapa jam lalu, lalu memandanginya, dan berharap ada seseorang yang bisa kutanyai apa yang harus kulakukan.

Dulu ada. Dulu ada seseorang yang selalu tahu.

Kalau Kak Kanaya ada di sini, ia akan duduk di sebelahku di lantai kos ini, membaca angka-angka itu sekali, lalu berkata dengan suara galaknya, Kamu bodoh. Kenapa kamu pikul sendirian?

Lalu ia akan memikulnya bersamaku.

Tapi aku bahkan tidak tahu nama keluarga yang membawanya pergi. Bu Rahmah tidak pernah mau memberitahu, bahkan setelah aku memohon di umur lima belas, di umur tujuh belas, dan di umur delapan belas waktu aku meninggalkan panti. Itu syarat mereka, Rief. Biar kakakmu bisa mulai dari awal. Kalau kamu sayang dia, biarkan dia mulai dari awal.

Jadi aku membiarkannya.

Malam itu, dengan dua foto di tangan dan angka dua puluh tiga koma enam miliar di layar, aku memikul semuanya sendirian. Seperti biasa.