Chapter Seventeen
Mang Ujang Tahu
POV: Arief
Senin pagi, jam tujuh, Meja Nomor Tujuh kosong.
Selasa pagi, kosong.
Rabu, kosong.
Aku tidak perlu mengeceknya, tapi aku mengeceknya, setiap pagi, dari tengah ruang makan, sambil pura-pura memeriksa kebersihan lantai. Dua belas detik, lalu lima belas, lalu dua puluh. Tidak ada yang mendongak dari laptop dan berkata kamu berdiri di situ udah dua belas detik.
Kamis pagi, aku membuka dasbor pengunjung cabang Dago. Itu kebiasaan, bukan karena aku ingin tahu. Aku tidak ingin tahu.
Kunjungan walk-in sebelum jam sebelas, Senin sampai Kamis minggu ini: turun tujuh belas koma delapan persen dibanding rata-rata empat minggu sebelumnya.
Aku memandangi angka itu lama sekali.
Tiga tahun data menunjukkan bahwa Meja Tujuh yang terisi sebelum jam sebelas menaikkan kunjungan walk-in sekitar delapan belas persen. Bulan lalu aku menjelaskannya pada Gita, di meja itu, dengan suara tenang seorang Head of Operations. Meja Tujuh itu iklan paling murah yang kita punya.
Sekarang aku punya data yang membuktikannya dari arah sebaliknya.
Aku menutup dasbor.
Data tidak pernah berbohong. Itu yang selalu kukatakan pada semua orang, pada Teh Euis, pada Mang Ujang, pada direksi. Data tidak pernah berbohong.
Untuk pertama kalinya, aku berharap data bisa berbohong, sekali saja.
Gita tidak menghilang. Itu yang lebih sulit.
Ia masih datang ke kantor setiap hari, masih mengerjakan rebranding, dan masih menghadiri rapat. Ia masih ada di grup kerja Branding & Ops BND, dan masih mengirim laporan desain kemasan dengan rapi, lengkap, tepat waktu.
Tapi di grup itu, hari Senin jam sembilan pagi, ia mengirim pesan:
Anggita: Pak Arief, mohon review mockup kemasan delivery versi 3. Terlampir. Terima kasih.
Pak Arief.
Teh Euis, yang juga ada di grup itu, mengirim emoji tangan menutup mulut dan langsung menghapusnya dua detik kemudian. Tidak cukup cepat. Aku melihatnya.
Aku membalas.
Saya: Sudah saya review, Teh. Versi 3 bagus. Satu catatan di halaman 4, logo di sisi kardus sebaiknya dinaikkan 1 cm supaya tidak tertutup stiker ojol. Terima kasih.
Teh. Bukan Gita.
Kami saling memanggil dengan nama yang kami pakai di minggu pertama, sebelum Meja Tujuh, sebelum Ceu Imas, sebelum atap. Seolah kami bisa memutar balik waktu dengan memakai kata-kata yang lebih tua, dan seolah kata-kata yang lebih tua tidak bisa melukai.
Kami berpapasan di koridor kantor dua kali sehari. Ia mengangguk sopan. Aku mengangguk sopan. Kami tidak berhenti berjalan.
Hari Rabu, kami berpapasan di pintu dapur. Ia sedang membawa kamera untuk memotret menu baru, aku sedang membawa baskom sambal. Pintu dapur sempit. Kami berdua berhenti, menunggu yang lain lewat duluan. Kami berdua bergerak di detik yang sama, lalu berhenti lagi, lalu bergerak lagi. Tiga kali.
Di kali keempat, ia berhenti dan menunggu. Aku lewat.
Waktu bahuku melewati bahunya, sangat dekat di pintu yang sempit, aku mencium sampo yang sama dengan wangi di kerah jaket parasut itu. Aku tidak menoleh. Ia juga tidak.
Di belakangku, aku mendengar ia menarik napas, satu kali, terlalu dalam.
Staf Bumi Ni Dewi tidak pernah diberi tahu apa-apa. Tidak ada pengumuman, tidak ada pesan di grup. Nene tidak bicara, Gita tidak bicara, dan aku tidak bicara.
Tapi di restoran ini, gosip bergerak lebih cepat dari sinkronisasi data sistem. Dalam dua hari, semua orang tahu.
Mereka tidak tahu soal dua belas cabang, Bank Prima, atau tanggal satu Januari. Mereka tahu satu hal: Teh Anggita dijodohkan dengan anak orang kaya Jakarta, dan A Arief tidak berkata apa-apa.
Dan mereka menghibur aku. Masing-masing dengan caranya sendiri, dan kebanyakan dengan cara yang tidak masuk akal.
Hari Senin, Teh Euis meletakkan sepiring gorengan di mejaku setiap dua jam. Bala-bala, gehu, cireng, comro, lalu bala-bala lagi. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan piringnya, menepuk bahuku dua kali, lalu kembali ke kasir sambil mengusap mata dengan ujung kerudung.
Pada sore hari, mejaku sudah berisi enam piring gorengan yang tidak kumakan. Teh Euis mengambil semuanya, membawanya ke ruang karyawan, dan karyawan lain memakannya sambil memandangiku dengan iba.
Hari Selasa, aku menerima pesan pribadi dari Asep. Itu pesan pertama yang Asep kirim langsung ke nomorku selama dua tahun ia bekerja di sini.
Asep: A, aku mau lapor.
Asep: Grup ArGi Garis Keras udah aku ganti namanya jadi “ArGi (Arsip)”. Nggak aku bubarin, A. Aku nggak tega. Isinya kenangan semua. Stiker “menu ini belum tersedia” udah dikirim 412 kali. Foto jaket di Lembang. Foto Meja Tujuh. Semua.
Asep: Tapi aku kunci grupnya. Cuma admin yang bisa kirim pesan. Biar nggak ada yang ngomong macem-macem.
Asep: Bi Ratna protes, katanya grup ini masih hidup. Tapi aku bilang ke Bi Ratna, Bi, A Arief lagi sedih, kita harus hormatin.
Asep: Maaf A aku nangis pas ngetik ini.
Aku memandangi pesan itu, lalu membalasnya.
Saya: Makasih, Sep.
Asep: 😭
Asep: A, kalau A butuh apa-apa, aku ada. Serius. Aku nggak bisa apa-apa sih. Tapi aku bisa ngelap meja.
Hari Rabu, Pak Darto mulai menyebut nama Gita dengan benar.
Aku mendengarnya di parkiran, waktu Gita turun dari mobil dan Pak Darto, yang selama sebulan memanggilnya Teh Agnes, Teh Anggrek, Teh Anggi, dan sekali Teh Anggur, membuka pintu pagar dan membungkuk sedikit.
“Wilujeng enjing, Teh Anggita.”
Gita berhenti dan memandangi Pak Darto lama. Lalu ia tersenyum, senyum pertama yang kulihat di wajahnya sejak Minggu. Senyumnya kecil dan sedih.
“Pak Darto akhirnya bener.”
“Muhun, Teh.” Pak Darto memandangi aspal parkiran. “Bapak... Bapak mah ngan saukur hoyong aya nu bener, Teh. Minggu ieu. Sahenteuna hiji.”
Bapak cuma ingin ada yang benar, Teh. Minggu ini. Setidaknya satu.
Gita tidak menjawab. Ia mengangguk pada Pak Darto dan berjalan masuk dengan cepat. Dari jendela kantor, aku melihat bahunya bergetar sekali.
Hari Kamis, sarapan karyawan jam tujuh.
Aku duduk di bangku panjang di belakang dapur dengan piring nasi, sambal, tempe, dan telur dadar. Mang Ujang menyiapkannya seperti biasa, tapi sejak Senin pagi, telurnya selalu tidak dibelah. Utuh. Dan sejak Senin pagi, aku juga tidak membelahnya. Aku memakan telur itu utuh, sendirian, tanpa membaginya dengan yang paling muda.
Itu juga data. Semua orang di meja sarapan melihatnya. Tidak ada yang berkata apa-apa.
Pagi ini, waktu aku baru mengangkat sendok, Iwan, yang duduk di seberangku, berdiri.
Ia mengambil piringnya sendiri, yang juga berisi telur dadar, lalu membelahnya dengan sendok. Tidak di tengah. Satu bagian lebih besar, satu bagian lebih kecil dengan pinggir yang gosong.
Lalu ia memindahkan bagian yang besar ke piringku.
Seluruh meja diam. Dede berhenti mengunyah. Asep menaruh sendoknya.
Iwan duduk kembali dan menyendok bagian kecil yang gosong ke mulutnya. Telinganya merah sekali, merah yang mungkin tidak bisa ia lihat sendiri dengan mata buta warnanya, tapi semua orang di meja bisa melihatnya.
“Wan,” kataku pelan. “Aturannya yang lebih tua makan yang gosong.”
“Muhun, A.” Iwan tidak mengangkat kepala dari piringnya. “Tapi kata Mang Ujang, aturan bisa diganti. Kalau ada yang lagi sedih, aturannya diganti.” Ia menelan. “Yang lagi sedih makan yang gede.”
Aku memandangi telur dadar di piringku. Dua potong sekarang, telurku yang utuh dan bagian besar dari telur Iwan.
Aku tidak bisa bicara.
Lalu Dede berdiri, membelah telurnya, dan memindahkan bagian yang besar ke piringku. Lalu Asep. Lalu Teh Euis, yang datang dari kasir dengan piringnya sendiri hanya untuk ini. Lalu dua tukang potong sayur yang namanya baru kuhafal bulan lalu. Lalu pencuci piring yang baru masuk minggu kemarin, yang bahkan belum tahu aturannya, tapi melihat semua orang melakukannya dan ikut melakukannya.
Dalam dua menit, piringku berisi sembilan potong telur dadar, bertumpuk seperti menara kecil yang miring.
Mang Ujang berdiri di ambang pintu dapur dengan centong di tangan, memandangi menara telur itu, lalu memandangi semua orang di meja, lalu memandangiku.
“Tah,” katanya. Hanya itu. Tah. Nah.
Lalu ia berbalik ke kompornya, dan aku melihat ia mengusap mata dengan lengan baju.
Aku memakan kesembilan potong telur itu. Semuanya, sampai habis, sementara seluruh meja pura-pura sibuk dengan piring mereka sendiri.
Malam itu aku tidak memotong bawang.
Aku duduk di kantor belakang, membuka laptop, dan membuka folder yang kunamai Bumi seminggu lalu, di lantai kos, waktu aku belum tahu apa yang akan terjadi.
Selama empat hari terakhir aku belum membukanya, karena Nene bilang biar Nene nu ngurus, karena keputusan sudah diambil di meja makan, dan karena dua puluh tiga koma enam miliar sudah dijawab dengan satu pernikahan. Untuk apa menyusun rencana yang tidak akan dibaca siapa pun?
Tapi pagi tadi ada sembilan potong telur dadar di piringku.
Sembilan orang yang tidak tahu apa-apa soal Bank Prima, soal dua belas cabang, atau soal tanggal satu Januari. Sembilan orang yang hanya tahu bahwa seseorang yang mereka sayangi sedang sedih, dan yang memutuskan, tanpa rapat, tanpa data, tanpa spreadsheet, untuk mengganti aturan.
Aturan bisa diganti.
Aku membuka dokumen kosong baru dan memberinya judul.
Rencana Bumi. Versi 1.
Lalu aku mulai bekerja.
Pertama, aku butuh waktu. Tanggal satu Januari adalah dinding, dan semua rencana penyelamatan yang mungkin butuh waktu lebih dari enam minggu.
Jam sebelas malam, aku menelepon seseorang yang belum kutelepon sejak wisuda S2: Dimas Prasetyo, teman satu angkatan di Magister Manajemen UI. Dimas dulu duduk di sebelahku di kelas Manajemen Risiko dan selalu menyalin catatanku dengan alasan tulisannya sendiri tidak bisa dibaca. Sekarang ia bekerja di divisi Special Asset Management sebuah bank BUMN di Jakarta. Divisi itu tugasnya mengurus kredit macet.
“Rief? Arief Bumi Ni Dewi? Lo masih hidup?”
“Masih, Dim. Sori malem-malem.”
“Nggak apa-apa, gue juga belum tidur, lagi ngurus debitur yang kabur ke Singapura.” Dimas tertawa. “Kenapa? Lo mau kredit? Gue bisa bantu, asal traktir sate Hadori.”
“Gue mau nanya hipotetis.”
“Wah. Hipotetis. Orang kalau nanya hipotetis jam sebelas malem, biasanya nggak hipotetis.”
Aku menjelaskan, hipotetis: sebuah perusahaan, pinjaman korporasi, jaminan pihak ketiga, macet tujuh bulan, surat peringatan ketiga, enam puluh hari sebelum lelang. Aku tidak menyebut nama bank, nama perusahaan, atau nama siapa pun. Aku hanya menyebut angka, dan Dimas, yang dulu menyalin catatanku selama dua semester, mendengarkan tanpa memotong.
“Oke,” katanya setelah aku selesai. “Gue kasih tahu lo rahasia industri. Bank nggak suka lelang.”
“Nggak suka?”
“Benci, malah. Lelang itu proses panjang, ada gugatan, ada perlawanan, ada wartawan. Dan aset yang dilelang biasanya laku cuma enam puluh sampai tujuh puluh persen nilai pasar. Kalau jaminannya restoran yang masih jalan, yang karyawannya ratusan? Itu mimpi buruk PR. Bank lebih suka restrukturisasi, asal debitur nunjukin dua hal.”
“Apa?”
“Satu, itikad baik. Bayar tunggakan bunga sama denda dulu, minimal. Nggak usah pokok. Nunjukin lo masih hidup, masih bisa bayar. Dua, rencana arus kas yang masuk akal, yang nunjukin dari mana lo bakal bayar sisanya ke depan.” Dimas diam sebentar. “Kalau dua-duanya ada, gue jamin bank mana pun mau duduk. Mereka bakal kasih perpanjangan tenor, mungkin satu sampai dua tahun. Lelang ditunda. Semua orang selamat.”
“Berapa kira-kira tunggakan bunga sama denda buat kasus kayak gitu?”
Dimas menghitung di seberang telepon. Aku mendengar bunyi kalkulator. “Pokok dua puluh dua, bunga sepuluh setengah, tujuh bulan, plus denda standar... Sekitar dua koma delapan, Rief. Dua koma delapan miliar. Itu tiket masuk ke meja negosiasi.”
Dua koma delapan miliar. Bukan dua puluh tiga koma enam.
Aku menutup mata.
“Rief?”
“Gue di sini.”
“Lo baik-baik aja?”
“Makasih, Dim. Gue utang sate Hadori.”
“Dua porsi. Sama kerupuk.” Dimas tertawa, lalu suaranya berubah sedikit. “Rief, hipotetis lo itu... ada yang lo sayang di dalamnya, ya?”
Aku tidak menjawab.
“Oke,” kata Dimas pelan. “Telepon gue kapan aja. Serius.”
Dua koma delapan miliar dalam enam minggu.
Bumi Ni Dewi tidak punya uang tunai sebanyak itu yang bisa diambil tanpa mengganggu gaji dan pemasok. Aku tahu, karena aku yang menyusun proyeksi kas. Menjual dua cabang yang merugi, Cibubur dan Depok, butuh waktu tiga sampai enam bulan. Terlalu lama.
Aku membuka dasbor pelanggan dan menggulir pelan-pelan.
Lalu aku menemukannya, di tab yang jarang dibuka siapa pun: katering korporat.
Tiga ratus dua belas perusahaan, kantor dinas, sekolah, dan rumah sakit di Jawa Barat yang memesan katering makan siang dari Bumi Ni Dewi secara rutin, setiap hari kerja, ada yang sudah sepuluh tahun. Mereka membayar setiap akhir bulan, dengan tempo tiga puluh hari, kadang empat puluh lima.
Aku menghitung. Nilai rata-rata pesanan katering korporat per bulan: satu koma satu miliar.
Kalau tiga ratus dua belas pelanggan itu ditawari membayar di muka untuk tiga bulan katering, dengan potongan sepuluh persen sebagai terima kasih, dan separuhnya saja yang mau...
Satu koma satu kali tiga, kali sembilan puluh persen, kali lima puluh persen. Satu koma lima miliar.
Masih kurang satu koma tiga.
Aku menggulir lagi. Tab berikutnya: arisan dan acara keluarga. Ribuan keluarga di Bandung yang setiap tahun memesan tempat untuk arisan, syukuran, pengajian, dan Lebaran. Kalau mereka ditawari Kartu Langganan Liwet, voucher prabayar untuk enam acara dalam setahun dengan harga lebih murah...
Aku mengetik, menghitung, dan mengetik lagi.
Jam dua pagi, aku punya angka yang masuk akal. Bukan pasti, tapi masuk akal: dua koma sembilan miliar dalam lima minggu, dari pelanggan yang sudah mencintai Bumi Ni Dewi, tanpa menjual satu bangunan pun, tanpa utang baru, dan tanpa pernikahan.
Itu tiket masuk ke meja negosiasi.
Lalu aku butuh rencana untuk sisa dua puluh miliar lebih. Itu bagian kedua dari syarat Dimas.
Jam tiga pagi, aku membuka lagi citra satelit Wardhana Residence di Bekasi: fondasi beton setengah jadi, tiang pancang tanpa lantai, ilalang. Tapi kali ini aku tidak melihat bangunannya.
Aku melihat tanahnya.
Enam ribu dua ratus meter persegi, di pinggir tol Bekasi Timur, empat ratus meter dari pintu keluar tol yang baru dibuka tahun lalu. Aku membuka situs-situs jual-beli tanah dan mencari transaksi terdekat. Tanah kosong di area itu, setahun terakhir: empat juta tiga ratus sampai lima juta per meter persegi, tergantung akses jalan.
Enam ribu dua ratus kali empat setengah juta. Dua puluh tujuh koma sembilan miliar.
Aku memandangi angka itu lama sekali.
Tanah itu milik PT Wardhana Graha Lestari, perusahaan Om Rudi. Tanah itu tidak dijaminkan. Aku sudah mengeceknya di BPN. Tanah itu bersih. Dan nilainya cukup untuk melunasi seluruh utang ke Bank Prima, dengan sisa yang cukup untuk mengembalikan uang muka para pembeli apartemen yang mangkrak, termasuk seorang ibu yang menjual mobil satu-satunya.
Yang dibutuhkan hanya waktu, sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun karena semua orang panik dan menunggu tanggal satu Januari. Satu tahun untuk menjual tanah itu dengan harga yang wajar, bukan dengan harga obral, kepada pengembang lain yang membutuhkan lahan di pinggir tol.
Restrukturisasi memberi waktu itu. Dua koma sembilan miliar dari pelanggan setia membeli restrukturisasi itu.
Tidak ada yang perlu menikah dengan siapa pun.
Aku menyimpan dokumen itu. Rencana Bumi, Versi 1. Empat belas halaman.
Lalu aku duduk di kursi kantor yang sudah dingin dan memandangi layar, dan perlahan-lahan menyadari masalahnya.
Nene bilang biar Nene nu ngurus.
Nene sudah memutuskan. Nene sudah berkata Nene satuju di depan dua puluh tiga orang. Nene bahkan tidak membaca halaman tiga dari berkas pertamaku.
Untuk siapa aku menyusun empat belas halaman ini?
Jam empat lewat lima, pintu belakang dapur terbuka. Aku mendengarnya dari kantor.
Lalu langkah-langkah berat di koridor, dan pintu kantorku terbuka tanpa diketuk.
Mang Ujang berdiri di ambang pintu dengan jaket tebal, kupluk, dan dua gelas kopi tubruk di tangan. Ia melihatku, laptop, dan mataku yang merah, lalu masuk tanpa diundang, meletakkan satu gelas kopi di mejaku, dan duduk di sofa tua di pojok. Sofa yang dulu Gita tiduri waktu aku mencium keningnya.
“Teu sare deui,” katanya.
“Nggak, Mang.”
“Bawang?”
“Bukan. Ini.” Aku memutar laptop sedikit ke arahnya.
Mang Ujang tidak bisa membaca spreadsheet. Ia tidak pernah bisa. Tapi ia memandangi layar itu lama, dan judul di bagian atas, yang bisa ia baca.
“Rencana Bumi,” ejanya pelan. “Bumi teh... Bumi Ni Dewi?”
“Iya, Mang.”
“Rencana naon?”
Aku tidak bisa menceritakan semuanya. Tapi aku bisa menceritakan sebagian, versi yang paling sederhana, versi yang tidak menyebut nama siapa pun.
“Rencana buat nyelametin sesuatu, Mang. Tanpa harus ngorbanin siapa-siapa.”
Mang Ujang mengangguk pelan, meminum kopinya, dan menatap layar laptop yang tidak bisa ia baca.
“Geus beres?”
“Udah. Tapi...” Aku menghela napas. “Nggak ada yang mau baca, Mang. Keputusannya udah diambil. Nene udah bilang biar Nene yang urus.”
Mang Ujang menaruh gelas kopinya. Lalu ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan dalam tujuh tahun: ia memandangiku tanpa bercanda, tanpa centong, dan tanpa nasihat yang dimulai dengan awewe teh siga sambel.
“Rief,” katanya. “Abdi rek mere nasehat.”
Aku menunggu. Aku sudah siap untuk masalah teh siga beas, untuk cobaan, untuk apa pun yang tidak masuk akal.
“Maneh teh sok di tukang,” kata Mang Ujang. “Ti mimiti datang ka dieu, umur lima welas, maneh sok di tukang. Di dapur, di tukang lawang, di korsi pangtukangna di rapat. Ngeusian teh. Nyeuseuh piring. Maneh pikir eta teh tempat maneh.”
Aku diam.
“Tapi, Rief.” Mang Ujang mencondongkan badan ke depan, sikunya di lutut. “Lamun hayang nyalametkeun nu dipikanyaah, kadang ulah ngan ukur di tukang. Kadang kudu ka hareup.”
Kalau ingin menyelamatkan yang dicintai, kadang jangan cuma di belakang. Kadang harus ke depan.
Aku memandangi Mang Ujang.
Mang Ujang memandangiku.
Lalu, pelan-pelan, alisnya yang tebal terangkat, dan mulutnya di bawah kumis sedikit terbuka. Wajahnya seperti orang yang baru sadar bahwa ia mengatakan sesuatu yang masuk akal untuk pertama kalinya dalam hidupnya dan tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.
“Eh,” katanya. “Eta mah... eta mah nasehat nu bener, nya?”
“Iya, Mang.”
“Abdi teu salah ngomong?”
“Nggak, Mang.”
Mang Ujang memandangi kopinya, lalu memandangiku, lalu memandangi kopinya lagi. Lalu ia tertawa, tawa yang keras dan menggelegar, yang membuat kucing dapur di luar jendela melompat dari tong sampah.
“Ya Allah,” katanya di sela tawanya. “Tilu puluh taun abdi mere nasehat. Tilu puluh taun! Kakarak ayeuna nu bener!” Ia menepuk lututnya sendiri. “Kudu dicatet, Rief. Catet! Tanggal sabaraha ayeuna?”
“Dua puluh, Mang. November.”
“Dua puluh November. Mang Ujang mere nasehat nu bener.” Ia mengacungkan telunjuk ke laptopku. “Lebetkeun kana sistem. Laporan. Nu di-highlight konéng.”
Aku tertawa. Kali ini dengan benar.
Mang Ujang berdiri, menepuk bahuku dua kali seperti biasa, lalu berjalan ke pintu. Di ambang pintu ia berhenti, berbalik, dan wajahnya kembali serius.
“Rief. Nu dipikanyaah ku maneh teh...” Ia ragu. “Lain ngan ukur Teh Gita, nya? Aya nu sejen. Nu ti baheula. Nu matak maneh sok ngabeulah endog.”
Aku tidak menjawab.
“Abdi teu nanya saha,” kata Mang Ujang. “Abdi ngan ukur hayang ngomong. Saha wae manehna, dimana wae manehna, manehna oge pasti hayang maneh ka hareup. Sakali-kali.”
Pintu tertutup.
Aku duduk sendirian di kantor, dengan kopi tubruk yang mulai dingin dan empat belas halaman di layar laptop.
Lalu aku membuka email baru, mengetik alamat email pribadi Nene, yang hanya dibuka oleh Mak Odah dan dicetakkan setiap pagi karena Nene tidak suka membaca di layar, dan melampirkan Rencana Bumi, Versi 1.
Di kolom subjek, aku mengetik: Untuk Nene. Tidak harus dibaca sekarang. Tapi tolong jangan dibuang.
Kursorku berhenti di atas tombol kirim selama satu menit penuh.
Lalu aku menekannya.
Itu bukan langkah ke depan. Belum. Aku masih mengirimnya lewat email, dari kantor belakang, dari kursi paling belakang, jam empat pagi, waktu tidak ada yang melihat.
Tapi itu langkah pertama ke luar dari belakang.
- 1 Satu Telur untuk Berdua
- 2 Yang Dijemput Salah Orang
- 3 Meja Nomor Tujuh
- 4 Lantai 27
- 5 Garut Tidak Pernah Lapor
- 6 Hujan di Lembang
- 7 Grup WA Sebelah
- 8 Kue dari Roti Tawar
- 9 Menyerah dalam Arti Baik
- 10 Pacaran Diam-Diam Itu Melelahkan
- 11 Angka yang Tidak Mau Diam
- 12 Kening
- 13 Papa Pulang
- 14 Malam Terakhir Sebelum Semuanya
- 15 Pengumuman di Meja Makan
- 16 Aku Tetap di Belakangmu
- 17 Mang Ujang Tahu reading
- 18 Foto di Halaman Sembilan
- 19 Calon Suami Datang Pakai Sandal Jepit
- 20 Ervan Belajar Cuci Piring
- 21 Satu-Satunya Hal yang Gue Tahu
- 22 Cemburu Itu Tidak Profesional
- 23 Undangan ke Jakarta
- 24 Lantai 27
- 25 Tangga Darurat
- 26 Satu Telur, Dua Bagian
- 27 Ervan Ditampar (Versi Kakak)
- 28 Dua Keluarga, Satu Utang
- 29 Calon Kakak Ipar
- 30 Dua Orang yang Tidak Mau Ditolong
- 31 Donatur K.S.
- 32 Giliranku Berjuang
- 33 Om Rudi
- 34 Mama Liliana
- 35 Nene Tahu
- 36 Ruang Direksi
- 37 Pitch
- 38 Aku yang Pesan Sekarang
- 39 Dua Keluarga di Satu Ruang Tamu
- 40 Tiga Porsi
- 41 Epilog — Kami di Belakangmu